top of page

Chapter 7 : Zero homesick

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 16, 2020
  • 6 min read

Updated: Jul 27, 2024

“Jangan tidur di kamar! Kau tidur di sofa!” Teriak Delta pada Zero tanpa berpaling dari pekerjaannya di komputer.


“Yes your highness!” Balas Zero sembari masuk ke ruang server.

Tujuannya adalah ruang didalam ruang server. Terdapat sebuah kamar tidur dengan tempat tidur luas disitu. Zero masuk dan melihat Cross masih tertidur disitu.


Banyak hal yang ingin Zero katakan, tapi dia hanya diam. Dia berlutut, memposisikan dirinya sejajar dengan tempat tidur, kini kedua tangannya menggenggam sebelah tangan Cross. Ekspresi Zero berubah sedih, tangannya gemetar, apa yang dia alami hari ini membawanya teringat kembali dengan masa lalu, dan itu bukan hal yang baik. “Tolong aku” Bisik Zero pada Cross.

---


Tidak sampai satu jam Cross membuka matanya.


“Hai tampan~” Sapa Zero yang terlentang disebelahnya. Tangan kanan Cross digenggam oleh Zero. Dengan cepat Cross mengambil bantal dengan tangan kirinya, memukul keras bantal itu langsung ke wajah Zero.

“Bagaimana Delta dan Cube?” Cross berusaha bangkit dari tempat tidur, sebelah tangannya masih digenggaman Zero.


“Cube tidak menginap, Delta masih bekerja.”


“Zero, lepaskan tanganku.”


“Sebentar saja Cross”


“Kau tahu aku tidak punya banyak waktu.” Ujar Cross, mengingat dia tidak bisa terbangun terlalu lama.


“Aku bertemu malaikat lain hari ini.”


Terkejut, Cross melepaskan tangan sebelahnya yang sejak tadi berusaha membuka genggaman tangan Zero. Memposisikan dirinya menghadap Zero, bersiap mendengar ceritanya.

“Kau ingat hari dimana aku melakukan deal pertama dengan Kannon?” Tanya Zero.

Hari itu adalah hari dimana Cross meninggalkan status manusianya, sebisa mungkin Zero tidak ingin mengingat kejadian itu. Mengingat orang yang kau sayangi berada dalam posisi tak karuan diatas aspal sama sekali bukan ide yang baik.


“Hari dimana aku mati?” Jawab Cross to the point.


“Berhenti bicara tanpa dosa seperti itu!” Zero terlihat kesal mengingat memori itu. “Intinya, hari itu aku bertemu dengan teman lamaku. Aku mengenalnya sejak pertama kali aku turun ke bumi, sebelum bertemu denganmu.”


Sejenak hening mengingat bagaimana pertemuan mereka berdua sebelum Zero kembali melanjutkan. “Dia marah ketika aku menceritakan keputusanku untuk mengikat perjanjian dengan Kannon. Sejak itu kami tak pernah bertemu lagi.”


“Their loss” Respon Cross.

“I know right! Tapi tadi… murid temanku itu datang kesini, kebawah jembatan. Cube menemukannya duluan, si murid terlihat sudah babak belur ditangan Cube. Awalnya aku berusaha bersikap baik tapi murid itu menghabiskan kesabaranku. Tanpa sadar akupun melukainya. Menurutmu apa aku salah?”


“Melukai murid temanmu? Jelas salah.”


“Tapi dia yang menghabiskan kesabaranku!” Zero menarik jaket Cross, mengekspresikan emosinya.


“Zero …” Cross menurunkan pandangannya, dia kembali ke posisi tidur seperti awal, ingin menatap langsung mata Zero. “Katakan apa yang ingin kau katakan, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.”


Hidup bersama bertahun-tahun membuat mereka saling mengerti. Dari caranya bercerita, juga emosinya, Cross tahu ada sesuatu yang membebani pikiran Zero.


“Kemunculan temanku membuatku rindu rumah, Cross. Namun aku khawatir kalau aku pulang, apa aku bisa kembali kesini nanti?”


“Kalau tidak dicoba, tidak akan tahu, pulanglah.”


“Kau tidak khawatir kalau aku pergi??”


“Khawatir, tapi kau tidak selemah itu kan. Aku akan menunggumu kembali, sampai kapanpun.” Cross tersenyum tipis.


Mendengar hal itu, seketika wajah Zero memerah. Jantungnya serasa berhenti berdetak. “Cross! Kauuu! Kau hampir membuatku mati!” Teriak Zero yang sekarang menutupi wajahnya dengan selimut.


“Huh? Kau baik-baik saja kan?” Cross bingung, bukankah sejak tadi Zero sehat-sehat saja, kenapa dia tiba-tiba mau mati?


“Tidak! Aku tidak baik-baik saja!”


“Haah?”


“Biarkan aku memelukmu! maka aku akan segera sembuh!”


“Ok.” Tanpa mengerti permasalahan sebenarnya, Cross membiarkan dirinya dipeluk oleh Zero. Debaran jantung Zero terdengar jelas olehnya.


Wajah Zero dan Cross sangat dekat satu sama lain, mereka berpandangan. Pandangan bingung dari Cross, dan pandangan... penuh rasa dari Zero. Zero membuka mulutnya pelan, mendekatkan bibir mereka berdua.


“GAH! Kalian sedang apa disini!” Terdengar suara Delta yang entah sejak kapan sudah berada di pintu kamar.


Zero segera melepas pelukannya. “Sejak kapan kau ada disitu?!” Teriak Zero


“Kakak! Apa yang kalian lakukan?!” Tanya Delta pada Cross, mengacuhkan pertanyaan Zero.

Cross yang kini duduk ditempat tidur menjawab dengan polos. “Zero memintaku untuk memeluknya?”


“Zero! Kau iblis! Kau memanfaatkan kepolosan kakak!” Teriak Delta sambil memicingkan matanya.


“Apa?!” Zero berteriak membalas. Oh wait, dia memang bisa dibilang iblis sih… tapi bukan itu fokusnya.


“Kak! Kemari!” Delta menarik si kakak ke belakang punggungnya.

“Demi keamanan kakak, dan juga aku, dan Cube, mulai sekarang, kau tidak boleh masuk Console!” Delta membentuk tanda salib dengan kedua jarinya, seolah itu akan berpengaruh. Entah habis nonton film apalagi anak ini.


“Ayolah Deltaaaaa!!! Kalau ada pekerjaan bagaimana?” Tanya Zero.


“Lewat email! Lewat internet! Tanpa bertemu!”


“Lalu makanan kalian?”


“Aku akan minta Cube yang beli!”


“Cube tidak setiap hari kesini, kau tahu itu.”


“Aku akan masak sendiri!”


“Seriously?” Zero menghela nafas. Ini absurd.


“Sebenarnya kalian berdua membicarakan masalah apa sih?” Cross bertanya sambil menguap.


“Demi keselamatan anggota Sega, aku memintamu kakak agar tak membiarkan Zero tidak masuk Console. Setidaknya selama seminggu… bukan, sebulan, atau… enam bulan!”


“Enam bulan?!” Zero terkejut.


“Tak masalah.” Jawab Cross tanpa beban.

“Cross!!!!” Zero tak percaya kenapa Cross setuju begitu saja.


“Yes! Sekarang pergi kau dari sini! Sampai bertemu enam bulan berikutnya! Wahahaha” Delta mendorong Zero keluar dari kamar.


“Tunggu tunggu, yang benar saja, enam bulan?!” Jangankan enam bulan, Cross dan Zero tidak pernah berpisah lebih dari sebulan sejak pertama mereka bertemu.


“Delta, tunggu dulu, ini hanya salah paham! enam bulan…?” Zero masih berusaha bernegoisasi dengan Delta yang terus mendorongnya.


“Salah paham? Tidur berpelukan diranjang seperti itu? Pedofil!” Delta terus mendorong Zero yang kini sudah mencapai pintu dapur.


“Siapa yang pedofil? Aku hanya mencintai Cross!” Bantah Zero.


“Ha! Sekarang kau mengakuinya!!”


“Dia itu kakakmu! Lebih tua darimu!”


“Kakak selalu berumur 10 tahun!”


“??Logika macam apa itu-!“ Suara Zero hilang dengan pintu yang sudah tertutup. Delta mengunci pintu itu dengan rapat.


“I..ini gila! Terlalu intense! Enam bulan jauh darinya… aku bisa apa?” Pikir Zero sambil membuka smartphonenya, berusaha bernegoisasi dengan Cross. Dering ringtone pesan masuk berbunyi, menandakan Cross telah membalas pesannya.


‘Kau bisa memakai waktu ini untuk pulang ke rumahmu, Zero.’


Jika pulang pun Zero hanya berencana maksimal satu minggu. Dalam keadaan begini mana bisa Zero pulang dengan tenang? “Enam bulaaaan?! Tidak! Ini tidak benar!” Zero berusaha menenangkan dirinya. Dia pergi menemui client, berbicara dengan mahluk lain, apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya.


Hingga dua hari terlewati, dia masih belum bisa menghilangkan insiden kemarin dari otaknya. Dia menghubungi Cross masih berusaha bernegoisasi.


‘Cross, apa aku benar-benar tidak bisa bertemu denganmu enam bulan kedepan?’


Tak lama pesannya dibalas, ini memang sudah waktunya Zero untuk bangun, jadi wajar bila Cross membalasnya dengan cepat.


‘Kenapa tidak? Datang saja ke Console.’


“Ya ampun anak ini masih tidak mengerti juga?!” Zero menepuk dahinya, dia lupa Cross akan buta pada segala hal, menumpulkan kepekaannya demi memenuhi permintaan si adik.


‘Percuma, Cross, Delta akan membunuhku :’(’


‘Delta sudah tidur’


Delta tidur, Cross sendirian di Console.... Zero bergegas pergi ke Console, berniat menghabiskan waktu berdua dengan Cross. Sesampainya disana, dia membuka pintu, melihat Cross sedang duduk di sofa.


“Cross! Aku datang!” Teriaknya sambil berlari kearah Cross yang terduduk di sofa. Tiba-tiba Zero menerima pukulan dari Cube.


“Berisik!” Teriak Cube.


“Hah?! Cube?! Kau disini?!”


“Besok aku ada rapat dekat sini. Malam ini aku akan menginap.”


Baru saja Zero berpikiran untuk menghabiskan waktu berdua dengan Cross. Dia sama sekali lupa dengan Cube. Zero duduk lemas disebelah Cross. “Ku pikir kau sendirian.” Ucap Zero.


“Aku tidak bilang aku sendirian.” Kata Cross sambil memainkan gadgetnya.


“Kau berduaan mau apa, hah? Dasar pedofil” Kata Cube.


“Hah?! Apa katamu?”


“Aku mendengar ceritanya dari Delta. Kau memeluk Cross diranjang kan?”


“Zero, kau pedofil?” Tanya Cross dengan polosnya.


“Hah?! Bukan-“


“Kau juga Cross! Berhentilah bersikap tidak peduli, seharusnya kau cegah dia sebelum terjadi apa-apa!”


“Oo..ke?” Jawab Cross tanpa mengerti sebenarnya ada apa.


“Cube! Jangan menambahkan!”


Cube hanya mengacungkan jari tengah. Zero menghela nafas. Menyerah dengan keadaan dia tak bisa berduaan dengan Cross malam ini.


“Zero, anak yang kemarin itu siapa?” Cube memulai pembicaraan ke masalah lain.


“Ah, yang kau pukuli itu? Dia murid temanku dulu.”


“Mau apa dia bertemu denganmu?”


“Aku ini terkenal, Cube, wajar bila banyak yang ingin bertemu denganku.”


“Terserah.” Cube berdecak jijik.


“Tapi sungguh, dia ingin bertemu denganku karena dia penasaran denganku.”


“Aku tidak menemukan datanya dimanapun. Hanya beberapa potongan cctv. Dia mahluk yang sama denganmu?”

“Cross, beritahu dia atau tidak?” Tanya Zero sambil mencolek Cross dengan sikutanya, walaupun sebenarnya dia sudah tahu apa jawaban Cross.


“Jangan.” Jawab Cross.


“There you have it, Cube. Si ketua sudah bicara.”


Cube hanya berdecak. Semakin ditutupi, semakin Cube penasaran mereka itu sebenarnya apa...

Akankah Cube berhasil mengetahui siapa Cross dan Zero sebenarnya nanti?




Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page