top of page

Chapter 4 : Something Wrong With -

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 19, 2020
  • 4 min read

Updated: Jul 27, 2024

--​-Beberapa waktu yang lalu---


“Pakai setiap hari ya, Sugar~” Seorang permpuan muda dengan mata bersinar-sinar berbicara dengan nada manja pada Cube.


“Tentu saja Love! Akan ku-“


“Ssst~ bukan Love, tapi ibu~” ​Dengan muka kesal, telunjuknya menutup mulut Cube.

Cube tersenyum. “Ya, ibu.”


​---Kembali ke waktu sekarang---


Cube kembali dari lamunannya, dia melanjutkan memasang tali di sepatunya dan bergegas pergi. Ini waktunya Cube bekerja di kantor, ada meeting untuk proyek baru katanya. Kantor-kantor cabang dari daerah diminta untuk datang, sudah pasti ini proyek sangat penting, karena itulah hari ini Cube berpakaian formal. Dari atas kepala sampai ujung kaki, Cube sudah terlihat rapi, kemeja formal putih dilapis dengan sweater tipis untuk mengurangi angin dari AC, celana bahan rapi berwarna hitam, dan… sepatu kets kebesaran warna hijau-merah menyala. Itu hadiah dari ibunya.


Sesuai kata Delta, Cube memiliki mother complex tingkat akut. Dia tidak bisa, bukan, tapi tidak mau menolak apa yang diberikan ibunya, dia senang melihat ibunya senang. Bahkan dia pernah melakukan hal terkonyol yang tidak akan kau bayangkan dari pria bertubuh tinggi besar itu. Sebut saja menemani ibunya belanja pakaian wanita dan mencoba pakaian wanita tersebut, hanya untuk membuat ibunya bahagia.


Kembali ke waktu sekarang, meeting berjalan lambat, layaknya meeting di kantor-kantor pemerintahan, terlalu banyak basa-basi, banyak formalitas tak penting, wajar kalau banyak yang tidur. Sampai kepada saat Cube yang mewakili divisinya, mempresentasikan pendapatnya. Bentuk badan Cube yang tinggi besar sudah sangat menarik perhatian, apalagi sepatunya, ah, sudahlah.


Ketika sesi tanya jawab hampir berakhir, salah seorang petinggi dari daerah, menyalakan mikrofonnya -yang seharusnya dipakai untuk bertanya- berkata;


“Saya suka dengan ide divisi anda, semoga bisa direalisasikan dengan baik ya. Jangan sampai eksekusinya sejelek sepatu anda. Terima kasih.” Sambil tersenyum lalu duduk kembali. Seketika gemuruh tawa terdengar di seisi ruangan. Gemuruh tawa terpaksa untuk menghargai petinggi, dalam hati, orang-orang yang pernah bekerja dengan Cube tahu perkataan si petinggi akan menimbulkan masalah. Entah apa yang dilakukan Cube pada petinggi tadi, besoknya, petinggi tadi sudah tidak ada lagi. Meeting yang seharusnya dihadiri petinggi itu selama tiga hari, ternyata ditinggalkan, petinggi tadi kembali ke daerah asalnya hari itu juga. 


Kembali ke Console, Circle, mengakhiri ceritanya kepada anggota Sega.


Delta sedang melakukan voice call dengan Zero, loud speaker sengaja dia nyalakan agar Cube yang ada disana mendengar ceritanya juga.


“Pff Wahahaha!! Aku ingin lihat ekspresi petinggi itu! Ahahaha!” Delta tertawa puas.Dia selalu senang mendengar cerita-cerita tentang dunia luar dari Zero, terutama yang berhubungan dengan orang yang dia kenal.


“Jangan ingatkan aku tentang orang itu lagi!” Bentak Cube sembari masih mengerjakan tugas di komputernya.


“Ahaha, Cube~ Cube~, sudah mother complex, kau juga memiliki anger management issue! Kau seharusnya tidak terpancing oleh hal-hal seperti ini” Kata Delta dengan tatapan mengejek.


“Aku tidak ingin diberitahu oleh orang sepertimu!”


“Hmph apa maksudmu?!” Delta membentak


“Lagipula menurutku sepatu itu memang…” Delta merenyitkan dahinya sambil melihat sepatu Cube yang paling mencolok di rak sepatu.


“Apa?! Kau mau bicara apa?!" Bentak Cube sembari membalikkan badannya.


"Tidak ada apa-apa, tidak ada." Delta tersenyum mengejek.


"Sudah ku bilang itu hadiah dari ibuku! Apa kau tak pernah mendapat hadiah dari ibumu?!” Perkataan tadi dijawab dengan ekspresi bingung oleh Delta.  


“Ibu? Hmmm…. Aku.. tidak ingat.”


“Hah? Maksudmu?”Triangle hanya mengangguk.


“Aku tidak ingat... ibuku.”


 

Keheningan diantara keduanya. Keheningan beberapa detik itu dihentikan oleh suara Zero.

“Cube, selesaikan pekerjaanmu segera, aku tunggu.” Suara Zero mengakhiri voice call nya.


“Kembali bekerja.” Kata Cube menghela nafas sambil kembali menatap komputer, meninggalkan Delta dalam keadaan bingung.


---


Malam ini, Cube tidak tidur di Console, jadi dia pulang ke rumahnya. Delta yang sudah siap untuk tidur, menghampiri kamar tidur dengan Cross yang masih terlelap. Mereka memang tidur bersama di satu ranjang besar.Tidak seperti biasanya, Delta menatap Cross agak lama.


“Kak, apa kau ingat sesuatu tentang orangtua kita?... Kadang aku penasaran seperti apa mereka?” Delta bertanya pada Cross yang terlihat masih tidur.


Tentu saja pertanyaannya tidak terbalaskan. Cross hanya diam.Berusaha menghilangkan pikiran negatif, Delta memposisikan dirinya dan mulai tertidur. 


---Esok harinya---


“Nih.” Cube menyodorkan sebuah kue coklat berbentuk hati kepada Delta.


Delta tersipu malu “A..aku tidak akan menerima cintamu, Cube, aku masih butuh waktu untuk mempertimbangkan, aku-”


“Bukan, bodoh! Ini dari ibuku!”


“Woaaaah lagi?! Ini kedua kalinya minggu ini!”Ekspresi wajah tersipu jijik Delta berubah gembira, Delta segera menyambar kue tadi dari tangan Cube.


“Dia membeli buku resep baru, dia sedang senang bereksperimen dengan kue sekarang.” Cerita Cube merebahkan dirinya di sofa.


“Biar kutebak, ini dari Club kan?”


“Tentu saja.”


“Aaah, aku ingin mencoba kue buatan Love~~” Kata Delta sambil terus memakan kuenya.


“Oooh kau tidak akan mau.”


“Kenapa?” Tanya Delta.


“Mereka berbeda.” Ya, ibu Cube memang hanya satu, tapi entah bagaimana memiliki banyak kepribadian dengan keahlian berbeda. Entah bagaimana Cube bisa bertahan dengan semua itu. Atau memang tipe seperti itu yang disukai Cube?


“Ah, benar-benar berbeda sampai keahliannya yaaa”  Delta mengangguk-ngangguk seolah mengerti.


“Bagaimana dengan ibumu, Delta? Kau sudah ingat?” 


“Ingat apa?” Tanya Cross yang tiba-tiba muncul dari belakang.


“Kakak! Ada kue dari Club!” Delta menyodorkan kuenya.


Cross mengambil kue yang disodorkan Delta.


 Ping.

Sebuah email notifikasi pekerjaan masuk ke smartphone Cube.


“Aku harus pergi, Zero butuh bantuan segera.” Cube lalu bergegas pergi.


“Sampaikan terima kasih pada Club!” Teriak Delta, dibalas oleh lambaian tangan Cube.


“Delta.” Cross memegang kepala Delta.Seketika Delta terdiam, matanya berubah putih kosong.


“Aku satu-satunya anggota keluargamu. Jangan coba mengingat-ingat masa lalumu lagi.”  


“Ya.” Jawab Delta, masih terdiam mematung. Delta lalu terkulai lemah.Cross melepaskan tangannya.


“Zero, terima kasih atas bantuanmu. Ku harap lain kali bisa lebih cepat.” 


“Aye aye captain~” Suara Zero terdengar melalui suara di smartphone milik Cross.

 

 

 



Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page