top of page

Chapter 23 : Pembicaraan Pelik

  • Writer: Tri
    Tri
  • Nov 30, 2020
  • 9 min read

Updated: Jan 28, 2025

“Hei Yotsuba, gimana hari ini? Ada sesuatu yang menarik?” Club menyambut Cube sesaat Cube memasuki rumahnya.


“Tidak ada, seperti biasa. Rumah aman?”


“Aman kok, lalu bagaimana di Comiket? Seru?”


“Comiket?” Cube terhenti, melihat ke arah Club.


“Iya, seru?”


Cube masih dengan kerutan diantara alisnya. “Aku tidak ke Comiket”. Cube tahu Club bukan tipe yang suka bercanda atau kode-kode dengan perkataan. Cube murni tidak mengerti apa maksud Club menanyakan tentang Comiket.


Club sama bingungnya. Club tahu Cube tidak bercanda, tapi Club ingat persis bagaimana hari sebelumnya Cube berpamitan untuk pergi ke Comiket. “Kamu ada pekerjaan jastip dengan Delta kan?”


Tidak, tidak ada ingatan itu diantara memori Cube. Cube mulai panik. “Aku tidak ingat”.


Dia baru pulang setelah berpamitan pergi ke Comiket, bagaimana bisa dia tidak ingat? Club mendekati Cube, memeriksa tubuhnya. Cube hanya terdiam, masih mematung mencari diantara memori. Sial. Cube bahkan tidak ingat persis apa yang dia lakukan hari ini. Seolah dia hanya bangun, pergi ke Console, pulang lagi. Tidak ada ingatan proses atau diantara tiga poin tadi.


“Ada yang hapus ingatanmu” Ujar Blank yang sudah berganti tubuh dengan Club.


Menghapus ingatan? Siapa? Kenapa? Cube sedikit gemetar. Pasalnya dia baru saja pulang dari tempat kerja, dari Console. “Delta? Tidak… Cross atau Zero?” Gumam Cube mempertimbangkan.


“Atau mereka semua” Blank memegang kedua pipi Cube, menatap pada mata biru pria itu.


“Kenapa? Apa penyebabnya?” Cube menatap balik dengan tatapan sedikit rasa kecewa karena tiga nama yang disebutkan adalah teman-teman yang ia percaya.


“Ada hal yang mereka sembunyikan yang kamu ketahui.”


Cube menghela nafas, memejamkan mata berusaha mencari setiap kemungkinan. Kalau benar dia ke Comiket, rahasia apa yang berhubungan dengan Comiket yang sangat fatal hingga ingatannya harus dihapus? Atau mungkin sesuatu terjadi di Console?


“Kemungkinannya terlalu banyak…” Cube mendecak, mengambil kembali tasnya, bergegas pergi berniat kembali ke Console.


“Kami ikut” Ucap Blank menghentikan langkah Cube.


Cube sempat menatap beberapa detik berpikir apa resikonya, sempat berpikir akankah Kado aman jika ikut. Mata Cube menyempit. Tidak- sesuatu di Console menghapus ingatan Cube, yang butuh bantuan adalah Cube. “Ikut tanpa terlihat” Ucap Cube segera keluar dari rumah. Blank mengangguk lalu menghilang ikut bersamanya.


Perjalanan menuju Console dipenuhi tanda tanya, penuh berbagai kemungkinan buruk dan perasaan kecewa. Apakah jalur diskusi tidak bisa ditempuh sampai harus menghilangkan ingatan? Seburuk apa sebenarnya yang terjadi sampai harus ke titik ini? Semua pemikiran ini membuat Cube bergegas.


Pintu Console dia buka, pemandangan biasanya adalah Delta menyambutnya dengan suara nyaring, penuh keceriaan dan semangat. Namun kali ini Delta tidak terlihat. Cross tidur di paha Zero, diatas sofa di ruang utama.


“Tumben kembali, ada barang ketinggalan?” Tanya Zero pada Cube yang masih terdiam sambil mengatur nafasnya. “Oh- bukan ya?” Zero menjawab pertanyaanya sendiri, tersenyum simpul seolah menyadari sesuatu yang mengikuti Cube.


“Bukan barang, ingatanku.” Cube berjalan mendekat Zero dan Cross.


“Ya juga ya, aku lupa kau punya mereka, jelas mereka akan sadar kalau ingatanmu hilang” Zero melirik ke

arah Kado di sebelah Cube yang tidak terlihat oleh mata telanjang.


“Apa yang aku lupa dan kenapa kalian melakukannya?”


“Tenang dan duduklah, aku tidak bisa menjawab ini sendiri. Harus tunggu Cross bangun.”


Cube masih berdiri, dia inginkan jawaban secepatnya agar hatinya segera tenang. Bukan masalah apa-apa, Cube percaya kepada tiga mahluk penghuni tempat kerja tercintanya ini. Ingatan dihilangkan tiba-tiba oleh siapapun yang kau percaya tentu meninggalkan jejak tidak nyaman di hati.


“Kau tidak terburu-buru. Ingatanmu yang hilang juga bukan sesuatu yang butuh penanganan cepat. Percaya padaku.”


Menghela nafas dan menarik kursi di dekat mereka, Cube akhirnya duduk menghadap mereka. “Terakhir aku percaya padamu, kau hilangkan ingatanku. Wajar kalau aku tidak percaya.”


Zero tersenyum setuju. “Secara teknis, Cross yang menghilangkan ingatanmu, jadi tetap lebih baik tunggu dia bangun”


“Aku tidak tidur” Cross membuka matanya perlahan.


“Lalu kenapa dari tadi diam saja?!” Zero mencubit hidung Cross.


Cross bangun duduk di sebelah Zero sambil mengusap hidungnya. “Aku sudah memperkirakan bahwa kau akan kembali dan meminta jawaban, Cube. Aku hanya sedang berpikir bagaimana menjelaskan ini semua padamu.”


“Kalau memang ngantuk bilang saja Cross, tak usah sok keren” Zero melingkarkan tangannya ke pinggang Cross, mengarahkan anak berambut biru itu bersender setengah ke bahunya. Cross tidak menolak, sepertinya Cross memang sedikit lelah.


“Jadi, Cube, tanyakan apa yang mau kau tanyakan.” Cross berfokus pada Cube.


“Ingatan apa yang kau hilangkan dan kenapa?” Cube menyilangkan tangannya.


“Ingatan bahwa kau dan Delta keluar dari Console. Melakukan tugas jastip yang diinisiasi Delta tanpa persetujuanku.”


“Jadi hanya karena kau tidak setuju? Hanya itu?” Oke, setidaknya Cube tidak berbuat salah, kan? “Lalu kenapa harus dihilangkan? Apa kami melakukan sesuatu yang berbahaya?”


“Mereka tidak percaya padamu, Yotsuba.” Diamond memunculkan dirinya di sebelah Cube.


Bingo.” Zero menaikkan dua jarinya mengarah pada Diamond. “Kalau kami percaya, kami tidak akan menghapus ingatanmu.”


Sebenarnya seberapa krusial sih ingatan yang dihapus ini? Apakah perlu sampai hilang ingatan? Goddamn. Cube ingin percaya bahwa dia percaya pada orang-orang yang tepat. “Kembalikan ingatanku. Aku ingin tahu seberapa parah hal yang kami lakukan hingga perlu hilang ingatan” Tawar Cube.


“Bagaimana kalau kau pulang dan terima nasibmu?” Zero bertanya balik.


“Yotsuba membawa kami kesini untuk sebuah hasil, bukan dengan tangan kosong.” Sanggah Diamond.


Cross melirik Zero, seolah memberi telepati melalui tatapan. Zero mengerti tatapan itu. Sebenarnya jauh sebelum insiden Comiket ini terjadi, Zero dan Cross sudah sempat memperkirakan kemungkinan bahwa suatu saat nanti mereka harus memberi tahu Cube tentang apa yang terjadi. Mereka harus memberi tahu Cube, membawa Cube berpihak pada mereka. Apapun selama ujungnya bisa membuat Delta tetap berada di Console, tetap aman dalam genggaman mereka. Cross menghela nafas, menatap arah berlawanan. Zero tahu itu artinya Cross mempersilahkan Zero melakukan yang dia mau walaupun Cross tak suka. Zero menatap kembali Cube dan Diamond.


“Oke akan aku kembalikan. Berjanjilah untuk merahasiakan semua yang kau ingat dari Delta.” Zero mengangkat tangannya ke arah kepala Cube.


“Oh? Kalian sudah percaya padaku sekarang?” Cube tersenyum kecut.


“Kami menghindari pertikaian. Sesama budak tidak baik saling menyerang, bukan?” Singgung Zero melirik Diamond. “Lagipula… Delta percaya padamu.” Senyum tipis Zero pada Cube sebelum kepala Cube tersentak kebelakang, seolah sesuatu mengenai dahinya. Diamond dengan sigap merengkuh Cube, memeriksa tubuh Cube yang sekarang gemetar. Pupil Cube bergerak cepat. Ingatan Cube masuk seperti movie yang diputar dengan kecepatan tinggi.


Cube dapat mengingat hal yang terjadi seharian ini, atau hari-hari sebelumnya. Semua ingatan tentang Comiket kembali. Tentang Delta yang berusaha keras membuka usaha jastip agar dizinkan pergi ke Comiket, Cube yang diminta ikut mendampingi, Zero yang memberi izin dengan syarat merahasiakan dari Cross, atau bagaimana ekspresi Delta menghirup udara dunia luar, merasakan ekstasi kebebasan. Juga tentang… perasaan Cube melihat kebahagiaan Delta diluar sana. Pupil Cube melebar, hormon oksitosin di dalam tubuhnya bekerja saat mengingat Delta. Kemudian pupil Cube kembali mengecil mengingat saat kepulangan mereka dari Comiket, Delta terkapar tanpa ingatan hari bahagia itu. Tangan Cross dikepalanya adalah yang terakhir dia ingat sebelum semua gelap.


Terengah saat ditenangkan oleh Diamond, Cube mengatur nafasnya. “Kami tidak melakukan hal buruk, sialan.” Kenapa sih ingatannya harus dihapus?


“Karena aku tidak setuju Delta keluar dari Console.” Ujar Cross.


Jadi semua ini berakar dari Cross toh... Mengingat Zero sendiri yang memberi mereka izin. “Kenapa?” Tanya Cube sembari kembali ke posisi duduknya semula.


“Ceritanya panjang.”


“Aku kesini butuh jawaban.” Nada Cube memaksa.


“Terlalu panjang. Aku mungkin akan tertidur ditengah-tengah cerita. Zero, kau lanjutkan ceritaku kalau itu terjadi.” Cross menoleh pada Zero, dibalas anggukan Zero sedikit tersenyum. Tersenyum karena Cross sudah mau terbuka, tanda kepercayaan Cross pada Cube tidak serendah dulu.


“Aku, Zero dan Delta berada di kondisi ini karena traumaku pada dunia. Aku tak ingin Delta mengalami hal yang sama.”


“Pengecut.” Cube mendengus. Mata Cross sedikit berkedut seolah emosinya terpincut. Zero menyadari hal itu, menepuk kepala si rambut biru disebelahnya. “Traumanya cukup parah, Cube. Cross yang tertidur 16 jam sehari adalah salah satu akibat rentetan trauma ini.” Zero melanjutkan perkataan Cross yang kini terdiam menetralkan emosi.


“Aku tidak meremehkan seberapa parah traumamu, aku tidak suka perbuatan pengecutmu yang mengira Delta akan mengalami hal yang sama denganmu. Sampai pada titik kau harus menghapus ingatanku juga.”


“Apa jaminannya Delta tak akan mengalami hal yang sama?” Tanya Cross.


“Aku.” Jawab Cube singkat, dibalas sedikit senyum dan gelengan kepala Zero. “Apa yang lucu? Aku bisa menjamin keselamatan Delta diluar sana seperti saat Comiket.”


Cross dan Zero terdiam menghela nafas pelan, kenyataannya memang Cube menjaga Delta dengan baik di Comiket sih...


Cube menatap mereka berdua, mulai mengerti bahwa akar semua ketidakpercayaan ini berada pada Cross. Berdasarkan ingatannya yang baru kembali, Zero sudah percaya pada mereka berdua untuk pergi keluar sana namun Cross menghapus ingatan mereka berdua di akhir hari. Cube menghela nafas. “Aku tidak tahu seberapa besar trauma kalian. Aku sendiri lahir tanpa keluarga, di dalam sebuah fasilitas yang ada hanya untuk menjualku demi materi. Kehangatan keluarga tidak pernah aku dapatkan hingga ayahku membeliku, mengajarkanku sedikit tentang keluarga sebisanya diantara kesibukannya. Dia bukan ayah yang ideal, tapi dia memberiku kepercayaan, itu yang membuatku bisa melihat ayah sebagai keluarga. Berbeda dengan para staff di fasilitas yang bahkan tidak mempercayaiku untuk keluar lab sendirian.”


Ini pertama kalinya Cube bercerita tentang masa lalunya pada Cross dan Zero. Dalam hati Cube berharap mungkin dengan sedikit terbuka, kedua temannya bisa membuka hati mereka padanya. “Yang kalian lakukan pada Delta sekarang mirip dengan apa yang dilakukan staff di fasilitas biadab itu. Ya, kalian tidak menjual Delta demi materi, tapi kalian tidak percaya padanya untuk memilih jalan hidupnya sendiri.” Cube mengarah sedikit pada Zero. “Kalian menyianyiakan Delta terkurung di sangkar bawah tanah yang dingin dan lembab ini.”


“Kami menjaga Delta tetap aman.” Ucap Cross.


Bullshit.” Sanggah Cube. “Aku tidak tahu apa yang sudah kalian lewati, tapi apakah selama kalian di dunia luar sana kalian hanya menderita? Tidak ada satupun memori indah? Like, 24/7 suffering nonstop? No, isnt it? Kalian menutup kemungkinan Delta merasakan memori indah itu.”


Mata Cross menurun, perkataan Cube mulai masuk ke pikirannya. Cross selalu ingin yang terbaik untuk Delta. Kemungkinan bahwa Delta tak merasakan hal indah membuatnya merasa bersalah. Zero tak luput menyadari gejolak dalam diri Cross, mengusap rambut si pria berambut biru. “Kami tidak bisa begitu saja membiarkan Delta keluar. Seorang Delta, kau tahu sendiri, dia akan bertanya banyak hal, mungkin emosi, dan kemungkinan terburuknya adalah Delta keluar dari Console tanpa kembali.” Ucap Zero pada Cube.


“Aku paham.” Cube tahu Cross dan Zero menyayangi Delta, dia tak pernah ragu akan hal itu, hanya caranya saja yang salah. Cube memejamkan mata. Ucapan Zero juga benar, mereka tidak bisa begitu saja membiarkan Delta keluar. Hell, Cross sudah tidak punya jiwa 16 jam sehari, tanpa Delta dia bisa benar-benar kehilangan jiwanya. Cube sedikit berpikir, mencoba berpikir seberapa besar kemungkinan Delta akan rebel? Apa yang bisa memicu Delta rebel? Cube mengingat sesuatu tentang Delta dan gadis yang dia suka. Cube pun berkata “Jangan hapus ingatanku lagi, bisa? Aku akan rahasiakan kalian pernah hapus ingatanku ataupun ingatan Delta.” Cube mencoba melihat dari sisi overprotektif Cross. “Namun jika sampai pada waktunya nanti Delta meminta keluar Console, biarkan aku mendampinginya.”


Mata Cross kembali berkedut mendengar kemungkinan Delta meminta keluar Console. Zero menghela nafas. “Oke, tentang tidak hapus ingatanmu lagi, oke, aku bisa setuju. Tapi apa kau yakin bisa mendampingi Delta dari segala mara bahaya?” Tanya Zero.


“Kalian berbicara seolah kalian tidak bisa melindungi Delta.” Ejek Cube. “Ku pikir kalian tidak membiarkan Delta keluar hanya karena khawatir, jangan-jangan ternyata karena kalian tidak bisa melindunginya, hm?”


Hawa amarah mulai muncul dari Cross “Aku sudah melindungi Delta jauh lebih lama darimu” Ucap Cross dengan nada yang sedikit naik.


Exactly. Lalu dimana masalahnya? Kau percaya padaku dan Zero. Kau tahu aku bisa menjaga Delta, begitupun Zero. Lalu kenapa kau masih takut, Cross?” Tanya Cube sekarang langsung ke sumber masalah.

Zero melihat ke arah Cross, seolah menanyakan hal yang sama. Cross tahu arti tatapan Zero, menyadari bahwa masalah utama terletak pada ketakutannya sendiri. Walau begitu, Cross tidak bisa langsung tenang dan menerima. Ketakutan dalam dirinya valid, bukan sesuatu yang bisa hilang hanya oleh satu dua kalimat. Cross terdiam.


“Aku tidak minta kau langsung mencabut larangan keluar dari Console. Kata kuncinya adalah ‘jika nanti Delta meminta’.” Ujar Cube memberi keterangan bahwa perubahan tidak akan terjadi secara langsung, Cross punya waktu untuk menyortir perasaannya untuk semua perubahan yang akan terjadi.


“Ya” Jawab Cross singkat. “Aku tidak akan menghapus ingatanmu lagi.”


Masih menggantung apakah Cross akan membiarkan Delta keluar Console nantinya, tapi yang pasti, keinginan Cube untuk tidak dihapus ingatannya lagi dan tujuannya kesini hari ini sudah tercapai. “Alright, got it.” Ujar Cube berdiri dari duduknya. Diamond kembali menghilang, mengerti bahwa tujuan tercapai tanpa Cube butuh perlindungan lebih darinya.


“Cube.” Sebelum menutup pintu keluar, Zero memanggil, menghentikan langkah Cube.


“Jangan anggap ini sebagai aku merestui hubungan kalian ya” Zero mengedipkan sebelah matanya pada Cube.


“Hah- hubungan apa?? B-Bangsat!!!” Cube berteriak sambil menutup pintunya dengan keras. Terdengar suara berat langkah kaki Cube menaiki tangga menjauh dari Console.

 


Zero tertawa terkekeh, memeluk Cross dari sebelahnya ke pangkuannya. “Entah denial atau masih belum sadar.” Maksud Zero tentang Cube dan perasaannya pada Delta.


Cross menyenderkan kepalanya ke dada Zero, melingkarkan tangannya ke belakang pinggang Zero. Nyaman terduduk seakan dua kepingan puzzle yang menjadi satu. “Aku juga belum merestui” Gumam Cross.


“Nah, kau juga, denial.” Zero mengecup rambut Cross. Kalau Cross memang tidak merestui, seharusnya Cross marah saat menemukan Cube dan Delta di posisi aneh tempo hari. Juga kalau Cross memang tidak merestui, seharusnya Cross marah saat tahu Zero mengizinkan Cube dan Delta ke Comiket. Kenyataannya kemarahan Cross hanya tentang kekhawatiran Delta berada di dunia luar. Bukan tentang Cube yang ada bersama Delta atau tentang izin yang diberikan Zero. Cross percaya pada Cube sebesar dia percaya pada Zero, Zero mengerti.


“Hmpm.. aku hanya mengantuk.” Cross membenamkan kepalanya lebih dalam lagi, mendengar detak jantung Zero.


Yes, yes.” Zero lanjut mengusap punggung Cross, memberinya kenyamanan untuk jatuh tidur.

 

Hari itu berakhir dengan perjanjian mereka untuk tak menghapus ingatan Cube lagi. Membiarkan Cube masuk lebih dalam ke dunia mereka, mengizinkannya menyayangi Delta seperti mereka menyayangi masing-masing.


 




Related Posts

See All
Chapter 24 : Ficus pumila

Sesosok pria dengan seragam pengantar paket berbelok ke sebuah gang kecil diantara bangunan. Berjalan terus mengikuti sumber cahaya di...

 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page