Chapter 24 : Ficus pumila
- Tri

- Nov 29, 2020
- 5 min read
Updated: Mar 3, 2025
Sesosok pria dengan seragam pengantar paket berbelok ke sebuah gang kecil diantara bangunan. Berjalan terus mengikuti sumber cahaya di kejauhan. Hingga dia sampai di sebuah space kosong, ukurannya tidak lebih dari 5x5 meter menurut perkiraannya. Dikelilingi tembok bangunan dan pagar kayu lapuk rumah, terhimpit bangunan dengan cahaya matahari menyinari sedikit, vertikal dari atas. Tanah lembab dibawah, dia duduk di undakan dari semen berbentuk kotak. Tempat itu seperti bekas tempat pembakaran, dapat dilihat dari bekas bakar di salah satu tembok. Bukan tipikal tempat pembakaran sampah besar, sepertinya hanya digunakan untuk membakar sampah rumah tangga warga sekitar. Melihat lumut yang tumbuh menunjukan sudah lama tidak ada pembakaran sampah disitu.
Si pria mengambil rokok dari saku. Menempatkan rokok diantara dua bibirnya, setitik api dari korek menyalakan ujung rokok. Baru satu hisap, pria itu batuk. Segera membuang si rokok, asapnya tidak banyak namun cukup untuk membantu perubahan bentuk tubuh si pria terlihat lebih dramatis. Pria tadi masih membersihkan rasa pahit di mulut. Di tiap jari tangan kanan terdapat tato membentuk nama CROSS. Tangan kini menyibak rambut sambil menghela nafas.
“Peh! Kok bisa ada yang suka rokok. Pahit, sesak. Huek”
Pria ini, Zero, membuka smartphonenya. Melihat tidak terlalu banyak misi untuk SeGa akhir-akhir ini. Misi terakhirnya saja hanya mengirim paket. Paket berupa binatang peliharaan eksotis. Birokrasi sulit bila menyewa jasa pengiriman biasa, makanya si klien meminta bantuan SeGa. Hanya misi remeh tanpa resiko besar. Mungkin karena dunia sedang baik-baik saja atau mungkin karena muncul banyak jasa setipe. Jasa yang dimaksud adalah jasa odd jobs seperti grupnya yang menawarkan bayaran untuk melakukan apapun. Salah satunya Nero Fellow.
Nero Fellow… bah, nama yang cheesy, jelek, tidak unik, tidak mudah disingkat. Coba mau disingkat jadi apa? NeFe? Nellow? Iyuh... Zero mendengus, sedikit tersenyum. Pasalnya dia tahu nama seaneh itu cocok untuk siapapun yang ada di balik Nero Fellow. Anak asuh mantan sahabatnya, dengan nama Nero. Nero Fellow sebagai nama usaha benar-benar tidak kreatif. Semacam dengan “Somay Soimah” atau “Katering Mamah Dedeh”. Hanya jual nama tokoh. Masalahnya, Nero ini siapa? Namanya tidak punya power! Jadi gusar sendiri, cukup. Lupakan masalah naming sense. Zero menghela nafas lagi, meregangkan tubuh sebelum kembali termenung mengulang ingatan atas apa yang disampaikan Cube di hari sebelumnya.
Cube menyampaikan bahwa ada klien yang minta bantuan untuk melawan anggota Kannon. Lebih parahnya, Cube mengabulkan permintaan si klien secara sepihak. Memakai nama SeGa tanpa persetujuan Cross atau Zero. Kekhawatiran Zero bukan kepada hukuman apa yang harus diberikan pada Cube, tapi lebih ke fakta bahwa Cube telah melawan Kannon.
Tidak ada aturan khusus dimana budak Kannon seperti mereka dilarang melawan Kannon. Seharusnya tidak masalah… kan? Hanya, Zero yakin aturan tersebut tidak ada pasti karena ada sebab. Tidak mungkin organisasi sebesar dan setua Kannon tidak mempertimbangkan kemungkinan budaknya membangkang. Kemungkinan ada dua: antara Kannon merasa budak-budaknya bukan ancaman atau mereka memang sengaja tidak memberi aturan itu untuk ‘menantang’ budaknya, untuk kemudian menjebak si budak dengan perjanjian atau hukuman lebih berat.
Zero belum cerita tentang ini pada Cross. Zero berniat mengumpulkan semua informasi yang ia miliki dulu sebelum laporan pada Cross. Sejauh ini Zero telah menyelidiki tentang klien yang dimaksud Cube. Klien itu adalah Nero, si pemilik Nero Fellow, seorang malaikat in training dibawah bimbingan mantan sahabat Zero, Nein. Kasus ini mau tidak mau akan melibatkan Zero kembali pada mantan sahabatnya.
Menutup mata, Zero menghela nafas panjang. Mengingat masa dimana dia dan Nein belum menjadi ‘mantan sahabat’.
***
“Bagaimanapun juga, aturan Tuhan adalah mutlak.” Ucap Nein, si malaikat berambut putih panjang yang tersenyum melihat sesosok manusia dipotong tangannya oleh manusia lain. Mengikuti aturan Tuhan, kata manusia lain yang memotong tangan.
“Dia mencuri karena terpaksa, kalau bisa pun dia tak akan memilih dilahirkan di tempat yang mendorongnya menjadi pencuri.” Zero disebelahnya, melihat pemandangan yang sama.
“Dia bisa berbuat hal lain, hal yang tidak dilarang oleh aturan Tuhannya.”
“Apa kau melihat hal yang sama? Kita sudah mengikuti manusia ini sebulan terakhir. Kalau tidak mencuri, dia mungkin sudah mati pagi tadi.”
“Kalau tidak mencuri, dia mungkin mati dalam keadaan baik. Lebih baik begitu daripada hidup menjadi penjahat kan?”
“Bagaimana kau bisa bilang itu ‘lebih baik’?”
“Karena baik buruk itu subjektif, tapi aturan Tuhan mutlak. Tidak melanggar jelas lebih baik.”
Ucapan Nein masih diucapkan dengan senyum indah diwajahnya. Sementara kerutan diantara dua alis Zero semakin merumit.
Zero masih tak habis pikir bagaimana bisa bilang melanggar aturan Tuhan itu buruk kalau nyawa jadi taruhannya? Apalagi untuk manusia yang nyawanya hanya satu, apalagi untuk manusia yang tidak tahu aturan Tuhan sebenar-benarnya. They didn’t know better, how can they do better? Manusia harus mengikuti aturan yang tidak sadar mereka setujui, bukankah itu tak adil? Tidak bisakah mereka hidup bebas semau mereka? Toh kan baik-buruk itu subjektif, katanya.
Semua pikiran itu Zero simpan di dalam hatinya. Tahu betul dia berada di lingkungan dimana rasa penasaran saja bisa berpotensi jadi dosa.
Tangan putih Nein menggenggam, mengajak dia terbang kepada manusia lain. Study Tour macam begini selalu menambah pertanyaan tak terjawab di dalam hati Zero. Kalau saja diperbolehkan berbuat semaunya, Zero tak ingin mengikuti study tour ini lagi. Andai saja Zero bisa pergi kemanapun yang dia mau, berada di tempat yang dia mau, berbuat sesuka hatinya.
Mata Zero menatap Nein di depannya. Bagaimana Nein bisa sepatuh itu? Tidakkah Nein punya keinginan sendiri, untuk berbuat sesuka hatinya?
Image loyalitas selalu menempel pada Nein. Zero tidak membenci Nein, tidak pernah. Hanya Zero tidak tahan dengan loyalitasnya. Seolah Nein tidak punya keinginan sendiri, menerima takdirnya dengan baik, menundukkan kepalanya 24/7. Seperti berpura-pura, palsu. Zero tidak nyaman berteman dengan orang yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Berpikir mungkin saja semua perlakuan Nein padanya selama ini hanya semata-mata mengikuti aturan Tuhan, bukan tulus keinginan diri.
Setiap kali Nein mengajaknya kemanapun… Ah, itu karena Tuhan meminta kita tidak meninggalkan sesama. Setiap kali Nein bercanda dengannya… Karena Tuhan bilang senyum itu berpahala. Dan jika Zero mempertanyakan sikap Nein, Nein akan memintanya berpikiran positif… Karena Tuhan mengikuti ekspektasi umatNya.
Jemu.
Zero ingin berada di sekitar orang yang dia mau, yang bisa ia yakini ketulusannya.
***
Lamunan Zero terpecah oleh panggilan dari kontak yang familiar mengisi daftar recent call, dari Delta.
“Zero!! Aku bosan! Lagi dimana? Beliin makan malam sekaliaaan”
Zero tersenyum, lamunan keruhnya berubah seru. “Mau makan apa? Aku sedang sibuk, sibuk, super sibuk!” Zero berbohong, hanya ingin menggoda adik kekasihnya itu.
“Bah! Kan lagi ga ada misi. Aku ga sebodoh itu! Pizza dong pizza, Cube sedang tidak ada disini, jadi tiga loyang cukup.”
Oh, Cube sedang sibuk dengan sesuatu ya? Pikiran Zero kembali mengawang kemana Cube pergi. Apakah ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Sayangnya pertanyaan tersebut harus kembali dia simpan, Delta dan Cross belum tahu apapun. Lagi, Zero berniat mengumpulkan semua informasi yang ia bisa sebelum mengabari Delta atau Cross. “Okeh pizza ya, yang super pedas kan?” Ledek Zero, tahu Delta tidak kuat makan makanan pedas.
“Pesan pedas akan aku- Oh! Kakak bangun. Kaaaakk mau pizza…” Suara Delta menjauh, sepertinya lanjut bicara pada Cross dalam keadaan telepon masih terhubung.
Zero hanya menghela nafas, tersenyum sambil menunggu lanjutan jawaban Delta. Delta selalu begini, mudah terdistraksi, banyak gaya, banyak omong, banyak mau, tapi.. ini yang membuat hidup Zero lebih berwarna. Jauh berbeda dengan kehidupannya semasa menjadi malaikat dimana segala harus dibatasi tanpa ada pilihan berarti.
“Zero, pesan margerita satu, sisanya terserah, kau tentukan sendiri.” Delta kembali menjawab sebelum dibalas dengan persetujuan Zero dan Delta menutup telponnya dengan “Cepat ya!”
Sisanya kau tentukan sendiri, katanya. Selalu ada ruang untuk Zero memiliki pilihan. Bersama mahluk-mahluk ini Zero selalu dapat berbuat sesukanya. Hati Zero penuh, merasa puas berada bersama mereka yang Zero inginkan dalam hidupnya. Tidak perlu takut dengan siapapun dia terlibat nanti, Zero selalu punya mereka untuk kembali.
Memasukkan smartphone kembali ke sakunya, Zero berdiri, meregangkan badan. Matanya menangkap tanaman ficus pumila yang tumbuh di pagar kayu. Tidak berbunga, jauh dari matahari, tumbuh di tempat yang tak ideal namun tumbuh subur disitu. Tanaman itu sama, simply thriving in the place they want to be. Kembali senyuman kecil muncul di wajah Zero yang kini berubah bentuk menjadi sosok seorang bapak-bapak, mengayunkan kakinya menuju toko pizza.

Comments