top of page

Day 6

  • Writer: Tri
    Tri
  • Mar 3, 2024
  • 8 min read

Updated: Jan 28, 2025


“Kau mau apa?!” Sahut Nero.


“Ahaha, tidak~ aku hanya ingin menawarkan bantuan, kalau saja kalian kekurangan kekuatan. Yaa maksudku, walaupun kalian angel, ada saatnya kalian butuh kekuatan lebih kan? Untuk melindungi diri dari lawan yang lebih kuat misalnya, atau…” pria itu tersenyum. “Disaat kalian seperti ini.”


Tiba-tiba tubuh Nero dan Lin kaku, sama sekali tidak bisa digerakkan. Apakah ini kekuatan pria itu kah?


Sambil bersusah payah menggerakkan tubuhnya, Nero mendecak “Kami tak butuh bantuanmu!”


“Ne… ro…” Terdengar panggilan serupa bisikan lirih Lin dibelakangnya. Nero yang mendengar rintihan Lin ingin sekali membawa Lin pergi jauh-jauh sekarang juga, tapi tubuh mereka sama sekali tak bisa bergerak.


“Lalu, kalau kalian seperti ini bagaimana dong?” pria itu meledek, tatapannya meremehkan.


Tubuh Lin tiba-tiba jatuh ambruk, dari suaranya, sepertinya Lin kehilangan kesadaran, entah karena apa. Tak bisa berbalik untuk memeriksa tubuh Lin, Nero hanya bisa memanggil namanya.


Pria tadi semakin mendekat sambil tertawa “Santai saja, aku bisa membangunkannya lagi nanti.” Dia mengeluarkan sebuah pulpen dan kertas, menuliskan sesuatu disitu. “Disini. Selain kau bisa memintaku untuk membangunkan temanmu, aku juga bisa memberimu kekuatan lebih. Pria tadi menyelipkan kertas itu di kantong jaket Nero.


“Tidak akan!” Sahut Nero yang mulai berkeringat dingin. Tubuhnya bergetar hebat tapi tak bisa bergerak.


“Temanmu tidak bisa bangun loh nanti~ Haha. Sudahlah, jangan buat ini lebih sulit."  Pria itu berjalan menjauh. "Aku tunggu kedatangan kalian yaa” lanjutnya hingga si pria pergi keluar dari pandangan Nero. Nero baru dapat menggerakkan tubuhnya kembali.


Segera Nero memeriksa tubuh Lin. Tak ada luka, masih bernafas, namun tidak bereaksi sama sekali, seperti orang koma. Bergegas Nero menghubungi siapapun yang dia bisa. Satu panggilan, dua panggilan dan seterusnya. Nein tidak bisa dia hubungi, begitupun keempat teman lainnya.


“Ayolah.. siapapun! Siapapun!” Frustasi, Nero membanting smartphonenya. Tubuhnya gemetar karena panik. Dia khawatir dia sedang berpacu dengan waktu. Nero tak tahu apa yang pria itu lakukan pada Lin, dia ingin Lin bangun. Siapa lagi yang bisa dia minta tolong? Orang yang lebih kuat darinya, tentunya yang bukan manusia, siapa… ada. Pria berambut magenta. Tidak! Meminta tolong orang itu bukan pilihan! Orang itu berteman dengan Zero yang sudah-! Tunggu, dia berteman dengan Zero? Zero yang seperti itu tidak mungkin berteman dengan orang lemah kan. Mungkin kali ini si pria berambut magenta bisa membantunya, apalagi tadi pagi pria berambut magenta itu tidak terlihat berbahaya. Nero kembali menimbang pilihan apapun yang bisa dia ambil.


“Sh*t!” Nero menggendong tubuh Lin, menuju tempat dimana mereka bisa mendapat bantuan. “Apapun yang penting Lin bangun!” Pikir Nero membulatkan tekadnya. Mereka menuju ke pinggir sungai, didekat sebuah mall terbesar di kota.


***


Malam sudah sangat larut saat mereka sampai dipinggir sungai. Perjalanannya memang tidak bisa dibilang dekat, hanya rasa khawatir dan takut dalam Nero yang bisa menggerakkan kakinya kesini. Nero menidurkan Lin di rerumputan, melihat Lin masih terlelap. Melihat ke arah bawah jembatan yang sangat gelap, Nero meyakinkan dirinya. Dia masuk ke bawah jembatan, mencari keberadaan seseorang.


“Halo!! Ada orang disini?! Aku..aku butuh bantuan! Halo?” Teriak Nero. Sambil sesekali menoleh memastikan tubuh Lin aman, dia kembali mencari. “Halo-“. Tidak ada jawaban. Nero sudah kalut. Dia berteriak-teriak meminta bantuan.


“Berisik!!!” Sesosok pria muncul lewat pintu gelap yang terbuka. Pria berambut magenta yang Nero cari. “Sedang apa kau disini?” Pria berambut magenta itu mendecak, mengeluarkan aura tak bersahabat. Wajar saja mengingat sikap Nero padanya tadi pagi.


Nero menelan ludahnya. “A.. aku butuh bantuan.”


“Hah?!”


Pria itu memberikan tatapan kenapa-aku-harus-membantumu. Ugh, kalau bukan karena terpaksa, Nero juga tidak ingin menemui pria ini lagi, tapi demi Lin. “Ku mohon.” Nero memohon. Kapan terakhir kali dia memohon seperti ini? Nero sendiri tidak ingat. “Ku mohon. Temanku... dia diserang mahkluk aneh” Nero menundukkan kepalanya. Bersujud pada Pria di depannya. “Apapun! Apapun yang dapat membantu Lin!” Pikirnya.


Pria tadi hanya terdiam kemudian menghela nafas. “Mana temanmu?”


Nero mengangguk, "Temanku disana." katanya sambil berlari ke arah Lin memberi isyarat agar pria itu mengikutinya.


Melihat keadaan Lin, belum sempat Nero bercerita, pria tadi mengangkat Lin. “Ceritanya nanti. Ku bawa kalian ketempat aman.” Seolah pria itu tahu sesuatu yang cukup berbahaya telah terjadi pada Lin. Nero kembali mengangguk, mengikuti pria tadi.


 ***


Kini mereka sampai di salah satu kamar apartemen mewah. Kamarnya sangat luas, terlihat tangga dan beberapa pintu yang terhubung ke kamar lain. Kata 'kamar' rasanya kurang tepat untuk menggambarkan tempat ini. Lebih ke rumah hanya saja berada di gedung tinggi.


“Tenang, ini rumahku.” Pria tadi berkata sambil membaringkan tubuh Lin di sofa.


Huh?! Pria ini tidak tinggal di tempat semewah ini?! Jadi dia bukan homeless??”


“Kau tidak berpikir aku tinggal di bawah jembatan kan?" Ujar pria tadi lagi. Nero hanya menelan ludah. Ya sedikit terkejut sih, tapi Nero menahan diri, tak ingin membuat marah orang yang dia pinta bantuan. “Bagaimana ceritanya?” Tanya pria itu mempersilahkan dia duduk. Oh ya, cerita. Bukan saatnya teralihkan dengan hal lain.


“Kami sedang diperjalanan pulang ketika seseorang menghalangi jalan kami. Orang itu terlihat seperti manusia normal, dengan topi berwarna merah muda dan pakaian layaknya manusia biasa.”


Pria didepannya hanya mendengarkan


“Orang itu bicara tentang menawarkan memberi kami kekuatan lebih atau apalah aku tidak mengerti. Karena mencurigakan, aku menolak. Kemudian tubuh kami jadi tak bisa bergerak, Lin menjadi tak sadarkan diri. Orang itu berkata dia bisa membangunkan Lin apabila aku datang ke tempatnya, dia memberiku sebuah alamat.”


Nero merogoh kantongnya, memberikan kertas berisi alamat yang dia terima dari pria bertopi merah muda. “Tapi aku tak tahu tempat apa itu, aku sudah berusaha meminta pertolongan kemanapun namun tidak ada yang merespon, jadi aku-”


“Kau tahu Serious Gaming?” Belum selesai bicara, pria didepannya memotong perkataan Nero dengan sebuah pertanyaan.


“Huh? Serious Gaming? Sega? Urban legend itu? Aku pernah mendengarnya.” Jawab Nero. Kenapa orang ini membicarakan Sega sekarang? "Kenapa dengan Sega?" Tanya Nero berusaha menyambungkan titik percakapan ini.


“Dari awal aku tidak pernah bilang aku akan membantu kalian.” Ujar pria itu.


“Hah?! Tapi kami kesini-“


“Namun aku bisa membantu kalian sebagai anggota Sega.”


Nero terdiam, berusaha memproses apa yang baru dia dengar sebelum dia sadar. “KAU ANGGOTA SEGA?!” Teriak Nero.


“Hanya kalau kau mau.” Lanjut pria itu.


“A.. bukannya tidak mau, tapi aku kesini untuk meminta bantuanmu, kenapa Sega…”


“Dengar, um.. siapa namamu?” Tanya pria itu.


“Nero.”


“Ya, Nero. Orang yang kalian temui sepertinya adalah anggota Kannon.”


“Kannon?”


“Ya, semacam organisasi yang akan membantumu apabila kau ingin membuat perjanjian dengan mahluk lain. Misalnya, bila kau butuh kekuatan lebih, mereka akan membantumu membuat perjanjian dengan mahluk apapun yang bisa memberimu kekuatan lebih itu. Tapi…” Pria itu terdiam sejenak, seolah mengingat memori yang tidak menyenangkan. “Kannon berpihak pada iblis.” Lanjutnya. “Kannon akan membuat perjanjian berat sebelah yang akan menguntungkan mereka. Mereka ingin mengeksploitasi kekuatanmu. mereka akan melakukan apapun agar kau membuat perjanjian dengan mereka. Mengambil jiwa temanmu ini salah satunya.”


“Tunggu… bagaimana kau bisa begitu yakin?” Tanya Nero bingung. Jangan-jangan dia juga bagian dari Kannon!?


Pria itu diam sejenak. “Pengalaman.” Jawabnya. “Aku akan membantumu melalui Sega, aku tak bisa melakukan ini sendirian.”


Pria itu mengeluarkan gadgetnya, mengakses sesuatu yang ada disitu. “Bacalah.”


Nero membaca apa yang tertulis disitu, peraturan untuk membuat permintaan pada Sega. Setelah selesai, Nero terpaku pada satu hal. “Bayarannya?“ Tanya Nero.


“Semua informasi yang kau tahu tentang Zero.”


Pertanyaan kembali muncul di kepala Nero. Loh? Bukankah orang ini teman Zero? Waktu itu dibawah jembatan kan.. Apa dia ingin mengkhianati Zero? Atau sebenarnya yang jahat adalah Zero? Atau... “Bukankah kau mengenal Zero?” Tanya Nero langsung.


“Ya. Karena itulah aku ingin tahu apa yang tidak ku tahu, dari orang lain yang mengenal Zero.”


Jawabannya hanya dijawab dengan diam oleh Nero, pria tadi tahu Nero mulai meragukannya. “Jangan khawatir, ini masalah personal. Setelah ini selesai, kau tidak akan terlibat lagi denganku.”


Sejujurnya Nero sedikit ragu, dia takut sesuatu akan terjadi bila dia membocorkan segala sesuatu tentang Zero. Tunggu.. kenapa dia harus takut? Apa yang bisa terjadi? Nero menimbang, pria didepannya yang teman Zero saja menanyakan tentang Zero. Berarti ada sesuatu yang aneh dengan Zero. Hal yang bahkan Nero tidak tahu. Apapun itu, Nero merasa dia bisa lebih percaya pria didepannya dibanding Zero. Kembali ke masalah, ini juga untuk membantu Lin kan.


“Oke, deal. Apa rencananya?” Ucap Nero menyetujui perjanjian itu.


Pria tadi mengangguk lalu memulai percakapan tentang stragegi mereka selanjutnya.



***


Tertatih-tatih Nero menggendong Lin menuju kuil diatas bukit, tempat sesuai dengan alamat yang tertulis di kertas itu. Didepan kuil, ditempat yang dijanjikan, tidak terlihat siapapun.


“Aku disini! Aku yang sore kemarin! Hei! Keluar kau!” Teriak Nero dibalas oleh suara hembusan angin.


“Akhirnya kau datang, haha.” Pria bertopi merah muda dengan tawa kecil khasnya muncul dari belakang kuil. “Sudah siap membuat perjanjian?”


Nero menelan ludahnya. “Sebelum perjanjian, aku ingin kau membangunkan temanku.”


“Hey hey, itu harusnya setelah deal perjanjian kan?” Pria bertopi merenyitkan dahi.


“Kumohon. Ada yang ingin kusampaikan padanya. Untuk terakhir kalinya.”


“Haha, terakhir kali?”


“Aku tidak tahu apa aku masih bisa hidup setelah aku mengikat perjanjian denganmu kan?”


Jawaban Nero membuat pria itu tersenyum. “Ya tidak salah~” Katanya. Entah apa yang pria bertopi itu lakukan, sesaat kemudian terlihat pergerakan di jari Lin, perlahan Lin membuka matanya.


“Lin!”


“Huh? Ah? Nero?” Lin mengucek matanya pelan.


“Segera sampaikan kata terakhirmu anak muda” Titah pria itu seolah tidak rela melihat sanderanya bangun terlalu lama.


“Aku… AKU TIDAK AKAN MEMBUAT PERJANJIAN DENGANMU!” Dengan cepat Nero menggendong tubuh Lin, membawa Lin lari pergi.


Pria tadi sempat tertegun sebelum sadar korbannya lari. “Ahaha ya ampun” Pria tadi kembali tertawa kecil, badannya bersiap untuk mengejar. Baru saja mau melangkah, beberapa pasang tangan putih muncul menahan si pria bertopi. Berdecak, dia mencoba lepas namun sulit.


“Kau tidak akan mengejar mereka.” Pria berambut magenta muncul menghalangi pandangannya ke arah Nero dan Lin.


Pria bertopi mengerti perlahan apa yang terjadi. “Kau… tahu kan apa akibatnya ini untukmu?” Pria bertopi itu bicara dengan nada serius.


Ekspresi terkejut muncul di wajah si pria berambut magenta, tubuhnya menjadi kaku, sama seperti Nero waktu itu, tak bisa bergerak.


“Apa? Kado hanya mengikuti perintahku, sesuai perjanjianku dengannya.” Ucap pria berambut magenta.


Pria bertopi memutar matanya, seolah berpikir sesuatu. Lalu tersenyum.


***


Nero menaiki bis yang baru datang, menurunkan Lin disebuah kursi kosong. Masih terengah, Nero duduk disebelahnya.


“Nero? Un.. Apa yang terjadi?”


“Kau… kau… diam dulu. Akan kuceritakan dirumah nanti.” Lin yang biasanya cerewet hanya diam mendengar jawaban itu. Walau dia tak ingat apa-apa, Lin tahu sesuatu telah terjadi, sesuatu yang cukup besar dia sendiri tak tega untuk banyak bertanya.


Perjalanan berlanjut aman, mereka kini sudah sampai dirumah, sudah dalam keadaan jauh lebih tenang. Nero mulai menceritakan semua yang terjadi pada Lin. Tentang pria bertopi yang mencurigakan, tentang si pria rambut magenta dan segala pembicaraannya di malam sebelumnya. Lin hanya terdiam, memproses banyak hal yang terjadi selama dia pingsan. Ada rasa bersalah yang sangat besar dalam hati Lin. Rasa bersalah karena dia menjadi beban, juga karena tidak bisa membantu Nero. Lin memeluk Nero tanpa berkata apapun.


“Hey- su.. sudahlah, semua ini sudah selesai.” Ujar Nero yang agak kaku melihat Lin dalam pelukannya.


“Tapi harusnya aku bisa membantu. Aku… hanya membebanimu.” Lin memeluk lebih erat.


“Jangan khawatirkan soal itu. Yang terpenting kau baik-baik saja sekarang. Aku hanya tinggal membayar.”


“Oh! Membayar... Pria yang menolong kita tadi?"


"Ya, setelah itu semuanya selesai, dia bilang kita tak akan terlibat lagi dengan mereka.''


Lin terdiam. Merasa ada yang salah, merasa ragu dengan keputusan untuk tidak terlibat lagi dengan pria yang menolong mereka. Tok tok tok. Pintu rumah mereka diketuk seseorang, memecah lamunan Lin. “Ya! Sebentar~” Lin bergegas bangun membuka pintunya.


Di depan pintu, si pria berambut magenta.


“Aku datang untuk bayarannya.” Kata pria itu singkat.


“Sekarang juga?!” Tanya Nero yang kemudian datang dari belakang Lin.


Lin mempersilakan pria itu masuk. “Kau benar-benar pria yang di taman itu rupanya! Aku akan siapkan minuman untukmu, Cube.”


Pria tadi merenyitkan dahi, belum sempat bertanya dari mana Lin mengetahui namanya, “Kau tahu namanya?!” Tanya Nero duluan.


“Ya! Dari surat cinta yang temannya tulis ituloh... Dia juga menuliskan bahwa kau adalah teman yang baik!” Jawab Lin tersenyum lebar.


Cube terkejut. Dia tidak mengira namanya akan disebut. Saat mengantarkan surat, dia tidak membuka atau penasaran sama sekali dengan isinya. "Sial Delta.. apa dia tak mengerti arti kata 'surat cinta', tidak seharusnya dia menulis tentang orang lain." Ucap Cube dalam hati menggeleng kepala.


Nero yang mendengar itu pun cukup terkejut, bisa-bisanya pria yang dulu memukulinya, berkata kasar dan hanya menyelamatkan diri sendiri di kereta ternyata tidak seburuk yang dia pikir. Sampai ada orang yang menyebutnya teman baik.


Nero dan Cube kini duduk didepan meja kotatsu sementara Lin masih membuat minum. Menghela nafas, Nero mulai bercerita.


“Jadi, Zero itu…”


Related Posts

See All
Keinginan Duniawi Menutup Hati

Mengejar Kebaikan Bukan Satu-Satunya Cara Untuk Mencapai Kebahagiaan Sempurna 💎💎💎 Permulaan cerita diawali penjabaran nuansa klise....

 
 
Angels in the City

Lin berjalan memasuki area taman, mencari orang yang memerlukan bantuan. Cuaca cerah membuatnya bergairah dalam menunaikan pekerjaan....

 
 
 
Friends

“Nero, gue mau pergi ke taman dulu, ya! Lu ikut, gak?” Pihak yang baru saja dipanggil namanya hanya menengok sebentar. Melihat temannya...

 
 
 

Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page