top of page

Keinginan Duniawi Menutup Hati

  • Sheville
  • Oct 14, 2024
  • 8 min read

 

Mengejar Kebaikan Bukan Satu-Satunya Cara

Untuk Mencapai Kebahagiaan Sempurna

💎💎💎


Permulaan cerita diawali penjabaran nuansa klise. Hari cerah, berawan, semua lapisan masyarakat beraktivitas …. seluruhnya sudah menjadi bulan-bulanan dari keseharian yang ‘biasa’. Menyelipkan barang satu atau dua anomali dari sesuatu yang ‘tidak biasa’, mungkin akan terdengar menarik pirsawan baca ….. namun apa jadinya jika sesuatu yang ‘tidak biasa’ ini justru membaur dengan keseharian yang ‘biasa’?

Menjadi ‘tidak biasa’, menjadi ‘biasa’, atau menjadi ‘luar biasa’ bukanlah sesuatu yang berbeda satu sama lain di mata Tuhan. Semua sama, setara, dan tak ada artinya jika memijak tanah bumi fana. 


Lin dan Nero adalah salah duanya.


“Gue masih gak habis pikir sama efisiensi energi yang lu habisin buat nolongin orang secara langsung,” mulut Nero mencecar keluh kesah. “Beneran lebih enak pake sosmed, simpel dan cepet.”


Lin mendelik. “Duh Nero, omongan itu udah berapa kali aku denger hari ini!” Gadis itu berkacak pinggang, mengibas helai emas keritingnya ke belakang. “Kalau banyak gerak gini asyik, tahu! Sekalian olahraga, mumpung belum siang bolong.”


Nero mendesah. Ia singgahi pantat di kursi kayu panjang pinggir jalan. Butir keringat mengalir di balik leher, tangan memberi gestur mengipas kepala. Kalau bukan karena dipaksa supervisornya — Nein — untuk menemani Lin menolong manusia dengan cara manual …. yah, Nero tidak akan mau.  


“Pasaran …. caramu pasaran banget!”


Kata-kata yang masih diputar di kepala Nero bak kaset rusak, malah semakin menyulut bara emosi. Sudah lama sejak perkataan itu turun landai ke dalam kepalanya, tapi baru tadi pagi Nein menyuruhnya mengikuti Lin keluar, jadi memorinya kembali mencuat.


Cih, padahal ga ada larangan tentang cara nolong orang tuh gimana. Lagian jokiin akun game juga dihitung sebagai menolong, cara pasaran darimana coba, otak mengapung ke atas, bersit cahaya matahari menusuk iris mata Nero yang menengadah lelah. Lin menyeretnya kemana-mana — membantu seorang kakek menyebrang, membantu melerai dua anjing bertengkar, membantu membawakan belanjaan seorang wanita hamil, membantu memotong rumput …. Ugh, Nero tidak habis pikir. Benar-benar cuma menghabiskan tenaga saja!


Dan sekarang ia ingin istirahat sebentar. Lin di depannya masih mondar-mandir melihat ke sekeliling — mencoba menyapu pandangan, siapa tahu-ada-yang-bisa-ia-tolong. Tenggorokan kering tercekat, Nero lantas merogoh tas hanya untuk mendapati tidak ada air minum.


“Lin, bagi minum dong,” pinta Nero serampangan. Lin mengangguk, ia buka tasnya lantas memberikan botol minum.


Yang kosong.


“Yang bener aja lu?” Nero mengerutkan alis. Lin sebagai pemiliknya malah ikut kaget.


“EH? Kok bisa kosong? Kapan aku habisin??” 


Tepuk kepala sampai bunyi ‘plak’, Nero pun merogoh dompet. 


“Yaudahlah, daripada lu gabut,” Nero beri selembar kertas uang pada Lin. “Mending lu beliin gue minum deh. Di daerah sana ada konbini, kan? Nah, lu bisa beli disitu. Gue capek berat, mumpung sinar surya di atas sana belum terik membakar, gue mau memanfaatkan waktu leha-leha.”


Senyum lebar merekah di roman Lin. “Minuman apa saja? Mau nraktir aku?!”


“Wah, mana sudi! Lu beliin punya gue doang, lah! Punya lu dibeli pake duit lu sendiri!” Nero mendengus. “Minuman apa aja asal dingin!”


Bibir manyun tiga senti menjadi penanda bahwa Lin kecewa. Tapi ia tetap pergi meninggalkan Nero sendirian, memakbulkan permintaan lelaki judes itu.


Tapakan kaki Lin langkahkan lebar-lebar, tasnya berayun-ayun senada gerakannya. Seperti kata Nero, ada konbini kecil. Lin membeli dua botol minuman dingin, membayarnya di kasir, lantas cepat-cepat pergi.


Belum ada tiga puluh sentimeter saat Lin keluar konbini, tubuhnya menabrak seseorang …. Tidak. Ada orang yang sengaja menabrak Lin keras. 


BUAGH!


“Ouch?!” Lin memekik, terjatuh sampai pantatnya sakit. Lima detik kemudian, gadis itu melongo. 

Tas kesayangan yang ada di genggamannya raib. Beralih ke tangan seseorang yang tadi menabraknya.


Dan orang itu berlari.


Berlari menjauhi Lin sambil membawa tasnya.


Dan semakin menjauhi tempat Nero menunggu.


“Eh? Ehhh …?!?!” Lin cepat-cepat bangun, memproses keadaan. Instingnya dipaksa berfungsi, menamparnya dari kelinglungan. Baru sekitar tiga detik, Lin baru menyadari.


Kalau dirinya dijambret.


“EH, AKU DIMALING??! WAHHH, MALIING!” 


Lin berteriak keras, mengejar maling yang menggondol tasnya sudah jauh beberapa meter. Sialnya, tidak banyak orang berlalu-lalang, tidak banyak yang peduli pada Lin juga. Gadis itu melihat si maling membelok ke satu gang kecil.  Lin ikut membelok, hanya mendapati lorong kosong dengan cabang kelokan banyak. 


Lin mendesah, mau tidak mau ia harus menggunakan secuil kekuatannya untuk mengikuti remah jejak si maling.


💎💎💎



“Hmm, sepertinya sudah aman.”

Bisikan kecil dari lelaki terdengar dari sudut gang gelap. Ia terkekeh, sudah bertahun-tahun tungkai kakinya dilatih untuk berlari cepat. Sekarang, sudah saatnya meraup hasil panen baru dari aksinya. 


Membuka resleting dari tas berpin belasan, langsung disambut botol minum kosong, buku catatan yang langsung disingkirkan (“isinya tidak penting”), barang-barang kecil berbentuk aneh …. 


Mana ….?


Semua isi tas ini tidak ada yang berharga, lelaki itu menggerutu habis-habisan. Apa mungkin ia salah sasaran? Belum tamat mencerca, seonggok dompet ia temukan di susunan paling bawah. Tersenyum senang, ia ambil langsung dompet itu dan membuka isinya.


Tidak butuh satu detik hanya untuk menjumpai kekecewaan …. karena isi dompetnya bahkan tidak bisa dialihfungsikan untuk membeli sebungkus permen.


Yang benar saja!


“Nah, nah, nah!! Balikin tasku, please!


Sebuah suara tinggi menggelegar menyumbat telinga siapapun yang mendengar, buat lelaki itu tersentak hebat. Gadis berambut kuning kuncir dua itu menghampirinya lekas-lekas. Lelaki itu tidak menyangka ia bisa ditemukan secepat ini.


Takut ia akan dilaporkan, lelaki itu mulai memainkan rencana A.


A? Benar. Rencana ‘A’ untuk ‘Akting’. 


“Uhuhu … huhuhu … maaf kak, aku terpaksa melakukannya ….” Sedu sedan lelaki itu meneteskan air mata, mencoba mengail simpati. “Maafkan aku ya …. Ini ku kembalikan tasnya …”


“Uwagh, jangan menangis …. enggak apa-apa ya? Aku cuma mau kamu mengembalikan tasku kok,” seratus delapan puluh derajat penuh reaksi Lin berubah. Hatinya terlalu rapuh menghadapi seseorang yang sedang rapuh juga. “Uuuh, kalau kamu memang mau sesuatu, tinggal katakan saja padaku …” 


Rencana A berjalan sukses! Sebenarnya lelaki maling itu agak tak menyangka gadis di depannya terjerembab masuk ke dalam sandiwara dadakannya. Apa mungkin gadis ini …. sebenarnya mudah dibohongi dari kelihatannya? 


“I-itu …” Lelaki itu mengelap ingus. “Aku cuma ingin uang untuk makan …. Aku belum makan beberapa hari …. hidupku melarat dan miskin, tidak diterima di tempat kerja manapun karena badanku yang terlalu kecil …. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain …. bertahan hidup … dengan mengais tempat sampah …. dan– dan— SNIFFF—”


“Oh tidak, tidak, tidak ….. tidak apa-apa, tolong jangan nangis ya….” Lin mendekat, mengelus kepala daripada seseorang yang berniat jahat padanya. “Ini!! Aku membeli beberapa minuman dan snack untukmu, tolong diterima yah!”


Lin beri semua plastik berisi cemilan dan minuman dingin titipan Nero. Laki-laki itu melongo, agak bingung cewek ini diluar perkiraan.


“Uh, eh …. terimakasih Kak …,” meski begitu, ia tetap menerimanya.  Tidak mungkin ia menyia-nyiakan bentuk pemberiaan seperti ini, apalagi oleh korban malingnya sendiri. Yah, kabar baiknya adalah ia tidak khawatir akan dilaporkan sekarang.


Lin masih menatap iba. “Oh, kasihannya. Sepertinya kamu  lebih muda dariku. Siapa namamu?”


“Namaku …. Yu.”


“Aku Lin,” tanpa diminta, Lin memperkenalkan diri. “Nah, Yu. Jangan mencuri lagi, yah! Kalau Yu butuh sesuatu, kamu bisa menelponku, nanti akan aku bantu …. sebentar,” merogoh tasnya dan mengambil sobekan kertas serta pensil, Lin menuliskan nomor teleponnya sendiri, lantas memberikannya pada Yu. “Nah, kamu bisa menelponku disini. Nanti aku akan menghampirimu, oke? Pokoknya, kalau butuh bantuan, bilang saja!” 


Yu mengangguk, setengah pikirannya takjub karena Lin sepertinya sangat lugu. Setengahnya pikirannya lagi terbang ke awang-awang, berniat agar setelah ini lebih baik jauh-jauh dari cewek yang terlihat cukup merepotkan jika bertemu lagi. 


“Apa aku perlu berkunjung ke rumahmu? Mungkin kita bisa —”


“Oh-oh!! Tidak perlu Kak!” Yu menyanggah cepat-cepat. “Aku …. bisa mengurusnya sendiri …. “


“Oh, kalau begitu baiklah!” Lin mengangguk cepat, iras merekahkan senyum. “Dimakan dan diminum yah! Biar tidak kelaparan lagi.”


Mengelus kepala dengan lembut sekali lagi, Lin bangkit berdiri. Menata kembali tasnya, kemudian melambai-lambai kepada Yu tanda ia akan pergi. 


Suara langkah kaki semakin menjauh, Yu mengawasi perempuan itu menghilang dari gang. Ia melihat bungkus plastiknya dan tercenung. 


Mungkin ini bisa dijual lagi …?


💎💎💎



“Ke konbini emangnya selama ini??!! Lin ngapain aja sih?!” Gerutu yang tak kunjung padam menyembur dari roman Nero dari sekitar dua puluh menit lalu masih mengudara. Saat ia berniat menyusul, siluet gadis itu sudah muncul dari kejauhan.


“Hai Nero!!” Lin bergegas mendekati jawatannya yang sudah menukikkan alis. “Maaf lama!”


“Lu ngapain aja sih, astaga! Dan …. mana minuman gue?? Kenapa gak liat lu bawa plastik atau botol atau kaleng ….?”


Senyum Lin pudar, digulir ekspresi bingung yang tidak bisa Nero deskripsikan. 


“Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa lu gak beli minum? Kenapa lu lama? Cerita!” Nero menggoyang-goyangkan badan Lin, secercah kekhawatiran tiba-tiba merasukinya. 


“Ehehe …. minumannya sudah kukasih ke pencuri …” Lin menjawab cengengesan meski bisa dilihat ada tetes keringat jatuh dari pipinya.


Nero menganga, mengorek lubang kuping sendiri takut-takut salah dengar.


“Hah, gimana? Minumannya? Dikasih ke pencuri?’ Hah?”


Lin mengangguk. “Iya, Nero. Soalnya kasihan. Dia belum makan beberapa hari dan aku cuma pengen bantuin supaya dia bisa makan untuk hari ini!”


“Yang gue tanyain,” Nero menekankan intonasinya. “Kenapa lu bisa ngasih ke PENCURI?? Maksud gue, lu habis kecurian? Atau dia habis nyuri barang orang? Atau ….?”


“Uhm, tadi tasku diambil, terus ku kejar deh!”


Nero menepuk seluruh mukanya, mengusapnya, lalu geleng-geleng kepala tidak habis pikir.


“Astaga, lu ini bodoh beneran ya?! Jangan bilang lu ngasih minuman yang udah lu beli PAKE DUIT GUE KE DIA SECARA CUMA-CUMA?!” Nero nyaris kehabisan nafas dipukul amarah. “Yaudahlah, capek gue ngomel-ngomel. Mending gue pulang!”


“Eh, nanti dulu dong!” Lin menarik-narik seluar hitam Nero, memelas seperti anak anjing. “Jangan tinggalin aku dulu!! Kamu kan udah janji sama Nein bakalan nemenin aku sampe sore???”


“Ah, bodo amat gak peduli!” Nero bersikeras. “Lagian gue gak pengen nemenin lu sampe sore, Nein sendiri ya yang nyuruh-nyuruh seenak jidat!”


“Nanti kalau gak nurut poinmu berkurang loh!”


Ubun-ubun Nero panas, lidah berdecak kepalang sebal. Ia tak suka ada di situasi seperti ini.


“Uggh!! Terserahlah! Gue mau cari makan sendiri aja!” 


“Wah, ikuuut~~!” Lin bergelayut pada lengan Nero.


“Argh, enak aja! Jangan ikut-ikutan…!”


💎💎💎



Pada akhirnya, Nein-lah yang mentraktir mereka makan di sebuah kedai, sebelum kembali melalang-buana entah kemana.


“Dia tuh udah kayak gentayangan aja. Datang tak diundang, pulang tak diantar,” celetuk Nero menyesap kuah ramen. “Untung saja masih sudi nraktir, entah dia lagi kesamber sesuatu atau apaan.”


Menghadap jendela kaca kedai, mereka makan sembari lihat pemandangan luar. Hiruk piruk orang lalu-lalang menjadi teman makan syahdu. Lin melahap beberapa potong sushi salmon, mata mengedip-ngedip menikmati. 


Tidak lama, sudut mata menangkap seseorang yang Lin kenal. Seseorang — baru saja ia temui tadi pagi …. Lin menggali ingatannya.


“Eh, itu bukannya Yu?” Lin menaruh sumpit, memperhatikan laki-laki itu melangkah santai di trotoar membawa dompet tebal di tangan. Ada beberapa laki-laki seusianya menemani di kanan kiri. Nero meneleng curiga.


“Siapa Yu?”


Lin tidak menjawab, matanya terpaku mengawasi iras Yu melukis wajah senang sembari mengeluarkan uang dari dompet. Berlembar-lembar, banyak, dikibar-kibarkan dengan bangga. Lantas Yu berkelok ke toko sudut pertigaan.


Toko Arcade.


“Eh ….? Kupikir dia tidak punya uang? Kok main ke situ ya?”


“Kutanya, siapa Yu?” Nero mendesak gusar. 


“Maling tadi pagi,” Lin menjawab tanpa ragu.


“Hah?!” Nero membelalak. “Katanya dia orang miskin? Kesulitan untuk makan barang satu hari?? Dan dia sekarang ke toko Arcade?!”


“Mungkin ia butuh hiburan sama teman-temannya …?” Lin berkilah positif. “Lagipula kan tidak ada salahnya bersenang-senang ….?”


“Orang susah mana yang rela menghabiskan duitnya untuk senang-senang jika keperluan hidupnya saja tidak mencukupi, Lin??” Nero menyentil kepala sang partner. “Kecuali kepribadiannya emang udah rusak, gak ketolong, cuma buat seneng-seneng duniawi aja! Lihat tuh, kulihat kok dia bisa punya uang segitu lumayan? Punya dia? Atau habis mencuri? Bagaimanapun, gue yakin lu cuma ditipu!”


Lin merenung, melihat trotoar ramai. Ratusan manusia memenuhi bumi, namun tidak semua manusia memiliki hati yang sama, pikiran yang sama, keadaan yang sama. Lin tahu betul hal tersebut, untuk itulah ia dikirim ke bumi bersama para makhluk fana ini. Yah, bagaimanapun juga gadis itu tahu betul kalau tidak ada makhluk di semesta ini yang punya kebaikan murni, termasuk para malaikat yang ada di atas Langit …

…. atau Lin juga salah satunya ….?


“Aku minta maaf Nero,” Lin menatap Nero, kilatan iris netranya berbinar-binar membuat kuah ramen di mulut Nero nyaris muncrat keluar.


Hah, muka macam apa itu, manis sekali?! Dan kenapa pula tiba-tiba minta maaf?!


“AOHOK, EHEM!! Maaf kenapa nih ya, kalau boleh tahu?” Nero sengaja pancing-pancing. Tidak mau terlalu terlena. 


“Karena …. nggak ngasih kamu minumannya tadi pagi? Ngabisin uangmu ….?” Lin menjawab meski ada  ketidakyakinan dari nada suara. 


“Uhum!!” Nero batuk-batuk kecil. “Makanya lain kali jangan mudah ketipu!! Banyak-banyakin skeptis! Kalau ada apa-apa coba laporin ke aku dulu sebelum bertindak!”


Lin tersenyum, mengangguk-angguk lega, juga senang.  Nero memang partner yang bisa Lin andalkan, dan ia bersyukur ada Nero yang selalu ada dan menjaga di sampingnya. Meski malaikat edgy dan emosian itu kadang-kadang senang mencerca kemana-mana …. tapi masih ada sisi baik yang bisa Lin pertahankan.


Untuk itulah ia ada, menyebarkan pertolongan dan kebaikan meski tertiup jelaga kehidupan yang tak terduga di bawah bentala.


Mungkin satu entitas memiliki nodanya, menjalar dan mengotori hati dan pikiran masing-masing …. namun Lin percaya, di antara noda itu ada satu titik kebaikan kecil yang bisa dipertahankan menuju dunia yang lebih baik lagi.


💎💎💎




Commission Story Written by Sheville

Related Posts

See All
Angels in the City

Lin berjalan memasuki area taman, mencari orang yang memerlukan bantuan. Cuaca cerah membuatnya bergairah dalam menunaikan pekerjaan....

 
 
 
Friends

“Nero, gue mau pergi ke taman dulu, ya! Lu ikut, gak?” Pihak yang baru saja dipanggil namanya hanya menengok sebentar. Melihat temannya...

 
 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page