top of page

Friends

  • Panda Dayo
  • Oct 13, 2024
  • 12 min read

Updated: Jan 28, 2025

 

“Nero, gue mau pergi ke taman dulu, ya! Lu ikut, gak?”

Pihak yang baru saja dipanggil namanya hanya menengok sebentar. Melihat temannya yang bernama Lin sudah tampil begitu rapi. Berikut senyuman cerahnya, terlihat amat menyilaukan.


Nero hanya melambaikan tangan. Pertanda jika dirinya tidak peduli. Tangannya masih sibuk menyentuh keyboard, dengan layar penuh, menandakan bahwa dirinya tengah bekerja.


Ramalan cuaca pun memprediksi jika seharian ini akan cerah. Sudah terlihat dari kaca jendela hunian Nero, cahaya tampak begitu terik di luar sana. Kenapa dia harus ikut keluar ketika memiliki pekerjaan seperti sekarang?


“Lin, lu cuma bercanda, kan? Apa gak lihat berita cuaca hari ini?”


“Tapi membantu orang-orang secara langsung sangat menyenangkan! Ayo, tolong temenin gue, ya!”


Nero dan Lin sebenarnya adalah malaikat yang ditugaskan di bumi sementara waktu dan dianggap sebagai masa pelatihan. Tugas mereka adalah membantu manusia. Namun sebelum itu, para malaikat tentu harus mengamati dunia ini terlebih dahulu, terutama untuk memiliki gambaran manusia seperti apa yang harus mereka bantu.


Nero sendiri adalah seorang pekerja lepas, melakukan apa saja yang ia bisa dengan memakai internet dan bayaran seadanya. Dia tak ada masalah, karena sebenarnya hasilnya di luar perkiraan serta lumayan cukup untuk kebutuhan sehari-hari.


Misalnya saja jasa ulasan produk, jasa titipan barang, melakukan siaran langsung dan sebagainya tanpa harus bertatap muka dengan para manusia. Alasan lain, ialah efisiensi waktu untuk mengamati apa saja keseharian mereka. Data yang terkumpul pun lebih banyak serta lebih cepat.


Berbeda dengannya, Lin suka bertemu manusia secara langsung untuk membantu mereka. Meski Nero beberapa kali bilang kepadanya jika temannya tak harus melakukan itu, Lin tak mendengarkannya.

Apa boleh buat, kan? Nero juga tidak bisa mengubah pemikiran rekannya yang satu itu. Tapi jika harus memilih, dia ingin di rumah saja daripada harus repot-repot keluar.


“Malesin.” Jawabnya singkat dan padat.

Hari ini dirinya juga ada pekerjaan, membuat draft untuk sesi live besok di salah satu platform e-commerce. Apalagi dia hanya sendiri, harus mendata barang dan sebagainya. Semua memang sudah selesai, sekarang ia hanya melakukan pengecekan ulang. Namun tetap saja itu memerlukan waktu, kan? Setelah ini, Nero juga mau bersantai sepuasnya.


“Kenapa, Nero? Kita pergi bareng, ya?” Lin membujuknya supaya mau ikut dengannya.


“Gue dah dapat banyak data.”


Lin berusaha menjelaskan, “Tapi itu kan cuma lewat internet. Kita musti tahu sendiri gimana sikap manusia di dunia ini jika ingin dapat hasil yang lebih akurat.”


Lama-lama Nero jadi jengah mendengarnya. “Tidak mau. Pergi saja sendiri.”


Lin menatapnya sendu. “Lu beneran gak pengen?”


“Apa gue harus ngulangin?” Nero bersidekap, memandanginya.


Tadinya Nero juga tidak mau peduli, tapi tatapan penuh lara dari Lin sangat mengganggu. Seperti anak anjing yang berharap sesuatu kepada pemiliknya. Satu detik, tiga detik … dan di detik ke-lima dirinya kalah karena tidak tahan melihat temannya bersedih.


“Baiklah, gue anter sampai taman aja, tapi sisanya lu sendiri.”


“Terima kasih banyak, Nero! Nanti gue beliin es krim deh pas balik!”


“Gak usah, ayo cepetan.”


“Aye!”

Keduanya pun berjalan setelah mengunci pintu apartemen. Turun menggunakan lift, kemudian menuju taman kota yang dapat ditempuh selama beberapa menit dari tempat tinggal mereka. Jalanan tampak begitu ramai, lalu Nero ingat ini akhir pekan. Pantas saja banyak sekali orang berlalu lalang.


Omong-omong, sudah enam bulan sejak mereka ditugaskan turun ke dunia manusia, tepatnya di Kota Yole, tempat di mana mereka berada saat ini.


Menurut Nero, tidak semua manusia baik, kebanyakan dari mereka juga lebih memilih memalsukan diri di internet. Misalnya saja, kepribadiannya sangat berbeda dengan sosok di dunia nyata. Bukankah itu agak aneh? Nero masih tak paham kenapa mereka melakukannya.


Nero dan Lin masih punya waktu sebelum mengumpulkan laporan tugas akhir mengenai manusia. Setelahnya, mereka juga akan bertugas membantu di dunia ini. Tapi … Lin sangat berbeda darinya. Temannya itu selalu dipenuhi oleh energi positif, tak pernah menaruh curiga, juga sangat suka bertemu langsung dengan manusia.


Bukannya apa-apa, tapi seperti yang dipikirkan Nero sebelumnya. Tidak semua manusia baik, jadi bagaimana jika Lin malah bertemu penjahat? Lalu melukainya? Ia tahu mereka adalah malaikat, terluka sedikit bukan masalah. Namun lebih baik berjaga-jaga sebelum terjadi hal buruk, bukan? Mereka juga mungkin kurang bisa mengantisipasinya.


“Nero, kita sudah sampai!”

Terlalu lama melamun membuat Nero terkejut saat mendengar suara Lin. Rupanya mereka telah tiba di taman kota. Mungkin karena jaraknya dekat, jadi tidak begitu terasa.


“Ya sudah.” Balas Nero seadanya.


“Kalau gitu, gue pamit dulu! Makasih udah nganterin! Bye!”

Lihat. Senyuman Lin yang begitu menyilaukan itu membuat Nero menghela napas. Ia hanya mengangguk kecil, kemudian melihat temannya berjalan riang. Apa dia memang sesuka itu pergi ke taman?

Terserah.  Sekarang tugasnya sudah selesai, kan? Dia bisa kembali ke apartemen untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Nero pun berjalan balik, sambil melihat-lihat pemandangan sekitar.


Tapi setelah dirinya sampai di depan bangunan apartemen, langkah kakinya terhenti begitu saja. Jujur, dia malah jadi kepikiran Lin. Apa dia sungguh akan baik-baik saja? Mengingat sifatnya demikian dan kadang ceroboh, mau tak mau membuatnya agak khawatir.


Tunggu. Kenapa dia harus memikirkannya? Itu kan bukan urusannya. Lagipula, Lin tadi juga agak memaksanya. Sekarang, Nero harus beristirahat setelah keluar di cuaca yang terik ini, kan?

Benar. Dia harus tetap di rumah, lalu beristirahat dengan cukup! Besok dia akan live, jangan sampai terlihat kurang tidur di depan banyak pemirsa. Manusia tidak suka melihat sesuatu yang terlihat lesu setelah dia mempelajarinya beberapa waktu ini.


Akhirnya Nero kembali ke huniannya dengan Lin. Ia naik lift, lalu segera masuk dalam petaknya. Lantas merebahkan dirinya di sofa besar, merasa nyaman. Terlebih dengan adanya air conditioner, membuatnya makin tidak mau pergi dari sini. Mungkin itu merupakan salah satu teknologi manusia yang disukainya, sebab sangat berguna.


Nero memejamkan mata sejenak, dan ketika tersadar dirinya tak sengaja melihat ke arah jam dinding. Baru satu jam berlalu sejak dia mengantar Lin ke taman. Namun entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan tidak mengenakkan.


Lin … pasti baik-baik saja, kan? Dia sudah dewasa, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan tetapi, kegelisahan Nero kian meningkat sebab mengingat betapa cerobohnya Lin. Terlebih dia terlalu baik, selalu berpikir positif kepada semua orang.


Bagaimana jika terjadi sesuatu?


Tadinya Nero mencoba mengabaikannya. Namun meninggalkan Lin sendirian di taman juga membuatnya merasa agak bersalah. Oleh karena itu dia memutuskan kembali ke sana, bermaksud melihat apa yang telah dilakukan temannya.


Dia hanya menengok sebentar saja, tidak akan mengawasinya terus-menerus, oke?


Nero segera bangkit dari sofa, kemudian pergi keluar lagi. Ia agak terburu-buru, karena cemas bila Lin malah ‘hilang’ secara tiba-tiba. Mereka turun ke bumi bersama-sama, jadi ketika kembali juga tidak boleh ada yang tertinggal. Bisa saja dirinya malah dituduh tidak kompeten.


Ya … benar! Nero hanya melakukan ini demi ia sendiri. Bukan yang lain.


Beberapa orang menatap heran saat melihat Nero yang berlari keluar dari lift. Lantas malaikat itu pun menuju ke taman, tempat di mana ia mengantar Lin satu jam lalu. Karena agak luas, dia butuh sedikit waktu untuk menemukannya.


Tampak Lin sedang bicara dengan seorang nenek-nenek sembari membantunya berjalan. Sepertinya tongkat bantunya patah sehingga mengalami kesulitan. Nero tidak dengar apa-apa, tapi kawannya terlihat baik-baik saja. Tunggu, kenapa dia malah khawatir begini, sih?


Lin pasti akan pulang, batinnya berkata demikian. Temannya terlalu polos, tak mungkin berpikiran aneh-aneh. Kelihatannya nenek-nenek tadi juga bukan orang jahat—siapa tahu, kan? Manusia tidak bisa dinilai dari sisi ‘luar’nya saja. Nero telah membuktikannya sendiri dengan data yang dikumpulkannya selama ini lewat internet.


Kalau begitu, Nero sebaiknya kembali lagi. Hari ini benar-benar panas, baru keluar sebentar keringatnya sudah mengalir banyak. Kenapa dia bersusah-susah ke sini?


Akhirnya Nero pulang, beristirahat lagi. Tapi satu jam berikutnya, ia kembali terjaga dan perasaannya tidak tenang. Lin belum kembali, jadi dia bermaksud menengoknya. Ini bukan bentuk kepedulian, tapi akan repot jika sesuatu terjadi padanya, kan?


Namun … apakah Lin masih berada di taman setelah satu jam berlalu?

Nero tidak tahu apa yang mendorongnya pergi kedua kali. Sekarang dirinya melakukan hal sama seperti sebelumnya, berlari dari tempat tinggalnya menuju taman. Kali ini untungnya dia tidak perlu waktu lama menemukan rekannya.


Lin sekarang sedang bernyanyi di depan sekumpulan anak-anak, entah apa maksudnya. Terdengar suara tepuk tangan, mengiringi nyanyian sang malaikat. Bahkan Nero pun sesaat terpaku, melihat sosok Lin yang sangat memukau dengan penampilannya.


“Lagi, kakak!”

“Iya, lagi, lagi!”

“Huh?”


Nero menahan napas di balik sebuah pohon. Hampir saja Lin menoleh ke arahnya. Dia memang memiliki insting yang lumayan bagus, tapi kebodohannya sedikit menyelamatkan Nero saat ini. Sebab tampaknya Lin tak memperhatikan posisi keberadaannya lagi, sibuk melanjutkan aktivitasnya.


Menghela lega, Nero kembali mengamati Lin. Hampir saja ia ketahuan. Agak aneh jika nanti dirinya dipergoki begini ketika tadi berkata jika ingin menghabiskan waktu di rumah saja, kan? Meski agak mustahil terjadi, tapi Nero tidak mau menciptakan peluang dirinya diejek oleh sang rekan.


Mumpung Lin juga tidak melihat, Nero putuskan menjauh. Dia keluar dari area taman dengan hati-hati, berdiri di pinggir jalan karena malas jika harus pulang. Kebetulan tempatnya sekarang berada di bawah sebuah pohon rindang, sedikit mengurangi panas yang ada.


Nero berjalan sedikit jauh, lalu menemukan kursi di depan minimarket. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya.

Ada pemberitahuan dari beberapa jasa yang ditawarkannya di internet. Usaha ini memang lumayan berhasil, dia tidak perlu bersusah payah keluar dan lelah. Kenapa Lin tidak mengikuti jalannya saja dan malah memilih melakukannya seperti ini?


Ia tidak mengerti.


Nero memainkan ponselnya selama satu jam, kemudian teringat kembali akan Lin. Apa dia sudah pulang? Sepertinya dia harus mengeceknya, sebab kini sudah pukul tiga sore. Pertama-tama, dia akan ke taman dulu untuk memastikan. Jika tidak ada, Nero akan langsung ke rumah.


Kali ini Nero sedikit panik karena tidak menemukan Lin di taman. Ia celingukan ke kanan-kiri, berjalan pelan-pelan karena takut melewatkannya. Eh? Tidak, bukan begitu maksudnya! Dia hanya … tidak mau repot karena Lin!


“Apa ada yang bisa saya bantu, bu?”

Lin ada beberapa puluh meter darinya, di dekat sebuah air mancur. Nero cepat-cepat bersembunyi kembali, supaya tidak ketahuan jika dia mengamati.


“Tidak, tidak ada. Lagian siapa kau?”

“Saya hanya ingin membantu saja.”

“Apa, sih? Dasar orang aneh!”


Pihak yang lebih tua pergi meninggalkan Lin begitu saja. Entah kenapa sekarang Nero rasanya ingin meledak. Kenapa dengan manusia itu? Menolak bantuan temannya, padahal juga tidak bayar!


Lihat, sekarang Lin menunduk karena mungkin sedih. Hatinya memang sedikit rapuh, tapi sedetik kemudian kembali tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa pun. Astaga, sekarang Nero jadi kesal melihatnya.


Krakk


“Eh, siapa di sana?”


Sial!


Nero tak sengaja menginjak ranting kayu di dekatnya. Meski suaranya tidak keras, tapi bukan berarti Lin takkan menyadarinya. Terlebih, keduanya adalah malaikat dan memiliki kemampuan lebih daripada manusia. Bagaimana ini? Mau kabur pun, pasti akan terlihat jelas, kan?


“Gadis cantik, bisakah kau membantuku?”

Tiba-tiba sesosok manusia paruh baya muncul. Ia berjalan mendekati Lin yang perlahan turut mengalihkan atensi padanya.


“Oh, nenek!” Lin menyapanya. “Apa yang bisa saya bantu?”


“Nenek ingin membeli sesuatu, tapi dompet nenek ketinggalan. Bisakah nenek meminjam dulu?”

Kan!


Nero tahu ini akan terjadi. Tidak semua manusia itu baik. Bahkan niat jahat nenek itu sudah terlihat jelas. Tapi … tentu saja Lin terlalu bodoh untuk menyadarinya.


“Baik! Nenek butuh berapa?”


“Sekitar satu juta—”


Tak!


Mendadak, nenek di hadapan Lin jatuh pingsan. Sehingga malaikat itu jadi panik dan berusaha membangunkannya. Diguncangnya bahu wanita tua tersebut secara perlahan.


“Nenek?! Apa Anda baik-baik saja?!”


Tangan Nero terkepal, masih menyembunyikan beberapa kerikil. Namun ia dengan cepat segera menjauh, lagipula Lin sibuk dengan nenek sialan itu. Nero cuma melemparkan sesuatu ke kepalanya sampai membuatnya pingsan. Itu saja, tidak lebih. Nanti juga beliau akan sadar sendiri.


Maaf? Tidak. Salahnya karena berusaha menipu Lin! Apa manusia itu pikir Nero akan diam saja melihat temannya diperdaya?


Tidak, Nero tidak berniat baik sama sekali. Dia hanya tak mau nama malaikat jadi tercoreng karena tipuan murahan seperti ini. Ia dan Lin harus mendapatkan nilai bagus serta terlihat rajin selama masa training. Ini juga demi pekerjaan yang diemban di masa depan.


Beberapa orang akhirnya membantu menolong nenek itu—situasi di taman tidak sepi, oke. Meski sekarang ia dalam posisi penuh risiko, tapi ini juga merupakan kamuflase yang bagus bagi Nero.


Lin kemudian berjalan lagi setelah mengucapkan terima kasih pada orang-orang. Tapi mau sampai kapan temannya berada di sini, huh? Sekarang bahkan sudah hampir jam empat.


Nero melihat Lin duduk di salah satu bangku taman. Dia sepertinya tengah beristirahat. Menolong manusia sangat melelahkan, apalagi jika secara langsung begini. Apakah sekarang Lin menyadarinya?


“Maaf, bisakah aku bertanya arah? Aku baru sampai di kota ini dan tidak tahu harus kemana.”


Seorang wanita cantik datang menemui Lin, berpakaian rapi. Nero melihat rekannya langsung berdiri dan mengangguk.


“Anda mau kemana, Nona?”


“Rumah sakit.”


“Oh, Anda bisa lurus saja dari sini ke arah timur, setelahnya akan ada perempatan dan tinggal belok ke kiri. Ikuti jalannya saja.”


“Terima kasih, kau sangat membantu! Jika kita bertemu lagi, aku akan membalasmu dengan lebih layak!”


Wanita itu menyerahkan sejumlah uang pada Lin. Nero tidak melihatnya secara jelas, namun itu tampak banyak sekali, agak bertumpuk. Lalu dengan santainya Lin menolak.


“Anda lebih memerlukan ini daripada saya.”


“Tapi—”


“Pasti anggota keluarga Anda yang berada di rumah sakit, bukan? Gunakan saja untuk berobat.”


Wanita itu terdiam sesaat, kemudian justru menangis.

“Kau … baik sekali. Terima kasih.”


Lin tersenyum sambil menepuk pundaknya. “Hati-hati!”


Ucapan terima kasih dilakukan berkali-kali sebelum akhirnya wanita itu pergi, meninggalkan Lin lagi. Nero melihatnya kali ini tertunduk lara. Pada matanya tersirat kesedihan.


“Kuharap dia sempat bertemu dengan keluarganya sebelum terlambat.”


Ah.

Apakah ini soal manusia?


Lin memang sedikit ceroboh, tapi perasaannya sangat lembut. Ia peka pada beberapa situasi, mungkin salah satunya adalah wanita itu. Hidup manusia begitu pendek, tidak seperti mereka yang berumur panjang. Kalau dipikir-pikir, bukankah waktu mereka tidak cukup?


Namun, begitulah takdir yang telah tertulis. Mereka; manusia dan malaikat, adalah makhluk berbeda dan sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Kini Nero rasanya juga ingin bertanya, mengapa mereka harus selalu mengawasi manusia? Apakah ada makna di balik semua itu?


Ia tidak tahu jawabannya.


Memikirkannya membuat Nero pusing. Sepertinya, lebih baik kembali saja. Ini sudah pukul empat sore, dia harus beristirahat juga untuk besok.


“Kakak di sana sedang apa, ma?”

“Mana, nak?”

“Itu, yang ada di dekat pohon. Apakah dia penjahat?”

Seorang bocah menunjuk-nunjuk pada Nero saat tengah berjalan sambil memakan es krimnya. Otomatis, malaikat itu menoleh.


“Penjahat?” Balas Nero sambil menatapnya. Tapi bocah itu malah sudah ketakutan dan lari terbirit-birit saat melihat penampilannya yang sedikit … eksentrik?


Sang ibu berlari mengejar, “Nak, kau mau kemana?!”

“Huaaa! Ada setan!”


“A-apa?!” Nero tak percaya dia disamakan dengan setan. Dirinya ini malaikat, tahu! Enak saja berkata sembarangan!


Seharusnya dia tidak kesal, toh itu cuma anak manusia yang tubuhnya kecil. Mungkin karena cuaca yang terlalu terik hari ini, sehingga rasanya kurang fokus serta agak sensitif.


Entahlah.


Nero melihat Lin dari kejauhan, baru berpaling sebentar rupanya temannya sudah membantu orang lain lagi. Yah, mungkin memang begitu sifatnya, sudah bawaan sejak lahir dan sulit diubah.


Lebih baik dia pulang dulu dan berganti baju, lalu berpura-pura menjemput Lin. Satu jam harusnya cukup, kan? Apa sebaiknya ia mandi juga? Supaya Lin juga tidak mencurigainya.


Pergi keluar di cuaca begini sangat tidak enak. Pakaiannya hampir basah semua karena keringat. Oleh karena itu, Nero sebaiknya mengambil satu langkah di depan sebelum ketahuan.

 

***

 

Nero datang lagi ke teman, tepat pukul lima sore.

Tubuhnya sudah bersih, wangi dan rapi. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bila dirinya habis dari luar, terutama karena membuntuti Lin seharian ini. Argh! Pokoknya jangan sampai temannya itu tahu!

Apa lagi? Ah, benar juga. Dia tadi masih marah pada Lin, kan? Apa ekspresinya sudah pas?


Nero memakai kamera depan ponselnya untuk bercermin. Ia menaik-turunkan alisnya sendiri sambil mencoba memasang wajah kejam. Ia mencoba berkali-kali hingga merasa sudah pas serta cukup meyakinkan.


Dengan begini, Lin takkan mencurigai apa pun, kan? Suasana hatinya sepertinya tidak berubah. Wow, bukankah ia sudah pintar berakting sekarang?

Mungkin saja Lin juga takkan tahu. Hehe.


Nero menemukan Lin tengah berjalan, lalu ia mendekatinya.

“Lin! Udah mau malem, buruan pulang!” Ucapnya sok galak.


“Nero? Lu baru dateng?”

Malaikat berambut merah muda berdehem pelan. “Besok gue musti live, lagian ngapain sih lu malah keluar lama gak pulang-pulang!”


Lin menyatukan kedua tangannya. “Maaf, kan habis bantu orang.”

“Kenapa gak sekalian bikin badan amal aja? Huh.” Dengkus Nero.

“Tadinya gue mau bikin sih, tapi kayanya harus sama elo.”

“Kok gue?”

“Kita kan temen?”

“Gak.”

“Nero … jangan marah, ya? Gue minta maaf.”

Senyuman Lin bikin iritasi. Sangat silau sehingga Nero tak dapat melihatnya terus-menerus. Sekarang ceritanya dia masih marah, jadi harus menunjukkan kekesalannya supaya Lin berpikir dua kali sebelum melakukan hal-hal bodoh seperti tadi.


“Udah, balik.”

“Iya, iya.”

Nero dan Lin lantas berjalan beriringan, di bawah langit oranye manis. Orang-orang masih berlalu lalang, jalanan sangat penuh. Sesekali, Nero harus menarik tangan temannya supaya tidak terseret arus. Mau bagaimana lagi, dia tidak mau repot.


Lin tersenyum. “Makasih untuk seharian ini, Nero.”


Mulanya Nero tidak terlalu menggubris kalimat tersebut. Tapi beberapa detik kemudian, ia tampak terkejut. Cepat-cepat ia kembali mengatur ekspresinya. Jika terlihat mencurigakan, justru akan membuat Lin makin merasa di atas angin.

“Gue cuma tiduran di rumah.”


Alasan klasik, bahkan bisa dikarang oleh anak-anak. Tak ada bukti pasti, meninggalkan asumsi. Namun Nero tidak kepikiran apa pun lagi, paling tidak harus mengucapkan sesuatu, kan?


“Tapi kayanya lo abis mandi?”

“Mandi itu penting! Masa lu gak mandi?!” Balas Nero dengan wajah yang merah padam. “nanti kalau pulang, jangan lupa mandi juga! Ngerti?!”


Lin tahu sebenarnya Nero mengikutinya hari ini. Meski dirinya memang ceroboh, tapi dia tetaplah malaikat. Seluruh inderanya lebih peka daripada manusia. Namun jika mengatakan yang sebenarnya … mungkin Nero akan marah padanya, kan?


Lin tidak mau hubungannya dengan. Nero jadi buruk. Jadi dia memutus topik tersebut. Beralih pada yang lainnya.


“Gue ketemu sama banyak manusia hari ini!”

“Ya.” Jawab Nero singkat, terdengar tidak bersemangat.

“Pertama, gue bantuin nenek-nenek, terus—”

“Bisa gak sih lu diem? Ceritanya sampai rumah aja.”

Nero tidak ingin mendengarnya. Dia melihat semua yang dilakukan oleh Lin hari ini. Sudah cukup, sekadar mendengar pun malas. Jadi untuk apa harus mendengarkannya dua kali?


“Enggak.” Jawab Lin.


Entah kenapa tiba-tiba Nero mengingat saat ada manusia yang ingin coba menipu Lin. “Lu jangan terlalu baik, inget! Manusia itu makhluk yang sulit ditebak, beberapa dari mereka juga jahat. Jadi—”

Lin menyahut. “Oke.”


“Gak usah oke-oke, lu denger, gak?!”

“I-iya …. ”

Lin hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum bodoh. Nero kesal, tapi diam saja. Apa gunanya pula menasihati malaikat bebal seperti temannya yang satu ini? Hanya masuk telinga kanan, kemudian keluar melalui telinga kiri.


“Nero, gue laper. Beli makan dulu, yuk?”

“Gak mau—”


Kruukkkkk


Wajah Nero seketika berubah warna saat suara di perutnya terdengar lumayan keras. Tampaknya dia kelaparan. Hah, semua ini gara-gara Lin! Kalau saja Nero tak mengawasinya selama seharian, dia pasti sudah makan!

 

[ Sedangkan Lin hanya tertawa pelan, menikmati waktu kebersamaan mereka. ]


Commission by Panda Dayo

Related Posts

See All
Keinginan Duniawi Menutup Hati

Mengejar Kebaikan Bukan Satu-Satunya Cara Untuk Mencapai Kebahagiaan Sempurna 💎💎💎 Permulaan cerita diawali penjabaran nuansa klise....

 
 
Angels in the City

Lin berjalan memasuki area taman, mencari orang yang memerlukan bantuan. Cuaca cerah membuatnya bergairah dalam menunaikan pekerjaan....

 
 
 

Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page