Angels in the City
- Annie Gentlekins
- Oct 14, 2024
- 11 min read
Updated: Jan 28, 2025
Lin berjalan memasuki area taman, mencari orang yang memerlukan bantuan. Cuaca cerah membuatnya bergairah dalam menunaikan pekerjaan. Seorang wanita lansia berteriak minta tolong. Kucing abu-abu bertengger di dahan pohon, tak bisa turun.
Krak!
Sementara si Nenek panik, Lin melesat secepat kilat, menangkap tubuh si kucing secara dramatis. Beberapa pengunjung bertepuk tangan menyaksikan peristiwa tersebut. Beliau berterima kasih kepada Lin, menyerahkan syal rajut sebagai imbalan.
“Anu… bisakah kau mencari kalung saya? Sudah saya cari di sekitar taman, tapi tak kunjung ketemu.” pinta seorang ibu bermodel rambut bob cemas.
“Terakhir ibu sedang apa di taman?”
Wanita berusia paruh baya itu menempelkan tangan ke dagu sekaligus bergumam. “Saya sedang memberi makan burung merpati. Nah, terus saya duduk di bangku samping pohon jeruk.”
“Uh huh, lalu?”
“Pas saya ke toilet dan bercermin, tahu-tahu sudah lenyap. Padahal itu hadiah anniversary pernikahan ke-30.”
“Ibu ingat tidak ciri-ciri kalungnya seperti apa?”
Setelah menjabarkan semuanya mereka kembali ke lokasi awal. Nihil, sesuai pernyataan Rebecca. Lantas, ke manakah hilangnya benda tersebut?
Jalan setapak menuju kapel, stan makanan, air mancur, tempat lost and found… Benar juga! Siapa tahu ada di sana, pikir Lin.
“Sudah mengunjungi tempat lost and found, belum?” Rebecca menggeleng. Penuh optimis Lin menyarankannya ke sana. Dia yakin seratus persen kalungnya tersimpan dengan baik.
“Selamat siang, ibu-ibu. Cari barang apa? Oh, kamu rupanya.” Lin sudah mengenal Tuan Jeffrey selama enam bulan. Pria itu bertubuh kurus, berkacamata tebal, dan tinggi badannya sekitar 168 cm.
“Hehehe. Ada kalung emas bentuk love, tidak?”
“Ada. Buru-buru saya selamatkan sebelum diambil copet. Sudah dibersihkan pula biar berkilau.”
Tangis bahagia Rebecca pun pecah. Bersyukur kalungnya masih utuh, tanpa cacat maupun rusak. Dia berkata, “Terima kasih, Pak. Terima kasih juga untukmu, Lin.”
“Lain kali hati-hati ya, Bu.”
“Kalau begitu kami izin pamit!” Lin melambaikan tangan ke arah Jeffrey.
“Semoga hari kalian menyenangkan!”
***
Sementara itu, Nero sibuk live lewat toko oren. Apalagi kalau bukan promosi boneka Labubu. Akhir-akhir ini, mainan seharga jutaan tersebut laris manis bak kacang goreng. Berawal dari postingan Instagram yang diunggah oleh artis ternama Korea Selatan sedang memegang boneka Labubu Macaron, lalu viral. Antusias Nero auto stonks. Selama tidak perlu keluar rumah dia sangat bahagia, sebab rumah adalah istananya.
“Selamat siang.” Nero membuka dengan suara bas. “Hari ini ada enam item, ya. Tinggal checkout aja.”
Muncul chat dari Kak Hazel-65. Katanya: untuk Labubu monster carnival nggak ada varian lagi, kah?
“Maaf ya, dek. Untuk varian witch sudah habis. Barangnya baru masuk minggu depan.” pemuda itu tersenyum.
Lin menyambut Nero, masuk ke ruang tamu.
“Besok ke taman, yuk. Temani aku nyari orang yang butuh bantuan.” pupil mata Lin membesar, bak seekor kucing yang minta disuapi cream treat pada majikan.
“Ogah. Enakan ketemu orang secara daring.” jawab Nero seraya mengetik balasan chat pelanggan.
“Please… kalo cuma sendirian tuh nggak afdol.”
“No, nuh-uh, and nope! Kerja freelance lebih asyik. Lapar tinggal telepon pesan antar makanan, nggak repot. Abis live bisa leha-leha.”
“Kamu nggak takut diomongin tetangga diam di rumah mulu? Sesekali keluar nggak masalah, kan? Supaya kamu dianggap cari kerja juga.” pemuda bersurai panjang di hadapan Lin tetap menolak. Lanjut melayani pelanggan. Lin mendengus keras dan berkata, “Hei, kamu denger nggak?”
“Hah? Apa? Nggak denger.”
Gusar, Lin mendekat dan menjitak kepala Nero. “Nggak peka banget jadi cowok!”
“Oke, fine! Aku anterin sampai pintu masuk taman!” balas Nero dengan nada tinggi, memutar bola matanya. Setelah percekcokan, akhirnya dia menyetujui permintaan Lin. “Dah, sekarang makan siang dulu. Aku udah beliin kamu nasi goreng chicken katsu.”
“Asyik! Ntar habis bantu-bantu manusia aku gantiin dengan puding karamel. Deal?”
“Oke, deal!”
Penuh rasa syukur Nero meninggalkan taman. Kalau berdiam di sana terus suntuk kali. Belum lagi anak kecil yang selalu menganggapku orang aneh. Jadi introvert emang nggak mudah. Yang diinginkan pemuda bersurai merah muda itu hanyalah ketenangan.
Gejolak emosi Nero masih membekas. Aku cuma pengen stay at home apa salahnya, sih? Terkadang Lin ngeselin, hobi maksa. Dia nggak paham arti kenyamanan hakiki.
Nero mengempaskan tubuh di sofa, membaca komik Detektif Conan yang belum sempat dibaca. Saking serunya, tak terasa enam puluh menit berlalu. Dia kaget menatap jam dinding. Rasa gelisah membuncah.
Gimana kalau Lin di-bully oleh kaum ABG? Gimana kalau Lin diculik orang jahat?
Bisa dibilang Lin adalah malaikat yang ceroboh dan terlalu baik. Namun kalau sampai kehilangan dia, Nero bisa gila. Amit-amit kalau sampai masuk RSJ!
Memutuskan untuk membuntuti pergerakan Lin, Nero melakukannya dengan hati-hati–seperti agen rahasia hendak membekuk penjahat kelas kakap. Dia terpantau membantu pria berusia lanjut.
“Kakek ini sakit apa sampai pingsan gini? Sudahkah kamu panggil ambulans?” tanya seorang pria berusia paruh baya.
“Ah, saya nggak tahu. Nggak ingat panggil ambulans pula. HP saya ketinggalan di apartemen.” Lin menepuk dahinya.
“Nih,” pria itu menyodorkan gawainya. “Buruan! Saya khawatir beliau kenapa-napa.”
Ambulans melintas mengantar pasien malang itu. Nero mengomel, makanya HP tuh dibawa, jangan dianggurin! Baguslah kamu baik-baik aja, batin Nero.
Lin menatap Nero penuh tanda tanya. Tumben bener peduli padaku. Biasa bersikap bodo amat, acuh tak acuh terhadap apapun.
Seorang pria bernama Joni memohon untuk menjemput Tia, putrinya yang masih TK. Dia tak sempat ke sekolah lantaran rapat, lalu menyodorkan alamat lengkap rumahnya. Nero menyuruh driver ojol mengikuti motor yang ditumpangi Lin.
Lin menunggu di depan pintu gerbang, mencari-cari Tia. Sementara Nero mengawasi cewek itu dari jauh.
“Duh, yang mana sih anaknya Pak Joni?” Lin menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal. Itu dia! Gadis mungil berambut pendek berjalan sendirian. “Halo, dek Tia. Panggil aja Kak Lin. Aku yang menggantikan Papamu mengantar pulang ke rumah.”
“Papa… ke mana, Kak?” manik Tia berkaca-kaca, menangis keras. “Aku cuma mau Papa!”
“Sabar, sabar. Nanti juga Papamu pulang. Dia masih sibuk sama pekerjaannya, dek.”
Tia menuruti perkataan Lin–hingga diantarkan pulang ke rumah naik taksi dengan selamat. Entah sampai kapan ini berlangsung. Pengen pulang, batin Nero galau maksimal. Tapi kesian Lin. Ah, elah!
Tak sengaja Nero menginjak bekas kaleng soda. Cukup terdengar keras sekaligus menarik perhatian. Lin menoleh ke belakang, menangkap sosok pemuda bersurai merah muda seraya menunjuk,
“Hayo! Buntutin aku, ya?” tuding Lin seraya mengerutkan dahi.
Mampus! Ketahuan… “Aku cuma Kamen Rider yang numpang lewat.”
Lin mendelik, “Bohong! Aku tahu kamu Nero, bukan Tsukasa Kadoya! Sejak kapan kamu ngikutin aku diam-diam merayap kayak cicak?”
Jantung Nero berdegup kencang. Berusaha untuk kabur dia membodohkan diri. “Maaf, Anda berbicara dengan orang yang salah. Anda pasti penderita rabun jauh.”
“Heh! Sembarangan! Penglihatanku masih jernih, bodoh!” Lin mendaratkan bogem mentah ke arah perut.
“Untuk seukuran cewek kayak kamu badak juga tenaganya. Ukh!” Nero melangkah mundur, meringis kesakitan sambil mengelus perutnya.
“Kenapa nggak jujur aja sih dari awal? Kalo merasa lebih nyaman freelance di rumah bilang aja.”
“Sebenarnya… aku… aku…. Itu lho, akhir-akhir ini marak banget penculikan perempuan dan anak. Terakhir baca berita di internet serem, lho. Jadi ya–langsung aja cus ke taman.”
“Cukup!” Lin mengarahkan tangan kiri seolah-olah menyetop bis. “Jangan lanjutkan lagi! Aku harus segera mengunjungi butik La Vie Est Belle. Ada yang titip gaun pesta.”
Wajah Lin sumringah saat Nero berkata ingin menemaninya. Lucky! Toko pakaian terbesar dan terlengkap itu masih buka. Enam setel gaun sudah dicoba oleh Lin, namun belum mendapat pilihan bagus.
“Mending pilih mana? Mermaid dress perak berbahan satin atau princess dress toska glitter?”
“Tanyalah ke pegawainya.”
“Nggak bisa! Kalo udah janji ikut aku berarti harus kamu yang milih!”
Ketika Lin mengirimkan baju pesta, waktu istirahat Nero akhirnya datang juga. Langkah kakinya berhenti di sebuah bangunan bercat ungu. Terpampang board ukuran besar di atap, bertuliskan ‘Chumbawamba Arcade’. Nuansa 90an di dalamnya begitu kuat, mengantar Nero kembali ke waktu yang terbaik sepanjang masa.
***
Pukul lima sore, Nero menjemput sahabatnya. Baru saja Lin mengantar sekardus sayur-mayur ke stan makanan.
“Lama bener. Kamu tadi ke mana?”
“Main di Chumbawamba Arcade.”
Lin tergelak. “Namanya aneh banget kayak kamu.”
“Kurang ajar!” balas Nero menjewer telinganya lalu berhenti. “Sengaja aku lama-lamain waktu bermainnya. Masih kesal sama kejadian tadi.”
“Idih, kayak cewek banget sih kamu. Dikit-dikit ngambek.” protes Lin. “Kalo mau freelance di rumah, bilang aja lagi. Gengsi ditinggikan!”
Sebenarnya aku mengkhawatirkanmu… Kalimat yang berakhir diurungkan oleh Nero. Mana mungkin dia mau mengaku?
“Masih ingat janji tadi siang, kan?” kedua alis pemuda itu naik, tersenyum.
“Astaga naga… Iya!” Lin membalas dengan nada tinggi. “Bener-bener, dah. Bucin banget sama puding karamel. Nggak sekalian aja nikahin?”
“Ya kali. Aku masih waras, Lin!” malaikat yang berjalan di samping Nero tertawa terbahak-bahak.
Memasuki Z-Mart, mereka berdua disambut musik pop. Suasana di situ cukup ramai. Beberapa anak kuliahan nongkrong sambil ngopi. Ayah dan anak tampak bingung mau beli minuman yang mana, terpaku pada showcase frigigate 1 pintu. Lima ibu-ibu berbaris rapi, menunggu barang belanjaan mereka dibayar kasir.
Tertangkap sosok berjaket tudung hitam melakukan gerak-gerik mencurigakan. Satu per satu bungkus cemilan diselundupkan. Ajaib. Tiada seorang pun yang menyadari eksistensi makhluk brengsek ini.
“Eh, copot!” latah Lin keluar saat tidak sengaja menyenggol pinggangnya. Dia terkejut dan berteriak,
“MALING! TOLONG, ADA MALING NGUTIL!”
Cemilan yang dicurinya jatuh berceceran. Pria berjaket tudung berusaha kabur tapi gagal. Nero menangkap, memelintir lengan, dan membanting tubuhnya ke lantai. Salah satu kasir gemetaran seraya menelepon polisi.
“Terima kasih banyak, Kak. Kami sering kali kemalingan. Saya tidak mau sampai dipecat oleh bos dan kehilangan pekerjaan. Terlanjur nyaman.”
“Saya ada saran. Bagaimana kalau di tiap sudut dipasangkan CCTV?” Nero menawarkan diri.
“Boleh, tapi saya minta izin ke bos dulu.” jawab kasir bernama Bertha. “Totalnya $6, ya. Terima kasih sudah berbelanja.”
Nero tertawa lirih. Kecerobohan Lin hari ini berguna juga.
“Apa coba yang lucu?” gerutu Lin seraya menenteng tas belanja.
“Nggak ada.” setelan wajah Nero kembali pokerface.
“Cepat jelaskan padaku!”
“Yee, dibilang nggak ada. Ngotot amat. Udah yuk, balik.”
Langit senja kota Welch begitu memanjakan mata. Jalan raya macet lantaran jam pulang kantor. Rintik-rintik hujan mulai turun. Lin berterima kasih kepada Nero.
“Kenapa malah diam?”
Ternyata Nero ngantuk, tertidur pulas setelah bekerja seharian penuh. Meskipun Nero tsundere level akut, Lin tetap setia berteman dengannya, bahkan awet selama lebih dari satu dasawarsa. Persahabatan mereka tulus. Kadang bertengkar kadang akrab.
***
Aroma kopi dan roti panggang menggantung, menggoda indera penciuman Nero yang masih setengah sadar. Lin memukul spatula dan wajan serentak, menyuruh Nero bangun. Semula pemuda bersurai merah muda protes, namun akhirnya bangkit berdiri menuju meja makan.
DING!
Pesan masuk dari gawai Nero. Bos minimarket menyetujui idenya, meminta dua orang untuk memasang CCTV.
“Boleh ikut, nggak?” Lin bertanya.
“Nggak! Emang kamu bisa pasang kamera pengintai? Nggak mudah, tahu. Ini tuh kerjaan cowok. Terus badanmu juga pendek, nggak nyampe kalo masangin kamera CCTV.” Nero menjawab dengan nada meremehkan.
“Nyenyenye! Eh, gini-gini aku mau belajar! Heran–masih banyak lho cowok yang ngeremehin kemampuan cewek. Harusnya kan imbang, nggak berat sebelah.”
“Anu… pekerjaan ini… ada kaitannya dengan teknologi. Serius mau ngerjain?” Nero menyipitkan mata, melempar senyum smirk.
“Nggak jadi. Biar aku bantu ngarahin kamera.”
“Udah, nggak usah. Kamu nonton aja nanti.” balasan Nero membuat Lin menggertakkan gigi.
Nero tak pernah skip mandi pagi. Selalu ingin tampil keren. Bukan bermaksud caper ke cewek, tapi kalau sekadar ganti baju panas. Bikin keringetan dan bau badan. Bukan hanya gengsi minta bantuan, Nero juga ilfeel sama manusia yang jorok.
Akibat perbuatannya Nero kena karma, kewalahan saat memasang kamera ke bracket. Lin yang tampak mungil dari bawah menertawakan kebodohan pemuda itu. Buyar sudah konsentrasinya. Merasa iba Lin menawarkan bantuan.
“Perlu dibantu?” Nero geleng-geleng kepala, masih saja kepala batu dan menolak.
Biar dia melunak dan minta bantuan dariku gimana caranya, ya? Batin Lin hilang akal.
Berusaha lebih sabar dan empatik Lin berkata,
“Aku tahu kamu bisa mengerjakannya, tapi izinkanlah aku membantumu.” pinta Lin, melipat kedua tangan.
Capek-capek kasih instruksi malah tidak dihiraukan. Iya deh, si paling jago.
“Tolong kamu periksa tampilan dari tiap kamera di monitor.”
“Oke!”
Salah satu karyawan yang nganggur turut andil membantu mereka. Semua akan cepat beres jika bekerja sama. 3, 2, 1… uji kamera berhasil! Rasa gembira menyertai seluruh karyawan Z-Mart.
Tepat ketika bos datang, dia mengeluarkan isi dompet.
“Tidak usah. Kami ikhlas membantu Anda tanpa dibayar.” Nero menolak.
“Tunggu sebentar.” si bos memilih makanan dan minuman dari rak, memasukkannya ke dalam tote bag hijau.
“Setidaknya bawa pulanglah ini. Di dalamnya terdapat dua porsi spaghetti aglio olio, dua kaleng teh hijau, dan beberapa cemilan.” pria berusia senja mengulas senyum.
Aaaaa, makasih bos baik. Panjang umur dan sukses selalu buat Anda dan keluarga! Batin Lin ceria.
***
“Hei, kau yang di sana!” suara pria bertubuh gempal menggelegar. Lin menunjuk diri sendiri. “Iya, benar. Bisakah kau jadi pelayan restoran kami untuk sementara? Bawa juga temanmu kemari.”
Ack! Matanya setajam elang, gerutu Nero. Berharap dapat bantuan promosi boneka Labubu via toko oren, Millie belum kunjung ngasih kabar kapan produk terbaru datang. Apa boleh buat… pemuda itu berharap tidak dipilih jadi pelayan.
Nero ditempatkan di bagian dapur. Tumpukan piring menumpuk seperti buku usang. Bau tidak sedap membawa petaka, harus segera dimusnahkan. Di balik daun pintu, kepala koki bermulut pedas datang, membentak koki lain untuk segera menghidangkan seporsi scallop risotto dan panna cotta rasa cokelat ke meja nomor sebelas.
“Wow! Baru pertama kali kerja, seluruh piring yang kau cuci kinclong tanpa noda membekas. Kerja bagus.” pemuda bertubuh jangkung menyodorkan tangannya. “Kash. Bekerja demi uang cash.”
“Nero.” mereka saling berjabat tangan. Receh banget ini orang.
“Maaf merepotkan. Salah satu dishwasher Enzo Ristorante dibawa ke ruang UGD tadi pagi.”
“Kenapa malah ngobrol? Ayo kembali bekerja!” Enzo menghardik dengan mata melotot, menepuk kedua tangan. Nero kembali berkutat pada pekerjaan.
“Aduh! Aku lupa kasih ini.” Kash menaruh kuncir rambut ke telapak tangan Nero. “Kuncir dulu rambutmu, biar lebih nyaman.”
“Tapi…”
“Emang nggak enak, sih. Daripada rambutmu kena air cucian?”
Gini-gini aku udah terbiasa menghadapi makhluk tsundere macam Nero, fufufu. Mantanku 11-12 sama dia, batin Kash.
Bersenjata senyum ramah, Lin menaruh sepanci seafood stew ala Tuscany. Saat menjauh dari meja 14, tak sengaja mendengar percakapan pasangan muda tersebut.
“Andai gadis berambut pirang itu pegawai tetap, aku pasti akan kesini lagi dan lagi. Berbeda dengan Julie. Sudah jelek wajahnya cemberut mulu.”
“Dengar, Nora. Tidak sepantasnya kita menghina pelayan. Tugas mereka melayani–bukan menyenangkan hati pelanggan. Walau sering dikritik dan tertekan, mereka juga layak diberi penghargaan. Setiap aku mengajakmu ke restoran atau kafe, kamu selalu saja protes. Bahkan tega membentak anak kecil yang menangis.”
“Tingkahmu bikin jengah. Tak sudi memperkenalkan dirimu pada Papa. Hubungan kita berakhir sampai di sini.” pemuda blasteran Amerika-Cina itu beranjak dari kursi, membayar semua pesanannya.
Lin yang sedang mengelap meja, ternganga. Jadi gitu rasanya pacaran. Lagipula, apa faedahnya kalau apa-apa kita yang gerak duluan? Sungguh sia-sia kalo nggak terjadi hubungan timbal balik.
“Enak kan ngurus cucian?” Lin nyengir jahil, menaruh piring-piring kotor.
Apanya? Tangan pegal-pegal. Jemari kram. Inilah yang kudapatkan. Tak ingin mempermalukan sahabatnya Nero menimpal, “Udah biasa. Kecil.” dia meregangkan tangan, terkejut melihat kiriman darinya. “Oh, shoot! Nambah lagi kerjaan. Tega ya kamu!”
“Bomat. Biar tahu rasa!” Lin ngikik, membuka tutup plastik spaghetti aglio olio.
“Kamu sendiri… kelihatan senang banget. Nggak merasa lelah atau komplain terhadap tingkah pelanggan.” ujar Nero, fokus membersihkan panci ukuran besar.
“Kerja tuh harus happy. Kalo nggak menderita dong namanya. Anyway busway, karyawan lain pada kemana? Kok kamu belum istirahat?”
“Makan siang di luar kali. Kash, kenalan baruku, juga sama.” Nero cuek bebek. “Bentar lagi. Tanggung.”
“Udah, tunda dulu acara bersih-bersihnya. Dimakan gih spaghetti-nya. Enak banget!” timpal Lin seraya mengacungkan ibu jari. “Ceritain juga dong tentang Kash. Ih, namanya lucu banget. Hahaha.”
Nero manggut-manggut. “Tukang lawak pula. Di sela-sela cuci piring aja sempat melontarkan jokes receh. Nggak gitu demen–tapi bukan berarti aku benci banyolan Kash, ya. Cuma bukan seleraku, kok.”
Sewaktu Lin bercerita mengenai kejadian pasangan muda tadi, Kash masuk ke dalam ruangan. Obrolan mereka terpotong. Cepat-cepat dia meminta maaf, mengira Nero dan Lin dimabuk asmara.
“Nggak! Kamu salah paham. Lin cuma sahabat, Kash.” Nero menjelaskan bagaimana hubungan mereka awet tanpa saling jatuh cinta.
“Whoa, really? Langka sekali! Kebanyakan cowok dan cewek yang berkawan karib antara jadian atau menikah loh!”
“Ya, begitulah.” Nero kaget, memelototi Lin yang tertangkap basah mengambil dan menyantap potongan ayam dari spaghetti-nya. “Hei, pendek! Itu milikku, dasar anak nakal!”
Lin menjulurkan lidah. “Salah sendiri makannya lelet kayak siput!”
“Hiih!” Nero melayangkan kepalan tangannya. “Selalu nyari kesempatan dalam kesempitan. Awas aja. Akan kubalas nanti.”
“Oh, ya? Coba aja kalau berani!”
Kash tergelak akan tingkah badut mereka. “Jadi nostalgia… sama seperti kalian, dulu aku sering cekcok mulut sama Ricardo. Kadang ngeributin perkara sepele. Entah milih sepatu olahraga, beliin kado buat teman, dan… masih banyak lagi. Sayang, dia dipanggil lebih dulu. Kanker otak menggerogoti nyawanya.”
Mata Lin menitikkan air mata, berkata dengan suara serak. “Kasihan. Semoga dia beristirahat dengan tenang.”
“Maaf, Kash.” Nero hanya bereaksi begitu. “Jangan salah paham. Aku… aku hanya… syok. Bukan berarti aku tak punya rasa empati.”
“Nggak apa-apa. Aku ngerti.”
***
Kash mengunci gembok pintu restoran. Lin dan Nero izin pamit pulang. Sebagai self reward, mereka merayakannya dengan bersantai di apartemen. Ditemani semangkok mac and cheese dan film jadul Men In Black.
Pada pertengahan film Lin nyeletuk,
“Ih, itu alien kecoa serem banget. Omong-omong temanmu banyak ya di sini.”
Yang diejek menempeleng kepala cewek itu. “Oh, gitu? Nyamain aku sama Edgar the bug? Dasar bocah pendek kurang ajar!”
Lin tertawa keras, balas menempeleng kepala si makhluk tsundere. “Emang cocok, kok.”
“Harusnya kamu itu. Sama-sama ganggu.” jawab Nero, menaruh mangkoknya yang sudah tandas di atas meja kopi. Blud berpikir nyucinya nanti aja. Udah muak!
“Udah dong Nero marah-marahnya, bakal cepat tua, lho. Entar dibilang mirip kakek-kakek sama anak kecil nangis.” ucap gadis bersurai pirang dengan nada nyindir.
“Nggak bakal!”
Menjelang bagian credit TV langsung dimatikan. Gantian Lin yang urus masalah kebersihan. Jendela menampilkan jalan raya penuh kendaraan roda empat. Dia rindu menatap bintang-bintang di langit, kadang membuat permohonan kala muncul bintang jatuh. Nahas, kota Welch di era sekarang terpapar polusi cahaya–sehingga benda kecil berkilauan tersebut sukar terlihat.
Sembari menggosok rambut dengan handuk, Nero menatap Lin. Apa yang sedang dipikirkannya? Dia maju, menepuk punggung cewek itu.
“Eh, copot!” Lin menjengit, menoleh ke belakang. “Nerooo! Bisa nggak sehari nggak bertingkah random?”
“Kalo sampai kesurupan aku nggak tanggung jawab ya, Lin.” cewek bertubuh mungil di hadapan Nero manyun. “Kulihat kamu ngelamun aja. Gimana kalau kita jalan-jalan? Siapa tahu unek-uneknya keluar.”
Selaku membaca pikiran, tentu saja Lin mengiyakan ajakan Nero. Taman belakang apartemen sunyi senyap. Memasuki Jumat malam manusia lebih suka nge-dugem, sisanya istirahat atau berkumpul sama keluarga tercinta. Berawal menceritakan ulang alur cerita Men In Black, lalu pindah ke topik masa depan.
Musim bisa berganti, namun persahabatan Nero dan Lin tetaplah abadi.
Commission by Annie Gentlekins

Comments