top of page

Day 1

  • Writer: Tri
    Tri
  • Mar 3, 2024
  • 6 min read

Updated: Feb 13, 2025

Sesosok gadis remaja berkaca didepan sebuah cermin besar, menata kembali rambut dan membereskan posisi pita di dadanya.

 

“Nero~ kau sudah siap~?” Teriak gadis itu tanpa melepas pandangan dari cermin.

 

“Aku yang seharusnya bertanya.” Bayangan seorang lelaki remaja berambut pink panjang terpantul di cermin.

 

“Hehe, ini hari besar Nero, aku harus terlihat-”

 

“Sempurna. Kan?” Tatapan aku-sudah-mendengar-kalimat-itu-berkali-kali tercermin di wajah lelaki itu.

 

Gadis tadi membalik badannya dan memberi senyum pada Nero, nama lelaki berambut pink tadi.


You know me so well Nero~, ayo!” Ditariknya tangan Nero, menuju keluar rumah, ke tempat mereka akan melakukan pertemuan dengan sesama mereka.

 

 

“Disini tempatnya? Hotel L kan?”


Mereka berdua kini berdiri disebuah lobi hotel berbintang lima.

 

“Berdoa saja kita tidak salah tempat, lantai berapa?”


“Lantai 12, convention room D.” Nero langsung berjalan menuju lift, menuju tempat yang sudah dijanjikan.


“Nero, tunggu! Aku mau ke toilet dulu, rambutku berantakan!”


Nero berbalik, memberikan wajah kesal bercampur lelah ke gadis itu. “3 menit! Cepat!” Dia menghela nafas, menyerah  dengan tatapan memelas dari gadis didepannya.


“Yaay~” Gadis tadi langsung menuju arah toilet yang ada di papan penunjuk arah.

 

 

5 menit terlewati. Nero yang mulai kehabisan kesabaran sedang menahan dirinya untuk masuk ke toilet perempuan.

 

“Terima kasih sudah menunggu!” Gadis tadi kembali dengan senyuman tanpa rasa bersalah.

 

“LAMA!” Mereka bergegas menuju lift, hanya beberapa menit lagi pertemuannya akan dimulai.

 “5 menit Lin! LIMA MENIT!” Nero melipat kedua tangan didadanya. Mengalihkan matanya dari Lin, gadis yang sejak tadi bersamanya.

 

“Tapi aku sudah minta maaf…”

 

“Bagaimana kalau kita terlambat?! Kau sendiri yang bilang ini hari yang besar, kau malah—Argh!”

 

“Nero~” Lin menarik-narik jaket Nero, meminta Nero untuk memaafkannya. Nero masih membuang wajahnya.

 

“Tidak apa-apa, masih ada waktu ko.” Ucap seorang pria berambut merah yang sejak tadi berdiri dibelakang mereka.

 

Nero dan Lin refleks menoleh.

 

“Kalian ke lantai 12 juga kan? Convention room D?”

 

Ah~ dia salah satu dari mereka.

 

“Iya!” Jawab Lin sambil melemparkan senyuman yang juga dibalas dengan senyuman oleh pria tadi.

 

“Syukurlah~ Kita tak akan terlambat~ Huh, Nero?” Lin menyadari ekspresi ekspresi panik bercampur kaget di wajah Nero.

 

 

Ping.

Pintu lift terbuka. Mereka bergegas keluar. Tak sulit mencari convention room D, banyak bagian dari mereka yang sudah berkumpul disitu. Kini mereka berada di sebuah ruangan besar yang mewah.

 

“Aku duluan ya, aku harus mencari temanku.” Pria berambut merah tadi menyampaikan salam perpisahan.

 

“Iya! Hati-hati!” Jawab Lin.

 

Ketika pria tadi sudah menghilang dibalik kerumunan, Lin menoleh ke arah Nero yang sejak tadi terdiam.

 

“Nero, kau tidak apa-apa? Apa kau mual saat di lift tadi?”


“B-bodoh! Bukan itu!” Nero akhirnya bicara, walaupun dengan gugup.


“Kau tahu tadi itu siapa?! Kalau saja kau tidak ke toilet dulu tadi, kita tidak harus bersama dia!”


“Hee.. memang dia siapa?” Tanya Lin sambil merenyitkan dahi.


“Kau… Hidup di zaman apa sih? Dia itu Zero! Zero yang itu!”


“Ah~ Zero! … Zero… siapa?”


“Lin!” Tidak terbesit ekspresi bercanda di wajah Nero.

“Aku benar-benar tidak tahu!” Jawab Lin membela diri.


“Dia keeper legendaris, dari rumor, host nya bukan manusia.”


“Huh? Bukan manusia?! Bagaimana bisa?!”

 

“Dulunya manusia. Entah bagaimana, ketika mati, hostnya sekarang hidup lagi menggunakan tubuh sementara.”


“Huh? Huuuuh?! Tunggu tunggu, manusia setelah mati tak akan bisa hidup lagi, apalagi menggunakan tubuh sementara katamu? Itu… itu tidak mungkin.”


“Tapi itu yang terjadi Lin, sekarang kau bayangkan kekuatan macam apa yang Zero punya untuk mensupport host macam itu.”


“A..aaah~ Mengerikan…”


“Karena itu aku ingin menjadi joker, menjadi keeper terlalu beresiko--”


“Dan kita tak akan bisa bersama terus~~ “ Jawab Lin manja.

 

Nero membalas kata-kata Lin dengan sebuah tatapan jijik, tatapan why-should-i-be-with-you-all-the-time, kemudian jalan duluan meninggalkan Lin.

 

“Kau jahaaat!” Teriak Lin sambil mengejar langkah Nero.

 

 

Pertemuannya tidak berlangsung lama, tidak sampai satu jam malah. Kebanyakan hanya berupa pengarahan kepada orang-orang baru seperti Lin dan Nero.

Lalu untuk apa Zero muncul disitu?

 

Nero masih memikirkan Zero, Zero adalah sosok penting bagi banyak orang, penting karena apa yang dia lakukan sangat-sangat menarik perhatian. Berkat skandalnya, Zero menjadi terkenal diantara mereka.

Lalu kenapa Lin tidak kenal dia? Lin memang terlalu sering melupakan orang. Kau akan terbiasa.

 

“A~h selesaaiii~  Ayo kita mulai mencari orang!” Kata Lin sambil menarik tangan Nero.


“Sekarang juga?!” Nero yang sejak tadi masih melamun berusaha menyesuaikan langkahnya dengan langkah Lin.


“Tentu saja! Kita punya banyak orang untuk ditolong, ini misi kita sebagai angel!”

 

Nero sempat kaget melihat ekspresi semangat Lin. Terlalu imut saat dia bersemangat. Saat seperti inilah dia tidak menyesalkan keputusannya turun ke bumi bersama Lin. Cukup dengan senyuman Nero membalas ekspresi itu. Kau harus tahu senyuman Nero itu mahal!

 

 

Lin dan Nero memang bukan manusia, mereka malaikat, err itu terlalu panjang, sebut saja angel, biar keren. Misi setiap angel adalah memberikan bantuan yang tepat pada manusia yang tepat. Untuk mengetahui mana manusia yang tepat, mereka diturunkan ke bumi dengan harapan mereka mengerti seperti apa manusia yang sebenarnya, mengetahui masalahnya dan bisa memberi bantuan terbaik.

 

Tentu saja mereka tidak diperbolehkan menggunakan kekuatan mereka untuk membantu manusia. Kalau seenaknya seperti itu, aku yakin tiap manusia akan meminta permintaan aneh-aneh yang membuat keseimbangan dunia hancur.

 

Setiap manusia yang mereka tolong, akan memberi mereka poin yang bisa menaikan ranking mereka. Rankingnya dimulai dari A ke E, tertinggi ke terendah. Hanya ranking B ke E yang berada di bumi, sisanya, entah di dimensi lain, di surga, atau neraka.

 

Ya, neraka juga punya malaikat. Kalian akan mengerti nanti.

 

Selain ranking, ada dua tipe angel yang terlibat dengan manusia, yaitu keeper dan joker. Keeper… anggap saja seperti karyawan full-time, terikat perjanjian dengan salah satu manusia yang disebut host. Host tersebut yang akan meminta permintaan dan secara tak langsung memberi poin pada si keeper. Sedangkan joker seperti freelancer, tidak terikat, bebas, tapi harus bekerja ekstra karena tidak setiap hari ada manusia tepat yang bisa ditolong.

 

Semakin banyak permintaan yang dikabulkan, semakin banyak poin yang didapatkan angel. Tentu saja mereka tidak akan bisa mengabulkan permintaan yang tidak sesuai dengan kekuatan mereka.  Tidak bisa angel ranking E mengabulkan keinginan seorang host untuk menghidupkan orang. Intinya, untuk mengabulkan sesuatu yang besar, diperlukan kekuatan yang besar juga.

 

Sekarang kau bayangkan bagaimana dengan kasus Zero, apa kau bisa merasakan rasa ngeri yang dirasakan Nero sekarang? Zero pastinya sudah bukan ranking B, mungkin lebih, tapi dia tetap berada di bumi, entah apa yang diminta hostnya padanya.

 

“Aku mengerti!” Hentakan Lin membuyarkan suasana tegang yang terjadi karena Nero terus menerus membahas Zero.

 

“Aku mengerti Nero, tapi kita punya hal lain yang harus dipikirkan!”


“Hm? Apa?” Tanya Nero sambil menyeruput susu hangat yang ada didepannya.


“Sudah dua hari kita tidak menemukan orang untuk ditolong!”

 

Dua hari sudah terlewat sejak pertemuan di hotel itu. Dua hari pula mereka tidak melakukan apa-apa.

Sulit memang menemukan orang untuk ditolong, dijaman serba canggih dimana sesama manusia saja mulai segan untuk bicara. Contohnya saja saat tersesat, mereka memilih membuka peta digital dibanding bertanya.


Lagipula tidak mungkin juga kan kalau tiba-tiba Lin datang dan menawarkan bantuan? Dia hanya akan dicurigai macam-macam.

 

“Kita? Maksudmu… kau saja kan?” Tanya Nero.


“Tentu tidak! Kita ya kita berdua! Kita belum menolong siapapun selama dua hari ini!”


“A~ aku sudah. Sudah 4 orang.” Jawab Nero santai.


“Ha?! Bagaimana bisa?!”


“Aku membuka jasa di internet.” Nero menunjukan smartphone nya.

 

Sebuah halaman website terbuka disitu, halaman website yang menerima bantuan jasa dalam bentuk apapun, selama masih bisa diselesaikan di dunia maya syaratnya.

 

“A- Kenapa kau tidak memberitahuku!” Lin refleks membanting smartphone Nero.


“Aaa!” Dengan sigap, Nero berhasil menahan smartphonenya sebelum mencium lantai yang keras.


“Kau curang!” Lin berbalik membelakangi Nero.

 

Ah, dia marah.


“Awalnya aku hanya coba-coba…” Nero kembali duduk ditempatnya, mengusap-ngusap smartphonenya, memastikan tidak ada luka serius.

“Lagipula… aku tahu kau tidak akan suka cara seperti ini.” Nero meneruskan.

“Tentu saja! Bagaimana bisa kau meminta bantuan kepada orang yang tidak kau kenal! Aku tahu kita bukan keeper, tapi setidaknya… setidaknya… tugas kita adalah untuk mengerti bagaimana manusia! Sekarang bagaimana kau bisa mengerti kalau kau memasang nama dan foto palsu saat berinteraksi!?”

Lin membalikkan badannya, masih dengan nada marah.

 

Perkataan Lin tidak salah.

 

“Karena itu aku tidak memberitahumu Lin, seberapa lamapun kita bersama, kita punya cara masing-masing untuk menyelesaikan masalah. Inilah caraku.”

 

Mereka berdua terdiam sesaat.

 

‘Ah seharusnya aku tidak berkata apa-apa…’ pikir Nero.

Banyak hal yang Nero tidak suka, salah satunya adalah membuat Lin marah. Bukan karena marahnya, tapi karena situasinya akan jadi sangat kaku.

 

“Oke! Kau lakukan dengan caramu, aku dengan caraku! Diakhir nanti, kau akan tahu caramu salah!”

Lin berdiri sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Nero.

 

Banyak hal yang Nero tidak suka, salah satunya adalah saat Lin mengarahkan telunjuknya seperti sekarang ini.

 

“Haah?! Aku salah?! Dimananya?! Ini semua karena kau yang terlalu lamban bertindak!” Nero memukul meja kemudian berdiri. Membalas tatapan tajam Lin.

 

“Aku lamban?! Halo~~ Aku menunggumu!! Terima kasih karena kau tidak memberi kabar apa-apa padaku, aku jadi lamban~ Kau ******!! *** ****!! ************!!”

 

Hal lain yang Nero tidak suka, yaitu saat Lin berkata kasar. Mereka sebenarnya sudah terbiasa saling berkata kasar, tapi kali ini Lin berkata kasar duluan, itu yang membuat Nero kesal.

 

Mereka melanjutkan pertengkaran mereka dengan ratusan kata kasar lainnya.

 

Sigh~ Mereka selalu seperti itu dan sepertinya akan terus begitu.

Entah hari-hari macam apa lagi yang akan mereka hadapi berikutnya.

 

 

Related Posts

See All
Keinginan Duniawi Menutup Hati

Mengejar Kebaikan Bukan Satu-Satunya Cara Untuk Mencapai Kebahagiaan Sempurna 💎💎💎 Permulaan cerita diawali penjabaran nuansa klise....

 
 
Angels in the City

Lin berjalan memasuki area taman, mencari orang yang memerlukan bantuan. Cuaca cerah membuatnya bergairah dalam menunaikan pekerjaan....

 
 
 
Friends

“Nero, gue mau pergi ke taman dulu, ya! Lu ikut, gak?” Pihak yang baru saja dipanggil namanya hanya menengok sebentar. Melihat temannya...

 
 
 

Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page