top of page

Chapter 21 : Ada yang Kasmaran

  • Writer: Tri
    Tri
  • Dec 2, 2020
  • 5 min read

Updated: Dec 31, 2024

“Delta~” Panggil Zero yang tiba-tiba muncul melalui voice call di salah satu monitor Delta.


“…”


“Delta ~ ah, atau harus kupanggil… client nomor 3221?”


“Gah! Ya ya! Apa maumu?!” Delta yang awalnya berpura-pura tidak mendengar kini menjawab panggilan Zero dengan wajah gusar.


​“Aku harusnya yang bertanya! Apa maumu berpura-pura menjadi client dan mengirim permintaan absurd macam ini?”

 

“Permintaan apa?” Tanya Cube.


Suara notifikasi masuk ke gadget Cube. Email dari Zero. Cube membacanya sebentar, kemudian berkomentar “Menjijikan.”


“HAH?! Bilang itu sekali lagi!” Delta berdiri seolah mengajak Cube bertengkar.


Tolong sampaikan rasa sukaku pada gadis ini…" Cube membaca isi email tadi. "Kau ini anak SMP baru puber atau apa hah?”


“Hey! Setiap orang berhak menyukai orang lain! Tidak salah kalau aku menyukai dia!”


Sambil memperhatikan foto perempuan yang diattach di email itu, Cube berdecak. “Yang salah itu otakmu! Kau tidak pernah melihat dia langsung, lalu kau tiba-tiba ingin menyatakan perasaanmu?”


“Aku sering melihatnya di social media dan cctv, dia selalu terlihat ceria, selalu menolong orang lain, dia orang baik! Tidak sepertimu. Hmph.” Delta menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Masa bodoh.” Jawab Cube singkat.


“Hmm aku bisa sih... mengabulkannya.” Kata Zero.


“Hah?? Ze-” Belum sempat Cube menyanggah, omongannya dipotong oleh teriakan kegembiraan Delta.  


“Yash! Kau yang terbaik Zero! Woooo!”


“Bayarannya… Kau masak sendiri seminggu kedepan. Jangan minta aku atau Cube membelikanmu makanan.” Ujar Zero.


“EEEH!? Baru saja aku mau minta burger!~”


“Cube, tolong kerjasamanya ya.” Sahut Zero.


“Ya ya.” Jawab Cube singkat.


“Bukan tentang makanan Delta, tapi juga tentang permintaannya. Kau yang sampaikan perasaan Delta pada perempuan itu.” Perintah Zero


“Zero!” Cube menatap tajam pada monitor voice call Zero berada. Dia tahu walau tanpa bertatapan mata, Zero dapat menerima aura tidak setuju yang dia keluarkan.


“Ahaha! Sampai besok lagi!” Zero mengakhiri voice call, tidak ingin dibantah lagi.


Setelah itu, seharian Delta berteriak kegirangan. Sedangkan Cube... apa yang bisa lebih buruk dari ini?


---


Esoknya Cube sudah berada di tempat yang diberikan Delta. Cube menemukan target yang dicari, perempuan remaja berambut twintail warna kuning dengan highlight warna pink diujungnya. Sesuai deskripsi Delta, dia sedang membantu orang lain di taman.


Memutuskan untuk observasi sebentar, Cube melihat perempuan itu ramah dengan semua orang di taman. Semua. Orang. “Apa-apaan perempuan ini? Sok akrab dengan semua orang...” Cube merasa sedikit jengkel, entahlah. Seperti tidak biasa. Namun pekerjaan tetaplah pekerjaan. Cube berjalan mendekati perempuan itu.


Baru saja dia ingin meraih pundak gadis itu, Cube merasakan ada hawa tak bersahabat dibelakangnya. Secepat mungkin Cube berbalik, melihat seorang lelaki dengan aura pernuh kemarahan. Apakah ini alasan Circle menyerahkan tugas ini padanya?


“Mau apa kau?!” Lelaki berambut pink panjang dengan pakaian sekolah serba hitam. Itu adalah murid teman Circle yang pernah dia pukuli sebelumnya. Cube berdecak.


Gadis tadi menyadari hal itu. “Nero~” sahut si gadis sambil berlari kearah lelaki berambut pink. “Kau dari mana saja? Aku mencarimu tadi”


“Diam, Lin. Pria ini berbahaya.”


Oh, nama perempuan itu Lin. Cube merilekskan tubuhnya. Dia tak ingin berkelahi disini, dia disini untuk bekerja. Semakin cepat dia selesai disini, semakin cepat dia bisa pulang dan memukul Delta. “Bisa-bisanya dia memberiku tugas merepotkan seperti ini.” Cube mulai berpikir bagian mana dari Delta yang harus dia pukul nanti.

 

“Jadi dia temanmu?” Cube bertanya, mencoba membuka percakapan. Lelaki berambut pink yang sepertinya bernama Nero itu belum menghilangkan aura membunuhnya.

 

“Tidak ada hubungannya denganmu!” Sahutnya.


“Dia siapa?” Tanya Lin, dia bingung.


“Aku kesini untuk menyampaikan sesuatu.”


“Kami tak ingin terlibat lagi denganmu!” Sahut Nero.


“Aku juga tidak ingin!” Ucap Cube dalam hati. “Lin” Cube memanggil perempuan itu.


“Ah, ya? Ada ap-”


“Kau mau apa!” Nero memotong jawaban Lin.


Cube berdecak lagi. Lama-lama dia kesal juga dengan kelakuan Nero. “Seorang client memintaku menyampaikan ini…”



---


Flashback ke hari sebelumnya, setelah Zero mengakhiri voice call, Delta mulai meminta macam-macam “Jadi, kau harus beritahu dia seperti apa aku ini. Aku tak ingin dia jadi tak bisa tidur memikirkanku nanti.”


“Terserah.”


“Ini serius Cube, kau harus beritahu dia!”


“Kau mau aku memberitahu orang yang menyukainya adalah orang bodoh?”


“ARGH! Tidak seperti itu. Kau bisa bilang aku ini pria yang… tampan? Karismatik? Bertalenta?” Kata Delta sambil berpose.


“Mati saja sana.”


Mendengar respon itu, Delta semakin merengek padanya. Akhirnya Cube menyerah menerima permintaan itu. Apapun agar Delta berhenti merengek!

 

---



Kembali ke waktu sekarang, masih di taman, Cube meneruskan perkataannya.


“… client ku itu orang aneh, dia seperti anak kecil, terlalu ekspresif , dia juga tak bisa baca situasi, bisanya hanya merepotkan orang dan selalu tertawa seperti orang bodoh.” Cube terdiam sesaat, memikirkan kata apalagi yang pantas mendeskripsikan temannya itu. “… Tapi dia orang yang akan selalu ada untukmu, kau bisa mengandalkannya dalam banyak hal. Dia.. teman yang baik.”. Nero dan Lin masih mendengarkan perkataan Cube. “Intinya, dia ingin kau tahu bahwa dia menyukaimu, Lin.” Lanjut Cube.


“APA?!” Aura tidak bersahabat dari Nero semakin besar.


Lin memegangi pipinya yang memerah “Eeeh? Eeeeeh~ menyukaiku? Eeeh? Aku harus bagaimana?”


Menyadari reaksi Lin, Nero mengguncang tubuh Lin dengan keras “Lin! Jangan terkecoh! Lin! ”


Cube kembali berdecak sebelum berbalik pergi. “Hanya itu yang mau kusampaikan.”


“Ah, tunggu!” Panggilan Lin menghentikan langkah Cube. “Anu.. itu.. Terima kasih telah menyampaikannya padaku. Kalau bisa.. sebenarnya aku ingin bertemu dengan orang itu… tapi tapi kalau tidak bisa, tolong sampaikan… aku akan menunggunya!”


“HAH?!” Nero berteriak kaget. Cube sedikit menolehkan kepalanya.


“Maksudku… siapa tahu… aku bisa menyukainya juga.” Lin tersenyum hangat, memberikan harapan untuk Delta melalui Cube. Mendengar hal itu Cube hanya berlanjut pergi. Dari kejauhan terdengar omelan-omelan Nero dibelakangnya. 


---


Cube kembali ke Console, disambut oleh Delta yang sudah berada didepan pintu masuk.


“Gimana?! Gimana?” Muka Delta sudah berada dekat di wajahnya.


“Bukankah kau bisa melihatnya melalui cctv taman?” Ucap Cube sambil menjauhkan muka Delta.


“Aaaaa aku tak bisa! Aku terlalu nervous untuk melihatnyaaaa.”


“Responnya positif.” Jawab Cube singkat.


“Yesss! Yesss yess yesss!!” Delta yang kini duduk di sofa berteriak kegirangan.

 

Cube membiarkan Delta kegirangan sebentar sebelum bertanya.“Lalu? Setelah ini kau mau apa?” Tanya Cube yang kini duduk di meja kerjanya, menatap pekerjaan lain di gadgetnya.


Delta tersenyum. “Sudah. Itu saja sudah cukup.” Delta kembali duduk ke depan komputer.

 

Cube terdiam, teringat dengan jawaban memberi harapan Lin di taman. “Kau tidak ingin keluar bertemu dengannya atau apa?”


“Haha. Kau bercanda.” Jawab Delta. “Aku tidak bisa keluar dari sini.”


“…” Ada perasaan aneh saat Cube mendengar jawaban itu. Di jawaban Delta ada rasa sedih, rasa takut, khawatir, dan pasrah.


“Lagipula…” Delta melanjutkan perkataannya, Cube mengangkat wajah ke arah Delta, mencoba mencari sumber perasaan anehnya. “Aku tak akan bisa menjalin hubungan dengan manusia kan? haha”


Terkejut mendengar perkataan itu, Cube kembali berpikir.  “Kenapa dia bisa berpikir seperti itu? Bukankah dia juga.... Ah sudahlah. Percuma.”


Cube memejamkan mata, kembali fokus ke pekerjaannya. Seberapapun Cube ingin membantu Delta, Cube tahu Cross dan Zero akan menentangnya. Hanya saja Cube sedikit penasaran. Ingin tahu apa reaksi Delta kalau dia tahu perempuan yang dia sukai juga bukan manusia.”





Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page