Chapter 20 : Kantor Baru Misteri Baru
- Tri

- Dec 3, 2020
- 5 min read
Updated: Jul 27, 2024
Hari ini hari pertama Cube bekerja sebagai anggota Sega. Setelah seharian bekerja di luar, sorenya dia menuju Console. Tidak sulit menghafal jalan menuju Console, tapi rintangan rumput liar, tanah becek dan anak tangga yang agak menjengkelkan. Berbekal kunci pemberian Circle, Cube membuka pintu besi itu.
“Selamat datang Cube!” Dia disambut oleh teman barunya, Delta.Cube melepaskan sepatunya, menaruh tas di mejanya. Dia memiliki space kerjanya sendiri, terdiri dari komputer berspesifikasi tinggi dengan banyak gadget portable, sesuai permintaannya. Masih belum terbiasa bekerja disini, dia mendekati Triangle, ingin melihat seniornya bekerja.
“Hey, kau sedang bekerja?” Tanya Cube mendekati Delta.
“Yup, kenapa? Kau masih belum ada pekerjaan?”
Belum sempat menjawab, Cube terkejut dengan apa yang sedang Delta lakukan. Didepannya terdapat enam buah monitor, enam buah keyboard. Semua isi monitor itu terlihat sedang memproses sesuatu. Tangan kiri Delta sibuk mengetik, sementara tangan kanannya menggerakkan mouse dengan cepat.
“Kau… kau sedang apa sebenarnya?!” Cube yang melihatnya saja bingung memproses semua itu, kenapa Delta bisa sesantai itu?
“Ah, yang ini.” Dia menunjuk komputer kiri bawah. “Ada client yang minta isi blog nya di review, aku sedang menulis reviewnya. Kalau yang ada di tengah bawah sedang meretas jaringan salah satu perusahaan. Yang kanan bawah ini Client minta websitenya di promosikan. Monitor yang atas kanan itu sedang kupakai grinding di game online, permintaan client juga. Monitor atas tengah untuk mengawasi keamanan jaringan Sega, Zero juga biasa menghubungi lewat situ, komputer itu semacam khusus untuk Segala kegiatan Sega. Terakhir yang kiri atas itu… sedang kupakai untuk mencari orang-orang tertentu, pekerjaan juga.”
Baru kali ini Cube lihat orang yang bisa bekerja seperti itu, apa benar Delta ini manusia biasa... “Kau… tidak lelah bekerja dengan kondisi begitu?”
“Tidak, aku terbiasa seperti ini. Kau sendiri bagaimana?”
“Tentunya tidak multitasking sepertimu.”
“Hmm~ kupikir kau orang hebat~” Ejek Delta.
“Berisik.” Cube kembali duduk dikursinya. Menatap email pekerjaannya yang selama ini dia kira banyak, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding pekerjaan Delta.
“Ah aku lapar, sudah waktunya makan malam~” Ucap Delta sambil menekan salah satu tombol keyboard lainnya, dalam sekejap dia terhubung melalui voice mail dengan Zero.
“Zero~ Aku lapaaar~” Ucap Delta tanpa berpaling dari monitor-monitornya.
“Ya ya, mau makan apa?”
“Cube! Kau mau makan apa?” Tanya Delta pada Cube.
“Ha? Apapun.” Jawab Cube.
“Wah ada Cube disitu?” Tanya Zero. “Dia sudah mulai bekerja?”
“Yup, dia baru datang. Bagaimana kalau fried chicken? Cube! Fried chicken tak apa-apa kan?”
“Ya.” Jawab Cube singkat
“Oke, berarti masing-masing satu… empat buah fried chicken… dengan kentang?”
“Dengan kentang!” Teriak Delta bersemangat.
“Ah! Aku pesan dua.” Sanggah Cube.
“Dua potong? Oke-“
“Dua bucket. Bucket isi 15. Kentangnya juga.”
“HAH?!” Teriak Delta dan Circle secara bersamaan. Delta menghentikan pekerjaannya. “Kau mau bawa pulang untuk keluargamu atau apa?!”
“Tidak! Itu semua untukku!”
“Cube?!” Delta memegang pinggang Cube, mengisyaratkan dia untuk berdiri. “Itu semua mau kau taruh dimana?!” Memang Cube agak tinggi, tapi perutnya rata, bahkan sangat ideal proporsional. Dimana dia mau taruh semua makanannya itu?!
“Porsiku memang seperti itu. Reaksi kalian berlebihan.”
“Tidak tidak tidak! Ini tidak berlebihan, Cube! Katakan! Mau kau taruh dimana semua itu?!”
“Sudahlah Delta …” Suara Zero menengahi mereka sambil sedikit tertawa. “Cube… karena kau sudah mulai bekerja, aku akan mulai memberimu pekerjaan ya~”
Tak lama suara beberapa notifikasi email masuk terdengar di device Cube.
“Oi! Sebanyak ini?! Kau marah karena porsi makanku?!”
“Ahahaha-“ Zero tertawa lalu memutuskan sambungan voice notenya.
“Sebanyak apa sih?” Delta mengintip isi gadget Cube. “Aaaah, ini sih dua jam juga beres.” Katanya sambil kembali ke kursinya.
“Dua jam?!” Ucap Cube sembari memulai pekerjaannya.
Delta tertawa mengejeknya “Kau akan terbiasa nanti~”
Tidak sampai setengah jam, suara pintu besi dibuka terdengar beserta Zero yang masuk ke ruangan
“Makanan datang~” sahutnya.
“Cepatnya!” Pikir Cube. “Yayy! Makan!” Delta segera meninggalkan pekerjaannya kemudian pergi ke dapur untuk mengambil piring.
Sambil membuka bungkusan, Zero bertanya “Cross belum bangun?”
“Aku belum melihatnya” Jawab Cube.
“Ah, aku lihat keadaanya dulu.” Zero beranjak ke kamar tidur, berpapasan dengan Delta yang masuk membawa piring.“Yay! Mainann!” Dengan mata berbinar Delta mengangkat mainan dari bungkusan makanan yang dibawa Zero.
“Mainan?” Tanya Cube mengangkat satu alisnya.
“Yup, Zero sudah hafal dengan kesukaanku, dia akan membawakanku mainan kalau aku minta makanan dari restoran ini.” Delta membuka dan mencoba mainannya. “Woah yang ini bisa berenang, akan ku taruh di kamar mandi!” Delta bergegas menuju kamar mandi.Cube hanya bisa diam keheranan melihat kelakuan teman barunya. Dia mengambil dua bucket dan satu kantong besar berisi kentang pesanannya, meletakkan semua makanan itu dimeja kerjanya.
Delta yang kembali dari kamar mandi melihat itu. “Uwah… kau benar-benar makan sebanyak itu?”
“Tentu saja.”
“Aku juga tidak menyangka loh Cube.” Ujar Zero yang sudah berdiri dibelakang Delta.
“Ya kan? Sepertinya disini hanya aku yang normal.” Kata Delta sambil mengambil porsinya.
“Normal? Normal apanya?” Gumam Cube dalam hati.
“Yang ini untuk Cross, yang ini akan kumakan dijalan. Aku pergi lagi ya~” Zero mengambil porsi makanannya dan bergegas pergi.
“Daaah~” Ujar Delta mengiringi suara pintu yang kembali dikunci.
“Dia kemana?” Tanya Cube.
“Pekerjaan mungkin? Entahlah, Zero memang jarang disini.”
“… Kau tidak curiga dengannya?”
“Curiga kenapa?”
“Kecepatannya mengantar makanan ini misalnya? Ini tidak normal.”
“Ha. Normal itu ada karena ada yang tak normal, kalau kau terbiasa dengan hal yang tak normal, semuanya akan jadi normal. Kau hanya belum terbiasa, Cube.”
Mendengar jawaban itu Cube hanya diam. Apa berarti kalau sudah terbiasa, nilai tak normal itu akan berkurang? Orang yang sering membunuh akan menganggap membunuh adalah hal yang normal, namun dimata orang biasa membunuh itu tetap menjadi hal tak normal kan? Ah, percuma memikirkan ini terlalu dalam, pikir Cube yang mulai mengunyah makanannya.Seorang pria kecil datang dari arah dapur, itu Cross. “Delta... Zero sudah pergi?”
“Kakak bangun! Ya, baru saja, itu makananmu ada dimeja.”
“Ah..” Mata Cube dan Cross saling bertemu. “Kau anak baru itu? Cube?” Tanya Cross kemudian.
“Ya, ini aku.”
“Kakak! Lihat porsi makannya!” Delta menunjuk pada makanan Cube yang ada dimeja kerjanya.
Cross duduk dikursi sambil meletakkan makanan diantara tubuh dan lututnya. “Kau makan itu untukmu sendiri atau apa?” Tanyanya pada Cube.
Cube menatap Cross. Pertanyaan Cross seolah menyiratkan dia tahu Cube tak makan hanya untuk dirinya sendiri.
“Menurutmu?” Tanya Cube membalas pertanyaan Cross.
“Kau terlihat seperti orang yang tidak pernah makan.” Jawab Cross.
“Pfft wahahaha.” Delta tertawa mendengar jawaban kakaknya. “Aku.. aku berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan itu, tapi kau.. ahahaha.. kak, kejujuranmu itu luar biasa. Wahahaha.”
“Berisik kalian.” Cube berbalik menghabiskan makanannya.
Pekerjaan Cube hari itu selesai pada tengah malam. Dia berpamitan pulang kepada Delta yang masih bekerja dan Cross yang tentunya masih tertidur.
Setelah sampai di rumah, dia baru menyadari sesuatu.
Ini pertama kalinya dia berada di lingkungan baru yang langsung membuatnya nyaman. Ada sesuatu yang membuatnya ingin lebih lama berdiam di Console, ingin lebih lama dikelilingi orang-orang aneh yang baru dia temui, bahkan walaupun dia belum tahu apa-apa tentang mereka.
“Mungkin karena kau satu frekuensi dengan mereka?” Tanya Diamond, salah satu kepribadian ibu Cube yang sedari tadi mendengar curahan hati Cube.
“Maksudmu aku sama anehnya?” Tanya Cube.
“Aku tidak berkata seperti itu loh.” Diamond lalu bangkit dan mengecup dahi Cube. “Akan aku siapkan air hangat, kau lebih baik segera mandi lalu istirahat, besok kau masih harus bekerja.”
“Ya” Cube menjawab singkat sambil membalik wajahnya ke arah jendela.
Berpikir hal menarik apa lagi yang akan terjadi besok? Lalu menyadari... kapan terakhir kali dia sesenang ini menunggu hari esok?

Comments