top of page

7 Crystal Clear

  • Writer: Tri
    Tri
  • Oct 28, 2020
  • 6 min read

Updated: Nov 28, 2024

“Sempurna! Seluruh anatomi fisiknya lengkap!”  Adalah kalimat pertama yang aku dengar saat kesadaranku kembali. Mereka memberiku nama, begitupun orang di ruang sebelahku, namanya Plan. Ternyata dia adalah saudara kembarku. Selama ini aku hanya melihatnya dibalik kaca yang memisahkan ruangan kami. Suara-suara pesimis yang selama ini ku dengar berubah menjadi euforia.


Kami dibawa ke ruangan lain, sebuah ruangan besar dengan langit-langit yang tinggi. Ada enam anak lain disana. Disaat para Dokter pergi, itulah saat suara lain masuk ke kepalaku, mengenalkan kami pada semua yang ada disana. Tim, Nerd, Dim, Noa, Brat dan Pit.

 

Seharian itu kami berkeliling sekaligus berbincang dengan anak lainnya, berusaha memahami apa yang terjadi. Brat dan Pit menjelaskan bahwa kami adalah anak hasil eksperimen yang dikurung disini entah untuk apa.


“Untuk membuat tentara kecil” Jawab Plan. Plan menjelaskan dia bisa membaca pikiran, seharusnya akupun bisa katanya. Ternyata suara yang selama ini ku dengar adalah isi benak para Dokter. Aku pikir semua orang dapat mendengar hal yang sama. Tidak seperti Tim dan Nerd yang bisa memasukkan kata-kata ke kepala orang, kami hanya bisa membaca.

 

Sementara Dim dan Noa mengira itu adalah hal yang keren, Brat dan Pit berpikiran lain, mereka berpendapat para Dokter akan mengeksploitasi kami. Kemungkinan besar akan datang hari dimana kami diminta melakukan hal-hal yang tidak kami sukai. Plan menarik lengan bajuku, dia terlihat ketakutan. Di satu sisi, aku merasa senang karena mengartikan tarikan lengan baju itu menandakan kepercayaan Plan padaku. Tim dan Nerd membaca ketakutan Plan, mereka mengatakan hal itu tak akan terjadi dalam waktu dekat, tidak sebelum kami lulus berbagai pelajaran dan tes dari para Dokter.

 

Benar saja, hari kedua adalah hari kami mulai menerima pelajaran dan permainan dari para Dokter. 4 jam pelajaran dan 3 jam permainan.


Secara fisik, Aku dan Plan tidak sekuat Dim dan Noa, kami tidak sepintar Brat dan Pit, kemampuan spiritual kami tidak secanggih Tim dan Nerd. Kami banyak dibantu oleh yang lain, hal paling minimal yang dapat kami lakukan adalah berbuat baik. Aku dan Plan selalu berinisiatif membantu Tim dan Nerd dengan obat-obatan mereka, selalu berusaha keras menjadi wasit atau penengah antara Dim dan Noa, membantu mencari POV lain untuk Brat dan Pit dalam segala diskusi mereka dan melakukan berbagai hal lainnya untuk membantu mereka.


Dengan membantu mereka, perasaan kami sudah jauh lebih baik dari saat pertama kami kesini. Di awal kami sangat kesulitan menerima fakta bahwa kehidupan kami hanya sebatas ini. Aku ingin melihat laut seperti dalam cerita The Little Mermaid, sedangkan Plan ingin melihat langit, ingin terbang di antara awan seperti di Aladdin.


Anak-anak lain pun sama, mereka yang tadinya betah disini mulai memiliki keinginan lain. Nerd ingin melihat katedral seperti dalam cerita The Hunchback of Notre Dame. Mereferensi cerita yang sama, Tim ingin dapat bernyanyi dan menari seperti Esmeralda. Dim ingin punya ibu peri yang membuatkannya baju-baju bagus, seperti di Cinderella. Noa ingin menjadi sekuat serigala dalam cerita The Three Little Pigs. Brat dan Pit ingin keliling dunia untuk membuktikan segalanya dengan mata kepala mereka sendiri.


Semua interaksi ini membuatku dan Plan menjadi lebih kuat. Belum cukup kuat untuk menerima takdir sebagai objek yang terkurung, namun kami mulai bisa melihat harapan kemungkinan kami keluar dari sini tidak sepenuhnya hilang. Dalam diskusi telepati antar kami, kami susun berbagai rencana pelarian yang mungkin dilakukan. Sayangnya, sebelum rencana pelarian kami rampung, di satu musim dingin, para Dokter mengumumkan sebuah permainan baru: Snow White Hunting.

 

"Salah satu dari kalian adalah putri salju, 7 sisanya kurcaci. Kalian tinggal di dalam rumah yang terbuat dari permen. Ratu mengutus seekor serigala untuk mencari Putri Salju. Setiap akhir hari, apabila Putri Salju tidak ditemukan, Serigala akan menghancurkan rumah dan memakan kalian satu persatu.

Serigala bisa dikalahkan bila Putri Salju mau memakan apel dari Ratu. Hanya Putri Salju yang boleh memakan apel, kalau apel dimakan kurcaci, kurcaci tersebut akan mati."

Monitor kemudian menunjukan video sebuah apel berwarna emas.


“Kalau kalian merasa sudah tahu siapa Putri Salju, segera minta dia datang pada kami ya.” Suara para Dokter berakhir disitu.

 

Dim dan Noa berakting seolah mereka malas berpikir, mereka lanjut bermain berdua. Brat dan Pit beralasan mereka akan mencari tahu melalui cerita di buku, mereka kembali duduk membaca buku. Tim dan Nerd kembali ke kursi menonton TV mereka, beralasan menunggu hasil analisa Brat dan Pit. Aku dan Plan pun sama, kami berpura-pura mengobrol. Dalam pikiran kami, dengan bantuan telepati dari Tim dan Nerd, kami mendiskusikan permainan tadi.


Brat dan Pit menyimpulkan bahwa ini akan menjadi battle royale. Para Dokter ingin kami saling bunuh, atau setidaknya menyisakan satu orang yaitu Putri Salju, sekaligus menyingkirkan 7 kurcaci lainnya. Hal ini diperkuat dari tidak adanya petunjuk mengenai siapa Putri Salju, berarti mereka tidak peduli siapapun yang menang akan mereka biarkan hidup.


Tentu saja tidak ada satupun dari kami yang ingin jadi pemenang atau jadi yang kalah. Tak ada gunanya menjadi pemenang kalau kau sendirian, pada akhirnya hanya akan terus menjadi objek para Dokter juga.


Kami bermaksud terus mengulur waktu ketika kami mendengar suara dibalik tempat conveyor belt. Lubang conveyor belt tertutup rapat sekarang. Brat menanyakan apa yang terjadi dengan berteriak pada para Dokter. Dokter menjawab tidak akan ada supply apapun sampai Putri Salju ditemukan. Mereka benar-benar mendesak kami bermain permainan ini.

 

Sementara Dim dan Noa berteriak-teriak protes, Brat menanyakan tentang petunjuk siapa Putri Salju. "Putri Salju adalah yang terbaik diantara para kurcaci, mahluk paling sempurna yang pantas memakan sebuah apel emas." 


Mendengar itu, Pit segera menoleh pada aku dan Plan. “Salah satu dari kalian adalah Putri Saljunya.”

Brat menginterupsi Pit. Brat berkata “Kalau seperti itu, Dokter akan tulis itu di aturannya sejak awal. Petunjuk ini baru keluar setelah aku bertanya, berarti para Dokter tidak peduli dengan sempurna secara fisik, ada hal lain.”


“-atau mereka memang cuma ingin kita saling bunuh.” Sanggah Plan. Kami terdiam.


Aku meminta agar kita berfokus mencari cara keluar dari sini. Kalau bisa keluar, permainan ini tak perlu kita lakukan. Brat dan Pit setuju. Diskusi antar kami terus berlanjut.

 

Malam semakin larut, aku, Plan, Brat dan Pit terus berdiskusi tentang segala kemungkinan dan cara mengatasinya. Tim dan Nerd sudah harus tidur karena tubuh mereka sudah lelah. Begitupun Dim dan Noa, kami yakin energi mereka akan kami butuhkan nanti, jadi kami minta mereka beristirahat.

Lewat tengah malam, terdengar suara gaduh dari ruangan Tim dan Nerd. Tim sedang terisak memegangi Nerd di tempat tidur. Tim bilang dia mendengar suara Nerd kesakitan. Sekarang Nerd tidak bergerak sama sekali. Aku memeriksa detak jantung dan nadi Nerd, nihil. Nerd sudah tidak hidup lagi.


Disitulah Pit mengingatkan tentang Serigala. Dalam aturan permainan, tiap akhir hari Serigala akan memakan kurcaci bila Putri Salju tidak ditemukan. Sialan, kami semua terlalu sibuk memikirkan strategi hingga lupa dengan itu. Brat meminta kami menjalankan rencana pelarian kami secepat mungkin, sebelum Serigala memakan kurcaci lainnya.

 

Pagi hari datang, tak sengaja aku tertidur rupanya. Plan ada disebelahku, membenamkan kepala diantara kedua lututnya. Kami masih ada di ruangan Tim dan Nerd. Ku lihat Brat, Pit dan Tim sepertinya tidak tidur lagi sejak peristiwa malam tadi, mereka diam menatap Dim dan Noa. Dim dan Noa berdiri mematung didepan tubuh kaku Nerd. Aku bisa melihat air mata mereka mengalir, tapi tak ada suara atau apapun yang terdengar dari mereka.


Mereka seolah shock melihat kakak mereka tak lagi bernyawa.

“Nerd tidak pernah…marah pada kami… yang selalu berisik ini.” Noa berkata terbata-bata.


“Dia tak pernah marah pada siapapun.” Lanjut Dim.


Ku dengar Plan mulai terisak, ternyata sejak tadi dia menahan tangis. Aku memeluk Plan berniat menenangkannya, tapi tak berguna. Aku juga ikut menangis dengannya. Kami menangis semakin kencang.

Tangisan kami memacu emosi Dim dan Noa. Mereka berdua melempar barang-barang ke arah monitor di ruang utama, dibawah kaca dome. Bukan hanya barang kecil, kursi, lemari, tempat tidur semuanya mereka lempar begitu saja. Sempat ada suara Dokter berusaha menenangkan, namun speaker sumber suara menjadi sasaran mereka juga. Keadaan menjadi sangat kacau. Diantara kami semua, Tim yang paling berhak untuk emosi, namun dia hanya diam.


Hingga tiba-tiba muncul suara serak Tim dalam kepala kami semua. “Rencana nomor dua, aku akan mulai.”


Aku mengerti, kami mengerti. Kami berlarian mengambil dan memakai masker, aku mengambilkan dua masker untuk Dim dan Noa juga. Diantara Dim dan Noa yang masih melemparkan barang, Tim berjalan ke tengah-tengah mereka, menengadahkan kepalanya.

 


Dim dan Noa berhenti sejenak. Mereka menghapus air mata mereka, menggunakan masker dan bersiap di posisi.

Tim berteriak keras melalui telepati, mengarahkan telepatinya untuk semua orang diluar dome. Suara yang akan memekakan telinga siapapun yang mendengar.


Terlihat kaca dome bergetar. Disaat itulah Dim dan Noa yang sudah membawa tabung gas menaiki tumpukan barang-barang yang sudah mereka susun sehingga bisa dipanjat. Mereka melemparkan tabung gas tepat ke arah kaca, membuat kaca dome pecah berkeping-keping sekaligus menyebar gas di dalamnya.


Aku dan Brat segera menarik Tim keluar dari area dome agar tidak terkena pecahan kaca. Kami berlindung sampai semua kaca terjatuh, dari atas sana kami dengar suara teriakan para Dokter. Dim dan Noa telah memulai perburuan mereka, membunuh siapapun yang mereka temui.


Pit dan Plan naik memanjat tumpukan barang, membantu kami naik setelahnya. Tim akan tetap tinggal bersama jasad Nerd. Ini adalah keputusan kami bersama, terlalu berbahaya untuk Tim banyak bergerak.

 

Sesampainya diatas, aku sudah disambut oleh tubuh-tubuh bergelimpangan. Brat memberikanku senjata, potongan kayu tempat tidur kami dengan jarum-jarum panjang tertancap. Jarum yang dibuat oleh para Dokter untuk membunuh kami, membunuh Nerd. Akan kami gunakan untuk membunuh mereka.

Kami pun mulai berpencar.

 

 





Related Posts

See All

Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page