8 Plain Throne
- Tri

- Oct 26, 2020
- 6 min read
Updated: Nov 28, 2024
Perlahan aku mulai terbiasa menancapkan jarum-jarum ini ke tubuh mereka. Rasa kasihan yang aku rasakan diawal hilang begitu saja mengingat bagaimana Nerd dibunuh.
Butuh waktu satu jam agar aku bisa meyakinkan semua Dokter yang ku temui sudah mati. Kami kembali berkumpul ke tempat yang sudah kami janjikan. Dim, Noa, Brat dan Pit beristirahat sementara aku dan Clear turun kembali ke bawah dome untuk menjemput Tim.
Yang ada disana adalah Tim yang sudah tergeletak di atas jasad Nerd. Mulut dan seluruh lubang di wajahnya mengeluarkan darah. Aku kembali terjatuh lemas. Clear ada disana menahan tubuhku. Ku kabarkan ini melalui telepati, saudara kami yang diatas bergegas turun. Kali ini Dim dan Noa menangis tanpa melemparkan barang, mereka sudah terlalu lelah.
Pit berkata kemungkinan penyebab Tim meninggal adalah penggunaan kekuatan yang berlebihan, melihat tak ada bekas luka luar di tubuhnya. Jadi selama kami berburu diatas, Tim terus menerus mengeluarkan kekuatannya. Membunuh siapapun yang ia bunuh dengan suara dan telepatinya. Sungguh kakak yang terlalu baik. Sampai akhir dengan segala keterbatasannya, Tim tetap berusaha membantu kami.
Tubuh yang lelah dan mental yang acak-acakan tidak menahan kami untuk tetap bergerak. Kami harus mengumpulkan informasi sebanyak yang kami bisa mengenai tempat ini sekaligus mencari tempat untuk dituju setelah badai diluar reda.
Kami melihat lab tempat kami pernah dibesarkan, namun tidak pernah menemukan data dari siapa kami dilahirkan. Sesuai perkiraan, kami diciptakan sebagai batch awal tentara kecil.
Plan menemukannya, apel emas. Apel yang disebut di salah satu dokumen sebagai apel ajaib pengabul segala permintaan. Ternyata kami diciptakan melalui bantuan droplet ekstrak apel emas. Apel itu ku bawa atas kesepakatan bersama. Kami juga mengumpulkan pakaian, makanan dan benda tajam seperti pisau dalam tas-tas yang kami temukan. Beristirahat selagi kami bisa sekaligus menunggu badai mereda.
Aku terbangun oleh Plan yang menggerakkan tubuhku kasar. Sebelum aku sempat bicara, dia menutup mulutku dengan tangannya, memintaku diam. Brat, Pit, Dim dan Noa yang juga baru dibangunkan ada berjejer disebelahku. Badai di luar sudah berhenti. Suara pesawat dan baling-baling terdengar sangat dekat. Pit bilang berdatangan manusia-manusia baru dengan pakaian tebal. Mereka tak akan bisa dibunuh hanya dengan jarum ataupun pisau dapur.
Brat mengusulkan untuk lari melalui tempat pengumpulan sampah sebelum tempat persembunyian kami ketahuan. Kami berusaha mengendap perlahan. Keluar dari ruangan kami bersembunyi, melewati lorong, berlari sekencang mungkin.
“Hei!” Suara teriakan seseorang dari belakang kami. Enam orang anak berlari tentu menimbulkan suara gaduh. Kami berlari semakin kencang. Suara sepatu boots orang mengejar kami semakin banyak. Suara ledakan kecil terdengar (suara senapan).
Kami sampai di tempat pengumpulan sampah. Dim dan Noa menahan pintu agar aku, Plan, Brat dan Pit bisa melewati pintu tersebut lebih cepat. Setelah kami berempat lewat, Dim dan Noa menutup pintunya. Mereka berdua tidak ikut lari menjauh dari gedung.
“Kami akan menahan mereka!” Ujar Noa.
“Kami akan menyusul kalian nanti! Lari yang jauh!” Ujar Dim.
Kami berempat menatap mereka, tahu bahwa ini bisa jadi terakhir kalinya kami melihat mereka. Aku baru saja mau mengajak mereka pergi, Plan menarikku berlari. Begitupun Brat dan Pit ikut berlari bersama kami, menjauhi gedung. Suara ledakan-ledakan kecil terdengar dari jauh.
Aku bisa membaca pikiran Plan, pikirannya sama kacaunya denganku, tapi kalau kami tidak ingin pengorbanan mereka sia-sia, maka kami harus terus berlari.
Kami terus berlari dan bersembunyi tiap kali mendengar suara baling-baling. Pit berkali-kali jatuh di salju. Kami bergantian membangunkan dan membopongnya. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya kami berlarian di salju? Brat semakin kesulitan berjalan.
Pit memeluk Brat bersamanya. Suara baling-baling mendekat lagi, kami bersembunyi lagi. Brat dan Pit tidak cukup cepat bersembunyi, suara baling-baling seolah akan berputar balik ke arah kami.
“Pergi!!” Pit berteriak.
Plan berteriak menyahut “Tidak! Aku gendong-“
“Kepala kami sudah membeku” Brat memotong perkataan Plan sambil sedikit tersenyum. Benar juga... tempurung kepala mereka tidak sempurna, aku baru ingat.
“Pesawat-pesawat itu datang dari barat, kalian larilah ke arah timur.” Ujar Pit. “Kalau tidak bisa, bersembunyilah dibalik bebatuan.” Lanjutnya.
Sekarang giliranku yang menarik Plan untuk pergi. Kami melanjutkan pelarian berdua.
Sesuai perkiraan, suara baling-baling masih terdengar. Lelah, kami memilih untuk berhenti berlari dan bersembunyi diantara bebatuan besar dekat sungai yang beku. Tubuh kami berdua membeku walau sudah berpelukan. Kami mencoba menghangatkan diri memakan segala bekal makanan yang kami bawa. Namun rasa dinginnya tidak pergi, sepertinya Plan merasakan hal yang sama. Nafasnya berasap. Aku melihat apel emas di dalam tasku, menyodorkannya pada Plan.
“Aku tidak yakin..ini bisa mengabulkan permintaan..” Ujar Plan terbata, menjawab isi pikiranku yang tadinya berpikir apel ini mungkin benar-benar bisa mengabulkan permintaan siapapun yang memakannya.
“Lagipula…” Plan kembali bicara “Putri Salju adalah perempuan.” Lanjutnya. Dia menutup tanganku yang kini memegang apel emas itu.
“Itu hanya karangan para Dokter” Jawabku.
“Kau saja yg makan. Aku sudah tak kuat makan lagi” Jawabnya dalam hati. Bahkan untuk menggerakkan bibirnya, dia terlihat sudah susah payah.
“Aku tidur sebentar” Kalimat terakhir yang ku dengar dari pikirannya. Plan memejamkan mata, berat tubuhnya segera terjatuh di pelukanku.
Aku tahu apa arti berat tubuhnya tapi aku masih tak mau percaya.
Aku menghabiskan apel itu sambil bersimbah air mata, menunggu kapan aku akan mati. Aku sudah tak bisa merasakan tubuhku. Rasa dingin sudah mendominasi. “Apapun yang dapat menolongku, tolonglah aku.” Kataku sambil menghabiskan apel emas tersebut.
Tidak ada efek apapun, rasanya pun seperti buah-buahan biasa.
Hingga beberapa waktu kemudian tiba-tiba jantungku berdegup kencang, seolah darahku mengalir lebih cepat. Ada sensasi aneh seakan aku terbawa ke suatu tempat sangat jauh dengan kecepatan tinggi. Pandanganku semakin kabur hingga hanya pemandangan putih di sekelilingku. Inikah rasanya mati?
Sekejap aku kembali terbawa ke suatu tempat dengan sangat cepat, pemandanganku kembali kabur, hingga beberapa saat akhirnya pandanganku stabil kembali.
Aku masih ada di tempat yang sama, Clear terbujur kaku di sebelahku. Aku merasa yang tadi terjadi bagaikan mimpi. Anehnya aku tidak merasakan dingin atau rasa sakit apapun lagi. Setelah memposisikan tubuh Clear di tempat aman, aku berdiri, melihat ke arah langit.
Aku mencoba melompat kecil, mencoba untuk terbang. Tetap tidak bisa. Apa yang menyebabkan sesuatu tak bisa terbang? Apakah aku terlalu berat? Atau karena tarikan gravitasi? Aku bayangkan tubuhku menjadi sangat ringan hingga gravitasi tak bisa lagi menahanku, dan… berhasil! Kakiku tak lagi menapak bumi.
Ku coba memperkecil gravitasi di sekitar tubuhku, entah bagaimana, hanya melalui keinginan dan gerakan kecil tanganku, tubuhku jadi melayang semakin tak karuan. Setelah berbagai percobaan menyeimbangkan diri dan jatuh bangun, aku berhasil melesat dengan cepat ke langit.
Angin diatas sini sangat kencang. Aku butuh waktu untuk menyeimbangkan diriku, namun semuanya terbayar melihat pemandangan yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Hamparan pegunungan salju sepanjang mata memandang. Awan tebal bergerak lambat, menempa tubuhku dengan perasaan sejuk. Ku habiskan waktu sebentar untuk terbang berkeliling mempelajari cara manuver.
Tanpa sadar aku sampai di gedung tempatku di lahirkan, lengkap dengan beberapa helikopter di landasannya. Manusia berpakaian tebal dengan senjata di tangannya berlalu lalang. Saatnya mencoba kekuatan baruku.
Aku mengarahkan tanganku ke satu manusia, berusaha memperkuat gravitasi di sekitarnya. Seketika, manusia itu jatuh berlutut hingga jatuh mencium tanah. Aku semakin memperkuat gravitasinya, berusaha menarik semua organ dan tulangnya menempel ke tanah. Kemudian darah keluar dari tiap lubang tubuhnya. Dia mati seperti itu.
Manusia-manusia lain di sekitarnya histeris. Aku lakukan hal yang sama pada satu persatu mereka. Dengan mudah aku perkecil kekuatan gravitasi manusia-manusia itu lalu melepaskan mereka di udara. Ada yang menodongkan senjatanya padaku, maka aku perkuat gravitasi di sekitarku, apapun senjata yang mereka lemparkan jatuh begitu saja ke tanah sebelum mengenai tubuhku. Ada yang berusaha kabur dengan helikopter, ku lakukan hal yang sama, perkuat gravitasi sekitar helikopter. Hancurlah semuanya hingga tak ada yang tersisa.
“Semudah ini…?” Pikirku. Lalu aku sadar “mudah” ini dibayar oleh kematian semua saudaraku. Selanjutnya ku cari tubuh saudara-saudaraku, membawa mereka dengan cara mengendalikan gravitasi jasad mereka lebih ringan.
Tubuh dengan wajah penuh darah Tim, tubuh kaku Nerd, tubuh Noa dan Dim yang penuh luka tembak, tubuh Brat dan Pit dengan kepala berantakan dan luka tembak diantara kedua matanya, terakhir tubuh Clear yang beku kedinginan.
Semua ku bawa pada sebuah reruntuhan kastil kecil tak berpenghuni yang ku temukan saat berkeliling tadi. Salah satu ruangan di kastil itu aku penuhi salju dan es sebagai tempat pembaringan terakhir mereka.
Aku tak ingin menaruh mereka di gedung terkutuk tempat kami dilahirkan. Kami berada di kondisi sekarang ini karena kami ingin keluar dari sana.
Setelah mengurusi jasad saudaraku, aku tetap kembali ke gedung terkutuk itu, mempelajari semua dokumentasi sebelum ada rombongan manusia datang lagi. Prioritasku adalah untuk menemukan obat atau pemulih fisik, namun yang ku temukan adalah tentang apel emas.
Apel emas tidak hanya ada satu, ada sebuah kebun apel emas yang dirahasiakan tempatnya. Begitupun dengan lab yang membesarkan tentara kecil seperti kami juga tidak hanya satu. Ada tersebar di beberapa negara lain.
Haruskah aku menghentikan mereka semua? Agar tidak ada lagi kami-kami yang lain?
![[Start] Resonansi Delapan Pilar](https://static.wixstatic.com/media/43f9e0_820257aa45764aa89b0cdc29e2540df4~mv2.jpg/v1/fill/w_980,h_483,al_c,q_85,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/43f9e0_820257aa45764aa89b0cdc29e2540df4~mv2.jpg)


Comments