top of page

[Start] Resonansi Delapan Pilar

  • LIN
  • Aug 18, 2024
  • 16 min read

Updated: Jan 28, 2025



Prologue :


Menurutmu apakah ini evolusi atau inovasi? Rentetan teknologi berpadu strategi. Intuisi juga akal cerdik manusia menciptakan satu entitas kehidupan dari komposisi antah berantah apel emas yang menyalurkan gelenyar reaksi di luar logika pada setiap denyut syaraf kehidupan anak-anak dengan satu tujuan ambisi. Benar, ambisi untuk menyusun bidak tentara kecil dengan sistem mampu dikendalikan baik secara mentalitas maupun daya pikir. This is Sciene Fiction about The Golden Bird, narasi dari sudut pandang teknisi yang akan mengupas setiap seluk-beluk kisah melalui narasi unik. Pembaca dipersilahkan bersiap menyertakan imajinasinya untuk menyelami cerita.


──────────────────────────



Dengung monitor menggelitik rungu sudah jadi hal wajar sejak aku menapakkan kaki pada instansi berkedok Charity for Humanity. Aku telisik derap langkah staff broadcasting dari kantor lantai empat dengan chip microphone dan script, aku tahu mereka pasti menyusun iklan personal branding penuh 'citra baik' hingga menggiring relasi-relasi unggul untuk suplai dana dan investasi jangka panjang atas alibi amal kemanusiaan. Berbanding terbalik dengan apa yang aku kerjakan pada area berkabel rumit juga uliran baut berpelumas khusus, kalian tahu ke mana ujung kabel ini berpusat?


Conveyor Belt.


Jangan salah, ini bukan roller penggerak makanan untuk anak-anak busung lapar. Apa yang kamu tebak? Sebuah conveyor belt pengangkut semen? Jika aku katakan, ini difungsikan sebagai alat bantu unit yang mengantar penyokong kebutuhan ‘entitas hasil percobaan’ bulir apel emas. Menurutmu, pantas kah sains dan teknologi mengubah mindset anak-anak tersebut agar tidak memiliki empati serta afeksi kepada para staff? Sehingga, hasil maksmial mereka sebagai mesin pembunuh berhasil. Lantas, apa kamu masih berkenan menyebut The Golden Bird dengan embel-embel Charity for Humanity?


“Pemeliharaan sistem akan terlaksana dalam durasi 30 menit,” perintahku, pada sebagian karyawan baru beres magang untuk menuntaskan aktivitas pusat komputer. Kendala ditemukan tidak sekali dua kali di setiap musim berganti, batinku memandang remeh beberapa awak staff yang mendorong troli resusitasi dengan wadah jarum suntik, rak defibrillator putar, pengatur suhu, dan berbagai macam kebutuhan laboratorium. Orang-orang itu otaknya tidak berbeda jauh dengan manusia hasil doktrin, entah bagaimana para petinggi menggeluti hal ini dan menaruh ambisi bila mereka mampu menyusun bidak tentara buatan.


“Ada kebocoran tabung. Sir, kamu dipanggil ke area underground experiment.” 


Aku cukup diandalkan untuk mengatasi problem signifikan. Musim panas kali ini membuahkan sepasang  pertama hasil eksperimen yang bertahan hidup lebih dari kurun waktu satu minggu usai prosedur suntikan bulir reaksi apel emas. Eskalator digital dengan garis-garis berwarna biru mengantar aku turun ke lantai B2. Berjajar inkubator elektrik, di bagian dalamnya ada gelembung kimia yang mengawetkan sederet bibit anak kembar sebagai kelinci percobaan. Salah satu dari mereka tampak menggelepar, sebuah contoh nyata penolakan reaksi DNA dari apel emas akan berujung binasa.


Ternyata duduk perkara ialah sekrup kendor sehingga arus listrik terpicu oleh tetesan cairan kimia, seraya berkutat sampai tabungnya tidak menunjukkan tanda korsleting. Samar-samar aku dengar salah satu pentolan medis berbicara tentang VX (C11H26NO2PS), aku paham ke mana arah topik tersebut. Bahkan di dalam rumitnya isi kepalaku, aku bisa menangkap celoteh rancu Time Rhyme dan Nerve Chord.


Sebutan gampangnya, Tim dan Nerd.

Ahli bedah juga ilmuan paruh baya menekankan hipotesis aneh perihal spontanitas lumpuh tiba-tiba mereka di bulan pertama. Sekalipun komposisi obat, atau racikan ekstrem kimia sudah dituangkan— tetap saja hasilnya nihil. Hingga suatu kebetulan di luar nalar malah membuat kondisi Tim dan Nerd berangsur membaik. Itu adalah opsi suntik mati VX, mutasi antibodi mereka yang dipengaruhi apel emas membuat refleks berkebalikan. Niat ingin membinasakan karena terlalu lelah, malah memperbaiki situasi. 


“Jangan diguncang terlalu keras ketika memindahkan selang. Aku sudah kencangkan uliran sekrupnya,” titahku, direspon anggukan oleh seorang staff laboratorium. Dia membawa papan dada, mencatat setiap detil hasil uji eksperimen.


Aku melenggang pergi, sebelum membuka pintu sempat menangkap bingkai proyektor 3D terpampang di antara kerangka anatomi. Menampilkan rupa Tim dan Nerd dari CCTV dome yang pertumbuhan fisiknya masih jauh dari batas normal. Mereka berdua tampak menyelami tayangan opera, jangan kira di dalam dome mirip karantina monoton. Pada era ini fasilitas seperti televisi juga disediakan bagi hasil uji coba seperti Tim dan Nerd. 


Nerd mengenakan modifikasi alat pernapasan dengan model seperti masker gas berpelindung kepala dengan kacamata lubang transparan dan moncong filter udara yang memanjang pada bagian selang sampai ke punggung. Sedangkan Tim menutupi bagian fisik rupa tidak sempurna dengan topeng menyesuaikan pahat wajah manusia. 


“Perkembangan pesat, namun sayangnya wajah mereka mirip biopori. Sebatas lubang-lubang pengganti indra, riset harus segera dicetuskan kurang lebih sebelum musim dingin datang.”


Aku berjalan ke arah kantor lantai empat, obrolan para peneliti lalu-lalang di sekitar gedung antusias perihal Tim dan Nerd. Benar adanya, aku pernah melihat mereka secara langsung pada pekan akhir bulan ketika jadwal pengecekan mesin di sekitar dome dilakukan para teknisi. Apa yang ada di balik masker wajah dan topeng itu mirip biopori, seakan-akan apel emas memberikan jaminan tidak gratis. Indera ditukar oleh fisiologis spiritual berupa komunikasi melalui telepati.


"Sebuah dansa senorita menyerupai melodi biola. Kita dua raga, menari seiringan nada. Kita dua raga, menyukai panggung opera."


Itu senandung Tim & Nerd, jika ditelaah memang kalimatnya ambigu. Kadang juga rancu. Mereka sering berdendang, pula bergumam dengan intonasi naik turun mirip radio butut.


“Kamu mendengarnya? Aku risih belakangan ini, bahkan sempat salah memutar arah kabel ketika ditugaskan ke area dome.”


Gerutu rekan sepermainanku beriringan langkah saat kita mengirim berkas laporan optimalisasi mesin ke kantor. Jika kalian bertanya, aku bisa bilang telepati Tim dan Nerd mirip seperti sinyal elektro dari pikiran yang sesuka hati mereka interaksikan ke kepala kita selayaknya gelombang komunikasi. Ibaratnya, tidak jauh berbeda seperti tiba-tiba earphone-mu berbunyi di luar kendali. Semakin dekat jarak kita dengan Tim dan Nerd, maka kian jelas pula telepati mereka.


“Tentu, semua mendengarnya tanpa terkecuali. Kita saksikan saja, kejutan apalagi yang akan terjadi di kemudian hari.”


Karena terkadang, kecerdasan mampu melahirkan bencana.

──────────────────────────



Krisis moneter saja tidak jadi hambatan. Apalagi musim dingin? Mana mungkin aku pusing memikirkan bagaimana jika tidak terpenuhi sandang pangan yang makin mahal. Tunjangan gaji di sini bukan sembarang patokan kelas teri, bahkan lauk yang ada dalam food tray stainless ini berbahan premium sekelas resto bintang lima.

 

Kaviar Almas lembut cita rasanya terkunyah begitu semerbak, kamu hanya cukup bungkam untuk menyembunyikan rahasia di balik The Golden Bird dan semua kebutuhanmu akan terpenuhi. Kantin agak sepi, beberapa dari mereka ada yang melewatkan makan malam. Sesaat sebelum aku melahap sendokan ketiga, dering alarm mengudara, gema memecah sunyi dan monitor televisi di sudut-sudut dinding kantin menampilkan siaran langsung dari salah satu atasan bagian dome untuk para teknisi segera bergegas mengatasi kegaduhan.

 

Lagi? Setelah kapan hari aku memberi pelapis baja pada bagian kupu tarung gerbang dan menambah micro-camera di sekitar area. Siapa lagi biang perkaranya jika bukan Noise Heart dan Disco Sperm.

 

“Mereka yakin menciptakan sepasang anak yang mengancam keselamatan kali ini, huh?” monologku runyam, sudah hilang selera melanjutkan sesi makan. Boots karet elastis yang terlanjur diletakkan ke rak susun sekarang aku kenakan dengan tergesa, jika dikatakan Noa & Dim punya indikasi hiperaktif— rasanya aku sedikit ragu karena mereka hasil kedua dari uji eksperimen apel emas yang bereaksi 180° berbanding terbalik dari Tim & Nerd. Lebih pantas dikatakan kelebihan kafein.

 

Roller Selip. Mereka membuat bagian shaft roller-nya tidak sejajar,” tenaga fisik anak kecil mana yang mampu menggeser shaft roller conveyor belt? Noa & Dim kurang cerdas secara intelektual, cenderung ke arah bebal seperti begundal liar. Adabnya kurang, termasuk sukar menyerap ilmu.

 

“Ambilkan cadangan reparasi baru,” tukasku pada rekan, sekarang aku berada di area dekat dome. Seraya membungkus ban karet conveyor belt yang kendor, siluet dokter dan para peneliti meredam lonjakan emosional Noa & Dim tampak kewalahan. Buku berserakan, halaman dirobek paksa kemudian pekik nyaring mengudara. Kapan hari lalu, upaya nekad mereka hendak menemui kita dilakukan dengan cara naik ke conveyor belt hingga piring makanan dan beberapa penyokong harian lain yang disalurkan benar-benar porak poranda.

 

Menghela napas, pekan ini cukup pelik. Komando pusat sering mengadakan rapat pemberdayaan keamanan sejak Noa & Dim diperkirakan punya potensi berbahaya. Pro dan kontra sempat menyulut percikan argumentasi di ruang meeting staff, ada yang bilang kalau Noa & Dim lebih memenuhi kriteria tentara pembunuh. Ada pula yang beranggapan Tim & Nerd justru lebih mudah dikendalikan bila permisalan terjadi adu strategi dalam medan peperangan.

 

“Tidak jauh berbeda, jika telepati Tim & Nerd mengganggu isi kepala. Maka, jerit tantrum Noa & Dim akan berkali lipat mencekik gendang telinga,” ujarku, bersedekap dada. Meregangkan leher kaku usai reparasi conveyor belt. Dari segi visual saja mereka begitu kontras. Bila Tim & Nerd dibalut penampilan dominan putih selayaknya gaun atau tuxedo medieval pemain opera. Berbeda cerita dengan Noa & Dim, mirip anak funky tanpa peduli padu padan warna, sarung tangannya menyerupai boneka kaus kaki yang dipertontonkan pada tayangan dongeng kekanakan.

 

“Aku pergi dulu, sir.”

 

Rekanku buru-buru melipir pergi lantaran tidak tahan melihat Dim menjambak surainya sendiri dengan mata terbelalak ke atas berteriak tidak karuan. Noa di sudut sana mencakar dinding, berusaha mengacak sisa wujud benda yang ada.

 

Aku sempatkan periksa beberapa tepi dome, siapa tahu ada kawat lepas atau baut berkarat. Para staff sudah meminimalisir terjadinya kecelakaan, termasuk menyembunyikan benda tajam dari jangkauan Noa & Dim. Sedikit menunduk saat melewati jajaran dokter, kacamata mereka melorot ke batang hidung. Asumsi berkeliaran di antara pikiranku, menebak dalam hati 'kira-kira apa ya yang direncanakan mereka?'

 

Insiden kecil terjadi saat berpapasan dengan seorang staff dari tikungan lab lantai tiga, tabung elenmeyer dan cawan petri yang dia bawa pada troli hampir saja jatuh. Sigap, aku menadahi tabung tersebut sekejap sebelum menyentuh bibir ubin. Memicing, benak menyimpan tanda tanya. Prasangka kali ini penuh teka-teki, pasalnya yang ada dalam elenmeyer itu ialah DNA menggumpal berwarna emas dengan noktah biru muda di tengah, bentuknya menyerupai akar gingseng. Dia berterima kasih namun menyambar begitu gesit. Lagaknya waspada. Aku baru paham, name-tag staff tadi punya gelar patologi. Oh, ternyata dia seorang ahli analisis spesimen, seperti jaringan, sel, darah, urine, dan cairan tubuh lainnya.

 

Yang paling membekas dalam memoriku saat itu adalah label “Brat Pit” dan sebuah agenda mini sebelah cawan, kalender tercoret spidol merah di bulan Oktober sampai September.

 

Musim gugur? Logikaku menjawab. Mungkin? Siapa sangka. Aku berlalu tanpa melihat ke belakang.

 

──────────────────────────





Otomotif  bukan hobi, namun jika sebatas mengoles oli pada poros kendali baling-baling helikopter yang hampir membeku oleh hawa menusuk gigilnya pegunungan bukan jadi masalah merepotkan. Aku akan sedikit bernarasi perihal lokasi kita bekerja di bawah naungan The Golden Bird. Jauh dari kerumunan kota, terimpit di antara pegunungan bersalju. Jangan salah, kalau menyangkut jaringan global dan internet ditunjang satelit dan beberapa pusat network virtual canggih yang kami pasang di beberapa titik tersembunyi pada kawasan dekat pegunungan.

 

Thanks sir, semuanya sudah baik-baik saja.”

 

Pundak ditepuk, aku rasa agak asing dengan rupa pria yang turun membawa brankas peti logam. Rutinitasku belakangan ini fokus tentang perakitan sensor writing bot. Masuk ke area machinery, teknisi-teknisi lain berkutat menyempurnakan komponen actuator; sebuah mesin penggerak robot, aku sudah ikut andil dalam project pemrograman. Para peneliti menyelenggarakan satu aktivitas baru akan hadirnya Brat & Pit, perantara dari pengolahan data dan sumber pelajaran seperti calistung; baca tulis hitung atau susunan puzzle ular tangga dilakukan oleh robot 3D juga sebuah hologram bersensor otak mirip manusia. Ingat, tujuan utama menciptakan tentara pembunuh. Jadi, sebisa mungkin kita hindari tatap muka yang mampu menimbulkan afeksi tertentu.

 

“B-R-A-I-N  F-O-R-T-E” ujung pen Brat ditorehkan begitu cekatan, psikomotorik pasangan ketiga ini punya tingkat stabilitas apik.

 

Pit bahkan menunjukkan kecerdasan imajinatif berupa goresan gambar di pad. Aku melihatnya secara langsung bersama para staff dari luar dome. Ketika rubik berdiameter 1×1 di setiap kotak teracak, Brat & Pit mampu menyusun ulang dalam durasi 30 detik. Emosionalitas mereka tidak meledak-ledak, sanggup diajak berkomunikasi tanpa sukar menyerap maksud lawan bicara. Hal itu dapat dilihat dari konsentrasi yang fokus, kontras seperti Noa & Dim jika salah tangkap pengertian sudah bikin kegaduhan.

 

“Dari origami ini, bentuk benda apa yang akan kamu buat?” lembar origami disodorkan, Brat dan Pit menatap hologram itu dengan sorot penasaran. Selanjutnya kembali fokus pada apa yang jadi pertanyaan. Sebuah kecerdasan intelektual begitu ketara.

 

Tertegun, aku perhatikan jari-jemari mereka— 'yang agak tidak proposional'; well, sejauh ini belum ada pasangan yang fisiknya 100% sempurna. Melipat sudut origami, membentuk siku dan pola tertata. Pit tunjukkan satu origami berbentuk ular mirip sarung tangan kaus kaki milik Noa, kemudian Brat membuat wujud angsa seperti tayangan pertunjukan boneka.

 

Menarik. Dari sekian pasangan, hanya mereka yang daya ingatnya cepat tanggap. Mungkin segi visual mereka terkesan flamboyan trendy dengan sedikit sentuhan klasik. Point utama terletak dari kinerja otak yang mendekati manusia normal pada umumnya. Bukan melalui telepati, bukan juga terindikasi hiperaktif. Mereka ada dalam porsi pas.

 

Potensi Brat & Pit mengais atensi lebih para ilmuwan. Maka, keputusan resmi agenda pembagian jam belajar dan bermain bagi anak-anak hasil uji eksperimen apel emas dicetuskan. Jadwal pembagian jam dilaksanakan pada awal musim semi dengan hasil objek penelitian baru yang punya satu konklusi perfeksionis. Iya, Crystal Tear serta Plain Throne.

 

Utas singkatnya, Clear & Plan.

 

● ● ●




Akan aku katakan sejumput kisah singkat usai Clear & Plan tercipta. Kala itu operator Monitoring area mengembankan satu tugas untukku soal problem pengoperasian kamera sistem kontrol CCTV. Setengah suntuk di larut malam, aku amati salah satu layar CCTV dome dengan garis statis abstrak, korsleting dari arus pendek antara kabel saluran monitor dengan AC. Tentu, dedikasiku pada The Golden Bird tidak buang waktu langsung menyikapi, dari sini aku bisa memindai semua adegan yang terjadi di dalam dome. Terperanjat, bulu roma bergidik antara takjub juga seperti rasa abstrak penuh siaga ketika Clear & Plan menengadah ke lensa kemudian telunjuk mereka terarah seakan-akan paham bila ada mata pengawas di balik seluruh kamera CCTV.


“Kenapa gerak-gerik kita tidak bebas?” 


Telan ludah, urat pelipis berdenyut— pertanyaan sukar di luar kendali, aku tekan knop podium microphone. Mengatur volume medium, lantas memutar akal. “Karena kalian spesial. Kalian pilar terpilih yang istimewa, di luar sana berbahaya. Kami adalah penyelamat kalian,” tuturku, sedikit memberi bumbu alibi rancu agar Clear & Plan kebingungan. Mereka tampak berpikir, kemudian memilih termenung di atas ranjang. 


Kasus lain aku dapati saat interaksi keempat pasang tersebut saling bersua dalam dome selama durasi instalasi fasilitas gadget baru, Noa & Dim beranjak agak kikuk namun mau menanggapi instruksi Brat & Pit yang menuntun mereka dalam pola alfabet. 


“Ini garis linear, kemudian sudut miring pada dua titik hingga membentuk wujud alfabet "N". Lakukan secara urut,” pen digital Brat sodorkan. Noa agak kalang-kabut, hampir saja menjerit frustrasi saat kesulitan memproses pola namun Clear & Plan sigap menyertai dengan seruan menenangkan.


Uh— oh, ini- N- lalu, hik- A. Dan, angka 0—” Noa tersendat-sendat, kinerja akademisnya tertatih. Masih juga bingung membedakan angka 0 dengan huruf O. Namun berangsur menunjukkan kemajuan sebab Brat & Pit punya cara cepat yang mereka ciptakan sendiri untuk anak-anak lambat berpikir. 


“Bukankah ini seperti membesarkan figur yang berproses tanpa sebuah adrenalin?” 


Telingaku berdengung, sekalipun netra lekat menatap bagaimana Tim & Nerd ikut bergumul dalam satu mekanisme permainan dari Brat & Pit. Titah kata seorang ilmuwan yang berkacak pinggang mengatakan soal adrenalin cukup menarik minat. Tangan kiri mengotak-atik science hologram computer yang timbul dari sensor otomatis seperti earbud wireless. Alis bertaut, kemudian dia membeku dengan obsidian tak berkedip.


Clear & Plan menghampiri, berjalan sampai ke batas sisi dome kemudian mengetuk kacanya seperti pintu.


“Knock knock. Who's there?”  lagaknya lugu, tipikal anak-anak dengan segudang pertanyaan perihal dunia.


Pendar kagum berseri dari ilmuwan tersebut, seperti euforia kemenangan sebab mampu menciptakan entitas yang sempurna dari segi fisik maupun tatanan daya pikir otak. Agak bungkuk, dia berjongkok di depan Clear & Plan. 


“Kenapa kita hanya diperbolehkan bermain di dalam sini?” Plan, yang notabenenya perempuan punya desir peka untuk membayangkan hal-hal cantik dalam imajinasinya. 


“Apa kita bisa melihat langit?”


Bertubi tanpa jeda, bukan hanya melontarkan tanya. Clear & Plan menganalisis sekitar juga isyaratnya mampu memahami apa itu empati dan iba. Dari respon lingkungan saja sudah paham bila mereka tahu mana prioritas dan intensitas yang perlu didahulukan oleh 'rasa'.


“Suatu saat nanti. Kamu akan memahaminya,” bukankah itu klise? Monolog ku menggiring batin, ilmuwan bersurai putih yang mengelak dengan gaya. Sebuah jawaban sarat akan ambiguitas mengelabuhi sugesti anak-anak. Detik ke depan, mereka sudah berlari, rengkuh antisipasi pada Noa & Dim dilakukan tanpa pikir dua kali. Mereka bersiasat baik, memadamkan emosi pasangan kedua yang kambuh lonjakan emosinya.


Tampaknya ilmuwan renta kurang setuju dengan tindak-tanduk berempati Clear & Plan. Aku bisa melihat sekilas ambisi serakah di balik sorot mata berkornea agak rabun itu, heran— bagaimana runyam taktik para tua bangka di sini dengan uban pada kepala mereka? Ada saja yang dikerahkan, ada saja yang diupayakan. Dia melenggang pergi ke koridor. Aku sudah hafal bagaimana intensitas kegiatan ke depan, tidak jauh dari kata kunci adrenalin.


Satu definisi sedari tadi berkerumun pada benak, jika ingin menyulut adrenalin. Maka harus ada ancaman batin. Tak ayal, kendatipun mereka sekarang dalam sikon aman terkendali. Pasti tidak lama akan dihadapkan dalam satu tekanan penuh intuisi.


Intuisi yang mengacak empati.


Sebuah belenggu lewat satu taktik picik.


Snow White Hunting.


──────────────────────────




Riskan, itu satu kata untuk adegan dalam bilik kamar mereka tanpa sokongan sumber daya hidup. Aku sudah hentikan pengoperasian conveyor belt atas mandat mutlak dari bagian pusat. Para petinggi The Golden Bird mengolah situasi darurat, selanjutnya memengaruhi psikologis mereka dengan metode 'paranoid' lewat kecurigaan antar satu sama lain. Sebuah naskah laporan disusun begitu runtut, menggali potensial daya tahan dengan satu kunci kemenangan egois mengesampingkan empati atau rasa atas konsep battle royale.


Bersiap untuk menyelami hiruk-risau delapan pilar cerita kita. Akankah kamu sanggup bersitegang dengan logika yang terombang-ambing?


This is Snow White Hunting.


● ● ●




Sensor motorik aktif dengan garis merah berpola menyilang samar dari laser di sekitar ruang kamar dome. Hening menyelimuti detak-detik tanpa lagak sewajarnya mereka menjalani hari. Telepati Tim & Nerd mengudara pada ambang pikiran kita, ku artikan kepada kalian— mereka berkata dalam kalimat merana seakan dilanda dilema; antara enggan atau ingin mengikuti permainan sebab terpaksa. 


“Kemana perginya fasilitas kita?” Seperti itu gelombang telepati mereka menyalurkan tanda tanya. Tim bersandar pada pundak Nerd, layu selayaknya hilang daya. 


Mimbar hologram proyektor otomatis di tengah-tengah dome muncul, pusat perhatian mereka fokus pada hasil ketik word generator dengan tulisan. “Someone steal the food.” aksi permulaan dari taktik psikologis, harapannya muncul intuisi kecurigaan. Dan mampu mengungkap potensi lain dari keempat pasangan bila terpaksa saling tuduh atau jadi biang kebohongan pada rekannya. Terutama Clear & Plan, mereka dinantikan untuk lekas menunjukkan bibit kemampuan lain.


Noa & Dim kesulitan mengeja kalimat tersebut, Brat & Pit mulai tenggelam dalam renungan; lagak mereka memilih bungkam seribu bahasa. Clear & Plan acuh, menelan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dicelotehkan kepada para ilmuwan.


Pada ruang machinery, aku juga ikut observasi progresivitas mereka dari layar pantau. Tuas pengatur suhu aku turunkan sekitar 10° berangsur setiap jam, lalu aku tambah intensitas naik 20° dalam skala acak selama durasi tak menentu. Stimulus-stimulus itu termasuk strategi tekanan relaksasi, membiarkan mereka beradaptasi dalam kondisi tak tentu. Noa & Dim mulai garuk tengkuk, gigit kuku sampai lecet. Mereka bereaksi dengan perubahan suhu, selanjutnya kembang-kempis bak orang hipertensi hendak meledak. Namun urung sebab Clear & Plan menggeleng— menunjukkan gesture “Jangan lakukan itu” melalui telunjuk yang diletakkan ke depan mulut.


Pena salah seorang staff mulai mencatat kolom studi perilaku yang terjadi. Jam berlalu, sikap mereka masih berpegang teguh seolah-olah tidak peduli. Apatis, bahkan berusaha kuat sekalipun mereka dilanda dehidrasi. Terpejam atau diam sepanjang malam jadi pilihan. Tindak-tanduk ini sudah diperkirakan dalam hasil hipotesis alternatif perancangan Snow White Hunting. Mereka pasti menolak melakukan permainan semacam ini sebab terlalu nyaman dalam situasi monoton tanpa adrenalin terpacu. 


Istilah lain, mereka mulai berani berontak.


Mengabaikan peraturan tanpa membentak.


Berarti, mereka butuh digertak.


Suntuk, letih bukan semata alasan bisa terlelap damai. Sebab, malam itu anggapan mereka terjadi tragedi naas. Iya, panitia permainan menggertak dengan aksi nyata berujung nyawa binasa. Di luar dugaan mereka, Nerd jadi sasaran pertama. Terbunuh dalam posisi terbaring, syaraf lumpuh tatkala serumpun jarum beracun muncul dari instalasi sistem pada ranjang. Jarum yang sejatinya sudah ada di beberapa titik kawasan dome. menyalurkan gelenyar pedih sampai ke otak— membekukan denyut nadi hingga detak jantung lenyap seketika.

 

Jarum khusus Tim & Nerd adalah VX terbaru. Para laboratorian mengubah rumus juga dosis racun usai menggeluti penelitian antibodi fisik Tim & Nerd. Kali ini benar-benar sanggup membunuh tanpa ada reaksi berkebalikan.

 

Ah, aku paham ekspresi itu. Mimik muka seorang yang termegap tidak percaya. Aku bisa mengintip di balik layar pantau, sambil menekan tombol kontrol instalasi instantkill bagi mereka yang berkehendak menjadi pemberontak.


● ● ●




Terkatup membisu adalah jalan pasif dari situasi hari kedua. Aku pasang detektor frekuensi detak jantung, menganalisis dari bar statis perihal bagaimana perasaan mereka lewat sensor dalam dome. Dari sini aku paham, gelombang ultrasonic telepati Tim bising. Bahkan Clear & Plan berdegup acak-acakan bak seseorang dilanda serumpun ketakutan. Kemudian Brat & Pit seringkali bersitatap, ekspresinya abstrak dan tak bergeming di balik lagak seolah "main sendiri-sendiri". Pun, Noa & Dim yang dikenal tidak segan ugal-ugalan malah jadi acuh.


Panggilan optimalisasi fitur saat denting waktu genap menunjukkan setengah hari berlalu dengan respon tanpa perlawanan dari keempat pasangan membuat gesture para peneliti khawatir. Cemas tercetak dari kening berkerut mereka, aku mengatasi satu problem Ethernet Radar Machinery. Ada dot merah—kuning berlapis simbol tanda seru, salah satu gejala gelombang magnetik yang bikin seantero rekan juga ilmuwan sadar akan sebuah keganjilan. 


“Ini datang dari area dome,” tukasku pada seorang awak keamanan dengan helm kaca. Dia melirik layar pantau, mirco earbud operator CCTV berseru perihal pinta untuk patroli ke area sekitar dome karena alat-alat berguncang walau sebatas guncangan samar. 


“Aku cek, mungkin generator mesin di sana tidak dinamis,” firasat menggelap, ada satu desir bergidik dari intuisi yang tidak wajar. Lift penuh dengan troli tim medis, aku enggan menunggu. Aku paksa masuk sekalipun mereka berdecih sebal.


Risau mengejar ketenangan batin.


1 detik, aku mengais napas.


2 detik, netra bergulir tak tentu.


3 detik, pintu lift terbuka dengan satu visualisasi tangis pecah Clear & Plan membias gaduh hingga semua awak mundur dalam radius dome.


Gendang rungu terkikis nyeri saat lengkingan pekik Tim merambat lewat telepati. Begitu sendu juga tersirat rasa berkabung dari raungan bising selayaknya dengung gelombang statis. Bendungan emosi itu runtuh bersama ancaman nyata kami dapati, aku paham mengapa radar machinery menunjukkan simbol berbahaya. Ternyata anak-anak ini potensinya melebihi batas aman hingga timbul gelombang magnetik. Masih termegap kewalahan saat tertatih menjauh dari dome, telepati Tim meninggalkan jejak denyut sampai ke otak— rasanya ubun-ubunku mau pecah. Hanya Brat & Pit yang menenggelamkan kepala di antara lengan dan lutut di sudut ruang. Belum bernapas barang sejenak, Noa & Dim beringas menggulingkan semua benda disusul pekik jenuh. Tantrum tanpa kontrol, berujung tenaga menggebu tidak wajar tampak dari bagaimana mereka mampu merusak setiap sensor motorik.


Upayaku menutup tuas penghalang sia-sia. Sebab semua jadi sebatas omong kosong belaka padakala serpihan kaca dome setebal itu dengan teknologi anti ledakan bisa roboh bak jentikan jari. Pupil bergetar ngeri, aku pandang beberapa rekan yang dibilur luka dari ujung runcing kaca tertancap brutal di sekujur epidermis sampai menohok nadi leher. Satu di antara kami kerjang akan reaksi ultrasonic telepati Tim yang merusak aliran darah. 


Tertimpa tabung, ilmuwan tua bangka yang berbicara perihal adrenalin lumpuh begitu saja. Aku menengadah, siapa sangka ternyata Noa & Dim bisa melawan arus gravitasi; mereka melayang di atas beberapa kaki meter. Kendatipun aku bisa melarikan diri, mereka melempar tabung VX secara belingsatan ke arah staff The Golden Bird hingga tenggelam dengan kepulan beracun. Gugur meregang nyawa di mana-mana, ada yang muntah getih sebab relung tercekik hirup gas beracun. Ada yang merangkak menderita dengan seruan ampun dari bilah bibir hingga parau menjemput ajal kala Dim menggerus setiap rangka tubuhnya dengan tabung.


Opsi keselamatan hampir menipis, hanya ada satu kesimpulan masuk akal untuk dicoba. Kamar mandi umum meminimalisir kontaminasi gas dengan air. Bergegas terbirit, segelintir dari kami terguyur shower pada sudut kamar mandi. Kepayahan, tremor— buku jemariku memutih seraya bergetar tak terkendali. Rekanku menyikapi, ujarnya berusaha meredam kekacauan dengan titah. “Tenang! Gasnya tidak akan sampai ke sin—” tercekat di kerongkongan, dia binasa sekejap mata dengan aksi di luar duga oleh gelagat Noa. Dia terpental jauh menubruk dinding hingga remuk. Aku bisa dengar gemeletuk tulang juga ruas sendi yang patah tanpa harga diri bak serpihan debu tersapu enteng.


“Sial.”


Porak-poranda, kami berpencar risau selaras menetralkan degup memburu sampai beberapa dari staff nekat meloncat ke luar jendela. Geleng kepala, kembang-kempis; bulu kuduk bergidik, aku tidak mau menyelami lautan badai salju di luar sana saat mendapati bila cuaca ekstrem tengah menghadang. Yang ada malah mati membeku. 


Ini neraka yang diciptakan para manusia.


Ini eksperimen berujung bencana.


Koridor licin, water sprinkle tersembur mengurangi beberapa bulir gas beracun yang menguap. Mental mulai terguncang, fisik kian lunglai. Rasanya lutut kehilangan daya di sela setapak langkah terpeleset, masuk ke lorong koridor, jerit naas minta tolong tiada gunanya. Ego mereka telah abaikan rasa empati, menyelamatkan nyawa sendiri-sendiri. Pada ambang maut, sepucuk jarum menembus pori-pori. Epidermisku di area tusukan jarum itu merebak lebam kebiruan dengan sensasi kaku menjalar sampai ke ulu hati. Sembab, antara perih juga derita sebab sekujur tubuh bak terjerat ngilu. Sekadar berkedip pun sukar, tersungkur; aku tahu jarum ini sejenis sama seperti yang kita pergunakan untuk membunuh Nerd. 


Narasiku tersendat dengan urat mata memerah, rasanya bak dicekik dari dalam. Aku termegap, derap kaki menyusul siluet Pit, dia cengkeram sisi kepala ku— mengintip rupa bilamana aku masih sanggup bertahan.


Ah, seperti ini ya penutup lembar kisah kita?


Jelaga menyambut netra sayu, aku dihantam Pit oleh kayu dengan jarum-jarum menyeruak di muka. Sisa denyut hangat kini gigil beku, aku berangsur kaku kala detik akhir kisah “Resonansi Delapan Pilar” menutup jumpa.


Karena mereka tercipta dari ambisi manusia.


Kini telah merenggut apa yang pantas dibayar nyawa.






Commission Story Written by LIN

Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page