[End] Fatamorgana Salju
- LIN
- Aug 17, 2024
- 26 min read
Updated: Jan 28, 2025

Prologue :
Penghujung pelik Resonansi Delapan Pilar terkupas dalam aksi menegangkan. Dunia memang indah bagi mereka yang beruntung menikmati kehidupan. Namun, bagaimana jika manusia justru mengundang kehancuran? Benar, inilah kehancuran dari hasil The Golden Bird yang menekuni percobaan. Teguhkan hati dan pikiran, jangan sampai dirimu ikut binasa sebab lajur cerita ini tentang pertarungan. Ada harga mati dibayar nyawa bagi Plan untuk akhir sebuah pertemuan.
──────────────────────────

Rintih ironis seorang teknisi mengudara. Syaraf lunglai hingga pergerakan tak berdaya. “Masih sanggup bertahan rupanya,” intonasi berdarah dingin membuat degup carut-marut, maut ada di depan mata. Itu Pit yang hadir dengan cengkeraman pada kepala. Hantaman telak membabi-buta, sebilah kayu dengan jarum beradu tragis pada muka.
“Pantas untuk teknisi brengsek,” getih meriap dari bingkai wajah yang terkoyak jarum. Dia pastikan target benar-benar binasa, Pit berhenti saat nadi pria itu dirasa kaku tanpa denyut kehidupan tersisa.
Lengkingan vibrasi Tim dari telepati telak membias gaduh seluruh area dome. Para peneliti berakhir tragis menggelepar tidak berdaya. Laksana lautan darah, semua tercecer tiada perlawanan mampu hentikan mereka. “Hubungi fasili— tas...” dialog peneliti tambun tersebut ditelan bengis, dia berlari tunggang-langgang ke arah ruang broadcasting. Naas, malang melintang tertimpa beton secara brutal dari stamina lemparan Noa & Dim. Tidak ada satu detik pun untuk jeritan, kedipan mata selanjutnya jadi jasad mengenaskan.
Porak-poranda.
Hirap bersama kerusuhan tanpa jeda.
Manusia hanya perkara mudah dilibas habis. Pecahan kaca, struktur beton roboh hingga fondasi dome telah berguguran. Tim hilang kontrol atas sugesti diri yang tertampar fakta kematian Nerd. Semakin lama tempo gelombang statis telepati Tim di luar ambang batas aman. “Kalian patut tergilas kematian setimpal!” bebernya disertai volume frekuensi pantulan telepati secara fatal, terciptalah gemuruh bergejolak dari dasar tanah. Ubin retak, kabel di sekitar area mulai rantas.
Gigil beku merayap pada sekujur epidermis Nerd, Tim terpukul sendu mendapati visualisasi pucat pasi saudaranya. “Enyah!” gaung raungannya liar, energi rambatan getar telepati Tim melambung dahsyat. Perawakan renta pentolan peneliti yang berusaha merayap terdistraksi telepati. Pupil netra bergulir tak beraturan, mentalitas rusak hingga sekejap gila kala tekanan gelombang statis Tim merasuk fatal ke otak.
Nyaring mengudara dering alarm situasi gawat, pijat lampu merah berkemilap di sudut fasilitas. “Dua orang di balik mesin proyektor. Detak jantungnya masih terdengar,” intuisi cepat tanggap Brat & Pit jadi poros kendali pasangan lainnya. Noa & Dim beraksi serampangan, sejurus kemudian tatanan proyektor tercecer semrawut.
Kondisi dua orang peneliti itu keruntang-pungkang, terkencing tremor dengan raut keruh. “Ampun. Kumohon,” kendatipun memelas putus asa. Dim & Noa tetap berantas habis. Mereka terpelanting ke dinding, suara retakan tulang mengudara.
“Amankan sisa inti DNA!” wanita beruban ini terlampau sembrono, mengais setapak langkah terseok ke arah laboratorium. Tabung Inti DNA menyerupai akar gingseng tergenggam erat, kembang-kempis cari akal bersembunyi. Tuas mekanis lift darurat terkendala macet, refleksi Clear & Plan tercermin dari pantulan sisi lapisan dinding kaca.
Kepulan napasnya mencuri atensi Clear & Plan, lagak mereka tenang tak bergeming. Logika waras yang tersisa di benak peneliti dalam posisi tersudut ini menciptakan alibi. “Kalian paham, kan? Di luar sana dunia begitu jahat,” bebernya bersungut-sungut, dramatis seperti orang sakit jiwa.
Seringai picik terkemuka dengan raut berubah-ubah, dari ekspresi terkejut hingga melotot takut. “Dengar. Aku bisa amankan kalian dari badai salju,” pungkasnya berharap Clear & Plan luluh, pendar depresi bersungut-sungut keruh. Kecamuk batin reda, dia lega sebab Plan berkenan genggam uluran tangannya.
“Benar, kemarilah. Ayo,” di balik kantung jas laboratorium itu, dia raih pinset secara perlahan. Perangai simpatinya berlagak seolah iba, lirikan mata berlabuh pada figur Clear yang membatu di belakang. “Clear? Ini kesempatan menyelamatkan diri,” imbuh wanita ini, bersiap membunuh dua bocah di depannya.
“Aku tidak mau pergi tanpa Clear,” cetus Plan terkesan rebel. Enggan bersua dengan kepala dingin, Plan cengkeram pergelangan wanita itu hingga kukunya terbenam. Peneliti ini gelap mata, pekik histeris mengiringi satu tusukan pada titik vital kepala Plan. Terguncang frustrasi sebab dia tahu tidak ada upaya membela diri.
Namun urung.
Celakalah dia, senjata makan tuan— pinsetnya direbut cekatan oleh Clear dari belakang. Pembuluh darah otak pecah sejurus tikaman pada kepala menggerus syaraf. Mati kejang bersama ketakutan melanda. “Cepat kita kembali, Plan.”
“Lenyap— - .. ၊၊||၊|။||||။၊| .... Nerd — ။၊| ...”
Dengung gelombang telepati Tim merosot lemah, frekuensinya hampir tidak terdeteksi alam bawah sadar mereka. Hingga tetes darah penghabisan, anyir menggenang di mana-mana. Nyawa yang terbunuh dirasa cukup untuk stabilkan situasi. Ketiga pasangan kembali pada Tim dengan sisa cipratan getih, wacana berikutnya jadi tolak ukur lonjakan emosi mereka.
Tim telah tiada. Terkapar memprihatinkan di sebelah Nerd, jemari bertaut pilu. Masker oksigen Tim pecah, di balik struktur berlubang itu guratan rupanya menderita. Efek sinergi telepati yang terus-menerus dikerahkan melebihi batas.
Pembantaian lebih tragis akan dimulai.
“Tim... ? TIM!” kadar energi Noa & Dim begajulan meledak, tantrum tanpa pengendalian diri. Sentakan langkah mengguncangkan tanah, bahkan kepulan napas mereka lebih panas dari uap mendidih. Seakan jadi mesin penghancur entitas kehidupan, berkelana dari sudut ruang ke setiap pintu fasilitas. Gempuran sisa dinding beton yang ambruk diangkat setinggi mungkin, lantas tertumbuk di atas tubuh peneliti yang merangkak. Segelintir lain peneliti di area fasilitas mati tanpa harga diri, dibasmi selayaknya parasit.
Situasi meradang, amukan tiga pasangan ini begitu geger. Brat & Pit retas ruang CCTV, strategi mereka makin berbahaya. Kepiawaian jenius itu merambat pada titik paling superior, mereka kerahkan seluruh emosi terpendam lewat taktik jitu. “Ada gerak-gerik terlihat dari sensor inframerah,” Brat pegang kendali komunikasi, pengawasan cermat dia telusuri di balik layar monitor operator.
Noa & Dim maju paling sigap bila ada perlawanan terjadi. Beringas membinasakan apa yang jadi mandat Brat di setiap informasi. “Brat? Brat aku harus lakukan apa lagi?” kecakapan Noa & Dim masih kurang bila diukur dengan intuisi. Pola stamina seperti anak kelebihan kafein membuat mereka mudah terdistraksi. Perlu ada Brat & Pit di balik semua aksi.
“Dobrak pintu area B2. Pit akan menuntunmu,” navigator handal ketiga pasangan ini adalah Pit. Biarpun tidak mengandalkan indra penglihatan, justru karena hal itulah penciuman Pit bisa mengendus arah angin sehingga instingnya lebih peka. Masalah seujung kelingking saja buat mengungkap lokasi-lokasi terkemuka.
Tiga orang peneliti meringkuk pasrah di balik pintu. Dim berjongkok, terkekeh kekanakan dengan wajah sadis. “MONSTER!” hardik salah seorang peneliti menjerit kasar, telunjuk diacungkan ke arah Dim. Hasrat membunuh Noa menjulang, kabut kemarahan menggerogoti diri. Tidak terima dengar Pit terhina. Detik ke depan anatomi ketiga peneliti itu terburai berserakan. Dim tepuk tangan sekalipun ada bola mata menggelinding di ujung sepatunya.
Sementara itu Clear & Plan mendapati pria bungkuk berseragam security. Protofon yang menggunakan antena radio tampak tergenggam, bibirnya bergetar pucat pasi. Pupil mengecil, jakun naik-turun, bulu roma bergidik ngeri. “Apa yang kamu lakukan dengan benda itu?” Clear & Plan memiringkan kepala lugu secara bersamaan.
“Halo? The Golden Bird ﮩ٨ـﮩ٨—militer.. ﮩ٨ـﮩ٨—akan segera—” respon sinyal putus-putus dari sambungan protofon mengawali malapetaka. Plan injak benda itu hingga berhamburan, selanjutnya menghabisi nyawa.
Sangat telat untuk sebuah alasan klasik. “A-aku, aku hanya— agh!” bogem mentah kepalan tangan anak hasil percobaan apel emas bukan main, bikin organ dalam bonyok dan terkapar mati konyol.
Kinerja fisik ketiga pasangan ini sejatinya berangsur melemah secara konstan dari detik per detik. Amukan mereka reda sejenak saat titik pembantaian usai. Tidak ada lagi sisa peneliti terendus di fasilitas. Opsi istirahat dipilih untuk pemulihan stamina, emosionalitas diri mereka lumayan terkendali. Berkumpul di area kontrol mekanisme, Brat & Pit temukan denah fasilitas. “Ini koridor menuju gerbang. Aku sudah pecahkan sandi keamanan,” ungkapnya menekan laman denah melalui layar computer pusat operator. Noa & Dim memicing, kesulitan mengeja bacaan nama-nama ruang dalam denah.
“Aku tadi menghabisi seorang security. Dia sempat berkutat dengan protofon,” timpal Clear & Plan, menimang kejadian saat respon terdengar membicarakan bala bantuan. Instansi tersohor seperti The Golden Bird tidak mungkin tinggal diam.
Brat & Pit tidak menunjukkan reaksi, tekanan emosi pasangan ini terpendam jenuh. “Clear, Plan. Kalian punya fisik sempurna. Aku ingin kita bertindak dengan kloning hologram,” Brat lontarkan ide terkemuka, dia ingat ada mimbar hologram. Tepatnya pada hari pertama permainan Snow White Hunting dimulai, Brat & Pit sempat menuai analisis terhadap kinerja alat tersebut.
“Kita harus alihkan perhatian mereka. Sebut saja ini perangkap,” aksi tipu muslihat jadi pilihan picik. Brat & Pit mengotak-atik kotak mesin mimbar hologram, bersinggungan dengan otomotif. Mereka begitu cekatan telusuri pola uliran kabel.
Clear & Plan mengekor di ruang teknis, perkakas manusia seperti obeng, bor listrik atau sekrap baja mampu dikuasai. Saudaranya memang punya acuan logika menakjubkan. “Kemarilah Plan, Clear. Letakkan sidik jari kalian di depan sensor ini,” tutur Brat menuntun proses aktuator motorik untuk selaraskan tiruan hologram fisik Clear & Plan.
“Bagaimana hologram ini akan menyelamatkan kita?” sinar biru mirip laser X-Ray merambat dari tumit ke kepala Clear & Plan.
Brat & Pit kini menggeluti poros operator mesin, berusaha eksplor bagaimana cara gabungkan sinkronisasi antara word generator dengan dinamika perekam smart voice. “Hologram itu akan meniru fisik kalian. Cukup mumpuni untuk mengecoh musuh,” tegas Pit.
Kerlip lampu sensor motorik berpijar tuntas, satu hologram menyerupai fisik Clear & Plan timbul seperti tetesan air dari mimbar 3D. Lambat laun menjadi wujud fisik tidak permanen, ada blitz di tubuh mereka mirip siaran digital yang korslet. “Kloning hologram ini hanya bertahan selama 60 detik. Semakin sempurna fisik tiruan maka sistemnya juga kian tangguh,” tandas Brat menimpali percobaan pertama.
Noa & Dim terperangah, otaknya jelas tidak mampu menalar ide cemerlang Brat & Pit. Maka, mereka putuskan cari alternatif berupa alat kombat. “Aku cari benda yang berguna,” beringsut pergi di sekeliling fasilitas, ada kapak pemecah kaca. Mereka rakit senjata, walau alakadarnya namun bisa berguna. Noa & Dim temukan electric stun gun di ranah loker security. Ada etalase pistol dengan sekotak peluru besi.
“Kalian harus tetap pegang senjata untuk berjaga. Ini,” tukas Noa sambil menyerahkan senjata kepada dua pasangan lain. Lantas mengikuti titah Brat & Pit untuk merobohkan tiang speaker fasilitas.
Melingkar bersila, tiga pasangan ini bahu-membahu dengan skenario Brat & Pit. Di tengah mereka ada perangkat virtual seperti teropong. “Aku salin data potensi Tim & Nerd. Word generator sukses tersambung melalui fitur smart voice,” pasangan Brat & Pit mengabsen setiap file data terkemuka, berambisi ingin menuntaskan pakai otoritas logika.
“Speaker akan menjalarkan gelombang audio statis,” masih bergelut dengan perangkat, usut punya usut ternyata itu generator khusus The Golden Bird. “Frekuensi bunyi ini tidak begitu sempurna layaknya telepati Tim & Nerd. Namun cukup bising untuk telinga manusia,” pungkas Pit berimbuh sembari memasang micro chip di balik punggung speaker.
Betapa terkejutnya Clear & Plan ketika apel emas dikeluarkan dari kubus kaca. “Brat menemukan lokasinya dari ruang CCTV. Pit benar-benar seorang navigator handal! Bisa menyusuri lorong khusus brankas apel emas tersimpan,” Noa & Dim saling sahut bercerita secara menggebu, seolah-olah begitu bangga punya saudara yang cerdasnya mereka anggap lebih dari akal manusia.
“Kenapa harus kita?” Clear & Plan lempar pandang, heran sebab mereka yang ditugaskan mengemban apel emas. Dua pasangan lain angguk-angguk yakin. Katanya karena Noa & Dim bakal jadi garda depan ketika ada perlawanan terjadi. Otomatis sulit membawa apel emas, sedangkan Brat & Pit tidak bakal sempat awasi apel emas ketika memikirkan strategi.
Sudah siap menempa pertarungan?
Mereka bergandeng tangan, melambungkan sebuah harapan. Fasilitas ini bukan impian, mereka ingin bebas dari kekangan.
───────────────────────

Dentuman gahar menggema di balik gerbang besi. Tiada kata selain mempertahankan diri. Namun Noa & Dim justru tantrum sebab merasa terancam dengan situasi. Pasangan ini memang pada dasarnya sukar mengontrol kestabilan emosi. Raungan mereka mengusik keheningan, sebenarnya merajuk enggan menghadapi manusia lagi. “Ayo kita pergi! Pergi! PERGIII!” dinding terhantam pukulan, ingus melorot geli.
“Shuust. Coba lihat aku punya sesuatu,” bujuk Clear menepuk punggung Dim & Noa yang sesenggukan histeris. Atensi mereka berhasil tersita, cakaran pada ubin mulai berhenti.
Adegan berikutnya Noa & Dim tertegun, ternyata ada beberapa bungkus permen. “Mau!” perubahan emosinya terbalik drastis, sekarang konsen mereka berpusat pada bentuk lucu permen gula itu. Clear & Plan menemukannya dari kantung jas seorang mayat peneliti.
Stamina urakan Noa & Dim membuat permen nya patah sebagian. “Nom nom nom— enak,” buncah bahagia meluap, watak mereka tidak berbeda dari anak kecil sepantaran. Sial, tiada waktu menyisakan sejumput kebersamaan. Para militer hadir di tengah sesi Noa & Dim mengecap sensasi manis yang belum pernah dia rasakan.
Sigap berdiri, Noa & Dim jadi garda depan untuk menahan pintu. Beton berserakan dari roller selip conveyor belt ditekuk, kemudian mereka bentuk palang dari sisi kenop melingkar ke tralis kerangka pintu. “Ini akan menahan mereka untuk sementara waktu,” kilahnya mendorong dobrakan pasukan militer yang berduyun-duyun menjejal tenaga ekstra.
“Brat! Nyalakan gelombang statisnya dari speaker!” aksi perdana mereka melancarkan perlawanan strategis. Sejurus kemudian word generator menangkap rekaman data telepati Tim & Nerd, mikroprosesor smart voice tersambung dengan rancangan Pit dari ruang operator.
“... ၊၊||၊|။||||။၊| .. ၊၊||၊|။||||။၊| —”
Volume frekuensi pantulan gelombang merambat bising, vibrasi itu menjejal gemuruh di seluruh area fasilitas. Brat atur gaung bunyi stereo, kemudian menunggu respon Noa & Dim di depan pintu. Tidak ada reaksi terjadi, justru termegap panik sebab ada torpedo misil berjatuhan dari atas. Noa & Dim ambil aksi nekat pasang badan berbekal senjata seadanya, palang pintu mulai longgar. Noa & Dim tidak paham mengapa ada bunyi bor elektrik dari luar? Sekrup pintu terlucut lepas selaras sundulan moncong laras panjang terus-menerus memberi tekanan. “Brat? Pit? Kalian harus pergi secepat mungkin,” ujar Noa kerahkan stamina, melawan arus dorongan pasukan militer.
Di luar dugaan Brat & Pit jika gelombang statis bising itu gagal menghadang militer manusia. “Benda yang ada di kepala mereka sepertinya mampu redam efek gangguan suara,” ucap Brat dari ruang CCTV memandangi helm dengan penutup muka para militer, mirip masker oksigen Tim & Nerd namun dengan versi yang lebih sempurna. Layar-layar monitor CCTV serentak membalur hitam, arus listrik dalam fasilitas padam seketika.
“Aku akan menahan misil itu,” terlampau percaya diri berlagak seperti begundal tantrum, mengesampingkan fakta jika senjata manusia tidak selemah tebakannya. Dia pecahkan sebongkah lapisan konstruksi besi dari pilar fasilitas, bersiteguh menahan gempuran misil yang hendak targetkan Clear & Plan tanpa aba.
Suara 'Boom!' berdebum nyaring memeka telinga. Clear & Plan hampir saja celaka. Misil terbenam meledak di antara serpihan baja. Dim bergumun tantrum kesakitan, ternyata misil itu disertai efek korosi dari serbuk amonium pikrat yang melelehkan jari-jemarinya. “Argh!” ringis Dim mencecar kondisi tertekan, peluh meriap sejagung-jagung kepayahan luar biasa.
Noa melabuhkan satu guncangan hebat dari palang yang copot, tinggal setapak langkah dan para militer itu akan masuk ke dalam. “Lari, selamatkan diri kalian!” guncangan Noa lumayan berpengaruh, perisai barisan depan militer agak goyah namun tetap sukar ditembus pukulan kosong.
Dedikasi Noa & Dim patut diapresiasi. Namun rasa empati Clear & Plan begitu berat hati. Tidak tega jika meloloskan diri tetapi meninggalkan Noa & Dim sendiri. “Terima kasih. Permen itu aku suka, jadi sekarang bisa semangat.”
Perasaan asing ini merayap haru dalam hati Clear & Plan. Melihat Noa & Dim yang pasang lagak tengil berusaha menghibur saudaranya. “Kita akan bertemu lagi. Pastikan berikan banyak hadiah lain,” timpal Noa menyikapi situasi. Andaikan waktu bisa diubah, Clear & Plan ingin menghabiskan banyak momen bersama Noa & Dim. Brat & Pit terkatup membisu, lagi-lagi tidak bisa meluapkan rasa. Sejauh mata memandang hanya ada harapan kosong dalam diri, logikanya menekan emosi itu dengan dalih realita memang harus dihadapi.
Visualisasi terakhir Noa & Dim yang terlihat di mata Clear & Plan sudah ditutupi serpihan dinding roboh, fasilitas lebur bersama pelik sengit antara Noa & Dim melawan jajaran militer. Kontribusi mereka melebihi batas tenaga. Main tubruk pantang mundur, benda apa saja yang tampak mata dipontang-panting terlempar. Tak segan mengangkat tubuh snipper yang tertangkap basah bersembunyi di balik reruntuhan fasilitas. “Ini untuk saudaraku!” dialognya menyala-nyala, persetan dengan rasa sakit menjalar di sekujur ruas tulang.
Noa & Dim anggap ini adalah taman bermain terakhir.
Mereka akan bersenang-senang mengukir harapan getir.
“Sekarang! Atur posisi mengepung,” senyawa kimia berupa serbuk ditaburkan ke alas sekitar kaki Noa & Dim. Amukan meledak-ledak, berusaha lepas dari serbuk yang makin lengket menyerupai lilin beku. Melontarkan pekik histeris, taraf energi mereka tersisa di puncak kemarahan. Berhasil! Kaki Noa & Dim sanggup menggerus retak senyawa lengket itu. Temperamen bengis berkehendak membunuh semua militer, sial tidak selalu harapan terjadi nyata. Karena manusia-manusia itu berhasil mengelabuhi atensi mereka. Jarum beracun terpanah ke tengkuk secara beruntun, Noa & Dim terhuyung ke depan; ambruk dengan mulut berbusa. Sarung tangan menyerupai boneka kaus kaki mereka sudah compang-camping, bertatap rupa dengan gurat menderita. Bungkus permen dari Clear & Plan masih tergenggam.
Noa & Dim tumbang membawa kenangan. Di balik redupnya kelopak terpejam, mereka lihat imaji tayangan opera anak-anak. “Dengar-dengar ada yang habis diberi permen nih. Kita juga punya banyak lho,” Tim & Nerd datang membawa sekeranjang permen berbungkus lucu. Tantrumnya Noa & Dim hilang digantikan antusias meletup senang, makan permen lalu berbaring di atas pangkuan Tim & Nerd. Kedua kakaknya bersenandung lewat harmonisasi telepati menenangkan, membawakan lullaby pengantar tidur paling merdu.
Betapa indahnya mimpi yang terbawa pulas dan tidak akan terbangun lagi.
───────────────────────

Remote control hologram dikantongi, dua pasangan berhasil kabur terbirit-birit. Belum jauh dari fasilitas, badai kembali menerpa begitu dingin hingga lapisan tebal salju mempersulit langkah berpijak. Daya tahan Brat & Pit renta bila dikaitkan dengan suhu beku, mereka kewalahan menyusul Clear & Plan. “Tunggu! Sebentar saja,” bertumpu lutut, kepala menunduk. Gumpalan napas melayang-layang, berat rasanya untuk mengais sirkulasi udara. Kerutan di permukaan kulit jemari mereka makin keriput, rasanya seperti tenggelam dalam parit es.
Lamun Plan pecah, berhenti memandangi langit lepas untuk rangkulan bahu kepada Brat. Pit di sisinya sudah kembang-kempis, bersandar lemah di dalam dekap Clear. Mencari kehangatan dengan sentuhan epidermis. “Kalian berdua tidak boleh berhenti di sini,” titah Pit menyikapi kondisi.
Clear & Plan mengamati sekitar, alas putih salju membentang luas. Tidak ada satupun ranah berteduh, cari solusi juga sama saja nihil hasilnya. “Kita berdua bisa gendong kalian di punggung,” pikir Clear & Plan sebelum gemuruh baling-baling helikopter militer jadi tanda waspada.
Evakuasi jasad para peneliti terlaksana, awak militer tengah menyusuri hamparan salju. “Jangan. Para militer sudah semakin dekat,” sanggah Pit sambil melirik kondisi Brat. Tertatih berusaha duduk, Brat & Pit kendalikan peredaran energi di tubuh mereka.
“Tenang saja, Noa & Dim pernah mengajarkan kita olah fisik. Kita masih bisa bertahan,” Brat & Pit aslinya kepayahan, tapi ditutupi dorongan ingin bebas dari kekangan. Hari-harinya di fasilitas biar jadi pengalaman, sekarang dia akan buktikan siapa yang bisa menandingi akal manusia.
Clear & Plan mulanya enggan, menolak teguh tidak lagi mau meninggalkan. Namun suara tembakan beruntun mengudara di antara langit bersalju mengimpit nyali, mereka harus bergegas sembunyi. “Sebelum kalian pergi. Kita mau bertanya,” Brat & Pit kini sanggup berdiri walaupun lutut gemetaran dengan telapak tangan mulai mati rasa.
Sudut bibir Pit menyunggingkan senyum teduh, Brat ikut berseri lewat sorot mata yang membias lengkung bulan sabit. “Gejolak ngilu muncul di sini ketika mendapati Tim & Nerd, Noa & Dim juga kalian berdua berpisah,” tuai Pit meraba arah dadanya.
Brat & Pit maju selangkah, memberikan rubik teracak yang kerap dimainkan selama mengisi waktu kosong dalam dome. “Apakah itu sebuah konsep sains? Logika kami tidak sanggup memahami,” imbuh Brat, bulu matanya tertimpa kepingan halus salju.
Diterjang panik melanda, simpati Clear & Plan memikirkan jawaban yang sesungguhnya. “Kembalikan rubiknya setelah kalian menemukan jawaban,” ujar Pit sambil lambaikan tangan. Waktu menggilas segalanya, detak-detik kerumunan militer bergerak sigap mengejar dari belakang. Clear & Plan berlari, gulir netra melirik ke belakang, Brat & Pit tampak mengeluarkan remote control hologram.
Kericuhan akan segera terjadi lagi.
Namun Clear & Plan percaya bila saudaranya akan kembali.
Pasangan Brat & Pit mawas diri. “Masih bisa diaktifkan mengingat radius yang tidak terlalu jauh dari fasilitas,” sistem perangkat hologram berhasil terkendali. Sejurus kemudian bersamaan dengan awak militer yang datang menghadang, hologram serupa tiruan fisik sempurna Clear & Plan mengawang datang dari arah bangunan fasilitas. Mereka kombinasi spektrum cahaya dan listrik, menerjang awak militer dengan sengatan elektrik yang tak ayal berhasil mengulur waktu.
Drone robotik bala bantuan beberkan informasi melalui sinyal yang tersalurkan pada ear chip awak militer. “Brat & Pit. Pasangan ini punya taraf logika yang mumpuni. Tempurung kepala mereka tidak sempurna,” pasukan baris belakang siap membidik ke arah Brat & Pit.
Ketika rahasia musuh terungkap.
Maka, ajal akan menjemput sigap.
Teriakan salah satu militer membuyarkan atensi, dia terjerembap ke belakang dengan posisi helm lepas. Ternyata medan elektrik efek setruman hologram itu sanggup menciptakan sentuhan singkat dengan manusia. Kesempatan tersebut Brat & Pit gunakan untuk kabur. Justru inilah letak kesalahan mereka berdua, sejak kapan manusia akan mudah dikelabuhi? “Ayo, Pit! Ada celah pada barisan yang tumbang. Sisa 10 detik lagi,” hologram hanya mampu bertahan 60 detik, ketika mereka hendak berpijak lari— sensasi kram seperti ditusuk-tusuk menjalar ke sekujur syaraf. Gigil dingin salju ini menyiksa fisik Brat & Pit, otaknya berdenyut kaku.
Brat & Pit sudah hafal segi derajat arah angin posisi para militer. “Perhatikan sisi barat daya. Pasukan bersenjata rata-rata berjaga dari sana,” embusan sirkulasi pernapasan mereka stabilkan, aliran energi berusaha disinyalir ke bagian sendi dan engsel. Memori lampau ketika Noa & Dim tunjukkan cara berpijak kuat dengan kuda-kuda melipir ke benak.
Komandan pasukan militer angkat tangan. “Ini saatnya. 1, 2— bidik mereka!” akurasi peluru menembus telak di sela fokus lengah Brat & Pit. Alur cerita tidak sesuai harapan, antibodi melemah dengan pedih menggerogoti dari dalam. Peluru itu terlumur racun berdosis fatal. Hilang daya, tubuh lunglai dengan energi pupus. Prediksi Brat & Pit keliru, bahkan tidak sadar jika ada ranjau darat tertimpa salju di sekitar mereka. Sontak tumbang dengan timah panas bersemayam pedih. Mereka salah kaprah, terlalu sembrono ambil rencana. Bukan dari arah barat daya, kamuflase awak militer yang mengenakan seragam putih dengan gumpalan salju tidak tertebak.
Getih merembes anyir berlinang di atas putih benderang salju. Sisa kekutannya digunakan untuk menghampiri satu sama lain, berpegang tangan dengan satu perasaan yang meluap sendu entah datang dari mana. “Skenario ini ternyata keliru. Kita belum sepandai manusia,” Brat & Pit meregang nyawa. Buram mendapati rupa satu sama lain, tempurungnya yang tidak sempurna makin retak disusul gelenyar reaksi melemah.
Gelombang telepati Tim & Nerd berkumandang samar. “Bukan keliru, kalian hanya terlalu lelah. Waktunya istirahat bersama,” bayangan fana Tim & Nerd hadir di balik setapak salju tebal. Kedua kakaknya mengusap puncak kepala dengan bangga, tubuh mereka terkesan seperti kunang-kunang fantasi berkilau samar.
Hangat.
Rengkuh ini begitu kuat.
Ternyata Noa & Dim menyusul dari belakang, dekapan erat mereka membalur kehangatan nyaman. “Ayo pergi,” tutur Noa & Dim sembari menggendong tubuh Brat & Pit di punggung. Tiga pasangan itu berlalu dalam cahaya putih, menyusuri lorong tanpa ujung bersama-sama. Kantuk merayap pelan, kelopak memberat penat disusul satu dialog.
“Logika tidak bisa memahami perasaan. Sekarang aku sudah dapat jawabannya,” emosi, kesedihan, cinta kasih, kebersamaan. Perasaan itu berjuntai-juntai lega berhasil terjawab oleh perpisahan. Manusia tidak bisa dikalahkan hanya dengan sebatas kecerdasan. Brat & Pit juga kurang pengalaman.
“Mau tidur. Maaf gagal menuntun kalian semua,” Brat & Pit selaraskan posisi kepala di bahu Dim. Menenangkan kecamuk rumit strategi yang gagal terlaksana.
Noa & Dim kencangkan lingkar lengan di gendongan punggung. “Mana ada gagal. Kita tercipta di waktu yang salah, dibesarkan pada tempat yang tidak semestinya,” tukas Noa berlagak bijak.
Dim senggol bahu Noa, terpingkal-pingkal tertawa. “Kenapa cara bicaramu jadi mirip telepati kak Tim?” senda gurau ini jadi pengantar nyenyak paling sejuk bagi Brat & Pit. Pulas dengan impian menjulang di puncak yang tak tergapai. Mereka tidak akan pernah turun lagi ke bumi.
Biarkan pikiran mereka teredam dengkur pulas.
Biarkan logika Brat & Pit berdamai dengan gugur tewas.
───────────────────────

Birunya nabastala di atas sana jadi atensi paling cantik bagi Plan. Cagak horizon dengan kepingan salju itu terpatri indah, suara kicau camar musim dingin yang bermigrasi dari arah utara melandai jauh begitu asri. Plan takjub, dunia luar tidak seburuk dongeng buatan peneliti. Dia masih termenung, menyelami hasrat dalam diri tentang kebebasan yang selama ini dinanti. Epidermis membias sensasi sapuan angin, atau bagaimana helai surainya diterpa sensasi sejuk. Cahaya di sini bukan benderang lampu elektronik, cahaya di sini mengintip lugu dari balik tatanan kapas-kapas awan.
“Langit... ternyata bukan ilusi,” ujarnya sambil mengangkat tangan berusaha gapai puncak. Penasaran dengan apa yang ada di balik permadani cakrawala.
Dari mana salju itu berasal?
Dari mana angin sejuk ini bertiup?
Untaian pemikiran itu harus pupus ketika Clear berkeluh penat. “Dingin,” pias pasi menjalar beku, tidak lagi sanggup menahan lutut. Saudaranya hampir terpeleset, gundukan salju membukit di puncak kepala Clear. Respon melambat, daya tanggap tidak seperti konsen utuh semula. Menanggapi hal ini, Plan buru-buru bersihkan salju yang bertengger pada tubuh Clear.
Telapak tangan digosok-gosok cepat, lantas Plan tempelkan ke pipi saudaranya yang mulai membiru. “Tenang, Clear. Sebentar lagi kita bisa selamat,” bujuknya menenangkan, kebingungan setengah mati dengar tempo napas Clear makin tersendat. Lengan memapah pundak Plan, dia sanggah beban tubuh seretan kaki Plan dengan sekuat tenaga. Sempoyongan hampir jatuh, medan bersalju ini sulit ditempuh. Kaki pendek mereka tidak sekokoh manusia-manusia dewasa.
Sebongkah batu berselimutkan salju terpaksa jadi ranah bersembunyi. Plan tekan degup nadi saudaranya, membalur kehangatan seadanya. Bertitah sigap dengan napas buatan, kening Clear begitu dingin; bahkan ujung surai mulai membeku. “Aku mau pu— lang,” parau, lidah kelu untuk bicara, pita suara tercekat pedih. Clear pandangi gurat langit yang kian buram. Masih ingin mencapai kebebasan, kemudian tanda tanya itu bertandang di benak.
“Mau pulang. Tapi, rumah kita itu sebenarnya di mana?” racaunya di ambang kesadaran diri, pupil membesar dengan degup tidak stabil. Plan genggam jari-jemari Clear, deru kendaraan para militer menyisir dari kejauhan.
Siapa gerangan yang hendak jadi penyelamat mereka? Tidak ada tanda-tanda kembalinya Noa & Dim atau Brat & Pit. Plan tersudut dengan situasi genting, dia pijit tengkuk Clear dengan usaha ingin mengembalikan konsen saudaranya. “Di atas sana— iya, benar. Di atas sana, Clear. Rumah kita di langit!” ucapnya menggebu, Plan tidak tahu dari mana jawaban ini terkemuka. Dalam pikirannya hanya ada langit biru dan awan-awan lembut yang jadi acuan semangat bertahan.
Plan lihat ke arah belakang, dari sana tampak salju-salju itu menyerupai serbuk kapur berhamburan tertimpa roda besi militer. “Berpegangan, Clear. Jangan pernah lepaskan tanganku, aku akan membantumu berdiri.”
Apel emas terlahap gigitan gusar , Plan menelan daging legit itu dengan pipi menggembung. Hampir tersedak, sisa badan buah tergilas habis tak bersisa. Staminanya berangsur pulih sejalan dengan tenaga meluap-luap. “Ayo Clear!” beban tubuh saudaranya banyak dipikul, mengais setapak lebih cepat. Tumit Plan berpaku kuat di setiap hentak kaki menyibak gulungan salju.
Gertakan peluru jadi alarm berbahaya. Bersikeras enggan berhenti sekalipun diteriaki untuk menyerahkan diri. Tidak ada namanya negosiasi, manusia itu pasti akan melenyapkan mereka tanpa peduli. Lonjakan efek kerusakan organ Clear mulai tampak dari ruam ungu menjalar di tengkuk, gejala hipotermia kronis makin jelas. Paparan suhu dingin tak terkendali, badai dahsyat memperburuk pandangan. Ada satu puncak benteng menara yang menjulang di atas bukit es, seperti bekas bangunan kuno di balik kabut hamparan salju.
Tinggi, menjulang demi sebuah definisi bebas.
Tanjakan curam harus dilewati Plan, ia kerahkan seluruh energi memapah kokoh tubuh Clear demi menggapai mercusuar itu. Tergesa-gesa, degup jantung terdengar rungu. Sebentar lagi, tidak peduli jika medan licin ini meninggalkan jejak bilur ngilu. Plan akan menyelamatkan Clear, tidak mau kalah— tidak sebelum perjuangan saudara-saudaranya terbalas. Adegan berlabuh pada satu tragedi tragis.
Letupan timah peluru mengudara. Mulanya Plan masih fokus memandang ke depan, gigih menempa langkah saudaranya. Hingga bercak kemerahan di depan jalur perjalanan mereka tercecer mengerikan. Membatu di tempat, Plan gemetar hingga adrenalin bergemuruh takut hendak melirik ke samping. Perlahan, lehernya kaku sebab aroma anyir itu bermuara dari sisi Clear.
Tamparan fakta berjubel menggerogiti hatinya.
Fakta bila manusia telah membunuh Clear tanpa pandang bulu. Saudaranya termegap sekarat, napas putus-putus lantas rembesan getih bercucuran dari pelipis. “Clear...—CLEAR?” frustrasi bagai diiris sembilu, dia menjerit pilu.
Pendar netra Clear berangsur redup, atensinya melirik puncak langit diiringi cicit lemas. “Aku... me– nemukan rumah,” di balik pandangan Clear yang kian pudar, tiga pasangan lain sudah menanti. Semuanya mengulurkan tangan, pelupuk berdenyut lembap; satu tetes air mata mengalir lepas dari ledakan emosi yang tak terbendung.
“Mereka, rumah—” pupus sudah, di dalam bayang-bayang Clear yang sendirian. Brat & Pit datang menyembuhkan luka di kepalanya, mereka bilang sudah belajar hal baru soal sains.
Noa & Dim menghapus air mata Clear. “Yang seharusnya menangis sambil tantrum kan kita berdua,” selanjutnya membawa Clear dalam rengkuh paling teduh hingga gigil beku di tubuhnya hirap entah ke mana. Tim & Nerd ikut menyalurkan pelukan dari belakang.
“Aku pulang.”
Sejauh kaki melangkah pergi, sejauh alur cerita mengharuskan mereka berperang dengan kerasnya dunia. Clear tetap akan pulang ke dalam rengkuhan saudara-saudaranya.
───────────────────────

Angkara meluap pedih, jasad Clear meregang gugur di depan mata. Sambil menatap telapak tangan yang bersimbah darah, satu lonjakan emosi Plan meriap sakit dengan denyut pening melanda. “Kalian para manusia harus binasa,” termegap pedih di ujung kata, dia berlalu lari dengan kecepatan ekstra. Tenaganya membeludak bersama stamina tak terduga, reaksi apel emas yang meradang dengan sentimental trauma.
Impian.
Kesakitan.
Trauma kehilangan.
Campur-aduk menjadi satu, Plan merasa tertindas dengan posisi bertahan sendirian. Saudara-saudaranya sudah tumbang tidak sanggup melanjutkan perjuangan. Kepala terangkat tanpa gentar, naluri membunuh bersemayam pekat. Di atas ada sejumlah angkatan udara, mengejar lewat jalur langit impian Clear & Plan. Hatinya menolak dengan fakta di mana manusia-manusia itu bisa terbang menggapai awan. Mereka tidak tercipta dari apel emas namun bisa beterbangan. Manusia itu merusak tatanan horizon dengan asap jet tempur yang membuyarkan garis cakrawala.
Keinginan untuk menggulingkan pesawat itu berkerumun runyam, salah satu camar tertabrak baling-baling; bulunya melandai jatuh di depan Plan. Ada dorongan terdesak untuk ikut terbang, seperti sayap para camar yang mampu melawan arus udara tanpa bantuan mesin pesawat. “Aku tidak mau tertindas lagi. Aku tidak boleh kalah,” monolog murka dengan intonasi membara. Dibutakan dendam kesumat, empatinya tertimbun jauh bersama aroma getih Clear yang masih tertinggal di baju. Rubik dari Brat & Pit menggelinding di ujung kakinya. Kenangan memori bersama Noa & Dim ikut berkelana membias satu kekuatan tak tertandingi.
“Clear. Aku bilang jika langit adalah rumah kita, kan?” tangan terangkat, jemari terkepal ke arah hamparan langit. Menengadah, Plan lanjutkan. “Maka aku akan menggapainya untukmu. Untuk saudara-saudara kita,” sirkulasi udara dalam relung berembus selaras gulir energi bermuara di sekujur syaraf, mengatur napas untuk terjeda demi memosisikan poros stamina dari telapak kaki— selayaknya bendungan tenaga kokoh Noa & Dim. Kemudian logikanya melejit tinggi menekan perasaan serupa kepingan jenius Brat & Pit, asumsi logikanya berubah drastis tanpa campur tangan rasa peduli.
Semuanya berpadu jadi sejumput kekuatan.
Logika, keteguhan, stamina fisik tak tertandingi.
Sungguh dahsyat reaksi apel emas berlandaskan tumpah ruah emosi. Plan melepaskan seluruh cakra dalam diri, kilatan mata membias gelap disertai pengendalian gravitasi. Tubuhnya seringan bulu, sebebas gumpalan awan dan menggapai puncak menara tanpa perlu berlari. Menekan massa ruang di sekitarnya hingga melayang begitu tinggi.
“Apa yang terjadi?” pilot jet tempur mencecar pertanyaan, monitorisasi sistem operasional layar jet tiba-tiba hilang sinyal. Awak militer darat di bawah sana mengubah pola barisan dengan satu tameng khusus.
Analisis komandan terkendala, pasalnya tidak ada data fasilitas yang menunjukkan jika potensi Plan bisa mengendalikan gravitasi. “Apakah kekuatannya berevolusi?” keraguan itu muncul di benak pria dengan bekas goresan luka di wajah, lantas dia menyiasati strategi lain.
“Bom kluster. Dari arah belakang,” tegas mandat perwira paruh baya ini. Korps militer sigap laksanakan perintah, bom kluster disiapkan dalam misil artileri. Pasukan operasional mesin saling bantu menyiapkan roket peluncur. Divisi infanteri pasang badan dilengkapi perisai lapis baja.
Plan tidak menghindar, justru kian tinggi melayang di udara. Sorot netra bersemuka dengan ambisi haus pergulatan kepada para manusia. “Aku bukan buronan. Bukan juga tawanan kalian,” tandas Plan mengulurkan tangan kanan menanti pergerakan musuh. Dentuman liar membabi-buta dari letupan bom kluster yang beruntun menargetkan Plan.
Kepulan asap keruh sisa ledakan mengotori bilik langit, para korps militer menanti di balik kawanan baja persenjataan mereka. “Apakah kita berhasil?” tukas seorang anggota divisi infanteri, kabut tebal itu berangsur pudar. Betapa terkejutnya mereka ketika misil artileri mereka berubah haluan arah, kini menjejal pergerakan lebih dari kecepatan ekstra beruntun ke arah korps militer.
“AWAS!” gertak panik saling timpang tindih dengan jeritan korps militer yang terburai sadis. Organ berhamburan, hamparan salju terguyur sapuan getih. Tameng baja mereka lebur selaras debuman misil menggegerkan situasi.
Perawakan semampai berperangai gahar, jenderal mereka ikut turun tangan. Instingnya carut-marut, mengumpulkan sederet kewarasan demi bangkitkan semangat juang korps militer yang ketakutan. “Divisi tempur angkatan udara. Bombardir dia dari arah berlawanan,” jenderal beringsut memapah pria-pria yang sejatinya sudah keok duluan.
Nyali mereka ciut, melihat Plan kelewat mustahil untuk ditumbangkan. Gravitasi dilawan dengan mesin, mana mungkin bisa terselamatkan? “Bangkit! Bangkit! TEGAK, pasang badan! Kita harus membela dunia dari seonggok bocah bajingan,” dengar cemooh picik itu batas kemarahan Plan roboh, dia bersungut-sungut mengerahkan stamina di puncak ketinggian.
Machine gun dari kabin jet tempur memuntahkan peluru beruntun. “Serang!” alangkah cemas wajah perwira-perwira itu di balik helm jet tempur mereka. Bergidik ngeri menatap timah peluru mereka tidak sanggup menyentil barang sejengkal epidermis Plan. Medan ruang di sekitar Plan timbul menyertai partikel atom gravitasi, radiusnya luas hingga memutar balik dorongan peluru sampai berhamburan.
Satu gerakan Plan mengacungkan telunjuk.
Berderai getih pasukan mati sekejap kilat.
Jenderal yang berkobar-kobar dialognya kini menelan getir saliva. “Lecutkan meriam!” tandasnya sebelum gurat pelipis setengah keriput itu berdenyut dongkol. Plan sanggup menepis amunisi meriam dengan jentikan jari, resonansi energi tak kasat mata merombak tekanan gravitasi. Meriam mengawang jeda di udara, lantas bercerai-berai terhempas seketika.
“Tidak akan aku biarkan kalian menyentuhku. Manusia kotor,” morat-marit, Plan membuyarkan paramedis yang datang bergerombol dari arah selatan. Angin ribut sapuan baling-baling helikopter tempur begitu gaduh, deru mesin menggaruk risih gendang telinga Plan. Korps militer masih bersikeras menuntaskan misi, selama pasukan masih tersisa— maka Plan harus dihabisi.
Sirine genting menggema di udara, mengirimkan sinyal para korps jika situasi gawat berada pada fase darurat. Panser lapis baja dikerahkan bersama personel cadangan, snipper berada dari radius tak terekam mata siap menarik pelatuk mereka. “Aku mulai menyadarinya,” jenderal terengah diterpa temperatur sekaligus tekanan mental kondisi awak militernya,
Dahsyat namun tetap punya kelemahan.
Ada harga yang harus dibayar untuk kekuatan.
Hening menyergap. Jenderal letupkan bidikan ke puncak langit, mengais atensi personel siap mati yang tersisa. “Aku melihatnya. Jarak elevasi ketinggian Plan dari permukaan kian menurun secara konstan, perlahan namun pasti. Dia melemah,” proyektil lensa 3D analisis teropong mencatat kalkulasi ketinggian Plan makin rendah setiap 1 detik.
Narasi kita tercekat, pita suara membalut jerit ngeri. Belum sempat jenderal patenkan satu rencana jitu, tubuhnya terangkat mengambang di udara. Siapa dalang kekacauan? Ini ulah Plan, mengendalikan gravitasi tanpa perlu ragu terinjak kuasa manusia. Telunjuknya teracung hina ke depan muka, mematahkan martabat wibawa jenderal yang kelabakan. “Gara-gara otak kolot militer sepertimu saudaraku terbunuh,” hardik Plan memosisikan skala ketinggian makin menjulang.
Seringai picik tersemat, wajah garang jenderal siap menghadapi ajal sendiri. “Makhluk sepertimu tidak akan pernah diterima bumi,” urainya mengikis kesabaran Plan hingga hempasan dahsyat menggilas tubuhnya dari tekanan gravitasi. Jatuh dari ketinggian membentur lapisan daratan, tak ayal tubuhnya berderai. Organ terburai selaras cipratan getih membasuh sadis muka korps militer di bawah sana.
“Dan manusia sepertimu tidak akan pernah diterima oleh langit,” ucap Plan sambil menyiasati pergerakan gesit. Mendapati jenderal mereka tumbang, personel militer mulai goyah menghadapi pertarungan sengit. Serampangan asal tembak meriam tidak peduli malapetaka kematian akan jadi imbas pahit.
Kalap, skala tekanan gravitasi Plan menggilas buas korps militer dengan hempasan serupa. Mempermainkan mereka tanpa iba, tanpa sentuhan atau tatap rupa— langsung binasa ketika tubuh para perwira mengawang lantas terbanting di permukaan secara brutal. “Sekarang giliranku,” tukas Plan mendapati jet angkatan udara masih berkerumun di balik horizon langit. Kepingan salju pada ruang di sekitar Plan dikendalikan hingga melejit bengis, selayaknya kaliber peluru bahkan lebih tajam dari goresan timah. Serangkaian kejadian beruntun terjadi; kepingan salju itu menerjang jet, membuat kaca mereka pecah dan kerusakan turbin mengawali bencana.
Meriam tidak mempan, peluru bahkan dibuat seperti debu jalanan. “Kita akan terjatuh. Kebocoran turbin menjalar ke mesin— BERSIAP UNTUK TERJUN,” parasut darurat siap sedia dikenakan, sayangnya Plan lebih cekatan. Upaya penyelamatan korps militer dari jet yang oleng langsung digagalkan, mereka terhempas semrawut seperti gerombolan serangga. Menukik berceceran, anatomi lebur, kubangan darah meresap di antara bulir salju pada hamparan putih.
Pasukan darat yang menarget kepala Plan dengan bidikan dari dalam tank ikut terkibas, armor mereka runtuh. Pelapis baja itu penyok sederet dengan amukan Plan yang tak memberi celah lengah. Plan tidak menyadari, konsekuensi stamina berlebih dari apel emas berisiko melemahkan tubuh. Terlihat samar namun terjadi, ketahanan fisik akan merosot seiring waktu dia terus-menerus kerahkan energi. Elevasi gravitasi menurun, memang tipis tetapi pasti.
Kalang-kabut, kendatipun berusaha lari sejauh mungkin tapi korps militer terbantai. “Mau cari opsi selamat yang bagaimana?” monolog Plan menggerus pasukan tak bersisa. Kontrol emosinya berkelit pilu, trauma jadi momok paling mengerikan yang mampu mengubah jalan pikiran.
“Ampun, kumoho—” tiada definisi ampun, seorang awak militer yang bersimpuh langsung tersibak tewas. Kejadiannya begitu cepat, Plan menjemput mereka dengan kematian tragis.
Manusia telah menciptakan malapetaka.
Manusia membutakan arah keselamatan mereka.
Gugur tewas militer jadi tragedi bencana.
───────────────────────

Kilatan ambisi masih terlukis jelas dari pendar netra. Plan beringsut menggegerkan proses evakuasi korban pada fasilitas, korps militer yang berjaga di sana tergilas musnah.
Sesal berkabung pada lajur sendu kala Plan menggotong tubuh saudaranya satu per satu. Dikebumikan secara layak di dalam menara bersalju. Dibawa terbaring sejajar, menutup kelopak mata mereka dengan sapuan halus tertiup tangis pilu. Rubik Brat & Pit diletakkan tepat pada sisi rupa pemilik, Plan berucap walau lidahnya kelu. “Aku sudah menemukan jawabannya untukmu. Manusia-manusia itu kini lebur jadi jasad membeku,” surai Brat dia selipkan rapi, menata topinya yang usang dengan bekas darah sebagai saksi bisu.
Sepoi beku terbawa isak ngilu, Plan melihat bungkus permen dalam genggam Noa & Dim. Bersemuka dengan kematian, pasang-surut perjuangan saudaranya meraih kebebasan sudah terkubur lega. Setidaknya mereka kini terbaring bebas dari fasilitas, biar terpejam damai dalam ingatan. “Aku akan menciptakan singgah paling layak untuk kalian terpejam,” bulir salju meriap beterbangan dari ruang gravitasi kuasa Plan, kepingan putih menyerupai kristal cantik di sekeliling saudaranya. Merambat lugu dari balik alas salju, kilauan indah itu membekukan tubuh mereka.
“Snow White Hunting boleh usai. Namun rajut persaudaraan kita tidak boleh putus begitu saja,” serbuk salju melayang-layang di penghujung tubuh mereka dipeluk gigil beku.
Salju putih tidak selalu menyimpan bahagia.
Salju putih justru menyembunyikan kengerian dunia.
✧ ✧ ✧
Wacana kita kembali pada intuisi Plan putar arah balik ke fasilitas sembari menelisik sekitar, konsen berpaku pada satu ruang lab tempat tabung DNA bayi kembar tersimpan rapat. Banker formula dijebol, cawan petri dengan sejumput senyawa kimia di luar nalar Plan teracak pecah.
Dome tidak lagi utuh, keheningan ini menusuk Plan. Dia melihat ke arah conveyor belt yang rusak. Adegan diiringi denting melodi melankolis, selaras memori lama berputar kembali pada benak. Plan ingat bagaimana mereka menghabiskan waktu terkurung dalam dome. “Nerd bercerita jika Noa & Dim pernah merusak roller selip conveyor belt. Hari di mana Nerd puas melihat ekspresi teknisi yang jengah,” setapak langkah maju, Plan tidak sengaja menginjak badan mimbar proyektor 3D yang korslet.
Mungkin alurnya terlalu keji.
Tapi kenangan mereka menyayat hati.
Narasinya tertohok sendu, tanpa Plan duga— ada empat hologram muncul secara tiba-tiba di balik mimbar proyektor.
Itu tiruan hologram Noa, Dim, Brat juga Pit.
Gemetar, Plan berlari hendak merengkuh hologram mereka. Malang melintang, hologram itu seperti glitch elektronik rusak. Tidak bisa tersentuh barang sebuah elusan raga. Ternyata Brat & Pit merencanakan ini tanpa sepengetahuan dia. Menorehkan pesan terakhir lewat generator, menyiasati aktuator motorik hologram biar terkesan makin nyata. Ini seperti visualisasi rekaman kamera, hanya saja disalurkan lewat proyektil hologram. Saat itu Brat & Pit memang sempat terlihat berkutat membawa perkakas media dari ruang CCTV.
Ini rekaman mereka.
Hologram Dim melambaikan tangan. “Hai?” buram, sistematis hologram Noa & Dim terkesan diatur secara terburu. Mungkin Brat & Pit melakukan ini sambil memikirkan strategi baru. Mereka tampak kikuk, mirip rekaman usang yang kusut.
“Cepat bicara. Jangan tantrum ya,” hologram Brat menyiasati dari sampingnya. Kemudian mereka bersama-sama saling pandang.
Telunjuk hologram Noa menggaruk pelipis, tampang tergagap bikin orang geregetan. “Anooo— uh, semangat?!” selanjutnya memiringkan kepala, tersenyum lugu.
Hologram Pit maju selangkah. Melirik Brat untuk menguraikan pesan terkemuka. “Clear, Plan. Kalau kalian sudah melihat hologram kami. Mungkin kami sudah tidak ada? Ah, mungkin juga kami masih bertahan bila beruntung. Aku hanya mau kalian melanjutkan harapan—” korsleting menjalar di sekitar sekrup dari mimbar, belum 60 detik namun hologram mereka hilang secara paten. Ada pijar percikan api menyala pada kabel proyektor.
“Tidak— jangan pergi dulu,” Plan masih ingin bercengkerama. Biarpun mereka tidak bisa tersentuh raga, namun Plan ingin mengais pesan terakhir saudara-saudaranya. Mereka kira Clear akan bertahan hingga akhir, nyatanya skenario lebih jahat dari praduga rencana. Mengambil Clear begitu saja bersama putihnya salju dunia.
Badai telah reda, sepucuk sinar menyingsing redup di balik reruntuhan pilar fasilitas. Plan tertegun dari posisi bersimpuh di depan mimbar 3D, gulungan dokumen menggelinding jatuh dari genggaman tangan jasad seorang peneliti. Tergerak oleh rasa penasaran, Plan buka isi dokumen dengan termegap heran.
Bola mata menyusuri abjad, dia pahami setiap maksud kata tersurat. Atensinya bermuara pada nakas lain di sekitar fasilitas, mengacak isi berkas-berkas tersembunyi. Demi langit biru dunia, serius— Plan, tidak pernah mengira. “The Golden Bird. Fasilitas seperti ini... lebih dari satu?” pungkasnya bermonolog, membolak-balik kertas itu dengan beribu tanda tanya dalam hati.
“Haruskah aku melibas habis fasilitas lainnya?”
Apel emas menjadi pion kosmos magis itu menjalar di dunia. Snow White Hunting hanyalah satu dari serumpun keajaiban yang tercipta. Apakah Plan akan melanjutkan perjalanan wacana? Tajuk “Fatamorgana Salju” tuntas menapaki di bilik cakrawala.
Terbang bersama mimpi yang tersisa.
───────────────────────
END
Commission Story Written by LIN
![[Start] Resonansi Delapan Pilar](https://static.wixstatic.com/media/43f9e0_820257aa45764aa89b0cdc29e2540df4~mv2.jpg/v1/fill/w_980,h_483,al_c,q_85,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/43f9e0_820257aa45764aa89b0cdc29e2540df4~mv2.jpg)


Comments