El Tango Egoista
- Annie Kaslana
- May 23
- 15 min read
THIS FICTION IS INSPIRED BY SONG ENTITLED:
EL TANGO EGOISTA - Luka Megurine ft. KAITO
Distrik malam yang tidak pernah tidur dalam kedamaian; kini hanya pingsan karena kelelahan di bawah beban dosa-dosanya sendiri. Di antara lorong-lorong sempit yang lembap oleh uap pembuangan dan bising langkah kaki para pembunuh yang haus darah, bangunan tua milik Feruci berdiri seperti sebuah monumen kemegahan yang angkuh. Namun, malam ini, istana megah tersebut dikosongkan. Hanya menyisakan aroma logam yang tajam—bau darah segar yang baru saja tumpah.
Feruci melangkah perlahan di atas lantai marmer hitam yang kini licin oleh cairan merah. Jubah hitam panjangnya terseret di lantai, memberikan siluet yang mengancam layaknya malaikat maut yang salah kostum. Salib perak di dadanya berkilat setiap kali terkena pantulan lampu neon redup dari luar jendela. Ia tidak terlihat seperti pria yang baru saja menyaksikan pembantaian; ia terlihat seperti seorang sutradara yang baru saja masuk ke atas panggung untuk memuji aktor utamanya.
Mata birunya, yang sebiru es di puncak gunung terdalam, berkilat penuh kegembiraan yang ditekan. Ia menatap Ades. Wanita itu berdiri mematung dengan begitu indahnya di tengah kekacauan, dikelilingi oleh tubuh-tubuh tak bernyawa yang merupakan pengawal dari seorang informan kelas kakap.
Rambut ungu gelap Ades tergerai berantakan, menempel di lehernya yang berkeringat, sementara mata violetnya—warna yang biasanya melambangkan kebangsawanan namun kini memancarkan aura kematian—menatap Feruci tanpa emosi.
"Merah darah yang ternoda... Tersembunyi di balik fasad yang indah," suara Feruci menggema, berat dan berwibawa, namun ada nada geli yang terselip di sana. Ia melangkah mendekat, sepatu botnya yang bersih menginjak genangan darah tanpa ragu. Ia mengabaikan mayat di kaki Ades seolah-olah mereka hanyalah dekorasi interior yang buruk.
"Aku mendekatimu sebagai pastor suci yang dipilih oleh Tuhan," lanjutnya, merentangkan tangannya lebar-lebar seolah hendak memeluk seluruh distrik penuh kekacauan ini ke dalam dadanya yang busuk. "Sekarang, berlututlah. Berdoalah bersamaku. 'Dia' akan memaafkan jika kau mencari pengampunan."
Ades tertawa. Suara tawa itu kering, tajam, dan tidak mengandung setitik pun rasa takut. Ia adalah wanita yang menjual keindahan namun memberikan maut melalui jarum-jarum beracunnya. Ia mengusap bercak darah di pipinya dengan jari yang lentur, jari yang biasanya menari di atas kulit pelanggan namun kini baru saja merenggut nyawa.
"Oh, betapa manisnya dirimu yang merasa berhak memberi belas kasihan," sahut Ades.
Ia melangkah maju, membiarkan mata violetnya mengunci pandangan Feruci. Ketegangan di antara mereka terasa seperti kabel listrik yang siap meledak. "Meminta tobat dari Dewa Kematian? Tidakkah kau merasakan ironinya? Aku tidak menyesal jika keagunganku membuatmu terpana. Mari kita lihat, Pastor... berapa lama kau bisa tetap memasang lagak 'suci' itu di hadapanku."
Feruci tersenyum lebih lebar. Senyumnya adalah sebuah teka-teki; penuh tipu daya dan kelicikan. Ia sangat suka menang, bahkan dalam perdebatan filosofis yang paling tidak masuk akal sekalipun. "Kesucian hanyalah masalah perspektif, Sayangku. Di mata mereka yang mati, aku adalah penyelamat. Di matamu? Mungkin aku adalah lawan yang paling membuatmu frustrasi."
Ia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Ades dengan ujung jarinya yang dingin. "Kau benci lawan yang tidak memberikan perlawanan, bukan? Aku tahu kau telah mencoba meracuni anggurku sebanyak tiga belas kali dalam satu bulan terakhir. Dan di sinilah aku, masih bernapas, masih berdiri dengan jubah suci ini."
Ades tidak menarik diri. Sebaliknya, ia condong ke depan, membiarkan aroma parfum melati yang bercampur dengan bau anyir darah menyapa indra penciuman Feruci. "Racun itu adalah caraku menyapamu, Feruci. Bukankah itu romantis? Fakta bahwa kau masih hidup hanya membuatku semakin ingin melihat bagaimana caramu akan mati nanti. Apakah kau benar-benar menginginkan kematian yang megah? Aku bisa memberikan itu. Sebuah tarian terakhir di mana kau akan memohon padaku untuk menghentikan rasa sakitnya."
"Kematian yang membosankan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kuterima," balas Feruci dengan nada suara yang nyaris seperti bisikan mesra.
"Itulah sebabnya aku menginginkanmu. Seorang pembunuh yang menggunakan berbagai tarian indah untuk merayap ke dalam nadi, yang melihat korbannya menderita sebelum mereka benar-benar padam. Kau adalah pasangan dansa yang sempurna untuk seorang pria sepertiku.”
Ades menyipitkan matanya. Obsesi Feruci akan kematian yang dramatis selalu membuatnya merasa jijik sekaligus penasaran. Dan di sanalah Ades bisa melihat senyuman pemikat Feruci yang membuat sepasang manik violetnya enggan menyudahi kontak pandangan mereka.
“Bagaimana jika satu tango kecil sebelum Tuhan menjemput kita, Sayang?”
---
Langkah kaki mereka mulai bergeser, menciptakan bunyi gesekan yang halus di atas marmer yang basah. Tidak ada orkestra malam ini, hanya deru napas yang tertahan dan detak jantung yang beradu cepat, memompa adrenalin ke dalam pembuluh darah yang haus akan dominasi. Mereka tidak bergerak untuk saling menebas atau mencekik; sebaliknya, mereka mulai berputar. Sebuah tarian tanpa musik, sebuah simfoni bisu di mana setiap langkah adalah pertaruhan nyawa.
Feruci, dengan segala obsesinya terhadap kemenangan, memimpin gerakan itu. Baginya, setiap jengkal ruang di gedung ini adalah papan catur, dan Ades adalah ratu yang paling sulit untuk ia skakmat.
Di sisi lain, Ades mengikuti irama itu dengan mata violet yang tajam, mencari celah di balik jubah hitam sang Pastor. Ia membenci lawan yang pasif, namun ia jauh lebih membenci pria yang merasa bisa menjinakkan maut dengan kata-kata manis.
"Eksistensi yang menyedihkan," bisik Feruci, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Ades saat mereka berputar dalam pelukan yang mematikan. Kehangatan napasnya kontras dengan dinginnya ujung jarinya yang masih bertengger di dagu wanita itu. "Jangan menyerah pada kebejatanmu sekarang, Ades. Ayolah... bukankah jauh di dalam sana, kau adalah jiwa yang berteriak ingin diselamatkan dari genangan darah ini?"
Ades merasakan tangan Feruci turun ke pinggangnya—sebuah sentuhan yang kuat, posesif, dan penuh otoritas. Tangan itu adalah tangan seorang arsitek kekacauan, yang biasanya memegang kendali atas ribuan nyawa dari balik meja.
Ia tahu Feruci sedang merencanakan sesuatu yang kotor, sesuatu yang jauh lebih licik daripada sekadar serangan fisik. Feruci tidak peduli pada Tuhan atau penebusan; ia hanya peduli pada permainan, pada sensasi menaklukkan sosok yang dianggap sebagai malaikat maut.
Satu, dua, tiga... Feruci menghitung dalam sunyi, detak jantungnya sendiri menjadi metronom bagi hitungan mundur yang ia ciptakan. Waktu habis.
Ades melepaskan tawa rendah yang terdengar seperti gesekan sutra di atas duri. Ia tidak menjauh, justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan aroma parfum melati dan besi yang melekat padanya menyelimuti Feruci. "Siapa yang 'Dia' selamatkan, Feruci? Siapa yang 'Dia' beri hadiah?" Ades bertanya dengan nada mengejek, kata 'Dia' meluncur dari bibirnya seperti sebuah kutukan.
"Katakan padaku, wahai Pastor gadungan, bagaimana Tuhanmu memilih?" Ades terus memprovokasi, matanya berkilat menantang.
"Siapa yang harus kehilangan segalanya agar orang lain bisa tertawa? Siapa yang harus menanggung beban dosa yang bahkan tidak mereka perbuat? Tuhanmu tidak peduli, Feruci. Dia hanyalah penonton yang bosan. Dia membiarkan gereja-gereja meluap dengan orang-orang kelaparan yang mengemis keajaiban, sementara kau di sini, berdiri mengenakan salib perak, berpura-pura menjadi penyelamat di atas bangkai-bangkai yang tidak lain perbuatanmu juga."
Feruci tidak goyah. Alih-alih tersinggung, ia justru menarik Ades lebih dekat, hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Salib perak di dadanya terjepit di antara kedua tubuh mereka, sebuah simbol kesucian yang kini terhimpit oleh dua pendosa terbesar di tempat mereka bermukim.
"Apakah itu benar-benar penting jika mereka hancur?" suara Feruci merendah, menjadi bariton yang menggetarkan dada. "Dunia ini adalah tempat pembuangan, Ades. Dan di tempat pembuangan ini, hanya ego yang bisa membuatmu tetap berdiri. Selama kau yakin bahwa kau akan diselamatkan—entah olehku, oleh dirimu sendiri, atau oleh maut yang kau puja—bukankah itu sudah cukup bagi egoismu yang haus akan penderitaan lawan?"
Ades terdiam sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap. Ia bisa merasakan jari-jari Feruci yang mulai menelusuri garis punggungnya, seolah sedang mencari titik lemah di mana ia bisa menyuntikkan manipulasi berikutnya.
Namun, Ades bukanlah wanita yang mudah ditundukkan. Dengan gerakan kilat yang nyaris tak tertangkap mata, ia menyelipkan satu tangan ke balik jubah Feruci, ujung jarum beracun yang ia sembunyikan kini menyentuh permukaan kulit di balik kemeja pria itu.
"Egois," desis Ades, sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya yang merah. "Kau bicara seolah-olah kau memahami keselamatan, padahal kau sendiri adalah orang yang paling tersesat. Kau takut pada kesunyian, Feruci. Itulah kelemahanmu."
Feruci tertawa, sebuah tawa tulus yang jarang ia perlihatkan. Ia tidak takut pada jarum yang mengancam nyawanya. Sebaliknya, ia justru menikmati sensasi bahaya itu. Kematian yang ia dambakan adalah kematian yang megah, dan jika Ades adalah orang yang akan memberikannya, maka ia ingin setiap detiknya terasa seperti karya seni.
"Mungkin kau benar," Feruci mengakui, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ades. "Aku takut pada kebosanan, dan kau adalah satu-satunya gangguan yang paling indah di dunia ini. Jadi, kenapa kita tidak melanjutkan tarian ini sedikit lebih lama? Biarkan Tuhanmu menonton dari atas sana, dan biarkan setan-setan di neraka merasa iri melihat bagaimana dua makhluk paling rusak di bumi ini saling mencintai dengan cara yang paling mematikan."
Ades tidak menusukkan jarumnya. Belum saatnya. Ia ingin melihat sejauh mana pria dengan mata biru es ini bisa bertahan dalam tarian egois mereka. Ia ingin menghancurkan lagak suci itu, lapis demi lapis, hingga yang tersisa hanyalah Feruci yang murni—seorang pria yang berlutut bukan di depan altar, melainkan di depannya.
Tarian mereka berlanjut di bawah temaram lampu neon yang berkedip, di antara bayang-bayang mayat yang menjadi saksi bisu atas sumpah tanpa kata. Di gedung tua itu, di jantung distrik yang penuh dosa, tarian mereka baru saja mencapai bagian paling intensnya, di mana setiap langkah membawa mereka selangkah lebih dekat ke surga, atau mungkin, jauh lebih dalam menuju neraka yang mereka ciptakan sendiri.
Feruci kembali memutar tubuh Ades, jubah hitamnya berkibar seperti sayap gagak. Ia adalah sutradara, dan ini adalah panggungnya. Namun malam ini, ia menyadari satu hal: sang aktor utama tidak lagi sekadar mengikuti naskah. Ades telah mulai menulis naskahnya sendiri, dan Feruci tidak sabar untuk melihat bagaimana akhir dari babak ini akan tertulis—apakah dengan doa pengampunan, atau dengan ciuman maut yang berlumur racun.
"Ayo, Ades," bisik Feruci lagi, kali ini dengan nada yang lebih menantang. "Tunjukkan padaku betapa tidak pedulinya Tuhanmu saat aku mulai merampas jiwamu malam ini."
Ades membalas dengan tatapan yang mampu membekukan api. "Jangan khawatir, Pastor. Aku akan memastikan kau sampai ke gerbang neraka dengan senyum kemenangan yang paling palsu di wajahmu."
Dan di tengah sunyinya gedung itu, detak jantung mereka yang kian cepat menjadi satu-satunya musik yang tersisa, mengiringi tarian dua jiwa yang saling membenci, saling menginginkan, dan saling menghancurkan dalam harmoni yang sempurna.
---
Sentuhan fisik yang tadinya terasa seperti dekapan protektif mendadak retak. Ades menarik diri dengan kelincahan yang tidak manusiawi, bergerak mundur dengan gerakan anggun, menyerupai laba-laba yang baru saja melepaskan mangsanya demi posisi serang yang lebih strategis. Gaun ungunya berdesir di atas genangan darah, menyapu marmer hitam saat ia menarik sesuatu dari balik stokingnya.
Itu bukan lagi sekadar jarum kecil. Sebuah belati melengkung—tipis, tajam, dan berpendar hijau kebiruan di bawah temaram lampu bar—kini berada di genggamannya. Feruci mengenali senjata itu. Itu adalah belati yang sama yang nyaris merobek tenggorokannya saat mereka pertama kali bertemu bertahun-tahun lalu di sudut gelap kota lain.
Racun yang melumuri bilahnya adalah racun yang seharusnya sudah membuat jantungnya berhenti berdetak sejak lama, sebuah ramuan neurotoksin yang diracik Ades khusus untuk melumpuhkan pria yang terlalu sombong untuk mati.
"Jadi Dewa Kematian akhirnya menunjukkan sabitnya di hadapanku," gumam Feruci. Ia berdiri tegak, tidak sedikit pun mencoba mengambil posisi bertahan. Matanya yang berwarna biru es terpaku pada belati itu, menelusuri lekukannya dengan kekaguman yang gila.
"Sabitnya diwarnai darah. Berdiri sendirian dalam lembah dosa... Katakan padaku, wahai malaikat pencabut nyawa, apa sebenarnya yang kau panjatkan dalam doa-doamu yang sunyi?"
Ades memutar belati itu di antara jari-jarinya yang lentur, sebuah tarian logam yang mematikan. "Kenapa kita tidak mulai dengan jiwa dan tubuhmu yang dingin itu, Feruci? Dan bukankah doa itu seharusnya meluncur dari bibirmu yang suci?" suaranya rendah, nyaris seperti desahan di tengah heningnya gedung. "Berhenti berlagak sebagai perantara Tuhan. Katakan pada Tuhanmu untuk memberikan nyawamu kepadaku malam ini.”
Feruci tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding bar yang kosong, memenuhi setiap sudut ruangan dengan nada ejekan yang kental. Ia menyugar rambut birunya, menatap Ades seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon paling lucu di abad ini.
"Kebodohan apa yang kau bicarakan, Ades?" Feruci melangkah maju, menantang ujung belati itu untuk menyentuh jubah hitamnya. "Pergilah menggonggong di gereja-gereja kumuh itu jika kau ingin pengakuan. Datanglah mengaku padaku, dan aku akan membersihkan dunia dari kesalahanmu dengan caraku sendiri. Jangan memintaku memberikan nyawa, karena aku adalah pemilik dari setiap napas yang tersisa di ruangan ini."
Bagi Feruci, konsep 'memaafkan' adalah bentuk penghinaan tertinggi; itu adalah tindakan superioritas yang menunjukkan bahwa lawan terlalu lemah untuk dihukum. Sedangkan bagi Ades, 'dihakimi' adalah tantangan yang paling menggairahkan. Ia mencintai risiko. Ia benci terluka karena kecantikan dan tubuhnya adalah aset paling berharga dalam bisnisnya, namun berada di sisi Feruci berarti berada di ambang bahaya yang konstan. Adrenalin itulah yang membuatnya tetap setia pada pria ini—hasrat untuk membunuh yang berpilin dengan keinginan untuk dimiliki.
Mereka kembali bergerak, namun kali ini tarian itu berubah menjadi pertarungan yang sangat terkendali. Ades menyerang dengan presisi seorang ahli bedah. Belatinya menyambar udara, mengincar titik-titik nadi Feruci dengan kecepatan yang memusingkan mata. Feruci menghindar dengan gerakan minimalis, seolah ia sudah menghitung setiap milimeter pergerakan Ades di dalam kepalanya.
Di luar sana, sisa kehidupan yang menghuni distrik masih berdenyut dalam kegelapan. Di bawah bayang-bayang gedung ini, orang-orang bersimbah peluh dan dosa, merangkak di lorong-lorong sempit untuk mencari perlindungan atau pemuasan nafsu yang tidak pernah ada. Mereka mencari Tuhan di tempat yang salah, sementara di dalam kasti ini, dua manusia yang menganggap diri mereka tuhan sedang saling menghancurkan.
"Apa yang sebenarnya kau maafkan?" Ades berseru di sela-sela serangannya. Suara mereka kini bersahutan, tumpang tindih seperti paduan suara yang kacau di tengah badai.
"Apa yang kau impikan di balik wajah cantikmu itu?" balas Feruci, menangkap ujung jubahnya yang nyaris teriris.
"Kau tau apa yang lucu? Berkatilah aku, bantu aku melewati rasa sakit ini! kata mereka" Ades mengejek suara para pendosa yang sering ia dengar dari dalam ruangan kapel tempat mereka biasa berkunjung. "Apakah kau benar-benar percaya doa bisa menyembuhkan luka yang sudah membusuk seperti kita?"
Ades meledak dalam serangan beruntun. Jarum-jarum beracun meluncur dari lengan bajunya, berkilat seperti bintang jatuh yang membawa maut. Namun Feruci bereaksi dengan kecepatan yang tidak lagi terasa manusiawi. Sebagai pria yang terobsesi dengan kecepatan dan kontrol, ia bukan sekadar pemilik kastil; ia adalah predator yang telah melatih tubuhnya untuk menang dalam setiap skenario.
Dengan satu gerakan menyapu, Feruci menepis rentetan jarum itu menggunakan lengan jubahnya yang berat. Sebelum Ades sempat menarik kembali belatinya, Feruci sudah menerjang maju. Ia menangkap pergelangan tangan Ades dengan cengkeraman besi, memutarnya dengan kekuatan yang membuat belati itu terlepas dan berdenting jatuh ke lantai marmer.
Ades terkesiap, punggungnya menghantam dinding marmer dengan keras saat Feruci mendesaknya. Pria itu mengunci tubuh Ades menggunakan berat tubuhnya sendiri, memerangkap wanita itu di antara dinding dan jubah hitamnya yang luas.
"Semua kesalahan yang kau lakukan, semua darah yang kau tumpahkan atas nama nafsu..." Feruci berbisik, wajahnya begitu dekat hingga Ades bisa melihat pupil mata birunya yang mengecil karena gairah kemenangan. "Aku akan memastikannya diadili sesuai dengan apa yang 'Dia' anggap pantas. Dan malam ini, 'Dia' berbicara melaluiku."
Ades menatap mata biru itu dari jarak dekat. Di sana, ia tidak menemukan kedamaian seorang pastor. Ia menemukan keraguan yang dalam, namun tertutup oleh lapisan kegilaan yang jauh lebih pekat. Nafas mereka beradu, panas dan memburu, kontras dengan suasana kastil yang dingin.
"Kematian adalah satu-satunya penebusan yang tersisa bagi kita, Feruci," desis Ades, meskipun tangannya terkunci dan tubuhnya terdesak. Ia menatap salib perak yang tergantung di leher Feruci, simbol yang terasa sangat menghina di tempat seperti ini.
"Tuhan... apakah ini benar-benar keadilan di mata-Mu? Menjadikan pria licik ini sebagai hakimku? Atau Kau sebenarnya hanya sedang menertawakan kebohongan yang ia ciptakan sendiri?"
Suasana mendadak menjadi sangat religius sekaligus sangat profan. Ades merasakan bibir Feruci menyentuh keningnya, sebuah ciuman yang terasa seperti pemberkatan sekaligus kutukan kematian.
A hora y en la hora de nuestra muerte... (Sekarang dan pada saat kematian kami...)
Kalimat Latin itu bergema di kepala mereka, mengingatkan pada doa Ave Maria yang sering diucapkan oleh mereka yang ketakutan di ambang ajal. Namun di sini, kalimat itu bukan permohonan, melainkan proklamasi bahwa maut selalu berada di antara mereka, bersemayam di setiap sentuhan dan rencana.
Feruci merasakan denyut nadi Ades di bawah cengkeramannya. Cepat dan liar. Inilah yang ia cari. Kemenangan atas wanita yang tak terjangkau. Ia bisa merasakan Ades perlahan mulai tenang, bukan karena menyerah, tapi karena ia sedang menikmati sensasi dominasi ini—sebuah masokisme emosional yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah terlalu lama bermain dengan nyawa.
"Bukankah sudah saatnya?," Feruci tiba-tiba bersuara, suaranya kembali ke nada bariton yang tenang dan berwibawa, memutus ketegangan yang nyaris meledak. Ia melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Ades dan mundur satu langkah, merapikan jubah hitamnya yang sedikit berantakan.
Ia memungut belati Ades dari lantai dan menyerahkannya kembali dengan gagah, sebuah gestur seorang pria sejati yang baru saja selesai berdansa. "Saatnya mengakhiri lelucon ini, Sayangku. Malam masih panjang, para pendosa akan segera datang membawa pengakuan baru mereka untuk kita kelola."
Ades mengambil belatinya, menatap Feruci dengan mata violet yang masih berkabut oleh sisa-sisa konfrontasi tadi. Ia menyelipkan kembali senjatanya, lalu mengusap bibirnya yang sedikit berdarah dengan ibu jari. Ia tidak marah. Ia justru merasa lebih hidup dari sebelumnya.
“Sayang sekali hari ini wajahmu masih bisa tersenyum, Pastor.” “Apakah kamu kecewa?”
Ades tersenyum manis. "Satu hari nanti, Feruci," ucap Ades sambil berjalan menuju pilar marmer yang memantulkan dirinya untuk merapikan rambut ungu gelapnya yang berantakan. "Salah satu dari racunku akan bekerja sebelum kau sempat berhitung sampai tiga. Dan saat itu terjadi, aku akan memastikan kau mati dengan cara yang paling artistik, persis seperti yang kau dambakan."
Feruci tersenyum licik, kembali ke posisinya di balik meja bar, menanggalkan jubah Pastor-nya dan membiarkannya jatuh ke lantai seolah itu hanyalah kostum panggung yang tak lagi berguna. "Aku sangat menantikannya, Sayang. Tapi sampai hari itu tiba, biarkan aku yang menjadi tuhanmu di tempat ini."
Interlude:
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti aula kasti yang megah tersebut, hanya menyisakan deru napas keduanya yang berat dan tidak beraturan. Marmer di bawah kaki mereka kini benar-benar menjadi kanvas abstrak dari noda darah dan debu, sebuah altar bagi ritual yang baru saja selesai—atau mungkin baru saja dimulai. Feruci menatap Ades, dan untuk pertama kalinya malam itu, kegilaan di matanya mereda menjadi sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang menyerupai pengakuan.
"Membusuk, melapuk... kita ditakdirkan untuk jatuh dalam pelukan bumi," suara Feruci kini terdengar letih namun tetap tajam, layaknya pisau tua yang berkarat. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya pada bahu Ades, membiarkan wanita itu kembali berdiri tegak dengan kekuatannya sendiri.
"Mati sejak kita dilahirkan, layu menjadi debu yang tak berarti. Baginya—siapapun 'Dia' yang ada di atas sana—kau, aku, dan semua sampah ini tidak memiliki harga sedikit pun."
Ades tidak segera membalas. Ia berdiri di sana, mengusap debu dari gaun ungunya yang elegan namun kini ternoda. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma besi yang tajam memenuhi paru-parunya. Kata-kata Feruci meresap ke dalam dirinya seperti racun yang akrab. Ia tahu Feruci benar. Di dunia yang mereka tinggali, keabadian hanyalah lelucon bagi mereka yang takut akan kegelapan. Mereka adalah bagian dari malam yang abadi, penghuni tetap dari distrik yang Tuhan lupakan.
Feruci berjalan mendekat dengan langkah yang kini kembali tegap. Ia menyalakan sebatang lilin kecil di atas meja, memberikan cahaya temaram yang menciptakan bayangan raksasa di dinding. Ia tidak perlu lagi mengenakan jubah pastornya. Identitas aslinya sudah cukup untuk menghadapi malam.
Ades berdiri di sampingnya, mengambil sebuah botol minuman yang memang sengaja dipersiapkannya sedari awal sebelum pembantaian dimulai. Ia menuangkan cairan bening ke dalam dua gelas kecil. Tanpa berkata apa-apa, ia menjatuhkan sebutir kristal kecil ke dalam gelas milik Feruci. Kristal itu larut dalam sekejap.
Feruci melihat hal itu. Ia tahu itu adalah racun—mungkin jenis baru yang baru saja diracik oleh Ades. Ia mengambil gelas itu, mengangkatnya sedikit ke arah Ades sebagai bentuk penghormatan.
"Untuk tarian berikutnya?" tanya Feruci.
Ades mengangkat gelasnya sendiri, mata violetnya menatap Feruci dengan penuh kemenangan. "Untuk kematianmu yang megah, Sayangku."
Feruci menenggak minuman itu sekaligus. Rasa pahit dan panas menjalar di tenggorokannya, diikuti oleh sensasi kebas yang mulai merayap di ujung-ujung jarinya. Ia tersenyum—senyum penuh kemenangan. Ia masih bernapas. Ia masih menang atas racun itu, setidaknya untuk malam ini.
LOG: CATATAN SANG ARSITEK DOSA
Lokasi: Kastil Tanpa Nama, Ruang Takhta Tak Berpenghuni
Subjek: Requiem untuk Malaikatku yang Ternoda
[Entri: Jam Terakhir Sebelum Fajar]
Malam ini, kastil ini terasa begitu luas dan dingin, namun kehadirannya memberikan kehangatan yang memuakkan—jenis kehangatan yang kau rasakan saat darah segar menyentuh kulitmu. Aku menatapnya dari balik bayang-bayang pilar gotik. Sayangku yang malang, ia berdiri di sana dengan merah kirmizi yang berlumuran di gaunnya. Cacat, namun begitu indah. Aku selalu menyukai cara dia menyembunyikan sisi monster di balik fasad yang begitu anggun.
Aku melangkah keluar dari kegelapan, mengenakan jubah hitam ini. Salib perak di dadaku terasa berat, sebuah lelucon kecil yang sangat kusukai. Aku mendekatinya bukan sebagai suaminya, bukan sebagai monster, tapi sebagai pastor suci yang dipilih oleh langit hanya untuk dirinya.
"Sayangku, berlututlah," bisikku. Suaraku semanis anggur yang difermentasi terlalu lama. "Berdoalah denganku. 'Dia' akan memaafkan semua jemarimu yang sudah berlumuran dosa itu jika kau memintanya padaku."
Dia tertawa—ah, melodi yang paling kusukai di dunia ini. Begitu tajam, begitu kering. Dia bertanya, apa ironinya meminta tobat dari sang Dewa Kematian? Ia tampak terpesona dengan kemegahan yang kupasang malam ini. Aku tidak menyesal telah membuatnya takjub. Aku hanya penasaran, seberapa lama ia bisa berpura-pura tetap 'suci' di bawah kendaliku sebelum ia benar-benar hancur dalam pelukanku?
Betapa pitamnya eksistensi ini. Semua orang di distrik misterius ini merangkak, menangis ingin diselamatkan, namun tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin berhenti berdosa. Aku mulai menghitung... Eins, Zwei, Drei... Waktu habis, Sayangku.
Siapa yang benar-benar diselamatkan oleh 'Dia'? Siapa yang diberi pahala? Katakan padaku, Ades, bagaimana Tuhanmu memilih favorit-Nya? Apakah mereka yang paling menderita? Ataukah mereka yang paling mahir berbohong? Tuhanmu tidak peduli siapa yang jatuh. Biarkan gereja-gereja itu meluap dengan orang-orang sekarat yang kelaparan, selama kau merasa aman dalam perlindunganku, bukankah itu satu-satunya keselamatan yang kau butuhkan?
Lalu dia berdiri di sana, Dewa Kematianku, dengan sabit yang masih meneteskan darah informan malang itu. Ia berdiri sendirian dalam tumpukan dosanya. Aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ia doakan? Apakah ia berdoa agar aku benar-benar membunuhnya? Atau ia berdoa agar aku tidak pernah berhenti mencintainya dengan cara yang menyakitkan ini?
"Kenapa kita tidak mulai dengan tubuh dan jiwamu yang beku ini?" godaku. "Katakan pada Tuhanmu untuk menyerahkan nyawamu padaku saja. Aku adalah tuhan yang jauh lebih nyata daripada 'Dia'."
Dia menyebutku bodoh. Dia menyuruhku menggonggong di gereja. Oh, betapa manisnya pemberontakan itu. Tapi ia akan datang kembali padaku. Ia akan mengaku padaku. Karena hanya aku yang sanggup melenyapkan semua beban kesalahannya dengan cara yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh surga manapun.
Aku melihatnya... keraguan yang bergetar di balik mata violetnya saat dia merapal A hora y en la hora de nuestra muerte. Cukup, cintaku. Sandiwara ini sudah cukup menghiburku. Vier, Fünf, Sechs, Sieben... Habis sudah waktunya bermain.
Kita semua ditakdirkan untuk membusuk, layu, dan jatuh kembali ke pelukan bumi yang dingin. Sejak lahir, kita sudah berjalan menuju liang kubur. Bagi Tuhan, kita tidak lebih dari debu yang tak berharga. Jadi, kenapa kau masih mencari keadilan dalam cahaya-Nya yang menipu? Di tengah malam abadi di kastil ini, hanya ada aku dan kau.
Imanmu sudah hancur, bukan? Kau tidak lagi percaya bahwa doa bisa membebaskanmu. Kau tidak lagi percaya pada janji-janji kosong dari langit.
Jadi, katakan padaku, Ades... jika kau sudah tak punya lagi surga untuk dituju, maukah kau membawakan keselamatan itu kepadaku? Dengan tarian ini, dengan racunmu, atau dengan cara membiarkan aku menjadi satu-satunya 'kiamat' bagimu?
Mari kita berdansa, sampai salah satu dari kita benar-benar menjadi debu di bawah lantai kastil ini.
---
Commission Story Written by Annie Kaslana on Facebook

Comments