Sayat Musuhmu dengan Siasat
- Adlen B. Edelmen
- Feb 26, 2025
- 19 min read
Updated: Mar 11, 2025

Kebobolan terjadi di salah satu bar tempat koleksi persenjataan Mona tersimpan. Mendengar barang berharganya dicuri habis tanpa sisa: membuat Mona segera mendatangi tempat kejadian. Feruci—sang ayah angkat—turut menyertai di belakangnya.
Rahang Mona yang atas dan bawah beradu melalui gigi-gigi dan menghasilkan suara gemelatuk kecil. Pancaran manik merah di ruangan yang remang-remang, amat kontras menyalurkan kemarahan. Ah, gudang senjata yang jauh di kedalaman bar, kini kosong tak menyisakan satu pun benda kesayangan.
"Feruci! Biar gue yang ngejar biadab-biadab itu! Biar gue yang bunuh mereka! Gue aja yang ambil balik semua senjata!" Mona kian tersulut: menghampiri Feruci yang tengah berdiri sambil tersenyum kecil.
"Tentu, lakukanlah, Mona." Feruci menjawab enteng, senyum kecil terpatri namun tidak berisi keramahan. "Mereka dapat membobol tempat ini. Menarik."
Setelah diberi izin: Mona segera berhambur mencari tersangka.
"Sebentar, Mona. Jangan pergi tanpa rencana. Ada cara yang lebih efektif." Masih melalui sikap tenang, Feruci menghentikan hentakan langkah Mona yang melantun emosional.
"Huh?" Tubuh Mona menyerong ke belakang: menanti lanjutan penjelasan Sang Ayah.
Feruci menoleh, membalas tatapan Mona. Tidak memberikan jeda: segera menjawab rasa penasaran si putri angkat. "Siapapun yang berhasil membobol bar milikku, sudah dipastikan mereka bukanlah sembarang perkumpulan. Di bawah naungan grup ternama, atau bisa lebih dari itu. Jangan sembrono. Tugas ini aku berikan padamu secara utuh. Tapi melangkahlah perlahan, berkamuflase menjadi predator ramah, dan sergap mangsa kita di saat yang tepat. Kamu tak mau berakhir jadi santapan orang-orang yang mencuri senjatamu, bukan?"
Feruci selalu memiliki otak licik yang membuat tubuh Mona meriang kagum. Lantas, ekspresi amarah tadi, bermanuver halus menuju ekspresi bengis. Seolah menafsirkan makna di balik senyuman santai sang ayah. "Pakai gue sebagai umpan! Mereka bakalan nyesel udah nyuri di tempat kita."
Kesepakatan diraih, hal paling lumrah dan awal ialah mengumpulkan informasi. Mona serta Feruci segera membubarkan diri: secara terpisah mencari saksi mata dan jejak pencurian semalam. Selain bertanya pada staf di dalam bar, Mona maupun Feruci berbincang sederhana dengan lingkungan sekitar. Tidak hanya satu bar, beberapa cabang bar yang masih berada dalam satu kawasan, turut dimintai keterangan serupa: adakah aktivitas ganjil yang terjadi belakangan ini?
Salah seorang saksi mata dari kubu pekerja bar—yang juga merupakan pembunuh bayaran—menyaksikan aktivitas ganjil beberapa hari lalu yang diurus oleh entitas tak asing: yakni orang yang pernah berurusan dengannya di masa lalu. Erick, segera melapor, nama grup terkait masih membekas hingga kini: Riqueza. Sudah dipastikan kelompok bergengsi tersebut adalah pelaku perampokan.
"Good job, Erick!" Mona bersorak senang sembari menyaksikan potret yang tertangkap kamera sisi TV. Tidak ada yang mengira bila sosok anggota grup perampok akan terdeteksi sepak terjangnya oleh salah satu rumah kosong milik Feruci. Mata para pekerja bar pimpinan Feruci lebih tajam dari seekor elang: membantu Mona menyisir habis kandidat pelaku penjebolan gudang senjata.
Satu nama yang sering berkeliaran mengunjungi bar, telah diperoleh. Tipikal bajingan songong yang akan mudah Mona telusuri rahasianya. Di waktu yang tepat, Mona mendandani diri dengan gaya yang disenangi pria haus wanita mana pun: dress minim dengan warna berani, rambut yang telah dibentuk bergelombang sedemikian rupa, tak lupa pernak-pernik berupa make up menghiasi wajah. Bukan Mona pada mode normalnya, bahkan untuk mendongkrak pandangan publik di kampus dia tidak semewah ini, khusus untuk menjerat Hibou—pria yang ditaksir sebagai anggota Riqueza.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Mona duduk sendirian seolah memberikan celah bagi pria hidung belang supaya mendatanginya. Hibou yang tengah duduk di konter bar dan baru saja menerima pesanan koktail kesukaan, menyeringai mesum saat menyaksikan bentuk tubuh indah Mona yang tengah mencondongkan dada.
Mona menyadari mata nakal di sana, ia sengaja melirik malu, diselingi kekeh kecil yang membuat Hibou merasa diundang. Lantas seperti dugaan Mona, lelaki Riqueza tersebut beranjak dari kursi, mendatanginya bersama pesanan yang baru disesap sedikit.
"Malam, Nona, gue duduk di sini, ya?" Tidak menunggu persetujuan Mona, Hibou langsung menjatuhkan bokong, kemudian merapatkan diri ke tempat Mona berada.
"Ah, tentu, silakan. Aku sendiri mulai bosan sendirian." Mona mulai bermain agresif, tampak senang dihampiri sedemikian genit.
Awal obrolan membahas minuman masing-masing. Mona memesan whiskey sour, yang tampilannya cerah, mempercantik eksistensinya yang terbungkus pakaian serba merah. Sedang Hibou, ia memamerkan manhattan dengan sikap angkuh. Tidak banyak pembahasan soal koktail masing-masing: sebab Hibou langsung melampirkan tangan ke pinggul Mona, dan lantas memeluknya. Ia memuji tampilan wanita seksi itu sembari sesekali mencoba mengakses ceruk leher, ingin mengendus, seberapa nikmat aroma si wanita.
Mona tentu mengambil kesempatan ini demi langkah awal mengoreksi informasi. "Bolehkah aku tahu siapa namamu? Tak baik mencumbu wanita asing tanpa memperkenalkan diri."
Hibou menjauhkan wajah dari celah yang nyaris ia masuki aksesnya: tentu, lelaki mana yang tidak ingin disebut gentleman? Setidaknya untuk sekadar bertukar nama.
"Nama gue Hibou, Nona cantik ini siapa namanya?"
"Mona." Sekalipun menyamar, Mona ingin kehebatannya mengelabui musuh, beratasnamakan diri sendiri, bukan nama palsu. "Aku tak percaya lelaki setampan kamu hanya duduk bercakap dengan bartender."
Hibou tidak perlu menyembunyikan cengiran sombong. Diberikan pujian membuatnya langsung daratan.
"Gue cuma minum-minum doang. Penat habis kerja. Yeah, dan sekarang ketemu Nona manis ini, gue gak bisa pulang, deh."
Hibou terperangkap begitu mudah. Obrolan mengalir, topik yang biasa hadir diantara kedua orang asing yang mencoba meraih atensi masing-masing. Perihal hobi, minuman apa saja yang mereka sukai selain koktail yang dipesan, serta keseharian sebelum bermuara di bar.
Mona nyaris mendapatkan informasi dalam satu kali percobaan: Hibou tampak tergagap sewaktu mengubah topik perihal keseharian. Anak angkat Feruci ini tentu tidak akan kalah, tidak akan menyerah sampai semua senjata kesayangannya kembali!
"Minuman kita habis. Aku masih ingin di sini. Mau ya nemenin?" Sosok cantik Mona sudah telak duduk di atas pangkuan Hibou.
Hibou mengangkat tangan segera, meminta dibawakan wine paling enak di bar. "Sampai dua botol ini habis. Gimana, Sayang?"
"Ide bagus." Wajah mereka berdekatan, nyaris bertukar ciuman, tapi itu tidak terjadi, sebab Mona lebih membutuhkan percakapan sampai terbongkarnya celah membobol balik brankas musuh.
Posisi mereka semakin mengundang birahi siapapun yang tidak sengaja melirik. Di balik usapan halus pada bongkahan bokong, serta kegiatan meremas kuat di payudara: Mona tengah memberikan serangkaian pujian, yang mana memancing kesombongan Hibou terhadap pekerjaannya sebagai anggota Riqueza.
"Eh? Keren! Bisa ceritakan lebih banyak? Hmh~ pekerjaanku tidak seunik punyamu." Dirabalah kedua pipi pria di hadapan, pancaran manik semerah ruby berkilauan elok: mengundang lebih banyak kejujuran Hibou.
Mona mendapatkannya: informasi mengenai Riqueza! Grup asal negeri asing, bertempat di London, menjajakan banyak transaksi senjata. Wanita bermahkota semerah pakaian mahal, ingin sekali mencekik pemuda itu sewaktu moncong jelek di sana menyombongkan senjata senjata yang mereka curi dari bar Feruci.
Percakapan ditutup dengan ajakan Hibou yang tiba-tiba. "Jika Mona penasaran banget sama kerjaan gue, kebetulan akhir pekan nanti ada pesta topeng. Mau pergi bareng? Gue ajak keliling, terus beresnya kita hang out ke tempat lain." Perbuatan Hibou pada dada Mona sebelah kanan, bertambah dengan mempermainkan payudara sebelah lainnya: jemari menyelinap dari atas dress, ekspresi wajah Hibou amat menjijikkan, menampilkan cengiran diikuti napas mengguruh.
"Ah~ hnngh~ sungguh? Siapa yang bisa menolak?" Tapi Mona selaku aktris lihai malah merapatkan tubuh, membuat hidung si Hibou mengembang dan mengempis: menjelaskan betapa rakusnya ia.
Siapa sangka, tidak perlu aksi lebih, Hibou sendirilah yang menawarkan celah untuk mengunjungi markas utama? Oh, pria memang kelemahannya wanita.
Mereka berpisah setelah menyepakati tempat bertemu pekan nanti. Hibou melambaikan kedua tangan tinggi-tinggi, kemudian melangkah pergi di pertengahan malam.
Senyum manis Mona segera luntur, berganti cengiran licik yang terbentang dari sudut bibir sebelah kiri. "Gue gak tahan banget lihat jambul jelek lo." Ia berbisik sebelum masuk ke dalam bar. Gaya rambut Hibou memang mengganggunya sejak tadi, tampil begitu norak. Tinggi badan pria itu tidak sesuai dengan tatanan jambul yang tebal, apalagi dipadupadankan dengan potongan undercut di bagian kiri dan kanan.
°°°
Mobil mewah bergengsi—Rolls-Royce Phantom—melintasi lingkungan hiburan malam, demi menjemput wanita cantik yang beberapa hari lalu telah mencuri minat si pemuda dalam jok pengemudi. Hibou turun dengan gayanya yang congkak, bersiul takjub pada suguhan penampilan Mona malam ini.
Mona dibalut mini dress tipe bodycon: begitu memikat, sebab menonjolkan beberapa lekukan indah tubuh. Warna yang lebih redup untuk malam ini, menjadikan pribadi sang wanita lebih memikat daripada pertemuan pertama. Di balik ekspresi congkak Hibou sudah dipastikan telah memikirkan malam panjang yang lebih intim bersama si Nona.
"Silakan masuk, Nona manis." Setelah melebarkan daun pintu paling depan: Mona bergegas masuk sembari memberikan ekspresi terkesan pada kekayaan yang hanya terpampang lewat kendaraan.
Hibou segera menempati jok pengemudi. Keduanya melintasi malam, menuju pesta topeng Riqueza yang telah dijanjikan.
"Lo bakalan betah di rumah gue nanti. Pekerjaan gue juga bakalan dipuji malam ini karena ngasih andil besar buat perusahaan." Hibou tak henti-hentinya mengabsen pencapaian paling terbaru, plus mengisahkan seberapa banyak harta kekayaan yang ia simpan di rumah. Selain rambut yang sengaja dicat sama merahnya dengan Mona, ia bahkan memajang berbagai aksesoris emas berupa kalung, gelang, dan cincin.
Sepanjang perjalanan, pun sepanjang omong kosong tentang harta: tubuh molek Mona menempel erat dengannya. Tak segan-segan pria itu menyingkap gaun bagian atas, demi mengeluarkan setengah payudara dan meremasnya kencang-kencang.
"Ah, haa, nghh~" Agar Hibou lebih terlena, Mona mengindahkan permainan dengan turut memeluk leher, kemudian membisikkan melodi desah.
Laju mobil memelan: nampaknya celana Hibou menerima kesesakan dari alat vital. Maka, berbeloklah mereka ke tempat yang lebih sepi nan gelap. Padahal kediaman mewah tempat pesta topeng diselenggara tepat di belokan lainnya, Hibou sendiri yang mengatakan untuk menyimpang sebentar ke arah lain.
Mona didorong sampai terlentang tidak rapi di atas jok: dengan tereksposnya payudara bagian kiri, mulut Hibou terbuka mengembuskan napas panas; jelas-jelas menggugah seleranya.
"Kamu nakal banget, deh. Belum dimulai pestanya lho?" Mona terkekeh manis, hamparan merah muda tercetak alami di pipi. Sungguh hidangan siap santap.
Kala Hibou mendekatkan diri, mengikis jarak dan menindih tubuh Mona, sebuah guncangan hebat mendarat di depan mobil. Bak bongkahan batu berukuran besar baru saja mendarat.
Mona menjerit terkejut, Hibou dengan kesal menendang pintu mobil, keluar dengan niat akan membunuh siapapun yang mengganggu kesenangannya!
"Bangsat! Keluar lo!" Ia menerjang angin malam dengan teriakan buas.
Sesosok bayangan menikamnya dari belakang. Bukan, bukan dengan belati, melainkan sesuatu yang lebih halus, senyap, serta membunuh Hibou dalam waktu dua detik saja: sebuah suntikan beracun. Kamuflase tambahan diberi, yakni botol alkohol dengan harum obat-obatan menyengat terlampir di samping jasad Hibou. Begitu rapi kemampuan Feruci—sang penikam dari balik kegelapan—dalam membereskan satu oknum. Sosok Feruci kemudian berubah mirip seperti pemuda yang terbujur mati di tanah.
Gaun Mona telah rapi seperti sedia kala. Ia menyambut Feruci dengan menyodorkan topeng. Feruci duduk, menghidupkan mesin. Tatkala mobilnya melaju, topeng yang diberi telah terpasang.
"Ayah, jambulmu bagus. Tak mau mengganti gaya rambut saja, eh?" Mona menyeringai: ikut memasang topeng.
Feruci lantas mendengus geli. "Jika ibumu menyukainya, well, akan aku pertimbangkan."
Sebuah ejekan akrab antara ayah dan anak angkat, sengaja memanggil dengan sebutan formal dan masih berbalut bahasa halus; keduanya bertukar tawa jenaka, yang mendesir cukup mencekam di kawasan sepi. Hingga mereka akhirnya tiba di gedung mewah yang luas dan menjulang tinggi. Barangkali memiliki 10 lantai? Mirip sebuah hotel, tapi cukup memikat mata desain terluarnya: meski berwarna gelap, dinding-dinding di sana bermandikan cahaya rembulan, yang kebetulan malam ini tengah bersinar cantik. Persis seperti batu permata obsidian, berkilauan elok.
Mona menggandeng mesra tangan Feruci. Feruci tidak hanya mengubah wujud semirip Hibou: suara, gaya, bahkan cengirannya pun sama persis. Setelah memberikan undangan pertanda tamu, keduanya dipersilakan masuk. Pesta kasual yang dipenuhi makhluk-makhluk pekerja dunia bawah. Atmosfer mengandung keangkuhan serta dipenuhi beragam kompetisi tak berwujud, kasta berupa pencapaian pastilah faktor utama. Mona dan Feruci melangkah dari satu titik ke titik lain. Pura-pura menikmati hidangan, mengobrol akrab dan jenaka, namun mata tajam keduanya tidak berhenti mencari jejak si penyelenggara pesta, yang mereka yakini berperan sebagai pimpinan Riqueza.
Ketemu. Beberapa wanita hilir mudik bergantian masuk membawa makanan pesta di tangan. Feruci melintas sebentar guna menyapa kawan lama—dalam identitas Hibou, tentunya—dan matanya dengan jelas menyaksikan siluet pria gagah yang tercetak dalam sekat partisi berjenis sketsel: sebuah dinding sekat pemisah yang bisa dibawa ke mana-mana. Dari motif bunga sakura yang berkilauan dan kedua ujung partisi berbahan dasar kayu gaharu. Wangi yang khas serta berkelas, membuat Feruci tambah yakin ialah Alfonso! Nama paling teratas dalam organisasi Riqueza yang wujudnya belum berhasil ia lacak.
Feruci kembali ke lantai dasar, lengannya melingkari pinggul Mona. Mona berakting manja sembari memberikan suapan atas cemilan yang ia bawa. Mulut keduanya bertukar suara, tampak dari jauh seperti sedang saling menggoda, namun isi dari percakapan mereka tak lebih dari sekadar informasi pemimpin Riqueza.
Mona mengusap sebentar pipi Hibou, kemudian melambai kecil sembari menghilang di kerumunan. Benar, waktunya menjerat musuh ke dalam perangkap.
Skenario jitu. Setelah kembali ke tempat Feruci sembari membawa dua gelas wine, Mona pura-pura kebingungan sebab Hibou tidak ada di sana. Aksi linglung berkeliling dan resah dihadapkan dengan banyaknya oknum tak dikenal segera menjadi tontonan, membuat Mona menggeleng menolak siapa saja yang datang menggodanya. Alhasil langkah sang wanita berlabuh ke lantai dua. Melihat satu ruangan yang terbuka lebar, ia rasa tidak ada salahnya mencari kehadiran teman pesta di sana.
"Hei, lo! Seenaknya masuk. Sana! Sana!" Baru menginjakkan dua langkah ke dalam ruangan VIP, salah satu bodyguard segera menyentak kasar.
Mona tampak menggigil di tempat, menciut layaknya wanita lemah yang butuh rengkuhan. Caranya mengecil di tempat, secara tidak sengaja mempertegas area ketat dada serta pinggul.
Alfonso yang tengah menyandarkan pipi pada kepalan tangan, segera menegakkan tubuh. Persis ketika Mona hendak diusir, ia mencegahnya.
"Sebentar." Suara bariton serak memenuhi ruangan. "Bawa dia kemari."
Titah adalah titah, Mona digiring meski tidak secara sopan namun tak sekasar pengusiran, tibalah sang wanita ke hadapan pimpinan yang telah mencuri satu gudang isi senjata kesayangan.
"Maafkan aku, Tuan ...? I-ini tempat yang seharusnya tidak aku datangi, ya?" Segelap apa kebencian yang terlukis dalam sukma, Mona selalu mampu tampil sesuai kebutuhan alur jebakan. Dengan suaranya yang rendah dan sikap yang sedikit panik, ia berhasil meraih perhatian Alfonso.
"Duduk."
Maka Mona melangkah ke satu-satunya sofa—selain kursi tunggal yang menjadi singgahsana Alfonso—kemudian duduk.
"Lo bukan bagian dari kami kayaknya?" Alfonso bangkit, diam sejenak di lingkup meja: menyaksikan dengan pandangan merendah terhadap si Nona yang tersesat.
Mona menggeleng perlahan. "Aku lagi cari Hibou, teman yang mengajakku ke pesta ini."
Lelaki kekar yang terbalut kemeja putih dan rompi abu-abu itu pun lantas melangkah: duduk tepat di samping si Nona. Dari pandangan merendah, terpapar ekspresi tergugah. Manik cokelat tuanya mengabsen satu demi satu bagian tubuh wanita yang ia sukai. Mulai dari paras Mona, bibir tebal berwarna merah yang terbuka sedikit, hidung mancung nan ramping, serta mata cekung yang memandangnya lugu. Bukanlah wanita yang terlalu lugu, melainkan jenis wanita dewasa yang menunggu diserang terlebih dahulu. Alfonso paham betul, sebab sudah banyak wanita yang ia icip, walau hanya untuk konsumsi satu malam.
"Lupakan si jelek Hibou. Gue teman pesta lo sekarang. Berikan minuman itu." Sembari menyalakan cigarette yang dirogoh dari saku rompi, Alfonso bersandar santai di sofa.
Ah iya, benar, Mona masih memegang dua gelas wine. Salah satunya segera diberikan kepada Alfonso. Namun si Pemimpin Riqueza tidak bergerak dari posisi bersandar. Manik mata menyipit, cigarette yang diisap segera menjauhi mulut, segeralah asap mengepul di sekitar mereka.
Mona paham, ia mulai tersenyum malu-malu sembari mendekatkan diri. Ujung gelas ia bawa ke mulut Alfonso, setelah menenggak sedikit minuman keras, tangan kanan Alfonso memeluk pinggang Mona, dengan semena-mena menarik tubuh elok sang Nona agar kedua dada yang tercetak besar oleh mini dress jatuh ke atas dadanya sendiri. Belahan pantat lantas dielus, ditepuk-tepuk bongkahannya kemudian. Berkat pendaratan tubuh atas, kini posisi Mona tampak menungging.
Obrolan ringan terjalin dalam posisi seductive tersebut. Alfonso cukup penyabar sebab hanya menikmati sensasi lembut payudara Mona dan membiarkan tangan mencicip sebesar apa pantat yang dimiliki wanita menawan satu ini.
Cemilan serta minuman hilir mudik datang, mengawetkan percakapan sederhana yang dapat menjadi topik mati kapan pun.
Aliran waktu mendesir cepat secepat pergantian topik ringan di antara Alfonso dan Mona: jam dinding lantas menunjukkan tengah malam. Mona tampak mabuk, dengan pasrah meringkuk dalam pelukan Alfonso. Pakaian Mona pun sedikit berantakan dari sebelumnya: sesekali Alfonso meraup buah dada, dan mencium pundak sang Nona.
"Ada kamar tamu di atas. Istirahat sebentar di sana sebelum gue antar pulang, bagaimana?" Bau alkohol tepat menyengat di depan hidung Mona tatkala Tuan berotoritas tinggi bertanya.
Mona menggeliat sejenak hanya untuk balik mencium leher Alfonso sembari memeluk erat, lantas sebuah anggukan tanda setuju diberi. Alfonso menyeringai lebar, tanpa basa-basi memapah Mona berjalan sedikit ke lift, dan memasuki sebuah kamar pertama yang terlihat.
Di atas ranjang dan langit kamar yang gelap, hanya bertemankan lampu tidur di atas nakas. Nuansa remang-remang, dihadapkan pada nafsu birahi masing-masing, Alfonso segera menarik habis gaun pendek Mona dari atas. Terpampang seksi pinggul serta payudara yang masih berbalut bra dan cawat. Alfonso menyeringai, jarang sekali birahinya memuncak sedemikian rupa hanya dalam waktu satu jam pertemuan. Apalagi kini Mona tersenyum menawan, pinggul diangkat sedikit dengan posisi dada yang miring ke arah berlawanan, mengundang Alfonso untuk segera memuaskannya.
Setelah melepas rompi dan melonggarkan kemeja, celana Alfonso mulai turun memamerkan penis ereksi. Mona menyambut prianya dengan tangan terbuka. Alfonso segera memeluk tubuh tersebut, bibir saling bertemu, akhirnya mampu menyalurkan ciuman panas nan kasar—yang mereka tahan selama obrolan santai di ruangan sebelumnya. Gemuruh terlontar dari masing-masing lisan, tak lupa gesekan terjalin antar dada dan penis yang menubruk-nubruk cawat basah.
"Ah~ hmmh~" Mona membiarkan desah meluncur mulus dari mulut. Setelah puas beradu saliva antar bibir, Alfonso segera menelanjangi Mona hingga tak ada satu pun kain menutupi keindahan tubuh wanitanya.
Kedua paha Mona dilebarkan ke samping, penis yang semakin menjulang lantas diposisikan di tempat, kepala penis menubruk masuk lubang vagina. Mulut rahim itu sama mesumnya dengan penis Alfonso: berkedut sembari merekah, melahap rakus benda asing yang masuk.
"Nghh!" Mona menjerit.
Alfonso tidak pernah berasumsi akan bermain lembut sejak terpikat pesona si Nona, lantas ayunan pinggul berlangsung kasar dan dipenuhi nafsu. Sebab vagina memerlukan waktu mencerna ukuran penis yang tengah ereksi. Setelah melalui proses yang perih, pun setelah menerima gerakan pinggul ke kiri dan ke kanan, menggesek agar vagina segera melahap habis penis; akhirnya koneksi penuh terjalin diantara mereka.
Mona menjerit ke langit-langit kamar, kedua tangan di samping kepala meraup seprai sampai membuat kain menjadi kusut di sana.
Suara bising dari desahan tidak hanya memanjakan telinga lawan main, namun pada kasus penyamaran Mona malam ini cukup berguna menyempurnakan aksi Feruci dalam kegelapan kamar.
Ia telah melepas identitas Hibou sejak lift membawa kedua pelakon utama ke kamar, di dalam lorong sepi, ia berhasil meringkus satu anak buah, dan tampil sempurna sebagai pengganti, sebagai pria gagah lengkap dengan aksesoris khas bodyguard.
Sepanjang Mona memberikan permainan seks, satu demi satu bodyguard telah tumbang tak bernyawa. Permainan tangan Feruci memang super cepat, melumpuhkan target menggunakan pisau bedah yang sebelumnya telah dilumuri cairan racun. Ia telah terbiasa melangkah tanpa jejak, tanpa suara, serta membidik ampuh titik-titik vital musuh.
Sang pemimpin dari pihak yang dicuri lantas meleburkan diri di balik kegelapan malam, menunggu tugas Mona selesai.
Mulut Alfonso meraup puting Mona, tidak membiarkan aset menawan lain menganggur begitu saja. Penisnya mulai membengkak setiap kali merasakan stimulus berupa isapan dinding vagina. Maka, sembari menikmati kedua buah dada Mona secara bergantian: mencubit, menyesap, maupun meremas; pinggul di bawah sana turut bergerak menusuk dan mengeluarkan penis. Lantunan penetrasi semakin cepat dari waktu ke waktu.
"Hngh! Ah! A-ah! Ah! AHN!" Desah kian berisik terdengar. Bukan hanya jeritan pertanda nikmat semata, suara basah serta ranjang yang berdecit turut membahana seantero ruangan. Hingga keduanya menyemprotkan ejakulasi kental nyaris dalam momentum yang bersamaan.
Sebelum Alfonso benar-benar ambruk ke atas tubuh Mona, sepasang tangan mencengkeram kuat bahu pria itu. Alfonso tentu terkejut, sebab Mona pelakunya. Cengkeraman pada bahu kian kuat, seperti tengah meremas kertas penuh dendam, kuku-kuku Mona pun mulai menggerus kulit, memberikan sensasi perih.
"Yo, Alfonso. Udah puas lo ngecrot di dalem gue?" Kemana perginya Nona manis sedikit lugu dan malu-malu? Sirna! Topeng sudah dilepas, Mona kini menyeringai kurang ajar.
"Mona, lo—agh!" Penis di dalam vagina dipelintir ke samping oleh Mona. Semprotan ejakulasi berhenti seketika padahal belum tuntas. Menit berikutnya, Mona membanting Alfonso dan bertransisi menjadi pihak atas: berbalik menindih Alfonso.
Pria tersebut lantas menjerit tertahan tatkala Mona menjauhkan pinggul, membebaskan penis yang dipelintir dari goa kenikmatan.
"Apa maksudnya ini?! Gue bunuh juga lo, JALANG!" Suara Alfonso tercekat, ia menangkap jelas penampakan dari kegelapan yang tengah mengokang pistol.
Feruci keluar dari persembunyian. Ia kembali berpenampilan selayaknya Feruci: tanpa memikul identitas komplotan pencuri. Moncong pistol ditaruh di pelipis Alfonso. Lampu kemudian menyala sebab sakralnya berada di dekat ranjang. Alfonso bungkam dengan bulir keringat mulai menghiasi kening, ia baru menyadari seluruh bodyguard-nya sudah mati bertebaran menghiasi lantai kamar.
"Selamat malam, Alfonso." Suara Feruci terdengar begitu sopan, namun mendesirkan aura kebencian. Di balik senyum tipis ramah, terlampir sorot mata merendahkan. "Aku adalah pemiliki bar yang sudah kamu curi segala isi persenjataannya."
Raut tertekan Alfonso kian kentara, matanya mulai berkedip sering, mengetahui pemimpin organisasi yang ia rampok datang meringkusnya.
"Langsung saja, di mana letak persenjataan kami?" Dagu Feruci sedikit terangkat, mengirimkan lebih banyak aura intimidasi khas seorang pemimpin organisasi dunia bawah.
"Jawab lo kalau mau selamat!" Mona mengayunkan tinju mentah ke kening Alfonso sebab sudah kepalang rindu dengan para kekasih!—senjata-senjata yang dicuri.
"Mona, pakai pakaianmu. Dia akan menjawab sebentar lagi." Feruci duduk di pinggir ranjang, menekan lebih dalam ujung pistol ke kening Alfonso yang baru saja menerima luka lebam.
Mona memakai kembali gaunnya setelah sebentar mengunjungi kamar mandi. Dalam pengawasan mata dan pistol Feruci, Alfonso menaikkan celana sampai kembali menutupi penis—yang masih terasa perih sehabis dipelintir.
Feruci telah menerima lokasi penyimpanan senjata, namun kurang afdal jika bukan Alfonso yang mengantar mereka.
"Kalian sudah tahu tempatnya. Bebasin gue! Gue udah gak ada urusan lagi!" Alfonso sekuat tenaga menolak, menagih janji keselamatan nyawa.
"Kita kagak bodoh ya, bangsat!" Mona balas meraung, membungkam ucapan Alfonso. "Sana berdiri, tunjukin ke gue di mana lo sekap curian lo!"
Kentara kebencian terpoles rapi dalam ekspresi, tapi Alfonso tidak punya pilihan lain selain mengikuti segala intruksi kedua orang asing. Ia berdiri, lantas melangkah melewati para mayat yang sejam lalu masih setia menjadi pelindungnya. Mona serta Feruci turut mengikut.
Serius Alfonso harus melepaskan senjata-senjata elit yang akan ia lelang pekan nanti? Dadanya melantun berat sepanjang kaki melangkah melewati lorong, lurus ke tempat lift berada. Ia berperan sebagai petunjuk jalan saat ini, napas mendesir kacau dari mulut acapkali kepala dihujani nominal kerugian yang akan ia tanggung nanti. Alfonso sama sekali belum menyadari nyawanya sudah tamat sejak pesta topeng digelar.
Manik cokelat gelap segera bergulir ke samping tempat di mana tangga berada. Alam bawah sadarnya meminta untuk melarikan diri, maka dengan cepat Alfonso berbelok, tapi ia tahu rencananya sia-sia bahkan sebelum terlaksana.
Suara peluru melesat terdengar bising, apalagi dalam keadaan gedung kosong tanpa kemeriahan pesta.
"AKH!" jeritan Alfonso berkumandang segera, ia nyaris terjun bebas diantara anak tangga. Peluru yang menancap pada tulang kering menahannya dari pelarian. Sang pemimpin organisasi Riqueza tengkurap menahan sakit yang menimpa kaki kiri. Jeritan bahkan tidak terdengar hanya sekali, melolong perih mengakibatkan gema ke lorong tangga di bawah sana.
Mona menarik pria bajingan itu untuk kembali berada di lintasan menuju lift, ia tendang sebentar Alfonso hingga mengakibatkan lebih kental darah mengalir. "Dasar tolol, sekali lo ketangkep, ya kagak bisa lepaslah! Sana jalan!"
Alfonso masih ingin hidup: sebuah ambisi khas mangsa yang sebetulnya tidak memiliki sisa waktu. Dengan suara jelek menahan perihnya luka tembak: pria itu bangkit, bertahan walau hanya dengan satu kaki. Kain celana area lutut ke bawah berlumuran darah, pun rasa persendian retak di dalam mengikis ambisi Alfonso setiap kali melangkah. Kaki kiri ia seret, berjuang dengan kecepatan seadanya hingga mampu memasuki lift. "La ... lantai paling dasar."
Pintu lift tertutup, sepanjang mekanisme canggih itu turun, napas Alfonso bergemuruh parau, peluru tertanam tepat di tulang keringnya, kapan saja bisa patah.
Sebuah keputusan yang bijak tidak membiarkan Alfonso kabur begitu saja, maupun membunuhnya sejak di kamar: sebab ruangan isi senjata curian perlu kata sandi yang hanya diketahui si Pemimpin Riqueza.
"Jadi ini alasan lo pengen cepet-cepet pergi?" Suara tawa Mona memuakkan batin Alfonso: sudah terluka, kini direndahkan. Kesombongan sifat yang tercoreng begitu cepat oleh teman seksnya sendiri.
Begitu pintu terbuka, aroma khas baja menyeruak seolah memberikan sambutan hangat. Aroma pekat yang begitu meluluhkan hati satu-satunya wanita di sana. Tawa senang— terlampau senang—membahana. Mona menyerobot masuk ke tengah ruangan yang hanya ditemani satu lampu tunggal redup berwarna kuning. Di tengah deretan senjata, Mona merentangkan tangan ke samping, menengadahkan wajah ke langit, kemudian berputar sebentar sebelum melesat ke salah satu rak guna mengecek benda kesayangan.
Alfonso nyaris jatuh terduduk, Feruci segera menyeret kerah belakang pria tersebut, untuk dilempar ke tempat Mona berada.
Anak angkatnya tengah memeluk erat senapan, dan mencium mesra bilah tajam tombak. Mona melirik tak acuh ke tempat Alfonso meringis, kemudian beralih kepada cengiran sang ayah angkat.
"Ah? Hahaha~" tawa melengking tak mencirikan Mona yang Alfonso kenal. Membuat merinding pria yang masih terengah sebab pendarahan serius di kaki.
Manik merah Mona amat kontras dengan keadaan ruangan, menyipit mempertegas siapa pemangsanya di sini. "Lo harus bantu gue ngetes mereka satu per satu. Atau paling nggak, sampai gue yakin mereka gak kehilangan sedikit pun ketajaman." Mona menaruh senapan dan tombak ke tempat semula dalam lantunan tangan penuh kasih.
"Jalang ... sialan." Raut Alfonso mulai kehilangan cahaya, pucat. Darah dari bekas tembakan sejak awal pemberangkatan mereka ke gudang senjata, telah menghiasi lantai sepanjang perjalanan.
"NGOMONG SESUKA HATI LO! NGEBACOT AJA SANA!" Mona terlihat begitu antusias, akhirnya setelah sekian lama, ia bisa mencoba senjata keluaran terbaru langsung ke objek yang masih hidup!
Setelah menarik ujung bahu kemeja Alfonso, segeralah wanita itu melempar si pria ke tembok. Alfonso menjerit bersama sumpah serapah dan kosa kata kotor. Belum sempat mengatai Mona lebih liar lagi, wanita itu telah tiba di dekat si pria, kakinya terangkat, dengan ujung heels yang tinggi ia menginjak tepat di tempat peluru tertanam.
"AAAAKH!" Manik yang terbiasa terbingkai tajamnya lengkungan kelopak mata, segera membola seolah isinya akan keluar detik itu juga. Alfonso berteriak kencang sekali, bising dan memilukan. Tangis pertanda perih mulai bercucuran, kondisi tulang kering di bawah sana sudah menonjol keluar menembus kulit. "AKH! AAAAKH! AAAAKH!" Napasnya terengah hebat, tapi kesakitan tidak membuatnya berhenti menjerit.
"Berisik, berisik! Gue belum mulai." Sebilah pisau yang biasa dikenali sebagai pemotong buah, tergenggam dalam genggaman Mona. Sarungnya yang terbuat dari kulit mewah, ditarik, mempertunjukkan keindahan bilah pisau putih dengan desain pegangan yang sama mungilnya.
Mona segera mendaratkan diri di atas perut Alfonso. Tidak ada kata peringatan, setelah menarik telinga pria malang di sana, pisau buah terayun memotong mulus kulit daun telinga Alfonso hingga buntung.
Sisa jeritan belum tuntas betul, dengung perih segera mengudara dalam melodi yang jauh lebih menyakitkan: saat Alfonso merasakan aliran darah memuncrat tepat di sebelah kanan kepala. Pendengarannya lantas terganggu seketika.
Mata Alfonso terpejam erat, kini ia tak sanggup lagi menghina siapapun dalam ruangan: tangis tumpah ruah dikemas dalam jeritan pilu. Suaranya mulai mengecil, akibat lelah, atau justru tanda betapa tersiksanya ia.
"Hmm?" Mona menyaksikan tetesan darah dari badan pisau sembari berpikir: sama sekali tidak menaruh perhatian kepada Alfonso. "Butuh daging yang lebih tebal, eh? Siniin lidah lo!" Telunjuk dan jari tengah segera masuk ke dalam mulut, menarik paksa lidah bermandikan liur.
Leher dan kepala bagian bawah Alfonso terangkat. Pria itu dapat merasakan peregangan hebat menjalar sepanjang lidah. Kepalanya menggeleng dalam kecepatan yang mampu ia gerakan, jerit tangis lantas melolong hebat memohon ampunan.
Tidak ada yang bisa mengacaukan kisah romantis di antara Mona dan senjatanya, Alfonso hanyalah daging hidup yang bertugas sebagai pengecek ketajaman. Gelengan kepala semakin diperlihatkan intens, jerit nyaring memekik kian dalam nan parau, tapi Mona tetap menggerakkan ayunan pisau buah: kali ini butuh dorongan ekstra dalam pemotongan di pangkal lidah.
Sesungguhnya pendarahan sudah melemahkan seluruh tubuh Alfonso, tapi berkat perih bertambah di pangkal lidah, begitu ngilu menerjang saraf lain, membuat tangan pria pimpinan Riqueza itu terangkat guna mencakar lengan Mona. Aksi tersebut tidak membuat Mona berhenti. Dengan kekuatan yang jauh lebih besar, ia menyeret pisau hingga tebasan berlanjut memotong habis lidah.
"KHHHH! KHHHH! KHHHH!" jerit mengudara sekaligus dengan memuncratnya darah ke langit-langit ruangan.
Mona menjauh, bangkit berdiri guna membuang lidah milik Alfonso, dan segera memberikan perawatan terbaik untuk senjata kesayangannya. Sapu tangan mengelus penuh cinta hamparan pisau berdarah. Pujian demi pujian Mona juga terselip. "Sudah cantik, menawan, tajam pula. Ketebalan satu centimeter masih mampu kamu tebas." Kecupan berlabuh pada pegangan pisau yang mungil.
Feruci selalu tertarik menyaksikan kegemaran Mona. Membuat ia turut tertawa, terlebih menertawakan kemalangan nasib Alfonso yang lolongan paraunya mendominasi.
Beres mencoba pisau pemotong buah, Mona meraih senjata paling ramping dan cantik. Sebuah tongkat keluaran terbaru perusahaannya Feruci, yang amat ia sukai sebab memiliki dua kemampuan di balik desainnya yang mewah. Kepala tongkat didesain menukik bagaikan paruh burung: disesuaikan dengan besi berat yang mampu memecahkan kepala. Tongkat diangkat tepat di atas Alfonso, Mona merentangkan cengiran lebar dan kelopak matanya membuka lebar.
Ia turun berlutut: cekikikan—terdengar semirip suara tikus bercicit.
"Namanya Henry, seperti nama raja, bukan? Mewah, mahal. HIDUP RAJA HENRY!" Tongkat terayun kencang memecahkan tulang siku Alfonso. Lengan tak berdaya segera terkulai ke samping. Selain kain terkoyak, pendarahan pun merembes di sana.
Urat-urat nadi tercetak mengerikan di sepanjang leher Alfonso. Meskipun ia ingin mengeluarkan jeritan nyeri, darah-darah yang memenuhi mulut dan tenggorokan, justru membuatnya tersedak. Batuk hebat kemudian mengudara bersama suara pecahan tulang tangan yang sebelah lagi.
Mona menjerit kegirangan, ia kembali bangkit, guna memuji kepiawaian Henry dalam merusak tulang manusia.
"Eits, tapi Henry ini punya dua kelebihan."
Pada pegangan tongkat, melingkar motif emas, terbentang angka 0 sampai 9, yang ketika diputar sesuai kode, akan mampu membuka kamuflase tersembunyi di dalam badan tongkat.
Suara klik terdengar, pertanda kode yang diputar sudah sesuai. Bilah bayonet—pisau runcing yang biasa tersemat pada ujung senapan—tampil elegan bersama pantulan cahaya kuning ruangan.
"Bilah tipis tajem yang cukup buat putusin nadi. Tapi gue gak mau lo mati dulu." Bayonet kembali ke dalam sarangnya, terkunci rapat setelah diputar sejenak pada pegangan tongkat.
Alfonso sudah tak mampu lagi tersadar: matanya telah lelah menangis, yang tersisa hanyalah batuk kecil dan genangan darah yang terus mengalir menuruni kedua ujung bibir, bercampur dengan genangan darah dari telinga. Kelopak mata Alfonso mulai turun hingga setengah tertutup, menutupi manik cokelat tua yang sudah kehilangan binar kehidupan.
Ya, dia mati.
Tapi itu tidak menghentikan Mona dan senjata apinya: sebuah pistol wheellock dalam balutan nuansa abad 15 terulur ke hadapan kepala Alfonso.
"Desainnya rumit sih, tapi mekanisme senjata cakep ini bakalan meredam suara saat peluru lagi bersiap di dalamnya."
Gema letusan lantas terdengar kencang sekali. Kepala Alfonso seketika pecah menjadi kepingan tak simetris. Satu bola mata terpental jauh nyaris ke tempat Feruci menjaga pintu. Kulit-kulit, daging, dan otak, bercipratan ke mana-mana. Mona bahkan terkena kelenjar merah menjijikan di kaki.
"WOAH?! CANTIK SEKALI! HAHAHAHA!" Namun Mona sendiri, sedikitpun tidak peduli. Dunianya, perhatiannya sudah tercurah penuh kepada para senjata. "AHAHAHAHA!" Ia menjauhi mayat tak berupa itu, memutar wheellock di tangan dengan amat bergaya, kemudian kembali ke tempat senjata lain berada.
"Sudah selesai? Mari kita kemas teman-temanmu, dan pulang."
"Baik~"
Serpihan daging dan cairan kental menjijikkan dilangkahi tanpa empati. Ayah dan anak angkat itu mulai mengangkut semua persenjataan, kemudian pulang meninggalkan mayat Alfonso sendirian di dalam ruangan.
Entah kapan dan entah siapa yang berhasil menemukan bekas pertempuran penuh siasat tersebut.
•••

Commission Story Written by Adlen B. Edelmen



Comments