Family? Freedom? Welcome to the Hell
- Annie Kaslana
- May 23
- 21 min read
Kastil itu tidak berbau seperti rumah. Rumah, dalam kamus tiga belas tahun kehidupan Edmond Rothschild, adalah bau lilin lebah penyemir furnitur mahoni; aroma samar parfum mawar milik ibunya yang selalu lewat seperti angin dingin; dan bau bensin dari mobil-mobil jemputan yang berderet di halaman depan. Rumah adalah sebuah struktur yang tegak di atas pondasi kalkulasi; tempat di mana setiap napas memiliki biaya sewa dan setiap tawa dinilai berdasarkan seberapa sopan gaungnya di telinga para kolega bisnis.
Kastil Keluarga Dosa …sebaliknya, berbau seperti besi tua; dan kelembapan yang lambat-laun membusuk dari balik dinding-dinding batu abad pertengahan. Seperti kematian itu selalu membayangi di setiap langkah kaki yang menggema.
Edmond—atau nama baru yang dilemparkan Lucifer (Feruci) kepadanya seperti sepotong tulang kepada anjing kelaparan, Gore—terbangun dengan rasa kering yang menyiksa di tenggorokannya. Selimut yang membungkus tubuhnya terbuat dari beludru merah yang terlalu tebal, begitu berat hingga rasanya seperti gundukan tanah makam yang menimbun dadanya.
Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Dua puluh empat jam? Tiga puluh? Waktu di dalam kastil ini terasa mandek, seolah-olah jam dinding perunggu di sudut kamar sengaja berdetak lebih lambat untuk menyiksa kewarasan siapa pun yang terperangkap di dalamnya.
Ketika Gore mencoba duduk, kepalanya berdenyut hebat. Urat-urat di pelipisnya menegang, memproyeksikan kembali potongan-potongan gambar yang semalaman terkunci di balik pelupuk matanya.
Suara retakan tulang hidung ibunya.
Bau otak yang berhamburan dari kepala ayahnya setelah dihantam tongkat baseball.
Dan mata Egmont—saudara kembarnya; pantulan dirinya sendiri—yang perlahan meredup setelah ajal datang menjemputnya.
Gore menatap telapak tangannya sendiri. Bersih. Tidak ada darah. Pelayan di tempat ini pasti telah memandikannya saat ia tidak sadarkan diri, atau mungkin Feruci sendiri yang melakukannya sambil bersenandung kecil. Sialan. Rasa mual itu datang lagi, naik dari ulu hati hingga ke pangkal lidah. Ia pernah membuat belasan pelayan tersedak asap; melepuh karena minyak; atau botak karena silet tersembunyi, dan ia selalu tertawa sampai perutnya kaku.
Namun, ini berbeda. Ini bukan lagi lelucon anak kaya yang bosan. Ini adalah pembantaian. Ia telah menghapus seluruh garis keturunannya sendiri dari muka bumi dalam satu malam tunggal.
"Ah, Anda sudah bangun, Tuan Muda Ketiga."
Sebuah suara ketukan yang ritmis mendahului kehadiran sosok pria paruh baya dengan setelan jas hitam yang terlampau rapi untuk tempat seberantakan ini. Rambutnya kelabu, disisir ke belakang tanpa ada satu helai pun yang berani keluar dari jalur. Matanya setajam elang, namun ada semacam kekosongan yang dingin di balik senyum profesionalnya.
"Saya adalah Supervisor Pelayan di kastil ini," pria itu membungkuk tepat empat puluh lima derajat. "Nyonya Ades meminta saya untuk memastikan Anda tidak mati kelaparan di hari pertama Anda, dan jika Anda sudah cukup kuat untuk menggerakkan kaki, saya diperintahkan untuk mengantar Anda berkeliling. Mengenal... sangkar baru Anda."
Gore tidak menjawab. Ia hanya menarik selimut beludru itu lebih tinggi, menyembunyikan separuh wajahnya yang pucat. Rambut kuningnya acak-acakan. "Di mana mereka?" suaranya parau, hampir habis.
"Tuan Feruci, Nyonya Ades, beserta Nona Mona dan Nona Levi sedang tidak berada di kastil," jawab sang Supervisor sambil meletakkan nampan perak berisi bubur kental beraroma kaldu ayam dan segelas air putih di atas meja nakas.
"Keluarga sedang memiliki agenda besar. Sebuah perjalanan dengan kapal pesiar Prince Carol dalam beberapa waktu ke depan. Oleh karena itu, saat ini mereka sedang gencar menyelesaikan deadline misi dan tugas-tugas formalitas dunia bawah mereka di luar kota. Kastil ini sepenuhnya milik Anda hari ini."
Gore menurunkan selimutnya sedikit. "Misi? Tugas formalitas?"
"Membunuh orang, meracuni sumur, memotong jari makelar yang tidak tahu diri, memindahkan beberapa ton organ manusia ke perbatasan," sang Supervisor menyebutkan daftar itu dengan intonasi yang sama ringannya seperti seorang pelayan mansion Rothschild yang sedang membacakan menu sarapan pagi. "Hal-hal biasa. Silakan dinikmati hidangannya, Tuan Muda Gore. Saya akan menunggu di luar pintu. Tiga puluh menit dari sekarang, tur kita dimulai."
Ketika pintu kayu ek yang tebal itu tertutup dengan dentuman berat, Gore menatap bubur di atas meja. Perutnya berbunyi, tetapi bayangan tentang daging manusia yang hancur membuat seleranya hilang. Namun, ia tahu ia butuh energi. Jika ia mati di sini karena kelaparan, maka taruhan nyawa yang ia berikan kepada Feruci malam itu akan menjadi lelucon paling konyol yang pernah ada.
Ia pun memutuskan untuk menyuap bubur itu dengan tangan yang sedikit tremor. Rasanya hambar, atau mungkin lidahnya yang sudah kehilangan kemampuan untuk mengecap rasa …sebagai bentuk dari adrenalin kesenangan yang telah menghilang.
Tepat tiga puluh menit kemudian, Gore melangkah keluar dengan pakaian baru yang disediakan di dalam lemari—setelan kemeja hitam dan celana kain yang ukurannya pas, seolah-olah mereka sudah tahu ukuran tubuhnya sebelum ia datang. Di sanalah dia melihat sosok supervisor yang sama; sudah siap untuk menemani tur kastil tersebut.
Sang Supervisor berjalan satu langkah di depannya, menuntun Gore menyusuri koridor-koridor kastil yang luas dan membingungkan. Tempat ini adalah labirin kegelapan. Di beberapa sudut, ada kepala rusa jantan dengan mata kaca yang seolah terus mengawasi pergerakannya. Di sudut lain, ada pintu-pintu berat yang terkunci rapat, dari baliknya lamat-lamat terdengar suara erangan parau atau dengung mesin yang aneh.
"Ini adalah Aula Utama," Supervisor menunjuk sebuah ruangan dengan langit-langit setinggi sepuluh meter, di mana sebuah lampu gantung kristal tergantung. "Tempat Tuan Feruci biasanya menerima klien. Atau memotong mereka jika mereka terlalu banyak menawar."
"Dan di sebelah kiri adalah koridor menuju area pribadi Nona Mona dan Nona Levi. Saya sarankan Anda tidak masuk ke sana tanpa izin, kecuali Anda ingin dijadikan umpan latihan mereka, atau kulit Anda dijadikan hiasan dinding oleh Nona Mona."
Gore memperhatikan setiap detail dengan mata yang mulai bekerja secara refleks. Lantai batu ini tidak rata; ada beberapa bagian yang berongga jika diinjak dengan tekanan tertentu. Mekanisme jebakan lama, pikir Gore otomatis. Pikirannya langsung merancang skenario: jika ia meletakkan senar baja di antara pilar ketiga dan keempat, lalu menghubungkannya dengan tuas di balik patung zirah kuno itu, siapa pun yang berlari di koridor ini akan kehilangan kepalanya dalam hitungan detik.
Namun, kesadaran itu segera disusul oleh rasa asing yang menusuk. Untuk apa aku memikirkan ini? Ini bukan rumahku. Aku tidak sedang bermain-main dengan para pelayan bodoh lagi.
Tur itu berakhir di sebuah ruangan kecil yang berfungsi sebagai perpustakaan sekaligus ruang santai, lengkap dengan sebuah televisi yang diletakkan di atas meja kayu. Setelah Supervisor meninggalkannya sendirian dengan anggukan hormat yang kaku, Gore duduk di sofa kulit sebelum dirinya memutuskan untuk meraih remot kontrol, menyalakan televisi.
Layar kaca itu berkedip-kedip sebelum memunculkan wajah seorang reporter wanita dengan latar belakang garis polisi yang mengelilingi sisa-sisa mansion Rothschild yang hangus di beberapa bagian.
"...Pembantaian mengerikan di kawasan elit Rothschild hingga saat ini masih dalam penyelidikan intensif. Pihak kepolisian menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga, termasuk sang taipan finansial beserta istri dan kedua putra kembar mereka, Egmont dan Edmond Rothschild, dipastikan tewas di tempat dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Beberapa saksi menyatakan sempat terdengar suara ledakan dan keributan hebat sebelum komplotan pembunuh melarikan diri "
Gore menatap layar itu tanpa berkedip. Gambar berganti menampilkan foto dirinya dan Egmont saat berusia dua belas tahun—mengenakan seragam sekolah elit, tersenyum dengan wajah klimis dan kaku yang sangat ia benci.
Edmond Rothschild telah mati. Dunia sudah mencatatnya sebagai abu.
Ia melihat ke bawah, ke arah sepasang sepatu bot hitam yang ia kenakan. Di dalam ruangan ini, di dalam kastil antah-berantah ini, ia hanyalah sebuah hantu bernama Gore. Seorang anak tiga belas tahun yang tidak punya kartu identitas; tidak punya hak waris; tidak punya apapun selain dirinya sendiri dalam kepungan monster berkulit manusia.
Keraguan itu datang merayap seperti hawa dingin dari lantai batu. Apakah pilihannya benar? Kemarin, ia berpikir bahwa keluar dari sangkar emas dan menghancurkan orang tua sendiri adalah puncak dari kebebasan. Namun kebebasan yang ia dapatkan ternyata bukan hamparan padang rumput, melainkan jurang tak berdasar yang gelap gulita. Di dunia lamanya, jalurnya sudah pasti: belajar, lulus, menikah dengan wanita pilihan aliansi bisnis, lalu mati dengan tumpukan uang. Monoton, tapi aman. Ada jaminan.
Di sini? Di bawah atap Keluarga Dosa? Ia bahkan tidak tahu apakah besok pagi pria itu akan bosan dengannya dan menembak kepalanya saat sarapan, atau apakah Ades akan menjadikan tubuhnya sebagai kelinci percobaan racun barunya. Ia benar-benar sendirian di tengah-tengah monster.
༒• ༒•𝕳•༒□•༒
Malam menjemput kastil dengan badai kabut yang tebal, membungkus seluruh bangunan dalam kesunyian yang mencekam. Sekitar pukul sebelas malam, pintu kamar Gore diketuk tiga kali. Bukan oleh Supervisor, melainkan oleh seorang pelayan wanita dengan tato ular di sepanjang lehernya.
"Tuan Feruci menunggu Anda di ruang kerja atas," katanya singkat sebelum berbalik pergi.
Gore menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang mendadak berpacu. Ia berjalan menyusuri tangga melingkar, menuju ruangan yang tidak bisa sembarangan dikunjungi siapapun. Ketika ia mendorong pintu ganda kayu ek yang berat, bau cerutu berkualitas tinggi dan aroma samar roti panggang langsung menyergap indra penciumannya.
Feruci—atau Lucifer—sedang duduk di balik meja kerja besar yang berantakan dengan peta laut, dokumen-dokumen bersandi, dan beberapa botol minuman keras. Surai birunya yang panjang dibiarkan terurai, membingkai wajahnya yang selalu dihiasi senyuman ramah yang anehnya justru terasa sangat mengintimidasi.
"Masuklah, Gore," Feruci melambaikan tangannya, nadanya serenyah seorang ayah yang menyambut putranya pulang dari sekolah. "Jangan berdiri di ambang pintu seperti itu. Sini, duduk di depanku."
Gore melangkah masuk, tetapi ia tidak duduk. Ia memilih berdiri dua meter di depan meja, dengan tangan bersilang di depan dada, bahunya tegang, dan matanya terus bergerak waspada mengawasi setiap sudut ruangan.
Feruci memperhatikannya, lalu terkekeh rendah. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu. "Lihat dirimu. Kamu berdiri di sana seperti seorang tamu yang takut mengotori karpet mahal, bukan seperti anak laki-laki yang malam itu memohon-mohon, merangkak, dan berjanji akan menyerahkan segalanya demi masuk ke keluarga ini."
Kalimat itu seperti tamparan tak kasatmata yang mengenai wajah Gore. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku celana. "Aku hanya sedang... menyesuaikan diri."
"Menyesuaikan diri? Atau menyesali pilihanmu?" Feruci meletakkan cerutunya di atas asbak perak, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Gore dengan binar mata yang terlalu tajam untuk ukuran manusia biasa. "Kamu sudah menonton berita hari ini? Bagaimana rasanya melihat namamu sendiri terdaftar di kolom kematian? Sedih? Kehilangan?"
"Aku tidak peduli dengan mereka," desis Gore, giginya mengatup rapat. "Mereka pantas mati."
"Oh, tentu saja mereka pantas mati. Semua orang di dunia ini pantas mati, pertanyaannya hanya kapan dan bagaimana caranya," Feruci berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja dengan langkah yang sangat ringan, hampir tanpa suara, seperti seekor predator yang sedang mengitari mangsanya. "Tapi yang membuatmu terguncang bukanlah kematian mereka, Gore. Yang membuatmu ketakutan adalah hilangnya dinding-dinding yang selama ini mengekangmu."
Feruci berhenti tepat di hadapan Gore. Tubuhnya yang tinggi menjulang, menciptakan bayangan besar yang menenggelamkan sosok kecil anak laki-laki itu.
"Kamu dibesarkan di sebuah tempat di mana setiap hal kecil memiliki koordinat yang pasti," kata Feruci, suaranya melembut namun setiap katanya berbobot seperti timah. "Ada gelar di depan namamu, ada ekspektasi yang harus kamu penuhi setiap semester, ada aliansi yang sudah disiapkan sejak kamu bisa mengeja kata 'bisnis'. Bahkan ketika kamu melakukan kesalahan—ketika kamu menjahili para pelayanmu dengan perangkap-perangkap bodoh itu—semuanya sudah ada perhitungannya dalam anggaran kerugian orang tuamu. Mereka bisa membayar ganti rugi, mereka bisa membungkam media. Kamu punya safety net. Kamu punya jaminan bahwa apa pun yang kamu lakukan, kamu tidak akan jatuh terlalu keras."
Feruci membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Gore. Senyumnya melebar, menampilkan deretan gigi yang terlalu rapi.
"Tapi di sini? Di Rumah Dosa? Kamu harus menentukan koordinatmu sendiri, Gore. Tidak ada kompas moral yang akan memberitahumu mana yang benar atau salah. Tidak ada peta harta karun yang menunjukkan di mana jalan keluar. Tidak ada jaminan bahwa jika kamu gagal besok, aku atau Ades tidak akan membuang jasadmu ke laut. Kamu sepenuhnya bebas, dan kebebasan mutlak adalah hal paling mengerikan bagi jiwa yang terbiasa dikurung. Bukankah itu sangat menyenangkan?"
Gore merasakan tenggorokannya menyempit. Kata-kata Feruci menelanjangi seluruh ketakutan terdalamnya. Ia menyadari satu hal: ia bukan membenci aturan, ia hanya membenci fakta bahwa bukan ia yang membuat aturan itu. Dan sekarang, ketika kendali penuh ada di tangannya, ia justru mendapati dirinya lumpuh karena tidak tahu harus melangkah ke mana.
"Aku …tidak takut," bantah Gore, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang runtuh.
"Bagus. Karena ketakutan tidak akan menyelamatkanmu di kapal Prince Carol nanti," Feruci menegakkan tubuhnya kembali, berjalan menuju meja dan mengambil sebuah map hitam tebal, lalu melemparkannya ke arah Gore. Map itu mendarat tepat di dada Gore sebelum anak itu menangkapnya dengan refleks yang cepat.
"Itu adalah misi pertamamu," kata Feruci, beralih kembali ke nada bicaranya yang santai. "Target kita adalah faksi rahasia keluarga Rothschild yang berada di kapal pesiar itu. Kamu mungkin familiar mengingat ini berhubungan dengan keluargamu sebelumnya. Yaa …secara singkat kita ada dua target utama.”
Mendengarkan nama Rothschild sekali lagi diungkit, Gore menahan napas sejenak sebelum menarik napasnya dalam-dalam. Feruci menyadari itu namun bukan berarti dia akan berhenti memberikan informasi kotor di depan bocah tersebut.
“Mereka membawa cetak biru dan data jaringan pelacak yang bisa mengancam eksistensi bisnis dunia bawah. Tugasmu adalah menyusup sebagai intel. Cari tahu lokasi kamar mereka, duplikasi datanya, matikan pelacak mereka, dan siapkan jalur bagi kakak-kakakmu untuk melakukan pembersihan fisik."
Gore membuka map itu. Lembaran-lembaran kertas berisi foto, denah kapal, dan rute navigasi terpampang di hadapannya. "Apa aku juga harus ikut bertarung dengan mereka jika keadaan memburuk?"
Feruci tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Bertarung? Jangan konyol, Gore. Kamu tidak lahir di lingkungan penuh pelacur dan eksperimen seperti Levi, di mana bertahan hidup berarti menjual tubuh atau memanipulasi nafsu–hasrat birahi seseorang. Kamu juga tidak dibesarkan di bawah hukum rimba jalanan seperti Mona, di mana jika kamu tidak meremukkan tengkorak orang lain hari ini, besok tengkorakmu yang akan dijadikan mangkuk minum. Jika kamu maju ke depan menghadapi pengawal Rothschild dengan tangan kosong, kamu akan mati dalam tiga detik pertama."
Feruci kembali ke kursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Gunakan apa yang ada di dalam kepalamu. Taktik. Perangkap. Manipulasi. Buktikan padaku bahwa pujian yang kuberikan malam itu di gedung tua bukan sebuah kesalahan. Sekarang, keluar dari ruanganku. Temui Ades di ruang bawah tanah besok pagi. Dan satu lagi... jangan sampai dua kakak perempuanmu melihatmu di kastil ini sebelum kapal itu berlayar."
Gore menatap map di tangannya sambil mencoba untuk mencerna maksud kalimat terakhir yang disampaikan; lalu menatap Feruci untuk terakhir kalinya sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan. Pintu menutup di belakangnya, meninggalkan keheningan koridor menara yang dingin.
Di dalam dadanya, keraguan itu tidak sepenuhnya hilang, namun ada sepercik api baru yang mulai menyala—sebuah tantangan yang egois untuk membuktikan bahwa hantu bernama Gore ini bisa bertahan di dalam lingkaran setan.
༒• ༒•𝕳•༒□•༒
Pagi berikutnya, kastil tidak menjadi lebih hangat, namun hawa dinginnya terasa lebih fungsional bagi Gore. Sesuai instruksi Feruci, ia turun ke ruang bawah tanah—sebuah labirin yang jauh lebih dalam dan pengap daripada koridor atas. Bau belerang, alkohol murni, dan aroma manis yang memuakkan dari berbagai jenis esens tanaman langsung menusuk hidungnya begitu ia melangkah masuk ke ruang laboratorium Ades.
Ades sedang berdiri di balik meja konter panjang yang dipenuhi tabung reaksi, pipet tetes, dan beberapa wadah berisi organ dalam hewan yang diawetkan. Ia mengenakan pakaian rumah berwarna gelap yang panjang, kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Rambut ungunya diikat longgar ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya.
"Ah, si kecil yang cerdik sudah datang," Ades berbalik, senyumnya yang sensual dan penuh bujuk rayu mengembang. Ia mendekati Gore dengan langkah kaki yang ritmis dari tumit sepatu hak tingginya. "Kemari, Sayang. Jangan takut. Ibu tidak akan meracunimu... kecuali kamu meminta."
Gore melangkah mendekat dengan wajah datar, meletakkan map misi dari Feruci di atas meja yang bersih dari cairan. "Tuan Feruci bilang Anda akan membantuku mempersiapkan perangkap untuk misi di kapal."
Ades terkekeh, suara tawanya terdengar seperti dawai harpa yang dipetik lambat. Ia mengulurkan tangannya yang lentik, menyentuh dagu Gore dan memaksanya menatap matanya yang dalam. "Feruci terlalu formal. Panggil dia Ayah, dan panggil aku Ibu. Kita adalah keluarga sekarang, bukan rekan bisnis."
Ades melepaskan tangannya, lalu mengambil sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening kekuningan dari rak. "Aku melihat rancangan perangkap yang kamu buat di mansion Rothschild. Rantai, roda gigi, belati jatuh... itu sangat kreatif untuk anak seusiamu. Tapi, Gore, di dunia nyata, musuhmu tidak akan berdiri diam menunggumu menjatuhkan besi di atas kepala mereka. Jika belatimu meleset satu inci saja, mereka akan berbalik dan merobek lehermu."
Ades meletakkan botol itu di depan Gore. "Ini adalah racun saraf turunan dari ekstrak Atropa belladonna yang sudah aku modifikasi secara spesifik. Cukup satu tetes di ujung paku, atau pada kawat berduri yang kamu pasang. Manusia yang terkena tidak akan langsung mati; saraf mereka akan lumpuh dalam waktu tiga puluh detik, membuat mereka merasa seolah-olah tubuh mereka membeku dari dalam saat mereka masih sadar sepenuhnya. Kamu suka melihat mereka menderita tanpa bisa bergerak, kan?"
Gore menatap botol itu, binar ketertarikan yang murni mulai muncul di mata miliknya. Dan entah sejak kapan, otak miliknya mulai bekerja keras; mengirim instruksi kepada mulut untuk mengeluarkan pertanyaan.
"Bagaimana jika target memiliki pertahanan khusus? Seperti... kemampuan untuk memblokir pendekatan fisik?" Mendengar pertanyaan sendiri, Gore langsung menutup mulut. Dia mungkin sudah kelewat berani dengan langsung berbicara seperti itu di hadapan ahli racun seperti Ades. Namun, setelah membaca beberapa berkas yang diberikan Feruci malam sebelumnya, dia menemukan beberapa hal menarik dan ingin mengetahui cara untuk melakukan perlawanan layaknya seorang profesional.
"Maka kamu tidak perlu mendekat," Ades membungkuk, wajahnya yang tersenyum cantik itu begitu dekat hingga Gore bisa mencium aroma parfum mawar hitamnya yang pekat. "Gunakan zat kimia yang bisa menguap. Atau buat perangkap mekanis yang dipicu oleh gerakan mereka sendiri sebelum mereka menyadari bahaya. Sifat kimia tidak peduli pada kemampuan sihir atau pertahanan fisik selama partikelnya berhasil masuk ke sistem pernapasan atau pori-kulit mereka. Belajarlah untuk menjadi seperti laba-laba, Gore. Tetap diam, biarkan jaringmu yang bekerja, dan tonton mangsamu meronta sampai habis energinya."
Ades menegakkan diri sebelum kembali melempar lengkungan maut di bibirnya. “Sangat menarik dan menyenangkan bukan?”
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan itulah yang mengawali perjalanan panjang Gore untuk mempelajari banyak hal.
Selama dua minggu berikutnya, ruang bawah tanah itu menjadi ruang kelas bagi Gore. Di bawah bimbingan Ades, ia tidak hanya belajar tentang jenis-jenis racun mematikan, tetapi juga cara mengekstrak bahan kimia sederhana yang bisa ditemukan di tempat umum menjadi bahan peledak tingkat tinggi. Ia menemukan bahwa otaknya yang jenius dalam kalkulasi spasial sangat sinkron dengan presisi formula kimia. Ini menyenangkan, pikirnya.
Selagi Ades berbagi pengetahuan mengenai dunia kimia, Feruci justru membuka jalan baginya ke dalam jaringan gelap dunia bawah.
Jika siang hari dihabiskan untuk meracik senyawa kimia, maka malam hari digunakan Feruci untuk memanggil putranya itu ke dalam ruang kerja pribadinya. Feruci mengajari Gore cara meretas saluran komunikasi terenkripsi; membaca sandi-sandi pembunuh bayaran internasional; dan bergerak di dalam dark web tanpa meninggalkan jejak digital. Kemampuan teknologi yang begitu sarat atas pemahaman mendalam dan juga analisis tinggi. Dan sangat sesuai untuknya.
"Gore," kata Feruci pada suatu malam, saat mereka sedang memantau pergerakan kapal Prince Carol melalui radar satelit ilegal. "Ada satu aturan penting selama kamu berada di kastil ini sebelum keberangkatan: kamu tidak boleh menampakkan dirimu di depan Mona dan Levi."
Gore mendongak dari laptopnya. Dia ingat jelas kalau Feruci juga membicarakan hal terkait dua minggu lalu saat informasi mengenai misi exclusive untuk dirinya ini kali pertama diungkapkan. Meski dirinya menahan mati-matian, kalimat itu meluncur begitu saja. “Soal itu lagi? Kenapa? Apa karena kemampuanku tidak sebanding dengan mereka berdua yang mengurusi tugas lapangan?”
Terdengar berani, namun itu semua hanyalah topeng rapuh yang masih digunakan oleh Gore untuk menyembunyikan sisa keberadaan Edmond dalam dirinya. Apakah aku sebegitu kurangnya? Pikiran frustasi itu entah sejak kapan sudah menariknya jauh ke rengkuhan tanpa cahaya harapan.
"Hooo~ Santai, Nak," Feruci menuangkan minuman ke gelasnya sendiri sambil tersenyum mendengar kalimat Gore yang sarat akan rasa frustasi. Perasaan Putus Asa yang begitu nikmat. "Kau tau, aku justru berpikir akan hal sebaliknya. Mahir dalam hal mekanisme, tenang dalam menanam perangkat pembunuh? Kau punya bakat alami dan dengan senang hati akan ku asah sampai kamu bisa menjadi permata di kegelapan ini, Nak."
Semua itu terdengar seperti pujian pada permukaan, namun jangan lupakan satu hal. Yang berdiri di hadapannya bukanlah manusia biasa. Dia adalah Lucifer. Malaikat rupawan dengan senyuman picik dan siap sedia menyeretmu ke dalam lembah penuh dosa tanpa siapapun sadari hanya dalam satu kedipan mata. Dan untuk membuktikan dugaan Gore, Feruci menunjuk ke arah koridor luar yang gelap dengan seringai penuh kilatan bersemangat.
"Jika kamu tidak bisa menyembunyikan keberadaanmu dari dua kakak perempuanmu sendiri di dalam kastil ini, kamu tidak akan pernah bisa menyembunyikan dirimu dari agen-agen di atas kapal pesiar itu. Anggap ini sebagai permainan petak umpet. Jika mereka menangkapmu, aku tidak menjamin mereka tidak akan mematahkan beberapa tulangmu sebagai salam kenal. Kujamin, kamu tidak pernah menemukan permainan yang penuh akan debaran seperti ini kan, Nak?"
Sejak hari itu, kehidupan Gore di kastil berubah menjadi misi infiltrasi domestik yang intens. Ia harus menghafal setiap jadwal pergerakan Mona dan Levi, maupun penghuni lainnya. Ia tahu bahwa Mona biasanya akan berada di ruang latihan fisik dari jam delapan pagi hingga tengah hari, menghancurkan samsak pasir atau berlatih tanding dengan para pelayan hingga koridor berbau darah. Sementara Levi akan berada di tempat lain …dengan urusan yang tidak ingin dicatat oleh Gore secara mendetail.
Gore belajar untuk bergerak seperti bayangan. Ia menggunakan kemampuan spasialnya tentang lantai batu kastil yang berongga untuk menghindari area yang bisa menimbulkan suara deteksi. Ia merayap di balik gorden Aula Utama saat Mona lewat dengan napas terengah-engah dan kapak besar yang diseret di atas lantai, meninggalkan goresan panjang yang mengerikan.
Ia bersembunyi di dalam celah sempit di balik patung zirah kuno ketika Levi berjalan melintas sambil bersenandung kecil dengan senyuman ceria yang menunjukkan bahwa dirinya baru saja menghabiskan korban terbaru dan akan menambahkannya ke dalam daftar koleksi pribadi di kamar. Ada kalanya jantung Gore berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya akan memicu insting predator kedua kakaknya.
Sampai di suatu sore, ia hampir saja berpapasan dengan Mona di koridor perpustakaan. Reflek yang sudah terlatih dalam beberapa waktu belakangan membuat Gore menjadi begitu lihai guna mencari celah bersembunyi. Hanya saja …
Mona berhenti sejenak, hidungnya mengendus udara seperti serigala yang merasakan aroma asing. Gore menahan napasnya di balik lemari buku besar, tangannya mengepal erat pada botol racun saraf di sakunya—hanya untuk jaga-jaga. Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu keabadian, Mona mendengus sebal dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan kecurigaan atas keberadaan asing yang mungkin sudah mengintai dirinya dalam beberapa waktu belakangan ini.
Dari sudut-sudut persembunyian beberapa hari itu, Gore memperhatikan mereka.
Dari POV-nya yang terasing, ia menyadari sesuatu: Mona dan Levi bukan sekadar pembunuh yang kejam.
Mereka adalah produk dari lingkungan ekstrem yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mona memiliki bekas luka yang tak terhitung jumlahnya di punggung dan
lengannya—sisa-sisa dari hukum rimba yang mengharuskan dia menjadi yang terkuat untuk tetap hidup.
Levi memiliki tatapan mata yang kadang berubah menjadi sangat kosong dan dingin—sebuah kekosongan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang memang sedari awal sudah dipenuhi oleh kegelapan dalam pikiran; jiwa; serta raganya.
Di balik keraguan dan rasa asingnya, secercah rasa hormat yang aneh mulai tumbuh di dalam hati Gore. Mereka semua di kastil ini adalah makhluk-makhluk yang rusak. Orang-orang yang telah dibuang oleh dunia normal dan memilih untuk membangun dunia mereka sendiri di dalam kegelapan. Dan untuk pertama kalinya, Gore merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia memiliki tempat di antara pecahan-pecahan kaca ini.
༒• ༒•𝕳•༒□•༒
Akhirnya tiba. Misi di kapal pesiar Prince Carol atau yang juga menjadi sebuah pembuktian yang sunyi bagi dirinya.
Ketika kapal pesiar mewah itu membelah lautan dingin di dekat Glesier Hubbard, Gore sudah berada di sana selama tiga hari sebagai hantu yang tak terlihat. Menggunakan identitas palsu sebagai asisten staf teknis kapal yang ia retas sistemnya seminggu lalu, ia bergerak di koridor-koridor bawah, di ruang mesin yang bising, dan di celah-celah langit-langit ventilasi. Dia memanfaatkan semua celah untuk memastikan keberlangsungan misi.
Ia tidak pernah menampakkan dirinya di depan Feruci, Ades, Mona, atau Levi yang naik sebagai penumpang kelas satu yang elegan. Namun, seluruh pergerakan faksi tersebut berada di bawah kendali jemarinya.
Dari semua skenario yang ada, mungkin ini adalah rangkuman singkat atas tindakannya. Gore adalah dalang pemicu katup palsu di ruang bawah kapal, menciptakan skenario ‘kebocoran gas metana’ yang membuat ribuan penumpang panik dan berlari ke lapangan terbuka di atas dek. Taktik itu memisahkan target utama dari kerumunan pengawal mereka.
Gore pula yang berdiri di dalam kegelapan kamar Alice ketika keributan pertama terjadi di bar. Ia tahu dari data yang ada bahwa Alice memiliki kemampuan cozy coffin—sebuah perisai tak kasatmata yang akan meremukkan siapa pun yang mendekat dalam radius tiga meter. Bertarung secara langsung dengannya adalah bunuh diri. Siapa sangka pertanyaan asal itu justru beneran terjadi skenarionya di saat seperti ini. Gore tersenyum sendiri mengingat kembali percakapannya dengan Ades saat belum lama menginjakkan kaki di Rumah Dosa.
Oleh karena itu, Gore datang lebih awal. Tiga jam sebelum Alice mengunci diri di kamar, Gore telah menyusup lewat saluran ventilasi; memasang mekanisme jebakan kecil di balik saklar lampu utama dan melumuri gagang pintu bagian dalam dengan racun saraf modifikasi Ades.
Ketika Alice masuk ke kamarnya dengan panik dan mengaktifkan kemampuan cozy coffin-nya, ia mengira dirinya aman dari segala serangan fisik. Namun, saat tangannya reflek meraih saklar untuk menyalakan lampu dalam kegelapan, sebuah jarum mekanis kecil yang dipicu oleh tekanan saklar melesat keluar dari celah dinding, menusuk kulit lehernya.
Jarum itu berada di dalam radius perisainya sejak awal, terpasang sebelum perisai itu diaktifkan. Sifat kimia racun Ades langsung menyebar, melumpuhkan sistem saraf Alice dalam hitungan detik hingga ia jatuh berlutut, tidak bisa bernapas, dan mati dalam keheningan total tanpa sempat melakukan perlawanan fisik sedikit pun.
Gore melangkah mendekati jasad wanita itu setelah perisainya runtuh bersamaan dengan hilangnya kesadarannya. Dengan ekspresi tenang dan efisien, ia mengambil ponsel Alice, menduplikat seluruh data markas rahasia Rothschild, mematikan pelacak GPS-nya, lalu memotong salah satu jari tangan Alice untuk digunakan sebagai kunci biometrik akses masa depan. Semuanya dilakukan tanpa sebutir pun peluru yang ditembakkan.
Selamat nona. Kamu adalah korban pertamaku dalam misi resmi. Selamat Malam.
...
Sekarang, mari kita intip koridor tengah yang keadaannya sudah berlumuran darah segar setelah pembantaian massal yang dilakukan oleh Mona dan Levi. Di tengah-tengah estetika yang mengelupas ngeri itu, Gore berjalan dengan langkah yang kelewat santai. bajunya bersih total, tidak ada setitik pun noda merah yang menempel. Kontrasnya luar biasa apabila dibandingkan dengan pemandangan hancur di sekeliling dia.
Mona dan Levi yang lagi bersandar pada Ades dalam kondisi babak belur—letih sehabis bermain dengan sisa-sisa pengawal terakhir—menoleh reflek waktu rungu mereka menangkap dersik langkah kaki. Mereka tidak terlihat panik; mengingat reaksi kedua orang tuanya justru terlihat begitu santai dan penuh akan senyuman tersirat.
“Alice memiliki kemampuan khusus yang tidak ada satu orang pun bisa mendekatinya dalam radius tiga meter,” suara itu memecah keheningan malam yang bercampur aroma anyir di sekitar mereka. “Dia mengaktifkan kemampuan itu sudah sejak keributan penumpang kapal pertama terjadi di bar; kemudian mengunci dirinya di kamar sendiri,”
suara Gore terdengar dari arah lain koridor tempat mereka semua kini berkumpul. Nadanya datar, penuh kalkulasi dingin yang membuat roma meremang.
Tidak ada yang memberikan respon selain Mona. Gadis itu memicingkan matanya dan menatap Gore dari ujung kaki ke kepala dengan pandangan yang sulit untuk ditangkap; apakah itu murka? Kesal? Atau kekaguman? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti, namun anggap saja yang kedua. Pilihan paling netral…
“Jadi, kamu yang menghabisi Alice?”
“Cozy Coffin tidak bisa melindungi sang pemakai dari perangkap yang sudah ada di dalam radius jangkauannya,” Gore menanggapi sekaligus mengkonfirmasi secara implisit pertanyaan Mona. Salah salah satu tangannya mengangkat ponsel milik target, yang kini layarnya berkedip, menampilkan deretan indikator penting yang sudah berhasil diduplikasi olehnya.
.
.
.
.
.
.
Di tengah atmosfer yang pekat oleh aroma kematian dan sisa pertikaian di atas dek kapal, Gore resmi diperkenalkan sebagai anggota baru sekaligus putra bungsu dalam keluarga tersebut. Kehadirannya langsung memicu respons dinamis dari lingkungan barunya. Alih-alih merasa asing, Gore menunjukkan kompetensi dan kontribusi besarnya melalui rencana taktis yang matang—mulai dari infiltrasi senyap hingga pemasangan peledak massal yang siap menenggelamkan kapal beserta seluruh bukti di dalamnya.
Di balik pembawaannya yang tenang saat menghadapi interaksi di sekitarnya, terdapat gejolak batin yang mendalam di dalam diri Gore. Sebagai seorang keturunan Rothschild yang menyimpan rahasia gelap dan identitas asli yang akhirnya terungkap, ia sempat dihadapkan pada situasi yang menguras isi kepalanya. Terlebih ketika ia harus merespons rentetan pertanyaan personal tak terduga yang mengarah kepadanya.
Namun, di tengah hiruk-pikuk dan desakan tersebut, kecamuk di dalam diri Gore perlahan mulai mereda. Muncul sebuah titik terang di mana ia mulai mengerti dan menyadari bahwa lingkungan yang brutal, penuh rahasia, namun memiliki keterikatan yang kuat inilah yang memang sebenarnya ia inginkan selama ini. Penerimaan implisit ini ditutup dengan sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna di akhir konfrontasi.
.
.
.
.
Kejadian inilah yang menjadi tonggak perubahan dalam diri Gore yang sudah menghabiskan waktu beberapa saat menetap di kediaman keluarga dosa. Apa yang dirasakan olehnya? Di dalam dada Gore, getaran yang semula membawa rasa tremor ataupun penyesalan, kini tak lagi ditemukan.
Kebisingan Levi yang berteriak protes karena dikatai bodoh dalam bahasa Latin; sahutan ketawa sinis Mona; kekehan sensual Ades, sampai usapan tangan Feruci di puncak kepalanya, entah bagaimana... rasanya mulai terdengar seperti melodi rumah yang menyenangkan baginya.
```
༒• ༒•𝕳•༒□•༒
Satu minggu setelah insiden kapal Prince Carol, markas rahasia keluarga Rothschild di Glesier Hubbard telah sepenuhnya dikosongkan dan diambil alih oleh Keluarga Dosa. Semua aset finansial; cetak biru teknologi; hingga jalur logistik hitam mereka kini berada di bawah kendali The Seven Sins Family.
Malam itu, di ruang kerja yang lama, keheningan kembali bertahta. Feruci sedang duduk di kursi besarnya, sementara Ades berdiri di dekat jendela, memandang keluar ke arah hutan kabut yang mengelilingi kastil.
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan besar. Gore masuk. Ia tidak lagi mengenakan pakaian kaku dari masa lalunya, melainkan kaos kasual hitam dengan lengan pendek, menampilkan beberapa bekas luka goresan ringan akibat pemasangan bom di kapal.
Ia berjalan lurus menuju meja kerja, lalu meletakkan sebuah koper perak kecil berisi seluruh salinan enkripsi jaringan data dunia bawah Rothschild yang baru saja selesai ia rapihkan selama tiga hari terakhir tanpa tidur.
Feruci melihat koper itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Gore. Senyum ramahnya masih ada, namun kali ini ada semacam rasa penasaran yang lebih dalam di balik matanya. "Misi pertamamu selesai dengan hasil yang... terlampau sempurna, Gore. Kamu menghancurkan dinasti lamamu tanpa menyisakan ruang bagi dunia untuk mencurigai keberadaan kita."
"Itu bukan dinasti lamaku," jawab Gore, suaranya tidak lagi memiliki nada tremor atau keraguan seperti malam pertama ia datang. Suaranya dingin, mantap, dan tajam. "Itu hanya sekelompok orang asing yang kebetulan berbagi DNA denganku. Dan sekarang mereka sudah tidak ada."
Ades berbalik dari jendela, melangkah mendekati Gore dengan penuh keanggunan, lalu meletakkan tangannya di atas kepala kuning bocah itu; mengelus surainya dengan lembut. "Kamu bekerja sangat keras, Sayang. Bahkan Mona dan Levi tidak berhenti membicarakan caramu meledakkan kapal itu sepanjang perjalanan kembali. Mereka sepertinya sangat menyukaimu."
Gore tidak menghindari sentuhan Ades kali ini. Ia membiarkan tangan dingin wanita itu berada di kepalanya; sebuah penerimaan pasif yang menunjukkan bahwa pertahanannya telah runtuh di tempat yang tepat.
Feruci menopang dagunya, menatap Gore dengan binar mata yang seolah bisa menembus tengkorak anak itu. "Jadi, katakan padaku, Gore. Bagaimana rasanya sekarang? Kamu sudah melewati ujian pertamamu. Kamu sudah melihat dunia bawah yang sesungguhnya. Apakah kamu masih merasa asing di kastil ini? Apakah kamu masih mencari kompas moral atau jaminan keselamatan?”
Gore diam sejenak. Ia melihat ke sekeliling ruangan—ke arah patung zirah yang sering ia gunakan untuk bersembunyi, ke arah peta-peta laut yang kini ia pahami jalurnya, dan terakhir …ke arah sepasang monster di depannya yang sekarang ia panggil Ayah dan Ibu.
"Aku sudah memikirkan banyak hal selama ini," kata Gore, matanya menatap lurus ke dalam manik biru Feruci. "Di tempat lamaku, hidupku berharga karena ada orang lain yang memberinya nilai. Ayahku memberi nilai berdasarkan kesuksesan finansial, ibuku memberi nilai berdasarkan reputasi sosial. Ketika mereka mati, nilai itu hilang, dan aku sempat mengira aku tidak punya apa-apa lagi."
Gore menyilangkan tangannya di depan dada, seulas senyuman kecil—senyuman sinis, cerdik, dan sedikit licik yang sangat mirip dengan senyuman Feruci—mulai terbentuk di sudut bibirnya.
"Tapi sekarang aku paham. Aku tidak butuh jaminan dari siapa pun. Aku tidak mau makna hidupku dikasih atau ditentukan oleh orang lain lagi. Aku mau memilih tujuanku sendiri, merakit perangkapku sendiri, dan menentukan siapa yang pantas masuk ke dalamnya. Biarpun pilihan itu buruk di mata dunia normal, biarpun itu membawaku makin dalam ke dalam neraka …aku yang memegang kendalinya."
Feruci terdiam sejenak, lalu tawa rendahnya mulai keluar, tumbuh menjadi tawa lepas yang bergema memenuhi seluruh sudut ruangan. "Jawaban yang luar biasa, Gore," Feruci menegakkan tubuhnya, matanya berkilat berbahaya.
"Tapi biarkan aku bertanya satu hal lagi. Di keluarga ini, kita bergerak berdasarkan keinginan kita masing-masing. Tidak ada jaminan loyalitas yang mutlak di antara kita. Jadi... bagaimana jika suatu saat nanti, pilihan yang kamu ambil dengan kebebasanmu itu membuatmu berbalik melawan kami? Bagaimana jika suatu hari perangkapmu diarahkan ke leherku atau leher Ades?"
Ades tidak terkejut mendengar pertanyaan suaminya. Ia hanya tersenyum menggoda, menanti reaksi dari putra ketiga mereka.
Gore tidak berkedip. Ia tidak mundur satu langkah pun. Ia justru menimpali tatapan Feruci dengan keberanian mentah seorang master strategi yang tahu bahwa masa depan adalah lembaran tak pasti yang bisa dimanipulasi.
"Itu adalah masalah untuk Gore di masa depan," jawab Gore dengan intonasi yang sangat ringan, mengutip kembali esensi kalimat yang pernah digunakan Feruci untuk menampar kewarasannya. "Untuk sekarang, hidup di tempat tanpa jaminan dan penuh bahaya seperti ini... bukankah jauh lebih menyenangkan?"
Feruci berhenti tertawa. Ia menatap Gore selama beberapa detik dalam keheningan yang intens, sebelum akhirnya mengangguk dengan kepuasan yang murni. "Ya. Sangat menyenangkan."
Malam itu, ketika Gore berjalan keluar dari ruang kerja menara dan turun kembali menuju koridor tengah kastil, suasana di sekitarnya terasa berbeda. Bau besi tua, anyir, dan kelembapan batu tidak lagi terasa mencekam atau asing di indra penciumannya. Tempat ini tidak lagi terasa seperti sebuah tempat persinggahan sementara atau sangkar baru yang mengerikan.
Dan kali ini, langkah kakinya tidak lagi meragu. Ia berjalan menuju kamarnya sendiri di dalam kastil itu dengan kepala tegak. Di dalam lingkaran setan ini; di tengah-tengah para pendosa yang tidak menjanjikan apa pun selain kebebasan dan kekacauan; hantu bernama Bephelgore akhirnya menemukan satu hal yang paling berharga: sebuah rumah yang benar-benar rumah.
---
Commission Story Written by Annie Kaslana on Facebook



Comments