top of page

Hari Kasih Dua Sejoli

  • Zira Kay
  • Feb 15, 2025
  • 6 min read

 

Bisik Rayu Nona

untuk Tuan tanpa Hati




Untuk tuan yang mencinta sang nona peramu racun, Feruci. 


Dari nona yang akan mematikan sang tuan, Ades. 


Hadiah kasihmu sudah kuterima dengan baik, Tuan iblis. 


Cukup mengejutkan untuk dapat sebuah kado di saat hari kasih akan segera berakhir, sejujurnya. Tadi aku sedang beristirahat usai mengurusi para klien yang tidak ada habisnya meminta untuk dipuaskan, lalu pelayan manisku tiba-tiba menginterupsi dan berkata bahwa ada paket yang diantarkan langsung ke sini. 


Aku sudah memiliki firasat kalau kiriman itu pasti darimu, dan ternya firasatku langsung divalidasi setelah melihat isi kirimannya. 


Tiga belas hati dalam kondisi prima, huh? Kalau ini adalah kiriman dalam rangka perayaan hari kasih yang mereka sebut sebagai valentine, maka ku akui kalau kamu—tuan iblis yang nantinya mati di tanganku—cukup manis dalam urusan ini. 


Kirimanmu itu menjadi penutupan fantastis untuk hari kasih yang tidak ada istimewa nya sama sekali. Namun sangat disayangkan karena aku tidak berkesempatan untuk bertemu denganmu. Ya, mau bagaimana pun aku memang tidak bisa sebebasnya bertemu banyak orang hari ini. Bahkan untuk sekadar pulang ke rumah saja aku harus berpikir ratusan kali saking berisiknya lisan para klien dari sejak pagi.


Aku yakin (dan kupastikan), jika aku berkesempatan bertemu denganmu, aku akan menancapkan pisau yang sudah dibalut racun tepat di jantungmu sebagai ucapan terima kasih. Siapa tahu aku beruntung, kan? 


Sayangnya hal seperti itu hanya ada di imajinasiku saja (untuk saat ini) karena hari kasih tidak jadi hari berlibur untuk orang dunia bawah seperti kita. Oleh karena itu aku menulis surat untuk menyampaikan terima kasihku padamu. 


Terima kasih, Feruci


Kirimanmu menjadi bahan baruku untuk bersenang-senang, walau kau tahu yang paling menyenangkan bagiku adalah membunuhmu. Akan tetapi, aku akan memastikan seluruhnya diolah dan digunakan tanpa ada yang tersisa. Kalau kau ingin melihatnya atau memberi celah biar aku bisa mencoba membunuhmu lagi, mampirlah kemari. Siapa tahu aku bisa menyiapkan ‘teh’ yang luar biasa untukmu. 


Oh, atau kau ingin pertunjukan yang luar biasa, Tuan iblis? Aku juga bisa menyiapkannya untukmu. Namun anggap saja hal itu untuk merayakan ‘valentine’-nya manusia yang tertunda. 


Kau tidak perlu repot-repot membalas surat ini. Jika memang benar salah satu dari tulisanku memikat engkau yang seharusnya tidak berhati, segera saja hampiri aku atau undang aku. Sampai jumpa nanti, ‘Suami'-ku.

 



 

Belati Menggaung Cinta

Kala Riuh Membisu


Mulanya rembulan hanya menuntun tuan dan nona bersua pada mimpi buruk sang insan. Namun ternyata semesta meminta mesra pada kisah rayu-merayu milik mereka. 


Di malam kelima belas milik bulan purnama kedua—yang menjerit sebab dibuat jera oleh kemauan manis manusia—tuan dan nona menunjukkan presensinya di tengah bisunya balai riung. 


Duga-menduga sang tuan mengambil alih satu malam biar sejenak dunia atas serasa milik mereka, sehingga kini balai riung dirias sesuai apa yang dicinta oleh nona nya. 


Sejenak, manik elok keduanya bersua seakan telah hanyut pada tirta yang menggiring ke alam mimpi—sampai akhirnya tuan bersuara yang terkesan merayu di dekat telinga nona, 


“Selamat datang pada jamuanku, Laba-laba kecilku.” Kasih digemakan menggelitik atma yang tengah tenang, buat nona hanya melengkungkan bibirnya ke atas tanda ia menikmati undangan sang tuan. 


Lembut, tetapi tegas, pinggang ramping nona disentuh dengan tangan yang telah dicap cendala usai berdarah merah campur abu-abu sang dosa. Sambil berpura-pura ahli soal cinta-mencinta, tuan yang diketahui Feruci sebagai jenama nya kembali berbisik di telinga istrinya, 


“Tiga belas hati yang kuberikan bukan apa-apa,” jeda sejenak digantung di udara. Suara musik telah terdengar buat keduanya mulai berdansa hanya berdua tepat di tengah kosongnya balai riung. “... Yang akan kuberikan sebagai perayaan hari kasih ada pada malam ini,” lanjutnya. 


Nona diputar mengikuti irama dan musik yang saling mencumbu, tetapi senyum masih di sana tampak menantang. “Oh, benarkah? Aku penasaran suamiku ini ingin memberikan aku apa,” balas si nona. 


Diketahui Ades sebagai jenama nya, lalu istri sebagai status yang tertali dengan tuannya, ia adalah rahasia malam milik kupu-kupu yang didamba oleh jutaan tuan-tuan bodoh di luar sana. Beruntungnya, sekali lagi beruntungnya, ia mendapat tuan yang cerdasnya di luar nalar sebagai lawan yang sepadan. 


“Mari berdansa lebih dahulu, Nona-ku.”


Terkekeh geli mendengar ujar sang tuan, Ades menjawab sambil jari-jemarinya membelai pipi Feruci. Sedikit dirasa kukunya mencakar pelan sang kulit. “Jadi malam ini aku adalah ‘Nona’ dan kau adalah ‘Tuan’, begitu?”


Senyum sebagai balas, Feruci menyentuh jari-jemari istrinya yang mencakar. “Begitu.”


Lantas, tidak ada lagi bisikan rayu-merayu setelahnya. Keduanya hanya terpaku pada bagaimana manis dan misteriusnya pasangan mereka sementara musik masih lanjut sampai dansa selesai. 


___________________________________



Telah berakhir sesi berdansa penuh gairah milik tuan dan nona. Kini, sebagai penutupan, lentik jari sang nona dibubuhkan kecup singkat untuk membahagiakan hati. Usainya, manik tuan melirik paras elok nona nya; mengagumi bagaimana indahnya sosok yang menjadi istri untuk eksistensinya. 


“Nona-ku,” panggilnya. Laksana penguasa kerajaan pada abad-abad sebelumnya, Feruci patuh dan memujanya sebagai ratu malam ini. “Izinkan aku memberi ini sebagai perayaan valentine kita.” Tangan kosong ia tunjukkan di depan Ades, sebelum tak lama sebuah benda hadir di sana. 


Sebuah belati. 


Ades yang melihat hal itu mengukir senyum penuh arti. Matanya tampak begitu bergairah; seakan ia mengerti ke mana kiranya sang suami akan membawa malam kali ini.


“Usai memanggilku dengan sebutan ‘Nona’ seperti pangeran suci di negeri dongeng, sekarang kau memberikanku belati,” ujarnya. Tak lama, kekeh yang menunjukkan bahwa dirinya merasa impresif dilontarkan, “Kau benar-benar ingin membuatku bersenang-senang, huh?”


Perkataan Ades membawa seringai kecil di wajah Feruci. “Benar. Malam ini, aku ingin ‘Nona'-ku bersenang-senang sampai puas.”


“Apa yang kau maksud ‘bersenang-senang’ pada malam ini, lebih spesifiknya?”


Oh, astaga, Nona. Aku tahu kau sangat tahu apa yang kumaksud. Lagipula, kapan lagi aku akan memberikan akses semudah ini?”


Dibuka telapak tangan sang nona, diletakkan belati indah itu di sana. Setelahnya, jari-jemari si nona digunakan untuk menjaganya aman di tangan. 


“Namun yang harus kamu ketahui, belati itu hanya belati biasa. Itu saja,” tambahnya sementara Ades masih diam mencoba mencerna apa yang baru saja diberikan oleh suaminya. 


Sungguh ia tidak menyangka bahwa malam ini suaminya akan menghadiahkannya sebuah belati untuk mencoba membunuhnya lagi. Secara tidak langsung, ia memberinya kesempatan lain yang persentase berhasilnya lebih besar. 


“Apa kau akan menghindar?” tanya Ades. 


“Menghindar bagaimana, tepatnya?”


“Menghindar. Entah bagaimana, intinya menghindar.”


“Oh,” jeda sejenak untuk tertawa, Feruci mengarahkan tangan sang istri yang memegang belati itu mendekat ke arah lehernya. “Cobalah,” katanya. 


“Apa?”


“Cobalah, lalu lihat. Apakah aku akan menghindar?”


Lantas tanpa sebuah jeda apa-apa lagi, Ades menggores leher suaminya menggunakan belati yang diberikan. 


Srak.


Tidak bergerak. Diam seperti patung seakan goresan tadi bukanlah apa-apa. Darah mengalir dari sana, sedangkan sang empunya daksa hanya tersenyum seakan nona nya baru saja jatuh pada permainannya. 


“Lihat? Aku tidak menghindar.”


“Kau—” Ades mengerjapkan mata bingung. “Apa kau benar sudah lelah dan ingin mati saja? Makanya kau biarkan aku membunuhmu malam ini.”


Mendengar ujaran konyol istrinya, Feruci tertawa sebentar, lalu menyeringai. “Tunggu, apa kamu benar-benar berpikir dengan belati ini aku akan mati?”


“Apa?”


Digenggamlah tangan nona yang masih memegang belati. Parasnya dengan paras sang istri didekatkan dan dipertemukan sampai kening dan hidung bersentuhan. Lalu, dengan penuh ketegasan, bibir yang jadi tempat keluar masuknya ucap rayu-rayu itu mencumbu bibir manis sang nona. 


Hitungan satu sampai sepuluh menjadi hitungan mesra untuk dua insan yang bercumbu, sebelum akhirnya Feruci memisahkan bibir mereka dan menatapnya dalam. “Namun, kalau memang kau berhasil malam ini, kau patut diberikan titel ‘Istri Terhebat’ yang sebenarnya di dunia ini,” ujarnya. 


Feruci membawa tangan itu mendekat ke arah di mana jantungnya berada, lalu melirik pada manik Ades yang tampak bingung tetapi juga gugup. Bukan, bukan gugup karena takut. Akan tetapi gugup karena saking gembira dan tidak sabarnya dia. 


“Kau berkesempatan pada malam ini, Ades,” finalnya. 


Ades—jenama nona yang begitu menunggu mati suaminya di tangannya—tampak memegang belati itu erat-erat. “Feruci … kau benar-benar penuh kejutan. Sungguh iblis yang menyenangkan hati.”


“Begitu, kah?” Seringai ditampilkan, Feruci semakin mendekatkan tangan Ades ke bagian jantungnya. “Jadi, apa keputusanmu, ‘Nona’?”


Seakan ditantang, Ades menyeringai. Kini, rasa gembiranya yang tak terbendung terlihat jelas di mata Feruci. Bahkan perempuan itu sampai tertawa hampir terbahak-bahak seperti orang gila yang baru saja memenangkan sesuatu. 


Jantungnya sangat berdegup kencang. Bisa-bisa dirinya juga ikut meledak karena saking senangnya ia. Dengan mata penuh determinasi dan kesenangan, Ades mendorong Feruci kuat sampai mentok di dinding balai riung. 


Tidak ada orang di sini, tidak ada sama sekali. Hanya ada mereka berdua yang sama-sama gila dalam permainan cinta dan rumah-rumahan buatan mereka. 


“Masa bodoh bagaimana hasilnya, yang terpenting, ini kesempatanku!” Menggema suaranya. Buat Feruci sempat untuk bertepuk tangan atas antusias istrinya. 


“Kalau begitu, selamat hari kasih, Ades.


Dan yang perlu diketahui hanya satu; yakni keduanya sama-sama menggila dalam permainan yang mereka ciptakan berdua.






Commission Story Written by Zira Kay on Facebook / @urbluemint on X

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page