Hawa Pantang Kerendahan, Nafsu Pantang Kekurangan
- Khairunnisa Han
- Apr 11, 2025
- 11 min read
Orang-orang bilang, hidup itu tentang memilih—tapi tidak semua orang bisa memilih keluarganya. Mungkin bisa saja, nyatanya kesempatan yang datang pada tiap orang tidak akan sama. Gore, boleh jadi beruntung dalam memilih keluarganya, boleh juga tidak. Agaknya, hal itu bukanlah sesuatu yang mudah diukur.
Setidaknya, dia tidak berpura-pura menjadi orang lain. Oh, ya, tentu saja masih jika mengingat bagaimana dinamika keluarga mereka. Entah harus disebut apa dinamika antara mereka, yang jelas bukan disfungsional. Gore tahu, mereka—termasuk dirinya sendiri—bergerak berdasarkan insting masing-masing, selama itu masih menguntungkan.
Menjadi orang lain untuk sesaat, sebagai tameng untuk melanjutkan hidup bukanlah hal yang buruk. Barangkali yang buruk adalah dirinya sendiri yang tidak punya banyak pengalaman dibandingkan dengan orang tua angkatnya atau saudara-saudaranya sekarang. Rasa tertinggal tidak mengenakkan, tapi sudahlah, Gore tidak membawanya ke dalam hati. Pun tidak tergesa-gesa mengejar pencapaian mereka.
Pengalaman pertamanya diambil oleh saudara angkatnya, Levi. Meski dia masih tidak ingin jujur tentang kenikmatan bersanggama, dia paham mengapa penghuni rumah ini begitu tergila-gila. Sekali waktu, dia bisa saja menemui orang tuanya, Feruci dan Ades, yang sedang sibuk dengan diri mereka sendiri. Hanya saja, Gore tidak terlalu bergairah mereka dalam hal itu.
Kemalasannya masih menjadi alasan utama, kalaupun ada kegiatan lain, hanyalah eksperimen-eksperimen yang diminta Feruci. Sesekali, mungkin bergerak atas keinginannya sendiri jika ada desakan. Sekarang, dia hanya berkutat dengan eksperimennya sendiri; menciptakan senjata mikro dengan racun yang sulit dideteksi. Kurang lebih, seperti racun ikan buntal—tapi Gore masih ingin lebih mematikan daripada itu.
Tanpa rasa, tanpa aroma, tanpa warna, dengan wujud yang sulit terdeteksi, dan gejala yang menggerogoti tubuh dengan pelan. Ah, penyiksaan yang lama, pelan, namun pasti itu terdengar menggiurkan—hampir saja air liurnya menetes membayangkan bagaimana manusia akan mati dengan perlahan. “Hmm,” gumamnya pelan, masih sibuk menggabungkan bahan-bahan yang dimilikinya.
Tetap saja, racun seperti itu butuh waktu untuk dikembangkan dan dia masih butuh beberapa waktu lagi untuk menunggu bahan-bahan yang diperlukan datang. Terutama racun ikan buntal dan sejumlah racun-racun yang berasal dari hewan-hewan lainnya. Artinya, dia dapat menghabiskan berjam-jam diam dalam labnya tanpa harus banyak bergerak—dan yang pasti, tidak membosankan. Masalahnya, bagaimana keluarganya ini mau menunggu hasilnya.
Banyak racun dari hewan yang sampai saat ini masih belum ditemukan penawarnya. Racun-racun seperti itu yang menarik perhatian Gore, yang akan dikembangkannya lagi supaya lebih mematikan lagi. Barangkali dia juga bisa membuat penawarnya, tapi itu tidak seberapa penting. Karena membunuh jauh lebih menyenangkan.
Lebih dari mereka semua, Gore lah yang paling tidak sabaran dengan hasilnya. “Bagaimana perkembangan racunmu?” Hari berganti, tapi pertanyaan yang datang padanya tidak pernah berganti. Feruci menatapnya dari seberang meja, tatapan yang terkadang tak ingin dibalasnya—tapi mau bagaimana lagi.
Bukan hanya Feruci, tapi semua menatapnya. Ini bukan sekadar makan malam biasa, ini adalah meja pertemuan yang lebih sering mereka gunakan untuk membicarakan misi-misi mereka berikutnya. “Masih perlu menunggu,” jawabnya; kata-kata barusan membuat makanan tidak lagi menarik. “Enggak usah parno gitu sih, entar kalo udah jadi juga gue bilang ke kalian,” lanjutnya.
“Kamu sedang memesan beberapa jenis racun, bukan? Akhir-akhir ini sepertinya banyak paket atas namamu datang,” ujar Ades. Ada benarnya, karena Gore memang mengumpulkan racun-racun itu untuk ditelitinya—boleh jadi, akan dicampurkannya nanti menjadi satu. “Hati-hati,” tambahnya, lebih sebagai kewajiban. Mungkin juga ada sedikit kekhawatiran yang tidak begitu dipedulikan.
Gore mengangguk, hanya mengamini kata-kata Ades dalam diam. “Kalau sudah jadi, mungkin aku butuh beberapa kelinci percobaan,” tambahnya. Gore bisa melihat bahwa beberapa pasang mata yang menatapnya berkilau—tentu saja mereka akan bersemangat untuk mencari mangsa. Keluarga ini memang aneh, tapi ini lah yang disebutnya rumah, dan itu tidak begitu buruk.
Kembali ke ruangannya sendiri setelah makan malam, atau pertemuan, atau apa pun itu, terasa begitu menyegarkan. Setidaknya, untuk beberapa jam sebelum matahari terbit, dia akan sendirian. Dengan begitu, dia bisa berpikir akan diapakan racun-racun yang dikumpulkan. Gore sudah familiar dengan susunan kimia beberapa racun, mungkin dia juga bisa membuatnya ulang, dan beberapa lainnya pantas untuk dicari tahu lebih lanjut. Kelihatannya, dia juga bisa mengubah bentuk beberapa racun menjadi gas—tapi itu kembali lagi pada susunan kimianya.
Gore masih tenggelam dalam pikirannya sendiri sembari mengambil duduk di pinggir kasur. Akan tetapi, sudut matanya menangkap pergerakan dari arah pintu. Seorang gadis bersandar di kusen pintu ruangannya, wajahnya seolah-olah mengejek. “Mau ngapain lo di sini?” tanyanya dengan ketus.
“Enggak ngapa-ngapain kok,” jawab anak gadis satu itu, Levi. Hobinya yang lain adalah menjahili Gore dan tentu saja, tidak pernah mendapat sambutan yang menyenangkan. “Lagian lu sendiri ngapa sih, sibuk banget kayaknya. Padahal enggak punya kerjaan kan?” Bukannya berhenti, dia justru menambah-nambahi.
Gore memutar bola matanya; mulai, pikirnya. Barangkali kalau dia bukan anak ketiga, sekaligus terakhir, dia tidak agak digoda seperti ini. Boleh jadi karena dia juga satu-satunya anak laki-laki—entahlah, perempuan terkadang menyebalkan. “Bacot. Balik sono ke kamar lo sendiri,” sahutnya.
Alih-alih pergi, Levi justru masuk makin dalam ke sarang Gore, seolah-olah sengaja memancing amarahnya. Mengambil duduk di sebelah Gore, dia justru cekikikan. “Eh tapi ya, kalo lu nanti butuh kelinci percobaan kan, berarti gua bisa nambah koleksi tangan gua dong?” tanyanya sambil bersikap seperti Gore akan menanggapinya dengan ramah. “Nanti bilangin Ayah ya kalo gue mau yang tangannya lentik gitu,” tambah Levi.
“Ngapain sih lo di sini?” keluhnya, tapi juga tidak serta-merta mengusir Levi lagi. Bagaimanapun, terkadang mereka juga dekat—saking dekatnya, Levi lah yang mengambil keperjakaan Gore. “Bilang sendiri sono, nambah-nambahin kerjaan orang aja,” sahutnya. Lama-lama, dia hanya menganggap Levi seperti serangga, nanti juga pergi sendiri.
Tapi tidak dengan Levi, karena dia masih belum selesai dengan triknya untuk membuat Gore marah. “Emang kenapa sih? Pelit banget,” sahutnya dengan nada seolah-olah merengek, ditambah dengan cemberut dibuat-buat. Levi kemudian membaringkan badannya di atas kasur Gore dengan kaki yang menjuntai di ujung kasur dan menendang-nendang udara.
Lagi-lagi, Gore mendengus mendengar balasan dari Levi. “Bacot anjing nyebelin banget lo,” umpatnya sambil berbalik arah untuk menatap Levi. Aha, sekarang dia tahu kenapa anak aneh ini terus saja menggodanya. “Mau lo apa?” tanyanya, wajahnya mendekat pada Levi. Tanpa menunggu, dia memerangkap tubuh Levi di bawah tubuhnya, mengunci kedua tangan Levi dengan cengkeramannya.
Wajah Gore yang masam itu tidak membuatnya takut, dia justru tertawa lagi. “Oh, galaknya,” goda Levi yang kemudian ditambahkan dengan sebuah cekikikan yang menyebalkan. Sebuah seringai muncul di wajahnya yang manis, tapi masih tetap menyebalkan di mata Gore dan mungkin hal itu tidak akan pernah berubah. “Tapi kayaknya, lu ngerti kan gua mau apa?” tanyanya.
Gore tidak langsung menjawab, justru berdecak—karena dia paham apa yang diinginkan oleh Levi. “Bacot,” umpatnya lagi. Kondisi mereka justru semakin mendukung apa yang dipikirkan oleh Levi. “Kenapa? Enggak puas sama kontol gue waktu itu, hah?” tanyanya dengan angkuh.
Kehidupan seksual bukan hal yang asing baginya, bahkan Levi menginginkannya seperti dia menghirup oksigen. Nadinya berdesir bersamaan dengan seringai yang lagi-lagi muncul. “Tadi di NIDUS masih belom puas soalnya,” sahutnya. Seorang nymphomaniac seperti dirinya mana mungkin akan puas hanya dengan seperti itu dan selain Feruci, hanya Gore lah laki-laki di dalam keluarga.
“Harga diri lo tinggi juga buat seorang lonte,” ejeknya. “Segala bikin gue marah padahal aslinya cuma pengen dientot aja kan?” Gore membuat gestur seakan-akan membuang ludahnya. Tapi ajakan untuk mengentot juga tidak buruk. Tampaknya, hanya dia yang tidak terlalu tertarik dengan dunia seksual dan tidak ada salahnya menerima ajakan itu—mereka juga sudah pernah melakukannya sebelumnya.
Waktu itu, performanya kurang bagus, jadi sudah saatnya balas dendam. Melihat Gore yang sudah mulai berapi-api, Levi tidak menyia-nyiakan waktu. Tangannya meraih ujung kaus pendek yang dikenakan Gore, melucutinya dengan cepat, dia sudah sangat terampil. “Katanya, kemaren yang pertama dan terakhir. Berubah pikiran?” katanya kemudian, masih sangat ingin memanas-manasi Gore.
Pertanyaan retorik itu membuat dia geram karena ada benarnya. Sebelumnya, mereka melakukan hal itu di kamar Levi, bahkan Gore bersumpah untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi kali ini, dia terperangkap di kamarnya sendiri seperti orang bodoh, bahkan sekarang sudah bertelanjang dada. “Tai lo, nyebelin banget.” Meski mengumpat, Gore mengangkat tubuh Levi dengan paksa, membawanya seperti sebuah karung beras ke kamar Levi.
Gore lantas membanting Levi di atas kasur, cukup membuat Levi kaget tapi dia justru penasaran dengan apa yang akan dilakukan Gore selanjutnya. “Sumpah, lu galak banget hari ini,” katanya—dia masih belum berhenti menggoda. Justru, Levi ingin lihat lebih banyak, seberapa kasar jadinya si pemalas ini jika terus digoda. “Tapi gua mau lagi,” sambungnya sambil mengalungkan tangan di leher Gore, menariknya lebih dekat.
“Kalo hari ini enak, gue maafin. Tapi kalo enggak, enggak ada lagi tangan buat lo,” desisnya tepat di wajah Levi. Wajah mereka begitu berdekatan hingga hidung mereka saling sentuh. Gore tidak memberikan kesempatan untuk Levi bicara, segera dibungkamnya mulut cerewet itu dengan bibirnya. Tapi Levi tidak menolak, dia justru mengamini ciuman paksa yang berusaha untuk mendominasi dirinya.
Sebelumnya, dia yang mendominasi karena Gore masih belum memiliki pengalaman. Sekarang pun, pengalamannya hanya sebatas dengan Levi saja. Tetapi kali ini, dia ingin membiarkan Gore yang memimpin permainan, barangkali lebih seru begitu. Kondisi kaos pun dapat dipikirkan nanti solusinya. Tapi untuk Levi, mengentot dengan brutal adalah tujuannya.
Tidak pakai lama, pakaian di seluruh tubuh mereka telah lucut, berganti hanya dengan kulit polos yang disapu oleh angin lembut dari pendingin udara. Lantas bibir mereka bertaut, tidak ada paksaan, justru saling berebutan siapa yang paling dominan. Levi mengalah, hanya sedikit, supaya Gore terjun bebas dalam permainan dan pada akhirnya, dia yang paling menikmati. Sementara Gore tidak hanya ingin segera mendominasi mulut Levi, tapi juga tubuhnya.
Tangan mereka giat mengeksplorasi bagian tubuh masing-masing. Tidak luput dari tangan Gore, sepasang buah dada Levi yang sintal, diremasnya sebelum akhirnya dia menemukan puncaknya. Pentil kecil berwarna merah muda itu dijepit dan ditarik, membuat punggung Levi melengkung ke atas seolah-olah mengejar kenikmatan yang sedikit menyakitkan itu. Napas Levi terkecat di kerongkongan, tidak disangka kalau Gore jauh lebih ganas dibanding sebelumnya.
Sama seperti Gore, tangannya pun tidak diam—tidak mau kalah. Jari-jemari lentiknya itu berhenti untuk menggoda kepala penis Gore yang mulai berdenyut dengan cairan pra-ejakulasi yang mulai merembes malu-malu. “Udah mulai keras ya,” bisik Levi di sela-sela ciuman panas mereka. Jari telunjuknya bergerak mengelus bagian bawah batang penis, masih menggoda setiap denyutan yang membuatnya semakin keras.
“Bacot,” balas Gore, dan dia sudah selesai dengan bibir dan mulut Levi. Sepasang bibir itu memilih untuk melanjutkan lebih bawah, mulai dari rahang hingga leher. Semuanya bukan hanya sekadar dijilat, tapi juga dilumat hingga meninggalkan bercak kemerahan. Barisan giginya juga tidak tinggal diam dan ikut melabuhkan beberapa tanda gigitan memerah di kulit jernih Levi.
Tidak ada yang mau kalah di antara mereka. Sementara bibirnya sibuk pada tubuh bagian atas Levi, tangan Gore bergerak semakin ke bawah sampai dia menemukan mons pubis yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus. Jarinya menyentuh ke bawah, menyibak labia mayora hingga akhirnya menyentuh cairan vagina yang nanti akan membantunya penetrasi. “Baru juga mulai, udah becek banget gini. Dikit banget ya klien lo itu sampe nafsuan sama gue?” ejeknya; meski begitu, Gore memasukkan satu jarinya sebagai upaya mengawali jalannya.
“Bayaran gue mahal. Jadi klien gue enggak banyak-banyak banget,” sahut Levi dengan punggungnya yang melengkung ke atas. Pinggulnya bergerak seolah-olah mengejar jari Gore di dalam lubang vaginanya. “Satu jari doang memek gua mana puas, tiga lah tiga,” tawarnya, dan Gore tidak menolak sama sekali karena ketiga jarinya masuk dengan mudah.
Melalui jarinya, dia dapat merasakan bagaimana dinding vagina Levi mencengkramnya. “Alah, paling juga lo ngasih guru-guru di sekolah gratisan,” balasnya. Mereka berdua tahu, itu tidak serta-merta gratis—karena nilai Levi selalu terjamin dan terkadang, dia juga dibayar. Tetap saja, hubungan mereka tidak akan lengkap kecuali jika mereka saling meledek satu sama lain.
Sudah cukup bagi mereka untuk pemanasan; penis Gore sudah keras dan vagina Levi sudah cukup basah untuk memulai penetrasi. Itu yang mereka lakukan, Gore segera menaruh kedua kaki Levi pada bahunya dan memulai menggoda lubang vagian Levi dengan kepala penisnya. Segera, dia mulai memainkan pinggulnya disertai oleh sebuah erangan dan desahan nyaring Levi. “Gila lu, enggak ada alus-alusnya sama sekali,” keluhnya meski tetap menggerakkan pinggulnya seirama dengan Gore.
“Gue tau lu sukanya kayak gini kan?” balasnya dengan sebuah seringai nakal. Tidak ada yang menolak, karena mereka sama saja. “Kalo suka, enggak usah banyak bacot. Nikmatin aja sekarang gue entot,” sambungnya dengan goyangan yang semakin kasar. Gore bergerak seolah-olah dia tidak peduli pada kenikmatan Levi—mungkin memang iya.
Mereka memang tidak berniat memuaskan satu sama lain, hanya diri sendiri. Tapi entah bagaimana, mereka bergerak seolah saling bekerja sama untuk mencapai puncak kenikmatan. Ruangan dipenuhi oleh aroma keringat seiring dengan naiknya tingkat kelembapan. Suara tubuh mereka yang saling berkelindan memenuhi seisi ruangan, membuat mereka tidak mendengar hal lain selain itu dan degungan pendingin udara.
Tubuh Levi seperti terlipat menjadi dua dengan kakinya yang berada di bahu Gore, sementara tangannya meremas sprei yang mulai berantakan. Kepalanya menengadah begitu Gore menyerangnya di titik terdalam, hampir menyentuh leher rahimnya, bersamaan dengan gigi Gore yang memerangkap salah satu pentilnya. Terakhir kali, Gore tidak seperti ini dan sejak kapan dia seperti ini? Apa karena dia marah? Entahlah. Tapi mereka belum selesai.
Tidak, karena Levi bukan perempuan yang mudah mencapai orgasme. Begitu pun dengan Gore, karena kali ini tampaknya sulit sekali untuk mengejar ejakulasi meski dinding vagina Levi mencengkramnya dengan erat, memberikan efek pijatan dan lumatan yang tidak dapat disangkal nikmatnya. “Gila, sempit juga lo ya padahal sering dipake. Bisa-bisa gue crot sekarang,” gumamnya, hentakan pinggulnya semakin bersemangat.
Bukan hanya itu, Gore menemukan titik lain kenikmatan Levi. Berada sedikit lebih ke atas dari lubang sanggamanya, sebuah benjolan kecil yang lebih menarik untuk digoda selain pentil payudara. Sebuah seringai muncul di wajahnya beriringan dengan jarinya yang iseng menyentil gundukan itu, klitoris. Tubuh Levi sontak mengejang, bukan main rasanya dipermainkan seperti ini.
Desahannya semakin nyaring, bersengkarut dengan suara bersatunya tubuh mereka. “Ah, ah—ha! Lagi! Enak banget, uh, cepetan gue mau keluar!” Levi berseru, suaranya seperti orang yang sedang mengigau. Tapi bukannya lebih cepat, Gore justru memperlambat genjotannya. “Buruan!” Tapi kemudian Levi sadar, kalau dialah yang mulai masuk permainan Gore.
Gore tertawa kecil, suaranya cukup rendah dengan napas yang agak tersengal-sengal. “Katanya kalo pelan gini lebih enak, cobain aja dulu,” rayunya. Semakin lama, gerakan pinggulnya justru semakin pelan, masih berusaha membuat Levi kehilangan akal. “Gimana? Gue sih ngerasanya memek lo nafsu banget nih nyedot kontol gue,” lanjutnya, disambung sebuah tawa sarkastik.
Meskipun menjengkelkan, tetap saja Gore tidak bisa menyangkal betapa lezatnya dinding vagina Levi memijat penisnya yang tegang. Rasanya dia ingin langsung ejakulasi, tapi masih ditahannya. Dia tidak boleh kalah, dong? Kalau kalah, perempuan satu itu pasti kegirangan. Masalahnya, bukan hanya Gore yang tidak ingin kalah.
Genjotan yang pelan itu membuatnya frustasi, posisinya sekarang juga tidak ideal jika ingin mengejar orgasme. Tidak mungkin seorang Levi tumbang hanya dengan satu babak bersetubuh. Sekuat tenaga, didorongnya tubuh Gore sampai mereka berbalik. Kini Levi duduk di atas perut saudara laki-lakinya itu, lepas dari genjotan pelan yang disengaja.
“Sialan, kan gua harus jadi gerak,” umpatnya. Tapi Levi segera memegang penis Gore kembali, memasukkannya ke dalam vaginanya yang kemudian membuat dirinya mengeluarkan erangan yang melengking. “Nah, gini kek dari tadi.” Levi memang menggerutu, walaupun dia justru senang sehabis mengambil alih dominasi.
Tadinya, mau dibiarkan saja Gore dengan dominasinya. Tapi dia sendiri juga ingin mengejar orgasmenya—mungkin nanti ditambah dua atau tiga babak lagi—entahlah, bisa jadi sampai fajar menyingsing. Gore mendecakkan lidah begitu tubuhnya menyentuh kasur, tetap saja tak bisa dipalingkan wajahnya dari sepasang buah dada yang berguncang di depan mata. “Serah lo, tapi harus gue akuin, tetek lo seksi juga kayak gini,” ujarnya.
Bagi Levi, tubuhnya tentu adalah kebanggaannya. Kedua tangannya menangkup payudaranya sendiri dan mulai bermain, meremas, menarik, dan memelintir pentilnya. Sementara Levi dapat merasakan tangan Gore berada di bokongnya alih-alih pinggul—sibuk meremas-remasnya. “Seksi kan?” balasnya sambil membasahi bibirnya di sela-sela desahan.
“Tai emang, gue harus ngaku kalo lo emang seksi.” Gore memutar matanya, tapi memang ada hal yang tidak bisa dielakkan. Contoh lainnya adalah betapa kenyal bokong Levi yang sedang diremasnya itu. Sebuah ide jahil muncul kembali di benaknya saat dia kembali membuat satu tangannya mencari letak klitoris Levi. “Gue mau liat lo muncrat,” desaknya.
Ajakan itu bukan hal yang mustahil. Dengan posisi seperti ini dan jemari Gore yang sudah menemukan klitorisnya, rasanya kepala Levi hampir pecah. Jantungnya berdegup kencang sementara Gore di bawah sana juga sudah mulai menggerakkan pinggul sehingga dia sekarang benar-benar mengenai leher rahimnya. Dia juga bisa merasakan bagaimana penis Gore terasa menggembung dan berdenyut lebih dari sebelumnya.
Mereka berdua tahu kalau klimaks mereka sebentar lagi. Sialnya memang, mereka terlalu bersemangat sehingga melupakan kalau mereka sedang berlomba-lomba membuat satu sama lain mencapai orgasme lebih dulu. Tidak ada yang mau kalah, pada akhirnya juga tidak ada yang menang. Gore hendak mencabut penisnya, tapi Levi justru menekan tubuh mereka untuk tetap menyatu.
“Di dalem—ah—aja,” ucapnya dengan seringaian bagai orang mabuk. Wajah mereka sudah sama-sama merah padam dan Gore tidak bisa menolak sebab maninya menyembur lebih cepat sebelum keputusannya bulat. Bersamaan dengan itu, darah di sekitar selangkangan Levi berdesir hebat, membantu merilis cairan vagina bersamaan dengan cairan yang memuncrat sampai ke wajah Gore, dan teriakan mereka berdua menggema dalam ruangan.
Tubuh Levi jatuh lunglai di atas Gore, menempel menjadi satu dengan cairan sekresi mereka yang lengket. Gore pun sibuk untuk mengambil kembali oksigen yang agaknya hilang barusan. “Kalo hamil … gue ogah tanggung jawab,” ucapnya dengan suara serak. Mungkin memang salahnya karena lupa akan kehadiran kondom, atau salah Levi, atau—entahlah, tidak ada yang bisa disalahkan.
Masalah hamil adalah masalah yang serius, tapi untuk Levi, itu bukan masalah besar. Sudah jadi kebiasaannya siap dengan hal-hal yang tak terduga. “Aman,” sahutnya dengan santai. Dia punya banyak stok pil kontrasepsi darurat. Kalaupun harus aborsi nanti, itu bukan masalah yang mustahil untuk diatasi.
Beberapa menit untuk istirahat sudah cukup untuk mereka, karena kemudian keduanya saling pandang—meski tetap sama menyebalkannya. “Apa? Belom puas lo?” tanya Gore dengan ketus, walaupun dia tidak menolak untuk menghabisi Levi sampai pagi nanti. Levi tidak langsung menjawab, tapi gerak-geriknya sudah cukup terbaca.
“Tanggung, sekalian aja creampie aja enggak sih?” Tawaran itu terdengar tidak buruk, terlebih setelah mereka berganti posisi. Levi memamerkan tubuhnya dari belakang, memperlihatkan bokongnya yang molek dengan sisa-sisa semen Gore mengintip keluar dari belahan labianya. Kedua tangannya membuka belahan bokong, semakin memamerkan vaginanya yang masih penuh.
Melihat hal itu saja sudah cukup membuat penis Gore kembali berdenyut, perlahan kembali ereksi dengan birahi yang kembali memuncak. “Bangsat, gawat juga lo ya,” gumamnya, namun tak lantas ditolaknya mentah-mentah. Waktu tidak boleh terbuang banyak, selekasnya mereka kembali tenggelam dalam birahi dan berkejaran dengan fajar yang hendak datang beberapa jam lagi.
Commission Story Written by Khairunnisa Han



Comments