Keinginan dan ikatan
- Ami Lera
- Nov 21, 2024
- 11 min read
Updated: Jan 27, 2025
Malam itu di sebuah sudut rumah keluarga Feruci, Mona berdiri di depan pintu kamar ayahnya. Langkah-langkah kakinya terdengar tanpa ragu, tapi kentara wajahnya memancarkan sesuatu yang sulit ditebak. Rautnya serius, bahkan lebih dari biasanya, seolah keputusan besar tengah diambil. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu hingga terbuka. Feruci, yang tengah menikmati secangkir teh pahit sembari membaca dokumen, mendongak dengan alis terangkat.
“Mona?” tanyanya pendek, dengan nada datar yang nyaris dingin.
“Aku ingin kau berhubungan badan denganku,” kata Mona, tanpa basa-basi.
Feruci mengatupkan rahang kaget. Tangannya yang hendak menyesap teh terhenti di udara. Dengan gerakan perlahan, pria itu meletakkan cangkirnya di meja, tatapannya menembus mata Mona. “Kenapa?”
Mona berdiri tegak di hadapan Feruci, sosoknya yang masih muda terlihat kontras dengan aura gelap yang selalu menyelimutinya. Namun, di balik keheningan dan rautnya yang dingin, ada ketegasan yang tak bisa diabaikan. Feruci, yang biasanya tak terganggu oleh apa pun, mendapati dirinya terus memandang putrinya dengan ekspresi penuh tanda tanya. Permintaan Mona barusan bukan hanya tak biasa, tetapi hampir mustahil dibayangkan.
“Mona." Suara Feruci pecah di antara keheningan. Ada ketegasan yang mencoba menutupi rasa heran di balik kata-katanya. “Apakah kau sadar apa yang baru saja kau minta?”
“Aku sadar,” jawab Mona tanpa ragu, memainkan rambutnya dengan bosan. “Aku tidak datang ke sini untuk berbasa-basi. Aku tahu apa yang kumau, dan aku tahu kau adalah satu-satunya yang bisa memberikannya.”
Feruci menyipitkan mata. “Tapi kenapa harus cara ini?” Pria bersurai biru panjang itu menggeleng pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Aku telah memberimu segalanya yang kau butuhkan—pelatihan, pengetahuan, bahkan akses ke sumber daya keluarga ini. Apa kau pikir aku akan menggunakan api neraka hanya untuk sesuatu yang bisa dicapai dengan cara lain?”
Mona melipat kedua tangannya di depan dada, gerakannya menunjukkan perlawanan. “Dan aku sudah bilang, aku tidak mau cara lain. Dunia ini penuh dengan ketidakpastian, Feruci. Bahkan peluru yang kukeluarkan dari senjata terbaik bisa habis, bisa meleset. Aku ingin satu hal yang pasti. Satu senjata yang bisa kuandalkan, selalu.”
“Prinsipku adalah menikmati hidup dengan segala keterbatasannya,” balas Feruci. Suaranya dingin, hampir seperti teguran. “Keterbatasan itu yang membuat segalanya menarik, menantang. Dengan apa yang kau minta, kau hanya membuang kesenangan itu.”
“Prinsipmu,” potong Mona cepat, suaranya naik satu oktaf. “Bukan prinsipku.”
Feruci membeku sejenak. Dia jarang mendengar putrinya bersikap sekeras ini. Biasanya, Mona adalah seseorang yang bertindak dalam bayangan, diam dan mematikan. Tapi kali ini, gadis bersurai merah menyala itu berdiri dengan terang, suaranya penuh keinginan yang tak bisa disangkal.
“Kenapa harus aku?” Feruci bertanya lagi, meskipun dia sudah tahu jawabannya. Pria itu hanya ingin mendengar dari mulut Mona sendiri.
“Karena hanya itu yang aku punya,” Mona menjawab dengan tenang, hampir seperti sebuah pengakuan. “Tubuhku. Itu satu-satunya yang belum pernah kau sentuh.”
Feruci terdiam, menatap Mona seakan mencoba menilai kedalaman pikiran putrinya. Ada sesuatu yang hampir menakutkan dalam sikap tenangnya. Feruci tahu, di balik semua ini, Mona tidak asal bicara. Ia telah merencanakan semuanya, bahkan hingga ke detail terkecil. Itulah yang membuat Feruci enggan untuk segera menolak.
“Baiklah,” akhirnya Feruci berkata. Suaranya pelan, tetapi penuh dengan bobot. “Aku akan mempertimbangkan permintaanmu. Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku.”
Mona menatapnya dengan mata tajam, bibirnya tertarik ke dalam garis lurus. “Apa?”
“Ambil lebih banyak pekerjaan selama enam bulan ke depan,” jawab Feruci tanpa ragu. “Dan jangan pernah meminta hal seperti ini lagi.”
Mona mengangkat satu alisnya. “Apa kau serius?”
“Benar,” balas Feruci. “Aku tak akan mengulang kesalahan yang sama. Jika aku setuju malam ini, alasanmu tidak akan berlaku lagi. Jika kau benar-benar menginginkan ini, maka kau harus membuktikan bahwa kau bisa memikul tanggung jawabnya.”
Mona menghela nafas, tetapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya. Ia tahu bahwa ini adalah kesempatan terbaik yang bisa ia dapatkan. “Setuju,” katanya akhirnya. “Tapi jangan berharap aku akan berubah pikiran.”
“Aku tidak akan,” balas Feruci, nada suaranya dingin kembali. “Kau sudah cukup keras kepala untuk dua orang.”
Mona mengangguk, nyaris tanpa pikir panjang. Dalam pikirannya, gadis itu tahu tawaran itu tidak bisa berlaku dua kali. Lagipula, setelah malam ini, alasan untuk menjual tubuhnya memang tidak akan bisa digunakan lagi. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, seperti seorang pemenang.
“Kalau begitu, mari selesaikan ini,” gumam Feruci sambil bangkit berdiri. “Di kamarmu.”
Mona tidak berbicara, hanya membalikkan badan dan berjalan mendahului. Feruci mengikutinya dengan langkah yang tenang, tanpa ekspresi. Di belakang punggungnya, ada sesuatu yang berat di udara, tidak seorang pun dari mereka berdua merasa terganggu dengan hal itu.
---
Di kamar Mona, segala sesuatunya terasa suram. Lampu yang remang hanya menambah aura dingin yang menyelimuti ruangan. Tanpa kata-kata, Mona melucuti pakaiannya. Ia bergerak tanpa malu, tanpa ragu, seperti seorang prajurit yang menyiapkan dirinya untuk perang. Feruci berdiri di dekat pintu, memperhatikan. Ada ketegangan dalam dirinya, tetapi bukan ketegangan emosional—melainkan ketegangan mekanis, seperti roda gigi yang harus bergerak meskipun berderit.
Ketika akhirnya Feruci menyentuh Mona yang selesai dengan gerakan seperti mesin efisien tanpa emosi, sentuhannya tidak lembut. Tangannya mencengkeram kulitnya dengan kekuatan yang cukup untuk meninggalkan bekas. Mona tidak bereaksi, tidak ada keluhan atau protes. Sebaliknya, gadis itu merespons dengan cengkeraman yang sama kuatnya, seakan membuktikan bahwa ia bisa mengikuti ritme Feruci.
Mereka bergerak bersama, tetapi tidak seperti pasangan biasa. Ini adalah perang—bukan antara dua musuh, tetapi antara dua kegelapan yang saling bersilangan. Feruci sama sekali tidak menahan diri, dan Mona menerimanya dengan kejam. Gadis itu hampir seperti menantang Feruci untuk melangkah lebih jauh, untuk membuktikan bahwa Mona bisa menghadapi apapun yang datang kepadanya.
“Hahh... Kenapa kau terlihat menikmatinya?” tanya Feruci di sela-sela pergumulan mereka. Suaranya rendah, hampir seperti mendesis.
“Ngahh... Karena ini bukan soal kenikmatan,” jawab Mona, nafasnya terengah-engah, wajahnya memerah dengan rambut yang kusut karena deritan ranjang yang bergoyang memenuhi pendengarannya seperti melodi kesenangan. “Ini soal kemenangan .... mhahh—!”
Bibir sang pria berkedut ketika Feruci meloloskan tawa pendek dari bibirnya, hampir seperti ejekan atas jawaban Mona. “Oh... Kemenangan atas apa?”
“Atas dirimu,” jawab Mona tanpa ragu, meski desakan untuk pelepasan masih menggantungi ujung pikiran yang berkabut gairah, masih memiliki kesadaran untuk nenanggapi. “Atas kekuatan yang kau miliki, yang akhirnya kau berikan padaku.”
Feruci berhenti sejenak, hanya untuk menatap mata Mona. Ada sesuatu yang lain di sana—bukan cinta, bukan gairah, tetapi tekad yang tak bisa digoyahkan. Dia tahu benar bahwa putrinya tidak berbicara omong kosong. Dalam kegelapan ini, Mona benar-benar menemukan kekuatannya sendiri.
Baginya, ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa Mona adalah bagian dari dunia ini—sebuah kegelapan yang tidak pernah bisa dimengerti oleh orang luar.
Satu ronde berlalu, tetapi rasanya tidak cukup. Tubuh mereka kembali saling berbenturan, lebih liar, lebih intens. Nafas mereka menjadi berat, tetapi tidak ada jeda. Feruci mendorong batasnya, tetapi Mona tetap mengikutinya. Mereka adalah dua jiwa yang terjebak dalam lingkaran tanpa akhir, hanya untuk menemukan kepuasan dalam kekerasan dan kekacauan.
Kamar itu dipenuhi suara yang memekakkan, seperti perang yang tidak meninggalkan korban selain diri mereka sendiri. Sentuhan kulit mereka terasa panas, hampir menyakitkan, tetapi keduanya tidak peduli. Dalam kegelapan itu, mereka menemukan sesuatu yang tidak bisa didapatkan dari dunia luar—kehilangan kontrol sepenuhnya.
Di akhir malam, ketika akhirnya mereka berhenti, Mona tersenyum lemah. Senyumnya kecil, tetapi penuh arti. “Terima kasih,” katanya pelan.
“Jangan terlalu berterima kasih,” balas Feruci sambil menyisir rambutnya ke belakang. “Aku belum memutuskan apakah aku akan membuatkan senjata itu untukmu.”
“Tapi kau sudah setuju,” balas Mona sambil menoleh menatap sang ayah angkat, menatapnya dengan sarat keras kepala. “Dan aku akan memastikan kau menepati janjimu.”
Feruci tidak menjawab. Pria itu hanya menatap Mona sekali lagi sebelum bangkit dan meninggalkan kamar.
---
Ketika semuanya selesai, Feruci mengenakan kembali pakaiannya. Wajahnya tetap datar, tanpa emosi. Mona masih terbaring di tempat tidur, nafasnya berat tetapi matanya berbinar. Ada rasa puas di sana, bukan karena cinta, tetapi karena tujuannya tercapai.
Setelah meninggalkan kamar Mona, Feruci melangkah kembali ke kamarnya sendiri dengan langkah berat namun terukur. Di balik pintu, ia mendapati Ades tengah duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah meja kecil di sisi ruangan. Suara langkah Feruci membuat Ades mendongak. Senyum kecil menghiasi bibirnya, tetapi senyum itu tak cukup untuk menyembunyikan sorot matanya yang rapuh.
Tanpa basa-basi, Feruci menghela napas dan memutuskan untuk langsung bicara. “Mona memintaku membuatkan sesuatu dengan api neraka, jadi aku gunakan tubuhnya sebagai bayaran.”
Ades tak terlihat terkejut. Bahkan, sepertinya dia telah menduga sesuatu seperti ini akan terjadi. Dengan lembut, Ades berkata, “Tipikal Mona. Hanya dia yang cukup berani untuk meminta hal seperti itu.”
Feruci mendekat, duduk di sisi Ades. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tetapi ada sedikit penyesalan di matanya. “Kau tahu aku tidak memulai ini, bukan?”
Ades mengangguk pelan. “Aku tahu. Kau tak pernah menyentuh siapa pun tanpa alasan.”
Namun, senyuman kecil Ades menghilang, digantikan oleh kerutan halus di dahinya. Ia tahu dirinya bukanlah orang yang mudah cemburu, terutama dalam hubungan seperti mereka. Feruci dan Ades sudah lama memahami bahwa cinta mereka tidak berjalan pada jalur konvensional. Keduanya memiliki sisi gelap yang tak terpisahkan, sesuatu yang sering kali menjadi daya tarik sekaligus ancaman. Namun, mengetahui bahwa Mona adalah orang yang terlibat kali ini memberikan perasaan lain yang sulit ia definisikan.
“Ades,” Feruci memanggil lembut, menarik perhatian istrinya. “Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau khawatir akan tergantikan.”
Ades tidak langsung menjawab, tetapi matanya menceritakan segalanya. Bukan cemburu yang ia rasakan, tetapi rasa takut yang lebih mendalam. Dia tahu Mona memiliki sesuatu yang ia sendiri tak bisa miliki: Feruci dan Mona sama-sama meninggikan ego, berpusat hanya pada diri mereka sendiri. Meskipun cinta mereka telah melalui banyak ujian, ada sesuatu yang berbeda ketika Feruci berurusan dengan Mona.
“Dia bukan kamu,” Feruci melanjutkan, suaranya rendah tetapi tegas. “Yang aku inginkan tetap hanya kamu.”
Ades akhirnya menatapnya, matanya berkaca-kaca tetapi tidak menangis. Senyum kecil kembali muncul, kali ini lebih tulus.
Feruci tersenyum tipis sebelum mendekat, membungkuk untuk mencium kening Ades malam itu, kamar mereka diterangi oleh cahaya remang dari lilin di meja kecil. Mereka saling menatap dalam keheningan dengan senyum yang menggantung di bibir mereka kembali bertemu, memagut kerinduan dan perasaan yang mengokoh. Hanya terdapat deru napas yang berlomba-lomba ketika pasokan oksigen menyempit.
“Feruci,” panggil Ades, suaranya rendah tetapi cukup untuk memecah keheningan.
Feruci menoleh, tatapan matanya bertemu dengan Ades. Ada kelelahan di sana, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam—sebuah keinginan yang ia coba sembunyikan, bahkan dari dirinya sendiri.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Ades, kakinya melingkari pinggang menuju punggung sang suami dengan erat.
Feruci menghela napas, lalu menjawab dengan jujur, “Aku memikirkanmu. Tentang bagaimana aku tidak ingin kehilanganmu.”
Ades tersenyum tipis, jantungnya berdetak lebih cepat. Feruci bukanlah tipe pria yang sering berbicara tentang perasaannya, jadi setiap kali melakukannya, kata-katanya terasa seperti pengakuan yang langka dan berharga.
“Kalau begitu tunjukkan padaku seberapa besar keinginanmu.” kata Ades, suaranya berubah menjadi bisikan yang cukup seduktif.
Feruci tidak butuh permintaan kedua. Dengan gerakan yang anggun tetapi penuh intensitas, ia kembali menahan wajah istrinya dengan kedua tangannya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lambat tetapi penuh gairah, seolah-olah mereka mencoba menghapus semua ketegangan yang mengikat mereka.
Ciuman itu berubah menjadi lebih dalam, lebih panas. Feruci mendorong Ades perlahan ke bawah, tubuhnya bergerak menutupi istrinya dengan cara yang melindungi tetapi juga menuntut. Ades merasakan kehangatan tubuh Feruci menyelimutinya, dan wanita itu tidak bisa menahan desahan kecil yang keluar dari bibirnya.
“Hah... Ades,” bisik Feruci di telinganya, suaranya rendah dan serak. “Kau tahu betapa aku menginginkanmu, bukan?”
Ades hanya bisa mengangguk, meneguk ludah, tidak mampu berkata-kata. Tangannya berusaha untuk meraih punggung Feruci, menariknya lebih dekat. Dia tahu bahwa malam ini bukan hanya tentang gairah; ini tentang memperkuat ikatan mereka, tentang menghapus semua keraguan yang mungkin ada di antara mereka.
Namun, hubungan mereka tidak pernah sederhana. Feruci adalah pria yang penuh dengan kekuatan mentah, dan itu tercermin dalam cara pria bersurai biru panjang itu menyentuh Ades. Gerakannya kasar tetapi tidak pernah menyakitkan, penuh dengan intensitas yang seolah-olah Feruci mencoba menyampaikan semua perasaannya melalui setiap sentuhan.
Ades menyukai itu. Dia menyukai bagaimana Feruci memperlakukannya seperti satu-satunya hal yang penting di dunia ini. Meski ada kekasaran, ada juga kelembutan yang terselip di antaranya—sebuah pengingat bahwa di balik semua kekuatan dan kegelapan, ada cinta yang tulus.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menggantikanmu,” kata Feruci saat ia menatap dalam-dalam ke mata Ades, meringis merasakan bagaimana otot-otot liang ketat istrinya memijat miliknya nikmat. “Kau satu-satunya yang mengerti aku.”
Ades merasakan air mata menggenang di matanya, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di depan Feruci. Sebagai gantinya, sang wanita menarik leher Feruci untuk mencium lagi, bibir mereka bertemu dalam tarian panas yang penuh dengan emosi.
Malam itu, mereka saling mengisi. Tubuh mereka bergerak dalam harmoni yang sempurna, seolah-olah mereka adalah dua bagian dari satu jiwa yang tidak bisa dipisahkan. Ada gairah, ada kekuatan, tetapi yang terpenting, ada cinta yang mendalam.
Feruci dan Ades saling menikmati bagaimana gesekan dan kontak kulit yang berbunyi dan berirama selaras dengan gairah mereka, Ades dibuat tidak berdaya ketika dadanya dimainkan. Dijilat, digigit, desahan tercekat sering kali lolos dari bibir ranum Ades yang melengkungkan tubuhnya, menyambut bibir Feruci di belahan gunungnya.
Ades merasakan dirinya tenggelam dalam arus gairah yang terus mengalir tanpa henti. Sentuhan Feruci bukan sekadar fisik; itu adalah ungkapan dari hasrat yang terpendam dan cinta yang tak terucap. Tubuhnya bergetar di bawah berat tubuh pria itu, tetapi bukan karena takut—melainkan karena kebahagiaan yang tak tertahankan.
Feruci menatap wajah istrinya dengan pandangan yang dalam, seolah-olah ingin menghafalkan setiap inci dari keindahan wanita yang ada di bawahnya. Jari-jarinya menjelajahi kulit Ades, meninggalkan jejak panas di sepanjang jalan. Setiap gerakan terasa seperti sebuah pengakuan—sebuah janji bahwa dia tidak akan pernah menyerahkan wanita ini kepada siapa pun, atau kepada dunia yang kejam di luar sana.
Ades merespons dengan menggenggam erat punggung Feruci, kuku-kukunya yang runcing meninggalkan bekas samar pada kulit pria itu. Dia tidak peduli, dan Feruci pun tidak—bahkan merasa bekas itu adalah tanda dari keterikatan mereka yang tidak bisa dihapus.
"Ades..." Feruci mengucapkan namanya seperti mantra, suaranya hampir seperti geraman yang rendah. "Kau adalah satu-satunya alasan aku tetap bertahan di dunia ini."
Ades tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, wanita itu menarik Feruci lebih dekat lagi, mencium bibirnya dengan penuh semangat. Bibir mereka menyatu dalam tarian yang panas, penuh dengan gairah yang hampir tidak bisa mereka kendalikan. Gerakan mereka semakin cepat, semakin tidak terkendali, seperti dua jiwa yang berusaha untuk menyatu menjadi satu.
Di tengah derasnya gairah yang mereka ciptakan, Ades menyadari sesuatu yang selalu membuatnya terpikat pada Feruci: meskipun pria itu sering kali keras dan kasar, prianya tidak pernah melupakan sisi lembutnya ketika bersama Ades. Bahkan dalam setiap gerakan yang tampak ganas, selalu ada kelembutan tersembunyi yang hanya bisa dirasakan oleh Ades.
Feruci membungkuk, bibirnya bergerak pelan di sepanjang rahang Ades, turun ke lehernya, meninggalkan jejak panas di setiap ciuman yang pria itu berikan. Ades mendesah, jari-jarinya menggenggam erat rambut panjang Feruci, menariknya sedikit untuk memberikan akses lebih. Feruci terkekeh pelan, suara rendahnya terdengar seperti hiburan bagi dirinya sendiri.
"Kau tahu," katanya dengan suara yang nyaris berbisik, "aku suka ketika kau tidak menahanku seperti ini."
Ades tidak membalas. Wanita itu hanya menarik kepala Feruci lebih dekat, seolah-olah kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan apa yang ia rasakan. Napas mereka berdua bercampur, menciptakan suasana yang membuat malam itu terasa seolah-olah waktu telah berhenti.
Feruci membiarkan tangannya menjelajahi tubuh Ades dengan keahlian seorang pria yang telah mengenal istrinya selama bertahun-tahun. Dia tahu setiap titik lemah, setiap bagian dari tubuhnya yang bisa membuat Ades menggeliat di bawah sentuhannya. Dan Feruci menggunakan pengetahuan itu dengan tanpa ampun, membuat Ades kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Ades memejamkan mata, tubuhnya bergerak mengikuti irama yang diciptakan oleh Feruci. Ia merasa seolah-olah dirinya sedang melayang, terjebak di antara kenyataan dan mimpi. Setiap sentuhan, setiap gerakan, membawa mereka lebih dalam ke dalam dunia yang hanya milik mereka berdua.
"Feruci," desahnya, suaranya hampir tidak terdengar.
"Ya?" jawab Feruci, suaranya berat dan penuh dengan keinginan.
"Aku milikmu," katanya dengan napas yang terputus-putus. "Selamanya."
Feruci berhenti sejenak, menatap mata Ades dengan intensitas yang hampir membuat wanita itu lupa bagaimana caranya bernapas. "Dan aku milikmu," katanya dengan tegas. "Tak peduli apa pun yang terjadi."
Ketika mereka akhirnya mencapai puncak dari malam itu, napas mereka terengah-engah, tubuh mereka saling melingkar dalam pelukan yang erat. Tidak ada yang berkata-kata; tidak ada yang perlu dikatakan. Dalam keheningan itu, mereka tahu bahwa mereka telah memperkuat ikatan yang telah lama mereka miliki—ikatan yang tidak bisa dihancurkan oleh waktu atau keadaan.
Feruci menyentuh pipi Ades dengan lembut, ibu jarinya menghapus keringat yang menetes di sana. "Kau tahu, Ades," katanya pelan, "aku tidak akan pernah lelah mengatakan ini: kau adalah satu-satunya yang aku inginkan."
Ades tersenyum kecil, matanya memancarkan cinta yang tulus. "Dan aku tidak akan pernah berhenti menjadi milikmu, Feruci."
Di antara rembulan yang malu-malu mengintip di balik semburat putih awan, mereka tidak hanya berbagi gairah. Mereka berbagi diri mereka, jiwa mereka, dan cinta yang mendalam yang hanya mereka berdua yang bisa mengerti.
Setelah beberapa saat, keduanya terbaring di tempat tidur, napas mereka masih terengah-engah. Feruci memeluk Ades erat, tubuh mereka masih saling bersentuhan. Dalam keheningan itu, Ades akhirnya berbicara.
“Aku tahu kau mencintaiku, Feruci,” katanya pelan. “Tapi kadang-kadang, aku takut. Takut bahwa pada akhirnya, aku tidak akan cukup untukmu."
Feruci menoleh, wajahnya terlihat serius. "Ades, jangan pernah berpikir seperti itu. Kau adalah segalanya untukku. Tidak ada yang lain yang bisa menggantikanmu, bahkan Mona."
Ades tersenyum kecil. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku di sini untukmu, apa pun yang terjadi."
Feruci mengangguk, lalu menarik Ades lebih dekat. "Aku tahu, Ades. Dan aku berjanji, aku akan selalu ada untukmu juga."
Malam itu, mereka tidak hanya berbagi tubuh, tetapi juga jiwa. Mereka tahu bahwa hubungan mereka tidak sempurna, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki sesuatu yang langka-sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh waktu atau keadaan.
Hubungan Feruci dan Ades adalah perpaduan antara kekuatan dan kelembutan, antara kegelapan dan cahaya. Meskipun ada banyak hal yang memisahkan mereka, ada lebih banyak lagi yang menyatukan mereka.
Malam itu, mereka menemukan kembali cinta mereka. Dalam setiap sentuhan, setiap bisikan, mereka mengingatkan diri mereka sendiri mengapa mereka memilih untuk bersama, meskipun dunia di sekitar mereka penuh dengan kekacauan.
Dan di tengah semua itu, mereka menemukan ketenangan-sebuah tempat di mana mereka bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa perlu khawatir tentang apa yang mungkin terjadi di luar sana.
Ades dan Feruci tahu bahwa mereka tidak sempurna. Mereka tahu bahwa mereka memiliki banyak kekurangan, tetapi mereka juga tahu bahwa cinta mereka adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini.
Commission Story Written by Ami Lera


Comments