A Mission
- Jogag Busang
- Jun 29, 2025
- 15 min read
Updated: Jul 1, 2025
KEINGINAN itu sudah Ades pikirkan sejak lama.
Ini bukan tentang kuku jari tangan yang perlu dimanikur, atau perawatan rambut ke salon. Bukan pula pekerjaan yang menuntut perencanaan matang. Namun, ini mengenai anak-anak manisnya yang kian beranjak dewasa.
Sebagai ibu yang penuh kasih, Ades tahu harus melakukan sesuatu untuk mereka. Anak-anak kesayangannya butuh lebih banyak waktu untuk mengakrabkan diri.
Sekitar sebulan lalu, saat Ades berjalan tanpa sadar di sekeliling Rumah Dosa, dia merenung murung, menyadari bahwa tidak ada foto anak-anak yang menarik dipandang mata. Kebanyakan berupa potret individu dengan ekspresi minim.
Rumah Dosa membutuhkan warna baru, pikir Ades. Bukan perabotan antik atau dekorasi mahal di dinding, melainkan percakapan yang berisik dan tawa, mungkin juga rangkulan dan pelukan hangat.
.
.
“Taman hiburan? Yang benar saja, Ades.”
Demikian tanggapan skeptis Mona ketika Ades mengajukan permintaannya. Nada keberatan dari gadis berambut merah itu kentara sekali, lengkap dengan dengkusan bosan yang sengaja dilebihkan.
“Aku yakin tidak akan lama. Paling-paling satu atau dua jam sudah cukup,” Ades tidak putus asa membujuk.
“Aku masih harus mengerjakan tugas sekolah.”
“Tugas sekolah? Di hari Minggu?”
“Ya, begitulah sekolah zaman sekarang.”
Ades mengerutkan kening.
Mona masih menggumamkan sesuatu, mengarang alasan dengan menyebut senjata miliknya yang perlu perawatan khusus darinya, atau apalah—yang pada intinya berarti penolakan.
Maka Ades mengalihkan pandangan kepada Levi.
“Tidak masalah, Ades,” Levi tersenyum ceria. “Aku justru senang. Aku sedang butuh hiburan.”
Ah, Levi. Anak gadisnya yang satu ini selalu memberi Ades jawaban yang menyenangkan. Bahkan pakaian merah muda yang dia kenakan sekarang terkesan imut, serasi dengan ikat rambutnya.
Sebelum Ades berganti menatap Gore, anak laki-laki itu sudah lebih dulu menggeleng.
“Aku tidak ikut. Lebih baik aku tidur.”
“Kau perlu menghirup udara segar, Gore.”
“Justru di kamarlah aku mendapat udara segar, Ades.”
Mata Ades menyipit. “Atau jangan-jangan kau mulai bersekongkol dengan Mona?”
Mona terperangah, tidak menyangka namanya akan disebut.
“Apa hubungannya denganku?” protesnya.
“Gore kan adikmu. Siapa tahu kalian diam-diam telah melakukan kesepakatan menolak ajakanku,” Ades menyahut kalem, pura-pura mengangkat bahu.
“No way. Tidak mungkin.” Mona mendelik kepada Gore yang kini kebingungan.
“Oooh, jadi ternyata kalian begitu,” Levi justru menyahut penasaran. “Kenapa kalian nggak ngajak gue berdiskusi? Begini-begini gue juga ingin nimbrung biar nggak ketinggalan info.”
“Gue nggak berdiskusi sama Gore, Lev.” Mona mulai kesal.
“Tapi kenapa jawaban Gore sama kayak jawaban lo?”
“Cuman kebetulan.”
“Kebetulan yang mencurigakan.”
“Apaan sih? Gue dan Gore emang nggak janjian kok.”
“Serius?”
Ades yang tidak ingin suasana menjadi semakin panas akhirnya mengangkat tangan.
“Sudah cukup, Anak-anak. Aku punya satu ide. Bagaimana jika kita membuat permainan? Semacam misi. Ini tidak ada bedanya dengan misi yang biasa kita lakukan. Jika kalian berhasil menyelesaikannya, aku akan memberikan masing-masing satu hadiah, apapun yang kalian mau.”
Mendengar kata misi dan hadiah, ketiga anak yang tadinya berbeda pendapat serempak mendengarkan Ades dengan saksama.
Ini awal yang menjanjikan, pikir Ades gembira.
.
.
Jika bukan karena hadiah yang tidak main-main, mustahil Mona mau mengikuti permintaan Ades. Sudah lama dia menginginkan senjata baru dari bahan tertentu yang diincarnya.
Menilik kekayaan yang dimiliki Feruci, tentu mudah bagi sang ayah untuk membelikannya senjata tersebut. Namun di mana rasa bangga dari memiliki senjata hasil merayu ayah sendiri? Akan lebih memuaskan jika Mona mendapatkan apa yang dia inginkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Lagi pula dia bukan anak gampangan atau anak manja. Mona punya pandangan serius terhadap hal ini.
Lagi pula kenapa tidak sekalian Mona mengakui?
Permintaan Ades tidak terlalu berat, bahkan terkesan mudah. Yaitu, setiap kali Ades mengirimi Mona pesan, dia harus mengirimkan foto selfie mereka bertiga beserta titik lokasi di mana mereka berada dalam waktu satu menit.
Hanya berfoto saja, apa susahnya?
Mereka bertiga hanya perlu ke mana-mana bersama.
Begitulah yang dipikirkan Mona saat dia dan kedua adiknya menaiki mobil untuk diantar ke taman hiburan. Tidak ada percakapan selama perjalanan berlangsung. Mona masih sebal dengan Gore dan dia juga enggan meneruskan perdebatannya dengan Levi.
Yang lain-lain sepertinya tenggelam dalam fantasi hadiah masing-masing. Mona tidak bermaksud berlagak menjadi detektif dadakan, tetapi tanpa berpikir keras sekalipun, dia tahu apa yang diinginkan kedua adiknya. Levi yang mengagumi Ades luar-dalam pasti menginginkan salah satu barang pribadi milik Ades, sementara Gore, sudah tentu dia akan meminta berbagai bahan baru untuk eksperimennya.
Meskipun begitu, bohong jika Mona tidak menikmati suasana kompetitif dan semangat di antara mereka.
Sekitar setengah jam kemudian, mobil pun berhenti. Mona, Levi, dan Gore turun dari mobil.
Baiklah, Mona akan membuktikan kepada Ades bahwa mereka dapat bekerja sama secara solid.
.
.
Pemandangan di taman hiburan membuat Levi tercengang. Warna-warni tempat dan wahana yang beraneka terlihat memanjakan mata. Apalagi ada stand makanan dan minuman yang berjajar rapi di tepi taman hiburan. Sekali lagi ini membuktikan bahwa selera Ades dan dirinya memang serupa. Bahkan tanpa iming-iming hadiah, dengan senang hati Levi akan melakukan apapun perintah Ades.
Mona yang berdiri di sebelah Levi berdeham. “Oke. Jadi gimana? Pertama wahana apa?”
“Gue bingung soalnya semua wahana di sini kelihatan bagus-bagus,” balas Levi. “Kalau bisa, gue sih pengen nyoba semuanya.”
Mona menatap Levi dengan ganji, yang jika diterjemahkan kira-kira akan menjadi: ‘Apa? Lo mau nyoba semua wahana? Lo pasti udah gila.’
“Gimana kalau tornado?” tanya Mona. “Itu wahana yang keren sih menurut gue. Muter-muter di ketinggian kayak gitu pasti seru.”
“Jangan tornado dong.”
“Kenapa? Lo tadi kan bilang mau nyoba semua wahana, Lev?”
“Tapi ya jangan bikin tornado sebagai wahana pertama juga. Kita kan baru aja mulai. Gimana kalo Ades tiba-tiba chat ke ponsel elo dan kita lagi gelantungan? Mana sempet kita foto?”
“Oh, iya. Benar juga.”
Levi menggeleng-geleng. Kadang-kadang otak Mona memang agak konslet di situasi semacam ini.
“Kenapa kita nggak naik keranjang aja?” usul Levi, menatap Mona dan Gore bergantian. “Satu keranjang bisa muat tiga orang lebih tuh.”
Mona memiringkan kepala. “Kelihatan nggak menarik. Di dalam keranjang kita kan cuman diem.”
“Justru itu poinnya, Mon. Di keranjang kita bisa bersama-sama dan kita—”
“Oke, oke. Gue setuju,” potong Mona, tidak ingin mendengar celotehan Levi lebih lama. “Gue sebenarnya juga paham maksud lo.” Dia lalu menoleh kepada adik laki-lakinya. “Kalo menurut lo gimana, Gore?”
“Terserah kalian aja. Gue tinggal ngikut.”
Senyum Levi mengembang. Meskipun dari luar adik laki-lakinya ini tampak cuek, setidaknya Gore masih dapat diandalkan.
Puas dengan hasil diskusi, Levi memimpin jalan menuju wahana keranjang dengan langkah gembira. Dia memang tertarik dengan wahana tersebut sejak menginjakkan kaki di taman hiburan karena tampak megah dan mencolok. Untuk dijadikan tempat berfoto hasilnya pun sepertinya akan bagus.
Namun, begitu mereka melewati wahana kuda-kudaan, Levi berhenti. Dia tidak bisa tidak mengagumi replika hewan tersebut yang mirip sekali dengan kuda asli. Dalam hati dia memuji Ades yang tidak pernah salah dalam memilih tempat.
Levi hendak mengucapkan sesuatu, tetapi Mona sudah lebih dulu memelototinya, membuatnya terpaksa membuang jauh-jauh niatnya dan kembali melanjutkan langkah.
Sebelum mereka berangkat ke taman hiburan, Ades memberi Mona sejumlah uang untuk membayar tiket atau makanan bagi mereka bertiga, jadi dialah yang mengelola uang tersebut.
Usai membayar tiket masuk, mereka bertiga memilih keranjang berwarna biru. Levi agak menyayangkan kunjungan mereka di sore hari ini. Dia yakin seandainya mereka ke taman hiburan di waktu malam pasti suasananya akan lebih indah karena banyak lampu berkelap-kelip.
Meskipun begitu, Levi senang-senang saja. Ketika keranjang berada dalam posisi tinggi, dia dapat melihat hampir keseluruhan dari taman hiburan. Tidak disangka banyak juga pengunjung di hari Minggu ini. Ditambah embusan angin yang menerpa wajah, Levi sangat bahagia.
Tidak berselang lama, ponsel Mona berbunyi. Dari ekspresi sang kakak, sudah tertebak jika itu Ades.
Mona yang berada di tengah lalu memberi intruksi bahwa mereka harus merapat agar wajah mereka terlihat dalam kamera.
“Lo harus lebih dekat ke gue, Gore.”
“Gue sudah deket kok.”
“Maksud gue deketin juga kepala lo.”
Gore hanya menggeser posisi duduknya. “Begini, kan?”
“Coba senyum sampai gigi lo kelihatan di kamera.”
“Apaan sih?”
“Udah coba aja,” paksa Mona.
“Sama jari tangan lo bisa nggak membentuk V kayak gue gini?” pinta Levi, memeragakan pose yang dimaksud.
“Pose macam apa itu?”
“Ayo dooong.”
“Nggak, nggak. Nggak mau.”
“Susah banget sih lo diajak kerja sama,” Levi mulai mengomel. “Ini nggak ada bedanya kalau kita lagi kerja sama buat bunuh orang.”
“Tapi ya nggak perlu sampai segitunya.”
“Cuman gini doang kok.”
“Gue bilang nggak, ya nggak.”
“Cepetan foto, guys. Waktunya hampir habis tahu,” Mona semakin gelisah.
Setelah meributkan Gore yang enggan mengikuti arahan Levi, akhirnya mereka selesai memotret. Walaupun hasil foto menjadi aneh karena agak blur dan karena Gore berjarak dari dua kakaknya, namun mau tidak mau Mona harus mengirim foto tersebut kepada Ades sebelum time out.
Mengembuskan napas lega, mereka melanjutkan sisa putaran keranjang dengan lebih santai. Levi memikirkan dan mengamati banyak hal. Ada salah satu pemandangan yang menarik. Dia lalu melihat dua laki-laki tampan berjalan ke arah stand penjual mochi sambil mengobrol, sesekali mereka menertawakan sesuatu.
Ini waktu yang pas.
Levi mulai merasa lapar dan pilihan stand dua laki-laki tadi juga merupakan menu favoritnya. Sekalian saja dia ingin menyaksikan ketampanan mereka dari dekat. Tidak ada salahnya, kan?
Maka sesudah turun dari wahana keranjang, mengabaikan panggilan Mona, tanpa babibu Levi segera berjalan cepat ke arah dua laki-laki yang diincarnya.
.
.
Awalnya Gore memang bersemangat menanggapi permintaan Ades ke taman hiburan, apalagi dia sempat tergiur dengan hadiahnya. Akan tetapi, sesudah foto pertama mereka terkirim, Gore mulai jengah dan bosan. Tambahkan pula kehebohan Mona dan Levi yang gemar menyuruh-nyuruhnya.
Taman hiburan sangat luas. Jika mereka bertiga harus terus bersama-sama, tidak akan sempat menjelajah seluruhnya. Lagi pula tempat yang menurut Gore bagus belum tentu menarik dalam pandangan Mona atau Levi. Begitu pula sebaliknya.
Masa bodoh dengan hadiah. Saat ini Gore tidak peduli dengan hal itu lagi. Dia ingin melihat lebih banyak wahana tanpa perlu memainkannya. Barangkali dia akan mendapat inspirasi untuk eksperimen pribadinya di rumah.
Gore kemudian berkata kepada Mona bahwa dia perlu ke toilet sebentar. Sang kakak hanya mengangguk dan menambahkan, “Jangan lama-lama.”
Gore tidak membalas, lebih memilih memasukkan kedua tangan ke saku jaket, lantas berjalan menjauh sambil menyeringai.[]
MONA tidak merencanakannya, namun inilah yang terjadi selanjutnya; Levi tiba-tiba menuju ke salah satu stand makanan dan Gore tiba-tiba berpamitan ke toilet.
Mona membiarkan Gore pergi dan buru-buru mengikuti Levi.
“Lo ngapain sih?”
“Mau beli jajan.”
“Beli pakai apa?”
“Pakai uanglah. Kan elo bawa.”
“Tapi kenapa main nyelonong tanpa bilang-bilang? Kalau gue nggak mau kasih uang, terus gimana cara lo bayar?”
“Ya ampun, Mon. Pelit amat sih. Kan uangnya masih banyak. Gue kelaparan tahu.”
Meski dengan tampang cemberut, Mona tetap memberikan sejumlah uang kepada Levi, yang diterima sang adik dengan mata berbinar.
“Yakin ke sini cuman mau beli makanan?” tanya Mona curiga.
Levi meringis. “Eh, sebenarnya nggak cuman itu sih. Tuh liat,” dia menunjuk dengan tatapan mata kepada dua laki-laki asing yang antre di depan mereka. “Lumayan, kan?”
“Lumayan apanya?”
“Kita bisa kenyang, plus dapat bonusan cuci mata. Win-win solution. Kita juga bisa kenalan sama mereka.”
“Kita? No way. Nggak sudi. Lo aja sana. Kalau niat lo emang pengen pedekate” Di waktu normal, reaksi Mona tentu tidak akan seperti ini.
“Ya udah. Gue aja sendiri yang beli.”
“Jangan lupa ya, kita ini lagi dalam misi.”
“Iya, iya. Bawel amat sih. Gue beli jajan juga sebentar kok.”
“Gue cuman jaga-jaga aja. Gimana kalau tiba-tiba Ades chat gue lagi?”
“Ya gampang. Engga perlu foto di wahana. Kita bertiga tinggal berdiri di dekat stand makanan, terus foto bareng. Eh, Gore mana?”
Levi yang baru menyadari ketiadaan adiknya segera celingak-celinguk. Tidak ada wajah Gore di antara pengunjung yang berlalu-lalang di sekitar mereka.
“Katanya dia ke toilet sebentar sih,” terang Mona, “jadi gue biarin.”
“Dan elo percaya aja sama omongannya?”
“Daripada dia ngompol? Hayo, pilih mana.”
“Dia pasti cuman bohong. Ya ampun, Mon. Lo kayak nggak hapal aja sama kelakuan bocah itu.”
“Terus gimana dong? Lo mau lanjut beli jajan atau nyari Gore?”
Levi menatap dua laki-laki tampan tadi sekali lagi yang kini beralih ke stand lain, lalu menarik napas dalam-dalam.
“Oke deh. Kita nyari Gore ke toilet.”
Dengan Levi yang cemberut, Mona berusaha meredam emosinya dan mereka pun memulai pencarian.
Sebelumnya Mona sudah curiga kepada Gore yang sejak awal tiba di wahana tampak tidak terlalu antusias, tidak seperti dirinya atau Levi, tapi dia mengabaikan itu dengan dalih Gore pasti menginginkan hadiah. Namun, lihatlah sekarang. Semua menjadi kacau.
Padahal Mona ingin sekali mencoba wahana lainnya, terutama wahana ekstrem yang menuntut adrenalin. Dia juga tidak ingin menjadi induk bebek yang dibuntuti anak-anaknya.
Kenapa hari ini dia begitu sial?
Setelah dicari-cari, rupanya Gore tidak ada di toilet. Bersamaan dengan hal tersebut, ponsel yang dipegang Mona mendadak berbunyi.
Ades sudah menagih foto mereka lagi.
Mona dan Levi bertatapan panik. Dengan gelagapan mereka memutuskan untuk selfie berdua dan mengirimkannya kepada Ades. Ades membalas bahwa foto itu tidak diterima dan menyuruh mengirim foto ulang dengan personil lengkap. Mona mengetik balasan, menjelaskan bahwa Gore tiba-tiba menghilang.
Mona sudah khawatir apabila Ades memvonis foto kedua gagal, maka misi juga gagal dan hadiah dibatalkan. Untunglah Ades memberi mereka kesempatan selama lima belas menit untuk mencari Gore.
Mona dan Levi pun melanjutkan pencarian. Sejak tadi mereka terus berjalan kaki tanpa henti. Levi ingin membeli minuman, tapi Mona menegurnya, berkata jika itu akan menghabiskan banyak waktu. Levi mengatupkan bibir rapat-rapat dan menolak bicara.
Benar-benar kampret, maki Mona dalam hati. Pada saat-saat seperti ini, dia ingin sekali mengeluarkan segala kosakata sumpah serapah yang dimilikinya.
“Sebenarnya bocah itu ke mana sih?” tanya Mona kesal. Kakinya mulai pegal, jadi dia berhenti berjalan. “Atau jangan-jangan dia malah cabut duluan?”
“Kayaknya nggak mungkin. Kalau dia berani cabut, Ades pasti sudah chat elo, kan?” Levi ikut berhenti. “Anyway, daripada kita nyari nggak jelas kayak gini, kita pikir-pikir dulu deh. Apa yang disuka sama bocah itu?”
“Setahu gue, dia itu suka menyendiri. Terus suka juga bikin eksperimen aneh di kamarnya. Dia gampang penasaran. I mean, penasaran dalam tanda kutip.”
“Bingo. Poin utama, apa yang dia butuhkan sekarang?”
“Ketenangan?”
“Right. Tempat apa di taman hiburan yang sepi dan tidak perlu membayar?”
Mona mencoba mengingat gambar denah taman hiburan di pintu masuk. “Kalau begitu … Teras Santai?”
Levi menjentikkan jari. “Oke, Teras Santai.”
Dari informasi pada denah, Teras Santai adalah sebutan untuk lokasi di mana pohon-pohon rindang tumbuh berjajar, dengan satu kursi kayu panjang di setiap pohonnya. Biasanya pengunjung membaca buku dan mendengarkan musik di sana.
Berpacu dengan waktu, Mona dan Levi kembali berjalan, jelalatan mengamati setiap sudut, mencari-cari keberadaan adik mereka yang lenyap bagai ditelan bumi.
“Gore! Lo ada di manaaa? Goreee! Hellooo!”
Levi buru-buru menyikut Mona. “Lo kenapa sih teriak-teriak begitu?”
“Kan supaya Gore cepet ketemu.”
“Kita jadi dilihatin orang, tahu. Malu-maluin amat.”
“Emang gue pikirin.”
“Kita nyari biasa aja. Entar juga pasti ketemu.”
“Kalau dia nggak ada di sini kayak yang lo bilang, terus gimana?”
“Kita cari di tempat lain.”
Tidak memedulikan Levi yang keberatan, Mona tetap memanggil nama Gore. Awalnya hanya memanggil biasa. Lama-lama dia memanggil dengan berbagai nada dan ejekan.
Kalau bocah itu sampai ketemu, Mona berencana akan memotong Gore menjadi tusukan sate.
.
.
Entah ini keberuntungan atau kebetulan semata, akhirnya Levi dan Mona berhasil menemukan Gore. Anak itu sedang mendekam pada salah satu kursi, duduk santai sambil mengenakan headseat yang terhubung dengan alat pemutar musik mini.
Begitu menyadari kedatangan Mona dan Levi, Gore yang terkejut segera mencabut headseat dari telinganya.
Mona berkacak pinggang. “Jadi gini kelakuan lo? Lo bilang tadi mau ke toilet, tapi apa kenyataannya?”
“Gue nggak bohong kok. Gue emang ke toilet.”
“Tapi kenapa lo nggak balik? Malah pakai acara ngilang segala. Gara-gara lo, kita berdua jadi muter-muter nggak jelas. Buang-buang waktu aja.”
Gore hanya melipat tangan di dada. “Gue cuman bosen ngintilin kalian berdua. Emang Ades udah nge-chat lagi?”
“Pakai nanya. Untung aja Ades masih ngasih kesempatan kedua, jadi gue sama Levi harus nemuin lo dulu.”
“Jadi permainan masih lanjut?”
“Lama-lama ngomong sama lo ngeselin juga, ya? Gue kira lo bakal enak diajak kompromi. Eh tahunya malah kayak gini.”
“Astaga, gue cuman pergi bentar doang kok. Ya udah sih, gue juga bakal lanjutin permainan.”
Namun karena nada yang diucapkan Gore tidak terdengar bersalah sama sekali, Mona semakin naik pitam.
Melihat gelagat Mona yang seperti ingin menimpuk kepala Gore, Levi memutuskan untuk memosisikan diri di tengah-tengah mereka berdua.
“Udah, udah. Jangan ribut,” Levi mencoba menengahi. “Mending sekarang kita foto, terus lanjut ke wahana berikutnya, oke?”
Mona menarik napas panjang dan menenangkan diri. “Oke, kita lanjutkan. Gue pengen nyoba Rumah Hantu—The Conjuring House—yang letaknya di paling timur itu. Dan setuju atau nggak, gue nggak mau denger penolakan dari kalian,” pungkasnya galak.
Jika Mona sudah seperti itu, baik Levi maupun Gore tidak berani membantah. Sekalipun Levi sendiri tidak menyukai hal-hal berbau hantu (bukan berarti dia takut dengan hantu), lebih baik menurut. Gore sepertinya memikirkan hal serupa.
Mereka bertiga kemudian ber-selfie tanpa memedulikan pose lagi. Tiga kali foto dikirim kepada Ades, yang dibalas sang ibunda dengan emoticon jempol. Setelah itu, mereka pergi menuju wahana Rumah Hantu.
Sesuai namanya, The Conjuring House mengambil tema dari film horor berseri yang terkenal itu. Pada sore hari yang masih panas ini, ada sekitar sepuluh pengunjung yang mengantre membeli tiket.
Usai membayar tiket, mereka masuk ke Rumah Hantu. Mona yang bertindak sebagai kapten misi mengatur agar mereka bertiga selalu berdekatan, sebab ada tiga orang lain lagi yang masuk bersamaan dengan mereka.
Begitu ada di dalam, suasana yang tadinya terang berganti menjadi gelap total hingga Levi tidak mengenali wajah Mona dan Gore. Meskipun begitu, dia tetap berjalan dengan percaya diri. Tak secuil pun rasa takut merayapinya sekalipun ada bunyi gemuruh dan efek petir yang menyambar di dalam rumah. Hantu-hantu yang ditemuinya sejauh ini sungguh konyol. Memang satu-dua kali Levi sempat terpekik hingga dia terjungkal. Bukan sebab melihat hantu yang menyeramkan, melainkan karena kaget saja.
Yang paling Levi khawatirkan adalah jika mereka bertiga terpisah (karena Rumah Hantu berukuran sangat besar dan memiliki banyak pintu keluar). Ketika firasatnya mengatakan bahwa dia berjalan sendirian di koridor yang remang-remang, Levi pun menyadari bahwa mereka akhirnya terpencar.
Levi mencoba memanggil nama Mona dan Gore, tetapi tiada sahutan. Bahkan hingga dia berhasil keluar dari Rumah Hantu, dia tidak menemukan mereka.
Levi memandang sekeliling dan memutar otak. Tatapannya lalu jatuh kepada wahana keranjang yang dia naiki sebelumnya. Memikirkan hari yang semakin sore, dia tahu harus cepat mengambil tindakan.
Dengan uang pemberian Mona yang belum sempat dia buat untuk membeli jajan, Levi memutuskan untuk membeli tiket wahana keranjang sekali lagi. Dia meminjam teropong milik penjaga wahana tersebut dan berjanji akan mengembalikannya saat sudah turun.
Dengan cara itulah Levi menemukan petunjuk mengenai keberadaan saudaranya.
.
.
Sewaktu Mona dan Levi berhasil menemukannya ketika dia melarikan diri ke Teras Santai, dalam hati Gore mengutuki kebodohannya karena tidak mencari tempat yang lebih tersembunyi.
Akan tetapi, kesialan Gore tidak berhenti sampai di situ. Dia mungkin berhasil melewati Rumah Hantu sampai pintu keluar dan bertemu dengan Mona, namun rupanya Levi tidak terlihat di manapun.
Mona lalu mengajaknya mencari Levi, tapi Gore menolak mentah-mentah.
“Buat apa kita repot-repot nyari dia? Levi pasti juga akan nyari kita. Daripada kita muter-muter nggak jelas kayak lo nyari gue tadi, mendingan kita berhenti di depan stand minuman yang gampang dilihat. Kalau Levi belum beli jajan sejak tadi, saat ini dia pasti udah kehausan.”
Gore dapat melihat bagaimana raut wajah Mona yang semula penuh amarah berganti cemberut. Sang kakak pasti tidak mau mengakui jika Gore memiliki ide cerdas semacam ini.
Dasar cewek, batinnya, geli bercampur gemas.
Mengikuti saran Gore, mereka berdua kemudian berhenti di depan stand penjual jus buah segar dan membeli minuman tersebut.
Sesuai prediksi Gore, Levi muncul menghampiri mereka kira-kira sepuluh menit kemudian.
“Lo ke mana aja sih, Lev?” Mona segera menuntut meminta penjelasan.
“Halah, nanti aja deh gue cerita. Sekarang gue haus banget nih.”
Sang adik justru merebut jus stroberi yang dipegang Mona.
“Eh, eh, eh. Beli aja sendiri sana!” Mona menjauhkan jusnya dari jangkauan tangan Levi.
“Cuman minta sedikit kok.”
“Emang nggak jijik minum bekas gue?”
“Ngapain jijik? Kita kan saudara. Benar nggak, Gore?”
Yang dimintai pendapat hanya bengong sambil menyeruput jus.
Terdiam (lebih tepatnya tercengang) dengan argumen Levi, Mona membiarkan jusnya dikuasai sang adik.
Sambil mengistirahatkan tubuh, mereka bertiga berdiskusi tentang misi yang mereka jalani. Saat mereka berpencar sesudah dari Rumah Hantu, Ades mengirim pesan kepada Mona, dan dengan terpaksa Mona membalas jika dia belum bisa mengambil foto karena Levi menghilang. Jawaban Ades tidak selembut saat kegagalan mereka yang pertama, hanya menyuruhnya melanjutkan permainan.
“Kenapa kita gagal terus sih?” Mona membuka percakapan. Mengingat dia adalah kapten misi, dia merasa bertanggungjawab.
“Ini salah lo, Mon,” kata Levi.
“Kenapa gue?”
“Siapa yang tadi maksa masuk Rumah Hantu? Kan elo. Udah tahu kalau di dalam sana pasti gelap. Lo maksa gue sama Gore buat ngikutin lo.”
“Kok lo jadi nyalahin gue sih?”
“Gue nggak nyalahin lo. Gue cuman ngomongin fakta.”
Bukan Mona namanya jika dia gampang digilas. “Kalau lo mau ngomongin fakta secara fair, kita semua di sini salah. Pas abis kita naik wahana keranjang, lo juga bikin kesalahan, Lev. Lo main nyelonong aja ngejar-ngejar cowok, jadi gue harus ngejar lo. Gore pun juga sama. Dia pamit ke toilet tapi ujung-ujungnya ngilang. Kita bertiga sebetulnya impas, oke?”
“Tapi kesalahan gue nggak sefatal yang lo lakuin, Mon.”
“Enak aja. Lo sendiri minta-minta uang ke gue buat beli jajan.”
“Kan gue nggak jadi beli. Malah akhirnya gue beliin tiket wahana keranjang buat nyari kalian.”
“Tuh, kan? Uang yang gue kasih jadi abis tuh.”
“Kan lo sendiri juga beli jajan, Mon.”
Gore yang sejak tadi hanya membisu mendengarkan perdebatan, kini menatap Mona dan Levi bergantian seakan memikirkan sesuatu.
“Emang kalian sebegitunya pengen hadiah itu, ya?” tanyanya dengan ekspresi polos.
“Emang lo nggak pengen?” sahut Mona.
“Engga.”
“Halah, lo pasti bohong.”
Gore memasang ekspresi masam, sebelum kemudian kembali serius. “Gue punya satu ide. Manjur atau nggak, gue nggak tahu. Yang penting kalian dengerin dulu.”
Entah mengapa Mona dan Levi sama-sama tampak antusias.
Maka Gore menjabarkan apa yang sejak tadi ada di kepalanya; mereka akan bekerja sama dengan sang supir. Pria yang sejak dulu selalu memakai kacamata hitam itu pastilah pria yang cerdas. Jika tidak, tentu Feruci tidak akan merekrutnya. Seandainya supir itu menolak bernegosiasi, mereka bertiga tinggal memberi pilihan; mati karena ditembak, dipenggal, ditusuk pedang, atau karena racun.
Dengan dipantau supir tersebut, dalam setengah jam ke depan, mereka bertiga akan berfoto bersama sebanyak-banyaknya di berbagai sudut di taman hiburan. Sesudah selesai mengambil foto, ponsel akan dipegang oleh sang supir.
Jika Ades mengirim pesan dan meminta foto, maka supir itu dapat mengirim foto sekaligus memberi titik lokasi yang sama seperti pada foto.
Mona yang mengikuti alur pemikiran Gore mengangguk-angguk.
“Jadi sekarang waktu bebas, kan?”
“Ya. Uangnya juga bisa kita bagi tiga,” Gore mengakhiri usulannya dengan nada ragu.
Tak disangka, ide Gore disambut bahagia oleh kedua kakaknya. Selama beberapa detik, mereka berdua tidak dapat berkata-kata, tidak menduga akan ada ide sebrilian itu, sampai-sampai Levi berjingkrak girang. Levi bahkan berani menempelkan kepalanya ke kepala Gore ketika dua gadis itu memeluk sang adik untuk merayakan euforia.
Di sisi lain, Gore yang menyaksikan reaksi berlebihan dari kedua kakaknya hanya dapat menampilkan wajah ngeri (meskipun tidak terpungkiri jika sebagian hatinya ikut senang sebab idenya diterima).[]
SAMBIL memandangi hasil cetakan foto di sebuah buku album, Ades mencurigai adanya kecurangan dibalik terciptanya foto-foto tersebut.
Seminggu yang lalu, saat ketiga anaknya pulang dari taman hiburan, Ades menyanjung mereka yang berhasil menyelesaikan permainan walau sempat gagal di awal-awal (hanya dua kali sebetulnya). Wajah mereka terlihat pasrah dengan vonis yang hendak Ades lontarkan.
Akan tetapi, Ades tetaplah ibu yang penuh kasih. Dia menghargai usaha dan semangat anak-anaknya, sehingga dia pun memberikan hadiah sesuai keinginan mereka.
Sebenarnya sejak awal Ades sudah berencana untuk tetap memberikan mereka hadiah meski mereka tidak menyelesaikan permainan tersebut.
Ades yang curiga kemudian menggali informasi dari sang supir. Maka tahulah dia kejadian yang sesungguhnya.
Ades mengira jika sampai akhir anak-anaknya akan tetap egois dan tidak peduli, tetapi sang supir menambahkan cerita, bahwa ketika perjalanan pulang, ketiga anak saling menceritakan (lebih tepatnya menyombongkan) apa yang mereka lakukan masing-masing selama mereka menjelajah taman hiburan. Ades yang mendengar kisah tersebut lantas memuji sang supir.
Dan meskipun dengan semua kerepotan mengatur permainan dan menata ulang jadwal bisnis, pada akhirnya Ades mendapatkan apa yang dia inginkan. Permainan itu terjadi bukan hanya untuk merekatkan hubungan antara anak-anak tersayangnya, namun juga karena Feruci, dan hasilnya tetap untuk Feruci.
Sebab lihatlah apa yang terjadi saat Ades menyodorkan foto-foto ketiga anak manisnya dalam album tadi kepada pria tersebut; Feruci yang semula bad mood dan berwajah masam, kini dia dapat tersenyum dan tertawa.
Dan jika Feruci melihat sang istri bahagia, demikian juga dirinya. Sesederhana itu.[]
THE END
Commission Story Written by Jogag Busang on Facebook



Comments