top of page

Abnormal

  • 616dotexe
  • Oct 25, 2024
  • 5 min read

Updated: Feb 8, 2025

Petikan pada koto Yuriko berhenti pada saat Feruci tiba di akhir dongeng panjang yang ia tuturkan sebagai kebenaran absolut.


Teh yang ia sajikan sudah lama menjadi dingin, kepulan asapnya dibuat habis menantikan Feruci dan ceritanya yang tak kunjung berakhir. Ia dapat merasakan ujung jemarinya dibuat lecet akibat tanpa henti memetik senar koto-nya, atas permintaan Feruci, yang merupakan klien setianya sejak awal rumah bordil ini ia dirikan.


“Teh?” Yuriko bertanya, jarinya yang masih baik berusaha untuk mempersembahkan cangkir tehnya. Ia tersenyum lembut saat Feruci menerima tawarannya. Kliennya menyesap teh dingin itu dengan perlahan, mengulur waktunya—toh, ia masih memiliki dua jam lagi bersama Yuriko, seperti biasa.


Yuriko kembali menundukkan kepalanya, submisif. Ia tidak pernah melupakan peran yang ia emban, walau dalam hati, ia mulai menghitung mundur. Tatapannya mengerling mengamati gelagat Feruci yang terus meracau layaknya orang sinting, tentang kehidupan-kehidupan yang sudah ia lalui—seorang penjaga pintu gerbang yang mati terpenggal, seorang ahli waris yang dibunuh saudara yang mendengki, seorang anak kecil yang memakan sisa-sisa daging manusia di medan perang dan mati keracunan, seorang—


Sudah muak—dan waktu yang ia antisipasi merangkak semakin dekat—ia menyela dengan berani, “Apa yang Anda inginkan, Tuan Lucifer?”


Feruci tertawa lepas, seperti orang mabuk atau gila—mungkin keduanya—saat Yuriko membuka mulutnya. Protes; biasanya, tidak ada seorang oiran yang berani menantang kuasa klien atas waktu yang terbuang. Tapi Yuriko dibekali dengan informasi berharga bahwa nyawa Feruci hanya tinggal menghitung detik, dan ia tahu kemenangannya telah terjamin apabila Feruci mati.


“Ades, kau tahu apa yang tidak pernah kulakukan sepanjang puluhan, ratusan milenium yang berlalu…?”


Waktunya habis. Tetapi Feruci hanya terkekeh di tempatnya duduk bersila.


“Aku mati terlalu cepat, aku terlalu sibuk, aku masih terlalu muda, aku terlalu malas mencari….”


Ia terus menggumamkan seribu-satu alasan hingga tangannya meraih Yuriko dengan cepat untuk mencengkeram kanzashi pada rambutnya. Ia memaksa Yuriko untuk bangkit berdiri, membuat wanita itu meringis kesakitkan, tangannya yang lain bergerak untuk meraih pisau di balik uchikake-nya. Ia terkesiap—menyadari bahwa racun yang potensinya ia racik sepuluh kali lipat lebih kuat dari yang sebelumnya ia coba gunakan untuk membunuh pria ini, masih belum efektif untuk membungkamnya.


“Feruci—Lucifer—!”


Feruci tersenyum padanya, mengejek upayanya meronta untuk dilepaskan.


“Aku bosan, Ades.”


Jemarinya melemas; ia melepaskan Yuriko, membiarkan tubuh wanita itu jatuh ke tatami di bawah. Namun dengan tangkas ia menyergap wanita itu lagi, menarik tubuhnya hingga tidak ada spasi di antara mereka. Wajah mereka amatlah dekat, tangan Feruci pada tengkuk Yuriko, menahan agar kontak mata mereka

terjaga. Seringai pada bibir Feruci amatlah lebar.


“Aku mau berkeluarga; kurasa hidupku akan jauh lebih menarik untuk dikenang kelak bila keluargakulah yang mengakhiri hidup yang membosankan ini. Menikahlah denganku.”


Ades memandang dengan bola mata terbelalak; Feruci nyaris menyatukan bibir mereka, tapi tidak sampai. Posisi mereka terjaga selama sekian detik, saat Ades masih berusaha mencerna kalimat yang diutarakan Feruci.


Lantas, ia menarik kerah pakaian Feruci perlahan-lahan, matanya bergelimang sinis.


“Bila aku setuju, apa untungnya untukku…?”


Tangannya menyentuh punggung tangan Yuriko. Aroma manis feromon wanita itu mengundangnya, tapi ia tahu lebih baik untuk tidak terjerat dosa yang Ades lahirkan dari libidonya. Ia tahu untuk tidak mengalihkan fokusnya pada hal lain dalam negosiasi.


“Aku menjadi milikmu; seutuhnya, selamanya-lamanya.”


Sudah cukup ia merasakan neraka. Sekali ini saja, ia ingin mencoba mendambakan hal lain.


Mata mereka bertemu; berusaha saling memahami. Tidak ada intrik, tidak ada tipu daya. Ades merapatkan bibirnya, lalu mengangguk ragu.


Selayaknya iblis menjelma, ia mengikat janji itu dengan ciuman pada bibir Ades yang telah mengecap seragam racun dunia ini. Rasanya seperti racun; pahit, mematikan.


Tapi Feruci melahapnya hingga tak bersisa, dan ia dibuat utuh.


-----------------------------------


Kala mata-mata kecilnya memandang dari ketiadaan kekal yang menyelimuti makna eksistensinya, waktu berhenti—atau memang waktu tidak pernah berdetik di tempatnya bersemayam—dan bisingnya hening yang merespon membuatnya tersadar bahwa eksistensinya tak berarti apapun bagi kekekalan adikuasa yang menaunginya.


Maka, dosa pertamanya adalah otonominya, dan ia menolak insaf semenjak itu.


Hari ini, Ades bermain dengan shamisen-nya. Lantunan petik senarnya yang nyaring seiringan dengan denting bambu dari shishi-odoshi di taman yang ia desain untuk membuat Ades betah tinggal di rumah mengundangnya untuk mengintip. Di balik shoji yang setengah terbuka, ia melihat Ades sedang duduk dalam posisi seiza.


Kedua anak perempuannya duduk berdampingan dengan Ades, membuat Feruci menghentikan langkahnya; tidak ingin merusak momen kebersamaan mereka. Ia membiarkan lantunan shamisen-nya mengisi sunyi yang semakin kental di antara ketiga wanita di luar shoji.


“Levi, apa kau tahu kalau shamisen biasanya dibuat dari kulit perut kucing?”


Yang disebut lantas terkesiap, tubuhnya duduk tegak. Ia menoleh ke arah sang kakak yang membalas rajukannya dengan seringai lebar.


“Jangan bohong, ah! Masih pagi.”


“Siapa yang bohong. Makanya kalau ke sekolah ya belajar, jangan tidur.”


Permainan shamisen Ades sedikit terganggu, tapi ia tetap melanjutkan melodinya.


“Apalagi tidur sama orang seantero sekolah, kapan belajarnya?”


Levi hendak menjerit untuk membuat Mona berhenti bicara, tapi Ades menyela dengan tegas, “Diam, kalian berdua.”


Keduanya menurut.


Kemudian Ades tidak sedikitpun bergerak dari posisinya kala berkata, “Feruci, sayang, tidak mau kemari untuk menyapa?”


Walau mulanya ia menyimpan sedikit dengki pada takdir di mana ia dijebloskan—dalam monoton kehidupan berkeluarga dengan seorang yang tidak terlalu ia senangi, Ades mulai melunakkan hatinya. Ia telah berdamai dengan keputusan yang ia ambil di hari itu.


Permainannya masih berlanjut kala Feruci tersenyum, Mona dan Levi memandangnya dengan bola mata membulat seperti rembulan. Feruci menggeser shoji-nya, melihat taman batu mereka sudah hancur berantakan, dengan pasir bercampur darah yang menggenang, mayat beberapa orang kehilangan beberapa bagian tubuhnya.


Ia melihat para pekerja milik Ades bergerak melewati pintu belakang dengan mengendap-endap, mengangkut jasad-jasad yang tersisa untuk panen organ—bila mereka beruntung, mereka mati terkena arsenal persenjataan Mona atau racun milik Ades agar tidak ada bagian tubuh mereka yang dapat dimanfaatkan, karena Levi tahu trik untuk membunuh tanpa merusak aset-aset yang ada dalam tubuh manusia.


Mona mendecakkan lidahnya, meminta perhatian Feruci untuk menjelaskan, “Mereka datang lagi.


“Gore tidak ikut membantu kalian?”


“Ah, ia sudah pergi.” Levi balas, acuh-tak-acuh, “Katanya tidak ada yang menarik.”


“Begitu?”


“Mhm.” Levi menganggukkan kepalanya. “Katanya ia bosan, dari kemarin tidak ada yang menarik. Mungkin ia sedang mencari siapa yang mengirim orang-orang jelek ini.”


Kedua gadisnya bangkit berdiri dan pergi meninggalkan mereka tanpa alasan apapun. Ades bergeming pada perubahan drastisnya, kendati demikian, ia tetap memainkan shamisen-nya dengan nyaring saat Feruci mengambil posisi duduk di sebelahnya. Kakinya duduk dengan posisi menyilang.


Ades memelototinya, tapi tidak berkomentar.


Feruci memandang Ades, sorot matanya berharap, antusias. Gelimangnya antusias kala ia bertanya, suaranya rendah, tidak ingin didengar, “Apa kau akan membunuhku malam ini?”


Ades berhenti memetik. Bachi pada tangannya ia turunkan. Cukup lama ia menunduk, merenungi berbagai upaya gagal yang sebelumnya ia lakukan.


“Mungkin.” balasnya, lalu lanjut memetik. Feruci tersenyum di sisinya.


“Kutunggu, kalau begitu,”


Istrinya hanya mendengus, apatis pada respon dengan nada mengejek yang diutarakan Feruci.


Selanjutnya hening, hanya bunyi petikan senar yang mengisi spasi di antara mereka. Tak lama, Feruci berkata, “Aku suka permainanmu.”


Ia tidak mengharapkan jawaban. Hanya mendengarkan Ades dan rentet melodi repetitif yang diulang-ulang dengan kikuk, mencoba untuk terbiasa memainkan shamisen. Feruci di sisinya pelan-pelan mengikuti dengan senandung.


Dan ia memejamkan matanya, ingin menghayati nada-nada yang melantun—


Sebelum kembali membukanya kala Ades mengayunkan bachi pada tangannya ke arah leher sang suami.


Feruci tertawa—istrinya selalu penuh dengan kejutan, tapi karena eksistensinya di kediaman ini hanya melulu memberikan kejutan bagi Feruci, ia jadi mudah diprediksi.


Ades mendecakkan lidahnya. Bachi pada tangannya bergelimang perak, lagi-lagi gagal menarik darah yang bersembunyi di balik nadi suaminya yang berdebar karena adrenalin.


“Hahah—” Feruci tertawa—menertawakan Ades, yang kembali duduk dengan posisi seiza. Ia kembali memetik, matanya terpejam rapat, menikmati kehadiran Feruci yang kini duduk semakin dekat padanya. Ades menegakkan tubuhnya kala Feruci mengistirahatkan kepalanya pada bahunya.


“Pelan-pelan, nanti senarnya putus.”


Ades mendengus.


“Jangan nasehati aku untuk pelan-pelan bila kau saja tidak tahu apa maksudnya saat aku yang meminta.”


“Masih marah karena yang kemarin, ya?”


Feruci tertawa, tapi Ades tak tahu bagian mana yang lucu. Ia sedikit aneh, tapi Ades sudah menerima Feruci apa adanya. Maka untuk mengalihkan topik diskusi mereka, Ades mengesampingkan shamisen-nya, menepuk pangkuannya agar Feruci bisa mengistirahatkan kepalanya.


Aku tidak marah. Ades ingin bilang, senyum kecil terkembang mengingat tadi malam. Tapi kata selalu lalai dalam menyampaikan isi hatinya—maka untuk mengekspresikan hatinya, tangannya membelai helaian rambut Feruci dengan penuh kasih.


“Bagaimana harimu?” wanita itu bertanya lembut, dan Feruci membalasnya dengan sentimen serupa.



Commission Story Written by 616dotexe

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page