top of page

Balada Jenaka Comiket

  • LIN
  • Aug 24, 2024
  • 26 min read

Updated: Jan 9, 2025


Prologue :


Pernah melihat orang geregetan mau jalan-jalan? Tapi terhalang restu kakak yang overprotektif kebangetan. Jangan tanya kalau cerita ini mengupas alur penuh keunikan. Tokoh-tokoh Serious Gaming memang eksentrik, tapi yakin deh pembaca akan ketagihan. Dari yang wataknya tengil begajulan, ada juga muka yang gahar mirip ajudan. Atau mau cari si paling mau hidup bersama enggan dilerai perpisahan? Selamat datang di seri dengan banyak kejutan! Jangan lupa selami setiap aksara sampai kisah dituntaskan.


───────────────────────




Perkara event Comiket jadi wadah permulaan narasi kita menuai pertikaian. Yang satu berisik seperti bocah tidak keturutan mainan. Kakaknya pasang tampang ogah, enggan terima pembantahan. “Satu kali saja, pleaseee? Iya ya ya ya?” bibir manyun setengah meter, wajah mendekat ke pipi si kakak sambil kelabakan. Mau guling-guling juga Cross tetap bersiteguh pendirian.

 

“Tidak,” bersedekap dada, dirayu pakai jurus apapun juga tetap tidak menggoyahkan keputusan. Malah sekarang Delta makin begajulan, si jago kandang ini mentalnya kekanakan. Konyol tapi nyata, kerap membayangkan hal-hal di luar pemikiran. Selain sering terpengaruh efek kemajuan internet tanpa pengawasan.

 

Delta juga punya kecenderungan terlalu percaya sama si kakak, kepolosan diri Delta menuntun timbulnya spekulasi 'nyeleneh'. Apa maksudnya? Seperti bayang-bayang kegaduhan yang akan terjadi jika keluar dari Console.

 

“Kalau ada begal palakin aku, enaknya dilawan atau teriak copet? Kalau dilawan tapi kebal peluru karena punya khodam, bagaimana?”

 

Atau tingkat imajinasi konyol seperti :

 

“Pas jalan kaki tiba-tiba tertimpa meteor, bakal jadi Delta geprek atau Delta penyet?” yang jika diutarakan maka akan terdengar bodoh.

 

Definisi lugu tapi bandel minta keluar mulu. Aslinya melempem kalau beneran ketemu lawan jitu. Tipikal si jago kandang memang begitu. Lampu ide cemerlang muncul di atas kepalanya. “Aha! Tidak sampai setengah hari deh. Boleh?” berharap negosiasi bisa berhasil, ternyata tetap jalan buntu.

 

Rengek risih, bibir mencebik, alis menukik. Lengah sedikit tiba-tiba Delta menempel di punggung Cross— kakaknya, mirip cecak bongsor. “Lihat, wajah garangku. Nih,” Delta niat tunjukkan muka sok sangar, malah terlihat tengil maksimal. “Tuh sama rahang mewing ini,” imbuhnya dibuat-buat tampang seperti orang benar, hitungan ketiga tolong pembaca jangan jitak anak ini.

 

“Mau pakai bahasa apa? No? Nein? Non? Ora? Mboten?” mau pakai akal strategi bagaimana juga Cross tetap bilang tidak.

 

Delta merosot lunglai, bersimpuh dramatis di depan kakaknya. Kedua tangan tertangkup memohon. “Ayolaaah... bolehin dong. Khawatir di bagian mana sih? Aku cukup dewasa buat jaga diri, yakin!” dialognya berkobar memantapkan hati, habis berapi-api eh— padam meninggalkan kepulan asap kecewa dengar jawaban Cross tetap sama.

 

“Kamu. Tidak. Bisa.”

 

Uring-uringan merajuk, Delta bingung harus diberi bukti apa biar kakaknya meloloskan izin. “Belum dicoba lho... siapa tahu bisa? Kan selama ini kakak yang tidak pernah kasih kesempatan,” sanggahnya sambil memainkan kedua telunjuk, akting imut mungkin sanggup bikin Cross luluh.

 

Kakaknya masih bersikeras enggan membuka celah. “Tetap tidak. Terlalu berisiko Del, apalagi untuk event besar seperti—” datar tapi nyelekit, disusul suara 'Bruk!' jatuh terpejam lelap. Peristiwa seperti ini bukan lagi perlu diherankan. Kalau pirsawan baca bertanya ke mana perginya Cross? Dia bekerja, 12 jam untuk dedikasi jiwanya jadi budak neraka. Sisanya bisa dihitung jari, 4 jam itu durasi istirahat yang sebenarnya— total ada 16 jam tidur dalam sehari.

 

Sekonyol-konyolnya tingkah Delta meraung minta izin pergi. Dia tetap gagal buat dapat menggoyahkan keteguhan Cross dari hati. “Ada pamflet game, bintang tamu cosplayer dan acara seru yang belum pernah aku temui,” monolognya bersedih sambil gendong tubuh Cross ke kamar tidur, aslinya si Delta sudah ngenes sendiri. Hellooo, zaman sekarang hiburan mudah dicari. Tinggal izin nya doang ini yang susah banget setengah mati.

 

Dering ponsel menyita atensi.




Mulai nih si paling dekat dengan kakaknya. Lihat foto profil telepon masuk saja Delta paham. “Siapa yang pingin pergi ke event tapi malah nanti hilang di sana? Jangan ya dek ya,” mana pakai nada 'jangan ya dek ya' yang super duper menyebalkan. Bilang saja berpihak ke Cross, dia ini seolah menuntaskan omongan si kakak yang belum rampung tadi.

 

“Tidak ah. Mana mungkin hilang, toh kalian bisa temukan aku di mana. Apalagi kamu pasti tahu, kan?” jangan sembarang remehkan taktik observasi Delta. Berkecimpung dengan SeGa tidak lepas dari skill mumpuni, organisasi berbasis internet yang sanggup melibas request terkini. Bukan semata beres terus disudahi. Zero bisa melacak lokasi tersembunyi, mau itu klien di dalam parit juga pasti dia paham tentang di mana titik posisi.

 

Respon Zero bikin geregetan mau banting ponsel. “Ehe. Benar juga sih,” dengan level nada bicara menyulut kedongkolan.

 

Delta tergerak buat mencibir, ada perempatan jengkel di pelipis jidatnya. “Duduk perkaranya apa dong?!”

 

“ .... ” jeda hening menghentikan narasi kita. Zero berperang batin, aslinya paham kalau selama ini aksi larangan Delta keluar Console itu bukan karena alasan riskan. Semuanya berdasar dari sikap overprotektif Cross yang asumsinya mengarah ke hal-hal parno, setiap kali berkaitan dengan Delta pasti begitu.

 

Si surai kuncir ekor kuda hijau mencecar pertanyaan. “Diam berarti 'iya', kan? Tidak kenapa-napa juga kalau aku keluar,” pungkasnya berusaha mencari celah.

 

Ketertarikan Zero terhadap Cross tetap tidak bisa dipungkiri. Jelas dia punya cara buat menyiasati. Katanya begini. “Kalau pergi bersama Cube. Aku izinin deh,” tanggapnya, dengan maksud tersirat bahwa izin bersal dari 'Aku' alias dirinya sendiri tanpa melibatkan Cross. Pun, secara logika juga Cube mana mau diajak Delta. Sudah pasti mudah ditebak dalam sekali kedipan mata.

 

Mwach.

 

Ini namanya orang kegirangan, Delta cium-cium Zero lewat ponsel. “Terima kasiiih Zero baiiik~” berbunga-bunga deh tuh muka. Sambungan ponsel dituntaskan setelah puas dapat jalan pintas.


✧ ✧ ✧



Peluk jadi sambutan pulang kerja Cube di senja hari pada markas mereka, sebuah trik ajaib apalagi ini anak main terjang sambil merayu lugu. “Cwube, mawu temwani akyuh ke Cwomikwet twidak?” balada jenaka Delta ada saja, aksen cadel dengan maksud biar si sangar hatinya luluh.

 

Ekspresi jijik sambil membetulkan kerahnya, citra pengusaha berwibawa Cube bisa runtuh kalau nurutin kemauan Delta. “Gue gak sudi,” cetusnya paten, martabat sangar nomor satu. Apalagi Delta pasti mirip momongan bocah TK yang butuh ajudan buat jagain dia ke mana-mana. Onde mande, bisa repot weekend damai dia ke Comiket bareng Delta. Konsep rebahan dulu baru kamu lebih asyik buat dilakoni.

 

Setelah akting imut, sekarang berbanding drastis lebih pedas dari cabai rawit. “Apalah lu tega banget? Duit banyak tapi pelit waktu!” racaunya resek, mencak-mencak gondok keinginan tidak terkabul untuk ke sekian kalinya.

 

Delta mau semedi memikirkan akal cerdik buat bagaimana caranya tetap bisa datang ke Comiket. Biar dikata nekat juga dia tidak peduli.


───────────────────────



Terobosan yang Delta lakukan adalah... buka jastip. Dia pakai akun alter berbekal caption kekinian, ditunjang iming-iming rate fee terjangkau. Sontak menarik minat pengabdi husbando dan waifu gepeng yang terhalang kesibukan. Delta berkutat di depan monitor sejak tiga hari lalu. Tiap sepersekian menit dia cek notifikasi buat tawarkan jastip ke lapak dengan hastag Comiket. Promosi sana-sini sampai effort balas DM orang yang tanya-tanya dulu lewat ponsel.

 

Delta percaya diri, dia berpikir potensinya lumayan juga nih buat terjun ke event besar. Buktinya, dalam kurun tiga hari saja slot jastip Comiket SeGa membeludak. Cara Delta reply komentar lapak jastip betulan menghibur khalayak, alhasil banyak yang makin tertarik buat ikut slot jastip.

 

Walaupun Zero jarang mampir ke Console, dia tetap tahu semua gerak-gerik perihal SeGa. Bahkan strategi secerdik kancil si Delta juga terendus, pemuda kepala sawi hijau itu bawa-bawa label SeGa buat pasang jastip. Zero memicing, satu alis terangkat, dagu digosok sambil berdehem bikin kaget. “Ekhem... ini kerjaan kamu ya, Del? Yang promosikan jastip Comiket,” sejak kapan Zero ada di belakang Delta? Empunya terperanjat, reflek sembunyikan ponsel di balik kaosnya.

 

Posisi lagi duduk di sofa, Cube juga baru bisa pasang posisi santai di atas bantalan beludru. “Hari ini ada cat tembok yang mengelupas ya? Itu tuh di sebelah sana,” random banget taktik ngeles si tengil yang buang muka pura-pura tuli.

 

“Heh! Jangan alihkan topik,” napasnya berembus menggebu, Zero condongkan muka ke depan Delta. Berkacak pinggang mirip sama lagak pemilik kos tagih hutang.

 

Kesabaran Delta tersulut, memang mood pemuda satu ini ibarat iklim tak tentu. Terkadang riang gembira, bisa juga berubah drastis jadi sentimental gampang tersentil. “Apa siiih? Iri bilang bos!” hardiknya tapi belum mau mengaku.

 

Zero berkedip, kemudian terkekeh remeh sembari meregangkan rahang. “Ohhh mulai nyolot. Okelah, aku adukan saja ke Cro—” berapa kali narasi kita terputus begitu saja? Zero diterjang Delta dari belakang, Delta merengek kekanakan dengan lagak bandel. Dia bilang kalau sudah susah payah open slot jastip. Tarik-tarik rambut Zero, bibir mencebik bebek hampir sesenggukan.

 


Tinggal ngaku saja susahnya seperti ujian neraka.

Walau harus bersitegang dengan drama.


 

“Tetap tidak boleh Del,” tepukan kesal mendarat konyol di atas kening Delta. Yang diajak bicara sekarang beranjak, tingkahnya bikin orang kewalahan.

 

“Aku mau pergi ke Comiket. CO-MI-KEEET!” teriak serampangan sambil menghindari Zero, dia lari mondar-mandir di depan sofa. Beberapa kali menghalangi tayangan televisi yang ditonton Cube. Delta mondar-mandir di depan Cube dikejar Zero dari belakang.

 

Syaraf kelopak mata kanan Cube berkedut kesal mendapati situasi carut-marut. Suara Delta yang timpang tindih dengan sahutan Zero mendengung di gendang telinga. “DIAM!” amarah Cube meledak. Posisi Delta sekarang jika dianimasikan jadi chibi, dia lagi dicapit lucu sama Zero dari kerah tengkuk seperti menciduk anak ayam mau kabur.

 

Keduanya saling tatap, sekejap membisu. “Tuh, dimarahin kan?” tanggap Delta ke Zero, sesi komedi meme tuduh-menuduh dimulai.

 

“Kamu kan juga dimarahin....” timpal Zero curi-curi pandang ke Cube. Takut kalau nanti dia jadi kompor meledak.

 

Delta masih mau meladeni. “Aku cuma bantu orang-orang buat dapetin barang kesukaan mereka di Comiket,” sampai kapan pun kalau dilanjutkan tidak ada habisnya. Zero bisa depresi sendiri kalau adu argumen tidak berbobot sama Delta. Pendiriannya melunak, dia pikir sudah terlanjur banyak yang masuk antrian slot jastip. Ini juga menyangkut reputasi kepercayaan SeGa, kalau hanya Delta yang datang juga mustahil. Mengingat Delta ceroboh, mana mungkin bisa handle barang sebanyak itu? Alhasil Cube harus ikut campur tangan.

 

Usapan muka pasrah Zero jadi tindakan penutup drama percakapan alot mereka. Dia giring Delta duduk di sebelah Cube, lantas menegaskan satu kesimpulan. “Yasudah, boleh... tapi— syaratnya satu. Jaga rahasia baik-baik dari Cross,” dia tatap Delta yang pasang tampang tahan kegirangan, matanya sudah berkaca-kaca hiperbola. Angguk kepala antusias, Delta langsung bersikap mirip anak teladan nurut sama sepuhnya, Zero.

 

“Nanti begini rencananya. Kamu sama Cube datang ke Comiket dari pagi—” belum sempat tuntas, Cube menyela.

 

“Siapa Delta? Spesies apa itu Delta? Gue gak kenal,” mendadak tidak kenal, Cube acuh tapi tetap dengarkan titah Zero. Cube betulan ogah sampai ke ubun-ubun. Delta yang dengar itu langsung merajuk, dia dekap lengan Cube seperti anak koala.

 

Zero menghela napas, dia garuk tengkuk saking repotnya urusin Delta yang kepingin datang ke Comiket. “Ayolah Cube, satu kali ini saja. Nanti gue yang jaga Cross biar dia gak keluar dari kamarnya. Ngerti kan kalian berdua soal jam tidur Cross? Gue bakal gabung ke Comiket begitu Cross balik tidur lagi,” Zero atur alur taktik mereka, katanya mereka tinggal datang tidak perlu bingung menghadang Cross.

 

Ekspresi Cube kecut, ada awan mendung di atas kepala. Sedang Delta di sebelahnya berseri-seri ceria lengkap dengan binar kerlip. “Awas, gue gak bakal korbanin weekend gue lagi. Buruan sebelum gue berubah pikiran,” ada suara 'Gedubrak!' nyaring banget dari lantai sebab Delta kepalang senang sampai terjungkal.

 

YES! Ini dia detak-detik menuju Comiket.


✧ ✧ ✧


Kalau bisa dibarter sama merchandise Comiket, sumpah Cube bakal tawarin Delta di barisan paling depan. “Lihat! Keren bukan? Atau gue beli yang versi helm LPG tabung hijau biar menyatu sama warna rambut?” inisiatif alay si Delta punya list beli baju baru tapi pakai perlengkapan alat pengaman. Helm, syal bulu, sarung tangan dengan aksesoris gerigi, pelindung lutut bahkan dia mau wig cosplay.

 

“Kalau sampai lu beneran beli barang-barang itu, gue langsung cabut pulang. Bukan malah keren soalnya, lu bakal kelihatan kayak pasien sakit jiwa,” Cube heran anak ini makin hari menjelang Comiket tingkahnya lebih pecicilan. Mana mau dia berjalan beriringan sama orang norak, dikira mau parkour pakai acara pelindung lutut segala?




Delta cemberut, setelahnya lanjut kepoin booth apa saja yang menarik perhatian dia dari pamflet Comiket. “Eh kalau gue pas beli baju baru nih, terus penjualnya gak ada kembalian recehan. Terus malah dikasih permen, gimana?” asumsi konyol Delta kambuh lagi, pemikiran polosnya terlalu jauh menarik kesimpulan aneh.

 

“Jadiin permen nya freebies buat client jastip,” timpal Cube dibalas cibiran dongkol dari Delta. Kemudian, Delta suasana hatinya mirip roller coaster— habis melejit tinggi, terus merosot jatuh sebab kecemasan nya kambuh.

 

Terdiam lemas waktu anxiety kambuh, bahu melorot sambil bilang. “Lu tahu gak sih?”

 

“Gue tempe,” ujar Cube tanpa pikir panjang, sejujurnya dia sudah paham ke mana arahnya. Delta mengulang kecemasan yang sama sejak kemarin.

 

Delta merengek frustrasi. “Dengerin gueee dulu. Nanti kalau project ini kebongkar kakak, gue pasti menyesal. Apalagi kalau betulan hilang di Comiket— enggak, gak boleh mikir gitu. Tapi di satu sisi gue paham bisa jaga diri. Tapi tapiii... gue niat bikin jastip, kalau batal yang kecewa sama SeGa juga banyak,” urainya memuntahkan kekhawatiran melanda.

 

Cube yang notabene jadi wadah berkeluh Delta merasa agak iba. Anak ini kalau dipikir-pikir juga sudah semestinya wajar buat kenal dunia luar sana. Tapi terkekang kehendak kakaknya. “Namanya tujuan kalau sudah dikehendaki ya harus datang,” dia tepuk pundak Delta, sebisanya berusaha buat tenangkan suasana hati si jago kandang yang lagi cemas.

 

Dasarnya Delta gampang salah tangkap bicara. Mood naik-turun bikin sugesti dirinya punya persepsi tidak suka. “Realistis banget dah lu!” pungkasnya, maksud hati pingin dapat respon lebih sejuk. Tapi malah dapat jawaban pakai logika, siapa suruh juga ngadu ke Cube.

 

Ini anak menguji batin. “Gue lelang juga lu ke Comiket. Lumayan dapat cuan, daripada ngurus anak ilang. Apa? Ngambek?” dahi mengkerut, napas berkepul-kepul sebal.

 

Berawal dari curhatan.

Berujung pertengkaran.

 

“Gue cuma cemas soal project ini. Please lah dinginin kepala gue,” timpal Delta mulai hilang kewarasan, guling-guling di atas sofa sambil lempar bantal.

 

Cube sigap tangkap bantalnya, dia tumbuk ke dahi Delta biar sadar ini anak melanturnya. “Lu kira gue es batu?”

 

“Emang, kan Ice 'Cube'?!” jangan harap ada dialog berfaedah kalau berhubungan sama dua orang ini.

 

Pasti berputar terus pada poros jenaka yang sama.


───────────────────────





Degup memburu, peluh meriap dari telapak tangan sampai saliva kering di tenggorokan. Delta belum tidur nyenyak semalaman, dia kepikiran kalau hari ini bakal jadi pengalaman perdana keluar dari Console. Dia juga tidak terlihat gaduh, duduk manis di sebelah Cube tapi gigit jari gugup menunggu Zero. Begitu Zero datang— rasanya perut Delta geli, meletup-letup di dalam dengan buncah bahagia.

 

“Ayo, tunggu apalagi?” Cube menanti, Delta masih menetralkan rasa cemas berpadu gembira membukit jadi satu. Letak Console tersembunyi di tujuh lantai bawah tanah. Terpayung di bawah jembatan dekat aliran sungai, pintu masuk Console terletak pada sisi dinding penyangga jembatan.

 

Hening menyelimuti.

 

Hanya ada gema setapak demi setapak menaiki tangga. Atmosfer kegugupan Delta bisa dirasakan Cube, dia biarkan Delta berdamai dengan situasi hatinya. Sisa satu anak tangga lagi— Delta telan ludah, lidah kelu untuk sebatas menyuarakan celoteh berisik. Delta tidak berkedip barang sepersekian detik, hingga pintu Console yang belum pernah dia buka kini menyuguhkan sinar di balik celah.

 

Celah itu membias cahaya kian benderang. Terbuka lebar sejurus mentari pagi menyapa. Delta terpejam sejenak, silau membias netra dengan pantulan cerah. Begitu kelopak mata terbuka, adegan bermuara pada satu euphoria melambung tinggi. Delta terpaku kagum, begitu terpesona dengan sentuhan alam dunia luar yang tak terjamah sebelumnya. Dia takjub dengan sensasi sepoi menerpa di sela surai, aroma embun di pucuk-pucuk rumput, atau bagaimana gemercik aliran sungai menggelitik rungu. “Gue beneran gak mimpi kan?” monolognya disertai gelenyar abstrak, merambat dari dalam hati hingga meruntuhkan bendungan perasaan. Rasanya terharu sekaligus berbunga-bunga, dia tidak henti mengamati sekitar dengan sorot mendamba.

 

Iya, dunia luar sudah lama dia damba.

Baru kali ini tercapai secara nyata.

 

Cube perhatikan Delta, dia beri sejumput waktu biar anak ini menuntaskan perasaannya yang meleleh. Detak-detik arloji jadi pengingat waktu, Cube tepuk punggung Delta; interupsinya membuat Delta berpaling dari langit, padahal tengah menelisik bagaimana kapas-kapas awan bergerak. “Jangan lupa kalau kita punya agenda,” tukas Cube menuntun Delta beranjak jalan, berkali-kali Delta melihat kakinya berpijak pada hamparan hijau dekat jembatan.

 

Delta janji menjalani hari ini dengan sepenuh hati.


✧ ✧ ✧


Deru transportasi lalu-lalang sepanjang perjalanan menuju Comiket berjubel riuh, Delta melongo di balik kaca jendela mobil yang terbuka setengah. Terperangah heran dengan panorama kota, rasanya dia mau teriak tapi masih bertanya-tanya dengan sejuta rasa penasaran. “Woaaah! Ada air mancur warna-warni,” kepalanya menyembul dari jendela, Cube reflek pegang pundak Delta.

 

“Awas kepalanya nanti kebentur spion kendaraan lain,” sebisa mungkin kendalikan Delta, setidaknya Cube berusaha kondisikan kegirangan Delta biar tidak melewati batas.

 

Ilalang terbawa angin bertengger di puncak hidung Delta, kupu-kupu mengejar aroma bunga. Obsidian netra melihat ke atas, ada layangan lepas beterbangan dengan para merpati. Selanjutnya dia terkesiap. “Huh?! Api berkobar,” takut tapi antusias, Delta kaget mendapati semburan api dari balik ruji arang kedai seafood. Mereka lewat di jalanan dengan banyak spot kuliner. Dia kira itu kebakaran, sampai Cube jelaskan kalau ciri khas kedai itu memang proses masaknya unik.

 

Banyak jajanan, banyak tongkrongan anak muda. Di sini perasaan Delta berkerumun runyam. “Mereka duduk sambil makan camilan. Gue juga pingin nongkrong di cafe,” lirihnya sedih, ada kecemasan sekaligus tumpah ruah rasa senang.

 

Stamina Delta menjulang hebat, makin terasa berkerumun di puncak kepala waktu lihat lokasi Comiket ada di depan mata. Hampir saja dia turun mobil disenggol pejalan kaki lainnya. “Eits. Lu harus tunggu gue,” Cube sigap pegang pergelangan Delta, instingnya ambil kendali biar anak ini tidak hilang.

 

Delta tengok sana-sini, tidak mau berhenti jinjit sambil mendongak ke depan antrean. Sudah kepalang tidak sabar, apalagi riuh sejawat hadirin Comiket menyalurkan suasana gembira. Delta lihat banyak orang dengan kostum unik, cosplayer berpenampilan menarik atensi. Delta heboh sendiri, banyak hal-hal yang ingin dia coba. “Itu itu! Yang sebelah sana! Mereka pakai kostum keren itu biar apa?”

 

“Biarin,” tanggap Cube menyebalkan. Alhasil Delta berusaha ngacir dari barisan, biasalah ada sesi sinetron adu argumen konyol. setelah Usai berkurat dengan urusan antrean, Cube tidak pernah lepas pandangan di sebelah Delta. Kalau nanti dia kebablasan jalan sendiri bisa terselip di antara kerumunan. “Coba langsung dibuka catatan jastipnya,” titah Cube meluruskan fokus Delta yang terdistraksi dengan suasana. Dia gelagapan, ambil ponsel terus lihat daftar pesanan client.

 

“Di sebelah mana yaaa? Ini urutan pertama dia mau ganci,” kalau kalian lihat, Cube mirip induk penjaga yang ngawasin anak ayam warna hijau di sebelah dia. Delta sempat merengek minta wig cosplay, Cube membantah dengan dalih harus selesai dulu pekerjaan mereka.

 

Ketampanan Delta jika sedang berbahagia betulan mengganggu. Mukanya seketika bisa jadi sigma looksmaxing +++ pakai latar mawar bermekaran, jangan lupakan binar cemerlang terpancar berseri-seri. “Mau beli ini. Boleh kan yaaa, iya ya ya? Cube?” kesempatan buat minta jajan, Delta tunjuk boneka Totoro seukuran genggam tangan.

 

Karena wajah si penjual juga berharap, terus Delta merengek seperti hampir tantrum. Alhasil Cube mau belikan biar ada kenang-kenangan. “Yaudah tapi lu harus nurut. Jangan jalan sendiri,” mau dibeli sampai booth nya juga Cube aslinya sanggup, cuma masalahnya barang bawaan mereka buat jastip ini sudah banyak.

 

“Lu baik pake bangeet, pake spesial telor ceplok! Pokoknya Lu—Gue—Mwach,” tukasnya kesenengan, melompat-lompat kecil dengan tangan yang tergenggam erat.

 

Buncah kegembiraan masih berjubel memenuhi hati Delta. Mereka memang bekerja tapi bagi Delta ini liburan istimewa.


───────────────────────




Taktik mujur Zero mulai terlaksana. Sejak tadi berjaga di kamar, sesekali curi pandang sambil berkutat dengan ponselnya. Kadang terkekeh kalau ingat bagaimana bisa dia patuh terhadap Cross tanpa paksa. Gesekan seprei yang tertangkap rungu jadi permulaan aksi drama, Zero beringsut menyangga kepala di sebelah Cross sambil tersenyum menggoda. “Sudah bangun ya? Lama banget tidurnya... akunya rindu sepenuh jiwaaa,” dialog picisan Zero dibumbui gombalan hiperbola.

 

Hangat lengan Zero melingkar apik di panggul, meredakan gurat lelah Cross yang masih mengumpulkan nyawa. “Hng... tumben? Ada di Console,” Cross regangkan sendi-sendi yang kaku, kemudian Zero mengais afeksi lewat kepala yang bersemuka di ceruk leher.

 

“Tidak boleh, ya? Jahat,” pungkasnya pura-pura ngambek, telapak tangan menjalarkan sapuan di punggung Cross. Napas berkepul hangat menyapu rupa, Zero pasang ekspresi merajuk hendak minta perhatian lebih.

 

Cross mulai tergerak meladeni, bukan hal yang patut diherankan kalau Zero mode manja. Pikir Cross, pria ini sedang ingin bercengkerama. “Boleh lho, sini. Lebih dekat lagi,” sambut Cross, dihadiahi rengkuh makin erat. Zero berceloteh teduh, sisi clingy seperti ini tidak pernah tampak selain di depan Cross yang dia suka.

 

Terkesan cheesy tapi Zero memang pandai mempermainkan kata. “Delta & Cube sedang bekerja keras, jadi mereka fokus tidak bisa diganggu dulu sementara. Tapi kalau kamu prioritas utama, kalau misalkan aku yang sibuk juga kamu tetap jadi yang pertama,” tandasnya sambil melilit helai surai Cross pada telunjuk, kemudian beringsut menggesek hidung di pipi Cross.

 

Sesi ‘mari menghadang Cross biar tidak keluar kamar’ berlangsung mulus. Zero bersiasat minta ditepuk kepalanya. “Kayak gini enaknya tuh pillow talk,” ujarnya dengan betis timpang-tindih dengan kaki Cross. Jangan tanya soal peka, nalar Cross tidak sampai tahap obrolan bantal segala. Dia berasumsi jika Zero memang mau diberi perhatian berlebih saja, alur permainan diikuti sembari mengikis kontak fisik.

 

Hampir satu jam berlalu hingga gemuruh keroncongan Cross menyita jeda interaksi mereka. Zero sigap mendudukkan diri secara tiba-tiba. “Kamu pasti masih capek. Biar aku saja yang ambilkan makan,” wajah tenang, hati tidak baik-baik saja. Batin berdebat kalau sampai Cross ke ruang makan— otomatis dia bisa lihat kalau Delta tidak ada di zona nya.

 

Datang bawa semangkuk sup, Zero tiup sampai dingin dengan lagak bermanis-manis mulut. “Say aaaa pesawat lezat mau masuk— nyam!” satu suapan terlahap, pakai efek suara ‘nyam’ dilanjutkan sampai habis. Bukan cuma berhenti sampai aksi ambilkan makan, Zero sekaligus jadi maid dadakan Cross. Dia bawa segelas air, mana dia pakai pangku Cross segala.

 

Tunggu, kali ini Zero dalam hati bilang waduh.

Bukan perkara rencananya mulai gaduh...

Tapi...

 

“Aku mau kencing dulu,” si mungil hendak lepas dari pangkuan Zero, empunya terkesiap begitu lengan Zero masih bertengger erat.

 

Untung Zero pandai bersilat lidah, kalau tidak sudah buntu cari alasan tipu daya. “Kamu pernah dengar act of service? Nah ada yang namanya princess treatment kayak gini nih,” titah Zero beranjak menggendong tubuh Cross, posisinya ala princess carry. Cross kedip-kedip memproses tingkah laku Zero. Mana mengerti dia hal-hal semacam act of service, Cross taunya act of kerja rodi jadi budak.

 

Tanda tanya melipir di benak, pasalnya Zero ikut masuk menemani. Perawakan semampainya menutupi akses pintu kamar mandi.

 

Cross diam.

Zero diam.

Pembaca malah makin bungkam.

 

Atmosfer canggung ini berjubel memenuhi suasana. Zero senyam-senyum kaku, buang muka ketika Cross menurunkan celana. Aslinya sempat intip sedikit, ya buat memastikan kalau pandangan Cross ketutupan badan Zero. Air seni jadi tersangkut di ujung kulup, walaupun pada akhirnya tetap pipis tapi lajur semburan nya putus-putus. Lihat Cross yang pipisnya tidak lancar, Zero jadi sungkan tapi mau bagaimana. “Butuh... err— bantuan?” sumpah Zero mau ceburkan kepala, pertanyaan macam apa itu?

 

Zero kalang-kabut ketika Cross mulai mengendus  kecurigaan. Reflek Zero menghadang Cross dari belakang, pundak mungil Cross disentuh lantas memijit pelan. “Kamu kecapekan ya? Kayak tegang gitu...” ujar Zero menjalarkan ibu jari ke tengkuk Cross.

 

Tegang?

 

Bicara soal arti otot pundak tegang yang dimaksud Zero, di luar nalar si Cross justru tergerak menyimpulkan maksud tersirat. Cross berdehem melegakan tenggorokan, posisi celana masih setengah terbuka.

 

Dag dig dug.

 

Zero sudah putar otak menyiapkan segudang alasan cermat, dia kira situasi ini genting karena Cross terdiam membatu tanpa membenahi celana nya.

 

“Kamu... sedang ingin ‘melakukannya’?”

 

Huh?

 

Zero terperangah, satu detik kemudian baru sadar maksud Cross. “Anu—” tersendat sebentar, batin Zero beradu. Kalau menolak, nanti malah susah cari alasan. Misalkan dituruti, dia sendiri tidak berpikir ada tujuan berhubungan badan. Kenapa pula Cross bisa berasumsi ke arah sensualitas? Memang makhluk satu ini dungu kebangetan bila bicara soal hal-hal romantis. Jakun Zero naik-turun, fisik mungil Cross pada hadapan nya ini sudah satu tahun lebih tidak terjamah. Menghela napas, Zero kembali pada lagak bermanis mulutnya. “Demi konsonan langit. Ternyata kamu paham seluk beluk jiwa ragaku lewat untaian rasa,” tahan, jangan sampai pirsawan baca melempar batu karena mual.

 

Cross pilin ujung fabrik kain jaket, ternyata dugaan nya benar kalau Zero ingin bersetubuh. “Sudah lama ya? Aku jadi umm...” lebih tepatnya Cross bingung harus mulai dari mana.

 

Kendatipun si fallen angel hawa nafsunya bisa dibilang memang ada sih walau jarang muncul— eh dasar, Zero malah tancap gas duluan. Telapak membalur usapan, cari celah permulaan. Menangkup rupa sejalan dengan ruas jemari berkelana nakal. “Tidak perlu khawatir walau sudah lama. Aku kan selalu ingat di mana saja kamu suka disentuh,” tanggapnya erotis, godaan verbal itu Zero harap bisa mengalihkan atensi Cross tentang Delta.

 

Jarak terkikis, saling bertatap rupa hingga pagut menyesap legit cumbu menyertai. Lingua berkelit dalam satu lilitan vulgar, Zero ambil kendali. Menyesap bilah kenyal lidah dengan kuluman lengket. “Mmng— ngh...” gema lenguh Cross lolos, membias pantulan suara dengan jelas di setiap sudut kamar mandi. Deru napas keduanya makin meradang, gurat nafsu berjubel menggunung secara perlahan tapi pasti.

 

Zero ingin mendengar lenguh itu lagi, hubungan mereka sudah terlanjur jauh saling pertaruhkan nyawa. Tidak dipungkiri Zero juga tersulut gairah menyalurkan afeksi. Dominasinya mengais jilatan seksi, kecipak basah ciuman menjejal kesan becek tidak senonoh. Gemeletuk geligi mengiringi gulir saliva berserakan di sudut bibir. Timbul sensasi candu setiap bercumbu dengan Cross, gesekan struktur seluruh gigi taring Cross menantang adrenalin. Zero tidak takut terluka, terlampau piawai dalam bergerak licin meliukkan lidah. “Ahn... uh— Zero— nghh..” termegap tatkala jaketnya terlucut dengan aksi mulus Zero, telapak tangan Zero kini terselip meremas panggul.

 

Aksi mesum Zero berlabuh pada jilatan menjalar dari ceruk leher ke pundak, kian melandai turun hingga jejak kontras cumbu terlukis sensual. Folikel epidermis biru pucat Cross terbubuh garis saliva basah, empunya meremas kerah Zero. “Mhm, jangan terpejam. Lihat aku,” intonasi rendah Zero menyita atensi, dia mau konsen Cross berpaku pada aktivitas vulgar mereka.

 

Pipi Cross ditangkup, Zero buai si terkasih dengan sanjungan romansa. “Gemas betul sih kamu. Lama-lama aku yang tidak tahan,” ujarnya merayu, lantas menyemai elusan dari garis tulang rusuk Cross. Zero kuasai suasana, berkerumun nafsu kian melonjak.

 

Akal cerdiknya melecutkan tindakan leceh.

Biar saja Cross dibuat makin meleleh.

 

Bilur nikmat menggoyahkan keseimbangan, Zero sangga fisik Cross dengan lengan melingkar mesra. Kemudian mengimpit Cross ke dinding, kepala Zero menunduk; senggol main-main puncak puting kiri dengan ujung lingua. Menggaruk nakal puting kanan sekaligus terpilin, lutut digesek ke pangkal paha Cross. Makin naik, makin berani bersitegang secara panas. “Uhng... mmh— ahng-” Cross tersipu, situasi diterjang stimulus rangsang bertubi.

 

Inisiatif Zero menuntun jemari mungil Cross ke arah gundukan jantan miliknya. Denyut panas beradu dengan gelenyar tegang kian menjulang. “Iya, di sebelah situ—” tandas Zero lirih, berbisik sensual sejalur menekan telapak sempit Cross bersinggungan dengan penis di balik kain celana.

 

“Tarik turun celanaku,” titah Zero parau. Dekatkan bibir ke pelipis, lantas menggesek turun hingga lidah bergumul ke telinga dengan balur saliva. Daging lunak itu menyeruak di masuk ke celah lubang telinga Cross. Vibrasi napas Zero menyalurkan sensasi bergidik ke sekujur tubuh, begitu dekat terekam gendang rungu. Isapan lembap menyesap pucuk runcing daun telinga Cross.

 

Aroma maskulin Zero terendus, dia mendapati cagak setengah tegang Zero kian mengeras. “Aku jilatin ya?” ujarnya enggan pasif mengikuti suasana. Cross ini tipikal yang jika sudah dituntun, tidak segan memulai tindakan.

 

Zero mana bisa menunjukkan wajah merah padam ini, sadar tidak sih Cross? Kalau pertanyaan barusan terlalu porno. Respon dijawab lewat tindakan, Zero tekan tengkuk Cross selaras karet elastis celana dalamnya ditarik melorot. Gurat nikmat tercetak dari alis menukik, syaraf pelipis berkedut ketika pangkal penis terjilat sapuan basah. Jemari Cross bermuara pada satu remasan nakal testis, lidah berkelana sejalur urat penis. “Mlem— mmh... mng. Enak?”

 

Zero geregetan.

Cross terlalu menggemaskan.

Apalagi jilatannya seperti kucing haus belaian.

 

Insting seksual Zero berkerumun pada satu rasa ingin menyetubuhi. Narasi adegan ini kotor sekali, Zero tepuk-tepuk penisnya ke pipi Cross. “Enak dong. Kan dia rindu sama kamu,” sial! Tersirat maksud intim dari konotasi ‘dia’ yang berarti penis Zero. Tidak berkedip barang sedetik melihat pipi gembil Cross ditampar tonggak jantan, rupanya candu juga main gesek batang di permukaan pahat rupa Cross.

 

Ketika Cross asyik julurkan lidah curi-curi kesempatan menjilat. Zero tidak tahan, bendungan libidonya entah kenapa berdentum membeludak. Dia selipkan kedua tangan di sela ketiak Cross, membantu dia beranjak dari posisi jongkok. “Berdiri. Pegangan,” sahutnya diiringi tarikan dari garis legging Cross. Keduanya bugil, epidermis saling bergesek menyalurkan gelenyar hangat.

 

Posisi Cross membelakangi, satu jemari kanan Zero tergelincir; terlumur saliva hingga menyeruak hangat berkubang dalam ceruk liang. Sedang tangan kirinya menyusul cubitan puting, bilah bibir tersundut cumbu di sepanjang garis tengkuk. “Ah— unh... tambahin lagi. Tapi pelan-pelan...” cicit Cross reflek terkesiap dengan panggul menungging, pipi pantatnya disibak Zero.

 

Kilat netra mesum, hasrat berkobar dengar Cross minta tambah jemari. Lidah terjulur sensual, tetes liur melandai jatuh dengan lengket. Berlinang leceh pada kerut anal yang menelan ruas jemari Zero. “Kedutan tidak karuan di dalam. Ketahuan kalau kamu sange,” komentar Zero leceh. Menggulingkan bendungan canggung gara-gara ‘nemenin pipis’ jadi obrolan mesum.

 

Lengan kiri melintang di sepanjang sekat diafragma Cross, menit ke depan sudah berlabuh jejak kontras gigitan nakal pada kanvas punggung sempit Cross. Pita suara tercekat garing, denyut penis merambat dari tulang ekor Cross. Lama-kelamaan makin licin, hingga puncak kulup bercumbu hangat di bibir anus. “Janji, bakalan pelan kok... pelan. Ah—” Zero terpejam di setiap detik inchi per inchi penis menerobos masuk. Rapat bukan main, lembap sekaligus lengket.

 

Penetrasi gagah membakar gairah.

Cross terpekik nyaring dibikin lengah.

 

Persetan sama janji pelan, kalau ternyata penisnya digilas denyut pijatan. Siapa gerangan yang tahan? Tempo senggama beradu dengan tamparan kulit, laju diusahakan lamban. Tapi panggul Zero justru makin serampangan. “Ah! Zero— ohk... guh— hie!” racau teracak, Cross terlonjak maju-mundur hingga kepayahan. Penisnya menabrak dinding dingin kamar mandi, perbedaan kontras dengan rasa panas begitu liar dari ceruk liang tersumpal penis.

 

Sundulan jantan gempuran Zero merajam gahar. Cross terbelalak ketika Zero makin ereksi di dalam sana, garukan urat penis bersinggungan dengan impitan kenyal anus. Putingnya berkali-kali ditarik, terkadang Zero sentil dari belakang. Tangan pria ini melepas ikat rambut Cross, helai surai birunya tergerai apik. “Aku mentokin boleh ya? Mau ya?” belum sempat Cross menetralkan napas, belum pula sempat menjawab. Genjotan perkasa menumbuk telak makin dalam, titik legit prostatnya bengkak dihantam gagah.

 

“Angh— ah ah, ini— terlalu... mngh! Itu!” sundulan penis Zero menyembul samar di bawah garis pusar, Cross hilang kewarasan. Saliva berjuntai lekat jatuh dari sela bibir menganga, Zero bergerak urakan. Dia renggut surai Cross dari belakang, reflek empunya mendongak. Visualisasi Cross yang biasanya pasang tampang datar dan letih, lalu kini terdongak pasrah dikendarai dari belakang— serius makin menyulut stamina gairah Zero.

 

Kembang-kempis mengatur sirkulasi napas, rasanya seperti digilas penis sampai ke ubun-ubun. Penetrasi penis Zero melangkahi batas sekat cekungan liang, masuk ke dalam hingga Cross meracau keenakan. “Ngho— ogh- AH!” gemetaran sekaligus kepayahan.

 

Carut-marut.

 

Zero menyeringai culas, dia terjang sodokan hingga merogoh seluk prostat. Belingsatan, tanpa sadar jika kulup penisnya mendobrak sensasi gelitik. Stimulus tempo piston maju-mundur itu menyulut denyut kantung kemih. Zero peka, bukan menyiasati jeda sejenak justru menekan perut bawah Cross. “Keluarin sekalian pipisnya,” tandasnya vulgar, lengan kini beringsut mengangkat paha kiri Cross.

 

Malu, Cross terekspose mengangkang; kaki terangkat satu dan hendak kencing serupa anjing. “Tapi— nghh... ah! Posisi ini—” Gelombang klimaks merajam dahsyat bikin kewalahan. Cross kelojotan, desah bergumul jerit tertahan. Puting ditarik, lantas badan membusur; mendongak sembari tersulut sentakan prostat. Muncrat, sensasi ngilu berpadu geli keenakan— Cross tidak bisa menahan kontrol kantung kemih yang disenggol sundulan penis Zero. Air mani tersembur, terkencing-kencing sejalur liur menetes disusul isak merajuk.

 

“Hyaa— ahng... masih keluar,” imbuh Cross, suaranya berdengung serak basah. Kerutan anus merekah ranum, Cross belum bisa berhenti. Malu, dia masih terkencing, lantas gelenyar lain menjemput. Kulup penis Zero berdenyut, zakar kian memberat. Tanpa daya, liang Cross menampung muntahan ejakulasi. Berjubel, gumpalan-gumpalan kental itu menggenang di kubangan ceruk. Cross termegap kembung, bercucuran deras menyumpal sela liang hingga empunya merengek kepenuhan.

 

Panas.

Banyak.

 

Intens menyesap sensasi sisa klimaks, kedut jantan penisnya merambat ke sekujur tubuh. Zero mengais cumbu, dagu Cross diapit dari belakang; melahap lilitan lidah sejalur dengung desah menyertai tarikan penis. Tumpah ruah, lengket menjuntai-juntai seksi. Zero belum puas. “Mmh... seksi banget kamu— enak kencingnya?” frontal, vulgar tapi membuai libido. Ada kepuasan tersendiri melihat ceruk Cross menganga-terkatup, bekas ejakulasinya bertengger leceh.

 

Pergumulan raga ini berhasil menyita atensi.

Tapi Zero tidak bisa langsung pergi.


✧ ✧ ✧

 

Surainya lengket dengan peluh, ujung bantal ditarik selaras panggul tersentak. Gulir netra membias buram, Cross tertohok di setiap gempuran bersemayam dalam liang. “Ngho— oh- ah!” pekik submissive menjejal gairah, tubuh tertindih disusul gesekan kulit licin.

 

Narasi kita kembali pada adrenalin membara.

Zero melajukan hantaman senggama.

Kamar tidur jadi wadah persetubuhan selanjutnya.

 

Kulup penis disentak, penetrasi mengejar dorongan gagah menggerus liang tanpa keraguan. Mereka bersetubuh seperti orang haus belaian. Menyiasati setiap detak-detik waktu dengan kedut basah, kecipak lembap bersemu rona menjalar kian pekat. Adegan asusila, dia bisa melihat seluruh jengkal pahat tubuh Cross. Mengangkang keenakan sejalur penisnya keluar masuk lancang pada ceruk liang, terlonjak-lonjak terengah.

 

“Nyah— ah! Zero?” empunya meracau tersendat, dia mendongak merem-melek kewalahan. Lantas satu tanda tanya melipir, tanpa paham soal kepekaan suasana. Dasarnya Cross tidak pandai baca situasi romansa. “Ahn— ngh.. Zero, Delta— ah, aku belum dengar suara dia,” rasanya dirojoki penis sampai kelojotan.

 

Zero menghela napas, sentakan panggul merajam gempuran. Bisa-bisanya Cross tidak paham suasana persenggamaan. Mana topiknya tentang Delta,  bertanya di sela desahan pula. “Lihatlah wajah paripurna pria yang menggagahi kamu ini,” tandas Zero mencebik drama sambil tetap bergerak liar.

 

“Oh Cross... kamu cuma boleh mikirin aku sekarang. Nanti Zero kecil di bawah sini ngambek,” imbuhnya merajuk dengan nada syair pujangga keju basi, dia rotasikan panggul dengan sodokan makin perkasa. Mengguyur afeksi sejalur nikmat lekat berjubel masih mau gesek urat penis ke dinding liang.

 

Pola pikir Cross yang luar biasa di luar nalar jelas punya arti lain. Konklusinya pasti aneh-aneh, dia tangkap maksud Zero minta dilayani nafsunya bukan hanya secara fisik tapi batin. Cross kira pria ini mau benar-benar dipuasin. Cross makin membuka tungkai kemudian anus dibuat berkedut erat. “Mngh... ahng, kalau mau ganti posisi aku bisa...” lirihnya mengawali inisiatif.

 

Seks panas menggilas waktu, Zero tenggelam dalam aksi mesumnya.

Menikmati lajur posisi penetrasi berubah-ubah, dia hanya ingin Cross menjemput klimaks dahsyat sampai tidak sanggup memikirkan apa-apa lagi.

Biar lekas tidur dan Zero bisa menyusul ke Comiket.


───────────────────────




Peluh bercucuran, badan rasanya remuk jadi serpihan. Jalan terseok dengan barang bawaan jastip client penuhi tangan kiri-kanan. Delta tumbang, pengalaman pertama keluar dari Console langsung dibikin kepayahan. “Gue bisa modar,” tukasnya sambil duduk di pinggiran sevel. Betis kaku, pundak ngilu, jari-jemari pegal linu.

 

Istilah kekinian buat Delta itu pemuda jompo.

 

Sambungan telepon Zero juga tidak lekas diangkat, mereka letih sambil luruskan kaki yang bergidik seperti ranting mau patah. Keringat Delta berlinang sejagung-jagung, melihat itu Cube tawarkan sapu tangan satin lembut. Batin Delta mencecar, tisu sudah cukup buat keringat. Mana sapu tangan itu terlihat berkelas, memang orang tajir melintir macam Cube itu ada saja gebrakannya.

 

Ketika hendak mengamit sapu tangan, ternyata Delta benar-benar lemas sekujur raga. Bahkan pergelangan tangan saja kaku, alhasil Cube ngalah buat mengusap bulir peluh yang hampir masuk mata. “Ha— uuus,” rengek Delta berkeluh dahaga. Sedotan minuman dingin disodorkan Cube dari sebelahnya. Kepalanya maju-maju berusaha mengais pucuk sedotan, sudah mirip orang kekeringan di gurun sahara. Bukan cuma minum, Cube juga mengais suapan makan biar ini anak tidak tepar kehilangan daya.

 

Eits, bukan sesi suapan romansa.

 

Rasa makanannya dibumbui gerutu pertengkaran. “Pokoknya ini lu hutang jasa sama gue. Udah gak ada bedanya gue sama babu lu,” intonasinya naik tiga oktaf.

 

Yang satu mengulang inti obrolan tak berbobot mereka, terkesan selayaknya sarkasme tapi perut lapar jadi tetap mau makan. “Iya, iya! Si paling hutang jasaaaa iya! Suapin lagi dong babu!” timpal Delta pakai logat Jaksel, yang lebih terdengar norak seperti Jakarta keselek.

 

Bersungut-sungut Cube sumpal roti penuh ke mulut Delta. Empunya bergumun ocehan sebal tertahan roti, main tabrakin kepala dengan dahi Cube. Adu argumen tanpa faedah jelas jadi wacana wajib buat mereka, kalau bukan berantem ya baku hantam.

 

“Lu ya! Kalau gue tinggalin, gak bisa pulang lu!”

 

Skak mat!

 

Delta mulanya hendak meladeni perbacotan jenaka mereka, tapi begitu dia sadar kalau omongan Cube barusan itu fakta. Jadinya melankolis sendiri, benar juga adanya. “Iya juga ya... sekalinya gue bisa pulang. Gue gak akan bisa keluar lagi,” tandasnya galau, dia lihat suasana sekitar.

 

Delta masih mau menapaki sejuk bumi, masih ingin bersemuka dengan keindahan dunia. Dia suka melihat langit, suara aliran air atau bagaimana acara anak muda banyak digandrungi khalayak.

 

Terpayung tatapan teduh, simpati Cube berlabuh pada satu pertanyaan inti. “Kenapa Cross ga ngebolehin lu keluar sih?” dia garuk telinga. Realistis saja bagi Cube, aneh kalau Delta tidak pernah diberi izin keluar Console.

 

“Gue sendiri gak paham. Alasannya rancu, dari yang katanya gue gak siap. Atau bilang kalau di luar bahaya,” sambung Delta memutar balik pikirannya, dia ingat-ingat tidak ada juga alasan khusus yang terdengar masuk akal.

 

Cube menyikapi sudut perasaan, dia mau dengar sejujurnya bagaimana tanggapan Delta sendiri. “Kesampingkan pendapat Cross. Balik deh ke diri lu sendiri, gimana rasanya bisa keluar dari Console?”

 

Mata tidak pernah bisa berbohong, Cube mengerti anak ini punya keinginan untuk bebas. Dia berbinar hidup di setiap frasa terucap. “Wah... campur aduk. Tapi, kebanyakan perasaan positif. Tentu gue seneng! Enak kali ya bisa bebas keluar masuk Console kayak lu,” urainya menanggapi.

 

“Yea...” dialog boleh singkat, tapi batin menanggapi situasi Delta yang kompleks. Cube paham, sugesti alam bawah sadar dalam diri anak ini terlalu takut sekaligus sayang terhadap Cross Timbul pakem tertanam dari pikiran Delta, bahwa sejatinya dia yang mengurung dirinya sendiri.

 

Cube menunggu saatnya, suatu ketika nanti mungkin ada kemauan di mana Delta mulai rebel. Dan dia ingin Delta kabur, biar mengikuti kata hatinya. “Pokoknya kalau ada kesempatan lu keluar Console lagi dan butuh tempat tinggal, lu bisa dateng ke tempat gue.”

 

Podcast seputar Console mereka berhenti, ada iklan lewat— siapa lagi kalau bukan Zero. “Huwaaa!” nyaring berteriak, kaget lihat eksistensi Zero tidak terendus tiba-tiba sudah di pojok dekat mereka. Mana sempat melihat pakai tatapan ‘Owh gituuu’ secara intens.

 

Naik pitam mirip kompor meledak, ocehan Cube terdengar seperti radio kusut di telinga Zero. “Lu sadar gak ini telat berapa jam?” pakai nada ala bos galak yang tegur bawahan lagi leha-leha.

 

Zero cengengesan, kedua tangan tertelungkup di depan dahi. “Ampun suhu... maaf ya. Tadi harus nemenin Cross minta kelon,” dagu terangkat, wajah Zero seperti orang bangga dalam sudut kesombongan menyebalkan bagi Delta.

 

Apa pula dia pakai acara kelon bareng Cross? Delta yang terlalu capek ditambah jengkel lihat Zero datang telat, makin pundung dengar alasan Zero tentang si kakak. Tendensi posesifnya kepada Cross membuat Delta risih setiap lihat Zero dekat-dekat sama kakaknya.

 

Barang-barang client jastip sukses bisa transport kilat ke Console berkat Zero dengan kekuatannya. “Yaudah sini, ayo?” Zero mau gendong piggyback Delta yang hampir tepar. Waktu Delta merangkulkan lengan nya ke pundak, aroma kakaknya entah kenapa begitu lekat menempel di tubuh Zero.

 

Makin sebal.

Makin pula otaknya korslet.

 

Cube di belakang cuma lihat aksi anarkis Delta jambak rambut Zero, tangan gemetarnya tidak bertenaga. Alhasil mirip orang loyo yang tarik-tarik senar layangan letoy. “Arghhh!” teriakan frustrasi Delta menutup perjalanan pulang mereka. Deltanya berat hati kembali ke Console, tapi ya... mau bagaimana lagi?

 

Delta akan selalu mengukir hari ini selamanya di hati.


✧ ✧ ✧


Empuknya sofa di kamar tidur jadi tujuan pertama Delta merebahkan diri. Sampai ke Console langsung tepar, rasanya lega punggungnya tidak lagi kram. Posisi Cross sekarang ada di ranjang. Sedang, Cube tertegun sejenak, buat apa juga dia berdiam diri di ruang tengah? Entah, Cube hanya masih terngiang dengan bagaimana antusiasme Delta hari ini ke Comiket.

 

Zero berjalan santai ke ruang tengah, kedua tangan diregangkan ke belakang kepala. “Lu ngapain masih di sini?” toh tadi semua barang jastip sudah Zero transport ke Console. Kemudian netranya memicing, radar waspada Zero menyiasati pertanyaan. “Lu gak serius mau bawa kabur Delta dari kami, kan?” sambungnya, seolah paham dengan niat asli Cube yang menurut Zero berpotensi bahaya.

 

Ada kabel tersentil dalam pikiran Cube, rupanya Zero dengar percakapan dengan Delta tadi. Dialognya serius, logika dipakai jadi acuan sanggahan. “Gue gak pernah bilang gitu. Gue bilang kalau Delta sendiri yang misalkan mau keluar, gue siap nampung,” tegasnya sambil balik badan, kedua tangan terkepal erat.

 

Senyum terpatri, Zero mengamati siluet Cube berlalu pergi. “Jangan banyak berharap, Cube. Sebentar lagi juga Delta lupa.”

 

Gema setapak demi setapak anak tangga Cube naiki, dia mau cabut dari Console tanpa meladeni Zero. Begitu hampir sampai permukaan, instingnya ambil kendali. Baru sadar maksud tersirat dari omongan Zero barusan. Sigap putar arah, turun tangga terbirit ke Console.

 

Nihil.

 

Eksistensi Zero tidak lagi ada di posisi, beringsut panik memeriksa Delta. Terlambat sudah, Delta terpejam lelap di atas sofa. Namun Cross ada di sana, kedua telapaknya menyentuh kepala Delta. Manik netra Cross terselimut total dengan kubangan hitam jelaga. Sebuah ciri khusus bilamana Cross tengah menggunakan kekuatannya.

 

Tidak boleh! Delta sudah gembira ria hari ini. Delta sudah melihat awan-awan itu menata bilik langit, kalau ingatannya hilang— kenangan Comiket bersama Cube juga pasti raib. “CROSS! Bedebah, lu tega hapus ingatan Delta ya!” hardiknya berteriak mendapati Cross melabuhkan pandangan ke arahnya. Naas Cube langsung termegap bungkam, Zero ternyata menampakkan diri di belakangnya.

 

Leher belakang Cube disentuh tanpa aba. Ada gelenyar energi yang perlahan menumbangkan keseimbangan. “Lu juga bentar lagi lupa, Cube.”

 

Vibrasi suara Zero menggema dalam gelap menyapa. Cube ambruk sebelum sigap melakukan perlawanan. Jauh di dalam alam bawah sadar Cube, potongan memori Comiket pupus tanpa jejak. Malang sekali, Balada Jenaka Comiket harus berakhir tanpa kenangan tersisa.


───────────────────────


END.

 



Commission Story Written by LIN

Related Posts

See All
Unspoken Wish

Burung peliharaan?” Cross sudah datang, mendengar suara Zero dan Delta yang sama-sama menembus pintu area pribadi, menatap kedua orang itu yang kini melihat ke arahnya. Adiknya menunjukkan semanga

 
 
Cuma Sekedar Cepat Mekar

Tak sadar Delta singkap sedikit poni sambil lihat beberapa video dan konten lain di laman sosial media. Sudah macam virus yang menular, siapa sangka model rambut cepmek jadi beken seketika. Delta mau

 
 
Berkelana Bersama Jutaan Kelembutan

Masa lalu mengantarkan racun pada impresiDisisiku, kehadiranmu menyembuhkan hati🏵️🏵️🏵️ Dingin suhu memagut udara kamar tidur, menyapu ku

 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page