top of page

Berkelana Bersama Jutaan Kelembutan

  • Sheville
  • Feb 8, 2025
  • 17 min read

Masa lalu mengantarkan racun pada impresi

Disisiku, kehadiranmu menyembuhkan hati


🏵️🏵️🏵️


Dingin suhu memagut udara kamar tidur, menyapu kulit Cross dan furniture di dalam ruangan. Terbaring di atas kasur bersisian lelaki hitam surai—Zero—yang merangkul raganya erat, Cross menilik sembari pasang telinga lekat-lekat pada ocehan yang bergulir tiada jeda.


Dua tangan tertaut, menjaga kehangatan dari sentuhan epidermis milik masing-masing. Baik Zero ataupun Cross menghayati masa-masa berdua secara simplitis, sekadar bertukar cerita atau saling merengkuh satu sama lainnya dalam hening. Waktu yang mereka jalani bergulir sepanjang jarum jam detik per detik dinikmati pada momentum sederhana seperti sekarang.


“Aku lihat dahan-dahan di pohon udah pada mulai tumbuh daun dan bunga. Musim semi tuh emang menyenangkan,” ujaran Zero yang lain datang, mengenai keadaan dunia luar di atas tempat Cross bernaung.  “Udaranya jadi sejuk, meski kadang-kadang hujan ya, agak ganggu, tapi entahlah. Ngeliat bunga-bunga yang mekar gitu jadi obat tersendiri buat mata. Cakep-cakep.”


“Hmmm, gitu ya.” Cross mendengung gumam, bentuk balasan tanda ia tidak sepenuhnya mengabaikan Zero. Topik sama yang selalu Zero ceritakan, menjadi santapan Cross mengenai kabar dunia luar yang ia yakini sebagai neraka sesungguhnya. Dia hanya peduli pada keadaan, namun tak akan pernah buka mata ataupun menaruh simpati pada penghuninya — para manusia.


Tidak akan mungkin Cross kembali bawa dua kaki pada dunia luar. Tidak mungkin ia berkenan untuk menghiraukan hiruk-piruk makhluk yang Cross benci. Meski dulu tubuhnya sama dengan orang-orang itu, tapi sekarang ia berbeda. Dalam genggaman tangannya, ia buang seluruh masa lalu di belakang …..


“Kamu mau coba lihat gak?”


Cross tertegun, pusat perhatiannya pada monolog hati dipatahkan oleh satu pertanyaan Zero.


“Hm? Lihat apa?” Pura-pura tidak menangkap arti, Cross bertanya meski sudah wanti-wanti. Kemungkinan jawabannya akan mengarah ke hal yang pasti ia hindari.


“Ya lihat-lihat keluar,” balas Zero, kemantapan sudah terhias jelas dari intonasi.


“Hm ….” Cross mengalunkan gumaman pelan. “Yah, kapan-kapan.”


Sebersit senderut muncul di rupa Zero, laki-laki itu terlampau merana sebab kekasihnya tak kunjung memakbulkan satu perihal, hanya satu. Sekedar kencan berdua atau mencari angin bersama sambil curi-curi waktu. Sesekali ia ingin meraba masa tak hanya di bawah tanah bumi, namun juga di bawah cakrawala raya ditemani udara sejuk menghempas rindu.


Zero yang paling banyak berkelana, tetapi ia sendirian. Menjumpai klien, atau membeli jajanan, atau hanya jalan-jalan untuk membunuh bosan …. semua hampa jika kekasihnya tak menemani di sisi sembari minimal berpegangan tangan. Kerinduan mulai merasuk, apa saatnya ia coba buat permintaan?


Selagi topik pembicaraan masih tentang dunia luar, Zero coba cari celah mutakhir untuk memaksa Cross keluar dari sarang. Sudah lama ia meminta, tetapi semua tak digubris secara cuma-cuma. Ini adalah tahun kelima semenjak mereka membangun Serious Gaming, cukup lama untuk Cross memulihkan hal-hal tak mengenakkan, Zero rasa ini saat yang tepat.


“Terus, kapan kamu mau coba keluar, Cross?” Pertanyaan kali ini Zero harap bisa menyentil sedikit tembok hati Cross. Sayang angan-angan tetap terbang dipantul tekad. Apalagi jika itu Cross yang keras kepala luar biasa. Terdiam sebentar, mungkin sebagai ruang waktu untuk cari alasan.


“Kalau aku keluar, nanti Delta pasti maksa ikut keluar juga,” bantahan Cross terluncur, kali ini pakai nama adiknya sendiri sebagai senjata penolakan berarti.


Tapi Zero selangkah lebih maju membuat tameng pengukuhan. “Jangan banyak alasan gitu dong … kita kan bisa pergi pas Delta tidur. Kalau ketahuan, kamu bisa hilangin ingatannya, kan?” sanggah Zero, tangan meraba seluruh telapak tangan Cross yang mendingin. Efek kamar berada di samping ruang server bersuhu rendah buat epidermis lekas dijalar beku. “Lagipula, aku bakal jagain kamu  kalo takut atau ngerasa gak aman untuk pergi keluar.”


Ucapan Zero di akhir fonetik adalah bumbu yang ditambah sebagai bentuk keyakinan hakiki.


“Bakal banyak manusia lalu-lalang, Zero. Aku gak mau.”


“Kalau gitu, kita bisa keluar malam,” kecepatan kereta  nyaris menyamai bantahan Zero. Tapi cebikan Cross selanjutnya jauh lebih sigap.


“Kalau malam-malam, nanti pas keluar aku bakal tidur juga.”


“Gak apa-apa, pasti aku jagain tubuhmu.”


“Nanti kalau ada request masuk tiba-tiba, gimana?”


“Itu urusan nanti, kan semua request gak harus dikerjakan saat itu juga.”


“Nanti ada gerombolan preman mau tawuran datang nyerang kita, gimana?”


“Tinggal aku libas semua, kamu lupa aku malaikat?” Zero mendesah. “Lagian kalau terjadi hal-hal darurat, aku pasti teleport balik ke Console.”


Cross terdiam. Perdebatan tak berujung meramaikan kamar yang tergugu. Tak akan ia sangka-sangka Zero keras kepala kali ini, apa ada sesuatu yang membuat lelaki itu bersiteguh? Netra zamrud berkilat-kilat, Cross tahu bilamana Zero bersikukuh pada apa yang ia mau.


“Kenapa kamu bersikeras, Zero?” Cross mencibir diselimut tanya. Sampai detik ini ia masih menganggap ajakan Zero sebagai permainan belaka. Bagaimana Zero bisa mengerti perasaan Cross beserta traumanya pada onggokan manusia? Ini bukan tentang masalah sepele tinggal gigit jari atau sekedar melompat pagar menapak tanah. Ia akan menghadapi dunia sama yang keji kejam  selama ia menaruh nafas lima tahun lalu.


“Aku cuma … rindu kita yang dulu.”


Tatapan Cross berpaling seporos manik putih membias pantulan cahaya dari remang-remang lampu kamar. Jawaban yang sukses buat detak dalam kardia berhenti seketika.


Rasa kejut bercampur haru biru mengisi kalbu. Cross tidak menyangka Zero menjawab seperti itu,  hingga berhasil menghanyutkan Cross ke dalam lumbung emosional. Kerinduan ganjil menggelitik memori, kepingan sentimen yang terkurung di dalam jiwa memberontak meminta dirasakan lagi. Ia senang Zero mengingat saat-saat bersama mereka di masa lalu ….. Sayang seribu sayang, mereka tidak akan pernah kembali seperti dahulu.


Ketika lelaki kecil itu terpana tiada reaksi, justru buat Zero sedikit terpercik khawatir.


“Oh, maksudku, bukan pas ada ibumu ya ….. uhm, maaf kalau ngingetin ke masalah itu. Tapi, paham kan ya intinya kemana …?” Zero buru-buru membubuh kata-kata demi menjaga hati kekasihnya, sekaligus memperjelas arah dari maksud ucapannya.


Cross mengangguk.


“Bukannya aku juga gak puas dengan kita saat ini, ya. Kta masih bisa bermesra-mesra ria kayak sekarang. Tapi kalau yang dulu itu rasanya kan, berbeda. Kita —”


“Aku ngerti, Zero,” Cross potong dialog Zero. “Nanti pas Delta udah tidur, bawa aku keluar.”


Netra Zero sukses membulat sempurna. Setengah kesadarannya tertinggal di ujung kebingungan, takut ia salah dengar tentang Cross yang setuju untuk pergi. Tidak mau basa-basi, lantas ia hujani pria biru yang ia kasihi dengan hujan afeksi, tentu saja sebelum Cross merubah keputusannya lagi. Mengecup manja di kanan-kiri pipi, Cross mengelus helaian hitam Zero sebagai bentuk balasan kasih, tiada jeda ditimpali kembali dengan ciuman membilas seluruh wajah Cross tanpa henti.


Zero menantikan kencan pertama mereka setelah lima tahun dibangunnya Serious Gaming.



🏵️🏵️🏵️

 


Detik-detik jam bersuara dua kali lebih kencang di tengah malam sunyi. Bunyi nafas berat dari Delta — adik Cross — yang mendengkur di balik pelukan sang kakak menjadi tanda permulaan aksi. Jemari biru mengetuk layar ponsel Cross, bersiap mengirim pesan kepada Zero di luar Console.


Tepat sebelum tombol ‘kirim’ ditekan, keraguan mulai menggerogoti keyakinan. Segelintir ketakutan dan rasa gugup muncul, apakah lebih baik aku tidak keluar selamanya?  Sebelum ada pergolakan batin lebih jauh, sejurus kemudian Cross mengirimkan pesan pada Zero. Akan jadi masalah jika Zero mengetahui Cross tidak menghubunginya saat Delta sudah tertidur, pasti ia akan berpikir Cross telah merusak kepercayaannya. Yah, ia tidak mau ada perdebatan tak penting nantinya.


Tak butuh waktu lama Zero datang dihadapan Cross dengan teleportasi supernatural.  Tidak ada vokal keluar dari masing-masing roman mereka, seraya pelan-pelan memosiskan Delta agar tetap tertidur di sofa ruang tengah tanpa gangguan. Tiada lupa menyusun tumpukan bantal sebagai kamuflase keberadaan Cross di atas kasur, mengelabui Delta jikalau ia bangun sebelum waktunya.


“Jangan lupa sambungin CCTV ….” Cross mengingatkan, melihat Zero mengutak-atik ponsel pintar memperlihatkan pemandangan ruang tengah dari sudut atas.


“Beres,” tukas Zero. Meski keduanya pergi, Zero bisa memantau bila Delta terbangun dari tidur, sehingga mereka bisa langsung teleportasi menuju kamar tepat waktu dan berpura-pura tidur setelahnya.


Semua tampak aman. Meneliti waktu yang tersisa 6 jam kurang lebih sebelum Cross tidur untuk dikirim ke neraka. Mereka buka pintu utama Console dan naik tangga mencapai dunia luar yang sesungguhnya.


Terpa angin malam ialah hal pertama yang Cross rasakan. Bulu kuduk merinding, aliran darah terpompa kuat seirama jantung berdentum. Gemericik air sungai perlahan merayap ke dua gendang telinga, tangan kuat-kuat menggenggam pergelangan milik Zero. Bulir keringat membasahi telapak, hingga Zero menyadari betapa tidak biasanya Cross menjajaki bentala.


“Kamu oke? Pegang tanganku terus, ya.” Zero memperkuat kaitan tangan. “Jangan jauh-jauh. Gak papa, aku menjagamu. ”


Cross anggukkan kepala pelan, namun pandangan masih berpaku pada dua telapak kaki menginjak rumput-rumput tinggi. Berdua hanya berdiri, terdiam dalam sepi di bawah purnama menggantung. Zero yang pengertian benar-benar menunggu kesayangannya beradaptasi penuh pada lingkungan sekitar sebelum mulai ditarik lebih jauh.


Sekitar lima menit hingga Cross menengadahkan jemala pada semesta di hadapan. Zero sadar pergerakan kecil itu, seraya merasakan sentuhan yang masih tegas dirasakan dari kulit tangan Cross. Tengkuk dielus dingin semilir angin, netra menangkap panorama siluet gedung-gedung nun jauh di perkotaan sana. Kerlip lampu-lampu kuning-putih-merah saling bersahutan.


Cross menaikkan kepala lebih tinggi lagi, menangkap awan-awan dan kabut polusi memeluk horizon. Tapi mata tidak bisa berbohong menangkap seutas cahaya benderang yang menempel pada angkasa sana.


“Itu ….” Tak sadar bibir Cross bergetar, cicit kecil buat Zero ikut menatap apa yang dilihat Cross.


“Cahaya biru, pendarnya nyala banget ya, sampai tembus polusi. Sepertinya bintang sirius,” Zero menganggukkan kepala yakin.


“Bintang sirius ….” Cross mengulang kata-kata Zero. Kardianya masih bergelora, detak tak bisa ia tenangkan. Kegelisahan terus memanjat tiap jengkal raga dan jiwa.


Zero memahami, Zero mengerti. Tidak mungkin ia memaksa Cross beranjak lebih jauh jika mentalnya masih belum membiasakan diri. Keduanya hanya menghabiskan waktu di sekitar sungai bawah jembatan, tidak sampai lima ratus meter radius Console.


“Coba rendam kaki di sungai. Telapaknya aja. Dingin-dingin gimana … gitu. Tapi menenangkan jiwa, lho,” Zero menggandeng Cross pelan-pelan. Sepatu ia lepas di tepi sungai, sementara telapak kaki lebih dulu masuk riaknya. Ia tarik kekasih mungilnya mendekat.


Cross coba singkirkan ragu, ia percaya pada Zero. Ikut melepas alas kaki, lantas jempol kaki sedikit menyentuh permukaan air. Ujung ibu jari merasakan gigil, Cross terpekik kecil. Kecemasannya bersatu padu dengan semangat dan rasa penasaran membumbung tinggi. Sepuluh detik, lima belas detik, hingga detik ketiga puluh akhirnya Cross mencelupkan seluruh kaki pada debur kecil sungai. Dingin yang ia rasakan justru menyembuhkan panas yang meraung-raung selama ini, ia cepat beradaptasi.


“Fuuh …. beneran dingin,” Cross mendesis, berada di ambang senang dan takut-takut kecil. Zero terkekeh. Keduanya hanyut pada sejuk sunyi terintik bias cahaya bulan, dengan dua tangan saling bertautan tiada memisahkan.


Mengawang, Cross menerbangkan pikiran selagi raga bersisian dengan sang malaikat penjaga.


Pada malam kelam bergema gigil nan sendu

Kita bergetar, mencari celah cahaya untuk memandu

Jikalau hal yang kuyakini, semuanya ialah dusta belaka

Arti dari eksistensi ku akan terbilas goyah …. Itulah yang aku rasa.


🏵️🏵️🏵️


“Ini aman, ya?” Cross mengerjap-ngerjap saat raganya dibawa Zero pada konbini kecil di sudut kota, berjarak tak lekang jauh dari Console di bawah jembatan sana. Palangnya menunjukkan tulisan ‘24 jam’, tiada heran masih buka pada dini hari buta.


“Aman. Kamu harus tahu, zaman sudah berubah dan maju dalam waktu singkat, Cross. Ini termasuk tren kuliner yang dijual di konbini, lho,” celoteh Zero sedikit mendistraksi Cross. Tahu-tahu sudah dikelilingi ragam makanan kecil. Wangi harum yang menggugah selera dari hidung menusuk indra, mata meniti masing-masing visual makanan ringan tersaji.


“Padahal baru beberapa tahun ya, sudah ada varian yang aneh-aneh saja,” komentar Cross kagum bercampur kaget.


“Haha, aku beli beberapa buat di cicip-cicip ya?” Zero membeli beberapa kudapan, cemilan manis, dan makanan hangat.


Bukan berarti perasaan Cross sudah jauh lebih baik, namun ia masih memasang mata dan awas pada sekelilingnya. Sekitar konbini terang benderang, lampu-lampu putih menerpa seluruh tubuh Cross yang jika dilihat jelas berbeda dari seorang manusia.


Zero mengajak Cross duduk di depan Konbini, punggung membelakangi bangunan kecil itu dengan pandangan ke depan menghadap jalan. Tidak banyak yang lalu-lalang, terutama di sudut kota sepi dan temaram. Tidak lupa ia mengecek ponsel pintar untuk mengawasi Delta melalui CCTV yang tersambung nirkabel. Risau semrawut masih menjajal otak, Zero menenangkan Cross dengan menyuapi beberapa makanan yang baru dibelinya.


Memulai dengan nikuman, bakpao hangat isi daging dengan kepulan asap menyumbat dua hidung. Cross sedikit menelan ludah, sementara ia mendapati Zero meniupi pelan nikuman di dua tangannya.


Sejumput senang menetes masuk hati, Cross tahu Zero memang perhatian. Meniupi makanan panas agar tidak terlalu membakar lidah Cross yang dua belas jam bekerja di neraka, buat kalbu teraduk-aduk haru. Ia menikmati segala yang Zero berikan, karena mungkin saja hari ini menjadi waktu terakhir, tiada yang tahu? Baik Cross maupun Zero sama-sama berkorban demi persinggahan masa yang dihabiskan bersama, dengan caranya masing-masing.


Berkat Zero, Cross bisa menikmati makanan konbini dengan nyaman. Di mulai dari nikuman hangat, oden, karamel sandwich, hingga yang paling unik menurut Cross. Ialah Sakubata, kue sandwich berisi krim yang lebih menyerupai es krim. Rasa lembut nan manis mengisi rongga mulutnya, ditemani sensasi renyah dan krispi. Lelehan krim sempurna mendominasi rasa, setitik perisa kopi menyentuh bagian akhir lidah. Unik namun manis.


“Gimana, enak kan? Makan makanan manis setelah yang panas dan berkaldu itu memang terbaik,” Zero lap sudut bibir Cross yang tercecer krim, setelahnya lelaki itu menjilat ibu jarinya yang terkena krim dari mulut sang kasih. Cross tertegun menerima perlakuan Zero, tapi ia tak banyak berkomentar, alih-alih membalas pertanyaan Zero.


“Iya, manis dan penuh,” Cross kembali menggigit ujung sakubata.


Matanya awas menghadap ke depan, mendapati satu atau dua motor lewat meninggalkan bersit siklon menghempas trotoar. Di sudut jalan ada sepasang-dua pemuda dan pemudi berjalan sempoyongan.


“Kayaknya mereka mabuk,” Zero bergumam. Cross termangu, ada sesuatu buruk memberontak di sudut memori. Gigi masih mengunyah remah-remah sakubata terakhir.


“Jadi teringat dulu aku sering ke konbini,” Cross angkat frasa tanpa diminta. Zero membuka telinga, mendengarkan dengan hati-hati meski berwalang hati.


“Iya ya? Seharusnya kamu tahu banyak makanan,”Zero membalas. Cross menggeleng pelan.


“Hm hm, tidak ada yang memasak di rumah, lidahku hanya terbiasa makanan dari luar.  Nggak banyak yang bisa kubeli karena keterbatasan uang,” jelas Cross membantah. “Yah makanya, karena aku butuh uang, aku harus kerja keras …. salah satunya jadi penjaga kasir konbini, seperti orang itu.” Cross menunjukkan jari ke belakang. “Pulang-pulang dari konbini malah diamuk sama makhluk bejat itu, apalagi kalau lagi mabuk ….”


Zero hanya mendengarkan. Jika Cross mengatakan sesuatu yang berhubungan ‘dulu’ …. Zero harus siap menenangkan kalau-kalau Cross mulai menapaki topik tentang trauma masa lalu. Benar saja, wajah Cross yang mendung adalah tanda mutlak suasana hati sedang tidak baik-baik saja.


“Cross …” Zero merangkul lelaki mungilnya, menepuk pelan bahunya dan mendekatkannya pada raga Zero. “Sekarang keadaannya udah beda jauh dari kamu yang dulu, oke?. Kamu bisa hidup di SeGa tanpa beban, dan ada aku, Delta, dan Cube yang menemanimu di Console,” suara rendah dengan kepulan nafas mengenai kepala Cross. Zero harap kata-katanya bisa mengobati pikiran buruk itu.


Cross hela nafas membiarkan tubuh direngkuh Zero, membiarkan belaiannya merasuki kenyamanan diri.


“Lebih baik kita pikirin kenangan baik di masa sekarang,” Zero tidak lelah mencoba mengembalikan sentimen sang kesayangannya. “Kayak pas kita makan pizza barengan, atau main game di televisi sampai kamu akhirnya ketiduran, oh oh! Atau sesederhana yang sekarang …..”


Jeda datang, Zero menegakkan tubuh dan menunjukkan bungkus sakubata yang masih dipegang, belum lekas dibuang pada tempat sampah. Cross mengerjap bingung.


“Bayangin rasa sakubata tadi masih nyisa di mulutmu, Cross,” Zero bercakap seakan meminta pacarnya membayangkan sesuatu di mulut beberapa saat lalu.


“Uh, oke …?” Cross meneleng kepala, sementara lelaki rambut gelap di depannya tersenyum.


“Rasanya manis, kemudian ada …. hmmm, rasa  kopinya dikit?” Zero memastikan.


Cross mengangguk.


“Nah, hidupmu yang sekarang gitu. Krim manis yang menuhin mulutmu itu kenangan indahnya. Yang kamu jalani bersamaku dan anggota SeGa yang lainnya ketika menghabiskan waktu bersama, penuh kenangan suka cita. Nah bagian kopinya itu, ada pahit-pahitnya kan? Itu kalau si Delta dan Cube berantem lagi di Console,” perandaian tolol yang tiba-tiba terlintas di pikiran Zero ia kuakkan. Cross terdiam sesaat, gantian Zero gelisah sebab tak ada respons baik …. hingga Zero mendengar desahan kecil di antara hening.


“Heh, perandaian jelek macam apa itu?” mengolok-ngolok mengernyit dahi, Zero justru terpana.


“Uhm, jelek ya?” Garuk kepala canggung, Zero terkekeh miris.


“Yeah, karena Cube dan Delta setiap harinya ada waktu untuk adu mulut,” pandangan Cross mengawang ke langit. “Bukannya berarti pahit kopinya banyak? Tidak cocok sama analogimu dengan sakubata yang barusan aku makan.”


“Hehe, maaf …. Lagian pertengkaran mereka emang udah jadi bulan-bulanan,” Zero melirik Cross, wajahnya tidak semuram itu meski kerutan kecil pada dahi tak hilang dari muka. Setidaknya ia sedikit melupakan masa lalu?


“Mungkin kita bisa lanjut jalan-jalan lagi? Aku bakal nunjukin tempat yang bagus,” pungkas Zero percaya diri. Tangannya meraih milik Cross, menggenggamnya. “Ada syaratnya, sih.”


“Apa itu?” Cross menegakkan tubuh.


“Tutup mata dulu yah,” kedip mata centil, Zero menyuruh Cross tiba-tiba. “Pokoknya jangan dibuka dulu, sampai sebelum aku bilang.”


Lawan bicara hanya menuruti, dengan menekan pikiran bahwa ia percaya Zero tidak akan pergi kemana-mana. Zero tersenyum, memeluk sedikit tubuh Cross, secepat kilat menggunakan kekuatan teleportasinya. Sensasi kaki terangkat sempurna membuat cengkraman Cross menguat. Otaknya berlalu-lalang dirundung resah.


Aku berharap agar tak bersemuka di dunia

Sebuah lirih mengudara pada kegelapan

Meski kelam itu diterangi oleh satu titik cahaya

Hilang, rusak, penyesalan

Ialah; rentetan perkara yang menuntunku

Pada dinginnya malam, kita temukan cahaya satu sama lain


🏵️🏵️🏵️

 


“Kita bakal jalan-jalan ke belahan dunia lain, jadi pegangan kuat-kuat ya.”


Cross sempat mendengar ujaran Zero sebelum mulai teleportasi.  Bergerak kaki di udara hingga tanah mencium dua telapaknya. Sensasi dedaunan dan akar halus menyentuh sepatu, dari putih-hitam di balik kelopak menjumpai berkas putih cahaya menyilaukan. Kehangatan memeluk setiap inci tubuh, seakan ia ada di bawah lampu sorot panggung, buat kecemasan Cross naik lima puluh persen.


Terasa cengkraman sedikit menarik tekstil baju, Zero sadar ketakutan Cross lantas menutup daerah atas dahi Cross mengurangi filter sinar yang menerobos masuk netra.


“....Oke, sekarang kamu bisa buka mata,” pinta Zero.


Menyibak perlahan pelupuk mata, berkas cahaya menerobos masuk pupil hingga empunya nyaris tidak bisa memulihkan penglihatan. Satu detik, dua detik ….. Sampai Cross bisa mengembalikan seluruh pandangannya sempurna. Satu kata untuk menggambarkan pemandangan yang ia tangkap di lensa mata.

Hangat.


Atap bumi biru jernih, tiada bintang tiada bulan bertengger di atasnya. Temaram malam lenyap tergantikan siang membentang di seluruh mata memandang. Sesuai tuturan Zero, mereka ada di belahan bumi lain. Tiada jalanan sepi, hanya lautan berwarna kuning-jingga membanjiri panorama.


Cross terpana, meneliti apa yang ia lihat di depannya hingga sadar warna kuning yang mendominasi bukanlah laut ataupun tanah.


“Bunga chrysanthemum ….” Bisikan kecil meluncur pelan dari roman Cross. Ribuan—atau bahkan jutaan—kelopak chrysanthemum terhampar mekar memanjakan netra. Terbentang dari ujung ke ujung sebagai landasan cakrawala yang ada di atasnya.  Zero tersenyum, hijau iris digulirkan melirik kekasihnya, menangkap binar terpantul dari netra putih.


“Bagaimana, cantik kan, cantik kan?? Aku gak sengaja nemu tempat ini loh, ngingetin ke kamu gitu ….” Zero helakan nafas kecil. “Akhirnya kesampaian nunjukin ke kamu.”


Bibir Cross masih terkatup rapat dengan dua sudut ditarik halus membentuk senyuman tipis. Pusat brainsel memutar adegan lama bak rekaman, menyalakan kaset memori masa lalu.



“Kak, ini untuk kakak! Soalnya cakep!”


Gema suara manis terdengar pada dua rungu, empunya membawa haru sekaligus senang.


“Wah, dapat darimana nih?”


“Hehe …. kupetik di taman sih ….”


Kekeh kecil menghangatkan hati yang lelah oleh kehidupan, sebuah kiat sederhana dari sang adik mendatangkan kasih yang tertimbun di sanubari. Bunga yang menjadi simbol cinta, dan akan terus menjadi kesukaannya di sepanjang masa. Ia akan terus menyimpan pemberian kecil ini di dompetnya, dibawa kemanapun hingga biologikal kelopak layu, kering, lantas raib bersamaan dengan dompetnya.


Yang dicuri oleh sang ibunda.


“Barang milik anak adalah kepunyaan orang tuanya juga, bukan?”


Tersentak, racun ingatan buruk menyengat kepala. Ulas senyum perlahan terhapus dari rupa Cross, Zero menyadari hal itu. Paham benar ada bulir pahit mengacaukan memori manis dan bahagianya.


Helaian hitam bergerak tersapu angin datang saat Zero menunduk dengan wajah saling bersemuka pada milik Cross. Jarak menutup, hangat nafas beradu. Ketika hijau dan putih manik saling bersirobok, Cross tidak memiliki jeda sampai menyadari bibir Zero menyentuh miliknya.


Waktu membeku di bawah terik surya terbalut horizon biru, menjadi saksi bisu dua jiwa bertaut. Kelembutan dan ketulusan dari Zero dapat Cross rasakan melalui sentuhan menuju hati, perlahan menciptakan kedamaian di sekujur sukma. Kecupan manis sebagai mantra penyembuh, menguatkan seonggok frasa bahwa apa yang ada di masa lalu tetaplah masa lalu. Hangat, menentramkan, dan dibalut kelembutan.


Dua bibir terlepas dari pagut, meninggalkan jejak romansa tipis menyemai merah muda di dua pipi. Utas senyum Cross kembali mekar, kali ini lebih cerah.  Aksi Zero sukses meluluh-lantakkan limbah tak bertuan dari impresi lama.


“Hehehe …… ketangkap kamu!” Gerakan kilat, Cross kaget sebab Zero tiba-tiba memeluk pinggang dan menggelitiknya.


“A–aahahahaa…! Hentikan kau!” Terpekik, Cross coba dorong tubuh Zero yang lebih besar darinya susah payah. Memukul lengan kokoh di balik jaket denim, sampai Zero mengaduh sakit.


“Ow-ow!! Aduh, pelan-pelan bos,” berjengit menjauh, Zero lari meninggalkan bekas tapakan di belakangnya, membuat ruang jarak pada bunga-bunga. Cross mengejar, berusaha meraih tubuh Zero untuk digelitik balik. Tidak sadar sebab melihat Cross di belakang, kaki tersandung tanah tinggi setakat Zero terjungkal ke depan.


“Sekarang, kena kau!” Jemari Cross sigap merayap bawah ketiak Zero dengan brutal.

“Ah, ah!! Ampunn!!! AHAHAHAHAHAHAHA—!” Jeritan Zero mengudara, tangan berusaha meraih tangkai-tangkai bunga yang mengelilinginya. Berhasil mengambil satu langsung dijejal nakal ke dalam mulut Cross, malaikat itu terbahak dan berhasil bangkit.


“Ohok-ohok!” Tersedak bunga kesukaannya sendiri, Cross emosi meski menggebu-gebu dalam keceriaan yang lama dipendam. Zero di depannya masih tertawa lepas sambil memeluk bunga-bunga di depannya dalam jumlah banyak.


“Ayo, tangkap dan cabut aku di antara kembang-kembang ini, Cross!” Zero menantang agak lain, berusaha mencabut puluhan chrysanthemum di dekapannya, namun nihil. Tidak dapat dipungkiri akar-akarnya menggenggam bumi sekuat ini.


“HOI!! JANGAN MERUSAK BUNGA-BUNGANYA, DASAR BOCAH BADUNG!!!” Jeritan asing memekakkan telinga Cross dan Zero. Tersentak, keduanya mengalih pandang ke sumber suara. Seorang petani kekar membawa clurit menghampiri mereka dirundung amarah. Melongo sebentar sampai mereka ditampar fakta jika sesungguhnya mereka merusak kebun bunga dan berlarian di atas tanah milik orang lain.


Angkat kaki segera sebelum ditangkap, Zero langsung menggendong Cross kelabakan. Meski jantung dipicu panik sebab dikejar penjaga kebun, keduanya melepaskan tawa dengan bebas. Zero tertegun sesaat, menatap Cross lama meneliti ekspresi yang dirindukannya.


Zero tidak tahu hari ini mungkin menjadi ingatan paling membahagiakan di hidupnya.


🏵️🏵️🏵️



“Ah sial …. sudah aman kan yah? Hufh, hufh,” tersendat udara pada ceruk hidung, keduanya terduduk bermandikan keringat. Berteduh di tumpukan chrysanthemum lebat, cukup untuk bersembunyi dari kejaran petani gahar.

“Kayaknya aman …. hufh hufh,” Zero menetralkan hembusan nafasnya, merebahkan diri dan memejamkan mata sembari telapak tangan menyeka dahi basah, Zero melirik Cross melakukan hal senada.

“Ah, astaga,” desis Cross membangunkan Zero pada kepenatan.

“Kenapa?”

“Delta …… bagaimana keadaannya?”

Zero cekatan mengambil ponsel pintar dari saku. Menyalakan layar dan menyaksikan rekaman CCTV yang tersambung …..


Tapi yang tampak di LCD hanya gelap hitam, tiada visual Delta, bahkan ruang tengah. Sebagai ganti hanya ada tulisan ‘NO CONNECTION DETECTED’.


“Eh …. tidak ada sinyal.” Zero cemas. Cross mendekat, bola mata otomatis tertuju layar kosong.


“Sinyalnya gak sampai sini ….”

Baik Cross dan Zero saling bertatap. Cukup lama …. sunyi senyap …. hingga suara kekehan melebur jadi tawa. Bagaimana bisa mereka tidak memperkirakan hal-hal seperti ini?


“Gak papa, Delta bakal baik-baik aja kok,” Cross berujar tenang. Zero melongo, sebab seorang Cross tidak sedikit pun khawatir pada adiknya dan melepas pengawasan darinya?


“Kamu yakin?” Zero meyakinkan Cross, takut ia bersembunyi di balik topeng tenang. “Kalau cemas, katakan saja, jangan bohong.”


Cross sebenarnya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran itu. Namun hari ini, tak akan sudi ia merusak suasana dan sepenuhnya mau memfokuskan diri pada Zero yang repot-repot menghibur dan membawanya jalan-jalan.


“Iya. Lagian kalau di sana sudah ganti hari, ada Cube yang jagain,” tutur Cross mengangguk mantap.


Fonetik itu menciptakan sunyi dari Zero dalam beberapa detik. Senyum menyusul kemudian lantaran sadar Cross merelakan Delta untuk dijaga oleh orang lain selain dirinya, serta berkenan memberi kepercayaan pada Cube selayak anggota terakhir Serious Gaming.


Menghela nafas lega, Zero melihat hamparan awan berarak landai mengikuti sepoi angin. Dua tangan ia jadikan bantalan kepala, santai menikmati ketenangan sementara.


Cross duduk di sampingnya, menatap jutaan kelopak kuning yang bergerak-gerak kanan-kiri. Raga dengan raga saling bersisian, bersama eksistensi yang menciptakan nyaman di dada, damai di di jiwa.


“Tahu tidak? Baru kali ini aku memprioritaskan orang lain, selain Delta, lho,” tukas Cross tiada aba.


“Hohoho, aku harus berterimakasih, nih?” Tersirat ejekan mewarnai lisan Zero, dibalas netra putih Cross berputar sebagai reaksi dari olokan malaikatnya. Jauh dalam benaknya, ia sadar diri untuk berhutang terima kasih.


“..... terimakasih lho, sudah memilihku,” kecapan Zero disusul satu tarikan tangan yang kuat pada Cross, praktis menjatuhkan lelaki kecil itu ke atas tubuhnya yang terbaring. Segenap detik dua lengannya merengkuh erat Cross dengan  ketulusan murni. “Kamu juga harus tahu, aku gak pernah nyesel karena memilihmu …. Kiran.”


Bentala merekam jelas suara alam kersikan bunga-bunga ditiup angin selagi Cross termangu menatap Zero lama — sangat lama. Lagi-lagi sentral otaknya melalang-buana pada satu frasa.


Kiran, adalah nama yang sesungguhnya terpatri pada sendi kehidupannya di masa manusia dahulu kala. Kiran, didefinisikan bagai cahaya yang sanggup untuk bersinar menghadapi masa depan yang cerah. Kiran, nama yang dibuang jauh di belakang bagai pundi-pundi racun yang merusak dari orang tua. Kiran, nama yang senantiasa terpanggil dalam ujaran kebencian ….


Kiran, nama yang terucap indah kali ini, disini, dan detik ini, daripada seseorang yang berada dekat di raga dekat di hati. Jauh dari impresinya, ia sadar bahwa namanya bukanlah pembawa racun masa lalu. Ia juga memahami bahwa toksin kotor itu tidak mencemari memori maupun dunia yang sedang ia pijaki, yang ia pikir sebagai neraka hidup sesungguhnya.


Namun racun itu jauh mengakar pada pola pikir Cross sendiri, bersarang lama pada pemikiran dari individu dijajaki trauma mengerikan di sepanjang hidup yang berasal dari kebiadaban sang ibu. Berakibat fatal sebab selalu menempatkan pikiran negatif di atas pikiran positif di sentralnya tiap menjumpai memori masa lalu. Hal inilah yang justru membawa sang pemilik nama—Cross—pada kesulitan dan sendu. Tidak hanya diri sendiri, namun juga orang lain yang ia sayang.


Zero tatap Cross yang ada di atasnya lama. Setetes air mengenai sebelah pipi, asalnya bukan dari langit tanda hujan, namun tak lain tak bukan berasal dari kekasihnya. Berurai air mata, Zero tidak memahami mengapa Cross sangat sentimental. Apakah ia sedih? Apakah ia telah menerima namanya dengan tulus? Apakah ia rindu karena orang kesayangannya telah memanggil dengan nama asli? Zero tidak punya petunjuk. Tapi, ia punya niat baik untuk menyeka dua pelupuk mata kekasihnya yang berembun.


“........ Kenapa kamu nangis? Apa ini air mata kecewa, sedih, atau …?” Zero mengusung tanya hati-hati.


“Ini adalah air mata kebahagiaan.” Kemantapan Cross dibalik isaknya lebih dari cukup meyakinkan siapapun yang mendengarnya. Zero terdiam, mengulir senyum tipis menentramkan hayat. Jemari masih sibuk menghapus tetes-tetes dingin dari dua bola mata Cross …. pantulan wajah Zero terlihat dari sana.


“Kamu tahu? Lautan bunga chrysanthemum kuning ini mengingatkanku pada warna iris matamu,” pernyataan Zero menyulut kekeh kecil Cross.


“Hmmm, kamu mau aku yang dulu, kah?” Cross menaikkan alis.

“Yah, boleh juga,” celoteh Zero terdengar asal. Saat Cross nyaris menutup ekspresi senangnya, Zero melanjutkan dengan rentetan kata.


“Kamu yang dulu, kamu yang sekarang, kamu yang besok, kamu yang nanti …… aku mau semuanya, asalkan itu kamu.

Frasa keju picisan Zero justru membuat setitik kecewa Cross sirna seketika, bergulir memasang senyum indah yang tak lekang dipandang mata oleh pacar tercinta. Untuk yang kesekian kali, hijau-putih iris saling beradu, memaku tatap dan menaut janji, untuk senantiasa bersama, untuk selama-lamanya.


Melilit janji dalam satu benang untuk satu sama lain

Dua tangan terikat pada satu simpul tanpa pembatalan hakiki

Kita lahir atas sebuah pinta seseorang

Jika begitu, seluruh nyeri yang terbawa pada entitas hidup

Adalah apa yang disebut sebagai cinta

Sebab ini, aku lara — berkas senyummu menumpuk pada luka hari esoknya


🏵️🏵️🏵️

 




Commission Story Written by Sheville

Related Posts

See All

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page