top of page

Mengantar Cinta Berakhir Merana

  • Sheville
  • Jan 9, 2025
  • 12 min read

Kupikir tugasku sekadar mengirimkan surat perasaan

Tapi lama-lama kok seperti diberi cobaan?


✈️ 💌 💐


Tonggak langit biru lembut, mengusung tanda cuaca cerah mengungkung daratan yang Zero tapaki. Surai gelap si pemuda bergerak-gerak akibat menderap lebar-lebar langkah kaki, pijakannya bersuara keras di atas trotoar yang ramai orang hilir mudik.


“Hari ini tumben agak nganggur,” celoteh datang dari mulut Zero, kuapan ringan menyusul sedetik kemudian menyulut bingkai bibir membentuk huruf o.

TING!


Bunyi gawai di kantong seluar buat Zero terdistraksi. Ia rogoh sumber suara, menggenggam kotak gawai tipis dengan display penuh, mata memicing layar, kepala mencoba menghalau cahaya mentari. Melihat monitor kecil gawai di siang bolong begini sangat sulit kecuali pakai opsi tingkat kecerahan tinggi. Zero menjelma layaknya bapak-bapak boomer kalau begini.  Nggak papa, biar Zero bisa melihat notifikasi.


Benar saja, pesan masuk di website sebagai tanda permintaan baru Serious Gaming harus ditunaikan. Zamrud netra Zero awalnya menyipit santai samar-samar tanpa beban. Asik, panjang umur nggak jadi nganggur seharian. Apakah pirsawan penasaran? Baik, mari kita simak sama-sama isi dari kolom pesan:

Request Baru Serious Gaming

 

 Untuk Serious Gaming, saya dengar kalian dapat menerima dan mengabulkan  permintaan klien meskipun aneh-aneh. Jadi, saya mau minta tolong sama kalian ><

 

Aku ini hantu yang sudah berusia 60 tahunan. Saat usia gentayanganku 20 tahun, aku jatuh cinta pada seorang manusia. Tapi sayang seribu sayang, aku ini cuma hantu lemah yang nggak bisa banyak berbuat apa-apa, termasuk menyampaikan perasaan T___T.  Jadi, apakah kalian bisa mengantarkan rasa cintaku pada manusia yang aku sukai ini? ///></// Mungkin dengan memberinya bunga, surat cinta, atau kue untuk valentine juga.

 

Sebenarnya isi permintaan yang diterima tidak terlihat mengkhawatirkan (oke, mungkin bagian anehnya karena yang meminta ini sesosok hantu gentayangan).  Tapi setelah kian menit ia mengutak-atik gawai berunding dengan klien buat ngajak ketemuan, bola matanya membulat nyaris sempurna laksana orang kepayahan. Bulir keringat setetes muncul tanda Zero ada sedikit keberatan.

         

“Yang benar saja, ini kliennya dari luar negara?” Zero memekik heboh sedikit sambil menepi di pinggir trotoar agar lebih fokus mencerna torehan frasa. Untuk berkelana ke luar daerah yang belum pernah ia pijak, jujur Zero ada rasa malas-malas manja. Selain sebab ia tidak bisa pakai kekuatan teleportasi supernatural, ia juga jadi lebih jauh dari anggota di dalam Console terutama si paling kesayangannya.

         

Kayaknya aku harus diskusi dulu seperti biasa. Sembari merenungi beberapa kemungkinan yang ada, Zero lekas mengantongi gawai dan beranjak membawa kaki ke Console menemui sisa anggota lainnya.

         

Nahas, agaknya takdir mengatakan jikalau Zero seyogyanya membutuhkan jalan-jalan yang lebih jauh. Sesampainya di Console, Zero punya harapan anggota lain dapat memikirkan matang soal misi tersebut. Alih-alih ketika Zero mulai kuakkan diskusi lebih lanjut tentang request terbaru,  justru disambut dengan persetujuan tanpa ragu.

         

“Aman-aman saja sepertinya. Aku sih setuju buat kamu ambil request ini, lagian tidak terlihat ada masalah.” Cube angguk-angguk santai memberikan opini, mulut mengunyah permen karet lalu diletuskan cuma-cuma dan malah balik menempel di gigi.

         

Zero menggulir pandang ke Delta, tapi apa yang diharapkan dari bocah tukang tantrum yang sibuk berkutat pada hamparan monitor raksasanya.

         

“Amaaaann Zero!! Kliennya pasti sangat ingin permintaannya kita jabanin! Sampai bela-belain kirim request ke SeGa dari luar negeri, ” celoteh Delta sambil jari asyik mengutak-atik keyboard, empunya sedang menjalankan puluhan permintaan klien lain.

         

Zero mengendus bau-bau muka pengen disini. Curiga setitik, jangan-jangan Cube dan Delta menginginkan Zero pergi? Kan lumayan, mereka bisa banyak bertingkah sesuka hati tanpa ada sosok Zero yang mengawasi. Waduh-waduh, bisa jadi kesempatan dalam kepergian (Zero) kalau begini! Ingin berkelit sedikit, Zero coba memohon-mohon pada si paling kesayangannya — Cross — buat dapat pembelaan hakiki.

         

“Cross, luar negeri tuh jauh loh. Aku butuh usaha yang lebih-lebih buanget biar bisa sampai sana. Terus pasti perjalanannya membutuhkan waktu yang lama …. gak cuma sehari kelar begitu saja! Nanti kalau aku kangen sama kamu gimana?”


“Hmm ….,” Cross mendendang gumam seakan menimbang keputusan agar bijak untuk dipilih. Sepercik harapan muncul dalam jiwa Zero selagi ia terus membujuk Cross terkasih.


“Kalau aku pergi jauh dari Console, nanti misal ada apa-apa yang berbahaya atau darurat, aku nggak bisa langsung cepat datang! Aku takut banget nih, ninggalin kalian sendiri,” mulut maju satu senti, hijau iris Zero berkaca-kaca seperti bocah mau menangis. Delta dan Cube diam-diam mencibir abis, terutama pada kata-kata ‘takut meninggalkan kalian sendiri’, seharusnya bisa ia ralat jadi ‘takut buat ninggalin Cross sampai jantung kembang kempis!’


Karena merinding legit nantinya Cross jadi luluh pada Zero dan khawatir permintaannya akan dibatalkan, Delta cepat-cepat menyalakan kompor melawan desakan manja Zero pakai cara rayuan.


“Hm …. sayang banget sih Kak, kalau Zero nggak bisa ke sana. Padahal aku pengen banget coklat kunafa pistachio….”


Semua sama-sama memaku perhatian pada Delta yang kini tak lagi sibuk dengan monitor. Mengetahui anak itu mungkin saja menyerang Cross dengan membujuk, Zero siap dengan dalih-dalih yang akan ia aktingkan bak aktor. Tapi sebagai adik Cross yang hobi meminta-minta, sepertinya kali ini Delta lebih unggul dalam adu congor.


“Coklat kunafa pistachio? Bentuk dan rasanya seperti apa?” Cross bertanya sebelum Zero menyela.


“Itu loh, coklat yang lagi beken di negara itu! Di dalam batangan coklatnya ada pistachio …..  banyak review di internet bilang rasanya enak dan manis …. duh, aku pengen banget! Ini kan jadi satu-satunya kesempatanku mencicipi kalau Zero jadi ke luar negeri ….”


Kali ini binar-binar muncul di dua netra Delta. Figurnya agak maju mendekati sang kakak sekalian memperlihatkan iras yang memasang ekspresi manja. Zero cuma bisa telan ludah, ini berbahaya! Cross bisa tersentuh kalau begini caranya. Putar otak menggerakkan rotor inti membuat celah rencana lain, tapi selanjutnya terjadi adalah persetujuan Cross secara mutlak.


“Ya sudahlah, Zero. Kamu ambil saja permintaan klien yang ini,” cetusan Cross buat punggung Zero jadi lemas. Wajah Delta memercikkan rasa puas.


“Kamu yakin nih, Cross? Enggak apa-apa kalian kutinggal jauh?” Zero masih mencoba berkilah. 


“Iya, tidak apa-apa. Ada Cube disini, setidaknya sudah cukup membantu dan gercep kalau Console terjadi sesuatu. Misalkan kamu merasa permintaan klien ini merepotkan, tentu saja kamu bisa minta bayaran yang lebih ke dia. Mudah, kan?”


Cross sudah mengetuk palu keputusan, tidak bisa diganggu gugat dengan paksaan. Zero merutuk diri, seandainya Cube bisa menggantikan tugasnya, atau mengharapkan Delta agar diizinkan keluar Console untuk mengerjakan permintaan.


Yah, mau bagaimana lagi? Anggota Serious Gaming sudah punya pekerjaan untuk bagiannya masing-masing. Pertimbangan Cross adalah tonggak akhir, bahkan seorang Zero harus siap  menerima permintaan kali ini.


✈️ 💌 💐



Orang-orang bilang, usaha itu harus setara dengan hasil yang akan didapat.

         

Anjirlah!! Bayarannya harus besar ini!! Kalau bisa, lebih besar dari cintaku pada Cross!

         

Sepanjang jalan, Zero terus-terusan mencaci. Memang kalau lagi agak frustasi, orang jadi nyaris lepas kendali. Demi kesuksesan sebuah misi, Zero sampai menggerakkan penyamaran kesana kemari.

         

Awal mulanya ia bersinggah ke bandara untuk berkamuflase sebagai petugas resmi. Terseok-seok agar tidak membuat kadung curiga pegawai lain, Zero berhasil menyusup sebagai seorang pramugara yang ahli. Sebenarnya, tak jarang beberapa rekan sedikit menaruh sangsi.

         

“Kamu pramugara baru? Bukankah pramugara dan pramugari yang bertugas di pesawat ini cuma ada dua?” Seorang rekan bertanya curiga. Zero jentikkan jari sambil berceloteh penuh dusta.

         

“Ah, iya. Katanya butuh satu lagi karena penumpang pesawat ini rata-rata sudah agak lanjut usia,” Zero lancar melucutkan kata-kata. Hebatnya, semua petugas percaya begitu saja. Bagus, ini akan menjadi lebih mudah, pikirnya.

         

Tapi begitu Zero berhasil menyelinap masuk pesawat, ia langsung melebur jadi penumpang. Bersantai ria di dekat jendela sambil menghayati panorama bumi bawah yang membentang.


Nyaris terbuai, Zero tidak boleh santai-santai. Ia harus fokus pada misi, sedikit rasa ingin tahu mengetuk-ngetuk impresi, penasaran setengah mati pada klien yang akan dihadapi, sampai berhasil buat Zero nyasar ke negeri asing begini. Sudah begitu kliennya bukan sembarang klien, tetapi hantu yang lagi mabuk cinta kayak habis diracun afeksi.  Pokoknya bayarannya harus setimpal biar nggak rugi! Zero masih saja mengumandangkan ambisi di dalam hati.


Pesawat berhasil landing pada dini hari, tidak butuh waktu lama untuk Zero bersama penumpang lain keluar dari pesawat. Ia mulai mencari lokasi janjian, harap-harap tidak begitu jauh dari bandara.

Titik kumpul Zero dengan klien adalah bekas gedung tak terpakai di sudut kota. Tempat yang pas untuk sosok gentayangan datang, apalagi saat ini dini hari buta. Manusia dengan akal sehat mana yang serta merta mau datang ke tempat terbengkalai begini secara cuma-cuma? Tidak butuh waktu lama, penampakan wanita bergaun putih muncul tanpa aba.


“Whoa!!! Tiba-tiba sekali!” Zero berjengit, meneliti wajah membusuk hantu wanita yang ada di depannya. Zero sudah sering berhadapan dengan makhluk-makhluk seperti ini, jadi tak ada rasa takut menggerayangi sukmanya.


“Ah, maaf tiba-tiba ….” Suara rintih setengah berbisik membumbung, lebih dari cukup terekam indra pendengar Zero. Pemuda itu menggeleng-geleng.


“Santai, Nona. Ya sudah, mari perkenalan diri anda terlebih dulu. Lalu, kita bisa mendiskusikan soal ‘harga’ dari permintaanmu ini,” Zero berucap tegas, tidak mau bertele-tele pada urusan ini akibat sudah diburu dongkol.


“Nama saya …. Zhenskiy Prizrak … berusia genap enam puluh tahun gentayangan di negara ini ….” Wanita hantu itu menjawab pelan sedikit pilu.


“Oke Nona Jenskuy, aku tidak akan banyak berbasa-basi,” Zero main sebut nama panggilan sesuka hati. Salahkan kekesalannya yang sudah membuncah setengah mati. “Sebagai imbalan atas permintaanmu menyampaikan perasaan pada seorang manusia, sekaligus jasa kami yang jauh-jauh datang dari luar negeri hanya untuk mengabulkan permohonanmu, maka aku meminta seluruh pengetahuanmu selama kau hidup.

Bagaimana, apakah nona Jenskuy setuju?”


Hantu Jenskuy mengangguk-angguk pelan …. sangat pelan. Zero sampai khawatir kepalanya akan lepas dari badan.


Basa-basi asyik, Zero mempersiapkan notes, siap mencatat apa saja sesuatu yang harus dikirimkan.


“Penasaran dikit, Nona Jenskuy kok bisa ketemu sama orang ini, sih?” tanya Zero dirundung penasaran sejentik. Pupil mata merekam penampakan hantu Jenskuy yang mengetuk-ngetuk dan mengadu dua jari telunjuknya yang lentik. Mengoper pandangan pada iras, justru disambut oleh ekspresi malu dari wajah cantik.


Sebentar, apakah mata Zero salah menelisik?


“Uhm, begini …. Pas malam halloween …. aku kan lagi jalan-jalan di satu kastil gitu ya …. terus-terus, ada yang main papan ouija ….” cerita Jenskuy terjeda, Zero bisa melihat semburat merah mewarnai rupa. “Ha-habis itu …. aku coba nakalin kan, siapa tahu orangnya takut …? Ih, ternyata …. pemainnya cowok dan ganteng bangeeeettt!!!! Uuuuhhhh, bahkan dia coba-coba godain aku balik pake media ouija ….. bikin salting deeeh! Hatiku tiba-tiba seperti bergejolak dan akhirnya tertambat padanya …. sayang aku nggak bisa ngapa-ngapain ….. aku terlalu malu uaaaaaa!!!”

 

Astaga, apakah ini jadinya jika sosok hantu sedang jatuh cinta? Seperti seorang penggemar jadi-jadian yang selesai melakukan fan meeting dengan idola.  Zero bisa dibilang bengong seketika. Sedikit tidak menyangka, sosok hantu menyeramkan bisa merubah bentuk wajah jadi manis lucu selayak gadis muda.


Geleng-geleng kepala tidak habis pikir, Zero mulai mencatat pesanan nona hantu.


“Kisah yang benar-benar romantis, Nona. Jadi, apa saja hal yang harus aku kirimkan ke gebetan Nona yang ganteng ini?” Zero langsung nyeplos tanya.


“Aku …. mau dikirimin buket bunga….! Buket yang cantik, pokoknya paling bagus yang dijual di Florist….” Jenskuy mulai beberkan keinginan. Tidak lupa Zero tulis di catatan.


“Oke …. terus apalagi?”


“Coklat manis, bentuknya lope-lope! Jangan salah beli ya, pokoknya harus coklat manis …. terus pakai kartu ucapan ya……! Kartu ucapannya ditulis kata-kata romantis, manis, penuh cinta ….. berisi pesan tersirat akan kekagumanku padanya,” imbuh-imbuh ditambah, Zero manggutkan kepala, mengakhiri catatan lantas mengantonginya.


“Oke, sip. Aku langsungan ambil bayaran ya, tolong kirimin titik alamat penerima biar urusannya cepat sele–”


“T-tunggu Tuan!” Jenskuy memotong bicara. Zero menaikkan satu alis, ada sedikit curiga terselip dalam jemala.


“Ada apa?”


“Uhh …. kalau udah beres nanti, aku mau minta foto buktinya ya …. Biar menandakan kalau hadiahnya sudah diterima dengan baik tanpa masalah….”


“Oh, ya, oke deh, maka langsung di–”


“Kalau bisa, fotoin Mas Gantengnya juga…!”


Zero tepuk jidat, hantu ini ternyata banyak maunya. Apakah nanti semua permintaan yang akan ia terima bakalan dibayar setara? Mau atau tidak, akhirnya Zero angguk-angguk saja. Soal ambil foto, itu perkara mudah asal bisa curi-curi kesempatan. Pun jika Zero tidak sempat mengambil gambar mas gebetan, Jenskuy tidak bisa banyak berbuat apa-apa, bukan?


Setelah persetujuan dua belah pihak, Zero mulai menyerap pengetahuan hantu Jenskuy di kepala. Selama proses transaksi pembayaran dilangsungkan, Zero lebih dari cukup terpana. Sebab hantu Jenskuy ini seorang sejarawati berwawasan pada masanya. Pengetahuannya luas, sudah begitu unik-unik pula. Bagus, jadinya aku nggak rugi-rugi banget lah, ya?


Tapi ada satu hal yang lebih menarik, memori Nona Jenskuy memang mantap, tapi isinya penuh pengetahuan tentang perkastilan. Oh, dia pengidap Castelophile? Cukup singularis juga.


Setelah ini, Zero bakal cepat-cepat menunaikan tugasnya dan kembali ke pelukan si paling kesayangan. Namun, keinginan Zero tampaknya sedikit diombang-ambing fakta kalau penerima paket yang akan ia temui bukanlah entitas sembarangan ….


✈️ 💌 💐


Kastil besar nan luas bercagak bata terlihat megah dipandang mata. Sebuah tempat tinggal yang menurut Zero cukup klasik namun nyentrik menghias panorama. Setelah berkutat membeli buket dan coklat, Zero datang sebagai kurir pengantar pada pagi harinya. Saat pintu utama terbuka, tentu saja ia lebih dulu bertemu pelayan sebelum  disapa sang penerima.


Lihat kanan kiri oke, sedikit intip-intip iseng ke dalam, sebab Zero bingung kalau kastil sebesar ini …. terlihat sepi. Tak banyak pelayan sibuk atau berjalan kesana dan kemari. Selain itu, ada yang salah dari aura yang terpancar di sekitaran hunian bak abad pertengahan ini. Peluh turun di balik punggung …. tunggu, kenapa sekujur badan Zero jadi agak goyah  begini?


Mencoba menjelaskan maksud kedatangan pada pelayan, Zero mengibarkan kartu ucapan. “Saya hanya kurir, ingin mengantarkan paket untuk—”


“Untukku?”


Suara bariton lembut menyapu gendang telinga Zero, buat bulu kuduk cukup merinding. Pasalnya, si pemilik suara muncul tiba-tiba di belakang pelayan yang bergeming. Zero langsung menduga bahwa ialah sang empu kastil — sekaligus manusia yang dimaksud Jenskuy.  Zero menatap lamat-lamat, oke mungkin penilaian Jenskuy terhadap pria ini tidak salah. Seorang pria tinggi tegap berpakaian gelap, mata biru samudra tajam menilik Zero selagi memasang senyum yang merekah ramah.


“Kamu boleh pergi, ini aku yang urus saja,” perintah datang, si pelayan lantas menunduk dan beringsut segera dari hadapan. Kini hanya tinggal Si Penerima dan Zero yang saling melempar pandangan.


“Apakah benar ini nama Anda? Jika benar, tanda tangan di bawah namanya ya,” Zero memberi semua paket sekaligus menyodorkan kertas dan pena. Si Penerima mengangguk, selagi ia membubuhi tanda tangan, Zero merogoh kantong untuk mengambil gawai dan menyalakan fitur kamera. “Oh iya, sekalian izin minta foto ya sebagai tanda bukti paket telah diterima.”


Si Penerima tersenyum. “Wah, beneran sampai minta foto juga? Fufu, hantu zaman sekarang ada-ada saja.”


Zero indahkan cibiran si Penerima, lekas-lekas ia arahkan kamera depan, memastikan keseluruhan layar menangkap Si Penerima — dan juga Zero yang ikut berpose ria. Bodo amat lah, biar si Jenskuy jadi kesal kalau nanti lihat hasilnya. Merancang hal iseng sambil selfie, satu kali potret berhasil ditangkap lensa. Zero menunduk melihat hasil tangkapan kamera, memastikan wajah si Penerima terlihat jelas sentosa …. dengan lekuk senyum yang bagi Zero terlihat …. tidak biasa?


DEG!


Desir angin datang entah dari mana menerpa Zero yang terdiam. Kisikannya membuat tengkuk pemuda hijau iris itu merinding seperti ada tanda-tanda bahaya mengancam. Ada segelintir  kata-kata mengganjal di benak terdalam.


Hantu zaman sekarang ada-ada saja.


Hantu.


Zero membeliak, kali ini sudah bukan satu tetes, tapi punggung Zero di balik jaket kurir dibasahi peluh seluruhnya.


Kenapa ia tahu kalau yang mengirim paket ini hantu?


“Pak kurir nggak mau mampir dulu? Siapa tahu lelah karena jauh-jauh datang kesini?”


Suara lembut yang dibumbui keanehan tersirat yang sama. Kali ini Zero sudah tidak bisa mengawang rasa. Orang ini kenapa tahu Zero datang dari jauh? Ini sudah bukan mencurigakan, tapi harus waspada seutuhnya!


Kepala yang memaku gawai kini ia coba tengadahkan. Kenyataan selanjutnya yang terpampang di mata (batin) Zero adalah pemandangan yang bikin jantung berdebar tak keruan. Apa yang ia saksikan adalah si Penerima yang masih saja beramah tamah, tidak melancarkan gerak-gerik abnormal, tampak tulus, tampak baik, tampak bijak, tampak dermawan, tampak rajin menabung,  tampak ganteng —

tampaknya punya enam sayap hitam membentang arogan.


Zero berdegup kalang kabut dalam kalbu. Ia memang bukan manusia. Tak sengaja melihat tampilan serta gerak-gerik air muka si Penerima, Zero pastikan orang ini pun juga bukan manusia. Aduh ini ada apa sih? Malas banget kalau macam-macam, Zero mengaduh sedikit senewen mulai menggerogoti batin.


“Nggak dulu, Pak. Soalnya ada titipan harus beli coklat kunafa pistachio. Mau buru-buru nih, biar antriannya nggak panjang.” Zero mencari taktik kabur sebelum perkara makin runyam, tapi si Penerima malah mengejek sedikit bergumam.


“Hmmm ….. sangat jujur ya. Tipikal seorang malaikat, mau kabur saja jujur begini.”


Yah, rasa-rasanya penyamaran Zero sebagai kurir sudah tidak bisa disembunyikan. Maka pemuda itu hanya menghela nafas sambil menuturkan fonetik balasan.


“Begini loh, gue disini cuma mau nganter paket, bukannya mau bertamu, jadi —”


“Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja pada saya. Yah, meski bagaimanapun pasti sulit mempercayai seorang iblis …. tapi bukankah harusnya lebih nekat kalau memercayai Kannon?”


Meski ekspresi Zero tampak santai dan aman sentosa, bisa dipastikan kredibelnya dalam hati sudah diacak-acak realita. Pupil bergetar, leher semriwing ngeri-ngeri sedap, sampai keringat membasuh atma.

Anjir?????? Yang bener aja?? Kok dia bisa tahu gue sedalam itu?, begitulah teriakan kalbu seorang Zero yang dirundung kelabakan. Kabur nggak yah? Kabur langsung nggak nih? Kalau gue lari sekarang apa bakalan ditangkap? Intuisi gue sih mengatakan doi nggak bakal ngejar, tapi tetep aja ancrit …..


Mencoba tetap tenang meski benak luluh lantak dengan intens,  Zero memberi gawai pada si Penerima dengan pasrah. Ya sudahlah, giliran dia yang nggak bisa ngapa-ngapain banget.


“Ya sudah, minta kontaknya,” cecar Zero singkat dan padat. Paling nggak kalau sudah meminta kontak,

Zero bisa langsung cabut berdalih ‘akan dihubungi nanti’. Tentu saja Pria Gebetan Jenskuy ini mengangguk santai seraya mengetik nomor kontak pada gawai Zero. Setelah selesai, ia mengembalikannya pada sang empu.


Zero tidak banyak memperhatikan layar, lantas langsung mengantongi gawai segera. Tujuannya cukup sederhana.

Harus segera angkat kaki dari tempat ini.


“Sip, makasih loh. Kalau butuh, entar gue hubungi.”


Lepas berceletuk asal, Zero membawa dua tungkai menjauh dari kastil, berjalan tergesa berusaha mencerna apa yang telah terjadi.


Sialan, perjalanan mengabulkan permintaan klien kali ini benar-benar penuh drama!


✈️ 💌 💐

       Mengawasi pemuda bersurai gelap itu keluar buru-buru dari rumahnya, pria itu tersenyum. Seulas sungging licik menghiasi birai bibir, lalu menutup lembut daun pintu hingga terdengar derit kayu berdentum.


Tepat saat berbalik, seorang wanita menghampiri dengan langkah anggun. Empunya mengiringi tapak dengan keletuk sol sepatu hak tinggi dalam tubuh berbalut hitam gaun.


“Siapa tadi yang datang? Wajahmu terlihat senang sekali,” tegurnya, lembayung iris tak lepas memandang buket bunga dan coklat yang digenggam sang pria.


“Oh, iya ada kiriman ….” ujar si pria Penerima, lekas membuang seluruh buket bunga, coklat, serta kartu ucapan pada tempat sampah terdekat tanpa rasa bersalah. “Aku senang karena dapat mainan baru yang menarik.”


Mulai melekatkan mata dengan mata, Si Penerima menyambut telapak lentik wanitanya.  Disambi mengelus lekuk punggung jenjang, kemudian didekatkan raga elok pada milik si Pria, berjalan beriringan ke arah kamar bak pasangan mesra.


Menyorot buket bunga dan hadiah-hadiah yang terbengkalai, berbaur bersama sampah-sampah lain. Selembar kartu ucapan manis nan romantis mencuat dari sela-sela, ditulis dengan tinta merah berbau melati,  merajut satu aksara yang ditoreh penuh renjana.

Untuk Tuan Feruci Tercinta

 

 




Commission Story Written by Sheville

Related Posts

See All
Begin Again

Grey eyes stared at the email he had typed in his laptop blankly. Wondering if perhaps he should just forget about it entirely and delete...

 
 
Spicy Phobia

Sejauh yang Delta ingat, dia tak pernah menyukai makanan pedas. Hubungan antara makanan pedas dan dirinya seperti James Moriarty dan...

 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page