Spicy Phobia
- Selina Arsa L.S
- Nov 26, 2016
- 6 min read
Updated: Jan 9, 2025
Sejauh yang Delta ingat, dia tak pernah menyukai makanan pedas.
Hubungan antara makanan pedas dan dirinya seperti James Moriarty dan Sherlock Holmes. Musuh bebuyutan seumur hidup. Nemesis. Bisa pula diumpamakan seperti minyak dan air, meski sudah digabungkan tetap saja tak bisa menyatu. Namun sebagai gantinya, Delta paling suka makanan manis. Permen, gulali, kue, Pocky, hingga es krim, semua itu langsung ludes ketika disodorkan di hadapannya. Yah, meskipun nafsu makannya tidak segila Cube, sih.
Kalau ditanya kenapa bisa Delta sebegitunya terhadap makanan manis, alasan pemuda berambut hijau terang itu adalah karena makanan-makanan tersebut ya… manis. Tanggapan yang tidak menjelaskan, bukan? Jawaban yang sama sekali tidak menjawab juga terlontar kala orang bertanya padanya mengapa Delta tidak suka makanan pedas.
“Karena mereka pedas.”
Menyerah kalau bertanya soal preferensi Delta mengenai makanan. Jawabannya akan membuatmu geleng-geleng heran dan makin bertambah bingung.
Sebab Delta sendiri tak mengetahui alasan spesifik akan kebenciannya pada makanan pedas dan kecintaannya yang luar biasa terhadap makanan manis. Bertanya pada sang kakak? Ah, mungkin terlalu remeh untuk seorang Cross yang selalu berkutat dengan dunia logika dan durasi tidur yang tidak wajar itu (seriously, pikirkan bagaimana 16 jam menjadi ukuran minimal seseorang untuk beristirahat). Lagipula Delta sendiri juga terlalu sibuk mengurusi klien Serious Gaming daripada memikirkannya.
Hari ini, seperti biasa Zero datang ke Basement dengan sebuah kejutan ketika Delta, Cube, dan Cross sedang asyik tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Yah, meski Cross sebenarnya masih asyik dengan smartphone miliknya, entah menyelesaikan pekerjaan atau melakukan hal yang lain.
Sementara itu Zero berpakaian santai, tidak dengan seragam pengantar pizza, seragam pengantar paket, atau kostum badut Mickey Mouse KW super—yang menurut Delta paling freak diantara semua kostum yang pernah Zero kenakan karena bentuk kepalanya pun tidak mirip Mickey Mouse sama sekali. Hari ini Zero hanya ditemani oleh kaos longgar, celana panjang serta sepasang sneakers. Zero melangkah santai pula dengan membawa beberapa buah kotak berukuran sedang di tangannya. Ketika Delta mengangkat wajah dari komputer dan memerhatikan lebih jelas, ternyata itu adalah wadah plastik tidak transparan, dengan warna oranye yang menyala serta tutup putih. Semacam tempat makan yang akan kau temui di supermarket atau toko dengan bermacam-macam merek padahal model dan bahannya serupa.
Well, bahkan sebelum dibuka pun, wangi dari dalam wadah itu telah menyeruak ke seisi ruangan. Delta melirik jam digital di atas meja kerja, memang sekarang sudah waktunya makan siang.
Dan perutnya tiba-tiba meraung pelan.
Namun Delta mengernyitkan dahi ketika sadar bahwa aroma dari kotak yang masih dipegang Zero tersebut adalah wangi menyengat dari cabai. Sepertinya ada wangi rempah semacam pala dan lada yang terselip di dalamnya. Sudah bisa ditebak, tentu saja.
“Ugh,” gerutunya kesal.
Sebaliknya Cube terlihat tenang-tenang saja. Tentu, ini kan tipe makanan favoritnya. Sejujurnya dalam keadaan biasa Delta tidak masalah menyantap makanan apapun, dan ia akan sukarela menghabiskan ransum yang dibelikan Zero untuk mereka meskipun dia kurang menyukainya. Namun masalahnya, sudah 4 hari berturut-turut Delta kekurangan asupan makanan manis sebab Zero selalu membawa menu yang pedas. Zero terkesan sedang mengisenginya dan berpihak pada Cube.
“Kenapa?” Zero nyengir tanpa rasa bersalah dan melirik Delta.
“Lagi-lagi makanan pedas?”
“Yep,” Zero meletakkan wadah yang masih ia pegang sedari tadi ke atas meja, lalu membuka salah satunya. Menampakkan sajian berupa sup dengan kuah kental berwarna oranye kemerahan, potongan paprika, daging, serta warna hijau dari beberapa sayuran yang mencuat di sela-selanya. Tentu bagi kita atau bagi Cube, mungkin terlihat sangat menggiurkan, apalagi sup tersebut masih mengepulkan uap samar dan terlihat begitu hangat.
Namun tidak berlaku untuk Delta.
Di matanya, makanan itu terlihat seperti sup gagal yang berminyak, beraroma aneh, dan intinya tidak menarik.
“Ini namanya Hungarian Goulash Soup!” Zero berucap lagi dengan penuh semangat, meletakkan sendok—entah dari mana, Delta tidak merasa melihatnya membawa benda itu barusan—ke dalam masing-masing tempat makan. “Kalian tahu, restoran di ujung jalan sana baru saja menambahkan sub menu baru yaitu sup. Dan kurasa jenis sup lain sudah terlalu mainstream untuk kalian, jadi yaa, tak ada salahnya mencoba ini, bukan?”
“Memang tidak salah sih,” potong Delta lalu memutar bola matanya, “Tapi mengapa lagi-lagi makanan pedas?”
Zero mengedikkan bahu, “Hmmmm entahlah, aku hanya sedang ingin membelinya.”
“Duh astaga, sudah 4 hari berturut-turut asupan makanan manisku berkurang.”
“Maka belilah cokelat, atau Pocky, atau semacamnya yang kau sukai. Mudah kan?” cetus Cube. Baginya, preferensi makanan hanya masalah kecil yang tak sulit diselesaikan. Namun detik berikutnya ia baru kembali teringat bahwa Delta tidak pernah keluar Console. Sesekali memang, dirinya membawa makanan manis karena ia sekaligus berbelanja camilan dari minimarket, tapi tentu Cube tak mau setiap kali membelikan Delta. Apalagi Delta sering sekali membuatnya kesal dengan ocehan-ocehan tidak penting.
Delta hanya membalas kata-kata Cube barusan dengan decak kesal, lalu meneruskan pekerjaannya di komputer, membuka tab browser baru—menambah 11 jendela browser yang telah terbuka dengan satu jendela baru—berkutat dengan ratusan bahkan ribuan akun virtual untuk melaksanakan permintaan klien.
“Hei, kau tidak makan?” tegur Zero. “Aku sudah capek-capek mengantri dan membelikan sup ini untuk kalian lho~”
“Kau ‘kan tahu aku tidak suka pedas.”
Zero hanya menggumam, menjawab sekenanya lalu melongok ke ruangan sebelah. Cross senantiasa berbaring sembari menatap layar smartphone-nya sambil mengetik dengan tempo yang sangat cepat.
“Then why? Kenapa harus yang P E D A S?”
“Seperti yang sudah kubilang ‘kan, aku hanya sedang ingin membelinya. Sudah, ayo makan!”
Cube tanpa disuruh pun sudah mulai menyantap supnya dengan semangat. Aroma pedas semakin merebak, diiringi suara Cube menyeruput kuah yang terdengar ke penjuru ruangan, dan suara sendok membentur wadah plastic. Semuanya membuat Delta yang sudah lapar-tapi-kesal semakin gondok. Cross, tanpa harus ditanya lagi, pasti memilih untuk menunggu sup tersebut mendingin terlebih dahulu.
“Aku tidak akan makan,” Delta melengos, berbalik memunggungi Cube yang makan dengan rakusnya.
Cube hanya memutar bola matanya dengan bosan. Seisi Console tahu bahwa Delta punya fase di mana ia akan bertingkah seperti wanita yang sedang mengalami PMS. Alias labil dan mudah ngambekan dengan hal kecil. Mungkin ini salah satu diantaranya. Jadi ia tak begitu heran.
“Oh ya, nanti sehabis makan, aku akan menjelaskan tambahan tugas untuk permintaan dari klien yang sedang kalian kerjakan ini,” ujar Zero.
“Heh, lagi-lagi ‘nyogok’ pakai makanan ya,” balas Cube sembari berdecak, “Sama seperti pizza tempo hari rupanya…”
“Begitulah,” Zero nyengir tanpa rasa bersalah, “Ngomong-ngomong kau benar-benar tidak mau makan, Delta? Aku tidak akan membelikan makanan lagi lho untuk kalian malam ini, ada yang harus kukerjakan. Kecuali kau minta tolong Cube membelikanmu makanan. Dan… isi kulkas kosong.”
Delta menggeleng tanpa menoleh sedikit pun.
“Ngomong-ngomong nanti malam aku juga pulang cepat, pipa air di kamar mandi apartemenku bocor dan harus segera dibetulkan. Apalagi Ibu juga ingin memasak makanan special karena sebentar lagi tahun baru. Aku tak mungkin melewatkannya. Well… Delta, kalau kau benar-benar tidak mau makanannya, buatku saja,” Cube sudah bergegas saja meraih salah satu wadah lainnya, jatah Delta.
“Terserah, habiskan saja.”
Zero garuk-garuk kepala. Tampaknya ketidaksukaan Delta terhadap makanan pedas dan fase PMS rutinnya itu akut sekali. Tapi toh dia tak bisa berbuat banyak sebab di sini apa yang mereka utamakan adalah pekerjaan dan klien. Zero hanya merasa cukup heran bahwa Delta dan Cube bisa benar-benar kontras kalau soal makanan.
Padahal sebenarnya di depan layar komputer Delta sudah termangu dalam lapar. Memang awalnya wangi cabai dari sup itu cukup menyengat, namun lama-lama membaut perut keroncongannya semakin berbunyi. Apalagi suara Cube yang menyantapnya dengan seru. Duh, Delta tak bisa memungkiri bahwa dia jadi ngiler juga. Ah, tapi dia sedang kesal dengan pilihan makanan yang dibeli Zero beberapa hari terakhir. Ia tak mau gengsinya kalah karena makanan pedas. Jadi Cube memutuskan untuk tetap pada dalam mode mengambek ala-ala PMS.
Padahal suara perutnya yang keroncongan terdengar jelas di telinga Zero, membuat Zero nyaris saja menyemburkan tawa.
Oh, Delta.
Memang sifat kekanak-kanakkannya sedang muncul. Dan itu hanya disebabkan oleh sebuah menu makanan. Cross benar-benar tak habis pikir. Delta dan Cube kontras dalam banyak hal, apalagi soal makanan pedas dan manis. Sungguh ia bingung, baginya toh semua makanan itu enak, apa salahnya?
“Kau benar-benar, BENAR-BENAR, tidak lapar, Delta?”
Zero bertanya sekali lagi dengan penuh penekanan.
Delta menggeleng kuat-kuat, “Aku tidak lapar dan aku tidak akan pernah memakan menu pedas itu. Biar Cube yang menghabiskan jatahku saja.”
“Oke, baiklah. Terserah kau saja. Asal jangan protes padaku kalau kau kelaparan sampai pagi, ya~” Zero lalu melenggang dan mengambil berkas-berkas dari atas meja, menyiapkan hal-hal yang akan dijelaskannya setelah ini. Zero berpikir, apa mungkin besok ia akan membelikan kue tart yang telah lama diidam-idamkan Delta—selain rencananya untuk membawa 20 kotak Pocky khusus untuk pemuda bersurai hijau itu—sebagai tambahan permintaan maaf karena telah mengerjainya beberapa hari terakhir.
Tampaknya Delta memang betul-betul sedang ‘PMS.’ Ia bahkan lupa besok adalah tanggal 31 Desember, ulang tahunnya sendiri. Zero hanya tertawa pelan dan menggumam tak jelas.
“Yah, baiklah, kurasa besok aku memang harus beli makanan manis.”
[Later that night. At the Basement]
Delta membanting pintu kulkas dengan kesal. Sang kakak sudah tidur, seperti biasa.
“Sial, Cube benar-benar menghabiskan jatah makanku!”
***
Commission Story Written by Selina Arsa L.S
Comments