top of page

Unspoken Wish

  • Tatsucho
  • Dec 10, 2025
  • 11 min read

Updated: Jan 10


Delta bosan. Sudah hampir beberapa jam dia hanya berbaring di sofa, dengan ponsel di genggaman dan tatapan yang mengarah ke langit-langit Console.


Sehari-hari, tugasnya hanya berputar di antara permintaan klien SeGa dan urusan yang berkaitan dengan markas mereka. Dia tidak memiliki minat untuk mengecek ponsel maupun komputer, entah mengecek pekerjaannya yang sudah setengah jalan maupun hanya bermain game.


Jika seperti itu, biasanya Delta akan memilih untuk tidur, beristirahat sebentar. Hanya saja dia tidak merasa mengantuk. Ingin beralih ke kegiatan bersih-bersih pun tidak membuatnya segera bergerak.


Bisa saja dia memulai dengan menyalakan pembersih debu, untuk yang paling minimal, membiarkan alat itu saja yang membersihkan sekitar Console di antara beberapa perabotan dan alat-alat elektronik lainnya, tapi beranjak dari sofa pun tidak dilakukan sejak beberapa saat lalu. Dia sama sekali tidak bersemangat.


Tangan Delta terangkat, membuka kunci ponsel hingga menunjukkan layar yang menunjukkan potret dari video burung yang terhenti di tengah pemutaran, menatap selama beberapa saat.


ā€œKau sedang lihat apa? Merana banget.ā€


Delta terbangun secara mendadak, hampir mengenai dahi Zero kalau dia tidak cepat menghindar.


ā€œWoah! Apa? Kenapa kau?ā€ Zero melihat ke layar ponsel Delta yang terlalu dekat dengan wajahnya, tidak bisa melihat apa-apa sebelum mendorong sedikit lalu beralih ke sepasang mata Delta yang berbinar. Tatapannya kembali ke video yang sudah terputar. ā€œIni … burung?ā€


ā€œIya! Lucu ā€˜kan? Aku mau memeliharanya!ā€


Beberapa saat yang lalu, Delta tidak sengaja menemukan video burung peliharaan di media sosial. Awalnya hanya iseng, tapi lama kelamaan dia semakin tertarik untuk mengecek video sejenis lainnya, mengecek hingga satu persatu, satu akun ke akun lainnya dan keinginannya pun muncul.


Selama ini dia hanya bisa melihat berbagai kegiatan di luar ruangan seperti ini, melihat keseharian orang biasa yang tidak dikenalnya. Mulai dari kegiatan yang dilakukan sendiri, berpasangan dan banyak orang sekaligus.


Sudah beberapa kali juga dia melihat video berbagai orang yang memelihara hewan, mengajak peliharaan berjalan-jalan dengan tali ke sekitar taman atau ke pantai.


Kebanyakan anjing peliharaan, tapi kucing, kelinci maupun kuda pun juga pernah dilihat Delta karena penasaran. Dia tidak terlalu tertarik untuk memelihara, hanya suka menonton saja, tapi untuk kali ini berbeda.


Burung-burung yang dipelihara itu kebanyakan di sangkar, meskipun tempatnya berada di luar ruangan, menikmati cahaya matahari dan terkadang berkicau. Delta ingin melihat dan mendengar hal yang dilakukan burung secara langsung, peliharaannya sendiri.


ā€œBurung peliharaan?ā€


Cross sudah datang, mendengar suara Zero dan Delta yang sama-sama menembus pintu area pribadi, menatap kedua orang itu yang kini melihat ke arahnya. Adiknya menunjukkan semangat yang sama ketika sebelumnya berbicara dengan partnernya.


ā€œKakak! Bagaimana? Aku boleh memeliharanya ā€˜kan?ā€


Zero dan Cross menatap satu sama lain, tidak mengatakan apapun, tapi hanya dengan tatapan itu saja sudah ada kesatuan pikiran di antara keduanya. Memelihara burung adalah hal yang tidak mungkin. Melihat dari kondisi Console yang tidak cocok untuk makhluk hidup biasa dan Delta yang masih memiliki larangan seumur hidup untuk tidak keluar dari markas.


Bagaimana caranya dia bisa merawat burung dengan keadaan seperti itu?


ā€œApa? Kalian hanya diam saja? Aku bertanya.ā€ Dia mengerutkan kening.


Tatapan Delta pada akhirnya membuat Cross yang berbicara. ā€œTidak boleh. Kasihan burungnya kalau dipelihara di tempat kita.ā€


ā€œCross benar.ā€ Zero segera menambahkan, mendukung. ā€œConsole terlalu tertutup, sementara burung butuh asupan sinar matahari yang cukup. Tidak cocok untuk tinggal di sini.ā€


Delta menatap keduanya.


ā€œJadi, tidak bisa?ā€


ā€œIya.ā€


Beberapa saat, tidak ada yang berbicara maupun bergerak dari tempat masing-masing, tapi kemudian Delta melempar ponselnya ke sofa lalu dirinya sendiri, memunggungi Cross dan Zero. ā€œAku mogok kerja. Kalian saja yang repot sendiri.ā€


Cross menghela napas, melihat ke arah Zero yang berbicara tanpa suara.


ā€œDibiarkan saja?ā€


Dia mengangguk. Cube belum datang, sehingga tidak ada yang mempunyai kemampuan untuk membuat Delta mengubah pemikirannya. Cross kembali ke areanya, diikuti Zero, meninggalkan adiknya yang sedang bergumam dengan nada rendah.


Delta masih merapatkan dirinya di sofa selama beberapa saat, tapi kemudian berbalik dengan kasar dan menatap tajam langit-langit yang tidak memiliki kesalahan apapun.


Padahal dia tidak meminta apapun yang merepotkan, bahkan sudah mencari tahu lebih dulu cara merawat burung dengan keterbatasan tempat tinggal mereka, berniat merawatnya sendiri, mungkin meminta sedikit bantuan yang ada hubungannya di luar ruangan, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya tentang persiapan yang dilakukannya.


ā€œMenyebalkan. Mereka pikir aku menyerah begitu saja?ā€


Delta akhirnya bangun dan mulai membuat keributan.


Dia memang melanjutkan pekerjaan, tapi dengan sengaja menyalakan musik keras-keras sementara telinganya tertutup rapat dengan penyumbat yang menghalangi suara apapun. Selesai dari itu, Delta mulai menceritakan soal burung yang akan dipeliharanya.


Dari informasi umum, berbagai jenisnya, ciri-ciri, pakan, masa kehidupan dan cara merawatnya, tanpa ada yang ketinggalan. Delta tidak peduli ada yang mendengar atau tidak, dia hanya akan mengulangi ucapannya itu berulang kali sampai mulutnya berbusa dan mereka yang bereaksi lebih dulu, sampai keinginannya terpenuhi.


Hari pertama, kedua dan ketiga berlalu. Cube selalu datang dan tidak mengatakan apapun, hanya bekerja, begitu juga Cross yang seperti biasanya dan Zero yang akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu di Console. Delta tidak berhenti.


Hari yang keempat, dia akhirnya mendapat reaksi yang sudah lama ditunggu. Zero mematikan pengeras suara musik sambil tersenyum santai, sementara Cross yang berbicara.


ā€œBoleh.ā€ Dia melihat ke arah Cube. ā€œCube, tolong carikan burungnya ya.ā€


ā€œOke.ā€ Cube langsung beranjak, membuat Delta melihat ke arah lelaki itu, yang sudah melangkah keluar dari Console, lalu ke Cross dan Zero yang berdiri bersisian.


Alisnya terangkat. ā€œDia langsung berangkat? Nggak bertanya apa-apa dulu?ā€


ā€œKau kan sudah memberitahu kami keinginanmu sejak beberapa hari lalu.ā€ Zero mengingatkan.


Cross mengangguk, tidak mengatakan apapun dengan energinya yang saat ini terbatas.


Dia tidak bisa istirahat selama beberapa hari ini karena Delta. Cross bisa maklum, tahu kalau adiknya itu hanya melakukan hal yang bisa dilakukan untuk mendapat keinginannya, tapi kebiasaan tidurnya juga sudah menjadi suatu hal yang penting untuk menopang pekerjaan mereka.


Hanya beberapa hari tertunda, tapi jika lebih lama, bisa saja pekerjaan mereka ke depannya menjadi kacau. Cross tidak ingin membiarkan hal itu terjadi.


ā€œRawat burung itu dengan baik.ā€


Delta mengangguk, tersenyum ceria, membuat Cross mau tidak mau membalas senyum adiknya itu.


Butuh beberapa waktu, tapi Cube akhirnya kembali dengan hal yang diminta.


Delta sudah menunggu kedatangannya, tapi kedua mata si lelaki lebih terpusat pada sosok kecil yang berada di dalam sangkar, sudah tidak sabar untuk menyentuhnya dan mengabaikan hal-hal lain di sekitar.


ā€œEits.ā€ Cube menarik sangkar menjauh dari jangkauan Delta, menatap lelaki berambut hijau itu yang sudah memelototinya dan kemungkinan akan memakinya. Dia tersenyum tipis, tidak peduli. ā€œAda persyaratan sebelum aku bisa menyerahkan burung ini padamu.ā€


ā€œApa?ā€


Cube masih menatap, mengingat pembicaraan yang hanya dilakukan olehnya, Cross dan Zero semalam. Kedua orang yang sangat peduli dengan Delta itu, termasuk dirinya, memang sudah sepakat untuk membiarkan sosok di hadapannya melakukan hal yang diinginkan, tapi dia memiliki pikiran sendiri.


Delta memang mudah berganti suasana hati, terpancing dengan hal-hal remeh sekaligus tidak terpengaruh apapun kecuali berkaitan dengan dirinya, tapi tidak pernah melupakan tanggung jawabnya. Seperti beberapa hari lalu.


Cube tahu kalau lelaki di hadapannya itu juga akan bersungguh-sungguh merawat burung yang dicarinya dengan susah payah. Hanya saja, Console memang tidak cocok untuk menjadi habitat makhluk hidup selain mereka dan ada satu hal lain yang tidak ingin dibahas olehnya meski di dalam hati sekali pun.

Lelaki itu akhirnya mengatakan syarat yang diputuskannya sendiri pada sosok di depannya.


ā€œWaktu memelihara cuma seminggu. Nggak kurang dan nggak lebih.ā€ Dia buru-buru mengangkat satu tangannya ketika melihat lelaki di hadapannya membuka mulut. ā€œEh, eits, nggak ada tawar menawar.ā€


Delta menggertakkan gigi, masih melotot. ā€œSeminggu itu kecepetan tahu.ā€


ā€œKau mau atau nggak?ā€


Dia menghela napas kasar, menatap burung yang di dalam sangkar itu lalu ke arah Cube yang masih menunggu jawabannya, terlihat tidak akan mengubah perkataan yang membuatnya sempat terbelah. Delta tahu kalau bisa saja dia bersikap keras kepala dan tidak mengindahkan ucapan sosok di depannya, beradu mulut hingga mencapai keinginannya, tapi ini sudah malam.


Di pencarian internet, kebanyakan burung baru bisa beristirahat di tempat yang tenang dan penerangan yang minim, mengikuti jam alam. Dia juga ingin istirahat karena sudah beberapa hari melakukan tantrum dan melakukan semua pekerjaannya seperti biasa. Tidak ada tenaga yang tersisa maupun keinginan kuat untuk melakukan itu.


Delta akhirnya mengangguk, mengulurkan tangan. ā€œBerikan padaku.ā€


.


Cube kembali ke Console dengan belanjaan di satu tangan, dan tangan lainnya memegang sangkar burung milik Delta. Burung itu sudah dijemur untuk mendapat sinar matahari harian, tampak segar dan sedang menyantap makanan di dalam sangkarnya.


Dia menggantung sangkar itu di sebuah kaitan yang sudah disiapkan oleh Delta, berada di area pintu masuk Console sehingga tidak ada banyak alat-alat elektronik di sekitar.


ā€œKau sudah membeli semuanya?ā€


Cube mengangguk, menyerahkan belanjaan itu untuk dicek sendiri. ā€œLihat saja.ā€


Delta membukanya, melihat semua hal yang sudah di list-nya sebelum ini memang ada di dalam, kebutuhan burung peliharaannya untuk seminggu. Karena hanya sedikit, Cube yang akhirnya melakukan permintaan lelaki itu sendiri.


Tidak sulit, terutama dengan lokasi markas mereka yang berada di pinggiran kota sehingga mudah menemukan toko yang menjual kebutuhan burung, hanya lebih banyak pilihan toko saja. Satu bungkus biji-bijian, beberapa tulang sotong, penyemprot kecil dan beberapa alat yang sudah dipasang Cube di sangkar.


ā€œBagus. Terima kasih.ā€


Cube mengangkat alis. ā€œTerima kasih saja? Aku sudah membantu banyak hal sejak kemarin.ā€


ā€œApa? Bukannya kau ke sini juga untuk bekerja?ā€ Delta bertanya balik, tidak mengerti.


ā€œ.... Sudah lah.ā€


Dia bahkan tidak bisa marah, tahu kalau perhatian Delta sudah teralihkan sepenuhnya pada burung di sangkar, yang saat ini sedang minum. Dia lebih memilih untuk ke area bekerja, meninggalkan lelaki yang masih terdiam di tempat.


Delta tidak bisa berhenti tersenyum ketika memperhatikan bagaimana cara burung itu makan dan minum, berpindah ke sana kemari di potongan kayu buatan yang berada di tengah-tengah sangkar lalu membersihkan paruhnya di lipatan sayap. Kemudian, matanya terbelalak, sementara mulutnya terbuka ketika mendengar cuitan burung itu.


Hal yang dialami secara langsung memang jauh lebih baik.


Dalam sehari itu, Delta lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melihat gerak-gerik burung peliharaannya. Dengan melirik di setiap kesempatan ketika masih bekerja, sengaja menyapu dalam gerakan lambat ketika berada di sekitar sangkar, berlama-lama berbaring di sofa tanpa tertidur dan mengabaikan orang lain.


Tentu saja hal itu tidak berlangsung lama. Di hari ketiga, Delta baru menyadari kalau burung peliharaannya memiliki bentuk kotoran dan bau yang membuatnya bergidik lalu mengambil langkah mundur. Bulu kuduknya sampai berdiri semua dengan keterkejutan yang baru dirasakan.


Cube memegang kedua bahunya, meremasnya pelan sambil bersuara dengan sedikit mengancam. ā€œKenapa menjauh? Kau harus membersihkannya.ā€


ā€œ.... tolong?ā€


Cube mendorongnya dari belakang. ā€œAku hanya membantu untuk urusan di luar ruangan.ā€


ā€œKakak?ā€


Cross menggeleng. ā€œTinggiku saja tidak mencapai kalian berdua.ā€


ā€œZero—loh, di mana dia?ā€


Pintu Console yang bersuara menutup membuat ketiganya menoleh. Tidak lama, Cross dan Cube pun juga kembali ke kubikel masing-masing sehingga Delta tidak punya pilihan selain melakukannya sendiri.

Delta memakai semua perlengkapan, memasang plastik di lantai untuk berjaga-jaga bila ada kotoran yang jatuh lalu akhirnya menggeser piringan aluminium yang menjadi wadah. Seharusnya dia memasang plastik juga di sini agar bisa langsung diangkat dan dibuang, tapi nasi sudah jadi bubur, mau tidak mau lelaki itu harus membersihkannya secara manual.


Beberapa gidikan, kata-kata menahan jijik dan gosokan kesekian, Delta akhirnya selesai membersihkan wadah dan mengeringkannya. Dia kemudian memasang potongan plastik yang pas sebagai dasarnya lalu meletakkannya kembali ke posisi semula.


ā€œSelesai….ā€


Suara burung peliharaannya menjadi bayaran. Dia tertidur, istrihat, sebelum kembali bekerja.


Beberapa insiden turut berganti terjadi. Mulai dari air yang ketumpahan saat Delta mengisi ulang tempat minum burung, jarinya yang terpatuk ketika ingin mencoba mengelus sayapnya lalu burung itu yang cukup aktif berkicau di malam hari sekali pun.


Delta menyayangi burung itu, tapi juga sedikit merindukan hari-hari sebelum memiliki tanggung jawab tambahan yang dimintanya sendiri.


Keesokan harinya, burung itu tahu-tahu saja terbang keluar dari sangkar dan tidak berniat kembali. Delta panik, memperhatikan peliharaannya yang terbang hingga menyentuh langit-langit, mengelilingi Console seakan mencari jalan keluar yang tidak akan ditemukan.


Memang ada saluran udara, tapi Zero sudah memastikan semuanya tidak akan bisa dilewati oleh burung itu. Tetap saja, menangkap peliharaan yang terbang dengan lincah itu menjadi kesulitan yang baru.


ā€œAwas!ā€


ā€œAh, jangan ke sana!ā€


ā€œBurung!ā€


Suara yang lebih keras dan tajam memotong konsentrasinya.


ā€œDelta—!ā€


Gerakannya terhenti ketika sepasang tangan sudah melingkar di perutnya. Dia melihat tangan yang tidak asing lalu sosok Zero yang membungkuk dengan Cross di pelukannya.


Dia kebingungan. ā€œAda apa?ā€


ā€œKau hampir menabrak kakakmu, Tolol.ā€


Delta dilepaskan, menghampiri Cross yang tampak maklum, dengan Zero yang tetap berada di sisi kakaknya itu.


ā€œMaaf, aku nggak tahu, nggak sengaja, Kak….ā€


Cross menggeleng. ā€œTidak apa-apa.ā€


ā€œAyo, aku akan mengangkatmu.ā€ Cube kembali bersuara, mengulurkan tangan. ā€œTangkap dan kurung lagi peliharaanmu itu.ā€


Delta berhasil menangkap burung itu dan memasukkannya kembali ke sangkar.


.


Beberapa hari berikutnya berjalan lebih tenang.


Di kali kedua dia membersihkan kotoran, Delta sudah tidak merasa jijik. Jari-jarinya pun tidak lagi menjadi korban patukan burung, melainkan bisa merasakan betapa lembut dan halus helaian cokelat yang memiliki rangkaian berbeda.


Sesekali, dia merasa agak iri dengan burung itu yang bisa berjemur di luar Console, meski hal itu adalah saran dari dirinya sendiri. Tetap saja, Delta bahkan belum pernah mengambil satu langkah pun keluar, tapi dia berusaha mengingatkan diri kalau peliharaannya tidak sama dengan dirinya yang memiliki situasi khusus.


Meski begitu, dia senang dan mulai terbiasa dengan hari-hari yang berlalu setelah kedatangan burung itu. Tidak ada penyesalan, bahkan ketika batas waktu yang diberikan Cube tiba.


Sudah waktunya burung itu dilepaskan.


ā€œSudah siap?ā€ Zero berusaha mencairkan suasana, tepatnya untuk Cross, tapi matanya mengarah pada Delta yang juga sedang diperhatikan oleh partnernya itu.


Mereka merasa khawatir.


Ketika Delta meminta untuk memelihara burung, hampir tiga hari penuh dihabiskannya untuk membuat keributan. Sekarang adalah perpisahan, baik Cross maupun Zero sama-sama tidak yakin akan seperti apa kekacauan yang dilakukan oleh adik partnernya sekaligus anggota termuda mereka.


Mungkin keributan yang sama, atau malah kekacauan yang baru dan lebih heboh dari sebelumnya. Tidak ada dari keduanya yang bisa menebak, walaupun sudah bersiap untuk yang terburuk. Bagaimana pun hal ini berkaitan dengan Delta.


Di sisi lain, Delta tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat, hanya memperhatikan burung di hadapannya dalam diam, sebelum akhirnya mengangguk.


ā€œSudah kok. Dadah, Burung.ā€


Dia tersenyum tanpa beban, melambai pada burung itu yang kelihatan tidak tahu apa-apa, sementara Cube sudah bersiap dengan sangkar yang sudah di tangannya sejak beberapa saat lalu. Lelaki itu mendorong wajah Delta sedikit menjauh.


ā€œMau sampai kapan kau memelototinya heh?ā€


ā€œIya, ini beneran sudah.ā€

Delta meliriknya tajam, tapi kembali tersenyum ketika tatapannya kembali pada burung di sangkar. Cube kemudian berjalan keluar dari Console, turut serta membawa peliharaan yang mungkin tidak akan pernah dilihatnya lagi.


Kebersamaannya dengan burung itu singkat, tapi sudah ada beberapa kenangan yang sudah tersimpan di hatinya. Paling tidak, keinginannya untuk memelihara sudah terpenuhi. Jika rindu, dia bisa menonton video orang lain atau memutar rekamannya sendiri yang lebih amatir.

Itu sudah cukup.


.


Delta merasa sedikit kosong tanpa kehadiran sangkar dan burung yang biasanya dilihat seminggu terakhir. Tidak ada suara kicauan maupun bau samar-samar dari kotorannya setiap beberapa hari sekali. Ketika akan menyemprot, memandikan peliharaan sebelum dijemur, dia bahkan lupa sudah tidak memilikinya lagi.


Dia tetap bekerja, melakukan setiap hal yang dibutuhkan untuk klien dan masih perlu disibukkan dengan kebersihan Console. Meski ada yang terasa kurang, tapi Delta memutuskan untuk menyibukkan diri, memberi lebih banyak waktu untuk menonton konten di media sosial yang berkaitan dengan burung.


Beberapa hari kembali berlalu tanpa kejadian yang berarti, tapi suatu hari, ketika Zero sedang tidak ada di Console, sementara Cross tertidur di area pribadinya. Dia memutuskan sesuatu, di saat hanya ada Cube di sisinya.


Delta memecah keheningan di sekitar mereka.


ā€œTerima kasih.ā€


Cube menoleh, melihat ke arah Delta yang tidak membalas tatapannya alih-alih tetap bekerja, membuatnya merasa sempat ragu dengan perkataan lelaki itu. Hanya saja, diantara pertikaian verbal di antara keduanya yang sudah jadi tradisi, ucapan yang terdengar pelan itu tetap menjadi hal yang nyata.


Dia melakukan hal yang sama dengan Delta, kembali menatap pc-nya.


ā€œTerima kasih buat apa?ā€


ā€œKau sudah mencari burung untuk aku pelihara dan….ā€ Delta tersenyum tipis, antara pahit dan penerimaan yang tulus. ā€œKeputusanmu saat itu, memberikuĀ waktu merawatnya dalam seminggu.ā€


Delta memang tidak menyadarinya saat itu, tapi sekarang dia mengerti.


Burung itu seperti Delta, terkurung, tidak bisa keluar selama dia memeliharanya. Waktu seminggu mungkin terasa sebentar untuknya, tapi bagaimana dengan kenyataan soal burung yang seharusnya bisa terbang bebas di dunia luar?


Peliharaannya mungkin tersiksa meski lelaki itu sudah berusaha merawat dengan baik. SelainĀ Cube, Delta juga teringat dengan perkataan Cross dan Zero sebelum menyetujui keinginannya, bisa saja kondisi burung itu memburuk jika memeliharanya lebih dari batas waktu.


Burung itu memang masih bisa menikmati sinar matahari, makan dan minum, bahkan berkicau setiap waktu, tapi semua hal itu pada akhirnya diatur dan hanya bisa dilakukan oleh pihak lain, tanpa keleluasaan.


Delta tentu saja mengerti. Dia sangat paham dengan hal yang bisa saja menjadi hal seumur hidup, bagi burung itu, jika lelaki itu tetap memeliharanya di Console. Kebebasan yang mungkin tidak akan pernah didapatkan dan kenyataan mengenai tidak ada makhluk hidup yang seharusnya pantas dikurung meski dalam situasi apapun.

Seperti dirinya.


Ā 




Commission Story Written by Tatsucho

Related Posts

See All
Cuma Sekedar Cepat Mekar

Tak sadar Delta singkap sedikit poni sambil lihat beberapa video dan konten lain di laman sosial media. Sudah macam virus yang menular, siapa sangka model rambut cepmekĀ jadi beken seketika. Delta mau

Ā 
Ā 
Berkelana Bersama Jutaan Kelembutan

Masa lalu mengantarkan racun pada impresiDisisiku, kehadiranmu menyembuhkan hatišŸµļøšŸµļøšŸµļø Dingin suhu memagut udara kamar tidur, menyapu ku

Ā 
Ā 
Begin Again

Grey eyes stared at the email he had typed in his laptop blankly. Wondering if perhaps he should just forget about it entirely and delete...

Ā 
Ā 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
Ā© Copyright

 © Akuma39

bottom of page