Cuma Sekedar Cepat Mekar
- Sheville
- Dec 10, 2025
- 8 min read
By: HarHar. Commission for: Tri
Tags/Genre: SoL, slight comedy
Fandom: Original. Character: Delta dan kawan-kawan
---------------------
Berawal dari kepengen rambut cepmek
Malah berakhir termehek-mehek
🪮💈✂️
Meski matahari meninggi, namun cahaya yang membiasnya tak akan pernah menembus ruangan bawah tanah sunyi. Siang itu, Console lumayan sepi. Zero dan Cube sedang pergi menjalankan misi. Kakaknya jangan tanya, sedang kerja menjadi ‘babu Neraka’ sepanjang hari. Hanya ada Delta dan seperangkat PC, dengan deru mesin CPU yang terus berbunyi.
Suara klik dari mouse yang dipegang Delta turut mengisi hening ruang. Delta pakai waktu untuk berselancar manja di dunia maya, mumpung siang ini pekerjaan sedikit luang. Sambil menyeruput legit jus alpukat, hijau iris menari dari laman satu ke lain, bersandar dan bersiul riang. Kaki terayun selagi terus scroll internet, tahu-tahu pupilnya menangkap thumbnail video viral di bagian FYP-nya.
Bukalah Delta video itu, salahkan isi thumbnail mirip artis dari film yang lagi naik daun belakangan. Ia benarkan letak headsetnya di kepala, lalu mulai menyimak—
“Biar aku kasih tahu ya, rambut model aku itu model cepmek ya. Kalian tahu model cepmek itu apa? Cepak mekar ya. Buat kamu yang mau potong rambut bilang saja model cepmek ya."
Delta kerjap-kerjap mata, kucek satu kali lantas diliatin muluk-muluk videonya. Terpana sedikit, bengong sebentar. Diam-diam ia membatin, “anjir badai banget tuh rambut!”
Tak sadar Delta singkap sedikit poni sambil lihat beberapa video dan konten lain di laman sosial media. Sudah macam virus yang menular, siapa sangka model rambut cepmek jadi beken seketika. Delta mau ikut trend juga!
Ia buka cermin meja, diarahkan lurus ke arah muka, terpampang kelewat jelas wajah keren dengan rambut terlampau panjang warna hijau muda. Delta mengelus dagu, kepala ia toleh kanan dan kiri memperhatikan poni dan rambutnya yang sangat-amat-lama tidak dipotong. Kapan terakhir kali ia potong rambut? Delta lupa, tak pernah barang sedetik ia memikirkan untuk memotong ‘mahkota’nya. Toh bagi cowok itu, rambut panjang seperti saat ini sudah cakep.
Tapi namanya sifat ‘manusia’ tak pernah puas dan punya rasa penasaran tumpah-tumpah. FOMO dikit bisa-bisa tergelincir, tergoda, dan terperosok ikut tren yang lagi viral. Lagipula, cepmek ini model rambut yang gayanya keren kok (menurut Delta).
Ia masih bergaya memasang ekspresi terkerennya di cermin, menunjukkan sikap sok narsis sambil sibak-sibak poni. Visual balon berawan meletup di atas kepala Delta seketika, membayangkan poni mekar itu berkibar-kibar tertiup angin, lalu wajahnya yang tampan jadi semakin tampan berkat tatanan gaya cepmek di angan. Cengar-cengir dengan letupan percaya diri, keinginan meledak mau cukur rambut dengan model terkait. Nahas hasrat baru melayang terbang, keinginan Delta jadi runtuh tatkala teringat problematika menampar.
Pasal pertama dan yang paling krusial; bagaimana caranya Delta potong rambut?
Boro-boro bisa, sekadar keluar untuk pergi ke tukang cukur atau salon, meski itu dekat dengan lokasi Console, Delta tidak bisa. Larangan ke dunia luar itu mutlak tanpa negosiasi belaka. Pun Delta mau iseng mengamini urusan ini di dalam Console, ia punya masalah selanjutnya.
Delta nihil ilmu salon, apalagi menata rambut badai bin kece. Kalau ia nekat mencoba potong rambut sendiri, bisa-bisa malah ambyar. Alih-alih menjadi tampan, nanti Delta malah dikira menjadi gembel jalanan! Meskipun tentu saja tidak akan ada yang melihat kekacauan itu ‘jika terjadi’ selain anggota SEGA.
Delta termenung, tangannya masih elus dagu dan pikirannya masih menimbang. Membicarakan anggota SEGA, mungkinkah salah satu dari mereka bisa menolong Delta….?
Kepala ia geleng, Delta telan ide itu bulat-bulat sebab jelas beberapa perihal membuatnya ketar-ketir. Ia saja tidak bisa memercayai dirinya sendiri, apalagi percaya pada orang lain? Meskipun itu kepada timnya sendiri. Bukannya apa, tapi Delta sedikit meyakini kalau Cube dan kakaknya, Cross, kemungkinan akan mengolok-olok keinginannya. Zero? Pria itu mungkin akan mengiyakan permintaan Delta, tapi itu berarti di saat yang sama, ia harus ikhlas menaruh masa depannya di tangan orang itu dan Delta jelas tidak sudi! Kalau-kalau Zero malah menyulap rambutnya jadi makin nggak jelas, memangnya pria itu bakal bertanggung jawab?
Delta bergidik membayangkannya. Tidak, tidak! Delta tak akan mencoba-coba kemungkinan mengenaskan itu. Akibat lelah berasumsi muluk-muluk, ia balik bersandar pada kursi dan merenggut hebat. Tak bisa dipungkiri kalau Delta jelas-jelas FOMO. Sebetulnya ia bisa pakai alasan kalau rambutnya sudah terlampau panjang sampai membuatnya kepanasan …. Melihat banyaknya orang yang mulai pamer sisiran rambut cepmeknya di sosial media, Delta menggulir layar komputernya pakai tampang manyun.
Sampai scroll-nya terhenti di satu postingan yang sadar tak sadar Delta butuhkan.
TUTORIAL SUPER MUDAH POTONG RAMBUT CEPMEK ALIAS CEPET MEKAR!! BISA SENDIRI DAN TAK PAKAI ALAT CUKUR! DIJAMIN MEKAR DAN MEMBUATMU TAMPAN SEPERTI ARTIS KOREA!! |
Hijau iris membulat, tidak ragu ia klik thumbnail video, ditonton dengan seksama. Meninggikan volume headset, Delta pasang telinga agar bisa mendengar pemaparan lekat-lekat. Ini dia yang aku cari! Kemungkinan Delta bisa potong rambut cepmek apakah jadi semakin dekat?
Usut punya usut, pandangan Delta semakin cerah nan terarah. Sebenarnya tutorialnya tidak clickbait. Kalau diperhatikan benar-benar, memang mudah tapi agak tricky. Ia telan ludah sambil kibas-kibas tangan, Delta rasa tidak ada salahnya mencoba untuk potong rambut sendiri diam-diam. Yang ia butuhkan hanya spray rambut, hair dryer, sisir, dan tentu saja gunting.
Mumpung suasana sepi, Delta ingin lekas-lekas eksekusi. Menyusup ke dalam kamar, ia menatap kakaknya yang terlelap. Suara dengkuran kecil terbit, tertangkap telinga Delta yang setengah berjinjit menghampiri salah satu rak dan mencari beberapa alat. Padahal kakaknya itu tidak mudah terbangun dari tidur, tapi Delta masih sok bersikap hati-hati ( ia tidak pernah tahu kapan kakaknya akan terbangun).
Semua sudah lengkap, Delta kembali ke area kerjanya dan mulai atur posisi cermin meja, duduk lurus di depannya dengan tangan kanan sudah siap pegang gunting besi, dan tangan kiri memegang sisir. Ia curi-curi pandang pada ponsel di samping cermin, memutar video tutorial yang sama berulang kali, meyakini diri sendiri agar tak salah langkah.
Delta lihat cermin, pupil menangkap bayangan diri sedikit berkeringat dingin sebab gugup. Pasti bisa, pasti bisa!! Delta membatin sengit. Seperti kata video, tutorialnya ‘super mudah’. Delta tarik nafas kencang, kemudian menghembuskannya sangat lama dan pelan, upaya menenangkan diri yang gelisah. Pokoknya harus rapi! Jangan sampai bikin salah dan melunturkan ketampanan!
Sebagai pemanasan, Delta iseng-iseng potong ujung dari helai rambut panjangnya dulu. Kres, kres! Helaian hijau muda turun ke lantai, lelaki itu mengerjap ringan kemudian merasakan jantungnya sendiri semakin menendang dada tak keruan. Campuran impresi tentang gaya cepmek yang badai, juga bagaimana nasib rambut panjangnya yang akan segera berakhir, membuat perut Delta terkocok. Tapi tak lama ia menegakkan kepala.
Sudah sejauh ini!
Maka, Delta angkat tangan kiri, bersiap menyisir poni. Ia membiarkan beberapa helainya tersangkut di pertengahan rapatan sisir, lantas tangan kanan mulai beraksi melakukan guntingan pertama. Ia tempelkan sebagian sisi dari bilah besi gunting di rapatan sisir, kemudian melibas helaian rambut yang tertahan disana.
Kres, kres!
Sebagian poni terpotong, dan Delta melihat dirinya sendiri di cermin. Sudah sesuai tutorial, maka ia akan coba lanjut mengurus bagian poni yang belum terpangkas. Ia ulang langkah sebelumnya, menyisir sebagian helai dan menahannya di tengah, kemudian bersiap untuk merapatkan gunting dan memotong—
“Lho Delta, lu ngapain?”
“Eh—!!!”
Beberapa utas hijau terjatuh ke lantai, tepat setelah pekikan Delta bersua. Sekian milidetik sesudah bahunya tersentak, ia diberondong rasa terkejut karena tepukan keras di pundak dan keberadaan Zero yang muncul di belakang tiba-tiba. Lelaki bersurai hitam itu lirik-lirik penasaran pada kiprah apa yang dilakukan salah satu member SEGA, tapi kontak matanya melebar ketika pantulan cermin memperlihatkan muka Delta.
Dengan poni terpotong asimetris terlampau pendek, nyaris mengenai puncak dahi, Delta cuma mematung. Zero disampingnya menyembur, menunjuk pada cermin tepat ke arah wajahnya.
“Ceritanya lagi mau potong rambut nih??? Pfft!! Duh poninya ancur gitu loh?”
Iras dipenuhi merah, embun tergenang di dua pelupuk mata Delta. Menggembungkan pipi bagai mulut ikan buntal, cowok beriris hijau itu merajuk hebat sambil pukul Zero kepalang sebal.
“AAAGHH!! Lagian lu ngapa ngangetin gue segala sih?!!! Lu pikir siapa yang bikin poni gue begini Zerooooooo….!!!” Jeritan Delta memekakkan telinga Zero, badannya diguncang brutal oleh Delta di dua sisi lengannya.
“Lho kok jadi gue yang salah? Gue kan cuma nanya, lu yang kaget sendiri.” Suara Zero bervibrasi selagi membela diri di tengah goyangan. Delta beralih ambil cermin, didekatkan pada muka sambil memeriksa poninya yang terpotong sebelah tak seimbang. Mau dirapikan lagi juga percuma, sebab bagian yang terpotong benar-benar sangat pendek nyaris mengenai akar rambut, salah langkah bisa-bisa ia jadi tidak punya poni sama sekali. Ia sibak sembari meratap frustasi, ketampanannya benar-benar luntur sekarang.
“Sudahlah, lagian rambut bisa tumbuh lagi,” Zero mencoba menghibur tetapi tatapan Delta dengan mata merah keburu membungkam.
“Lu enggak akan pernah tahu rasanya kalau penampilan lu rusak, seluruh kegantengan lu juga ikutan bobrok, Zero,” ratap Delta menggaruk meja.
Zero terdiam. Tidak, Delta salah. Ia paham banget rasanya. Saat ia mau menenangkan Delta yang masih meraung, Cube datang ke Console dan otomatis membuat Delta menunduk, berusaha menutupi poni asimetrisnya.
“Suara Delta kedengeran banget sampe pintu tadi, ada apa sih ribut-ribut?” Cube garuk kuping lantas berkacak pinggang. Memang sih, bukan Delta jika tidak heboh, tapi perangai apa yang ia buat kali ini? Melihat lelaki yang menjadi pertanyaannya malah berjongkok dan membelakangi, penasaran Cube makin menjadi.
“Itu, dia salah po—”
“Nggak! Nggak ada apa-apa!” Jawaban Zero dipotong segera, Delta tidak ingin Cube sampai tahu tentang bentuk poninya yang nahas. Bisa-bisa jadi bahan cibiran baru dan Delta pastinya tidak mau.
Tapi bagaimanapun, balasan dari Delta tentu langsung dilabeli sebagai ‘dusta’. Cube menghampiri Delta dan mencoba bersemuka, tapi cowok itu tetap menghindar dan menutup-nutupi jidatnya dengan kentara.
“Uuuu ngapain sih, Cube? Jangan lihat-lihat!” Delta meraung.
“Lu bilang gitu malah bikin gue makin curiga, tahu!” Cube bersikeras, tenaga yang jauh lebih kuat dibanding Delta membuatnya berhasil melepas telapak tangan Delta, memperlihatkan poni menyedihkan itu.
“....Pfftt!!” Percuma, meski Cube berusaha menahan tawa, ia tidak bisa dan berakhir terkekeh, memancing cowok rambut hijau di depannya semakin pundung total. “Lucu banget bentuknya tuh poni, masih lebih cakep origami anak SD!”
Lagak uring-uringan Delta semakin menjadi, Cube berhenti meledek. Anak ini kalau lagi ngambek bisa sangat merepotkan. Alih-alih buat suasana tenang Console, bisa-bisa cuma diisi Delta dan lolongan gondoknya.
Zero terlihat masih mencoba menenangkan Delta tapi ia malah dicakar dan disalahkan habis-habisan (Cube meyakini pasti Zero terlibat dalam tragedi poni Delta). Melihat itu, Cube mendesah dan pergi ke area kerjanya, mengambil sesuatu dari laci, lantas kembali pada mereka berdua.
Cube menarik Delta, menahan kepalanya agar mendekat dan bersemuka. Tidak heran kalau Delta kaget, kala menatap Cube sedang menyingkap poninya dan menaruh ‘sesuatu’ di sana setelah merapikan beberapa helai.
“Ho-hoi!! Lu ngapain?!” Delta memekik setelah sadar beberapa detik, kemudian Cube melepaskannya dan menunjuk ke arah cermin yang tergugu.
“Lu lihat sono! Dan setelah itu, lu harus berterimakasih sama gue.” Cube menukas, kemudian melenggang ke arah dapur tanpa meninggalkan kata-kata lagi.
Delta mengerjap, takut-takut ia melihat pantulannya ke cermin, lantas terpana. Cowok merah itu rupanya menyisipkan jepit rambut ke seluruh poni, membuatnya lebih rapi dan mendukung wajahnya jadi lebih baik dari sebelumnya. Gara-gara ini, Delta jadi malu sendiri. Padahal solusinya sesimpel ini, tapi kenapa ia sampai heboh kepikiran kesana kemari?
“Nah, dah beres! Lu bisa pake jepit ini sampe poni lu tumbuh,” Zero bersampingan dengan Delta, nyengir ikutan lega sebab lelaki di sampingnya tak lagi rewel. Jujur saja dalam hati Zero ketar-ketir, kalau Delta sampai mengadu ke Cross, agaknya bisa berbahaya dan mengancam kehidupan bercintanya.
Mendengar tuturan Zero membuat Delta hanya mendengus kesal, jelas masih merasa kalau Zero berkontribusi dalam kehancuran poninya.
“Lagian lu emang mau potong rambut gimana sih? Padahal lu bisa tanya sama gue, siapa tahu gue bisa bantu potongin, kan gue serba bisa!” Zero bertanya penasaran. Ia tahu Delta memang punya rasa penasaran tinggi, tapi yang satu ini sedikit tidak ekspek karena lelaki itu berusaha mengeksekusi keinginannya sendiri untuk potong rambut, padahal ia tak pernah memikirkan soal rambut panjangnya itu.
Sebab Delta masih bersungut, ia hanya memeriksa ponsel, kemudian mengangkat layarnya lekas ke arah muka Zero, memperlihatkan potongan rambut cepmek yang beredar dimana-mana.
Sontak Zero terbahak keras sekali.
“HAHAHA yang bener aja lu mau modelan begini?? Udah kayak jambul ayam jiirrrr!”
Dan tawa Zero dilibas oleh tabokan Delta di punggung dengan keras.
🪮💈✂️
Commission Story Written by Sheville

Comments