top of page

Bloody Promise (AU)

  • Ernita Rachmawati
  • May 5, 2017
  • 21 min read

Updated: Jan 27, 2025


Sejak awal, Noa sudah tahu bahwa keputusan yang ia ambil sangat tepat. Sejak awal, bocah itu sudah menduga bahwa sesuatu yang terlampau menakjubkan akan segera berdiri di hadapannya. Sejak awal, ia sudah mengerti bahwa debaran gila jantungnya bukan manifestasi dari sebuah firasat tak menyenangkan. Maka, kala namanya tertera dalam daftar Produk Tereliminasi, ia menjadi satu-satunya anak yang bersorak girang, sekaligus menjadi sasaran empuk ratusan tatapan daif para penghuni rumah pelatihan, baik dari yang senasib maupun yang superior.


Respon paling tidak biasa—bisa jadi perbandingannya 0,1 dari satu juta reproduksi sepanjang penelitian yang dilakoni para cendekiawan—itu makin merasionalisasikan stigma mereka. Noa memang 'produk' gagal. Sayangnya, anak itu super tidak peduli. Hina dan cemooh yang melesat bertubi-tubi, tidak ketinggalan pula dari golongan ilmuan, mulai dari sekedar bisik-bisik maupun secara tersurat, sama sekali tidak mampu menyentil gendang telinganya.


****


Dewasa ini, di usianya yang ke 2050 tahun, bumi sedang dalam masa kritis, komplikasi parah. Dua krisis paling akut memperburuk keadaannya yang memang telah ringkih sejak asap revolusi industri mengerikit atmosfer. Pemanasan global tentu sudah terlambat untuk disembuhkan. Sepanjang sisa hidupnya, ia ikhlas berakhir meleleh, asal dengan perlahan.


Dengar-dengar, para manusia tengah dalam ekspedisi mencari planet baru. Setidaknya, sampai mereka menemukan tempat yang layak, ia akan berusaha bertahan. Meski yang melemahkannya adalah anak cucu Adam itu sendiri, ia tidak tega jika harus menyerah dengan keadaan. Suka duka segala proses kemajuan para insan berakal, dari segi apapun, adalah tontonan yang tidak pernah membuatnya bosan. Terlebih lagi, andilnya sebagai penyedia sumber daya alam tidak bisa dipandang minor.


Sesederhana itu yang bumi inginkan. Sayang sekali, insiden tiga puluh tahun silam menjadi mimpi buruk abadinya. Ulah seorang arkeolog dalam ekspedisi berasaskan demi menguak misteri piramida Mesir yang masih terselip mengakibatkan krisis manusia global. Entah bagaimana rinci kejadian yang sesungguhnya—dikarenakan setiap media memiliki versi mereka sendiri, sedangkan si tersangka meregang nyawa pada saat itu juga, kepercayaan masyarakat pun tidak pernah menyentuh angka seratus persen—tanpa sengaja, dia membangunkan seorang mumi. Naas, kadaver itu ternyata bukan Fir'aun yang kesekian, tapi justru manusia peminum darah.


Sejarah mencatat, bahwa pada 2020, peradaban vampir telah bangkit dari tidur panjangnya. Setali tiga uang, masa-masa kejayaan manusia menguasai bumi pun telah berakhir. Mereka juga harus rela kehilangan gelar sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

Jerman menjadi negara terakhir yang roboh. Berbeda dari bangsa lainnya, mereka terberai dikarenakan penembak tersembunyi musuh yang melesatkan peluru penghianatan tepat di jantung negeri. Tetua vampir mencurangi janji gencatan senjata dengan membunuh perdana menteri.


Sebagian penduduk yang berhasil terseok mencapai hutan terpencil di pucuk gunung Lichtenstein secara diam-diam, mendirikan komunitas baru dan beranak pinak. Di sana pula, semangat untuk melakukan perlawanan kembali bertunas. Namun, bercermin dari masa lalu, usaha mereka dipastikan tidak akan membawa perubahan apapun jika inovasi tidak dilakukan. Karenanya, para ilmuan menjadi orang paling kejam dan luar biasa dibenci oleh masyarakat pada masa itu. Keputusan untuk meminjam para belia mulai usia lima tahun untuk dijadikan bahan uji coba segala macam ramuan justru semakin meningkatkan kelangkaan manusia.


Dua tahun pertama, segala kerja keras para pemikir tidak membuahkan hasil. Mungkin jauh di dalam lubuk hati para objek penelitian, mereka pun menimbun sebukit kutukan atas hari-hari yang menyiksa fisik maupun batin itu. Tidak mengherankan sebenarnya jika tercapai lah kata sepakat untuk bersama-sama mengapungkan raga di danau darah. Saling bunuh adalah indikasi dari tingginya tingkat stress junior-junior tersebut.


Kerugian besar itu tidak hanya menenggelamkan impian untuk merdeka, tapi juga harga diri orang-orang pintar. Malu yang melilit serta dakwaan sekelas tersangka pembantaian seribu umat—padahal perbuatan mereka memang setara itu—mengikiskan akal sehat. Mati menjadi jalan keluar tunggal untuk bebas dari segala himpitan psikis maupun sosial. Ternyata, pengetahuan setinggi langit yang mengantarkan berderet-deret gelar di belakang nama mereka tidak menjamin kematangan logika dan kearifan pengambilan keputusan. Atau, fenomena itu justru terjadi karena wawasan yang kelewat komprehensif. Miris, memang.


Kegelapan di laboratorium mulai terkikis enam bulan kemudian. Lima orang ilmuan muda mengambil keputusan besar campur nekat. Memilih membutakan mata dan menulikan telinga dari azab publik, di dalam gudang mininya, mengandalkan data-data terdahulu serta perkakas sederhana, mereka terus bercinta dengan selusin metode dan berantai-rantai DNA. Bayi tabung menjadi solusi tunggal. Kendala tidak adanya rahim pinjaman dikarenakan satu-satunya wanita dalam tim tak lagi sempurna sejak serviks menyerang dua tahun lalu, membuat mereka bekerja lima kali lebih giat. Sepanjang perkembangan ilmu kedokteran, arti kata bayi tabung benar-benar kembali ke makna dasarnya. Mereka bahkan jauh melampaui para penemu pertama di tahun 2017 yang menggunakan kantong plastik film untuk menumbuhkembangkan janin seekor domba.


Usaha tidak pernah menghianati hasil. Pada bulan ke tujuh, dua orang remaja dua belas tahun, bernama Null untuk laki-laki dan Ein bagi yang perempuan, berhasil menghirup udara tanpa selang oksigen. Susunan genetik mereka sengaja diatur agar fungsi tubuh dan organ di dalamnya segera balig dalam waktu sesingkat-singkatnya. Maka, pada bulan September, kedua anak itu telah bertransformasi menjadi pemuda dan pemudi dua puluh tiga tahun.

Pengalaman tidak pernah kehilangan titelnya sebagai guru terbaik. Elaborasi selama penciptaan Null dan Ein membuat kelima ilmuan itu terbahak bangga. Hasil yang mereka peroleh melebihi ekspektasi. Selain kemampuan otak yang lebih dari cemerlang, latihan berporsi luar biasa gila, seharian penuh dengan istirahat tiap satu jam sekali dan tidur tiga kali selama seratus dua puluh menit, bisa dikonsumsi keduanya secara rutin nan disiplin. Bisa dikatakan mereka lah yang terbaik dari para pendahulunya. Atas basis demikian lah kelima intelektual itu berusaha memancing kembali perhatian sekaligus asa para penduduk. Tentu saja, kembali lagi ke kalimat pertama dari paragraf ini. Sayangnya, lemparan sayur, buah hingga batu tidak bisa menghentikan sosialisasi Null dan Ein. Sampai-sampai, penggal kepala mereka janjikan apabila kegagalan kembali mendekap.


Pada hakikatnya, takdir memiliki cabang yang tak terhingga. Turut serta kemana ia bermuara. Ada yang berakhir indah, maupun sebaliknya. Tergantung kemana pilihan diputuskan sejak awal. Berterima kasihlah pada kekeras kepalaan kelima cendekiawan yang setia meyakini bahwa kebangkitan umat manusia tidak akan lagi menjadi sekadar mitos. Wajar jika mereka membahanakan tawa seraya membusungkan dada kala sepasang amunisi baru itu berhasil mendepak satu pemukiman vampir di kaki gunung pada debut pembasmian. Di dunia ini, tidak ada kemusykilan bagi setiap jiwa yang memperbudak dirinya di bawah tirani kerja keras.


Hanya dalam waktu satu tahun, tidak ada lagi jejak kaki vampir di seluruh area pegunungan Lichtenstein. Selama kurun waktu tiga ratus enam puluh lima hari itu, Null dan Ein tak lagi kesepian berkat adik-adik yang lahir dua pasang tiap enam bulan sekali. Dikarenakan jumlah calon pemburu vampir yang terus menanjak, desakan kebutuhan akan sarana dan prasarana mencetakkan katalog anggaran untuk memugar laboratorium. Kini, makmal itu disebut dengan rumah pelatihan.


****


Sejak awal, Noa sadar bahwa ia adalah senjata hidup. Begitu pula dengan semua sebayanya. Mereka adalah aparatus. Diciptakan dan dikembangkan hanya untuk menjadi anjing pemburu para vampir.

'Produk' menjadi frasa pertama yang Noa dengar kala membuka netra. Kata 'ibu' yang diajarkan untuk memanggil orang-orang berjas putih itu tetap tidak mampu menundukkannya. Hanya dua hari, setelah tercenung dalam pengamatan, ia menjadi satu-satunya yang membangkang dengan lebih memilih sebutan 'profesor'. Selain itu, ia lebih merasa diperintah daripada dianjurkan, meski mereka memoles intonasinya menjadi selembut beludru.


Noa merasa begitu janggal. Bahkan lidahnya pun menggeliat kaku setiap kali menyeru 'ibu-ibu'-nya. Terlebih lagi, ketika dihadapkan pada situasi dimana ada banyak 'ibu'. Kala ia cuma berkepentingan dengan seorang perempuan berambut coklat keriting, 'ibu'-nya yang lain pun turut menoleh mendengar panggilannya. Ia jadi salah tingkah sendiri.


"Bukan, Noa. Panggil aku ibu."


Kepala mungil itu kukuh menggeleng. "Kau lebih cocok dipanggil begitu," Kelereng emas si bocah bergulir sekilas, melirik tag nama yang menempel pada dada kiri wanita di depannya. "Profesor Airi."


Noa termasuk terlalu cepat belajar. Ia pun termasuk terlalu cepat memahami. Laki-laki belia itu juga termasuk terlalu cepat tanggap. Karena perkembangan intelektualnya yang terlihat menduduki peringkat ketiga di bawah Brat dan Pit, para profesor menginginkan kepastian. Kemudian, disusunlah serangkaian tes menggunakan soal-soal eksak penuh gambar namun sarat penalaran—hal ini tidak disadari oleh Noa. Begitu hasilnya keluar, lab utama langsung disesaki desah kecewa.


Dugaan mereka membias jauh. Noa tidak selevel dengan Brat dan Pit yang diestimasikan sebagai Null dan Ein ke dua. Ia bahkan tidak di bawah mereka. Cerdasnya anak itu tidak lah alami. Ia tampak unggul karena ke-eksisan rasa ingin tahunya. Cukup dengan modal itu, mungkin Noa mampu melahap semua buku perpustakaan jika perutnya tidak jujur dan kantuk lihai menggoda.

Empat belas hari kemudian, Noa sendiri dan para profesor, sadar bahwa ada yang berbeda dari tubuhnya. Sekali ini, berbeda dalam arti yang luar biasa. Kronologisnya, saat itu adalah hari bersalju. Di pagi yang cerah, usai sarapan, ibu menawarkan permainan petak umpet kepada mereka. Petak umpet ini hanya bisa dilaksanakan di luar ruangan karena ibu memodifikasi sistem permainan menjadi sedikit berbeda dari yang sudah diketahui khalayak. Jadi, ibu menciptakan dua pekerjaan dalam permainan ini. Yaitu, para pencari dan yang bersembunyi. Gulungan kertas undian dipilih untuk menentukan pekerjaan tiap anak.


Tugas kedua pekerjaan ini sama dengan petak umpet kebanyakan, perbedaan paling signifikan terletak pada tim yang bersembunyi. Mereka yang kebagian status tersebut ditugaskan untuk menjaga dan mencegah sebuah bola seukuran kepalan tangan secara sembunyi-sembunyi agar tidak jatuh dalam genggaman tim pencari. Permainan dinyatakan selesai apabila tim pencari dapat merebut bola tersebut. Selain itu, tim yang bersembunyi tidak boleh membocorkan identitas mereka setelah membaca tulisan dalam lotre undian. Hal ini pun berlaku untuk tim pencari. Job itu baru akan diketahui masing-masing anak setelah ibu selesai menghitung mundur.


Selama perhitungan, ibu akan meminta semua anak untuk memejamkan mata. Sensor pada gelang yang dibagikan sebelum pengambilan undian akan meneriakkan alarm peringatan jika si empunya berusaha mengintip sebelum hitung mundur selesai. Khusus untuk tim yang bersembunyi, ketika mulut ibu sampai pada angka dua puluh, mereka diperkenankan meninggalkan kelompok tanpa bersuara agar dapat bersembunyi sejauh mungkin.


Tim pencari pun tak luput dari beberapa aturan tambahan. Diantaranya, mereka akan dibagi lagi ke dalam empat grup berbeda, tidak seperti tim musuh yang hanya terdiri dari satu kelompok. Jadi, akan ada tim pencari 1, pencari 2, dan seterusnya. Setiap kelompok terdiri dari empat anggota. Tugas mereka seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu saling berkompetisi untuk mendapatkan bola tersebut. Tim yang berhasil merebutnya akan diberi kebebasan bermain di luar rumah pelatihan selama seminggu, kapan pun mereka mau. Lalu, bagaimana dengan yang kalah? Latihan ketangkasan tambahan akan menjadi menu harian wajib selama satu bulan penuh.


Antusiasme seluruh anak terbangkitkan. Penampakan dunia luar yang biasa mereka intip dari celah-celah ventilasi setelah susah payah memanjat tumpukan kursi akhirnya bisa dinikmati dengan lebih leluasa.



Dua puluh peserta pertama, termasuk Noa digiring ke halaman. Bukan berarti sisa anak lainnya tidak kebagian giliran. Pengelompokan sampel-sampel ini dimaksudkan agar kekang pengawasan selama permainan berlangsung dapat dikontrol. Meski dinding tak kasat mata mengitari area rumah pelatihan, pembatas itu berjarak seratus kilo meter dari bangunan utama. Tersesat memiliki kemungkinan paling besar mengingat kesempatan melihat alam bebas adalah momen yang pertama kalinya bagi mereka.


Pada hari itu, Noa tidak salah jalan. Tidak pula kalah dalam permainan. Bagaimana bisa dinyatakan kalah jika ia berada dalam tim pencari. Posisi pekerjaan pemain pun tidak mengalami perputaran karena petak umpet itu didesain memiliki satu ronde saja. Ia justru hampir menangkap salah seorang anak dari pihak lawan dan menjadikan timnya sebagai pemenang. Ia cepat bagai cheetah, lincah serupa tupai, bernetra emas setajam elang, dan menyimpan stamina setangguh kuda.


Apa yang terjadi pada hari itu menjadi pemantik tuas meremehkan seisi hunian. Pemicu dikirimnya Noa keluar dari rumah pelatihan, melewati benteng pelindung, melayang di atas permadani belantara oleh kereta gantung hanya untuk tiba di sebuah pondok kayu bercerobong padat asap. Graha bertingkat dua itu memang menguarkan aura hangat yang menyenangkan. Begitu kontras dengan nama serta fungsinya. Apalagi dengan panorama dimana sekelompok laki-laki dan perempuan sepantarannya tengah berkejar-kejaran. Di sisi lain, beberapa tengah menciptakan miniatur bangunan maupun hewan dari gundukan salju, tampak berbinar bahagia. Untuk beberapa jenak, ia lupa jika tempat itu akan menjadi ruang tunggunya sebelum hari penghancuran tiba. Penalaran Noa yang sederhana beropini jika para produk gagal itu sepemikiran dengannya, tidak begitu peduli dengan sisa usia, lebih penting melakukan apapun yang disuka sebelum kematian memisahkan segala kesempatan.


Pada hari itu, ia tidak tersesat jika tidak mendengar raungan bernada putus asa. Tingginya tingkat keingintahuan adalah hal yang paling menonjol sekaligus menjadi ciri khas dari seorang Noa. Karena dorongan rasa penasaran itu pulalah ia hampir menetap abadi di dalam lambung seekor macan bergigi pedang—kucing coklat berukuran raksasa dengan sepasang taring atas yang menjulur hingga sembilan puluh senti melewati rahang bawahnya. Belakangan Noa ketahui usai mengobrak-abrik hampir seluruh isi perpustakaan rumah pelatihan, bahwa kucing itu termasuk hewan purba yang hidup pada masa dimana manusia masih bersosok tak beda jauh dengan kera.


Pertanyaan berikutnya yang muncul di kepala bocah itu adalah: bagaimana bisa makhluk yang sudah punah sekian ribu tahun lamanya bisa ada di masa ini? Di tahun 2053? Tidak sampai dua jam, pertanyaan lain melesaki benaknya tanpa ampun. Berkembang hingga memunculkan sebuah hipotesa yang membuatnya merinding. Jika memang benar para peneliti tengah melakukan percobaan terhadap DNA hewan purba, lantas, apa tujuan mereka melakukannya?


Noa ingat, ia berjumpa dengan si kucing kuno di sebuah bangunan berkubah yang dicat seputih salju. Kondisi hewan besar itu begitu menyedihkan. Ia dipenjara dengan leher terantai kalung besi. Kaki kanan belakang dan kaki kiri depannya pun demikian. Bercak darah mengintip dari sela-sela lempengan tersebut. Faktor itu lah yang memberanikan Noa untuk meraih seikat kunci yang digantung pada dinding sebelah kanan, bersebelahan dengan pintu masuk. Eksistensi meja jaga tunggal yang entah bagaimana saat itu tak berpenghuni semakin mempermudah aksinya.


Belum lama spekulasi paling masuk akal itu meneror pikirannya, belum sempat ia mengubur segala praduga—tidak ingin berprasangka buruk kepada para profesor, pintu ruang makan keburu menjeblak. Dua orang peneliti pria tiga puluh tahunan dengan wajah kaku, menenteng selayang pengumuman mengejutkan dan mengerikan. Pengumuman mengenai nama anak-anak yang masuk ke dalam daftar Produk Tereliminasi. Seorang bocah dapat dikategorikan sebagai kreasi tak berguna, setelah terjadi pengkomparasian dari angka statistik pengukur ketangguhan jasmani, tes IQ dan pengecekan EQ guna memunculkan dua pilihan kesimpulan, yaitu layak dan tidak layak menjadi pemburu vampir masa depan. Meskipun rumah pelatihan ini terkenal sukses melahirkan calon-calon pemburu dengan kapabilitas jempolan, tetap saja, yang namanya kesempurnaan tidak bisa selalu menjadi milik manusia. Komoditas setara Null dan Ein dapat dikategorikan sebagai anugerah dari suatu kesempatan.


Diantara lima puluh anak, Noa ada di urutan ke dua. Tentu saja semua rekannya kaget. Mereka tahu benar kualitas dirinya. Permainan siang tadi telah menjadi bukti paling terpercaya. Bahkan anak paling cacat sekalipun—yaitu seorang bocah perempuan pengidap down syndrome, penghuni ranking 1 daftar produk tereliminasi—mendadak normal. Noa dapat melihat bola mata biru yang menusuknya itu dikeruhkan keheranan.


Noa tahu benar alasan mengapa namanya bisa tertera di sana. Inilah hasil panen dari benih kelancangan yang ia semai secara ceroboh. Inilah hukuman untuknya. Sanksi yang luar biasa. Sekian lama memendam minat terhadap pondok pengasingan, kesempatan untuk menuntaskan keingintahuannya tiba juga.


Sungguh, ketakutan terbesar Noa bukan lah nasib nyawa maupun keselamatan tubuhnya—ia tidak mempermasalahkan siksa verbal beragam rupa karena hal itu pasti bisa ia lalui dengan mudah. Meski belum genap dua puluh empat jam berkenalan dengan sang potensi diri yang terpendam, Noa sadar setangguh apa fisiknya. Ia lebih jeri dengan bunga mimpi yang dicemari dahaga penasaran. Noa paling tidak suka ada yang mengusik waktu berharganya dengan bantal tercinta. Terlebih jika ia mati. Yang pasti, pada saat dibinasakan, ia ingin menyambut kedamaian dengan paras sumringah, meski buntalan kapuk tersayangnya tidak akan ikut ke peti kremasi.


Tak lama kemudian, lebih tepatnya lima belas detik setelah sorak heboh Noa pecah, seluruh calon pemburu dan para 'ibu' di lab utama yang menyaksikan melalui CCTV, segera menelanjanginya dengan sorot penuh nista. Namun, berbeda dari mereka, dua profesor di tempat kejadian perkara justru saling bertukar seberkas keresahan. Firasat mereka tidak begitu bagus mendapati reaksi antik sang bocah.


****


Enam puluh menit yang lalu, selama perjalanan, Noa masih mampu menahan gelora semangatnya dengan duduk manis. Gambaran nyata dari pepatah yang mengibaratkan mata sebagai jendela hati terlukis amat jelas dari kondisi pemuda cilik itu. Iris asfarnya1 yang sudah merah karena sepanjang malam terjaga makin terbakar. Tapi satu jam kemudian, setelah kakinya memijak tanah bersalju, ia menghilang dari rombongan ketika sesi pengenalan pondok pengasingan tepat saat melewati ruang tandon buku yang menjadi bagian kecil dari perpustakaan.


Ia sudah tidak mampu bersabar lebih lama lagi. Sebuah kardus bergambar DSLR di tingkat paling tinggi rak almini lah si biang keroknya. Didukung pula oleh merk yang diukir dengan huruf kapital, Canon EOS 650D. Bantuan dari berbukit-bukit lektur pun memuluskan aksi panjat besinya.


Benda lawas bermutu empat jempol, favorit para juru foto tiga puluh tiga tahun silam itu sepertinya tersasar, jika mengingat nama serta utilitas dari sepetak 'gudang buku'. Tapi Noa mana peduli. Panduan singkat penggunaan kamera yang tersemat di dalam kotak ia khatamkan kurang dari tiga menit. Tiga ratus detik setelahnya, ia telah berhasil menentukan beberapa sudut dengan ciamik, mengatur komposisi cahaya, serta memfokuskan objek atau latar belakang.


Kebahagaiaan yang Noa rasakan sangat tak terperi. Di hari pertama kepindahannya saja, ia telah menemukan sebuah harta karun. Entah hal istimewa apa lagi yang akan muncul setelah ini.

Secepat kedipan mata, jiwa muda laki-laki cilik itu hangus. Sekilat itu pula, sebuah keputusan bulat telah dikantonginya. Ia tidak akan menunggu warna langit berganti untuk memulai ekspedisi. Noa berkenan terjaga semalaman lagi. Ia pun bahkan berani berjanji untuk mengeruk keluar segala ihwal mempesona yang sedang terkubur di tempat ini. Keunikan arsitektur memikat afeksi serta menyalakan animonya. Noa tahu, kesederhanaan denah pondok pengasingan tidak lah sesimpel yang terlihat di permukaan.


Alam mengamini itikad sang anak muda. Belum kering bibirnya meloloskan ikrar, sebuah pintu rahasia tersibak setelah ia berdebum ditimbun lusinan buku. Gudang buku yang dirancang kedap suara menutupi kegaduhannya. Kali ini, Noa tidak berjingkrak. Bukan karena terlalu terpana dengan kejutan beruntun yang ia jumpai baru di satu ruangan saja. Sukma yang membisikkan kemungkinan pengurus pondok segera menyadari ketidakberadaannya membuat ia urung memutar kenop perak itu. Noa merupakan penghuni baru setelah dua minggu kamar-kamar di tempat ini kosong. Wajahnya akan mudah diingat.


Sistem pemusnahan produk tidak pernah memakan waktu lama. Semua 'barang' yang bakal dieliminasi akan dilenyapkan dua hari setelah kedatangan. Secara bergiliran kerja jantung mereka akan dihentikan paksa, sesuai dengan nomor urut dalam daftar Produk Terilimasi. Karena durasi yang dihabiskan para eksekutor kurang dari dua menit pada setiap sesi, penyingkiran seluruh 'benda rusak' hanya membutuhkan empat belas hari.


Pada dasarnya, Noa adalah anak yang normal. Tidak mengherankan jika kepala kecil itu mampu menelurkan sebaris ide cerdik dengan segera. Maka, realisasi dari buah pikirannya itu adalah dengan menyusun buku-buku tebal di depan pintu gudang, memblokir jalan teruntuk pengelola perpustakaan. Bisa saja kan mereka mengambil simpanan lektur karena wacana serupa telah dibawa orang lain sedangkan seorang peminjam baru sangat membutuhkan benda yang sama. Meski hal tersebut nyaris tidak mungkin terjadi sejauh Noa dapat mengingat tidak adanya satupun celah dari tiap rak kayu perpustakaan—tanda bahwa ada buku yang belum dikembalikan. Tidak ada salahnya waspada.


Pintu tersembunyi itu telah ia buka. Sebuah lorong gelap yang lembap kini menantangnya. Noa menilik arloji digital di pergelangan kiri. Waktu makan malam tiba satu jam lagi. Kemungkinan besar akan ada pengabsensian untuk mengetahui siapa gerangan yang tidak mengambil jatah nutrisi, seperti sistem di rumah pelatihan.


Si pemuda cilik menghembuskan napas yang entah sejak kapan ditahannya.

"Gawat sekali." Ia berdecak. "Aku cuma punya waktu tiga puluh menit."


Dahinya mengerut gusar.


Jika selama durasi itu tungkainya tidak juga sampai di ujung koridor ini, ia akan kembali besok, daripada ketahuan. Ia tidak ingin membuat masalah lagi. Berkaca dari penyebab pemindahannya ke pondok pengasingan, besar kemungkinan ia akan menjadi produk pertama atau kedua yang dimusnahkan terlebih dahulu. Noa sangat tidak mau hal menakutkan itu terjadi. Ia harus mati pada waktunya. Ia harus wafat dengan cara yang indah.


Rupanya, kenyataan tidak berbanding lurus dengan perhitungan. Sepuluh menit, Noa tiba di pangkal lorong. Sekali lagi, anak itu tidak memekik riuh. Sebuah hulu yang menyajikan lembah pinus berpayungkan dirgantara jingga dihadapanya terlalu indah untuk diekspresikan dengan gestur meriah. Ia terpana. Dua menit lamanya, ia membatu dengan mulut menganga.


"Hei, kau!"


Ruh Noa yang berkeliaran dikembalikan paksa oleh pekikan gadis pirang berkuncir dua tepat di depan mukanya. Ia menjerit, lantas berdebum terduduk. Kamera dalam genggamannya ikut terguling.


"Astaga." Sosok di depannya mendesah sembari terkikik singkat. Kepala kuning itu menggeleng tak habis pikir. "Apa yang kau lamunkan, sih. Sampai sekaget itu."

Alis Noa menukik tak suka. Ia tidak terima dituduh sembarangan. Apalagi oleh orang asing, sekalipun tampak sebaya.


"Kau sendiri bagaimana?!" Bocah itu membalas sengit. Ia segera berdiri, menantang lawan bicaranya.

"Berteriak di depan wajah orang yang baru kau jumpai." Iris emas itu mendelik. "Dasar tidak—"

"—Eh?! Itu—!" Pemudi di depannya tiba-tiba berjongkok.


Noa yang terkesiap secara reflek mengikuti pergerakan sang lawan bicara. Terpantul di sepasang netra asfar si pemuda cilik, perempuan tak dikenal itu tengah memungut kameranya dari karpet salju. Emosi yang terpantik membuat Noa melupakan harta berharganya.


"Kamera digital, EOS 650D." Pigmen mata si gadis yang serupa warna dengan milik Noa dipenuhi binar ketakjuban. "Super langka?!"


Lagi-lagi, bocah sepuluh tahun itu membatu. Tapi tidak dengan kondisi mulut yang memalukan seperti tadi. Ia tertegun dengan luasnya pengetahuan si pemudi sebaya, meski yang terlihat masih secuil.


"Kau memiliki benda seperti ini." Kepala kuning itu menoleh cepat. Secepat kakinya yang kembali menegak kemudian melompat-lompat kecil. "Beruntungnya."


Noa menggeram kecil. Ia maju selangkah. Hendak meraih DSLRnya. "Kembalikan."

"Fotomu pasti bagus-bagus." Gadis itu mengelak tanpa memandang Noa. Ia justru sibuk mengutak-atik tombol-tombol di kamera, mencari jalan pintas menuju galeri foto. "Coba kulihat—"


Tada!


Layar kecil di belakang kamera memamerkan kenihilan kotak-kotak hasil jepretan.

"Kosong." Lawan jenisnya mendesis tak menyangka. "Ini baru, ya?" Ia menoleh polos pada Noa.

Pemuda belia itu berdecak lagi. Kelengahan si gadis asing membuat ia berhasil merebut kameranya. Ada ruam merah melapisi pipi Noa. "Memangnya kenapa? Mau meledekku?"


Sayang sekali, bercak-bercak rona itu terlalu tipis untuk ditangkap oleh pupil milik pemudi pirang. Wajah anak perempuan itu justru terbakar api sumringah campur keantusiasmean.


"Ayo ikut aku!" Ia menarik tangan Noa. Membawanya berlari menaiki tanjakan, menuju bukit sebelah.

"Aku tahu beberapa tempat dengan pemandangan bagus di sekitar sini. Kau bisa memotretnya untuk dikagumi setiap saat. Bagaimanapun juga, melihat segala sesuatu yang indah dengan mata telanjang tidak pernah memuaskan. Kau juga bisa mencetaknya, kemudian dimasukkan ke dalam pigura dan dijadikan hiasan dinding." Gelaknya bergaung renyah. "Sungguh menyenangkan!"


Dua kali dibuat kaget oleh tindakan mengejutkan si gadis tak dikenal, kesabaran Noa mencapai batas yang dapat ditoleransikan. Ia merengut, kesal.


"Tunggu dulu!" Seruan protesnya diiringi oleh tenaga yang menekan kedua kaki. Tapi ia kalah kuat. Dara itu malah mengetatkan cekalannya di pergelangan Noa.


"Aku janji kau tidak akan menyesal!" Kepala jagung itu berpaling melewati bahu kanannya, memberikan jempol kiri pada Noa lantas mengedipkan satu mata.


Perempuan itu membuktikan ucapannya. Sebongkah besar kedongkolan yang ia endap selama lima menit perjalanan remuk seketika. Danau yang dikelilingi padang bunga lavender menghipnotisnya. Ia sampai tidak sadar jika EOS 650D-nya telah dipinjam oleh si dara asing. Delapan menit kemudian, barulah Noa berteriak tidak terima.


****


"Halo! Selamat pagi!"

Jantung Noa masih belum terbiasa bersinggungan dengan sapaan nyaring si gadis berkepala jagung.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Mata emasnya yang melotot kaget menampung tiga karsa sekaligus. Heran, enggan, dan terganggu.


"Menunggumu." Dasar tidak peka. Perempuan itu malah mengguratkan cengiran dengan ringan.

"Aku sudah berjanji akan menunjukkan tempat-tempat bagus lainnya." Ia berdiri, lantas menepuk-nepuk roknya. Menggugurkan bulir-bulir salju yang bergelantungan di serat-serat coklat itu. "Kemarin kau tergesa-gesa pulang, sih."


Tanpa sadar, kelereng kuning Noa mengikuti kepalanya yang meneleng ke kanan. "Aku tidak merasa kau berjanji apapun padaku."


Kedua alis pirang pemudi itu terangkat. "Kau tidak dengar teriakanku kemarin, ya?"


Noa bersedekap. Wajahnya semakin ditekuk oleh tanda tanya. Lima detik kemudian, ia mengingat momen yang dimaksud lawan bicaranya.


"Oh, itu."


"Sekarang, ayo kita pergi!"


Tangan Noa hampir saja kembali terperangkap dalam genggaman perempuan asing ini. Kakinya yang mundur selangkah lebih cepat sedetik. "Tunggu dulu."


"Ada apa lagi?" Dahi dara sepantarannya itu terlipat. "Jangan buang-buang waktu. Kita punya banyak pemberhentian. Nanti keburu waktu bebasmu habis."


Lima kata terakhir yang dilafalkan si lawan jenis menyengat kesadarannya.


"Kau tahu aku harus sudah kembali sebelum petang?"


Kepala kuning pucat itu mengangguk. "Kau penghuni bangunan di bukit utara, kan?" Telunjuknya terangkat, menuding asap abu-abu yang membubung ke arah selatan. Asap dari corong milik dapur pondok pengasingan.


"Temanku tinggal di rumah itu. Dia yang menceritakan semua aturan yang diterapkan di sana." Rautnya yang terlipat dikendurkan oleh sendu.


Sebanjar kalimat dari sebuah buku-yang-judulnya-entah-apa-Noa-lupa berkelebat tanpa peduli situasi, memprofokasi. Wanita adalah makhluk yang sangat sensitif terlebih lagi ketika sedang menstruasi—paham itu ingin ia setujui sekaligus dipastikan, apakah si kepala jagung ini sedang haid atau tidak. Omong-omong, Noa sudah tahu pengertian, syarat, siklus, periode serta proses peluruhan dinding rahim yang menebal, dan dilihat dari perawakan gadis asing ini, ia menebak usianya sudah memasuki angka sepuluh, umur potensial bagi organ intim perempuan memulai fase kemasiran. Namun, kejujuran dalam lirihan getir yang tadi ia dendangkan mamagut simpati Noa dan meludeskan pertanyaan penegasannya.


"Tapi sejak terlambat pulang, dia tidak pernah datang lagi." Di mata Noa, ada segumpal awan nimbo stratus—produsen hujan rintik-rintik—memayungi kepala kuning yang sedikit menunduk itu. "Aku selalu ingin minta maaf, tapi aku sudah terlanjur mengikat janji dengannya untuk tidak pernah menginjakkan kaki di sekitar sana."


"Kenapa begitu?"


"Dia hanya bilang bahwa pemilik rumah tidak mengizinkan siapapun berkunjung. Aku tidak tahu apa alasannya karena dia sendiri pun tidak tahu." Ia menggeleng kecil.


"Siapa nama temanmu itu?"


"Tim—Oh, iya. Kau pasti kenal dia, kan. Boleh aku minta bantuanmu?" Buru-buru ia melepas sarung tangan kanannya. Noa baru menyadari bahwa kantung tebal berwarna dominan ungu itu berbentuk kepala kadal. Ekspresi jenaka fauna melata itu—tengah menjulurkan lidah seraya menjulingkan kedua iris hitamnya ke arah yang saling berlawanan—mengingatkan Noa dengan ilustrasi hewan serupa di sebuah fabel kala mengejek satwa lain.


"Berikan ini padanya." Ia menyorongkan benda tersebut. "Katakan juga, aku benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi."


Noa menerimanya. Sejenak, ia terdiam dalam penilaian. Ujung kulit kelima jarinya dapat mengukur kualitas kain yang dipilih. Halus dan hangat. Jahitan yang menyatukan tiap bagian pun berbaris dengan rapi.

Laki-laki sepuluh tahun itu melirik gadis di depannya sekali lalu.


Terlalu profesional untuk dinyatakan sebagai buatan tangan. Tapi tidak menutup kemungkinan dugaannya bukan sesuatu yang mustahil. Menggaris bawahi wajah suram sang lawan bicara selama berkisah, seseorang bernama Tim itu pasti sangat berharga baginya.


Noa terhenyak samar.


Ia baru ingat, tidak ada anak bernama Tim di pondok pengasingan. Kemarin ia pulang tepat waktu. Begitu keluar dari gudang, ia langsung melesat ke ruang makan. Sesuai dengan perkiraannya, jatah lauk pauk diberikan setelah pemanggilan nama.


Mungkinkah, Tim adalah produk yang datang sebelum rombonganku?

Kembali, Noa melirik si kuncir dua. Kerlip-kerlip penuh harap dari iris emas dihadapannya menumbuhkan tunas gusar. Noa yakin seribu persen dengan ketelitian telinganya. Tapi ia tidak sampai hati meredupkan pendar angan yang baru saja menyala setelah sekian waktu ditindih kabut kesedihan itu.


"Baiklah." Noa mengangguk.

Senyum sang dara belia terlihat dua kali lebih lebar dari sebelumnya di mata Noa.


"Terima kasih." Bibir gadis itu tiba-tiba berhenti. Ia menyadari sesuatu. "Omong-omong, siapa namamu?"


Noa tidak langsung menyahut. Kelopak matanya mengerjab setelah membeku selama tiga detik. Ia pun tersadar bahwa ada satu prosedur perkenalan yang dicuranginya dalam siklus bersosialisasi dengan orang baru.

"Oh." Lantas, laki-laki sepuluh tahun itu terkekeh canggung. "Kita belum mengetahui nama satu sama lain, ya?"


Perempuan sepantarannya mengangguk seraya mengikik geli.


"Dim." Tangannya terulur.


"Noa."


Di pagi hari yang cerah ini, mereka baru bisa dikatakan resmi berkenalan.


"Ayo, kita berangkat!" Dim langsung menyeret Noa sebelum tangan bocah itu menguraikan diri dari jabatannya. Padahal, orang yang bersangkutan tidak berniat demikian. Kecuali tinggi oktafnya yang di atas rata-rata, selain itu tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari Dim. Terkhusus, hobi mereka yang sama.

Noa senang. Masa tunggu di pondok pengasingan ternyata melebihi ekspektasinya.


****


Dewasa ini, di usianya yang ke 2053 tahun, kejujuran menjadi sesuatu yang nyaris lenyap selain homo sapiens. Bisa dibilang, ia menjadi hal pertama yang mengalami kepunahan. Namun, durasi hidup Noa yang masih begitu singkat membuat pemahamannya tidak terasah. Terlebih lagi, sejarah kelam itu tidak memiliki catatan resmi untuk dipelajari.


Pagi tadi, televisi hologram di ruang makan menyiarkan program perkiraan cuaca. Setelah menjelaskan kemana pergerakan angin dan kuantitas sinar matahari, presenter wanita itu memastikan bahwa badai akan menginjakkan kaki di pegunungan Lichtenstein pada pukul tujuh malam. Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang, lebih tepatnya pada jam sembilan pagi ini. Tirai putih menutupi seluruh jagad raya, membuat Noa berakhir di sebuah gua kecil bersama Dim sebelum tiba di pemberhentian elok berikutnya.


Bocah itu menelan kekecewaan dan kemarahannya. Seharusnya ia tidak percaya begitu saja. Semestinya ia menebalkan kata 'perkiraan'. Walau seilmiah dan serinci apapun memperhitungkan siklus alamiah, yang namanya perkiraan tetap saja mengandung unsur ketidakpastian.


Berlaku juga dengan identitas dari seorang kenalan baru. Seharusnya ia mengeksplorasi sosok Dim dengan lebih mendetil lagi. Semestinya ia tidak harus berpuas diri dengan hanya menyimpan huruf D, I dan M dalam ingatan. Apalah arti sebuah nama. Noa baru menyadari sefilosofis apa makna frasa puitis tersebut tatkala Dim mimisan dan dara cilik itu menolak dibantu.


"Kau..." Seluruh tubuh Noa mendingin.


Dim yang beringsut di pojok gua memandangnya dengan mata merah penuh ancaman. Mata merah yang dimaksud disini bukan karena kelilipan. Tapi memang irisnya yang berpendar sewarna darah.

Buku adalah jendela dunia. Meski pengalamannya nol persen, Noa tahu bahwa hanya ada satu makhluk hidup yang warna matanya dapat berubah.


"Ya." Seringai Dim tetap tidak bisa ditutupi meski punggung tangan kirinya menahan cairan merah dari hidung. Pun dengan sepasang taringnya. "Inilah aku."


Predator alami manusia. Kemampuan magis itu hanya dimiliki para manusia peminum darah.


Noa tidak berkutik. Otaknya mendadak korslet karena berusaha menganalisis ciri-ciri vampir dari tingkah laku Dim selama dua hari ini secara tiba-tiba.


"Sekarang cepat pergi sebelum aku benar-benar menggigitmu."


Umumnya, seekor mangsa akan langsung terbirit menyelamatkan diri. Tidak dilepaskan secara cuma-cuma pun, secara naluriah selalu seperti itu. Tapi Noa memang insan tidak biasa. Ia justru menghampiri Dim sembari mengeluarkan sarung tangan boneka yang diperuntukkan kepada Tim.


"Apa yang kau lakukan?" Perempuan itu mendelik.


"Pertama, suhu tubuhmu harus tetap hangat." Noa berjongkok begitu menyisakan jarak setengah meter dari si gadis vampir. Tangannya merangsek, bermaksud memakaikan sarung tangan itu kepada sang pemilik sah. "Lalu—"

"Hentikan!" Ia mendorong Noa.


Hening. Keduanya saling mengadu pandangan. Noa terduduk dengan sorot datar. Sementara Dim menghunuskan tatapan marah, masih dengan tangan dibawah hidung.


"Kau tahu kalau manusia ada yang terlahir normal dan cacat, kan. Begitu juga dengan kami." Kini, dara itu mengukir senyum sinis sekaligus miris. "Tidak ada yang sempurna di dunia ini."


Jujur saja, Noa baru tahu bahwa vampir juga bisa terlahir dengan cela. Buku-buku yang ia baca tidak pernah menjelaskan hal semacam itu.


"Lagipula, sebentar lagi aku juga akan mati." Ia mengedikkan bahu. "Vampir abnormal sepertiku tidak diinginkan." Iris ahmar2 Dim bergulir ke sarung tangan boneka di genggaman Noa. "Dan itu." Ia menuding benda tersebut dengan tangan yang dibuat menahan mimisan. Darahnya sudah berhenti. "Aku memintamu memberikannya pada Tim—"


"—Tidak ada anak bernama Tim di pondok pengasingan."


Dim tergugu.


"Tidak ada anak bernama Tim di pondok pengasingan." Noa sudah tidak tahan lagi menyimpan kebohongan. Vampir muda ini harus diberi pemahaman sejelas-jelasnya.


"Bukan itu." Kepala berkuncir kembar itu menggeleng kaku.


Alis Noa menghunus kecil, tanda tak paham.


"Tempat itu..." Suara Dim terdengar goyah, meski samar. "...Pondok pengasingan katamu?"


Sedetik, bola mata Noa melebar sebelum seringai menghapus ekspresi kagetnya. Dim pasti mendengar kegunaan pondok pengasingan dari keluarganya. "Kau tahu tempat apa itu, kan?"


Amukan angin yang bersorak membenarkan.


"Tim sudah tidak ada. Berikutnya, aku juga."


"Tapi kau terlihat normal." Dim masih belum percaya.


Noa menahan tawa. "Aku cacat bagi para ilmuan." Ganti ia yang menyeringai. "Tidak ada yang sempurna di dunia ini."


Sekali lagi mereka tertunduk dan terdiam. Fakta bahwa tidak ada masa depan bagi keduanya sukses mengempiskan paru-paru. Terutama si gadis vampir. Dalam hati, ia masih berkeyakinan bahwa keberadaan Noa di pondok pengasingan merupakan sebuah kesalahan.


"Kau," Dim memandang Noa penuh selidik. "Masih ingin hidup, kan?"


Bocah itu menarik kedua sudut bibirnya tanpa mengangkat kepala. "Ya. Untuk berkeliling dunia."

Alis pirang si vampir muda naik, tak menyangka dengan cita-cita Noa. "Kau bukannya ingin menjadi pemburu?"


"Sejujurnya, aku tidak begitu berminat." Noa meringis. "Apa serunya?" Ia menengadahkan wajah.

"Kau juga, kan?"


Diam tanda 'ya'. Dim merasa tidak perlu memberikan jawaban. Semangatnya untuk memburu lokasi-lokasi cantik di pegunungan ini saja sudah menjadi bukti kuat sebesar apa hasratnya untuk berkelana.


"Apa benar-benar tidak ada cara untuk menyembuhkanmu?"


Dim menghela napas. "Sebenarnya, ada satu."


Noa memberikan tilikan bertanya.


"Darah manusia."


Hening yang merangkul mampu membisukan keributan badai. Kehadiran senyap menenggelamkan keduanya dalam kecamuk pikiran masing-masing. Dim tidak begitu larut dalam kegundahan. Ia sudah terbiasa. Berbeda dengan Noa yang justru merenung semakin dalam.


Impian. Ambisi. Kondisi. Ketidakadilan.


Noa merasa mereka harus memperjuangkan hak untuk hidup dengan bahagia.


"Kalau dengan begitu kau bisa sembuh, berarti aku juga bisa bebas." Pemuda sepuluh tahun itu berbisik kepada dirinya sendiri.


"Apa?" Deburan badai menutupi telinga Dim. Apalagi ia tengah berperang melawan dinginnya suhu udara dengan meringkuk.


"Hei." Noa menoleh cepat pada si gadis vampir. Iris asfar bocah itu dipenuhi kerlip ide. "Bagaimana kalau kita bekerja sama?"


Ujung mata Dim menyipit ingin tahu.


"Aku akan memberikan darahku padamu agar aku bisa bebas dari pondok itu. Bagaimana?"


Jitakan Dim melesat. "Kau bicara apa, hah?!" Ia berdiri menggunakan lutut dengan kedua tangan menekan pinggang. Usulan gila Noa berhasil meluruskan punggungnya. "Manusia yang digigit vampir akan—"


"—Aku tahu." Lawan bicaranya menukas kalem namun yakin.


Dim terperanjat. Ia kira Noa akan membentak tak terima karena telah menorehkan ruam di dahinya.

Respon bocah itu di luar perkiraan.


"Setelah itu, kita bisa mengitari bumi ini bersama-sama!" Noa memekik semangat.


Keliling dunia bersama-sama.


Dim tidak menemukan keraguan dari bola mata Noa, walau sebesar butir pasir.


"Kau bersungguh-sungguh?" Belakang matanya terasa panas.


Noa mengulurkan jari kelingkingnya. "Aku janji."


Cukup dengan dua kata sederhana itu, rongga dada Dim disesaki oleh ribuan kupu-kupu.


Kelingking Noa tidak bersambut. Dim justru memenjaranya dalam rengkuhan kedua tangan. "Terima kasih."


Noa tersenyum lembut. Ia mengusap kepala pirang yang kini tengah membaui pergelangannya. Sedetik kemudian, gadis itu menarik lengan baju Noa ke bawah dengan perlahan. Kulit putih kemerahan—efek udara dingin—terpampang hingga ke siku. Iris merah Dim semakin membara.


"Memangnya bisa ya dari situ?" Setahu Noa, vampir tidak pernah mengisap darah selain melalui leher.


"Maaf, ini mungkin agak sedikit sakit." Si lawan bicara malah membuka topik baru tanpa meninggalkan pergelangan Noa. "Dan sebenarnya," Kepala jagung itu menunduk semakin dalam. "aku belum begitu bisa menggunakan taringku dengan benar."


Noa tergelak setelah terperangah selama dua detik. "Minumlah sepuasmu, Dim." .


Fin



Story written by Ernita Rachmawati

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page