top of page

by Mrstarligzh

  • Mrstarligzh
  • Jun 16, 2025
  • 13 min read

Tepat di jantung kota, berdiri rumah yang tak pernah sepi; dikenal sebagai Rumah Dosa. Bukan sekedar tempat tinggal, tapi persinggahan bagi mereka yang lebih dekat ke setan daripada manusia.


Lorong-lorong kastil itu sunyi, tapi tak pernah mati. Lampu menggantung redup di atas lantai yang terlalu bersih untuk rumah para pembunuh. Setiap ruang bernapas dengan karakternya sendiri—aroma senjata, formalin, dan racun menyatu dalam keteraturan yang mengganggu. Dan malam itu, langkah berhenti di satu pintu yang selalu setengah terbuka; tempat yang terasa hangat, namun menyimpan sesuatu yang tak benar-benar bisa tersentuh.


Ruangan yang redup dan penuh kesunyian elegan– seseorang duduk tanpa suara. Dinding-dindingnya. Lampu gantung antik menggantung rendah, menyorot tepat ke permukaan meja obsidian tempat segelas anggur tua diletakkan dengan anggun. Udara ruangan itu beraroma besi, bunga kering, dan sesuatu yang samar.


Ia duduk tegak di kursi lengan berlapis kulit ungu tua, tubuhnya dibungkus setelan malam yang tidak tampak kusut meski jelas ia telah begadang. Di tangan kirinya, gelas kristal tipis berisi Domaine de la Romanée-Conti Grand Cru, vintage 1999–langka dan mahal– dengan tambahan pribadi yang tak kalah mencengangkan; larutan berbasis merkuri dan dua gram arsenik murni, dosis yang bisa meluluhkan sistem organ perempuan dewasa dalam hitungan menit. Namun ia tidak tampak sakit, apalagi sekarat. Ia hanya menyesap perlahan seolah sedang menikmati hasil karya seni cair buatan tangannya sendiri. 


Tatapannya tidak tertuju pada buku catatan atau layar ponsel, melainkan pada sebuah akuarium besar di sudut ruangan. Di dalamnya, seekor taipan– ular paling mematikan di dunia—melilit seekor tikus putih, menghancurkan tulangnya dalam jerat mematikan, Ia menyiksanya dengan tenang, bahkan tampak sedikit terpesona. Gelasnya terangkat, dan ia meminumnya lagi, masih dengan gaya yang tak pernah kehilangan martabat. Ia bukan bagian dari dunia yang bisa diracuni.


Dan di saat sang taipan mulai menelan mangsanya utuh, senyum tipis terbentuk di wajahnya.


Waktunya, pikirnya, memberikan tugas kecil pada anak-anaknya. 


Ia beranjak dari kursinya dan menyibak tirai tipis di sudut kamar, mengungkap pintu geser kayu yang tersembunyi. Pintu itu hanya bisa diakses dari dalam kamar– membawa ke sebuah ruang kerja yang sunyi, tertata seperti interior rumah pejabat Jepang zaman Edo.


Tatami beraroma jerami tua melapis lantai, dan rak-rak kayu gelap berdiri dalam susunan tak simetris. Di atasnya, gulungan gulungan kaligrafi tua tertata rapi, masing -masing disegel dengan cap merah darah.


Di ujung ruangan, terdapat tahta lesehan hitam bersulam perak, menghadap ke jendela hias bergambar laba-laba hitam besar dengan mata merah menyala. Bayangaan kakinya, kala diterpa cahaya dari luar, menjulur panjang ke dalam ruangan, membentuk jejaring tak kasatmata yang seolah menelan setiap suara.

Ia duduk perlahan di tahtanya, tubuhnya tenggelam dalam keheningan yang seakan menunduk padanya. Di hadapannya, berdiri sebuah dudukan kayu sederhana– dan di atasnya terletak sebuah shamisen tua. Kayunya retak-retak halus, menghitam oleh usia, dan senar-senarnya mengeluarkan kilau kusam seperti urat roh yang mengering.


Ia mengangkatnya. Memeluknya erat–erat seperti seorang ibu yang mendekap rahasia hidupnya, namun ada sesuatu yang lain. Gaya tubuhnya setengah menyerah, setengah menguasai. 


Siluetnya setengah suci, setengah duniawi.


Dengan napas nyaris berupa desahan, ia berbisik, “Terima kasih… Feruci sayang, untuk hadiah ini. Kau selalu tahu apa yang membuat jiwaku berbunyi… meski nadanya menyayat.” Ia memejamkan matanya, pipinya menempel pada badan shamisen. “Masih ada jejakmu di sini… atau jejak mereka? Ah… mana yang lebih setia, aku tak perna bisa memilih. Tapi aku tahu, alat ini selalu bernyanyi paling jujur… saat darah belum sepenuhnya kering.” Shamisen itu tetap diam. Namun udara di sekitarnya mulai bergetar. 


Ia menarik napas perlahan, lalu mulai memainkan alat terkutuk itu. Sentuhan jemarinya begitu halus, begitu ahli. Suara senar pertama mengalun–tipis, jernih , namun menusuk seperti bisikan roh di ruang kosong.

Permainannya indah, hampir sakral. Namun justru di situlah letak kengerian itu. Keindahan yang terlalu sempurna untuk disebut manusiawi.


Nada-nadanya membentuk sebuah Komoriuta, lagu nina bobo lembut, pelan, membuai– lagu yang seharusnya membangkitkan rasa aman. Namun ada yang… menyimpang. Melodinya tidak mengikuti skala wajar, ada ketidakseimbangan halus dalam pola nadanya. 


Nada-nadanya itu naik turun seperti napas anak yang sedang demam, melambat lalu menyentak, lalu kembali melandai. DI antara senandung itu, terdengar denting samar yang tak seharusnya ada–seperti kuku menggores kaca jauh di kejauhan, seperti seseorang mengetuk pintu dari balik dinding.


Udara di dalam ruangan bergetar, ringan namun pasti. Rak-rak kaligrafi bergeming, namun bayangan pada jendela laba-laba tampak bergerak… meski angin tak menyentuhnya.


Ia tersenyum kecil. Senyum seorang ibu . Senyum seorang algojo. Shamisen-nya terus bernyanyi–dan dunia sekitarnya mulai mendengarkan. Atau mungkin, mengingat.



Nada-nada terakhir dari shamisen itu menggantung di udara. Hening sejenak. Lalu– ia datang.


Dari sela-sela tatami. Kabut hitam mulai merayap, perlahan namun pasti. Asap itu tampak seperti hasil kebakaran yang telah membakar sesuatu yang tak seharusnya ada— beraroma logam panas dan arang basah, menggeliat seperti cacing buta yang baru saja dibangkitkan.


Asap itu tidak sekedar menyelimuti, melainkan memakan ruangan. Ia berputar perlahan. Tidak cepat, namun tegas. Menggulung ke atas dan ke samping, lalu membentuk lingkaran melingkar di sekeliling tahta. Kabut itu tak hanya menelan udara–ia menelan ruang. Menelan waktu.


Kabut kegelapan itu mulai berputar, dengan pusatnya adalah wanita yang tetap duduk tenang, jemarinya masih menyentuh shamisen-nya. Seakan-akan ruangan itu sekarang adalah lambung mahluk purba, dan pusaran kabut adalah tenggorokannya– menelan semuanya tanpa sisa, tanpa ampun.


Bayangan jendela laba-laba menghilang. Rak kaligrafi larut. Hanya kabut. Pekat dan dingin, seperti tubuh yang baru saja ditinggalkan roh. Dan ketika kabut itu menyentuhnya ia pun lenyap.


Satu hembusan napas.


Dan semua menjadi jernih kembali. 


Kini mereka duduk dalam ruangan lain. Ruang makan besar, diterangi cahaya lampu gantung kuningan yang menggantung berat dari langit-langit tinggi. Meja kayu antik memisahkan perempuan itu dengan ketiga anaknya yang duduk berhadapan dengannya. Meja itu tampak terlalu besar.



Ketiganya menatap perempuan di ujung meja dengan ekspresi yang sudah tak asing– campuran lelah dan jengah.


Mona duduk tegak, wajahnya datar seperti topeng porselen yang retak di dalam.


Tatapannya tajam tapi kosong. Di pangkuannya, kapak labrys berwarna emas perlahan diasah. Gerakannya tenang, presisi.


Tanpa menurunkan pandangan, ia berkata dengan suara pelan, datar, dan dingin, “Jadi, ibu… butuh apa dari kami kali ini? Korban segar? Pengkhianat yang harus dibisukan? Atau sekedar teman sarapan jam tiga pagi?” Nada sarkasnya halus. 


Levi bersandar malas di kursinya, satu kaki terangkat dan dibiarkan menggantung santai seperti seorang putri kerajaan palsu yang baru saja bangun dari mimpi pesta. Senyum lebarnya menari-nari di wajah, namun matanya menyimpan kilau licik, seperti pisau tipis yang disembunyikan di balik pita merah muda.


Dengan nada manja dan dramatis, ia menyaut, “Oh~ misi lagi ya? Perlu aku tidur lagi dengan pria-pria Timur tengah itu? Mereka memang tahu cara memperlakukan tamu istimewa—yacht pribadi, champagne mahal, dan baju rancangan Paris… sungguh menyenangkan.” Ia menghela napas seperti aktris opera yang kelelahan oleh cinta, lalu cekikikan kecil, manis tapi menusuk. “Dan souvenir-nya, ya Tuhan—tangan mereka itu punya cerita-cerita menarik. Kadang terasa… sedih untuk memisahkan mereka dari tubuhnya. Tapi ya, seni adalah pengorbanan bukan?” Nada suaranya ringan, seolah sedang membicarakan potongan kue– padahal yang ia maksud adalah potongan tubuh. Wajahnya tetap cantik, tetap memikat. Tapi semua itu hanyalah topeng dari sesuatu yang jauh lebih busuk.



Gore duduk paling jauh dari cahaya, separuh wajahnya tertutup bayangan, seolah sengaja menghindar dari dunia nyata. Ia menyender ke kursinya dengan mata setengah terbuka—tatapan kabur orang yang bisa tidur kapan saja, bahkan di tengah percakapan. Ia menguap perlahan, lalu berkata dengan suara serak dan datar, “Sudahlah Ades… cepat katakan apa yang kamu mau, supaya aku bisa lanjut terlelap.”


Nada suaranya datar, nyaris malas, dan memanggil nama ibunya tanpa basa-basi— tapi ada sesuatu yang terselip di balik itu. Bukan penghinaan, tapi kejujuran dari seorang anak yang mengenal ibunya terlalu baik. Ia tahu ibunya tak butuh formalitas. Ia tahu ibunya tidak akan tersinggung.


Namun jangan terkecoh oleh sikap malasnya. Gore adalah bayangan di balik pintu yang tak pernah tertutup rapat. Di balik kantuknya yang konstan, pikirannya terus bekerja, memetakan ruang. Menghitung jalur, dan… memasang perangkap.


Ia tak perlu bergerak cepat—cukup satu bisikan, satu langkah musuh yang salah, dan jebakannya akan bekerja sendiri. Diam-diam, tanpa suara, tanpa ampun. Kepalanya mungkin tertunduk sekarang, tapi di bawah meja itu bisa saja sudah ada benang kawat tak kasat mata atau racun lambat yang tak berbau. Ia adalah pembunuh yang tampak seperti pemalas—seni membunuh tanpa bangun dari tidur.


Ades tertawa kecil– tawa ringan elegan. Tawa itu tak terlalu keras, tapi cukup untuk menggema pelan di ruang makan, menyelip di antara cangkir-cangkir kosong dan bayangan lampu gantung. Ia memandangi ketiga anaknya satu per satu, mata yang dipenuhi sesuatu antara kekaguman dan kepuasan lick. 


“Ah… kalian sungguh menarik,” pikirnya dalam hati. Ada rasa senang yang tak ia sembunyikan—bukan seperti ibu yang bangga akan pencapaian anak-anaknya. Tapi lebih seperti seorang kolektor yang baru saja menata ulang karya-karya terindahnya dalam vitrin kaca. 


Ia merasa… diberkati.


Diberkati, tentu saja, dengan sedikit sindiran dari alam semesta yang mempercayakan tiga sosok penuh dosa padanya. Bukankah ini seharusnya kutukan? Tapi baginya, ini— justru karunia. Karunia yang berdarah dan tajam, tapi miliknya. 


Wajahnya tersenyum namun pelan-pelan, senyum itu memudar. Ada guratan tipis yang muncul di sudut matanya– bukan amrah, bukan sedih, hanya… kecewa. Tapi raut kecewa itu begitu halus, begitu samar, terlindung oleh banyak lapisan topeng kepalsuan yang telah ia poles selama bertahun-tahun.


Bagi manusia biasa, wajah itu mungkin tampak tetap tenang, tetap anggun. Tapi bagi anak-anaknya yang tumbuh dalam dunia penuh racun dan kebohongan, mereka tahu, ada sesuatu yang tak sesuai di balik garis senyum itu.


Dari atas lemari besar di sudut ruangan yang tertelan bayangan, sepasang mata merah menyala tiba-tiba terbuka; diam, namun tajam. Lalu, dalam satu gerakan senyap, sosok itu melompat turun, mendarat dengan kecepatan yang hampir tak terlihat, namun tanpa satupun suara.


Ia mulai berjalan perlahan mendekati meja, gerakannya licin dan nyaris tak menyentuh lantai. Cahaya bulan yang remang menerobos masuk melalui jendela tinggi, mengungkapkan wujudnya secara perlahan.


Seekor kucing oranye, tubuhnya ramping namun berotot, bulu mengilap seperti tembaga tua, muncul dari balik bayang-bayang. Kedua telinganya runcing tajam, menyerupai milik rubah salju, seolah punya kehendak sendiri.


Ia melangkah begitu senyap; lebih senyap dari bisikan, lebih halus dari napas terakhir. Sosok ini tidak hanya hadir, ia menyusup ke dalam ruang. 


Ia berhenti di samping Ades, berdiri diam. Tak satu suara pun keluar darinya. Namun seluruh ruang seperti menahan napas– seakan tahu siapa yang baru saja memasuki lingkaran ‘makan malam’ itu. 


Di antara taringnya, makhluk itu menggigit sebuah amplop coklat tebal berisi berkas. Namun sebelum diserahkan, tubuhnya bergetar, lalu dililit pusaran api oranye yang sekejap muncul dari lantai. Api itu berputar cepat, menelan bulu dan dagingnya dalam sekejap; membakar tanpa asap. 


Saat api nyala padam, yang tersisa adalah seorang pria muda, tampak sekitar 25 tahun. Bertubuh tegap tapi ramping. Wajahnya tampan dan manis, tapi matanya, liar, tajam. Ia melangkah maju, menyerahkan amplop itu dengan gerakan sopan dan tenang. 


Ades menerima dan berkata dengan senyum samar, “Terima kasih banyak… Stan.” Pemuda itu menunduk dalam, lalu menghilang dari ruangan dengan langkah senyap, cepat seperti bayangan yang tak mau tertangkap cahaya. Ades kemudian merobek amplop itu perlahan, lalu mengayunkan isinya ke udara dengan gerakan lembut dan terukur. Lembar demi lembar foto taman hiburan dan cetak biru konstruksi melayang turun, mendarat tepat di depan ketiga anaknya. Warna-warni wahana bentuk bangunan ceria, dan rencana penuh keceriaan tampak aneh; bahkan asing, di meja makan keluarga ini.


Ia lalu bicara dengan nada datar tapi lembut, seperti ibu normal yang sedang menyusun liburan keluarga – hanya saja, datang dari mulut Ades, semua terasa… salah tempat. “Ibu ingin kalian berlibur ke tempat ini,” katanya perlahan, “Ibu ingin kalian memperkuat ikatan sebagai saudara. Meski kalian berasal dari rahim yang berbeda, sekarang kalian hidup sebagai satu keluarga. Maka saat matahari terbit, kalian akan pergi bersama. Tertawa, bermain, dan bersenang-senang… seperti keluarga seharusnya.” Kalimat itu seharusnya menenangkan hati. Namun yang terdengar hanyalah ketidakwajaran yang menusuk.


Ketiga anaknya terdiam. Bukan karena takut. Bukan karena marah. Tapi karena bingung. Mona memicingkan mata, seolah menganalisis ibunya seperti musuh lama yang tiba-tiba berubah siasat. Levi menahan tawa gugup, bertanya-tanya apakah ini sarkasme tingkat tinggi. Bahkan Gore berhenti mengantuk sejenak, hanya untuk memastikan ibunya tidak kerasukan.


Ades tertawa sedikit keras, nyaris seperti tawa getir yang terselip kejujuran. Baginya, situasi ini lucu. Wajar jika anak-anaknya menatap dengan waspada; selama ini, ia dan suaminya memang selalu mengutus mereka menjalankan misi-misi berbahaya, bukan kegiatan yang pantas untuk anak seusia mereka. Ia menarik napas, menenangkan diri, lalu berkata dengan senyum kecil, “Tenang saja… ini masih ibu kalian. Bukan makhluk aneh kiriman ayah kalian yang menyamar jadi aku. Lagipula, kalau benar aku makhluk suruhan, mana mungkin aku tahu siapa yang paling sering mencuri selai stroberi tengah malam, hm?” Tatapannya bergeser sekilas ke Gore, penuh maksud tersembunyi namun hangat. 


Baru saja Ades hendak melanjutkan kalimatnya ketika Mona mengangkat tangan, memotongnya dengan nada tajam. “Aku pass. Ibunda, ada beberapa senjata yang butuh aku asah. Salah satu dari mereka sudah mulai karatan; dan itu lebih penting daripada… ini,” katanya sambil mengangkat salah satu foto di meja dengan kedua jari seolah itu adalah barang yang menjijikan.


Gore menyeringai malas dari sudut sofa, lalu menggumam tanpa membuka mata, “Bersantai bersama kalian? Kedengarannya seperti resep untuk mual kornis. Aku lebih pilih tidur dengan kepala terpenggal di pangkuan.”


Ades hanya bisa menghela napas, belum sempat menanggapi, seketika Levi melipatkan tangannya di dada dan membenahi postur punggungnya. “Serius, kalian ini… Bisa nggak, sekali aja, jangan jadi perusak pesta?” katanya dengan nada mencibir, lalu melirik ke Ades. “Menurutku… ide Ibu kali ini nggak seburuk biasanya. Mungkin– mungkin– aku butuh suasana baru yang cerah. Udara segar. Munchkin juga ada manusia menarik yang bisa diajak main… tangan.”


Mona melotot padanya, Gore mendecakkan lidah, sementara Levi tersenyum kecil, puas dengan kekacauan kecil yang ia ciptakan, lalu berkata, “Ayolah. Dunia nggak bakal runtuh kalau kita berhenti jadi mesin pembunuh selama satu hari. Pertengkaran kecil pun pecah. Nada suara meninggi, sindiran saling dilempar. Mona menyebut Levi terlalu sentimental; Gore menyindir Mona seperti anak kecil yang tak bisa jauh dari mainan tajamnya; dan Levi membalas keduanya dengan sarkasme tajam dan senyuman menyebalkan.


Ades membiarkan mereka bertiga saling berdebat sejenak. Ia diam, memandangi mereka dengan mata kosong namun penuh perhitungan. Lalu, suasana mencapai titik panas, ia berbicara– pelan tapi cukup jelas untuk membuat ketiganya berhenti.


“Ibu punya sebuah permainan kecil,” katanya sambil meletakkan cangkir teh yang sudah dingin. “Bagaimana kalau… kalian ikuti keinginan ibu kali ini, dan sebagai gantinya, Ibu akan memberikan satu hadiah untuk masing-masing dari kalian?”


Ia melirik satu per satu, nada bicaranya mulai memikat seperti sedang merayu mangsa. “Mona, aku akan berikan akses ke gudang senjata lama ayahmu; yang di bawah lantai ketiga. Yang penuh dengan prototipe.”

Tatapan Mona berubah.


“Gore… kau bisa ambil kepala ‘raja tikus’ yang selama ini kau incar di ruang eksperimen bawah. Masih segar. Belum disentuh siapa pun,” lanjut Mona, buat Gore membuka satu mata, untuk pertama kalinya terlihat tertarik. “Dan Levi…”Ades menyeringai kecil.”Ada satu peti baru dari pasar gelap, penuh tangan. Tangan-tangan perempuan yang… cantik katanya.” Levi menaikkan alis.”Ya aku sih dari awal sudah tertarik dengan ide ibu– jadi ya, makasih banyak.”


Ades menyandarkan tubuh, puas. “Jadi? Satu hari saja. Bermain seperti keluarga normal. Setelah itu, hadiah kalian menunggu kedatangan kalian.”


Tiga sosok itu berdiri berdampingan di gerbang taman hiburan yang penuh warna dan keramaian. Di depan mereka, deretan wahana berputar dan suara tawa anak-anak bercampur dengan dentuman musik. Mona menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang jijik tak disembunyikan, seolah kehadirannya di tempat seperti ini adalah penghinaan pribadi. DI sampingnya, Gore tampak lesu, menghisap minuman ukuran XL melalui sedotan dengan tatapan kosong, seperti sudah lelah sebelum permainan dimulai. Sementara itu, Levi terlihat paling hidup— matanya berbinar, jemarinya sibuk menjepret selfie dari berbagai sudut, seolah taman hiburan ini adalah panggung yang akhirnya pantas untuknya 


Dengan nada setengah memerintah, Mona membuka pembicaraan, wajahnya tetap memancarkan kejijikan meski suaranya tegas bak memberi briefing misi militer. “Dengar ya, kalau kita mau selesaikan ini secepat mungkin, kalian ikut aja rute yang sudah aku susun. Aku uda hitung waktu tunggu tiap wahana, lokasi strategisnya, dan bahkan titik istirahat kalau kalian tiba-tiba jadi lemah. Kita mulai dari sisi timur, muter searah jarum jam, dan hindari wahana yang basah; aku nggak mau jalan dengan sepatu becek. Dan satu hal lagi—kita nggak boleh pisah, apapun yang terjadi. Ini bukan soal seru-seruan, ini misi. Kita jalan bareng, selesai bareng, dan balik ke rumah tanpa drama. Gampang, kan?”


Ia sudah menyusunnya semua, seperti operasi kecil yang harus berjalan presisi dan tanpa celah. Namun di tengah kalimatnya yang penuh ketegasan, Levi tiba-tiba menoleh; matanya menangkap sesuatu yang mengkilap di kejauhan. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah pergi begitu saja, tertarik seperti kucing memburu pantulan cahaya.


Mona menghentikan ucapannya sejenak, pandangannya mengikuti Levi dengan tatapan tak percaya. Belum sempat ia memanggil, Gore, tanpa ekspresi, perlahan berjalan mundur, masuk ke tengah kerumunan yang sibuk. Dalam hitungan detik, tubuhnya lenyap di antara orang-orang, seolah ia memang tidak pernah ada di sana.


Mona berdiri sendiri, tangan masih terangkat setengah dari gestur penjelasannya. “Tentu saja, Tim impian,” gumamnya datar, dengan mata yang menatap kosong ke arah kekacauan yang baru saja ditinggalkan dua adiknya. Mona menatap ponsel burner di tangannya, wajahnya datar. “Selfie dan lokasi… lucu sekali, Ades,” gumamnya sinis.


Levi dan Gore sudah menghilang ke kerumunan, dan sekarang ia sendiri. Lagi. Seperti biasa. Ia menarik napas pendek. Pikirannya kembali ke subuh tadi, saat ibunya menahannya setelah yang lain pergi.

Tanpa banyak kata, Ades menyodorkan ponsel.


“Kirim foto kalian bertiga, saat bersenang-senang. Dan lokasi. Setiap kali Ibu minta,” ucapnya pelan, “Sebagai gantinya… belati Midas. Setajam napas terakhir. Sekali tusuk, apapun berubah menjadi emas. Manusia, hewan… bahkan iblis.”


Mona tak banyak bertanya. Tapi ia tahu—ini bukan sekedar ujian. Kini , di tengah keramaian, ia menggenggam ponsel itu erat. “Baiklah. Ayo berpura-pura senang.”


Levi mengikuti satu hal yang menarik ke hal lain; perhiasan murahan, mesin capit boneka, photo booth, hingga permainan tembak target berhadiah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat pria berambut hijau di atas panggung kecil.


Pria itu sunyi. Tak berkata apa pun, tapi dari tangannya, rerumputan tumbuh begitu saja. Tanaman merambat melayang di udara, menari tanpa suara.


Panggung berubah menjadi taman yang hidup.


Lalu, tanpa alasan yang jelas, pria itu menunjuk Levi. Dari jauh, ia mengulurkan tangan. Levi melangkah mendekat. Seperti tertarik tali halus tak terlihat. Saat mereka bertemu, pria itu mengeluarkan buket bunga dari balik lengannya, lalu menggenggam tangan Levi. Lantas mereka mulai berdansa. Langkah mereka selaras, seperti pernah dilatih. Levi merasa aneh—familiar, tapi pikirannya keruh, tak bisa menolak.


Gore melangkah pelan, berusaha menghindari kedua kakaknya, Ia menyusuri taman hiburan itu dengan hati-hati, mencari tempat tersembunyi yang cukup sunyi untuk menghilang. Saat melewati jalur sepi, pandangannya tertarik pada sosok muda yang berdiri diam di kejauhan. Wajahnya samar, seperti tertutup kabut tipis, tapi aroma bunga liar menguar jelas dari tubuhnya.


Tanpa bersuara, pria itu mengangkat tangan dan memberi isyarat. Ia menunjuk ke arah sebuah wahana tua—boat dark ride yang tampak nyaris terbengkalai. Lalu, ia mengarah ke papan kayu bertuliskan: “Wahana ini memberimu ketenangan… yang tak pernah berakhir.” Gore menatap sejenak, lalu tanpa bicara, menaiki perahu kecil. Jalurnya tenang, gelap, dan mengalir perlahan. Seiring waktu, kelopak matanya terasa berat. Suara di sekitarnya menghilang, dan ia pun terlelap. Saat terbangun, ia masih duduk di perahu. Tapi kini terapung di tengah lautan luas yang tak bergelombang. Airnya diam. Langitnya kosong. Dan tidak ada daratan sejauh mata memandang.


Mona menyusuri area hiburan dengan langkah cepat. Ia bertekad menemukan kedua adiknya dan mengamankan semua yang dijanjikan Ades kepadanya. Tiba-tiba, aroma padang rumput menguar di udara. Ia menoleh dan melihat siluet Levi dan Gore menaiki roller coaster. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke arah wahana itu. Anehnya, tidak ada antrean. Orang-orang seolah memberi jalan, membuka ruang agar Mona bisa langsung naik. Ia tak menggubris keanehan itu dan duduk di kursi roller coaster.


Begitu masuk, siluet adik-adiknya lenyap. Saat Mona hendak turun, sabuk pengaman terkunci, dan wahana meluncur. Di tengah perjalanan, ia melihat mereka lagi— kali ini sedang mengantre di wahana histeria. Mona langsung mematahkan sabuk, melompat keluar, mengejar mereka.


Namun saat tiba, mereka menghilang lagi.


Wahana lain. Bayangan lagi. Kejar lagi.


Dan lagi. Dan lagi. Dan lagi…


Mona terjebak dalam lingkaran tak berujung, memburu sosok yang tak pernah benar-benar ada. 

Layar ponsel burner dari Ades menyala.


Hitungan Mundur.


“Location tracking: ON.” 


Levi masih terjebak dalam dansa tanpa henti dengan pria asing yang membius pikirannya. Gore terus terbangun di atas perahu kecil, terapung di lautan hening yang sama. Di saat yang sama, Mona melompat dari satu wahana ke wahana yang lain, mengejar bayangan adik-adiknya demi hadiah ibunya.


Detik terakhir berdetak.


Nol.


Alarm meraung.


Segalanya membeku.


Gelap.


Lalu waktu mengalir kembali.


Tiba-tiba, hari sudah malam. Mereka bertiga sudah berdiri di gerbang keluar taman hiburan. Mona menggenggam ponsel, berpose selfie. Levi dan Gore berdiri di sampingnya, diam, terlalu lelah untuk bertanya.


Notifikasi dari Ades muncul. Mona tak membukanya. Ia menekan tombol potret.


Sekejap setelahnya, ponsel itu konslet— terbakar dari dalam. Mona melemparnya ke tanah.


Tanpa sepatah kata pun, mereka bertiga berjalan menyeberang… menuju mobil jemputan yang telah menunggu.


Di rumah yang sunyi, Ades tersenyum kecil menatap layar. Foto ketiga anaknya terpampang jelas— satu momen sempurna dalam kepalsuan yang dirancang rapi. Ia menyeruput teh hangat. “Terima Kasih, Beel,” ucapnya lembut. “Kau akan mendapat hadiahmu.” Beel, setia di bayang-bayang, menunduk dalam diam, tubuhnya bergelombang lembut seperti tanaman hidup yang menahan napas.


Dari balik kegelapan , langkah elegan terdengar. Muncul seorang pria berambut biru—Feruci; Wajahnya tampan, senyumnya halus, tapi mata itu… menyimpan neraka. Ia mendekat, dengan suara rendah namun tajam, “Lalu, bagaimana dengan hadiah untukku? Sudah cukup banyak sihir yang kuberikan hari ini.”


Ades menatapnya, matanya berkilat. Ia tersenyum, bangkit perlahan, dan menjawab dengan tenang, “Hadiahmu… adalah aku.”


Tirai pun jatuh.












 





 


Commission Story Written by Mrstarligzh on Facebook / Carrd

 
 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page