top of page

Day 2

  • Writer: Tri
    Tri
  • Mar 3, 2024
  • 7 min read

Updated: Nov 4, 2024

“Rise and shine~ for your beautiful supervisor has comin-“

Nein membuka pintu rumah Lin dan Nero hanya untuk menemukan Lin masih tertidur lelap dengan posisi absurd di futonnya.


“Anak-anak iniiiiii!” Nein menggeram. “Lin! Bangun!” Dia menarik futon Lin hingga Lin terjatuh ke lantai.

“Nero!” Nein membuka lemari geser tempat Nero tidur.


“Apa? Bagaimana kau bisa masuk? Hentai.” Nero sudah duduk diatas kasurnya sambil memainkan gadgetnya.


“Kalau kau sudah bangun, bangunkan Lin juga! Cepat bekerja!”  Kata Nein sambil mengarah ke kaca dan mulai berpose, memastikan tidak ada sehelai kotoran di tubuhnya.


“Hey! Jawab! Bagaimana kau bisa masuk!” Teriak Nero sambil turun dari lemarinya


“Huh? Sudah pagi?” Lin mengucek matanya, mulutnya menguap, sangat terlihat dia masih mengantuk.

“Aku dimana?” Tanya Lin lagi.


“Kau di tempat kerjamu, aku adalah majikanmu, sekarang siapkan sarapan.” Ucap Nein.


“Ah? Oh, iya tuan” Dengan sigap, Lin menyiapkan sarapan.


“Seperti biasa, amnesia nya sangat menakjubkan.” Kata Nero yang takjub melihat Lin sibuk memasak.


“Kau juga cepat mandi, pelayan kotor!” Perintah Nein dengan nada menggoda.


“Ya ya tuan~” Nero menggosok rambutnya, menuju kamar mandi.


Baru saja Nero menutup pintu kamar mandi dari dalam, terdengar teriakan Lin.

“Eh?! Nein?! Kau kesini?! Eeeeh?! Sejak Kapan?! Loh kenapa aku memasak?!”


“Ah dia sudah ingat” Ujar Nero dalam hati.


Sebentar terdengar suara amukan Lin, hingga kemudian kembali sepi, hanya suara penggorengan yang terdengar.


“Pfft dia kalah adu mulut lagi.” Gumam Nero sambil tersenyum.

Lin memang mempunyai amnesia yang parah, walau dia akan ingat semuanya dalam waktu dekat, tetap saja jeda waktu amnesia itu seringkali dimanfaatkan Nein (dan juga Nero) untuk mengerjai Lin.


Nero selesai mandi disambut pancake yang sudah tersaji di meja. Wajah Lin masih terlihat kesal, sedangkan Nein tanpa ragu menyantap pancake nya.


“Jadi, untuk apa kau kesini?” Tanya Lin pada Nein, melipat kedua  tangannya, masih dengan ekspresi kesal.


“Bagaimana? Berapa orang yang sudah kalian tolong?” Tanya Nein.


“Aku baru lima, itupun salah satunya binatang.” Jawab Lin yang merubah ekspresinya menjadi ekspresi sedih.


“Plus setengah poin~ Tak apa~” Jawab Nein. “Kau Nero?” Tanyanya pada Nero sambil mengambil gelasnya untuk minum.


“Sembilan.” Nein mengangkat bahu dan alisnya sambil minum, seolah mengisyaratkan “lumayan~”


“Dia buka jasa lewat internet!” Seru Lin.


Pffffftt

Seketika minuman di mulut Nein menyembur.

Uhuk Uhuk Uhuk. Nein tersedak.

“Ja..jangan bilang kau buka jasa menolong orang lewat internet?”


“Umm ya” Jawab Nero bingung. “Jasa untuk menolong orang selama batasannya berhubungan dengan dunia maya?” Tanya Nein lagi.


“Ya, kenapa? Tidak boleh?”


“Aaaah… cara itu… bukannya tidak boleh, hanya saja… aaah…” Nein memegangi dahinya, berpose seolah kecewa walau sebenarnya terlihat menjijikan.


“Apa sih?! Tidak boleh?! Aku tidak melihat ada peraturan yang melarang?” Bentak Nero kesal.

“Hmm.. cara itu… mainstream. Pasaran. Ya, caramu pasaran.” Jawab Nein memandang Nero dengan serius.


“Hah?!”


“Cara itu mainstream dan tidak efektif, seperti orang bodoh saja, memang kau bisa apa? Lebih baik kau ikut Lin mencari orang.”


“Yeaay~” Lin berteriak kegirangan.


“Haaah?! Maksudmu apa?! Aku bukan orang bodoh!” Bentak Nero yang mulai kesal.


“Pokonya kurangi menggunakan cara itu, atau kupotong poinmu karena tidak menuruti apa kata supervisor.” Nein kembali meneguk minumnya.


“HAAAAH?! Yang benar saja?!” Nero masih mencoba berdebat.

Nero adalah tipe orang yang tidak suka keluar rumah, membuka jasa di internet sudah seperti ladang emas baginya.


“Cukup.” Nein menatap Nero serius.

Dia serius.


Entah apa alasan sebenarnya, tapi Nero mencoba mengerti. Dia kembali duduk dengan tenang.


“Aku ada tugas untuk kalian. Kereta menuju XX hari ini akan mengalami kecelakaan karena terputusnya jaringan listrik. Kalian harus menolong orang yang pantas ditolong. Penilaiannya saat ini bukan berapa banyak orang, tetapi siapa yang pantas ditolong. Mengerti?”


Lin dan Nero mengangguk.


“Aku dan beberapa supervisor lain sudah berbagi gerbong, kalian akan ditempatkan di gerbong nomor enam. Gerbong yang akan mengalami kerusakan parah adalah gerbong satu dan dua, tapi itu untuk angel lain yang rankingnya diatas kalian, sekarang pergi ke stasiun XXX untuk naik kereta itu.”

 

---


Sekarang Nero dan Lin sudah berada di stasiun, menunggu kereta yang dimaksud datang.

Tugas angel adalah menolong orang, tetapi orang yang ditolong harus orang yang tepat, terkesan ironis memang. Entah apa yang dipikirkan Tuhan hingga memberi tugas seperti ini.


Nero menatap sekeliling. “Sebagian dari mereka akan mati hari ini” Gumamnya dalam hati.


“Nero! Nero lihat! Lelaki itu!” Lin menunjuk kepada lelaki besar berkulit hitam, rambut berwarna magenta dan sepatu berwarna merah-hijau, dia sangat terlihat mencolok.


“Dia akan ikut gerbong kita! Menurutmu apa dia akan mati hari ini?” Tanya Lin.


“Mati. Orang dengan selera aneh seperti itu harus mati.” Jawab Nero ketus, membalik pandangannya ke arah rel kereta.


“Eeh? Menurutku seleranya bagus.” Jawab Lin.


“Aneh. Freak.” Tegas Nero.


“Keren!”


“Aneeeh.”“Kereeeen!”


Mereka berdua kembali bertengkar.

 

---


Sementara di perjalanan, Nein melamun sendirian, memikirkan percakapan dengan kedua muridnya tadi.

“Tapi mereka joker kan? Bukan keeper, mereka akan baik-baik saja kan?” Pikirnya dalam hati.


“Semoga dia tidak menjadi seperti orang itu.” Kecemasan terlihat di wajah Nein. Entah siapa yang dia bicarakan, tapi jelas dia mengkhawatirkan kedua muridnya.


Kedua muridnya sudah berada di gerbong enam. Keduanya berdiri diujung gerbong yang berbeda, mengawasi tingkah laku orang di gerbong itu.

Pria bertubuh besar tadi berdiri di dekat pintu, sibuk dengan gadgetnya. Posisinya berdiri lebih dekat dengan Nero.


Detik menuju kecelakaan hanya tinggal… tiga..

dua…

satu…

Kereta yang sedang melaju cepat mengerem mendadak, mengakibatkan beberapa orang terlempar. Sebagian orang yang tertidur terbangun karenanya.

Sempat terasa kereta mulai miring ke kanan, akibat momentum kereta yang berhenti mendadak, namun kereta berhasil kembali ke rel.

Lampu kereta mati, sinar matahari yang masuk menjadi satu-satunya penerangan mereka.

Sementara beberapa orang mencoba menolong orang lain. Ada juga orang yang sibuk menolong dirinya sendiri. Tidak lupa kata-kata kasar keluar dari mulut mereka.


“Yang itu.. yang itu… dan yang itu… “ Dalam hati Nero menandai orang yang akan dia tolong.


Dilihatnya pria bertubuh besar tadi masih di posisi awal, masih sibuk dengan gadgetnya.

Nero menghela napas.


Saatnya kecelakaan kedua.

Karena jalur yang menanjak didepan, kereta sebelumnya yang berangkat lima menit lebih awal, mundur menabak kereta ini.


Saat itulah kereta kembali terguncang hebat. Kereta yang awalnya sudah condong ke kanan, ditambah dengan dorongan dari depan, gerbong-gerbong di kereta kini sukses terbalik ke arah kanan.

Suara teriakan orang terdengar dimana-mana. Mereka semua tertumpuk di satu sisi.


Beberapa diantaranya sudah terluka, ada yang terbentur besi, terkena pecahan kaca, ada juga yang langsung pingsan ditempat.


Lin dan Nero juga ikut terluka, tapi mereka tidak khawatir, luka mereka akan sembuh sendiri nantinya.

 

Terdengar percikan listrik sisa listrik statis yang masih ada di kereta. Listrik statis inilah yang akan berbenturan dan menyebabkan ledakan.


Sebelum semuanya terjadi, dengan cepat Nero dan Lin menuju orang yang akan mereka tolong.

Pertama-tama mereka harus bisa membuat jalan keluar, entah dari jendela atau dari pintu yang berada diatas sekarang.


Nero menolong seorang ibu yang berada di dekatnya, dia tertindih oleh tas-tas yang berjatuhan. Sempat Nero melihat ke arah pria bertubuh besar tadi, yang kini tertimpa banyak orang dan benda.


“Aku akan menolongnya kalau sempat nanti.” Kata Nero dalam hati.

Dia sibuk memposisikan tubuhnya untuk menggendong seorang ibu didekatnya. Ketika tiba-tiba Nero melihat cahaya putih. Cahaya berbentuk tangan-tangan. Tangan-tangan itu melewati tumpukan orang dan benda yang menghalangi pria bertubuh besar tadi.


Kini pria bertubuh besar itu berada diatas yang lain. Dengan terengah-engah, pria tadi melihat ke arah Nero yang terkejut melihatnya.

Tangan-tangan putih itu kembali muncul, mengangkat pria tadi menuju pintu yang ada di atas.


 “Itu apa?! Hantu?! Sihir?!” Tanya Nero merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nero melihat sekeliling, tidak ada yang memperhatikan pria tadi. “Wait, apa hanya aku yang bisa melihatnya?!“ Dalam hati Nero masih takjub dengan apa yang dia lihat.

 

Dengan kekuatannya, pria tadi membuka pintu kereta. Kaca pintu kereta berjatuhan, melukai orang-orang dibawahnya, tapi pria tadi tidak peduli, dia melompat keluar dari kereta.


Nero bersama beberapa orang yang sudah bisa berdiri, saling membantu mengeluarkan satu sama lain.

Banyak orang berebut minta dikeluarkan, tapi Nero harus melaksanakan tugasnya. Dia memilih mengeluarkan sebagian orang saja.


Sama halnya dengan Lin yang ada di sisi lain kereta, dia berhasil memecahkan kaca untuk menyelamatkan orang. Ada beberapa orang yang juga berusaha keluar dengan caranya sendiri. Termasuk orang-orang yang seharusnya tidak keluar.


Setelah semua orang keluar, Nero meminta mereka lari menjauh dari kereta. Orang-orang berlarian menjauh. Kereta berhenti di daerah perbukitan dimana banyak tanah lapang, asalkan mereka menjauh, seharusnya itu sudah cukup menyelamatkan mereka dari ledakan.


Nero dan Lin mengatur napas mereka, saling berpandangan, kemudian lari kembali ke arah kereta.

Ledakan sebentar lagi terjadi, sebagian orang sudah berlarian, termasuk orang yang seharusnya mati. Maka bagaimana cara mereka mati?

Ledakan mengakibatkan banyak benda terlempar, dalam kecepatan tinggi, disertai panas dari gesekan dengan benda lain. Maka apabila salah satu orang yang sedang berlarian terkena pecahan itu…


Boom~

Kereta meledak.


Membakar seisi kereta, termasuk Nero dan Lin yang saat ledakan terjadi, berusaha mengarahkan pecahan ledakan ke orang yang tepat.


Nero dan Lin tentunya ikut terbakar, tapi lagi-lagi mereka tidak khawatir, mereka akan sembuh dengan sendirinya nanti.

 


Seusai ledakan, Lin dan Nero keluar dari kereta. Masih dengan tubuh yang sebagian terbakar.

Melihat beberapa angel lain yang juga melakukan hal yang sama. Mereka berjalan berkumpul.

“Wuah~ Ledakannya besaaar, ini akan ramai di berita nanti” Kata salah satu angel lain yang ikut berkumpul.


“Iya! Seru sekali!” Kata angel yang lainnya.


“Seru?” Tanya Nero dalam hati, keheranan dari sisi apa mereka melihat kejadian ini seru? Ini merepotkan!


“Nero kau tidak apa-apa?” Tanya Lin yang sibuk mengelilingi Nero, memastikan lukanya sembuh.

Nero hanya mengangguk.


“Tak apa~ Lukamu akan sembuh dalam semalam” Kata yang lainnya.


“Dasar amatiran, masih saja ada yang seperti kalian” Celetuk salah satu angel lain yang berjalan mendekati. Sekarang ada beberapa angel lain berkumpul dengan mereka. Mereka terlihat tidak terluka.


“Wuah kalian hebaaat, tidak terluka sama sekali!”


“Tentu saja, ranking kita berbeda.” Kata salah satu dari mereka sambil mengibaskan rambutnya.

Sepertinya mereka angel yang rankingnya diatas Nero dan Lin, entah bagaimana, mereka berhasil mengeluarkan orang-orang yang mereka pilih dan menahan orang-orang yang memang harus mati.


“Hey, orang-orang sudah mulai berkumpul, sebaiknya kita pergi dari sini.”


“Ok”


Sebagian dari kami mengangguk, kami berpencar berlarian ke segala arah, berusaha agar tidak ada manusia yang melihat kami.

 


Nero dan Lin berlari ke arah perkebunan, berencana untuk bersembunyi sementara disana, hingga aman dan tubuh mereka pulih, baru mereka akan kembali ke rumah.


“Ahaha, tanganku sudah pulih~” Kata Lin sambil menunjukan tangannya pada Nero.


Nero hanya mengangguk. Ada yang mengganggu pikirannya.


“Kau kenapa Nero? Ada yang sakit?” Tanya Lin lagi.


“Apa mungkin… kau menyelamatkan orang yang seharusnya tidak kau selamatkan?!” Lin terkejut. Mendekatkan mukanya ke muka Nero.


“Bukaaaan” Nero menjauhkan muka Lin.


“Terus kenapa dong? Kenapa? Kenapaa?” Lin terus merengek manja.


“Berisik. Kita pulang sekarang!” Nero kembali berjalan, disertai Lin yang masih cerewet menanyakan apa yang dia pikirkan.


Nero berhasil mengalihkan pembicaraan dengan Lin, namun tetap saja banyak pertanyaan muncul di benaknya.

 


Sesampainya di rumah, Nein sudah tidak ada. Tentu saja, supervisor memang lebih banyak pekerjaan, jadi tidak setiap saat bisa bertemu. Masalahnya, lalu siapa yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Nero?

Mengenai siapa lelaki bertubuh besar itu? Apa tangan-tangan putih itu? Apa dia angel? Tapi dia hanya menolong dirinya sendiri. Apakah itu yang namanya hantu? Apa bisa hantu memegang benda padat seperti saat dia membuka pintu kereta dengan paksa?


Apapun itu, ada mahluk lain yang belum Nero tahu, tinggal bersama mereka, dibawah satu langit, diatas satu bumi.

 

Related Posts

See All
Keinginan Duniawi Menutup Hati

Mengejar Kebaikan Bukan Satu-Satunya Cara Untuk Mencapai Kebahagiaan Sempurna 💎💎💎 Permulaan cerita diawali penjabaran nuansa klise....

 
 
Angels in the City

Lin berjalan memasuki area taman, mencari orang yang memerlukan bantuan. Cuaca cerah membuatnya bergairah dalam menunaikan pekerjaan....

 
 
 
Friends

“Nero, gue mau pergi ke taman dulu, ya! Lu ikut, gak?” Pihak yang baru saja dipanggil namanya hanya menengok sebentar. Melihat temannya...

 
 
 

Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page