top of page

Day 3

  • Writer: Tri
    Tri
  • Mar 3, 2024
  • 7 min read

Updated: Nov 4, 2024

 

“Ini seharusnya cerita tentang kita, bukan tentang Zero!”

Lin dengan kedua tangan di pinggangnya, berteriak pada Nero yang sejak tadi masih berkutat dengan misi-mencari-segala-info-ttg-zero nya.


“Tokoh utama juga punya tokoh yang dia idolakan, Lin.” Jawab Nero tanpa melepas pandangan dari gadgetnya.


“Omong kosong! Tokoh utama itu harusnya jadi pusat cerita! Lagipula~ tokoh utamanya kan aku! Seharusnya aku yang paling menonjol”


“Menonjol pffft, kau kurang sering nonton sinetron, bahkan satpam desa saja bisa dapat jatah tampil lebih banyak dibanding tokoh utama.”


“Hah? Satpam desa?”


“Makanya jangan banyak keluar rumah, lebih baik kau perbanyak nonton sinetron di tv, lebih realistis pfft.”


“Eh? Masa?! Kau tidak bercanda?”


Nero hanya menatap Lin yang ekspresinya sangat bersemangat sekarang. Tatapan lin penuh semangat bagaikan Nero adalah ayah yang bilang ‘Besok kita liburan ke pantai~’ pada anaknya yang berumur 5 tahun. 


“Aaah, jadi dia pikir dari tadi itu aku serius?” Nero bergumam dalam hati. ‘Kecerdasan’ Lin dalam menangkap mana yang bercanda dan mana yang bukan memang sangat luar biasa. Entah itu harus disebut polos atau bodoh.

 

Nein berdiri di depan tempat tinggal Nero dan Lin, sambil menutupi hawa keberadaannya, Nein mendengar semua percakapan mereka sejak tadi, bisa dibilang, sejak hari pertama. Nein adalah tipe posesif yang selalu ingin tahu segala yang muridnya lakukan.

 

“Kalau kau lakukan itu, kau bukan lagi angel!”
“Lalu kau mau apa? Tuhan membiarkanku melakukan hal ini, berarti dia setuju denganku.”
“Karma tidak akan datang saat itu juga, Zero, kau tahu itu.”
“Tergantung bagaimana cara kau menyikapi karma, aku ini agak M, kau tahu kan~”
“Berhenti bercanda! Ini bukan saatnya!”
“Ya, ini saatnya KAU yang berhenti bercanda, kau tidak punya hak apapun untuk menghentikanku, Nein.”

 

Percakapan tadi masih jelas teringat di benak Nein, kata demi kata. Hari itu hari terakhir dia bertemu Zero, sejak hari itu dia sangat berharap untuk tidak bertemu lagi dengannya. Namun lihat, sekarang salah satu muridnya resah karena Zero.

 

Tenang Nein, jangan bawa urusan pribadi ke urusan pekerjaan, tenang..tena- TAPI INI ZERO. Dia bisa saja ada di dekat Nero sekarang! Nero yang tidak berhenti mencari info tentangnya bisa menjadi sasaran empuk! Lalu bagaimana? Bagaimana caranya membuat Nero lupa tentang  Zero? Bagaimana?

 

Ting tong.

Bel rumah Lin dan Nero berbunyi.

 

Paket lagi. Untuk Lin lagi.

Kali ini isinya boneka beruang dengan surat lagi. Ini sudah hari keempat sejak Lin menerima surat cinta. Ya, surat cinta. Karena Lin yang terlalu senang menolong orang, dia jadi menarik perhatian seseorang, hmm wajar sih... Jika saja yang tertarik dengannya bukan orang seperti ini.


Pikiran deh, kau menemukan orang yang kau suka, lalu kau cari tahu rumahnya, lalu kau kirim surat dan barang-barang aneh setiap hari? Kenapa tidak temui langsung? Lin bukan orang yang sulit diajak bicara. Prediksi Nero, pengirim surat ini antara entah memang sangat pemalu, nerd atau anggota MLM.

 

Hai,  ini aku lagi, pengagum rahasiamu.

Sudah hari kedua kau tidak keluar rumah, apa kau sedang sakit?

 

Isi awal surat cinta yang sedang dibaca Lin dan Nero sekarang. Awalnya Lin sempat menolak surat cintanya dibaca orang lain, namun dengan alasan curiga bahwa pengirimnya anggota MLM, Nero berhasil membujuk Lin berbagi surat itu. Yang kemudian Nero sesali karena selain isinya sangat sangat tidak penting, setelahnya Lin meminta penjelasan lengkap apa itu MLM. Menjelaskan sesuatu pada Lin butuh kesabaran setara mengambil kitab suci ke barat, jadi, yaa…

 

Kalau kau sakit, lebih baik kau istirahat yang banyak, jangan sampai lupa makan. Jangan takut banyak makan! Aku akan tetap menjadi pengagum rahasiamu ko hehe ^q^>

Oh iya, kalau kau sudah sehat, rencananya minggu ini aku ingin mengajakmu ke sebuah acara di Mall XXX.

Bersama surat ini, sudah kusertakan juga tiket masuknya untukmu. Akan kutunggu kau jam 10 di depan pintu masuknya.

Acaranya pasti seru! Akan kubuat kau menikmati acaranya!

Semoga cepat sembuh, datang ya! :DDDD

 

“Eww, siapa yang mau datang?! Pergi ke acara tak jelas dengan orang tak jelas?!” Nero melempar suratnya.


“Mmm… di tiketnya tidak tertulis MLM, bukan acara MLM kan?” Lin masih sibuk mengamati tiket yang datang bersama surat itu.


“Coba kulihat.” Nero mendekat, ikut membaca tiket itu. “Hmm… Comic Convention Fest? Orang itu nerd! Aku tahu dia nerd!” Teriak Nero.


“Nerd? Sama dengan… otaku?” Lin baru belajar arti kata itu beberapa hari yang lalu. Tepatnya sejak dia mulai menerima surat ini.


“Iya! Bah, dia mengajakmu kencan ke Comicfest?! Manusia macam a-“


“Ken..kencan?!”


Ups, sepertinya Nero keceplosan.


“Jadi dia mengajakku kencan?!” Mata Lin kembali bersinar-sinar.


Nero berkeringat dingin. Dia harus jawab apa?! Ya ini memang pasti kencan, tapi kalau dijawab iya, ini bocah ingusan pasti merengek ingin kencan sebagaimanapun Nero tidak setuju. Dijawab tidak, tak mungkin juga, surat ini sudah melampirkan tiket masuknya, ini sudah bukti otentik! Jawab apa jawab apa jawab apa….


“Yes, Mademoiselle~” Jawab Nein yang entah sejak kapan ada disitu. Berdiri menunjuk Lin sembari berpose diantara cahaya bulan yang masuk melalui jendela


“Yaayyy ada yang mengajakku kencan! Yaaay aku mau kencan!” Lin meloncat kegirangan. Sedangkan Nero hanya bisa menghela napas menahan amarah.”


“Neiiiiinnn~!!!” Geram Nero.


“Yes~?” Nein menjawab tanpa rasa berdosa.


“Kenapa- kau- Lin- kencan- Arrrrrghhhhh!” Nero segera berlari masuk kamar mandi, memasang sumbat wastafel, menyalakan air hingga penuh, kemudian berteriak didalamnya.

Inginnya sih teriak langsung sekeras-kerasnya, tapi dia sudah pernah ditegur pemilik rumah ini, yang merupakan tetangganya, karena terlalu ribut. Mau semarah apapun, Nero harus tetap berkepala dingin. Jadi dia memasukkan kepalanya ke air dingin. Biar dingin. Kan ena.


“Sudah dingin?” Tanya Nein yang kini berada di pintu kamar mandi. Pertanyaannya dijawab oleh lemparan handuk oleh Nero.


“Pengirim surat itu mencurigakan, bisa jadi dia orang jahat!” Nero mengintip ke belakang Nein, mencari keberadaan Lin, dia tak mau Lin marah mendengar perkataannya.


“Lin sedang keluar, aku minta dia cari baju baru untuk kencan nanti.”


“Nein! Ini sudah malam! Bahaya! Minggir!” Posisi berdiri Nein menghalangi Nero keluar dari kamar mandi.


“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Nada bicara Nein mendadak berubah serius. “Lin akan baik-baik saja, aku yakin dia hanya akan tersesat si perempatan nanti.”


“Itu lebih bahaya!” Teriak Nero


“Ini tentang Zero.”


Ekspresi Nero seketika berubah. "...!!?"


“Kau ingin tahu tentang dia kan? Datang ke area kosong di sebelah jembatan XXX, tunggu disitu, kau akan mendapatkan sesuatu disana. Kalau bisa datang sendirian, disaat Lin kencan nanti misalnya, kau tidak berencana mengikuti mereka kencan kan?”


“Kau pikir aku akan tinggalkan Lin dengan orang aneh itu? Aku bisa datang ke jembatan itu di lain waktu.”


“Tidak Nero, hanya minggu besok, kau tidak bisa datang ke jembatan itu di lain waktu.”


“Kenapa? Ada apa dengan minggu besok?”


“Kau akan tahu sendiri nanti.”


“Kalau begitu kenapa tidak langsung besok?“


“Aku tahu kau memikirkan Zero akhir-akhir ini, dan aku tahu kau tak akan berhenti sampai kau mendapatkan sesuatu, kan? Minggu besok adalah satu-satunya kesempatanmu, namun setelah ini, jangan lagi mencari apapun tentang Zero”


“… Kau bertindak seolah kau mengerti aku, tapi sepertinya kau tidak mengerti. Zero itu adalah sosok idolaku, inspirasiku, aku tak akan berhenti hanya karena kau larang. Lagipula kalau kau tahu sesuatu tentang Zero, kenapa tidak kau beritahu aku langsung?”


Nein tidak melepaskan kerutan diantara kedua alisnya. Dia mulai berpikir dia salah memberikan informasi mengenai lokasi tadi, sekarang Nero hanya bertambah penasaran. Sebelah tangan memegang dagunya sementara tangan satunya menopang tangan yang lain.


“Kau… cari Lin, bawa dia pulang, kita lanjutkan ini nanti malam.” Nein mundur melangkah dan hilang di kegelapan malam.


“Nein!” Berusaha mencegah namun terlambat, Nein sudah pergi. Kini Nero bergegas keluar rumah mencari Lin dan membawanya pulang. Seperti yang diduga, Lin tersesat hanya berputar-putar di perempatan. Nero berhasil membujuknya pulang.


Diperjalanan pulang Nero berusaha menanggapi setiap cerita Lin dengan berbagai candaan walau pikiran Nero terpaku pada perbincangannya dengan Nein.


 

Malam tiba, Lin sudah berpamitan untuk tidur, disusul dengan Nero yang menutup lemari tempat tidurnya. “Mana Nein? Katanya dia akan melanjutkan perbincangan?” Gerutu Nero dalam hati.


“Hei” Sapa Nein yang sudah duduk di ujung kaki Nero.


“Huh?! Sejak kapan-“ Kaki Nero tak sengaja mengenai wajah Nein.


“Hey! Kakimu kena mukaku!”


“Kau kan bisa mengetuk lemariku dari luar!”


“Ah, ide bagus!”


“Bodoh! Rasakan tendangan seribu kaki!” Nero menendang-nendang Nein yang tersudut disitu.


“Time out! Time out! Ayo bicara diluar!”

 


Setelah memastikan Lin benar-benar sudah tertidur, mereka berdua menuju ke halaman rumah.


“Tolong pakai baju Nein, aneh rasanya melihat dua orang pria, yang satunya telanjang, berada diluar malam-malam begini.” Kata Nero sambil menatap Nein dengan sinis.


“Maksudku bicara diluar itu diluar lemari, bukan diluar rumah.”


“Kau bisa membangunkan Lin nanti, langsung saja ke masalah intinya.”


“Nero, apa yang kau ketahui tentang Zero?”


“… Nein, pakai bajumu.”


“Berhenti memerintahku! Aku ini supervisormu!”


“Tapi kau membuat percakapan ini awkward!”


“Apa? Kau merasa terganggu dengan tubuh indahku?”


“Aku terganggu dengan otakmu. Demi apapun pakai bajumu!”

Nein berdecak. Menggunakan kekuatannya, kini dia memakai sebuah kaus bertangan panjang dengan celana jeans panjang lengkap dengan sandal swallownya. <<merek ini penting.


“Kau membuatku menyia-nyiakan kekuatanku, Nero, suatu hari nanti akan kau bayar semua ini.”


“Masabodo. Intinya, aku mulai membicarakan Zero akhir-akhir ini karena di hari pertemuan pertama, aku dan Lin sempat bertemu dengannya, itupun di lift, hanya percakapan kecil.”


“Ya aku tahu, Lin cerita tentang itu.”


“Lin cerita?!”


“Dia khawatir denganmu bodoh! Kau tidak berhenti membicarakan Zero!”

Nero hanya terdiam, dia mengakui itu.


“Zero adalah temanku, dulu.” Lanjut Nein. “Aku dan dia sama seperti kau dan Lin sekarang, memiliki tujuan yang sama. Namun beberapa tahun yang lalu, karena seorang  manusia, dia berubah.”


Host nya?”


“Ya, sampai sekarang akupun tak tahu apa yang hostnya minta. Zero selalu mudah bercerita denganku, tapi sejak host yang itu, dia tak pernah cerita apa-apa lagi. Aku sempat mendengar rumor tentangnya, namun aku berusaha acuh. Hingga suatu hari aku bertemu langsung dengannya dan …bisa dibilang sekarang aku bisa percaya kenapa rumor-rumor itu ada.” Nein menjelaskan. “Aku tidak mau kau mengikuti jejaknya, Nero. Karenanya kuminta kau pergi ke jembatan itu, aku ingin kau tahu bagaimana lingkungannya sekarang.”


“Zero tinggal di bawah jembatan? Di..dia homeless?!”


“Bukan seperti itu! Kau akan tahu nanti. Kalau kau sudah mendapat sesuatu dari tempat itu, kuminta kau berhenti mencari info tentangnya. Karena apapun yang kau dapatkan nanti, itu pasti bukan sesuatu yang baik.”


“Bagaimana kalau aku malah kembali terus kesana?”


“Setelah melihat apa yang mungkin akan terjadi? Aku rasa tidak.”


“Kau yakin?”


“Kau tidak akan meninggalkan Lin seperti Zero meninggalkanku kan?”

Pertanyaan yang tidak diduga oleh Nero.

Walaupun Lin lebih sering membuatnya kesal, tak pernah terpikir olehnya untuk meninggalkan Lin, dengan analogi itu, Zero yang meninggalkan Nein tidak terlihat menarik baginya. Dia tertarik dengan Zero karena kekuatannya yang bisa melayani host yang luar biasa, tapi apa arti kekuatan kalau kau kehilangan sahabatmu untuk itu?


Malam ini berakhir disini. Nero menyanggupi persyaratan yang Nein berikan untuk tidak datang ke jembatan itu selain hari yang dijanjikan. Tinggal dua hari lagi.

Related Posts

See All
Keinginan Duniawi Menutup Hati

Mengejar Kebaikan Bukan Satu-Satunya Cara Untuk Mencapai Kebahagiaan Sempurna 💎💎💎 Permulaan cerita diawali penjabaran nuansa klise....

 
 
Angels in the City

Lin berjalan memasuki area taman, mencari orang yang memerlukan bantuan. Cuaca cerah membuatnya bergairah dalam menunaikan pekerjaan....

 
 
 
Friends

“Nero, gue mau pergi ke taman dulu, ya! Lu ikut, gak?” Pihak yang baru saja dipanggil namanya hanya menengok sebentar. Melihat temannya...

 
 
 

Comments


© Copyright

 © Akuma39

bottom of page