Day 4
- Tri

- Mar 3, 2024
- 7 min read
Updated: Nov 4, 2024
Hari yang dijanjikan telah tiba. Mereka sudah berada di tempat yang dijanjikan. Lin disambut oleh seorang nerd berkacamata dengan tas besar berhiaskan pin dan gantungan gambar 2D. Rasa khawatir Nero semakin bertambah. “Pria ini tak akan berbuat hal aneh-aneh pada Lin kan?” Tanyanya dalam hati sambil menusuk pria tadi dengan tatapan tajam dari ujung kepala ke ujung kaki.
“A..aku tidak akan berbuat macam-macam!” Kata pria tadi seolah membaca pikiran Nero.
“Tenang saja Nero, kita hanya akan bersenang-senang ko, ya kan~?” Tanya Lin sambil mengarahkan senyumnya pada pria nerd tadi. Seketika wajah pria nerd itu memerah, memperlihatkan sikap salah tingkah. Hal itu hanya menambah rasa kesal Nero. Dia berdecak.
“Baiklah, aku pergi dulu.” Nero membalik badannya. Berusaha meninggalkan semua rasa khawatirnya.
“Semangat kerjanya Nero~” Teriak Lin mengiringi kepergian Nero.
Nero memang berbohong pada Lin, dia beralasan hari ini dia ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Selain ingin Lin menikmati kencannya, dia juga tak ingin Lin khawatir karena tidak ingin melibatkan Lin lebih jauh.
Kini Nero sampai di jembatan, dia berdiri di salah satu sisinya, menatap ke bawah. Pemandangan rerumputan luas dipinggir sungai terpampang disitu. Tiga puluh menit, satu jam, tidak ada apa-apa terjadi. Nero yang tak sabaran memutuskan untuk turun ke bagian bawah jembatan, sekedar memastikan ada apa disana.
Dibawah jembatan dipinggir aliran sungai terdapat jalan beton dengan pagar besi setinggi satu meter. Jembatan ini sebenarnya tidak terlalu lebar, maksimal hanya selebar enam mobil bisa berada bersamaan di atasnya. Tapi tanpa adanya penerangan, hanya sedikit bagian jalan beton yang terlihat. Seperti ada sesuatu di tengah jembatan yang menghindari matahari menembus ke sisi lain dari jembatan. Entah apa yang ada diujung sana.
Rasa penasaran membawa Nero berjalan masuk, dia memastikan sekelilingnya sambil menoleh ke berbagai arah. Anehnya lagi, tidak ada satupun orang disini, tidak seperti jembatan pada umumnya yang dipenuhi homeless ataupun orang-orang yang sekedar duduk dipinggir sungai. Padahal jembatan ini berada disamping mall terbesar di kota ini. Kenapa disini sepi?
Nero terus masuk, berharap dapat menjawab semua rasa penasarannya.
Belum jauh, dia merasa ada seseorang mendekat. Seseorang yang datang dari dalam kegelapan. Nero terdiam. “Itu bukan hantu atau monster atau mahluk lochness apapun itu kan?” Pikirnya. Mata Nero yang terbiasa dengan kegelapan, perlahan melihat sosok yang datang mendekat. Sosok itu adalah… pria tinggi besar berambut magenta yang dia temui di kereta waktu itu!
Pria tadi menghentikan langkahnya saat menyadari keberadaan Nero.
“Kau…Kau yang waktu itu di kereta!” Teriak Nero.
“Sedang apa kau disini?”
“Aku yang seharusnya bertanya, sedang apa kau disini?!”
“Apa kau client?”
“Ha? Client?”
“Apa maumu?” Pria besar itu semakin mendekat, aura tak bersahabat terpancar darinya.
“Aku mencari Zero!” Jawab Nero tegas. “Ha! Belum tentu juga dia tahu siapa Zero” Pikir Nero.
Namun dia salah. Dengan cepat pria tadi bergerak, dia menghalangi Nero dengan salah satu tangannya ke tembok. Yup, posisi kabedon yang terkenal itu, namun kali dengan situasi yang sama sekali tidak menyenangkan.
“Mau apa kau dengan Zero?”
“Kau tahu Zero?!”
“Apa yang akan kau lakukan kalau aku tahu?”
“Apakah kau benar-benar kenal Zero?” Tanyanya lagi.
“Kelihatannya kau tidak terlalu dekat dengan Zero ya, pendek.”
“Hah?! Pendek katamu?! Kau dan style mu yang norak! Terutama sepatu-“
Omongan Nero terpotong oleh pukulan tepat di wajahnya. Aah sepertinya pria tadi sensitif kalau style nya disinggung.
Pria tadi menarik jaket Nero, mendekatkan wajahnya. “Bilang apa kau tadi?”
“N..norak.”
Berbagai pukulan mendarat di tubuh Nero. Sangat terasa bahwa pria ini bisa bela diri. Pukulannya tepat sasaran. Nero terus berusaha bertahan, dia ingin mengulur waktu, hingga Zero datang atau dia mendapat informasi apapun itu. Tubuh Nero dihantamkan ke dinding, tubuhnya yang sudah tidak bisa bergerak lagi langsung jatuh lunglai ke lantai. Namun tubuh Nero perlahan menyembuhkan dirinya sendiri, seperti biasanya. Hal ini terlihat oleh pria tadi.
“Oh, self healing, kau memang bukan manusia rupanya?” Tanyanya sambil mengangkat kepala Nero.
“Kau…juga..dengan tangan putih…?” Nero menjawab terengah, tubuhnya masih berusaha menyembuhkan luka-lukanya.
“Kau bisa melihatnya?” Pria tadi menunjukkan ekspresi kaget. Dia diam sejenak kemudian berkata “Akan ku buat kau tak bisa lagi melihatnya.” Pria tadi mengangkat Nero, bersiap untuk melakukan sesuatu pada mata Nero.
“Jangan, dia hanya angel level bawah.” Sebuah suara muncul dari arah luar. Itu Zero.
“Angel? Sama denganmu?” Tanya pria besar tadi sambil menurunkan tubuh Nero.
“Pft. Jangan samakan aku dengan apapun, aku tidak ada duanya.”
“Terserah.” Dilemparkannya tubuh Nero ke lantai.
“Hmm iya benar, aku pernah bertemu dia sebelumnya.” Kata Zero sambil memandangi tubuh Nero.
“Kalian saling kenal?” Tanya pria bertubuh besar.
“Tidak, dia mengenalku itu pasti. Tapi aku tak mengenalnya. Kenapa dia disini? Mencoba masuk?”
“Dia mencarimu.”
“Siapa yang menyuruhmu kesini nak?” Tanya Zero pada Nero.
“Ne..in..” Kata Nero terbata-bata, berharap Zero mengerti maksudnya.
“Nein?” Tanya pria besar tadi.
“Nein? Nein?! Ya ampun! Ahahahaha. Lucu sekali. Ahahaha.” Zero terus tertawa. Tangannya mengayun mengisyaratkan pria tadi untuk pergi.
Pria besar tadi mengetahui ini saatnya dia untuk pergi, setelah meludah tepat di sebelah Nero, pria itu berjalan pergi. “Ajarkan dia untuk bicara yang baik.”
“Ya ya, hati-hati dijalan.”
Perkataan Zero hanya dibalas acungan jari tengah oleh pria tadi.
“Ahaha reaksinya memang selalu menyenangkan. Oke sampai dimana kita? Siapa namamu?” Tanya Zero sambil memposisikan dirinya. Dia jongkok didepan tubuh Nero yang tergeletak.
“Nero” Tubuh Nero yang berangsur pulih membuatnya bisa berbicara kembali.
“Mana temanmu satunya? Yang perempuan itu?”
Mendengar Lin akan dilibatkan, Nero memulai analisa dalam pikirannya. Zero terlihat sangat akrab dengan pria besar tadi. Mengingat percakapannya dengan Nein waktu itu, bagaimana kelakuan pria besar tadi, juga sikap Zero sejak tadi yang tidak terlihat menunjukan rasa kaget atau simpati melihat kondisinya. Nero tahu Zero yang ada di depannya bukan sesuatu yang bisa dianggap idola. Zero yang sekarang sudah bisa disebut musuh. Tentunya Nero tak bisa memberitahu lokasi Lin begitu saja.
“Kau mau apa?” Tanya Nero berusaha bangkit ke posisi duduk.
“Kalian murid Nein kan? Aku ingin menjamu murid sahabatku sebaik mungkin.”
“”Bisa-bisanya kau memanggil Nein sahabat namun kau meninggalkannya! bull****”
Seketika itu juga sebuah asap hitam mengelilingi kaki Nero, memutar kedua kakinya ke arah yang salah.
“Aaaaargghhhhhh” Nero berteriak kesakitan.
“Kau tahu, bahkan kemampuanmu menyembuhkan diri akan memakan waktu lama untuk menyembuhkan ini. Juga yang ini~”
Asap hitam tadi kini menjalar ke kedua tangan Nero, memutar keduanya ke arah yang salah. Nero kembali teriak kesakitan.
“Ah~ tinggal lehernya. Apakah Nein akan datang disaat kuputar lehermu?”
Nero menjawabnya dengan tatapan marah.
“Kau tahu, kau bisa menggunakan kekuatanmu loh, aku kan bukan manusia.”
Agak mengesalkan memang diingatkan oleh musuh, tapi perkataannya memang benar. Angel dilarang menggunakan kekuatannya untuk melukai manusia diluar misi, namun Zero bukan manusia. “Aku bisa melawannya” pikir Nero. Pertama-tama Nero memfokuskan kekuatannya pada proses penyembuhannya, setelah itu dia bisa fokus untuk kecepatannya untuk lari dari sini. Setidaknya itu yang dia pikirkan, namun kenyatannya, setiap kali dia berusaha menyembuhkan diri, Zero akan memperparah lukanya.
“******! *****! ****!”
Sumpah serapah mulai keluar dari mulut Nero yang frustasi. Kekuatannya terus keluar, namun rasa sakitnya semakin parah.
“Wao, apa Nein yang mengajarimu semua itu?” Tanya Zero yang sekarang duduk didepan Nero sambil memainkan gadgetnya.
Marah, kesal, sakit, sedih, semua emosi negatif terus berkembang dalam diri Nero. Dia ingin melepaskan diri, dan sekali saja, hanya sekali, memukul idolanya itu, tapi untuk menggerakkan tubuhnya saja sulit, semuanya terasa semakin sakit.
“Kau tahu, sepertinya Nein sudah diluar, dia tidak bisa masuk karena tempat ini ku segel tadi. Bagaimana kalau… kubuka segel tempat ini, tapi kau beritahu aku dimana tempat teman perempuanmu?”
“********!” Nero hanya membalasnya dengan makian. Memberi tahu posisi Lin adalah pilihan terburuk, dia tak tahu apa yang akan Zero lakukan pada Lin.
Zero mendekat dan memegang kepala Nero.
“Ah~ di Comic Convention Festival~ dengan seorang nerd~ ok”
Fuck! Zero membaca isi ingatannya!
Nero berusaha meronta, entah akan berarti atau tidak, tapi dia sungguh tidak ingin Lin terlibat.
“Tenanglah~ Aku ini pria yang memegang janji, jadi…” dalam sekejap mereka berdua kini berada di rerumputan di luar. Nein sudah ada disitu.
“Nero!” Teriak Nein yang menyadari kedatangan mereka. Segera Nein berlari menghampiri muridnya. Saat itulah Zero menghilang dengan senyum di wajahnya.
“Nero! Apa yang dia lakukan padamu-“
“Lin! Dia mengejar Lin!”
“Kau lebih butuh pertolongan!”
“Dia membaca ingatanku! Dia tahu Lin dimana!”
Saat itu juga Nein terbelah menjadi dua, yang satu menghilang pergi mencari Lin, yang satunya lagi tinggal untuk mengobati Nero.
Nero terengah dengan tubuh yang masih babak belur, Nein berusaha menyembuhkannya secepat mungkin.
“Kau memasukanku ke kandang harimau, bodoh!” Teriak Nero pada Nein.
“Aku pikir kau tidak akan berinteraksi dengannya, aku pikir kau hanya akan mengamatinya dari jauh.”
“Ouch.. tanganku.”
“Makanya, ku pikir kau tidak akan berinteraksi!” Nein membantu Nero memposisikan tubuhnya.
“Lin… Kau belum menemukan Lin?”
“Sudah, dia sedang kucoba bawa kemari.”
“Jangan! Kau pikir apa yang akan dia lakukan bila melihatku begini? Ajak dia pulang.”
“Oke, aku akan bawa dia pulang, sekarang kau tenangkan dirimu, aku akan berusaha mempercepat proses penyembuhanmu.”
Nero berusaha menenangkan diri dengan merebahkan tubuhnya ke posisi yang lebih nyaman. Tangan dan kakinya masih sakit, namun bukan itu yang paling mengganggu.
“Nein… Zero tidak seperti yang kuduga.” Nero berkata perlahan. Terlihat ekspresi sedih di wajahnya. “Dia tidak seperti itu dulu, dia berubah.”
Dia memendam rasa curiga pada supervisornya. Dia merasa hari ini seperti sebuah skenario, Lin terpisah darinya, dia sendirian, bertemu langsung dengan Zero, bahkan hingga seperti ini. Kalau saja dia tidak kemari hari ini, semua ini tidak akan terjadi.
“Saat kau memintaku datang kesini hari ini… apa kau tahu Zero akan datang?” Tanya Nero.
“Oh soal itu… itu karena hanya hari ini aku ada waktu senggang.” Jawab Nein santai.
“Hah?!” Nero bertanya seolah tidak percaya. Dia sudah mencurigai Nein macam-macam, tapi orang ini…
“Yang benar saja?! Kalau kau tidak minta hari ini, ini semua tidak akan terjadi!” Teriak Nero.
“Eyy, aku ini sibuk, kau pikir aku bisa mengawasimu setiap hari hah?”
“Supervisor macam apa kau ****! ******! ****!”
“Kau juga murid *****! ****! *****! ****!”
Selanjutnya mereka terus berbalas berkata kasar. Sigh~ murid dan supervisor sama saja.
Siang berganti malam, Nero berjalan menuju rumah, Nein sudah pergi setelah menyembuhkannya tadi. Di rumah, seperti biasa dia disambut oleh senyuman Lin. Dalam hatinya Nero merasa lega, siapa yang tahu membiarkan Lin kencan dengan seorang nerd membuatnya tidak terlibat kejadian buruk yang baru dialaminya. Malam itu dia habiskan dengan mendengarkan cerita-cerita Lin. Hingga akhirnya mereka terlelap.
Malam berganti pagi, pagi dini hari, di sebuah ruangan di bawah tanah, Zero meletakkan barang bawaannya ke meja.
“Zero! Kau datang hari ini!?” Dari ruangan lain, seorang pria berambut hijau panjang menyambut Zero.
“Yup, sepertinya aku akan tidur disini.” Jawab Zero yang berjalan ke ruangan tempat pria tadi masuk.
“Kau. tidur. di sofa. titik.”
“Ya~”
“Kau mau kemana?”
“Ruang server, mengecek perangkat.”
“Jangan tidur di kamar! Kau tidur di sofa!” Teriak pria berambut hijau sambil melanjutkan pekerjaannya di komputer.
“Yes your highness!” Balas Zero sembari cuek masuk ke ruang server.
Tujuannya memang bukan ruang server, tapi ruang di dalam ruang server. Terdapat sebuah kamar tidur dengan tempat tidur luas disitu. Zero masuk dan melihat host nya masih tertidur di tempat tidur itu.
Banyak hal yang ingin Zero katakan, tapi dia hanya diam. Dia berlutut, memposisikan dirinya sejajar dengan tempat tidur, kini kedua tangannya menggenggam sebelah tangan host nya. Ekspresi Zero berubah sedih, tangannya gemetar, apa yang dia alami hari ini membawanya teringat kembali dengan masa lalu, dan itu bukan hal yang baik. “Tolong aku” Bisik Zero pada host nya.
Entah apa arti perkataannya, namun Zero saat ini tidak terlihat sama dengan Zero siang tadi. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Zero?
Comments