Day 5
- Tri

- Mar 3, 2024
- 7 min read
Updated: Feb 2, 2025
“Memang banyak mahluk lain selain kita disini.” Kata Bill sembari mengunyah burgernya.
Bill juga seorang angel, dia dan ketiga temannya sedang mengobrol bersama Lin dan Nero di sebuah restoran fast food.
“Maksudmu semacam hantu atau monster dibawah tempat tidur?” Tanya Lin.
“Tidak seperti itu.” Rubi, teman Bill, tersenyum mendengar pertanyaan Lin. “Hantu memang ada, tapi monster dibawah tempat tidur… aku tidak yakin.” Lanjutnya lagi.
“Monster itu ada guys!” Wine, masih teman Bill, berkata dengan semangat. “Aku pernah melihatnya! Sesosok bayangan hitam besar! Memiliki delapan kaki… dengan baaaaanyaaak mata… berjalan di kegelapan!” Dia berkata sambil memperagakan bagaimana gerak monster yang dia katakan.
Wine memang sangat ekspresif, terlihat dari tingkah lakunya. Gaya bicaranya pun, selalu ada sound effect yang dia keluarkan saat bercerita.
“Graooooo! Graaaaooo! Begitu suaranya!”
Kan. sound effect.
“Bohong..” Lin yang ketakutan menggeser duduknya mendekati Nero.
“Lalu menurut kalian, pria yang ku lihat di kereta itu apa?” Tanya Nero.
Nero sedang bercerita mengenai keberadaan pria besar berambut magenta yang dia lihat di kereta. Pria yang menggunakan tangan-tangan putih untuk membantunya keluar dari bahaya membuat Nero mempertanyakan apa sebenarnya pria itu. Tentu Nero tidak bercerita tentang kejadian di bawah jembatan, terlalu berbahaya menurutnya.
“Mungkin dia siluman? Atau sebenarnya dia hantu?” Jawab Yoo, teman Bill yang selalu mengenakan topi kupluk dikepalanya. “Atau mungkin… dia mengikat perjanjian dengan hantu?”
“Nah, itu bisa, banyak, manusia yang mendapat kekuatan mmm… aneh dengan mmm.. mengikat perjanjian, dengan apapun itu.” Bill menambahkan. “Bisa, itu bisa jadi.”
“Bill, kunyah makananmu hingga selesai, baru bicara.” Rubi menatap Bill dengan tatapan sinis yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Bill.
“Oh oh! Seperti kasus keluarga kanibal itu! Atau delapan anak percobaan itu!” Wine menunjuk pada Rubi, mengisyaratkan dia untuk berbicara sesuatu.
“Aku tahu tentang delapan anak percobaan itu, mereka mendapat kekuatannya dari eksperimen yang dilakukan pada tubuh mereka, ya kan?” Sahut Lin yang sejak tadi berusaha mengikuti pembicaraan. Walaupun terlihat jelas ketakutan pada wajahnya.
“Yup, case closed.” Yoo menimpali.
“Tapi aku tidak tahu soal keluarga kanibal.” Ucap Nero.
“Keluarga atau suku kanibal ada banyak sebenarnya, tapi yang ini berbeda, mereka punya kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa. Termasuk adanya dua monster, secara harfiah, dalam keluarga ini.” Rubi meneruskan ceritanya.
“Kau akan bertemu berbagai mahluk seiring waktu berjalan, kau juga akan.. hm… harus terbiasa hidup bersama mereka.” Yoo, sebagai angel dengan ranking diatas Nero dan Lin, memberi saran pada juniornya.
“Siapa tahu tetanggamu sebenarnya bukan manusia!?” Wine menambahkan. Mengarahkan tatapan misterius ke arah Lin.
“Bohoooong. Tetanggaku manusiaaaaa!!” Lin menjawab lirih.
“Kau harus berhati-hati dengan iblis, juga mahluk-mahluk dunia bawah.” Bill melanjutkan cerita setelah mengelap mulutnya dengan tisu. “Mereka tidak peduli dengan perintah Tuhan, dewa atau siapapun itu. Tujuan mereka hanya memuaskan diri mereka sendiri. Apapun akan mereka perbuat untuk membuatmu jatuh di perangkap mereka.”
“Kau punya cerita tentang mereka?” Nero meminta, berusaha menggali informasi sebanyak yang dia bisa dari seniornya.
“Tentu, dari yang pernah ku dengar…”
Cerita mereka berlanjut, enam orang angel itu terlarut dalam perbincangan yang seru. Perbincangan mengenai keberadaan mahluk lain yang memiliki cara dan tujuan hidup berbeda, namun berada di satu dunia memang selalu menjadi perbincangan menarik.
Setiap mahluk diciptakan untuk sebuah alasan, untuk menyampaikan sebuah pesan. Maka dengan variasi mahluk yang tak terhitung jumlahnya, pesan apa yang ingin disampaikan Tuhan? Lembar demi lembar kehidupan dibuka tiap harinya. Tiap hari pula hal baru ditemukan. Maka di akhir lembar nanti, hal apa yang akan kita temui? Banyak yang telah mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mungkin sekarang kau pun sedang berusaha memberi jawaban, tapi itu semua tidak berarti bagi pria ini, pria yang sedang duduk di restoran yang sama dengan keenam angel tadi, pria yang sedari tadi mendengarkan perbincangan seru mereka.
Pria ini terlihat berumur tiga puluhan, dengan rambut lurus agak gondrong sebahu, kacamata berwarna emas, lengkap dengan kumis dan jenggot minimalis menambah kesan om-om. Dia duduk sekitar tiga bangku dari keenam angel tadi, namun pendengarannya yang kuat membantunya mendengar segala percakapan mereka dengan jelas.
Secangkir kopi hitam tersaji didepannya. Tidak lama setelah perbincangan keenam angel berganti topik, dia meneguk habis kopinya dan bergegas keluar dari restoran itu. Sambil menunggu bis di halte dekat restoran, dia membuka smartphonenya, terlihat mengetik sesuatu disebuah aplikasi chatting.
--11HEAD, uma, onlyHuman is online--
[11HEAD] : “Lol mainan baru~”
[11HEAD] : [Foto enam angel tadi disini]
[uma] : “srsly? Enam anak alay?”
[uma] : “wait.. no”
[onlyHuman] : “barang bagus~”
[11HEAD] : “PRAISE ME PLZ”
[uma] : “masing2 dpt satu”
[uma] : “pink haired guy is mine”
[onlyHuman] : “rambut pink punya gw”
[onlyHuman] : “not again UMA!”
[uma] : “Fine. The one w hat then”
[11HEAD] : “SOMEONE PRAISE ME”
[onlyHuman] : “deal.”
--onlyHuman is offline--
[uma] : “anyone else? Yg lain offline?”
[11HEAD] : “SOMEONE PLZ...”
--uma is offline--
[111HEAD] : “WTF”
“Aaah sial, mereka mengacuhkanku lagi” Gumam 11HEAD, nama akun pria di halte bis tadi. Dia menghela nafas, antara sedih diacuhkan dan senang mendapat mainan baru. Mulai terpikir olehnya perangkap macam apa yang bisa dia gunakan kali ini. Sebuah bis terlihat mendekat, itu bis yang dia tunggu sejak tadi. Setelah masuk ke dalam bis, dia disambut pemandangan bangku bis yang terisi penuh oleh anak sekolah menengah yang memang waktunya pulang sekolah.
“Hei, minggir, aku mau duduk.” 11HEAD meminta salah satu anak sekolah yang sedang duduk disitu berdiri.
“Tapi aku duluan disini.” Jawab anak itu.
“Berdiri.”
Tak sanggup melihat tatapan tajam pria didepannya, anak sekolah itu berdiri, mempersilakan pria tadi duduk ditempatnya. 11HEAD segera duduk ditempat yang sudah dia ambil alih. Sambil tersenyum puas, dalam hatinya berkata “Ya ya, tugas kami memang hanya memuaskan diri sendiri. Perkataan anak di restoran tadi ada benarnya juga.”
***
“Hanya ke taman kotaaa! Ayolaaaah, kau juga tak ada pekerjaan kan dirumah?” Lin menarik-narik baju Nero yang masih tiduran dengan gadgetnya.
Supervisornya meminta dia untuk berhenti membuka jasa di internet, mungkin tak ada salahnya dia mencoba keluar rumah.
Nero bangkit dari tidurnya. “Oke. Hari ini saja.”
“Yay!” Sahut Lin dengan tawa riang.
Setelah turun dari bis, kini mereka sudah berada di taman, disajikan oleh keadaan taman yang sepi.
“Aku lupa ini weekday.” Ucap Lin.
“Bodoh.” Nero meninggalkan Lin.
“Kau mau kemana?!”
“Toilet.”
Jawaban singkat itu sudah cukup memuaskan untuk Lin, kini dia melihat sekeliling, mencari orang untuk ditolong. “Oh! Kakek tua disana itu membutuhkan uang!” Berlari ke arah seorang pengemis tua, Lin memberikan seluruh isi dompetnya. “Pria itu sepertinya kelelahan, akan kubantu!” Sekarang dia berlari ke petugas pembersih taman, berusaha membantunya membersihkan dedaunan yang jatuh. “Bapak itu kelihatan kedinginan, akan kubantu juga!” Lin memberikan jaketnya pada pemabuk yang tertidur di salah satu kursi taman.
Sementara Nero, yang sedang berusaha mencuri me time di toilet, mulai merasa khawatir. “Lin pasti berbuat bodoh lagi” Gumamnya dalam hati. Insting Nero sudah cukup kuat untuk mendeteksi kebodohan Lin, dia bergegas keluar toilet. Dia melihat Lin sedang memberikan makanan pada burung-burung di taman. Baru saja dia merasa lega melihat Lin tidak berbuat bodoh, dia terkejut dengan seorang pria yang kini mendekati Lin.
Pria berambut magenta, teman Zero yang memukulinya waktu itu!
Segera Nero berlari, mengeluarkan hawa membunuh yang cukup untuk membuat pria itu berbalik, berhenti dari usahanya menepuk punggung Lin.
“Mau apa kau dengannya?!” Sahut Nero. Pria itu hanya berdecak.
Lin yang menyadari kedatangan Nero, kini berlari kearahnya. “Nero~ Kau darimana saja? Aku mencarimu tadi”
Mengingat apa yang terjadi padanya waktu itu, Nero berkata “Diam, Lin. Pria ini berbahaya.”
Namun pria tadi malah melemaskan tubuhnya, seolah ingin menunjukkan dia tak ingin berkelahi. “Jadi dia temanmu?” Tanya pria itu.
“Tidak ada hubungannya denganmu!” Nero defensif untuk Lin.
Lin kebingungan “Dia siapa?” Tanyanya.
“Aku kesini untuk menyampaikan sesuatu.”
“Kami tak ingin terlibat lagi denganmu!” Sahut Nero.
Pria tadi terdiam sesaat, seperti berusaha menenangkan diri. Kemudian mulai berbicara lagi langsung pada Lin “Kau Lin kan?” Tunjuk pria tadi.
“Ah, ya? Ada ap-”
“Kau mau apa!” Nero memotong jawaban Lin.
Pria tadi kembali berdecak. “Seorang client memintaku menyampaikan ini…”
“Client? Menyampaikan sesuatu? Apa dia juga memiliki tugas tertentu seperti kami? Apapun dia, aku tetap harus waspada.” Pikir Nero tanpa menunjukkan sikap bersahabat.
“… client ku itu orang aneh, dia seperti anak kecil, terlalu ekspresif hingga kau bisa bilang dia autis. Dia juga tak bisa baca situasi, bisanya hanya merepotkan orang dan selalu tertawa seperti orang bodoh.” Pria tadi terdiam sesaat, memikirkan kata apalagi yang pantas mendeskripsikan Temannya itu. “… Tapi dia orang yang akan selalu ada untukmu, kau bisa mengandalkannya dalam banyak hal. Dia.. teman yang baik.”
“Teman? Client nya itu temannya? Jadi temannya yang minta dia menyampaikan sesuatu?! Cih, kuharap ini tidak buruk.” Nero tidak menurunkan kewaspadaannya.
“Intinya, dia ingin kau tahu bahwa dia menyukaimu.” Lanjut pria itu pada Lin.
“APA?!” Aura tidak bersahabat dari Nero semakin besar.
Lin memegangi pipinya yang memerah “Eeeh? Eeeeeh~ menyukaiku? Eeeh? Aku harus bagaimana?”
“Menyukai? Ini confession? Bukan ajakan perang? Apa sebenarnya yang terjadi?!” Nero bengong sesaat hingga dia menyadari reaksi Lin.
Nero mengguncang tubuh Lin dengan keras “Lin! Jangan terkecoh! Lin! ”
Pria tadi berdecak. “Hanya itu yang mau kusampaikan.” Kemudian dia berbalik pergi.
“Ah, tunggu!” Panggilan Lin menghentikan langkah pria itu.
“Huh? Lin? Kau mau apa?” Bisik Nero pelan.
“Anu.. itu.. Terima kasih telah menyampaikannya padaku. Kalau bisa.. sebenarnya aku ingin bertemu dengan orang itu… tapi tapi kalau tidak bisa, tolong sampaikan… aku akan menunggunya!”
“HAH?!” Nero berteriak kaget.
Menunggu?! Menunggu apa?! Anak ini!@#*!*&@!*
“Maksudku… siapa tahu… aku bisa menyukainya juga.” Lin tersenyum saat berkata hal itu.
Perkataan Lin hanya dibalas oleh kepergian pria tadi.
Melihat hal itu Nero mulai mengarahkan amarahnya pada Lin. “Lin!? Apa-apaan itu tadi?!!”
“Tapi ada yang menyukaiku~”
“Kau! Sadar situasinya! Pria tadi berbahaya!”
“Tapi temannya menyukaiku~”
Perkataan apapun sudah tak mempan untuk Lin.
“Sadar Lin! Kau bahkan tidak tahu siapa yang menyukaimu!”
“Tapi tapi tidakkah itu membuatmu senang? Tahu kau punya pengagum rahasia~”
“Bah! Paling hanya nerd lagi, kau menarik orang-orang aneh, kau tahu itu?!”
“A- aku menarik?!”
“Bukan itu maksudnyaa!” Nero mengguncang-guncangkan tubuh Lin hingga akhirnya dia berhenti karena kelelahan.
“Pokoknya. Kau, lupakan orang aneh tadi.”
“Eeeeh padahal dia keren, temannya pasti keren juga <3”
“Tidak Lin! Kita pergi sekarang!”
“He?! Aku masih belum selesai membantu orang!”
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Lin setuju untuk pergi hingga dia sadar dia sudah tak punya jaket dan dompet sementara uang untuk mereka pulang naik bis ada disitu. Nero memarahinya lagi, kali ini dia hanya diam mengakui kesalahannya. Mereka berakhir pulang berjalan kaki.
Siang berubah menjadi sore, mereka masih berjalan. Ditengah perjalanan, langkah Nero terhenti.
“Aw!” Lin yang sedari tadi berjalan menunduk menabrak punggung Nero. “Nero kena-“
Dia melihat tatapan serius Nero, mengarah ke beberapa meter ke depan mereka. Seorang pria berdiri disana. Seorang pria bertopi merah muda.
“Hey~ kalian ada waktu?” Tanya pria bertopi merah muda.
Pria tadi berkata sambil berjalan mendekat. Penampilannya benar-benar seperti manusia biasa, tapi ada sesuatu yang membuat Nero merasa tak nyaman melihat pria ini. Lin juga terdiam, dia yang biasanya cerewet seolah-olah ikut merasakan ada yang aneh dengan pria ini. Sama seperti perasaan disaat kau melihat ke sebuah ruangan yang gelap. Kau akan merasa ada sesuatu disana, entah apa, entah sesuatu itu ada atau tidak, tapi itu membuatmu tidak nyaman.
Sekitar dua langkah didepan mereka, pria itu berhenti. “Ahahaha, jangan tegang~”
Kalimat berikutnya yang diucapkan pria itu membuat Lin dan Nero kaget.
“Kalian... angel kan?”
Comments