top of page

Dilahap Selagi Terlelap

  • Sheville
  • May 23
  • 6 min read

Di masa syahdu dalam kecamuk badai tiada henti

Di bawah kubah kami merajut mimpi-mimpi


☃️☃️☃️


Bagaimana rasanya salju?


Paruh pertama musim dingin, serpihan es turun, jatuh di balik pegunungan putih dengan suhu rendah buat gigil kulit. Berdiri megah suatu struktur raksasa di antaranya, jauh dari pemukiman dan hiruk piruk dunia, hanya izin daripada organisasi tersohor agar seseorang bisa mengintip dibaliknya. 


Kantor penemuan raksasa? Sarang ilmuwan? Markas  penelitian illegal? Semua itu boleh dirangkum jadi satu. Menyingkap bangunan besar dibalut oleh kristal putih yang menumpuk menjadi salju tebal menaungi seluruh inci pahat konstruksi. 


Malam itu, badai cukup kuat berlalu lalang. Dokter-dokter berjas mengelilingi monitor dan alat-alat berteknologi canggih, serempak bekerja di tengah malam; ada yang mencatat, ada yang memperhatikan, ada yang sibuk dengan mesin-mesin pengecek detak jantung. Atensi mereka ialah yang berada di pusat gedung; empat kembar, delapan anak. Hadir di dalam kubah dome, dikelilingi ilmuwan haus ambisi. 


Lupakanlah ragam botol-botol obat dan alat suntik yang bertengger rapi. Abaikanlah gumaman serta ujaran penuh bahasa ilmiah yang terlontar dari para individu yang bekerja tiada letih. Bisakah kita melihat bagaimana perasaan para objek penelitian kecil yang tengah beristirahat dalam sebuah ruangan raksasa yang tak ubahnya adalah penjara itu? Masing-masing memiliki kasurnya (selain sepasang kembar yang tertidur dalam satu kasur), terpisah oleh bilik-bilik kecil.


Hanya ada dua anak yang masih belum terlelap, dikelilingi sepi, tidur menyamping selagi jantung di-monitoring. Salah satu dari mereka mengerjap, amber netranya tampak mengawang jauh sebelum membuka frasa. 


“Aku dengar samar-samar tadi dari Dokter,” ia berhenti berkata sebentar, suaranya pelan namun tetap membelah sunyi. “Katanya salju disana sedang berkecamuk hebat. Turunnya lebat. Pasti dingin, ya.”


Sang kembar yang terbaring di sebelah kasurnya bergeming, tiada tanda menunjukkan ekspresi selain mulut rapatnya bergetar. 


“..... Lantas apa bedanya dengan yang di dalam, Brat? Mau itu salju turun lebat, bunga bermekaran, atau daun lagi sibuk berguguran …. di dalam sini rasanya sama saja ….” 


Brat tercenung, sadar bilamana ucapan Pit—kembarannya—benar. Di dalam Dome yang statis, baik saat musim bergulir ataupun siang dan malam, tak terasa perbedaan signifikan nyata. Jam belajar, jam bermain, pun jam tidur semua sudah diatur Dokter di atas sana. Pemandangan serba putih-abu-abu yang modern sudah menjadi santapan mereka setiap masa. 


Brat menghembus nafas panjang dibalik masker birunya. Basa-basi pengantar tidur yang biasa ia lakukan menjadi terhenti hingga ruang kembali sunyi seketika. Suara desahan Brat terpetik di rungu Pit. Hati tergelitik merasa tak enak hati, sebab Brat sudah membuka topik untuk ritual diskusi malam ini. Mana mungkin Pit mengabaikannya? 


“Ini perandaian saja ya,” Pit bersuara, jemari meremas bantal yang ia pakai di bawah kranium tipisnya. “Kalau, ‘kalau’ nih …. suatu saat kita bisa keluar dari sini, lalu bisa main salju tanpa batasan apapun ….. Kamu mau ngapain?”


Pit berusaha memutar-balikkan nuansa pembicaraan, merajut tema perandaian yang klasik dibicarakan ia dengan saudara-saudara lain saat senggang. Tidak ada salahnya kan, untuk berandai bagi anak-anak yang terkurung tanpa kebebasan?


“Tanpa batasan apapun ….?” Brat bertanya balik.


“Yeah, pokoknya tidak ada batas fisik, tidak ada batas waktu. Suka-suka lah.”


Brat diam sejenak, senggang lama hingga pelupuk netra menyipit senang. 

“Sepertinya aku mau menjatuhkan diri saja di atas salju …. “ Suaranya lembut seyogyanya anak-anak yang tengah menceritakan mimpi-mimpi besar. “Aku akan tidur di atas salju tebal, menggerakkan tangan dan kakiku sampai bisa kebentuk snow angel.”


Pit sumringah di balik kain penutup mata. Snow angel! Keduanya pernah membaca tentang itu, terbentang penuh gambar dan tulisan dalam salah satu buku pemberian Dokter di sesi belajar. Cetakan di atas salju selayaknya sayap, terbentuk dari pergerakan kaki-tangan ke atas dan ke bawah selagi berbaring ria. 

“Oh…! Aku juga mau ikutan!” Pit berseru kecil. “Aku akan buatkan delapan snow angel untuk kita semua.”


“Jadi masing-masing dapat satu?” Brat bertanya memastikan.


“Yup, aku buat masing-masing satu …. jadi kita semua punya ‘sayap’. Kalau kita sama-sama berbaring di atas, pasti terlihat seperti sekelompok burung yang terbang di hamparan awan putih ….”


Ujaran Pit disusul kekehan kecil dari bilah bibir dua anak itu. Brat memejam mata senang, Pit mengukir senyum hangat, impresi sama-sama saling melalang buana pada reka adegan yang membahagiakan. Bermain bersama saudara-saudaranya di atas salju kini resmi menjadi daftar keinginan mereka ketika keluar dari Dome suatu saat nanti.


Gelak kecil perlahan pudar, Brat buka mata lantas iseng menyelutuk asal.


“Jadi kepikiran mau nyobain salju, deh.”


Tanda tanya muncul di kepala Pit saat dengar celetukan dari kembarannya.


“Nyobain salju? Nyobain tuh maksudnya gimana? Di makan, kah?”


“Yup.”


Pit mengernyit, jelas ia tak setuju pada keinginan Brat.


“Hei, kamu lupa kah, Brat? Salju itu kan terdiri dari zat-zat yang kotor. Udah gitu dingin pula. Kalau dimakan, nanti organ di dalam tubuhmu bakalan rusak,” ulas bibir Pit jadi cemberut kecut. “Kalau kamu sampai memakan salju, aku bakalan paksa kamu memuntahkan semuanya. Pokoknya tidak boleh!” 


Pit tidak bisa melihat Brat yang diam-diam tersenyum iseng di balik kain penutup mulut.


“Apa benar kamu bisa membuatku muntahin saljunya, Pit?” Brat sedikit memelintir ujung poninya. “Salju kan benda cair yang memadat sementara. Sekali masuk ruang hangat, dia bisa langsung meleleh, termasuk kalau sudah aku makan mentah-mentah di dalam mulut.  Jadi nggak mungkin kan aku bisa muntahin begitu saja? Apalagi kalau kamu paksa.”


Kata-kata Brat seperti fonetika meremehkan di telinga Pit. Segelintir rasa kesal membumbung ke ubun-ubun ringkih, menampakkan mulut manyun dan garis halus di kening tanda jengkel. Begini-begini perkataan kembarannya tak salah. Semua sifat salju yang disebutkan benar adanya. Dia gampang cair, sekali masuk mulut yang notabene hangat, ia akan meleleh, melebur dengan lendir atau liur. Tidak mungkin mudah dikeluarkan apalagi dimuntahkan.


Tapi tetap saja, Pit rasanya dongkol saat mendengar Brat yang menjelaskannya!


Menengok ekspresi Pit buat Brat ingin tertawa dalam hati. 


“Lagian bukannya ini semua kamu yang mulai, Pit?” Brat belum menuntaskan tuturannya. 


“Aku yang mulai? Gimana maksudnya?”


“Topik awalnya kan dari tadi soal ‘seandainya’ …. “ Brat membenarkan letak bantal dan selimut selagi lisan terus berbunyi riang. “Aku bakalan nyobain salju kalau aku sehat, tak ada batasan fisik yang membuatku sakit, dan tak ada batasan waktu yang menghimpit. Jadii …… sah-sah saja kan jika bermimpi kalau aku bisa makan salju sebanyak yang kumau? Toh tubuhku bakalan kuat, tidak peduli seberapa banyak dan besar salju yang akan masuk ke dalam mulutku, hehe.”


Di dalam penutup mata, Pit mengerjap keheranan. Penalaran kembarannya itu semakin malam semakin di luar akal bijak. Dipikir-pikir tidak se-berlebihan itu, sih …. tapi tetap saja, rasa-rasanya ganjil dan konyol jika hal-hal seperti itu keluar dari mulut Brat yang biasanya kalem dan hemat bicara.  Lagi pula …..


“ ….. sejak kapan sih kamu adiktif sekali dengan salju? Segitu pengennya ya mencoba salju?” Pit menggeleng-geleng kepala pelan, sudut bibir ditarik ke atas, menyulam senyum. “Kalau kamu makan salju banyak-banyak, nanti kamu jadi sebulet manusia salju lho!”


“Hmm ….. sebulet manusia salju?” Brat mengerling. “Manusia salju kan bentuknya lucu, gemas pula. Apa kamu pikir jika aku makan salju banyak-banyak, aku bakalan jadi lucu dan gemas?”


Brat menyentuh pipinya dengan sok imut, sementara Pit terbahak pelan, keduanya tertawa. 


“Kalau gitu, hidungmu akan kucolok wortel!”


“Aw, jangan dong …. Lagipula, memangnya aku punya hidung?”


“Kan bisa aku tempel saja! Nanti jadi mirip manusia salju asli.”


“Boo …. kalau begitu, jika aku menjadi manusia salju, aku akan memeluk kalian semua biar kedinginan dengan tubuh bulatku ini ….”


“Uuuuhhhh brrrr!!! Fufu, hahaha…!”


“Hehehe ….”


Tawa renyah mengudara pada bilik, hangat terasa di tengah-tengah Dome berhawa dingin. Detak jantung bergetar cepat, antusias merajai lubuk rasa dari dua individu kembar yang belum jua terbawa bunga tidur. Larut marut dalam mimpi-mimpi dungu anak kecil yang mendambakan rasa dari dunia luar, baik Brat maupun Pit menarik tuas obrolan dan diskusi hingga sesaat melupakan kenyataan yang tersisa di atas mereka, terbungkus dome yang menaungi kebebasan. 


Waktu bergulir memicu rasa letih mereka kemudian. Brat dan Pit terengah, siap untuk tidur, sama-sama membenarkan badan dalam posisi ternyaman. Baru saja Pit akan benar-benar jatuh ke dalam lelap, ia mendengar sayup gumaman Brat.


“..... Tapi kata-katamu sebelumnya, tidak salah, Pit.”


Sunyi menyambut.


“ ….. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya salju itu.”


Desah pelan terbit dari Pit, rintihan Brat menggaung di dalam telinga. Ia remas tepi selimut sampai tubuhnya tenggelam dalam fabrik tebal itu. 


“Suatu saat, kita pasti bisa keluar, lalu melihat dan merasakan salju-salju yang banyak dibicarakan itu.”


Ucapan Pit menerbitkan ketenangan pada Brat, tidak butuh waktu lebih lama untuk menenggelamkannya dalam dunia mimpi. Pit menyusul. 


Tubuh keduanya berbaring rata, tenang tanpa ada bunyi bersua setelahnya.


☃️☃️☃️


Bagaimana rasanya salju?


Rasanya dingin …. dan juga lembut. 


Tangan dan kaki terlentang, dua tubuh bersandar di atas bumi berselimut serpih putih berkerumun tebal. Bau anyir menghias penciuman, keramaian semakin membuncah hebat.


Brat melihat awan kelabu di atas sana, pandangan samar semakin tergilas bulir es mulai mendominasi visual. Ia sedikit gerakkan kaki, juga tangan, seakan perlahan mengepak. 


Kalau digerakkan sedikit lagi …. bisa membuat snow angel.


Di samping Brat, ialah tubuh Pit yang tertimbun bongkahan salju. Terhias bibirnya yang bergetar dan pecah-pecah, membungkam kata-kata. 


Salju …. tidak ada rasanya. 


Basah, semuanya serba air beku terasa.


Tangannya ikut bergerak pelan, menyentuh epidermis jemari Brat yang senada dilibas rasa gigil. Sentuhan saling menyambut, selagi kranium dingin mulai retak, nyaris menghamburkan isi kepala.

Derap langkah serdadu tertangkap rungu, dibuat tergugu menatap dua tubuh kecil terbalur getih merah dengan iras menguar sendu.


 Atensi tersita sementara, “Pasangan yang satu lagi sudah menjauh! Fokus pengejaran pada mereka!”


Sayup-sayup suara terakhir memecah dengung telinga, Brat dan Pit menghela nafas kala meregang nyawa, terlentang berdua, terbalut salju sebagai akhir dari kehidupan mereka. 


Kini diacuhkan dalam kebebasan, sembari diterpa pilu.


Bagaimana rasanya salju? Setidaknya, pertanyaan dari Brat dan Pit kala itu telah terjawab sebelum takdir membunuh waktu.

☃️☃️☃️




Commission Story Written by Sheville

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page