The Oldest Pair's POV
- Anindita Alya
- May 27, 2017
- 13 min read
Updated: Jan 28, 2025
Nerd's Point of View
Tim itu punya wajah yang cantik. Terlepas dari bagaimana pendapat yang lain tentang fisiknya, wajah Tim tetap cantik. Dan menenangkan. Kalau dewi yang sering ada dalam dongeng-dongeng yang diberikan para profesor itu nyata, maka Tim adalah perwujudan dari seorang dewi.
Dewiku.
Sayang, Tim malah menutup wajahnya dengan sebuah topeng putih. Mungkin dia merasa terancam oleh pengawasan para professor, atau dia ingin ‘bersembunyi’ dari mereka dengan memakai topeng? Entahlah, tapi kuanggap maksudnya pasti baik. Topeng itu pasti merupakan caranya berjuang bersamaku, sebuah bentuk solidaritas karena aku memakai penutup wajah juga.
Kami kembar identik yang bisa bertukar pikiran tanpa perlu bicara—dan kenyataannya memang kami tidak punya mulut untuk berbicara—sehingga harusnya tidak ada satu pun tentang Tim yang aku tidak tahu. Bagaimana ia selalu memikirkan adik-adik kami, selalu merasa bersalah melihatku menghirup udara dari masker ini, serta mudah cemas akan berbagai hal yang terjadi di sekitar kami. Tim berpakaian seperti putri salju yang ada di buku dongeng. Semuanya aku tahu. Kecuali mungkin, sebagian perasaannya yang tidak ia bagi dalam telepati kepadaku.
Omong-omong soal putri salju, aku teringat dengan permainan laknat itu. Permainan yang membuatku sempat berprasangka buruk pada adik-adikku, juga kepada Tim. Kebencianku pada tempat yang mengurung kami selama ini membuatku ingin mengeluarkan kemarahan melalui permainan itu. Berkat kecelakaan yang dulu ditimbulkan oleh para professor kepadaku, aku harus hidup dengan menghirup udara khusus dari tabung-tabung gas yang merepotkan. Aku tidak bisa seaktif Dim dan Noa, tidak secerdas Brat dan Pit, apalagi disebut sempurna seperti Clear dan Plan. Bahkan Tim yang awalnya setara denganku pun sekarang jadi lebih baik dari pada aku dan tabung-tabung ini. Tidak berlebihan jika kubilang kalua akulah produk paling gagal di ‘penjara’ ini.
Seperti mengerti apa yang kurasakan melalui komunikasi telepati kami, Tim berusaha menghiburku. Secara tidak langsung ia memintaku untuk tidak acuh pada permainan laknat itu agar amarahku terkendali.
"Merasa iri itu wajar, Nerd. Aku bersyukur kalau kamu masih bisa merasakan itu. Tapi jangan sampai kamu jadi lepas kendali karenanya," ucap Tim mengingatkanku.
Seketika aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.
Melihat raut wajahku yang semakin murung, Tim kembali berkata, "Sudah, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Lebih baik sekarang kita tenang, jangan mengambil tindakan apapun dulu.”
Aku pun mengangguk setuju.
Lewat telepati, kami memberi instruksi untuk tidak mengacuhkan permainan itu kepada adik-adik kami. Rupanya mereka juga punya pendapat yang sama. Selama beberapa hari akhirnya kami diam meredam amarah, kami lebih memfokuskan diri untuk memikirkan sebab akibat dari permainan itu serta bagaimana cara mengatasinya agar keadaan dapat berbalik menguntungkan kami dari pada mereka.
Hingga akhirnya ada peraturan baru diberikan oleh mereka. Sebuah peraturan yang memaksa kami mengeluarkan amarah terpendam kami, yaitu batas waktu tiga hari untuk melaksanakan peraturan itu. Artinya, tiga hari bagi kami untuk mati atau berbalik melawan mereka. Berbekal rencana yang dibuat dengan amarah tertahan dan desakan waktu nan sempit, kini keputusan kami sudah bulat. Kami akan mendobrak rumah yang selama ini kami tempati.
Malam sebelum terjadinya rencana penyerangan kami, aku dan Tim saling berbagi senyuman, membayangkan kami yang sebentar lagi akan keluar dari ‘penjara’ ini. Menemukan berbagai hal indah di luar sana.
Tetapi, selain hal-hal indah, sedikit rasa cemas juga mampir dalam obrolan telepati kami berdua. Aku bercerita padanya tentang apa yang selama ini menjadi beban beratku. Sejak pertama kami bertemu hingga aksi sok heroikku yang menyodorkan diri untuk diteliti para professor dulu. Bagaimana besar rasa iriku pada adik-adik kami dan betapa kecil aku dibandingkan dirinya.
“Tidur, Nerd. Kita butuh energi yang cukup untuk besok,” seolah ingin meredam kekhawatiranku, Tim mengalihkan topik obrolan.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa berhenti gelisah. Dunia luar membuatku bersemangat, tapi bagaimana kalau mereka bisa menduga hal Ini? Bagaimana kalau mereka memiliki keamanan yang bisa menangkap kita? Kalau kita tertangkap, bisa saja mereka menyiksa kita lebih dari pada sebelumnya, Tim! Aku tidak ingin yang lain mengalami nasib yang lebih parah dari pada keadaanku saat ini!" Seruku panik.
Tim membelai rambutku dengan lembut, mengungkit masalah yang lalu itu lagi. "Aku tahu kalau kita berdua masih trauma dengan kejadian itu. Tapi kita harus percaya pada kemampuan kita sendiri, juga kemampuan adik-adik kita, Nerd. Kita tidak boleh menyerah untuk meraih kebebasan. Mereka lah yang sudah memaksa kita untuk melakukan ini!" Balas Tim.
Aku menatapnya dengan lesu. Payah. Rupanya aku sama sekali tidak berubah sejak awal kami diciptakan. Padahal aku sudah sengaja mengorbankan diri waktu itu. Pengorbanan yang kulakukan untuk membuktikan bahwa aku bisa melindungi Tim, sebuah bukti seberapa besar aku menyayangi saudara kembar identikku.
Pada akhirnya, aku memang hanya seorang adik yang egois bagi Tim. Juga seorang kakak yang buruk bagi adik-adikku.
"Tidak!" suara Tim terdengar keras di kepalaku. "Kamu hebat, Nerd!"
Aku tersentak mendengarnya. Sepertinya tanpa sadar aku membiarkan perasaanku terbaca oleh Tim.
"Sejujurnya, aku yakin kalau aku tidak akan bisa apa-apa tanpamu, Nerd," ucap Tim lirih. "Entah apa yang kau pikirkan mengenainya, tapi pengorbananmu saat itu sangat berarti untukku.”
Aku berusaha menahan air mataku, walaupun takkan terlihat olehnya. Kata-kata Tim membuatku merasa sedikit lebih percaya diri.
"Jadi, sekarang kita tidur, lalu besok malam bertempurlah dengan semangat," seru Tim. Betapa suaranya masuk ke dalam benakku begitu dalam, seperti dapat kurasakan aliran energi darinya. Aliran energi yang hanya bisa dibagi antar kembar identik.
"Terima kasih, Tim," kalau bisa menunjukkan senyum seperti senyum manusia, aku tersenyum lebar kepada Tim.
"Sampai jumpa lagi di dunia luar," balas Tim sama riangnya.
Saat itu akhirnya kami berdua pun naik ke tempat tidur masing-masing dan lelap tertidur. Tidak memikirkan apa-apa lagi kecuali hari-hari yang akan gemilang.
Akhirnya malam yang kami nantikan tiba. Para profesor yang tidak siap dengan serangan kami terlihat terkejut. Untuk pertama kalinya kami menunjukkan kepada mereka betapa berbahayanya kami ketika kekuatan kami meluap. Raut kegembiraan terlihat di wajah Dim dan Noa. Kekuatan mereka keluar dengan liar, membalut keduanya dengan aura yang bahkan tidak pernah kulihat. Sebaliknya, Brat dan Pit bekerja dengan rapi. Si kembar yang pendiam itu memiliki kontrol yang baik, mereka tepat menghancurkan setiap mangsa tanpa harus bersusah payah. Clear dan Plan juga meluapkan kekuatan mereka, walaupun tidak memberikan dampak destruktif sebesar yang lain. Kembar yang sempurna itu bergerak secara efektif. Alhasil, tubuh para profesor pun tergeletak tak karuan. Bahkan ada beberapa yang menjadi sasaran ‘bermain’ Dim dan Noa. Kini mereka menuai hasil terhadap apa yang telah mereka perbuat.
Aku menatap Tim, dan ia balik menatapku, di tengah-tengah darah dan mayat. Kami merasa puas. Kami merasa lega. Kami merasa kuat. Kami merasa begitu di atas angin.
"Akhirnya, Nerd..." gumam Tim di kepalaku.
"Ya, kita memang bisa melakukannya, Tim!" Seruku sambil memberinya pelukan.
Tiba-tiba Clear datang menghampiri kami, "Tim, Nerd, tolong beritahu kepada yang lainnya kalau kita harus berkumpul di ruangan inti!" Katanya.
"Ruangan inti? Ruangan apa maksudmu?" Tanyaku.
"Kau pasti tahu, pokoknya ruangan terbesar di gedung ini!" Jawabnya ambigu. Aku berpikir sejenak. Entah kenapa seperti ada yang aneh di sini. Sebenarnya tidak aneh kalau kami berkumpul setelah berhasil menghabisi para profesor, toh kami akan keluar bersama-sama. Tapi, sepertinya ruangan yang dimaksud Clear membuatku merasa aneh. Clear sendiri menyampaikannya tanpa terlihat ada maksud tertentu—mungkin ia hanya diminta Plan untuk mengumpulkan kami di sana—tapi aku punya firasat tidak enak dengan ruangan itu.
Tim menggenggam tanganku erat-erat. "Ayo. Kita hanya perlu pergi ke sana sebelum berpisah selamanya dengan tempat ini," yakinnya.
Kami berdua pun pergi ke ruangan itu. Sebuah ruangan besar biasa, dan Plan tengah berdiri di dalamnya sambil memegang sebuah apel aneh berwarna putih polos. Dim dan Noa serta Brat dan Pit datang tak lama setelah kami, lalu Plan menghancurkan salah satu dinding dan mengekspos sebuah ruangan lain. Ruangan yang menjadi sumber kegelisahanku sebelumnya, yang kulupakan letak persisnya, yaitu ruangan berisi delapan peti kaca, di mana pertama kali kami ‘dilahirkan’.
Dan sekarang, menjadi ruang dimana kami bertujuh terbaring bersama, di peti masing-masing. Diam di dalam kekangan es yang diciptakan oleh Plan.
Awalnya kami semua panik, tidak ada yang tahu kalau Plan memiliki kekuatan lain untuk membekukan sesuatu seperti ini. Mungkin Clear tahu sesuatu, tapi apapun itu, seharusnya ada alasan kenapa mereka menutupinya dari kami.
Jalur telepati kami ribut dengan teriakan dari saudara-saudaraku yang lain, yang juga menanyakan satu hal yang sama, Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Tapi Plan hanya menjawab kepada Clear. Mereka mulai berdialog satu sama lain, entah apa yang mereka bicarakan karena aku tidak sempat memerhatikannya. Aku terlalu panik berusaha membebaskan diri Bersama Tim sebelum tubuh kami membeku seutuhnya.
Sebelum kesadaranku habis total karena beku di dalam es buatan Plan, aku sempat mendengar apa yang Plan pikirkan.
"Aku sudah melihat masa depan, Clear. Kita tidak bisa keluar bersama-sama dari sini. Pertama, Nerd akan butuh udara yang selama ini dihirupnya, yang tidak ditemukan di dunia luar, dan mati karenanya. Lalu yang lain akan mengikuti..."
Dan aku pun mati suri sempurna. Seutuhnya membeku di dalam es.
Tidak bisa bergerak, tidak bisa bertelepati, tidak bisa menggunakan kekuatanku, benar-benar tidak bisa berbuat apapun, apalagi setelah chip-ku diambil Plan. Praktis aku juga tidak tahu apa yang akan dilakukan Plan setelah ini. Tapi, entah kenapa, walaupun memoriku ada di dalam chip yang diambil Plan, tetapi aku masih bisa berpikir dan mengingat beberapa hal. Hal-hal yang mungkin diingat oleh tubuhku. Dan semuanya hanyalah penderitaan.
Terutama, kalimat terakhir yang kudengar dari Plan.
Setelah begitu banyak merepotkan Tim dengan semua rengekanku, secara tidak langsung aku juga menghancurkan mimpi kami semua untuk menikmati kebebasan dunia luar. Aku mengikat mereka semua dalam keputusasaan karena fisikku yang terbatas. Pada akhirnya, aku memang produk gagal.
Aku adalah produk gagal yang sangat mencintaimu, Tim.
Terima kasih karena sudah memberiku waktu-waktu berharga selama ini, Tim, saudara kembar identikku.
.
.
.
Tim's Point of View
Nerd itu manis sekali.
Aku tidak melihatnya dari fisik—lagi pula aku tidak tahu bagaimana standar penilaian orang—tapi dari sifatnya. Ia adalah kembaranku yang identik, jadi kami hampir memiliki gen yang sama walaupun sedikit berbeda dalam hal sifat. Sebuah sifat yang menunjukkan identitasnya sebagai seorang Nerve Cord, yang menurutku itu manis sekali.
Dia memiliki ketabahan dan rasa tanggung jawab yang sama denganku, selaku anak-anak paling senior di tempat ini. Tapi dia sedikit lebih kikuk dalam menghadapi sesuatu. Terkadang kemampuannya dalam menanggapi berbagai persoalan juga agak lambat. Bisa dibilang Nerd itu berani sekaligus takut. Sebenarnya kuat tapi merasa tidak percaya diri. Walaupun begitu, entah kenapa menurutku sifat-sifatnya manis. Dia anak yang manis dengan caranya sendiri.
Oh ya, berkaitan dengan yang kukatakan sebelumnya bahwa Nerd itu berani, aku tidak main-main.
Tidak peduli alasan apa yang bisa membuatnya seberani itu sampai mengorbankan dirinya untukku, aku sangat mengagumi keberaniannya. Ia melindungi diriku walaupun resikonya amat berbahaya, menggantikan diriku untuk menanggung sakitnya penelitian para profesor.
Sebenarnya tidak ada yang mengatakan bahwa aku lah yang harus menjalani penelitian itu, atau Nerd yang harus menjalaninya. Mereka hanya memilih satu di antara kami secara acak, atau siapa yang menyodorkan diri secara sukarela. Aku ingin melindungi Nerd dan tidak ingin melihatnya kesakitan, apalagi secara teknis ia adikku yang bangun beberapa detik setelahku, jadi aku bertekad untuk menyodorkan diri. Tapi tahu-tahu saja mereka membawa Nerd langsung ke laboratorium mereka.
Awalnya, saat itu kupikir mereka secara sepihak membawa Nerd karena aku belum mengajukan diri pada mereka untuk diteliti. Tentu saja aku panik. Aku mengamuk, hampir kehilangan kendali, dan menghubungi Nerd dengan sangat cemas. Para profesor sudah kewalahan menghadapiku sampai akhirnya aku menangkap sinyal telepati dari kembarku itu.
"Aku baik-baik saja, Tim," ujarnya lirih.
Begitu katanya, untuk membuatku berhenti mengamuk dan tenang sesaat. Tapi ketika ia berjalan keluar ruang penelitian dengan lemah bersama tabung gas dan masker di tubuhnya, aku tahu fisik Nerd takkan sama lagi seperti dulu. Amarahku langsung memuncak dan menimbulkan hasrat yang kuat untuk mengeluarkan kekuatanku dengan lebih dahsyat.
Itu adalah kali pertama aku mengamuk hebat dalam hidupku. Tidak kutahan-tahan lagi kekuatan yang berusaha kusembunyikan selama ini. Nerd memang agak kecewa karena aku lepas kendali dan justru menambah data penelitian mereka, tapi aku tidak bisa tinggal diam melihatnya cacat seumur hidup begitu.
Yah, sejak awal sebenarnya kami memang sudah cacat karena tidak bisa bicara dan hanya bisa bertelepati satu sama lain. Wajah kami bahkan tidak sempurna. Tapi, kali ini lebih parah lagi bagi Nerd. Ia tidak bisa bernafas dengan udara yang biasa kami hirup, dan terpaksa bergantung pada tabung gas serta masker yang selalu dipakainya.
Jujur, aku merasa kasihan pada Nerd. Memang lama kelamaan ia sudah terbiasa dengan masker dan tabung udaranya, tapi tetap saja itu merepotkan. Ia yang tadinya bebas bergerak dan bermain denganku kini lebih banyak diam. Apalagi setelah Dim dan Noa yang aktif muncul di tempat kami. Nerd hanya bisa tertawa riang melalui telepati. Aku yakin ia sebenarnya juga merasa sedih karena tidak bisa bebas, tapi ia menyembunyikannya dariku.
Karena itu aku sebagai orang yang paling dekat dan paling memahaminya harus bersikap tegar dan terus berjuang bersamanya. Apalagi setelah adik-adik kami muncul sepasang demi sepasang, alasan kami untuk berjuang pun semakin bertambah. Secara alami aku dan Nerd punya rasa ingin melindungi mereka yang datang belakangan, meskipun ada kalanya mereka justru lebih kuat.
Di tempat ini kami semua bermain bersama, belajar bersama, serta melatih kekuatan bersama. Kadang aku masih memamerkan sedikit kekuatanku kepada para profesor saat aku terlihat emosional agar tidak dicurigai bahwa aku dan yang lainnya tengah menyembunyikan kekuatan. Karena aku hanya menunjukkannya sedikit-sedikit, maka dalam data penelitian mereka pasti kekuatanku tidak berkembang. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Aku terus mengasah kekuatanku diam-diam, bersama Nerd dan yang lainnya.
Suatu hari para profesor kembali bergerak agresif. Permainan-permainan yang biasanya menyenangkan dan ringan-ringan saja, kini diganti oleh sebuah 'permainan' mengerikan yang bernama 'Memburu Putri Salju'. Lewat permainan itu, para profesor ingin memaksa kami mengeluarkan kekuatan dengan menguji batin kami untuk menyerang ‘saudara’ sendiri. Mereka sepertinya ingin membuat kami berpikir ada seorang pengkhianat di antara kami yang harus dieksekusi, atau berpikir egois dengan menghabisi semuanya dan menjadi makhluk superior di sini tanpa harus khawatir dengan adanya ‘pengkhianat’ itu.
Bukannya aku sama sekali tidak tergoda untuk memikirkannya. Ada kalanya rasa iriku terhadap adik-adikku membuatku merasa rendah dan kesal sendiri. Ingin rasanya bisa berlaku seaktif Dim dan Noa. Atau bisa berpikir secerdas Brat dan Pit. Atau selengkap Clear dan Plan yang sempurna.
Terutama itu Clear dan Plan. Mereka diciptakan dengan sempurna! Siapa di antara kami yang tidak akan melirik iri pada mereka? Bahkan mulai timbul kecurigaan dalam diriku kepada salah satu dari mereka. Clear atau Plan mungkin saja putri saljunya. Mereka diciptakan paling akhir dengan sempurna, siapa yang menjamin mereka bukan mata-mata para profesor?
Rupanya Nerd merasa iri juga. Aku bisa paham karena ia memiliki cacat fisik seperti itu. Tapi kalau aku dan Nerd menumbuhkan prasangka negatif ini, kami akan menghancurkan semuanya. Kepercayaan yang sudah dibangun oleh kami berdelapan, tidak akan sama ke depannya. Lagi pula kami juga tidak ingin memuaskan para profesor dengan mengikuti keinginan mereka.
Maka aku menghibur Nerd. Membuatnya--sekaligus diriku sendiri juga, sebenarnya—merasa tenang dan berpikir lebih dalam. Meyakinkan diri kalau ini hanya akal-akalan para profesor yang tak juga melihat perkembangan signifikan dari kami, makhluk ciptaan mereka. Aku juga memberitahu adik-adik kami tentang pemikiran itu. Semuanya setuju dan sepakat untuk mengacuhkan permainan dari para profesor, bahkan kami juga memikirkan apa yang akan kami lakukan untuk membalikkan keadaan ini.
Lalu, seperti yang Brat dan Pit takutkan, mereka memberi aturan tambahan. Keduanya sempat bercerita padaku soal kecemasan itu, dan tak lama kemudian ternyata benar-benar terjadi. Para profesor mendesak kami untuk menyelesaikan 'permainan' itu dalam waktu tiga hari. Dengan kata lain, membunuh salah satu saudara kami.
Kami mulai panik dan semakin geram. Dim dan Noa bahkan ingin mengamuk tak terkendali mendengarnya. Sejujurnya aku juga ingin meledakkan kekuatanku, tapi aku memilih untuk menunggu dan memanfaatkannya dengan benar.
Lalu aku mengemukakan gagasan yang terbalik dengan harapan para profesor, yaitu keluar dari tempat ini. Dim dan Noa terlihat bersemangat saat mendengarnya. Brat dan Pit awalnya hanya saling berpandangan, lalu mengukur kekuatan masing-masing. Clear memandang kami semua dengan ragu. Plan memandangku dengan datar, seperti sudah menduga hal ini akan kukatakan.
Aku menjelaskan rencananya. Brat dan Pit yang sedari tadi diam kadang menyela dan merombak rencanaku yang sembrono agar lebih tertata dan memiliki probabilitas keberhasilan tinggi. Clear memandang Plan, masih menunggu kembarnya membacakan ramalannya, barangkali. Nerd diam di tempat. Dim dan Noa pun membantu menaikkan semangat yang lain.
Satu hari sebelum malam yang kami rencanakan untuk penyerangan, Nerd mengajakku bertelepati satu sama lain. Kami berbagi senyum dan angan-angan, membayangkan apa saja yang akan kami lakukan begitu kami bebas. Sampai tiba-tiba Nerd mulai cemas dan mengemukakan apa yang mengganggu hatinya selama ini.
“Sebenarnya, Tim, aku tidak sebaik yang kau pikirkan selama ini,” ujarnya lirih.
Aku memandangnya heran, “kau bicara apa sih, Nerd. Aku—“
“Dengarkan aku dulu, Tim. Aku sungguh-sungguh. Aku sama sekali tidak seberani yang kau pikirkan,” potong Nerd. “Memang waktu itu aku sengaja mengajukan diriku untuk diteliti agar kamu tidak disakiti oleh mereka, tapi...”
Kali ini aku menunggu Nerd menceritakan semuanya.
“Alasanku sama sekali tidak mulia. Sama sekali tidak pantas dikatakan berani,” Nerd menarik nafas berat. “Aku melakukannya karena tidak ingin di kemudian hari aku merasa tidak berguna dan bersalah di hadapanmu, Tim.”
Aku masih menunggu kelanjutannya.
“Saudara kembarmu ini adalah seorang pengecut, Tim. Aku melempar rasa bersalah itu untuk kau rasakan. Aku membuatmu mengamuk untuk membelaku. Karena tahu aku tidak lebih kuat darimu, aku menggunakan pengorbananku dulu sebagai alasan untuk terus merasa superior dibandingkan denganmu,” lanjutnya panjang lebar.
Sejujurnya, aku tidak peduli, Nerd. Kenyataannya adalah kamu menyelamatkanku, dan hanya itu saja yang ingin aku terima. Tetapi, dalam keadaan sensitif seperti ini kamu pasti tidak akan mendengar apapun dariku yang menyangkal pemikiranmu itu. Maka aku menyuruhmu tidur dan fokus. Lupakan saja semua pemikiran yang tidak ada hubungannya dengan penyerangan besok.
Tetapi Nerd tidak bisa berhenti cemas. Ia juga panik dan bertanya-tanya akan berbagai kemungkinan buruk yang terjadi kelak tentang penyerangan itu. Aku hanya bisa membelai rambutnya. Mengucapkan kata-kata penghibur dan penyemangat, yang sebenarnya di dalam diriku juga tidak yakin dapat bertanggung jawab seratus persen.
Hanya itu yang bisa kulakukan, Nerd.
Karena itu, tanpamu aku ini bukan apa-apa.
Jadi, kita harus membalas mereka. Kita harus keluar dari tempat yang merenggut 'kesempurnaanmu' ini. Kita harus keluar dari tempat dimana kita disiksa secara mental dan dipermainkan. Untuk membalas perlakuan para profesor itu!
Setelahnya kami tidur dengan pulas dan tenang.
Ketika waktu penyerangan itu datang, semuanya berjalan dengan lancar. Aku meluapkan kekuatanku habis-habisan bersama Nerd. Jika sebelumnya para profesor mengeluh akan kekuatanku yang tidak juga berkembang, sekarang mereka dapat dengan puas melihat hasilnya sebelum menjemput ajal mereka. Tubuh-tubuh tergeletak tak berdaya di lantai. Adik-adik kami juga melakukannya dengan baik. Dim dan Noa menyerang dengan liar, Brat dan Pit bekerja rapi sesuai rencana, Clear dan Plan yang pada awalnya terlihat ragu dan takut juga melakukan bagiannya dengan baik.
Aku saling memandang dengan Nerd. Tersenyum di dalam hati. Berpelukan. Kami berhasil melakukannya!Akhirnya penderitaan ini terbalas! Para profesor itu merasakan karma dari apa yang mereka lakukan pada kami!
Tiba-tiba Clear meminta kami untuk mengumpulkan semuanya di ruangan inti. Diliputi euforia kebahagiaan, aku tidak peduli lagi apa yang disampaikannya. Nerd gelisah karena merasa ada yang aneh, tapi aku tidak. Kembali kutenangkan dia dan kukatakan tidak apa-apa. Kali ini aku yakin sekali. Memangnya apa yang bisa lebih kejam dari para profesor itu?
Dan apa yang kutakutkan dulu terjadi juga. Aku tidak bisa bertanggung jawab akan kata-kata penghiburan yang pernah kukatakan pada Nerd.
Sesampainya kami di ruangan yang dimaksud oleh Clear, ada Plan yang sedang memegang sebuah apel berwarna putih polos. Ketika semuanya berkumpul di ruangan itu, Plan menghancurkan dinding partisi dan terlihatlah sebuah ruangan yang membangkitkan nostalgia. Ruangan tempat di mana pertama kali kami berdelapan membuka mata dalam peti kaca.
Kami berdelapan masuk ke ruangan itu dan mendekati peti masing-masing, secara otomatis bernostalgia. Tiba-tiba, tanpa sempat berbuat apapun, kami mulai membeku. Awalnya, tubuhku langsung siaga dan mengira serangan itu datang dari profesor yang tersisa tanpa kami ketahui. Tapi, begitu mengetahui Plan lah yang melakukannya, tubuhku sudah tidak bisa bergerak dengan benar. Setengah karena tidak percaya dengan apa yang terjadi, setengah karena memang sudah membeku.
Aku melihat ke arah Nerd yang terlihat sangat lemas dan Plan yang berwajah datar.
Teringat akan prasangkaku dulu yang menganggap Plan atau Clear si makhluk sempurna itu adalah mata-mata para professor membuatku lidahku terasa pahit. Dengan naif, kusingkirkan prasangka itu dan membuatku tidak waspada. Biarpun kejam, ternyata apa yang dikatakan para profesor itu benar. Ada seorang pengkhianat di antara kami.
Aku bersiap untuk meledak lagi karena melihat Nerd semakin tidak berdaya, tapi pikiran Nerd yang sekilas kubaca itu menghentikanku.
Aku tidak memperhatikan dialog Plan dan Clear secara pastinya, tapi Nerd mendengarkan, dan mengulangnya dengan miris dalam pikirannya sendiri.
Nerd tidak akan bisa bertahan di dunia luar tanpa udara yang disediakan oleh para profesor. Bahkan Dim yang memiliki kekuatan untuk mencipta tidak bisa membuat udara itu karena terlalu berbahaya bagi yang lain. Setelah Nerd mati, aku akan menyalahkan diriku mati-matian dan memutuskan untuk menyusul Nerd. Begitu juga dengan Dim yang merasa bersalah. Diikuti oleh Noa yang tidak bisa hidup tanpa Dim. Semuanya akan mati satu per satu dengan cepat.
Mendengar itu dari benak Nerd yang putus asa. Tubuhku lemas seketika. Aku yang meyakinkan Nerd untuk pergi dari sini! Aku yang memberikannya janji-janji kebahagiaan yang sebenarnya tidak mungkin, karena aku melupakan kondisi suplai udaranya. Aku menghiburnya dengan kejam. Aku benar-benar tidak bertanggung jawab...
Jadi, aku merelakan diriku beku seutuhnya. Mati suri. Plan memang mencabut chip milikku setelahnya, tapi entah kenapa aku masih bisa mengingat semua ini. Semua penyesalan ini. Semua hal-hal menyakitkan ini.
Andai saja aku punya Nerd untuk berbagi saat ini...
Commission Written by Anindita Alya
![[Start] Resonansi Delapan Pilar](https://static.wixstatic.com/media/43f9e0_820257aa45764aa89b0cdc29e2540df4~mv2.jpg/v1/fill/w_980,h_483,al_c,q_85,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/43f9e0_820257aa45764aa89b0cdc29e2540df4~mv2.jpg)
![[End] Fatamorgana Salju](https://static.wixstatic.com/media/43f9e0_ede0b0ef468d413da0657db4884b56a6~mv2.jpg/v1/fill/w_980,h_433,al_c,q_85,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/43f9e0_ede0b0ef468d413da0657db4884b56a6~mv2.jpg)

Comments