Feruci n Ades First Meeting
- Anindita Alya
- Feb 26, 2025
- 8 min read
01/26/20XX. Penginapan Jepang Kuroyuri, pukul 23.14.
“Irrashaimase, goshujin-sama.”
Seorang pria berambut biru tersenyum tipis ketika mendapati seorang wanita berpakaian yukata yang menyambutnya di pintu masuk. “Wah, rasanya aku jadi ingin mengucapkan tadaima,” katanya sambil memberikan jaketnya kepada wanita itu.
Sambil membawa jaket itu, sang wanita mengantar pria itu ke resepsionis. Langkah wanita itu tiba-tiba melambat ketika wanita dengan yukata lain yang menjaga resepsionis memelototinya. Pria itu sadar akan hal tersebut, tapi ia mengacuhkannya dan langsung berjalan menuju resepsionis dengan santai. “Tolong satu kamar untuk malam ini. Saya akan check out jam 7 pagi besok dan tolong berikan kamar terbaik yang kalian punya.”
Wanita resepsionis itu rupanya tidak menghilangkan tatapan tajamnya untuk pria itu, meskipun pria itu adalah pelanggan. “Maaf, jika Anda ingin menginap di sini, Anda perlu reservasi sebelumnya,” katanya dingin.
Alis pria itu terangkat sebelah. “Apakah penginapan ini sedang penuh?”
“T—tidak, tapi...” Wanita itu jadi goyah sedikit melihat gestur dari pria itu. Ia memang biasa memikat para wanita, jadi tidak aneh kalau wanita resepsionis ini juga jadi lunak hanya dengan ekspresi dan gestur kecilnya.
“Ehm, maaf, itu sudah merupakan sistem di sini. Seperti yang bisa Anda lihat, Kuroyuri adalah penginapan jepang yang langka di Amerika, bahkan satu-satunya di New York. Kami tidak bisa menerima sembarang tamu, apalagi yang tiba-tiba masuk tanpa melakukan reservasi,” jelasnya dengan nada profesional.
Seringai pria itu tiba-tiba muncul. “Tidak bisa menerima sembarang tamu? Kau pikir aku tidak tahu kalau penginapan yang langka ini adalah tempat seperti apa?” Tanyanya dengan nada yang meninggi.
Dengan susah payah wanita resepsionis itu mempertahankan nada dinginnya. “Mohon maaf, tapi Anda harus pergi sekarang juga.”
Tawa pria berambut biru muda itu terdengar keras di lorong resepsionis. “Sebagai kumpulan para pelacur, kalian pikir bisa meningkatkan harga diri kalian dengan reservasi? Yah, tapi terserahlah. Biarkan aku reservasi sekarang!” Pria berambut biru itu mulai terlihat akan mengamuk.
Wanita resepsionis itu baru saja akan menekan tombol untuk memanggil petugas keamanan, tapi tangannya terhenti ketika seorang wanita berkimono mewah dengan rambut ungu yang disanggul dengan elegan muncul dari dalam dengan tenang. “Ada ribut-ribut apa ini?” Tanyanya anggun.
Pria itu menyeringai tajam melihat wanita berkimono itu muncul. “Muncul juga germo kalian ya, hah.”
Dengan sopan wanita itu membungkuk sedikit lalu menutupi mulutnya dengan ujung lengan kimononya. “Saya merasa terhormat jika dianggap sebagai Ibu. Tapi saya hanyalah seorang pelayan biasa, Tuan.”
“Pelayan biasa?” Tanya pria itu sambil menatap wanita berkimono itu dengan tajam. Ditelusupinya wanita itu dari pangkal sampai ujungnya. Kedua matanya indah dan terlihat sangat ‘nakal’.
“Sepertinya Tuan sangat percaya diri sampai memaksa ingin menginap tanpa reservasi. Memang berapa yang bisa Tuan tawarkan untuk menginap semalam di sini?” Tanya wanita berkimono itu dengan menantang.
Tanpa melepaskan pandangan matanya dari wanita berkimono itu, pria berambut biru itu menjawab, “apapun yang kau inginkan.”
Wanita berkimono itu terlihat tidak yakin. “Meskipun itu berarti jumlah yang dapat menghabiskan seluruh hidup Anda?” Tanyanya.
Seringai pria itu muncul lagi. “Kau terlalu meremehkanku.” Jawabnya.
Terdengar sebuah kikikan pelan dari bibir merah merekah wanita itu. “Tolong booking kamar di belakang satu untuk pria ini. Aku yang akan tunjukkan kamarnya.” Serunya kepada si wanita resepsionis.
“Siapa nama Anda, Tuan?”
“Ray Thompson,” jawab pria itu dengan seringai puas.
“Nama saya Yuriko,” balas wanita itu dengan anggun. “Mari, akan saya tunjukkan kamar Anda.”
.
Penginapan Jepang Kuroyuri adalah penginapan jepang pertama dan satu-satunya sejauh ini di kota modern ini. Meskipun langka dan mewah, penginapan ini bukanlah penginapan komersial yang terkenal. Selain karena mengusung tema oriental yang notabene sistem dan budayanya sangat berbeda dan tidak umum di negara barat ini, pelayanan yang ditawarkan mereka juga spesial, sehingga hanya menerima reservasi dari koneksi orang tertentu.
Apalagi kalau bukan prostitusi?
Para ‘pelayan’ memang tidak seluruhnya wanita jepang asli yang akhir-akhir ini mulai digemari para pria Amerika, melainkan juga blasteran Amerika atau blasteran wajah oriental lainnya. Seperti misalnya wanita ini, Yuriko, adalah wanita blasteran oriental.
Dan kini ia sedang melayani seorang pria berambut biru, sepuluh menit setelah keduanya masuk ke dalam kamar.
“Kau benar-benar nekat, Tuan,” katanya sambil terkikik ketika pria berambut biru itu tengah menciumi leher jenjangnya yang terbuka karena kimononya sudah dilonggarkan sebelumnya.
“Tolong katakan, siapa nama Tuan sebenarnya?” Tanyanya tiba-tiba serius.
Pria berambut biru itu berhenti mencumbu dan menatap mata Yuriko dengan tajam. “Kenapa? Agar kamu bisa memanggil namaku saat bercinta? Kuno sekali.”
Yuriko tertawa lembut. “Soalnya kalau aku meneriakkan nama palsumu di tengah desahanku, kurasa kau tidak akan suka.”
Dengan ganas, pria itu melanjutkan cumbuannya. Perlahan ia menciumi tubuh wanita itu dari atas sampai ke bawah sambil melucuti kimononya. Ketika sang wanita sedang menikmati cumbuan itu, sang pria tiba-tiba berhenti.
“Ada apa Tuan?” Tanya wanita itu heran.
“Namaku... Feruci. Panggil nama itu keras-keras sebanyak yang kau mau,” katanya tiba-tiba, menjawab pertanyaan wanita itu sebelumnya.
Sang wanita menyeringai. Lalu selama beberapa jam berikutnya kamar itu dipenuhi suara desahan-desahan erotis yang meneriakkan nama pria itu berulang kali.
.
Feruci terbangun.
Masih dengan kepala yang sedikit pening, ia memerhatikan sekelilingnya. Ia masih ada di ruangan yang disewanya di penginapan Kuroyuri. Sepertinya ia sempat tidak sadarkan diri setelah bercinta beberapa jam dengan Yuriko si pelayan biasa.
Ngomong-ngomong soal itu, Yuriko tidak ada di sana.
Tiba-tiba saja Feruci terbangun dalam keadaan pusing dan berpakaian lengkap. Apa Yuriko yang memakaikannya? Kenapa wanita itu melakukannya? Apakah itu karena ia akan meninggalkan Feruci sendirian di kamar?
Mengabaikan hal yang membingungkan itu sejenak, Feruci tiba-tiba teringat dengan pekerjaannya. Ia mencari-cari arlojinya dan menemukan bahwa ia terbangun pukul 3 pagi. Itu artinya empat jam lagi ia harus pergi dari penginapan ini. Waktunya sempit.
Karena tidak punya waktu untuk memikirkan Yuriko, ia pun mengambil segelas air untuk menyegarkan tubuh. Rasa pusingnya sedikit berkurang, tapi untuk sementara bisa ia tahan. Pria berambut biru itu bersiap-siap lalu keluar dari kamarnya. Baru beberapa langkah ia berjalan, ada seorang pelayan beryukata yang berpapasan dengannya.
“Wah, pas sekali saya bertemu pelayan,” sapa Feruci dengan lembut.
Pelayan itu jadi sedikit salah tingkah. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Boleh saya tahu dimana—“
“Machi, cepat ambil alat untuk bersih-bersihnya!” Teriak seseorang dari tikungan. Seorang wanita beryukata yang dikenali Feruci sebagai wanita resepsionis itu muncul dari tikungan dan tiba-tiba langkahnya terhenti. Mungkin sedikit kaget melihat ada Feruci di situ, mengingat perseteruan mereka sebelumnya.
Setelah menghormat dan minta maaf, wanita yang diajak bicara oleh Feruci tadi buru-buru pergi. Wanita resepsionis itu juga langsung berbalik arah dan menghilang meninggalkan Feruci. Kesal karena diabaikan, ia menggeram kesal. Terpaksa ia harus berusaha sendiri.
Feruci melangkah cepat dengan tidak sabaran. Didengarnya satu per satu suara di tiap ruangan. Lalu, setelah melewati beberapa ruangan di belakang, ada sebuah ruangan di ujung yang pintunya sedikit terbuka. Didorong insting dan rasa penasaran, Feruci pun mengintip ke dalamnya dan mendapati seorang pria yang dicarinya sedang berbaring di futon dalam kamar itu.
Perlahan ia melangkah ke dalam. Pria yang dicarinya itu tak bergerak. Perasaannya semakin tidak enak semakin ia melangkah mendekati targetnya. Pria yaang dicarinya itu masih tak bergerak. Dan Feruci yakin ia telah termakan oleh peringatan yang telah diberikan kepadanya dahulu. Pria yang dicarinya itu terbaring di futon dengan mulut berbusa.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dan masuklah wanita pelayan bernama Machi tadi dengan sepasang sarung tangan dan peralatan ‘bersih-bersih’ dengan tidak hati-hati. Begitu mata wanita pelayan itu melihat Feruci dan pria mati yang berbusa itu, langkahnya langsung terhenti dan kaget luar biasa. Tapi Feruci yakin, ia pasti kaget bukan karena mayat pria yang berbusa itu.
“Oh, aku mengerti sekarang,” ucapnya sambil menyeringai ke arah Machi yang ketakutan. Secepat kilat ia menusuk Machi dengan pisau yang dibawanya untuk membunuh pria yang telah mati itu.
Dibiarkannya pisau itu menancap di jantung Machi. Tak hanya itu, Feruci juga mengambil sepasang sarung tangan yang dikenakan Machi lalu menghapus sidik jarinya di pisau itu. Diliriknya jam di kamar yang menunjukkan pukul 3 lewat 45 menit. Feruci menghela nafas berat sambil mengeluarkan bilah pisau lain yang disembunyikannya.
“Semoga wanita itu benar-benar sudah membunuh semua yang benar-benar tidak diperlukan,” gumamnya sebal.
Lalu dengan cekatan Feruci mengunjungi satu per satu ruang, dan dengan cepat membunuh semua manusia yang ditemuinya di penginapan itu.
.
Selesai menjelajahi penginapan dan membunuh semua manusia yang ditemuinya, Feruci kembali ke ruangan tempatnya bercinta dengan Yuriko.
“Selamat malam, Tuan Ray Thompson,” sambut seorang wanita berkimono dengan senyum menggoda yang amat dikenalnya. “Otsukaresama deshita.”
Feruci diam menatapnya dengan tajam.
“Berani juga Anda menggunakan nama pria yang telah Anda bunuh sebagai nama palsu Anda,” timpalnya sambil terkikik. “Apa itu karena Anda sudah berniat akan membunuh semua orang di sini, termasuk saya?”
Dengan kesal, Feruci melempar pisau berlumur darah yang sedang dipegangnya. “Aku tidak menikmati ini.”
Wanita berkimono itu tersenyum lebih jahat lagi. “Ooh manisnya! Seorang pembunuh yang membunuh karena terpaksa!”
“Bukan,” Feruci menatap wanita itu dengan tatapan mengerikan yang membuatnya senyumnya menghilang. “Karena aku hanya membereskan pembunuhan yang kau lakukan, Yuriko.”
Wanita itu, Yuriko, tersenyum dengan sedikit menahan kesal. “Terlalu larut dalam racun di dalam tubuh hina yang bahkan tak berhasil membunuh Anda, eh?”
“Kau bukan manusia biasa, dan juga bukan Yuriko,” lanjut Feruci dengan dingin.
“Anda pasti adalah seorang iblis, tidak ada makhluk yang hanya dibuat tertidur oleh racun tubuh saya,” tebak wanita itu. “tahu siapa saya?” tanyanya menantang.
Feruci berjalan mendekat, masih menatap wanita itu dengan tajam. “Asmodeus,” jawabnya pasti. “Pembunuh yang membunuh targetnya dengan racun.”
“Dan juga punya penginapan berisi wanita-wanita pembunuh bayaran lain, yang berkedok penginapan jepang dengan servis spesial,” lanjut Yuriko yang juga dijuluki Asmodeus itu. “Yang baru kau ketahui sekarang!” Katanya puas.
Kentara sekali bahwa Feruci sedang menahan kesal karena merasa tertipu, sekaligus kecurian untuk membunuh targetnya.
Asmodeus menjilat bibirnya dengan sensual. “Apa sekarang kau jadi sangat ingin membunuhku, Feruci?” godanya. “Karena aku sangat ingin membunuhmu, iblis pembunuh yang tidak kenal ampun, alias Lucifer.”
Ia terdiam sebentar. “Karena aku telah menghabisi pelayan-pelayan pembunuh milikmu?” Tanyanya datar.
“Masa bodoh dengan semua itu!” Teriak Asmodeus sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar. Ia melangkah perlahan sampai tepat di depan wajah Feruci lalu memegang wajahnya dengan antusias. “Kau membuatku sangaaaat ingin membunuhmu!”
Feruci tersenyum arogan, “aku takut itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama.”
Dengan cepat, Asmodeus mendorong tubuh Feruci sampai tubuhnya menindih pria itu di atas tatami. “Aku tidak akan berhenti sampai kau mati di tanganku, sampai racun buatanku menyiksamu, sampai mulutmu tidak berhenti merintih kesakitan,” ucapnya dengan nada yang seduktif.
“Kau menarik. Mau kubantu?” Tawar Feruci sebagai responnya.
Kedua alis Asmodeus mengerut heran. “Hah?”
Tangan Feruci mencengkram kedua tangan Asmodeus yang menindihnya. Dalam sekejap dibaliknya posisi mereka. “Jadilah istriku, dan kau bisa berada di sisiku sepanjang yang kau mau,” lanjutnya. “Bunuhlah aku sesering yang kau mau, sesadis yang kau bisa, tapi jadilah istriku, lalu kita bangun keluarga yang kuinginkan.”
Wanita beracun itu menatap Feruci tidak percaya. “Tu... tunggu, tunggu! Barusan kau... apa? Melamarku?” Tanyanya, syok mendengar kata-kata Feruci barusan.
“Kau cantik, menarik, bahkan berpengalaman menjadi ‘Ibu’ bagi semua pembunuh asuhanmu di sini,” puji Feruci. “Kau adalah wanita yang paling tepat untuk kujadikan istri dalam keluarga yang kuinginkan, tentu saja.”
Asmodeus masih terlihat kaget dan syok sekaligus. “Keluarga yang kau inginkan? Pembunuh sepertimu?”
Pria berambut biru itu mengangguk yakin. “Ya. Keluarga biasa dengan seorang istri dan anak-anak. Keluarga yang menyayangi sekaligus membenciku,” jelasnya.
Tanpa sadar wajah Asmodeus sedikit memerah. “Ti—tidak bisa. Aku tidak bisa punya anak dengan tubuh seperti ini,” jawabnya lirih.
“Kita bisa mengadopsi mereka,” bisik Feruci pelan di telinga Asmodeus. “Tapi yang bisa berperan menjadi istriku hanya kamu,” godanya.
Wanita itu tahu, kata-kata itu hanya rayuan yang ditujukan untuknya. Tapi ia tidak bisa berkutik ketika pria itu menguasainya sedekat ini. Tawarannya begitu menggiurkan. Apalagi jika itu berarti ia bisa membunuh pria itu dengan lebih mudah ke depannya.
Feruci menyeringai. “Kurasa aku sudah tahu jawabannya,” katanya, lalu mencium bibir Asmodeus dengan lembut. “Kita lanjutkan setelah kamu resmi menjadi istriku, oke?”
Kali ini wajah Asmodeus benar-benar merah sampai ke telinganya. Ia menggigit bibirnya, seperti menahan senyum yang sebenarnya sudah diketahui oleh Feruci.
Setelah puas melihat reaksi wanita yang baru saja dilamarnya itu, Feruci bangkit berdiri lalu merapikan pakaiannya. Ia memakai jaketnya yang sudah digantung di ruangan itu sebelumnya dan bersiap pergi, sembari di dalam hati mempersiapkan diri menghadapi omelan atasannya karena telah lengah dan membiarkan Asmodeus mengambil targetnya.
“... Ades...”
Feruci berbalik lalu menatap Asmodeus yang sudah bangkit berdiri dengan bingung. “Hah?”
“Nama asliku... Ades...” Ucapnya lirih, sambil menutupi wajahnya dengan lengan kimononya.
“Jangan membuatku ingin kembali menyerangmu sekarang, dong,” balas Feruci sambil tersenyum. “Nomorku ada di buku resepsionis dengan nama Ray Thompson, oke?”
Lalu pria berambut biru itu pergi dari penginapan, meninggalkan Asmodeus terduduk lemas, sendirian di ruangan tadi. Sejak pria itu pergi, ia tidak bisa berhenti tersenyum lebar dan berbinar-binar semangat.
.
.
.
Writing commission written by Anindita Alya.
Part of writing commission by the title Keluarga


Comments