Hacked Hacker
- Kuroi Onee-san
- Oct 24, 2016
- 8 min read
Updated: Feb 11, 2025
Sudah lima jam dan lima gelas kopi berjalan di antara keempat insan itu seraya pagi melarut menjadi siang.
Mungkin ini hal sepele, malah, mungkin sedaritadi hanya dengan jentikan jari segalanya selesai, tapi ...
Kantor mereka telah di'masuki' oleh 'virus', bila dalam kamus Zero, ia menyebutnya 'Hacked Hacker'—kondisi ini dimulai sesaat Delta dan Cube hendak menyelesaikan permintaan klien, semua komputer mengalami kondisi sama saat hendak mengakses jaringan, sebuah foto senonoh muncul menghalangi kegiatan mereka.
—Tidak terlalu senonoh, hanya ...
"Hebat sekali mereka bisa mengumbar private chat-mu dengan ibumu, Cube."
Tertawa lagi, kali ini Delta harus menghindari lemparan mug kesekian kalinya.
"Jangan terlalu banyak bercanda, Delta, ini masalah serius kalau kerjaan kita terhambat," Zero terkekeh, santai menyesap kopinya di saat 'anak-anak' lain memulai pertengkaran. Tentu tidak ada jam aman dan tentram di dalam kantor bawah tanah itu, lagi disitulah letak keseruannya selain pekerjaan mereka untuk membongkar banyak hal-hal tersembunyi. "Mungkin kita harus mulai menyisir dari klien-klien terakhir kita, bisa jadi mereka penyebab huru-hara ini."
***
Waktu pun bergulir sesaat mereka mulai membuka file pesanan terakhir dari lima klien, mengurutkan satu-persatu alasan mereka menggunakan jasa, berapa banyak bayaran mereka, spesifikasi komputer yang mereka gunakan, nomor IP masing-masing klien, hingga lokasi terkini klien. Tidak ada yang mencolok, menurut Zero yang memerhatikan Delta, Cube dan Cross bekerja; toh bukan kerjaannya untuk mencari-cari celah di antara dunia nol dan satu, ia hanya disini karena keadaan sedang darurat saja.
Paling tidak, komputer dan jaringan mereka masih bisa digunakan untuk sementara, asal tidak menyambung dengan pranala luar terlalu lama, tentu dengan sedikit sentilan dari Cross agar segalanya bisa berjalan normal tanpa sesekali foto screenshot itu muncul mengganggu.
“Memangnya tidak bisa kalau kita tidak mencari sumber kekacauan ini dulu? Ingat request kita masih menumpuk—“
“Diam, Delta, ini menyangkut harga diriku.”
“Hah? Apa aku salah dengar? Bukannya dirimu tidak punya harga diri?” terkekeh, Delta membalas. “Aku dengar dari Zero bahkan foto-fotomu yang tidak indah dan tidak simetris itu terpampang di sosial media!”
“Kau mau berantem, hah!?”
Delta bangkit dari kursinya, “Ayo, sini.”
“Sudah kubilang ini penting. Harga diriku dipertaruhkan! Siapa yang berani seenaknya mengambil dataku!?”
“—Hei, kalian bocah-bocah dungu, jangan banyak omong dulu, cepat kerja.” Cross berdehem. “Masalah sepele ini lebih cepat selesai lebih bagus.”
Zero menaikkan bahunya sesaat Delta dan Cube kembali ke ranah masing-masing untuk bekerja. Si bos bawah tanah kadang memang bisa sedikit wah berwibawa kalau sedang saat-saat serius. Di momen seperti ini, yang bisa orang awam tak terlatih sepertinya di kala tidak ada kerjaan adalah mencari kesibukan, salah satunya membuatkan kopi (lagi), membereskan ruangan dan sesekali melihat kalau-kalau ada perkembangan.
“Sudah lama tidak ada ‘penyerangan’ yang tertuju ke kantor, ya?” Zero sejenak bicara. “Kupikir mereka semua terlalu lemah untuk bertarung dengan kita.”
“Ya, harap saja bukan karena mereka sering tertidur sama sepertimu, bos.” Delta menyahut.
“Oh, sudah berani untuk menghinaku, Delta?” Zero bernada serius.
“Tidak, tentu saja. Kau bilang ‘kan jangan terlalu besar kepala,” ia menambahkan. “Sebaiknya kita jangan bercanda atau Cube akan melempar komputernya.”
“Aku mendengarmu, Delta, Zero. Aku akan mogok kerja bila kalian terus menghinaku.”
Kembali bekerja.
Sesuatu yang berhubungan dengan jaringan dan program adalah hal mudah bagi mereka, virus ataupun mungkin di masa depan akan ditemukan bakteri komputer sekalipun, bukan sesuatu yang menantang bagi penghidup ruang Bawah Tanah itu. Lagi, apa yang harus mereka terapkan adalah presisi dan akurasi, tidak menganggap enteng suatu problema dan berkepala dingin—walau segala hal tidak selalu berjalan demikian, terutama dengan beberapa dari mereka yang jelas berurat nadi panas.
Sudah lima klien terakhir diperiksa masing-masing latar belakangnya dengan tidak ditemui hasil yang pasti, Cross mengarahkan agar mereka mulai menganalisis ‘virus’ yang menjadi sumber masalah, dimulai dari melihat kode. Bisa jadi sesuatu yang dianggap ‘virus’ ini sejatinya bukan virus komputer, bisa saja sekedar bug, atau sebuah bentukan penyadap yang telah difabrikasi agar mereka tertipu dan salah mengambil langkah yang dapat mengancam data-data mereka sendiri.
Cube melakukan cracking dengan hati-hati, memilah-milah cara untuk membaca program virus itu dengan berbagai langkah, sesekali menggeram untuk menemukan ujung kata dimana gambar-gambar yang bermunculan tadi berasal. Setiap langkah yang ia pilih didiskusikan dengan panel bersama X, agar bug yang tiba-tiba bermunculan secepatnya dilakukan debugging dan tidak banyak proses yang hilang. Delta memeriksa beberapa board yang didalamnya terdapat penggiat generator virus untuk mendapat titik terang.
“Aah, sepertinya memang sumbernya virus komputer,” Cube menelengkan kepala sesaat muncul suara notifikasi dari pencariannya. “Bagaimana kalau kau caritahu komputer mana yang membuat string ini, Delta? Sudah kukirim ekstraknya ke komputermu tuh.”
Delta melirik ke arah layar komputer Cube. “Seperti kenal cara penulisan virus itu.”
Tak perlu lama bagi Delta untuk memproses, tanpa kata. Zero bersiul sesaat komputer itu segera menampakkan layar hitam command prompt dengan berbagai bahasa pemrograman muncul tanpa henti, silih berganti dengan dua program lain yang dioperasikannya.
“Arkadia,” sebut Delta. “Nama virus ini ‘Arkadia virus’, dibuat menggunakan komputer dengan spec sama milik bawah tanah kita. Alamat IP tidak terlalu beda dengan modifikasi milik kita, lokasi mereka dekat.”
Delta sekejap membuka e-mail terakhir berisi percakapan dengan nama ‘Arkadia’ di dalamnya. Sembilan jendela terbuka, tanggal terakhir transaksi mereka sekitar pertengahan tahun, dimana mereka meminta pembuatan perangkat lunak untuk hacking yang bahkan dapat digunakan oleh awam dan pemrogram pemula, permintaan mereka lebih banyak berkutat untuk menarik informasi dari blok raja-raja saham di berbagai belahan negeri, atau prototipe perangkat lunak, bahkan perangkat lunak yang tidak mudah dikerjakan dalam waktu singkat.
Arkadia sendiri adalah nama sebuah perusahaan berkantor kecil dengan bisnis besar di ‘waralaba’ peretasan, mereka dikenal dengan laman web mereka yang begitu apik dan pengerjaan permintaan mereka yang cepat. Console sudah menjadi mitra Arkadia, tetapi tidak orang luar kenali, mereka sudah banyak menaruh proyek dengan bayaran berkaliber lumayan dibanding para pesaingnya yang membuat Zero menerima tawaran pekerjaan dari mereka.
Cube mendengus, “Apa-apaan ‘tercepat’—mereka juga meminta bantuan kita untuk mengerjakan proyek mereka!”
Sebelum geraman itu berujung pada pelemparan barang berikutnya, Cross inisiatif angkat bicara, beserta cangkir-cangkir teh di nampan, “Jadi; sudah ketemu, kan? Bagaimana kalau kita bergerak sekarang?”
Delta mengibas poninya, “Apa rencananya?”
***
Arkadia, seperti banyak penggiat peretasan, terkenal di dunia maya dan tersembunyi di dunia nyata.
Gedung Arkadia, sekadar empat lantai milik sendiri yang tampak normal seperti kantor-kantor pada umumnya, tersusun dari kaca tebal untuk interior luar, mempunyai lobi yang menawan dengan resepsionis cantik rupawan. Bedanya, gedung itu terletak jauh dari wahana komersial dan bisnis kota, jauh untuk siapapun sadar bahwa kantor dengan bisnis peretas hadir dekat dengan khalayak umum, hanya sebagian kepala di daerah yang paham apa yang mereka akrabkan dalam rangka mendulang uang melalui jual-beli informasi bagi pihak kawan maupun lawan.
Tanpa mereka sadari, lokasi itu juga jauh untuk mereka memprediksi akan timbul penyerangan fisik.
Pintu otomatis lobi terbuka bagi dua orang itu, seketika resepsionis menyapa dengan ramah;
“Selamat datang, ada yang bisa saya—“
Cube sudah mulai menghancurkan konter dengan Delta menyambut, “Suruh bos kalian keluar dan bertekuk lutut.”
***
Siaran televisi serempak menyiarkan berita tentang ‘kematian’ saham sebuah perusahaan yang dikenal bergerak di bidang informatika dan peretas cyber, diikuti dengan bangkrut dan bobroknya perusahaan yang bersangkutan, Arkadia telah menemui ajalnya. Berita disiarkan begitu eksklusif dan intens, spekulasi-spekulasi beredar dan menjalar cepat bagai racun dengan virulensi tinggi, seketika baik televisi hingga masukan dunia maya membahas topik yang sama, beberapa bahkan mulai menggelar talk show dadakan dengan ahli-ahli IT karena masalah tersebut.
Gedung empat lantai yang diduga kantor utama Arkadia hancur lebur dengan perusak tidak terekam kamera pengintai, semua karyawan diam seribu bahasa ketika ditanya, seluruh saham yang mereka taruh di pasaran turun sebelum penyerangan terjadi, akses networking mereka dipangkas, program-program yang sudah mereka jual porak-poranda; kata-kata lebih dari kacau-lah yang mungkin menggambarkan kondisi mereka saat itu.
.
Komando yang digagas Zero dan mendapat persetujuan segera dari Cross terbukti sangat efektif.
Obrak-abrik sepuasnya.
Mendengar perintah itu, Delta dan Cube segera kembali sibuk dengan komputer masing-masing; satu membuat panggilan dan surat palsu berisi kecaman terhadap investor agar mereka segera menarik saham, satu membuat saham total Arkadia turun, Cross sedikit membantu agar seluruh perangkat lunak yang sudah dijual atas nama Arkadia memulai program self-destruct mereka sekedar beberapa kali menekan tombol.
Butuh proses sebelum komplain-komplain bermunculan serentak dan mulai tertuju pada perusahaan Arkadia, kemudian Cross menonaktifkan pengawasan dari gedung mereka sesaat Delta mengidekan untuk turut membuat seluruh karyawan merasa jera; sepertinya balas dendam Cube atas screenshot itu tidak akan padam cepat tanpa melihat gedung itu runtuh, atau minimal, semua komputer di sana hancur.
Sisanya tinggal kerja otot, tinggal Cube yang berjalan ke luar sana melayangkan hukuman.
Cube mulai-mulai memikirkan perusakan properti, Delta hanya mengikuti, asal bajunya tidak kotor.
.
.
.
Kini, dua diantara empat, kini terduduk manis selayaknya tak ada angin badai menerpa di luar sana, menikmati berita bak awam tak bermata.
“Sudah puas, Zero?”
Zero ada di sisi pojok ruangan, bersandar dengan teh di tangan, menyesap kemenangan dengan senyum merekah. Cross memasang senyum simpul, melirik sesekali berita kekacauan di televisi sembari menekan tombol keluar dari beberapa program yang tengah ia buka.
Salah satunya adalah file mengenai prototipe ‘Arkadia virus’ yang membuat huru-hara kantor, selepas Cube pergi, Delta segera menghapus virus yang mendera jaringan mereka dengan antivirus pasangannya yang juga ia sendiri ciptakan, adegan ‘pura-pura tidak tahu’ barusan berjalan lancar.
“Padahal kau tinggal bilang untuk melenyapkan Arkadia karena tidak memenuhi perjanjian, simpel, tidak perlu sampai mengusik urat nadi Cube,” maksud Cross adalah berceramah dengan nada serius, akan tetapi seringai lebar mengikuti.
“Mereka; Arkadia, orang-orang yang tidak tahu terima kasih,” Zero bermonolog. “Pembayaran mereka terakhir terlalu memaksa, terlalu ringan bahkan untuk seleraku. Terakhir juga, mereka mempekerjakan kita seperti mereka yang rasa punya segala? Mereka harus hancur.”
Pelanggan adalah raja, tentu kerajaan Bawah Tanah itu paham soal frasa tersebut terlebih juga Zero yang berkelana di dunia permukaan. Akan tetapi, Arkadia menurutnya sudah kelewat batas, walau antara Delta, Cross, dan Cube tidak ada yang berkomentar mengenai porsi kerjaan mereka, juga Zero-lah yang tahu seberapa besar mereka sebenarnya dibayar untuk suatu pekerjaan. Kebaikan bukanlah hal yang harus ada di dunia bisnis peretas, profesionalisme harus dibayar dengan tinggi, dan inilah yang Zero tegakkan sekarang.
Kemungkinan besar Arkadia sudah terlalu enak dengan posisi yang mereka miliki sehingga lupa untuk berbaik hati pada para penggiat retas sebenarnya, apapun alasan mereka atau kalau-kalau mereka ingin memohon ampun, mereka sudah sempurna melebur tinggal nama.
—Ya, walaupun 70% ide itu adalah murni iseng, 20% keinginan agar Arkadia tahu diri, 10% keinginan untuk merasa puas.
“Tujuanmu mengusik Cube biar dia serius sangat baik, walau kita harus kehilangan beberapa mug. Untung dia tidak mulai membuatmu membuka dompet untuk beli seperangkat komputer baru.”
“Itu hampir, hampir saja,” Zero menghela nafas. “Mungkin kalau tadi Cube dan Delta bertengkar, atau Cube terlanjur dipanas-panasi terlalu lama, komputer di ruangan ini hilang total.”
“Pantas idemu obrak-abrik sepuasnya; sekarang aku bersimpati pada Arkadia.”
“Biar ini jadi peringatan lawan-lawan kita di luar sana,” ia mengedip, kembali ke tehnya. “Bagus juga, hal ini membuatku bisa libur seharian.”
Sebentar lagi mungkin urusan Cube untuk merobohkan perusahaan itu selesai, mereka pasti sedang membersihkan jejak hingga sendi terdalam, bahkan mungkin membereskan si pemilik perusahaan yang tidak berdosa tersebut dengan cara mereka sendiri.
“Hei, jangan senang dulu, jadi kau gunakan data prototipe virusku ini untuk iseng? Aku tidak bisa terima itu.”
Sosok misterius itu membuang muka, menyembunyikan rasa ingin tertawa terpingkal-pingkal. “... Aku tidak menangkap apa maksud tuduhanmu, Delta,” ia meletakkan cangkir di atas meja. “Aku cuma memikirkan sedikit hal ‘rekreatif’ agar kalian lebih semangat bekerja, itu saja.”
“Oh; kau dan alasan busukmu,” dengung Delta, mengganti siaran untuk menemui banyak ulasan mengenai Si Raksasa Peretas Arkadia Gugur Tanpa Sebab memenuhi seperempat layar kaca. “Semoga saja Cube tidak menemukan idemu ini.”
Sampai Cube tahu ide ini, Zero dipastikan tidak akan bisa melihat matahari esok pagi, tentu saja.
Zero mengerling, ponsel ia buka untuk melihat enkripsi terakhir perbicangannya dengan ibu sang Kotak, sedikit negosiasi dan komisi di sana tertulis detail dengan beberapa screenshot dikirimkan sempurna tentang pembicaraan rahasia antara ibu dan anak yang sekilas manis lagi menjadi aib untuk diumbar pada kolega-koleganya. Ia memijat tombol hapus seketika, sadar betul pembicaraan itu sudah disimpan di tempat rahasia lain.
“Musuh tumbang mudah, tanpa sisa, bukankah ini menyenangkan? Anggap saja kau tidak tahu apa-apa, Delta.”
“Masa bodoh, aku mau tidur. Kau tetap di sini sampai Cube kembali.”
“Siap.”
[ ]
Commission Story Written by Kuroi Onee-san
Comments