Hati-hati ketagihan
- Erfin
- Jan 30, 2025
- 13 min read
Levi masih seorang remaja. Meski tak se-’normal’ para gadis seusianya, tetap saja itu tak mengubah fakta bahwa ia belum dewasa. Tak seperti ayah dan ibunya yang serba tahu, ada banyak hal yang belum Levi pahami dan ketahui. Namun, dari begitu banyaknya ketidak tahuan itu, ada satu hal yang sungguh sangat ingin ia coba. Seks; seks dengan seorang wanita lebih tepatnya. Jika seks antar pria dan wanita hanya membutuhkan penis serta vagina, maka apa yang harus dilakukan saat yang ada hanya dua vagina? Levi tak paham. Orang bilang mereka menggunakan tangan–bagaimana? Apa yang dilakukan dengan tangan itu? Apakah rasanya akan seenak bercinta dengan penis lelaki?
Sudah sekitar dua hari ini ia menjelajahi situs biru, menonton video-video dengan tagar lesbian yang berhasil membuat rasa penasarannya tumbuh kian kuat. Ada beberapa hal yang ia tangkap selepas menonton lusinan video porno tersebut. Pertama, seks dengan sesama wanita sungguh menggunakan tangan—jari lebih tepatnya; yang ia masih tak paham, seenak apa? Levi tentu saja sering menyentuh dirinya sendiri. Namun, rasanya tak seenak itu, tak senikmat digauli dengan penis lelaki. Jadi, ia masih tak paham kenapa para bintang porno itu bisa merem melek keenakan hanya karena dua jari. Kedua, ia jadi tahu bahwa ternyata saking enaknya, para wanita itu bisa squirting hingga membasahi sprei dan juga kasur hanya dengan dua jari tersebut. Tampak begitu menggoda dan ia penasaran bagaimana rasanya. Ia belum pernah merasakan itu sebelumnya dan ia tak tahu apakah dirinya mampu melakukan itu. Selepas pencarian dan analisa yang telah ia lakukan, Levi jadi berkali-kali lipat lebih penasaran dari sebelumnya.
Levi dekat dengan sang ibu. Meski bukan ibu kandungnya, tapi ia selalu menganggap bahwa Ades adalah sosok ibu yang harus ia hormati. Beranggapan bahwa ibunya itu tau segalanya, maka ia memutuskan untuk menghampiri sang wanita, hendak menanyakan terkait rasa penasaran yang beberapa hari ini menghantuinya. Ia yakin bahwa ibunya itu pasti akan punya jawaban. Maka disinilah ia, duduk berhadapan dengan sang ibu dengan secangkir coklat panas.
"Ada apa sayang? Tumben sekali mencari ibu?" Ades berujar sembari melepas anting-anting yang menggantung di telinganya. Tangan lentiknya meletakkan perhiasan itu di dalam kotak sementara dua manik ungunya menatap sang anak lembut.
Ah, lihatlah betapa cantik rupawannya sang ibu? Levi tersenyum lebar, menggaruk tengkuknya pelan. "Levi mau bertanya soal…seks." Ia berujar pelan, hampir seperti malu-malu. Sungguh berbeda dari ia yang biasanya begitu vokal tentang aktivitas seksualnya. Di hadapan sang ibu, nyatanya ia tetaplah seorang gadis muda malu-malu.
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh sang putri, Ades menaikkan sebelah alisnya tak paham. Ia tahu betul bahwa gadis itu telah mahir perihal hal yang barusan ditanyakannya.
Seolah paham akan arti ekspresi yang dikeluarkan sang ibu, Levi segera menggelengkan kepalanya kuat. “Bukan, bukan hanya seks biasa! Maksudnya, aku mau tanya soal bagaimana seks antar…um…wanita.” Ia berujar, menahan diri untuk tak melepas kontak mata dengan sang ibu yang langsung tersenyum simpul sedetik setelah ia mengucapkan kalimat tersebut.
Ades salah sangka. Ia selalu berpikir bahwa anaknya itu sudah tumbuh besar. Namun, ternyata putrinya itu tak ubahnya seorang remaja yang ingin tahu banyak hal. Ia paham sekarang, alasan gadis itu menemuinya adalah untuk menanyakan hal ini karena Levi yakin bahwa ia akan punya jawaban. Tentu saja ia punya, bahkan lebih dari sekedar jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan sang gadis. Ia tahu betul, seluk beluknya, tata caranya, hingga semua titik manis yang mengundang nikmat pada tiap inci tubuh para wanita.
“Kamu mau dijelaskan atau, diberikan contoh?” Wanita itu berujar masih dengan sebuah senyum yang terkembang di wajah cantiknya.
“Memangnya bisa–ah?” Wajah Levi yang awalnya bingung kini perlahan-lahan dihiasi oleh rona merah. Ia baru saja mencerna apa yang dikatakan oleh sang ibu. Tentu saja bisa, kini ada dua orang wanita di dalam kamar yang tertutup. Tak ada situasi yang lebih pas bagi Ades untuk memberikannya contoh atas pertanyaannya tadi. Ia memalingkan wajah, memainkan jarinya dan mencicit pelan, “Boleh dicontohkan tidak, bu?”
Lucunya, Ades membatin begitu melihat tingkah gadis di hadapannya. Satu hal yang selalu melekat pada diri Levi di matanya adalah betapa menggemaskannya gadis itu. Tingkah lakunya, sifatnya, hingga sikapnya saat berhadapan dengannya; hampir semua hal terkait Levi begitu lucu di matanya.
"Boleh, tentu saja." Ia mengiyakan dengan senang hati dan berdiri dari duduknya. Kaki yang dibalut dress hitam sebatas mata kaki itu perlahan mendekati gadis dengan surai merah muda. Gemeletuk dari heels yang ia kenakan menggema, memenuhi kamar luas yang hanya diisi dua orang. Langkahnya terhenti saat jarak keduanya terpaut sejengkal dan ia merunduk, menjulurkan jari-jari lentiknya, menyeka anak-anak rambut yang jatuh menutupi wajah sang putri. "Let's go to the bed, Dear."
Wajah Levi merah merona selayaknya tomat matang hingga telinga. Ia mengangguk kikuk, berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah sang ibu seperti anak bebek. Tangannya entah sejak kapan telah digandeng dan ia bisa merasakan hangat dari telapak tangan wanita itu membalutnya.
Begitu sampai di kasur, Ades mendudukkan dirinya terlebih dahulu. Ia menarik sang putri, membuatnya jatuh ke dalam pelukannya. Levi memekik terkejut. Namun, ia tak mengindahkan hal itu. "Naik, sayang." Ujarnya sembari menyuruh sang gadis untuk menyamankan diri di pangkuannya.
Tak habis-habis rasanya Levi merasa jantungnya seolah akan meledak. Tarikan nafasnya terasa begitu berat dan ia bisa merasakan darahnya sendiri berdesir begitu hebat ke wajah dan juga bagian selatannya. Detak jantungnya seolah mencekik di pangkal tenggorokan dan tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti tiap perkataan yang dilontarkan oleh sang ibu. Ia menurut, memposisikan dirinya dengan 'nyaman' di pangkuan wanita tersebut. Kini keduanya berhadapan, wajah rupawan hanya terpaut sejengkal antara satu sama lain.
"W-what should I do now?" Ia berujar serupa cicitan, bertanya sembari menggerakkan pinggulnya bingung. Maniknya berusaha menatap lurus yang lebih tua meski malu-malu.
"Just enjoy and learn." Balas yang lebih tua sembari mengikis jarak di antara keduanya dan tanpa aba-aba, menempelkan bibir mereka dan memagut bibir merah muda yang lebih muda pelan. Tak ada setetespun keburu-buruan di sana, pagutan itu tak memaksa dan tak juga menuntut. Levi dituntun, mengikuti tempo ciuman yang begitu santai dan menenangkan.
Jari-jemari lentik bergerak di sepanjang leher jenjang, memberikan usapan-usapan lembut yang mampu membuat Levi bergidik. Sentuhan-sentuhan itu begitu lembut, hanya sebatas ujung jari yang menyentuh epidermisnya dari leher hingga sebatas pinggang terbalut blouse biru muda. Namun, efeknya luar biasa. Rasa geli seolah memenuhi tiap ujung pembuluh darahnya, membuat tubuh yang lebih muda bergetar pada setiap sentuhan yang jatuh pada tubuhnya. Erangannya tertahan oleh bibir yang membungkamnya dengan pagutan dan sisi pinggangnya ditahan oleh satu tangan yang merangkulnya erat. Ia sungguh dikukung dan tak berdaya.
Satu hal yang ia sadari dalam ciuman keduanya adalah betapa lembutnya bibir seorang wanita. Ia hanya pernah berciuman dengan lelaki dan bertemu dengan lembut dari bibir sang ibu terasa bagai siraman air oasis. Ciuman yang tak terburu itu lebih lembut dari marshmallow yang seringkali ia makan di kala musim panas, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Maniknya terpejam dan ia berusaha keras untuk mempelajari tiap sentuhan yang dijatuhkan pada tubuhnya. Jari jemari itu bergerak lurus dari daun telinganya, membelai sepanjang jenjang leher, dan meraba dua puting yang sengaja tak ia beri pelindung selain kain satin baju yang tengah ia kenakan kini. Tubuhnya gemetar, merasakan sentuhan yang terasa hati-hati–berbeda dari sentuhan terburu para lelaki yang tak tahu aturan. Tiap gerakan yang dilakukan oleh Ades terasa seperti sebuah tuntunan yang perlahan-lahan menuntunnya menuju pada tiap tahap yang ada. Ia diajari tanpa harus mendengar ceramah; hanya lewat sentuhan dan rasa nikmat yang memenuhi tiap sisi tubuhnya.
“Mmhh…” Lenguhan itu meluncur keluar bersamaan dengan lidah yang mengetuk belah bibirnya dengan jilatan pelan. Ia masuk tanpa terburu, melesak dan menyapa lidah Levi dalam sebuah tempo sensual. Dua daging tanpa tulang saling mengait, bertukar saliva satu sama lain, perlahan, terus, hingga tempo itu terus naik dan terasa menyesakkan; oksigen keluar dari paru-parunya lebih banyak dari ia mampu menarik nafas. Ciuman yang semula lembut itu berubah intens tanpa aba-aba. Ia yang selalu bisa mendominasi partner seksnya kini menjelma orang-orangan sawah yang bahkan tak mampu berpikir untuk dirinya sendiri. Levi larut pada tempo ciuman sang ibu, merasakan lidah wanita itu mengabsen satu persatu isi mulutnya tanpa celah.
Rok sepaha kini telah tersibak, menampakkan celana dalam berenda warna merah muda. Telapak tangan menangkup bongkahan pantat sintal yang lebih muda, meremas dan menguleninya seolah gemas.
Ciuman dilepas dan Levi terengah, menarik nafas terburu seolah ia kehabisan oksigen. Tubuhnya bergetar saat jari jemari itu bergerak dari belah pantat menuju ke vagina yang masih terbalut oleh kain. Rasa geli menyetrumnya hingga ke ubun-ubun dan bergumul di bagian selatannya, mencetus sebuah api yang perlahan-lahan membakarnya hingga ia bergerak risau.
Jari telunjuk serta manis mengusap kain yang terasa basah, membelainya hingga tubuh molek itu maju mundur, menyesuaikan tempo dengan gerak tangannya. Ades tersenyum kecil. Bibirnya jatuh pada leher porselen, memberikan tanda merah di sana dan terus turun hingga ke tulang selangka yang menonjol. Satu tangan menggesek bagian bawah dan satu lagi dengan cekatab melucuti pakaian yang dikenakan oleh gadis tersebut hingga tubuh bagian atasnya polos, menampakkan dua buah dada dengan puting merah muda yang telah menegang.
“Cantik.” Ades berujar pelan, menekan klitoris yang telah keras di bawah sana dan mengundang pekikan tertahan dari belah bibir sang putri. Ia menyusuri tubuh molek tersebut sekali lagi, meraba puting yang nampak begitu menggoda dan menggesekkan telapak tangannya di sana. Jarinya bergerak meraih dan memilin, pelan, membiarkan yang lebih muda meresapi tiap ombak kenikmatan yang kini satu-persatu menghantamnya.
“Ahh..nnghh!” Levi hanya mampu mendesah. Tak ada kata yang mampu ia utarakan saat kini bagian atas dan bawahnya dimanjakan bersamaan. Klitorisnya diusap, dibuat bergesekan dengan celana dalam berbahan katun hingga ia bisa merasakan basah merembes entah mengenai paha sang ibu atau tidak; yang jelas ia sudah cukup basah untuk dimasuki. Namun, Ades, ibunya itu tak terburu-buru–seolah ia mengajarkan Levi bahwa seks dengan wanita harus dilakukan dengan kesabaran. Tubuhnya diangkat dan ia dibuat berbaring, dikukung oleh dua tangan yang lebih tua.
“You have to do it slowly to be able to enjoy the pleasure of each touch.” Ujar Ades seolah paham apa yang tengah dipikirkan oleh sang putri. Ia tersenyum, menarik turun rok serta celana yang dikenakan Levi dalam satu gerakan cepat. Kini gadis itu telanjang bulat di bawahnya, nampak begitu elok dengan lekuk tubuh yang sempurna serta wajah rupawan yang dihiasi kabut nafsu. Begitu indah, begitu menggoda untuk dijamah dan dilahap bulat-bulat.
Ades merunduk, memberikan jilatan dari sepanjang tulang selangka hingga puting yang tegang. Hangat dari lidah bertemu dengan epidermis sensitif. Levi berjengit, meremas sprei sewarna arang di bawahnya. Ia memejamkan mata, menikmati bagaimana kini putingnya dijilat dan dihisap dalam sebuah tempo konstan. Sesekali putingnya akan digigit pelan dan ia mengejang, merasakan nikmat seolah hendak menjebol akal sehatnya. Gadis dengan surai merah muda itu juga bisa merasakan jari-jari lentik tadi kini kembali bergerilya, meraba klitorisnya yang membengkak karena rangsangan. Begitu daging kecil itu disentuh, ia memekik. “Ahhngh!” Suaranya melengking, terkejut merasakan aliran listrik yang menyetrum tubuhnya singkat saat jari-jari sang ibu menyentuh dan menekan klitorisnya secara langsung. Putingnya dihisap dan titik sensitifnya digesek-gesek nikmat; tak pernah sekali pun Levi merasakan seks yang rasanya senikmat ini.
Tak sampai di sana, jari-jari pada klitoris itu sungguh belum puas dengan penjelajahannya. Mereka turun, menyentuh lubang yang telah begitu becek dan basah. Pintu masuk vagina diusap, dimainkan dengan dicolek-colek cepat. Levi mendesah dan Ades tersenyum tipis.
“Mmmhh…” Levi mengerang, merasakan satu jari melesak masuk ke dalam vaginanya bersamaan dengan bibir yang turun dari puting dan menciumi tulang rusuk hingga pinggulnya. Jari itu bergerak memutar, perlahan-lahan maju mundur hingga menemukan titik manisnya. “AH!” Ia memekik saat jari itu menekannya hingga seluruh tubuhnya bergetar. Ia bahkan tak punya waktu untuk menarik nafas saat satu jari lagi melesak masuk ke dalam vaginanya. Dua jari itu tak langsung bergerak maju mundur seperti sebelumnya. Namun, ia bergerak melebar, melebarkan dinding vagina saat kini entah sejak kapan wajah cantik sang ibu sudah ada di bawah sana, menjulurkan lidah tepat di depan vaginanya.
“I-ibu..nngh!” Tubuh Levi bergetar hebat, merasakan hangat dari lidah sang ibu menyentuh bagian paling sensitifnya. Ia mengejang, kewarasan sedikit demi sedikit mulai meninggalkannya yang kini dihantam kenikmatan luar biasa. Enak, enaknya bukan main saat hangat dari lidah itu kini menggelitiknya. Vaginanya dijilat, disesap dan juga dihirup layaknya sang ibu adalah seorang wanita kelaparan. Wanita itu begitu lihai, memasukkan lidahnya dan menjangkau sisi-sisi yang bahkan ia tak tahu bisa terasa begitu nikmat saat disapa hangatnya daging tak bertulang. Satu detik, dua detik, pada akhirnya Levi memilih untuk membuang kewarasannya saat rasa nikmat itu kini terasa mencekik. Pinggulnya terangkat, bergetar. Ia menyerukan nama sang ibu, “Ades...nnghh…Ades..!” lagi dan lagi. Tak ada lagi kata yang mampu ia ucapkan selain nama tersebut. Kini otaknya hanya dipenuhi oleh sang wanita.
Lidah itu baru berhenti saat Ades merasa bahwa Levi telah cukup sakau–gadis itu memang sungguh telah sakau. Ia mengangkat wajahnya, menatap wajah imut yang tadi malu-malu kini nampak begitu seksi dengan bibir yang setengah terbuka dan saliva yang mengalir dari ujung bibirnya. Satu tangannya yang bebas meraih wajah sang gadis, menyisir anak-anak rambut yang menghalangi wajah rupawan tersebut. Ades terkekeh pelan. “Cantik, masih mau dilanjut?” Ia bertanya, membenarkan posisinya dan mulai menggerakkan dua jari dalam vagina Levi pelan.
Sinting. Levi menahan diri untuk tak bersumpah serapah. Pertanyaan tak masuk akal itu jelas bertujuan untuk menggodanya. Bagaimana bisa ia meminta berhenti saat kini rasanya ia bisa meledak kapan saja? Rasa nikmat itu sudah bergumul, berkali-kali menghantamnya dan membuat ia bahkan tak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Ia mau disetubuhi, dibuat keenakan hingga keluar lagi dan lagi. Ia mau Ades, Ades, dan Ades seorang. Maka gadis bersurai merah muda itu mengangguk, meraih leher sang ibu dan merangkulnya. “Please, please fuck me hard.”
“Sure, my Love.” Ades menjawab dan dengan senang hati menggerakkan jarinya, menekan titik manis yang lebih muda dalam gerakan maju mundur. Jari-jarinya bergerak dalam tempo konstan, menyodok vagina sang gadis terus menerus hingga si manis kelonjotan. Wajahnya turun dan bibir keduanya kembali memagut satu sama lain. Tak ada jejak dari ciuman penuh kasih di awal; kini ciuman keduanya menuntut, mengejar kenikmatan satu sama lain. Lidah bergerak acak, membelit satu sama lain tanpa ada keraguan.
Gelombang nikmat itu menghantam Levi lagi dan lagi. Tak ada satupun jeda diberikan oleh sang ibu padanya. Rasa nikmatnya berkumpul jadi satu dan ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan mendapatkan sebuah pelepasan paling luar biasa di sepanjang sejarah senggamanya. Levi mendesah, membiarkannya menggema dan jadi melodi yang memenuhi ruang kamar bersama dengan kecipak basah dari gerakan jari yang seolah mengobok-obok vaginanya. Pelukannya pada sang ibu mengerat dan ia bergetar hebat.
Levi menyesal. Kenapa tidak sejak dulu ia bertanya pada sang ibu? Kenapa baru sekarang ia punya keberanian untuk bertanya dan berakhir di ranjang keenakan? Bertahun-tahun hidupnya seolah terasa sia-sia saat kini ia menemukan rasa nikmat yang sesungguhnya. Ah, sinting. Nikmatnya bukan main dan ombak itu menyapunya kian banyak, begitu hebat sampai pada akhirnya ia tak tahan lagi.
“AH!” Tubuhnya mengejang. Sekali, dua kali, beberapa kali hingga wajahnya terlempar ke belakang. Maniknya memutih dan tubuhnya bergetar dari ujung kaki hingga kepala dengan cairan hangat yang menyembur, membasahi telapak tangan sang ibu.
“What a good girl.” Ujar Ades sembari menarik keluar jari-jarinya yang basah. Ia memberikan sebuah kecupan pelan pada dahi sang putri, mengusap surai merah muda gadis tersebut dengan tangan yang lain. “Bagaimana? Sudah tau rasanya seks dengan wanita?” Tanyanya dengan sebuah senyum simpul.
Levi setengah sadar. Ia yang baru saja diterbangkan ke nirwana itu kini hanya bisa mengangguk, masih tak mampu memproses apapun selain sensasi dari vaginanya yang masih berkedut nikmat. Namun, rasa penasarannya masih belum terpuaskan. Beberapa waktu lalu, saat ia tengah melakukan risetnya, gadis itu juga melihat bagaimana dua wanita akan saling berhadapan dan menempelkan dua vagina mereka, menggesekkannya dengan penuh kenikmatan. Apakah sungguh rasanya seenak itu? Ia sangsi, sedikit tak percaya bahwa hal itu akan sama enaknya dengan vagina yang dimasuki. “Ibu…boleh coba scissors?” Maka ia bertanya. Dengan dua maniknya yang sayu ia menatap sang ibu, hampir seperti memohon.
Mendengar permintaan yang diberikan oleh sang putri, Ades tak bisa menahan kekehan yang keluar dari belah bibirnya. Wanita itu meraih wajah Levi, menangkupnya dengan telapak tangan dan mengusapnya lembut. “Okay, but will you help this woman to undress herself first, then?” Ujarnya dengan sebuah senyum tipis sebelum berdiri dari posisinya. Wanita itu berbalik, mengangkat surai ungunya yang tergerai dan menunjukkan resleting dari dress yang dikenakannya.
Levi menelan ludah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang terburai sebelum menyeret tubuhnya untuk bersimpuh pada lututnya sendiri guna membantu Ades, menarik turun resleting wanita tersebut hingga dress yang dikenakannya jatuh ke atas lantai. Punggung mulus terpampang begitu nyata di hadapannya, begitu pula pantat sintal yang polos, tak terbalut apapun. Merah menghiasi wajah gadis itu secepat nafsu yang bergumul di perut bagian bawahnya.
“Ibu baru selesai mandi saat kamu datang ke sini.” Seolah paham akan apa yang dipikirkan oleh sang gadis, Ades berbalik dan berujar santai.
Tubuh polos tanpa busana menyapa indera pengelihatan yang lebih muda. Dua payudara besar nampak menggantung indah dengan dua putih kecoklatan di tengahnya, perut rata dan kemaluan tanpa rambut membuat wanita itu nampak seperti dewi-dewi surga. Levi bahkan tak tahu ekspresi apa yang kini ia buat di wajahnya. Namun, satu hal yang jelas ia tahu adalah fakta bahwa Ades adalah epitom nyata dari kesempurnaan bagi wanita. Ia menahan nafas, menatap tubuh polos wanita tersebut kembali naik ke atas kasur dan mengikis jarak di antara keduanya. Ia dipaksa mundur hingga kembali berbaring, sementara Ades di hadapannya, bersimpuh pada lututnya sendiri.
Ades meraih kedua kaki sang putri, perlahan melebarkannya dan mengangkat satu kakinya naik, disampirkan pada bahunya. Kini gadis itu telah terbuka lebar, menampakkan vaginanya yang masih berkilat basah. Kemudian, wanita itu mulai memposisikan diri, menyilangkan posisi keduanya hingga kini dua kemaluan saling menyapa satu sama lain; epidermis menyapa hangat masing-masing.
“Mmmh…” Levi melenguh pelan, merasakan hangat itu memberikan sengatan listrik hingga ke ubun-ubunnya. Rasanya begitu baru, sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Lembut dari labia sang ibu menempel dengan miliknya, perlahan menggesekkan diri hingga dua klitoris bersinggungan, menciptakan nikmat yang membuat ia bergetar. Sang gadis mendesah, meracaukan kata tak bermakna sembari menggerakkan pinggulnya, mengikuti tempo gerakan Ades yang begitu sensual. Klitoris yang sudah bengkak digesek lagi dan lagi, terus menerus dipertemukan dengan hangat dan juga basah hingga rasa nikmat kembali memenuhi seluruh penghujung pembuluh darahnya. Tubuhnya terasa panas, merasakan perlahan-lahan gerakan pinggul keduanya yang seirama berubah jadi tak sabaran.
Ades dan Levi bergumul begitu intens. Peluh membasahi dahi keduanya sama basah dengan dua vagina yang saling menggesek satu sama lain. Keduanya bertemu pandang, saling menatap satu sama lain dan entah sejak kapan kini yang lebih tua telah hampir berbaring, membuat keduanya menempel kian rapat. Mereka bagai hewan buas yang mengejar kenikmatan masing-masing, serampangan. Desahan demi desahan yang keluar dari belah bibir Levi terdengar begitu indah dan menggairahkan. Ades yang awalnya tak berniat pun pada akhirnya terbawa oleh suasana saat mau tak mau rasa nikmat itu juga perlahan memenuhinya.
Rasanya sungguh gila, sungguh Levi akan dibuat gila. Seluruh tubuhnya terbakar, merasakan nikmat berusaha mendobraknya dan membuat ia meledak. Gesekan pada klitorisnya begitu intens hingga ia otaknya tak lagi bisa memproses rasa nikmat yang berlebihan. Buku-buku jarinya memutih, meremas sprei dan menyokongnya untuk menggerakkan pinggul tanpa henti. Ia terengah, nafasnya terasa pendek-pendek dan kesadarannya sudah mulai habis saat pelepasannya telah begitu dekat. Hingga pada akhirnya, ombak itu kembali datang padanya; menyapu ia dalam sebuah gelombang kenikmatan dan meledakkannya. Ia mengejang, jari-jari kaki tertekuk ke dalam, pinggulnya terangkat tinggi dan cairan hangat menyembur keluar. Ia menyembur begitu banyak, bukan meleleh seperti biasanya. Cairan itu keluar begitu banyak hingga membasahi vagina sang ibu serta kasurnya. Squirting yang selama ini ia ingin rasakan, berhasil tercapai.
Ades mengulurkan tangannya, mengusap wajah manis sang putri yang seluruh tubuhnya masih bergetar keenakan. “Sudah puas?” Ia bertanya, dengan sengaja menggerakkan pinggulnya pelan dan membuat gadis itu berjengit kaget.
Yang lebih muda menatapnya tak fokus. Pelepasan barusan sungguh terasa luar biasa. Namun, ia masih mau lagi, lagi, dan lagi. “Kalau mau lagi..nnghh..boleh?” Pada akhirnya ia berujar lirih sembari menarik tangan sang ibu, mengarahkan telapak tangan wanita itu pada payudaranya dan mulai menggesekkan klitorisnya yang telah bengkak.
Ades terkekeh, menjatuhkan sebuah ciuman pada bibir Levi lembut. “Hati-hati ketagihan.” “Too late, I already am.”
Commission Story Written by Erfin on Facebook



Comments