top of page

Kemanusiaan Dibalut Monster-Pet

  • Gavin As
  • Oct 25, 2025
  • 13 min read

Updated: Jan 6



Realita bukan penguasa yang baik kepada Ades. Ke semua orang, sebenarnya, namun di sesaat spesifiknya hari ini, pada Bunda Keluarga Tujuh Dosa.


Di saat misi khusus di dalam hotel bintang lima Ibukota, ponsel terus mendapat puluhan kiriman pesan, surat elektronik, semua datang dari manajer-manajer senior rumah tercinta yang semua namanya Ades ketahui. Datang dari banyak departemen dalam rumah: tata graha, dapur, keamanan, mereka dan banyak lainnya. Meskipun berbeda, semua terisi satu pesan ini yang sama dalam telinga Ades.


Sesuatu tengah membunuhi para pegawai. Ia menghancurkan tubuh mereka ke banyak pecahan, berakhir mengerikan dan buruk rupa dalam begitu banyak potongan, tersedak dalam gas klorin atau fosgen bisa menjadi cara yang penuh belas kasih dan lebih baik untuk mati.


Pesan pertama mendeskripsikan bagaimana pegawai rumah menemukan bekas ledakan ringan terbuat dari daging dan tulang, tersebar di lantai lapang koridor, warnai semua dalam merah. Kepala pecah terbuka tersangkut di dalam lubang dinding batu yang terdorong, menatap tajam si penemu dengan rongga tanpa mata, sementara isi kepala miliknya tercerai-berai di bawah seperti air terjun tertahan waktu.


Itu hanya satu, yang pertama, masuk catatan harian pesan ponsel di hari kedua misi. Sejak hari terakhir misi, puluhan pesan sudah diterima Ades, melukiskan tubuh hancur teracak-acak dalam kalimat formal.


Semasingnya mendeskripsikan temuan mayat lebih aneh dari yang akhir.


Kedatangan sang Matriark disambut dua baris pegawai berpakaian hitam-putih rapi. Pintu mobil mewah pengantarnya terbuka, langsung Ades minta pembaharuan dari kasus kematian tak biasa yang terjadi di kompleks Rumah Dosa.


Semua manajer senior hadir, berjalan bersama Ades, dari lapangan masuk ke rumah. Seorang dari mereka memaparkan bagaimana kejadian seminggu lalu terjadi. Manajer lain berjalan di belakang, membiarkan paling senior di antara mereka bicara menjelaskan. Ades mendengarkan sembari melihat bukti-bukti foto di layar tablet yang departemen keamanan kumpulkan sejak hari pertama kejadian. Tulisan mereka di surat telah gagal menggambarkan foto-foto yang mata dia terima.


“Apa Anda punya sangkaan siapa yang melakukannya, pak?” tanya Ades.


“Belum, Nyonya,” balas pria tua dengan rambut berseri putih. “Tadinya kami mengira ini adalah hasil kerja Beelzebub. Namun, setelah kami membandingkannya dengan kejadian-kejadian kemarin, kecocokan bangkai korban Bulb sangat tidak cocok dengan yang sekarang.”


“Tadinya kami mengira kalau Beelzebub merupakan pelaku kasus ini. Namun, setelah saya bandingkan dengan mayat korban kejadian kemarin, gaya kematian mereka satu sama lain sangat berbeda untuk bisa jadi dari pelaku yang sama. Di mana Beelzebub membunuh seperti hasil proses alami asam lambung, kali ini lebih seperti korban pembunuh berantai yang terlalu hewani, bahkan untuk saya. Dan bila ini bisa jadi petunjuk, Beelzebub sama sekali tidak ada di dekat mayat-mayat itu.”


Ades mengangguk. “Bukti lain apa yang telah kalian temukan?”


Si manajer senior menggeser layar tablet. Apa yang muncul membuat si Matriark berhenti melangkah, kemudian pula para manajer.


“Rambut oranye?” ucapnya, menoleh kepada si manajer.


“Kami menemukan rambut oranye ini di semua lokasi pembunuhan,” angguknya. “Kami masih memeriksa para pegawai dengan warna rambut oranye, Nyonya. Untuk sekarang, identitas siapa pemilik rambut ini masih belum bisa ditemukan.”

“Kalian sudah melakukan uji DNA?”


“Kami...” Perangai manajer itu tiba-tiba diselimuti ragu. “Kami sama sekali tidak menemukan jejak genetik apa pun di dalam rambut oranye itu, Nyonya.”


◊◊◊◊◊◊


Pintu ruang keluarga ditutup. Ades mendapat waktu sendiri, bebas dari ramainya pembaharuan kasus pembunuhan untuk sekarang. Hiruk-pikuk mulut para manajer senior telah jadi angin lalu.


Dia belum duduk pada pangkuan lembut salah satu delapan sofa merah, empat saling berhadapan membentuk persegi panjang, meja kayu tepat di tengah-tengah, fokus sepenuhnya sibuk berkutat pada tablet di tangan. Telunjuk mengelus layar, terus membaca tulisan dan melihat foto tertaut, menaik-turunkan halaman, lalu membuka folder selanjutnya. Keanggunan biasa ada di muka sudah pudar, diganti ekspresi datar pula serius. Salah, namun, kalau mengira estetika anggun itu hilang. Ia cuma berganti wujud nada saja.


Tangan berhenti. Ades melangkah, ambil duduk pada sofa yang biasanya Feruci singgahi saat pertemuan keluarga. Kaki kanannya naik, lantas jatuh bertumpu di atas yang kiri. Masih ada keanggunan―ketenangan, lebih tepatnya―di dalam mata sang Matriark. Namun, di saat bersamaan, kebingungan pula menemaninya di sana.


Rambut panjang. Warna oranye. Dua karakteristik bukti kalau kejadian ini bukan bunuh diri acak tanpa kesengajaan, fisik bila sang pembunuh memang benar adanya. Cahaya layar mencerna Ades yang pelan-pelan naik menengadah.

Tiga orang berambut sepanjang helai barang bukti itu hidup di rumah ini: Mona, sang putri pertama; Feruci, sang suami; dan tentunya, sang Matriark sendiri, Ades. Ada satu masalah cara berpikir ini. Mustahil salah satu dari mereka tersangkanya. Meski punya panjang sesuai barang bukti, mahkota mereka bebas dari satu helai pun rambut corak oranye.


Di luar mereka bertiga, ada para pegawai.


Memang beberapa ada yang punya rambut corak oranye, tanpa disemir, warna alami mahkotanya; mewarnai rambut merupakan larangan keras untuk para pegawai, terutama dapur. Sayangnya, akibat tata tertib ketat kerapihan dan perawatan diri itu, sama sekali tak ada pegawai memiliki panjang rambut dibutuhkan agar bisa dicurigai sebagai asal muasal benang kepala itu.


Makhluk lain―satu-satunya setelah mengecualikan semua sebelumnya―dalam kompleks Rumah Dosa sewarna helai rambut bukti pembunuhan merupakan Stan.


Pandangan Ades akhirnya turun. Sinar layar sudah lama hilang, terkunci akibat sudah mencapai batas waktu menyala, pergi sendiri. Ades taruh benda elektronik tipis bagai buku itu di meja. Mata menusuk tenang pantulan pada muka halus tablet.


Tidak, pikirnya. Apa pun yang ada pada kulit kucing cerdas itu tidak bisa disebut rambut sama sekali, dari tekstur, dari bentuk, dan dari bagaimana efek cahaya muncul padanya.


Setelah mengambil napas mendalam, dingin cukup agar bisa meluruskan kepala serta hasilnya, wanita manifestasi cantik dan anggun itu mengangkat lepas badan dari sofa dan berjalan dekati meja panjang di bawah lukisan suami dan dirinya, mengambil gagang telepon meja duduk nyaman di muka datar kayu. Dering memanggil muncul dari gagang yang sudah menempel di telinga setelah telunjuk Ades menekan tombol yang diinginkan.


Dering mati. Suara familiar pelunak hati menggantinya.


“Siapa lagi ini kalau bukan laba-laba kecilku. Butuh sesuatu, manis?”


Sesuatu di dalam Ades meleleh. “Bagaimana dirimu tahu ini aku?”


Tawa ringan renyah keluar dari balik gagang telepon meja, menjilat telinga sang Matriark Keluarga seakan si pembicara berada tepat di samping, memeluknya. “Kita sudah lama bersama. Aku mengenal racun-racun cipta tanganmu dan hasil pikiranmu, lidahku menerima mereka semua seperti karpet merah. Suara napasmu tidak akan bisa hilang begitu saja meski ditutupi gangguan audio, Ades.”


Hangat muncul sepanjang cantika ekspresi muka, pandangan menyipit tajamnya mengencangkan. Senyum tidak ada di sana. Namun, tidak bisa dia menyembunyikan cerca senang dari dalam mata pernak-pernik warna bunga wisteria.


“Selalu suka menggodaku, ya, Feruci?”


“Aku bisa melakukan jauh dari itu,” bisik Feruci, belahan jiwanya, ditemani kekeh masih sama renyah setelahnya. Dia bisa membayangkan wajah basah berkeringat di atas dari suaranya.


Ades akhirnya tersenyum. “Aku sama sekali tidak meragukanmu.”


“Jadi,” suara mirip pegas kursi keluar dari ganggang. “Apa sedang ada masalah di rumah? Rasanya si Bulb tenang-tenang saja.”


“Itu masalahnya...” Ades menghela napas. “Ini bukan tentang dia.”


Pembicaraan suami dan istri itu berlangsung kurang lebih di bawah lima belas menit tanpa sama sekali keluar fokus arah, berlangsung dalam kenyamanan dingin formalitas; volume suara datar yang stabil tapi rendah. Meskipun pilihan kata dalam kalimat menggambarkan kedekatan intim tak tertolak, tata cara mereka bersuara jauh berbeda dari apa yang bisa diekspektasi baik dari pasangan baru penuh gairah pasca menikah atau pasangan lama yang lelah akan muka masing-masing. Tak satu nada pun ada naik, terlalu bersih. Topik yang lidah mereka tengah olah dan telinga mereka sedang dengarkan merupakan urusan domestik rumah tangga. Anehnya, semua itu berputar di antara kedua jiwa seakan-akan cuma kegiatan bisnis semata.


Antara itu, fakta yang tak ada orang masih waras cinta nyawa mau angkat, atau mereka hanya benar-benar hebat menutup gairah ke satu sama lain yang bergemuruh mekar di dalam badan.


“Apapun yang terjadi di dalam kediaman kita, laba-labaku, bukanlah hasil kerja musuh ingin balas dendam ke keluarga kita, atau bahkan orang asing. Aku mampu merasakannya. Dia bukan ancaman sama sekali.”


“Kamu yakin tentang itu, suamiku?”


“Aku tidak yakin. Aku tahu,” jawab Feruci.


Keluar napas lega panjang dan halus dari Ades. “Bila dirimu bilang begitu. Aku akan mengurus masalah di sini, berikan aku waktu, ya.”


“Semua waktu di dunia ini milikmu. Rapihkan sarangmu. Aku percaya padamu.”


Panggilan berakhir setelah “aku mencintaimu,” keluar dari mulut. Ades kembali duduk pada sofa, membayangkan kesibukan sedang memelintir sang cinta, sebelum masuk ke proses rencana depan nanti.


◊◊◊◊◊◊


Hari ini merupakan hari pertama dari masa libur musim panas. Sekolah akhirnya bisa menarik napas segar, bebas dari teriakan anak-anak mau tahu dan remaja masih mudah terbakar proses hormonal pubertas. Kesempatan besar bagi anak-anak untuk sepenuhnya kembali ke dalam pelukan orang tuanya. Ironisnya, kesibukan yang akan mengekang Ades bukan tanggung jawab mengurus Mona, Levi, dan Gore―semua, bisa diargumentasi tentang si anak kedua, sepenuhnya mandiri―melainkan bapak-bapak bercincin pernikahan di ‘Rumah Asuh’.


Hari ini pula, pilihan ditentukan.


Rumah Asuh―nama akrab lokasi-lokasi bisnis hiburan dikelola Ades―biasanya mendapat lonjakan kustomer bapak-bapak pada masa ini, melarikan diri dari suasana seharusnya didambakan bersama anak kandung, dengan memakai alasan klasik dan kuno tapi ampuh ke istri yang sudah mereka anggap membosankan untuk dipandang atau dicintai.


Dia sadar kewajiban di tempat kerja mustahil bisa memotong tanggung jawab di kastil yang disebut rumah. Haram untuk seorang Ratu buta akan keadaan kekuasaan dan wilayahnya, betapa pun sibuknya. Namun, kenyataannya, dia tak bisa ada di dua tempat berbeda bersamaan. Supaya menghemat waktu, Ades akali dengan meminta pertolongan ketiga anaknya.


“Uruslah kasus pembunuhan di rumah ini, ya, anak-anak mama yang cantik dan tampan,” ucapnya secara langsung. Hanya untuk Gore seorang pesan itu masuk ke dalam kolom percakapan ponsel. Gore sedang menjalankan misi di luar Rumah Dosa sehingga kecil kemungkinan dirinya terlibat dalam pemburuan si pembunuh. Mona pun sama, mendapatkan urusan khusus bisnis tiba-tiba di luar Rumah Dosa. 


Akibat kenyataan ini, semua tanggung jawab jatuh memeluk pundak Levi seperti kawan sok-kenal-sok-asyik. Kalau urusan ini lambat selesai, bisa-bisa hasilnya akan menyutubuh Levi secara buas―tidak keberatan kalau secara harafiah, hanya saja ini metafora.


Setelahnya, selama empat hari, kesibukan koordinasi bersama berbagai macam pegawai Rumah Dosa dari semua departemen, tanpa terkecuali, untuk mencari sang pembunuh, menggauli Levi. Jeritan mendesah bisa saja keluar dari kerongkongannya kalau ada yang mengenakkan dalam hubungan bukan seksual ini.


Levi memastikan banyak urusan supaya sang pembunuh terungkap, membuat rencana yang dipercaya bisa menaklukkan dia di tempat, minimalnya menahan gerak dia sehingga perangkap milik Gore bisa ‘memakannya’.


Apa pun yang para pegawai temukan harus dicatat dan diberitahu kepadanya, secara langsung atau memakai ponsel. Siapa pun yang datang ke lingkungan Rumah Dosa, sedikit saja mendekati gerbangnya, harus diperiksa tanpa terkecuali, termasuk ‘teman dan kawan dekat’ atau tetangga Keluarga Tujuh Dosa. Di mana tamu singgah dalam Rumah Dosa―termasuk tempat pegawai bekerja biasa―akan ada sepasang mata memperhatikan, dari balik tembok, antara buku dalam rak, maupun pohon dan semak bila keluar bangunan.


Rencana berjalan, dan semua terbukti tak berguna.


“Kenapa bisa nggak ketangkep-tangkep sih?!” teriak si anak kedua pada seluruh barisan manajer senior yang dikumpulkan di hari keempat, dijawab rengekan kalau semua sudah dilakukan sesuai rencana.


Levi dibuat menjambak rambut. Meski rencananya berlapis-lapis dan bisa buat ahli keamanan mengangguk terkesan, pembunuhan masih terus terjadi seakan apa yang dilakukan sama sekali tak menyaringnya. Tugas ini membuat jantung berdegup, ditekan kenyataan kalau ada bahaya lepas di dalam rumah, tidak bisa dia kendalikan. Dan, di dalam pemikiran uniknya, bukan cuma khawatir, pula tumbuh rasa penasaran akan si pembunuh.


Dia setengah yakin kalau sang pembunuh adalah orang dalam, pegawai Rumah Dosa sendiri.


Alasannya?


Indikasi semua bukti. Levi memperhatikan rekaman kamera pengawas, sampai menonton siaran langsungnya dari ponsel. Nihil menunjukkan orang rambut oranye keluar-masuk kompleks Rumah Dosa; jalan di trotoar dekat gerbang masuk saja tidak ada. 


Pertanyaan masih berdiri meski jaring sudah terpasang. Siapa pembunuhnya?


Levi punya teori―pendengar melihat itu sebagai anggapan-anggapan liar.


Pembunuh yang mereka sedang buru bukan orang luar, dan bukan saja pegawai biasa, tetapi pegawai strata tinggi berpengaruh luas, yang mempunyai pegangan atas puluhan kepala bawahan untuk melancarkan aksinya. Mungkin, lebih parah dari teori itu, kematian para pegawai merupakan hasil dari kekerasan antar-kelompok pegawai, entah alasannya apa, yang terbentuk dan mulai melancarkan aksi-aksinya di bawah hidung tuan rumah.


Mengerikan!


Apalagi kalau kelompok pegawai yang menang itu merupakan mereka dengan sifat antagonistik ternyata kepada Keluarga Tujuh Dosa sejak lama. Lantas, setelah menang melawan kelompok pegawai yang melindungi bayang-bayang keluarga, akan menguasai tahta Rumah Dosa dan mengambil alih kendali perekonomian dunia gelap bawah pada akhirnya.


“Itu sangat luar biasa di luar akal, Nona Levi,” respon pegawai dari departemen keamanan saat mendengarkan penjelasan tak berdasar Levi sembari memperhatikan rekaman kamera pengawas bersama. Dia bisa bicara begitu sebab ketampanannya, jadi Levi mentoleransinya―sebelum membuat biji kembar pria itu kosong, tumpah di lantai kantor keamanan dan sedikit pada panel komputer.


Libur Musim Panas merupakan waktu sempurna tuk gadis rambut merah muda itu berdiam di rumah tanpa harus merasa―ini ucapan gurunya, dia tak tahu kenapa harus merasakannya―bersalah. Levi sadar kalau misi menempel di pundak, dan misi itu dia selimutkan di bawah kegiatan bincang-bincang bercengkrama bersama para pegawai, sampai gestur itu meruntuhkan kesiagaan mereka hingga mudah menjawab pertanyaan yang mestinya terlalu sensitif, tapi karena keadaan yang halus, dijawab tanpa pikir panjang.


Levi masih yakin akan teori-teori liarnya, kelompok geng pegawai itu, hidup dan bahkan tumbuh dalam kepala. Meski begitu, bukan Levi kalau dia tak terdistraksi hal-hal lain seperti meniduri pegawai yang menarik instingnya. 


Fokusnya kembali ke jalan yang benar cuma saat dia dapat berita pegawai paling tampan Rumah Dosa―si pegawai departemen keamanan kemarin―tewas terbunuh mengenaskan. Sayang. Padahal Levi mulai suka manisnya sikap cerewet suka bantah dan suka melawan miliknya. Itu membuatnya sadar kalau misi pemberian sang Bunda belum usai.


Fokus itu dibayar tuntas ketika Levi menerima informasi kalau sosok penyusup itu ditemukan tengah berlari menuju sayap timur Rumah Dosa dari salah satu pegawai bertugas mengawasi ruang tengah. Levi, tengah bersantai di bagian yang penyusup tuju, dengan percaya diri membalas melalui walkie-talkie kalau dirinya akan maju dan menangkap orang itu sendirian.


Dia menyusun posisi penyergapan di pintu penghubung sisi timur dan ruang tengah, dekat jendela berukuran cukup besar untuk dilompati orang dewasa tanpa tertahan rangkanya. Levi bersembunyi di atas rak buku, pisau telah keluar dari pinggul dan siap menikam.


Di sana Levi menunggu. Menunggu. Dan menunggu.


Levi melempar turun badannya, memeriksa sekeliling, kemudian memandang dari jendela sebelah pintu untuk melihat apakah kegelapan menutupi si penysup hingga bisa keluar. Mata mendapati sosok kecil Stan melompat dari atas ke halaman hijau sayap timur.


Bingung menggigit kepala Levi sekuat mobil balap menabrak tembok beton. Dia melihat empat kaki kecil Stan berlari. Otak berputar cepat. Kepala bekerja keras dari biasanya, membongkar puluhan teori dalam ratusan putaran kali lebih cepat yang hanya dilakukan di sekolah. Api muncul dari sel-sel yang muncul di kepala, dan seperti kepalanya, kaki pun menyala.


Stan berhenti, menoleh ke belakang, dan bayangan merah muda jatuh mengejar dari salah satu jendela. Levi. Stan kembali berlari, jauh lebih cepat.


Dia tidak pernah menyukai si anak kedua. Bayangkan, dirimu hidup―bisa saja didebat, tapi dia berpikir―dipeluk, dielus, dan dihujam ciuman tidak nyaman hanya karena tertangkap saat melakukan kegiatan sangat khas akan kucing yang mestinya tak menarik perhatian manusia. Dia tak suka diperlakukan seperti boneka.


“Hei, berhenti! Aduh! Dasar kucing bangsat, hampir saja.” Levi hampir jatuh saat berteriak memanggil. “Gua disuruh Mama buat nangkep penyusuh yang ngebunuhin pegawai, itu lu kan!? Ngaku gak, lo? Kalau nggak, gua laporin Feruci!”


Feruci.


Stan berhenti tepat di depan lubang masuk ke semak-semak yang akan mustahil bisa dilewati pengejarnya. Levi jatuh berlutut, dengan cepat tangan menunjuk-nunjuk si kucing.


“Jawab! Lu pelakunya, kan?!” ucap Levi. “Apa lu ngebunuhin pegawai rumah?”


Siapa yang mendapat pertanyaannya memberikan jawaban yang harusnya tidak mengejutkan siapa pun selain dia, lebih karena sadar betapa bodoh rasanya. Ngeong. Levi mengangkat Stan dari tanah, menyerang si kucing dengan hembus napas terlalu hangat agar bisa nyaman dan pegangan terlalu erat agar bisa sayang.


Kecermelangan ide bangkit dari kepala. Levi bisa memakai teknik yang sama digunakan Gore kepada Beelzebub. Ah, Levi memang cerdas. Pertanyaan ‘ya’ dan ‘tidak’ diberikannya, perlahan tahu kalau semua kasus kemarin hasil kerja Stan. Di akhir, dia suruh Stan berubah jadi manusia.


Letusan api mendorong mundur Levi. Ia berkobar dalam lima detik, cahayanya membunuh kegelapan. Di saat ia mati dan gelap berkuasa lagi, sosok rambut oranye panjang―tepat ciri-ciri si pembunuh―dengan pakaian hitam keseluruhan berdiri di hadapan Levi. Mata oranye berpupil vertikal mencium Levi dengan ketidaksukaan yang disembunyikan kedataran ekspresi. Di atasnya, ada alis tipis; di sampingnya, telinga tajam beranting hitam kecil bagai mutiara.


“O-oh...” Levi mendesah puas, pula penasaran. “Omong-omong...” Dia lakukan apa yang dimau tanpa basa-basi, memegang selangkangan Stan. 


Kosong. Tangan jatuh sendiri akibat kecewa tersembunyi.


Pertanyaan susulan datang mengkonfirmasi semua kasus-kasus kemarin. Dari yang paling pertama, disebabkan tempat berjemur Stan diduduki secara tak sengaja; yang kedua karena melintas di saat tidak tepat ketika Stan tengah diganggu serangga, sampai yang terakhir. Semua kasus itu muncul sebab alasan-alasan sangat remeh, seharusnya bisa dilupakan.


Levi berpikir, apakah selama ini Stan menahan diri dari membunuhnya?


Stan sunyi untuk pertanyaan Levi tidak sadari keluar jelas itu.


◊◊◊◊◊◊


Gore sudah pulang dari tugas yang membuatnya sibuk beberapa hari ini dan tak bisa membantu menyelesaikan masalah di Rumah Dosa. Seperti biasa, dia disambut pegawai departemen keamanan dan depan. Di antara mereka, Gore temukan wajah-wajah baru. Namun, bukan itu yang menariknya, melainkan suara bernada hiperbola yang tidak lain milik Levi.


“Aku kejar dia mati-matian sampai dapat habis aku sadar kalau penyusupnya itu dia! Duh, harus diteriakin keras-keras, baru mau berhenti. Itu pas banget loh sebelum dia masuk ke dalam-”


“Semoga aku nggak menganggu sesuatu.” Gore masuk ke dalam ruang tengah, lokasi pertemuan keluarga, memotong penjelasan saudarinya.


“Ah.” Fokus Ades, sejak tadi mendengarkan Levi, berganti. “Rupanya si tampan sudah pulang,” ucapnya sembari menapak sofa kosong di samping. “Yuk, sini, duduk bersama kami. Levi sedang bercerita keberhasilannya menangkap si penyusup.”


“Apa?” Gore lebih ke bingung daripada ikut senang. “Penyusup? Itu kan si Stan.”

Ades hanya tersenyum peduli kepada Gore, berbeda dengan  Levi yang harus melompat dari sofa dan menyahut pakai suara tinggi selayaknya burung kakak tua setelah melihat wajah tidak disukai.


“KOK LU BISA TAHU? GUA BELUM CERITA KE ELU, KAN?!”


Gore memandang bingung wajah kaget Levi. “Dari deskripsinya, lah. Padahal, itu doang sudah ngejawab, kok. Warna oranye rambutnya, cuma di rumah―ngebunuh pegawai doang, serupa banget sama iblis baru ngelewatin masa puber kayak si Bulb. Memang siapa lagi kalau bukan Stan?”


“Heh!” balas Levi, harusnya dilengkapi menggebrak meja. “Mana bisa langsung ambil kesimpulan kayak begitu?! Harus ada bukti, dong?! Gua tuh berjuang seminggu lebih cuma buat ngumpulin barang bukti!”


“Bisa tinggal panggil si Stan, kok,” Mata Gore berputar. “Habis itu tanya, deh.”


“D-dasar!” Levi tendang lantai sambil mengerang kesal. Muka dia merah.


Gore dibuat terkekeh. “Lev, kayaknya lu itu sakit, deh. Gua bisa dengan mudah tahu namanya, tapi gua gak punya obatnya, sih. Sakitmu itu disebut... ketololan.”


Levi langsung menerkam Gore. Si anak ketiga menghindar, lari kelilingi delapan sofa setelahnya, tanpa memberi kesempatan si kakak kedua tuk menangkapnya dan melakukan sesuatu tak diinginkan.


Ades memperhatikan tingkah laku dua anak termudanya dengan senyum. Sang Matriark Rumah Dosa sudah tahu kalau si penyusup atau si pembunuh merupakan peliharaan suaminya, Stan. Feruci memberitahunya. Namun, tugas yang telah dirinya berikan ke Levi sama sekali tidak dia cabut. Setidaknya, meskipun libur musim panas, Levi ada kegiatan di rumah, sekalian membuatnya dekat dengan para pegawai.


◊◊◊◊◊◊


Pada akhirnya, perubahan bukanlah hak istimewa makhluk hidup.


Dalam kebodohan diselimuti dogma superioritas, lupa bahwa di alam semesta ini, mereka tidak lebih dari binatang berpikir yang hidup atas izin makhluk-makhluk di atasnya. Yakin kalau perubahan seperti pada Beelzebub dan Stan mustahil. Tatkala api neraka mempunyai bentuk lempungnya, maka mereka sesungguhnya akan ingat mengapa takut akan kegelapan itu sangat terjahit pada psikis umat manusia.


Sampai hari ini, pematik apa yang merubah dua pijar api neraka itu masih belum ditemukan. Apakah internal atau eksternal? Dalam badan, pikiran, atau jiwa?


Tiada tahu―selain Feruci. Dia bukan Tuan yang dermawan atas informasi. Dan tiada satu jiwa di Rumah Dosa ingin mempertanyakan.


Kemunculan Beelzebub dan Stan sebagai manusia tambahan membawakan nol kerugian. Malah, keuntunganlah yang mereka bawa untuk seisi Rumah Dosa.


Penting untuk sekarang merupakan bagaimana Keluarga Dosa itu lengkap dan penuh, mengisi seluruh pojok pemahaman akan apa itu dosa yang biasanya kosong mengganggu. Seragam sudah makhluk-makhluk paling dosa di muka bumi, mengisi sepenuhnya apa itu tujuan-tujuan untuk menjadi Keluarga Tujuh Dosa.


-END-




Commission Story Written by Gavin As on Facebook

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page