Kopi Pulang Sekolah
- Tri

- May 23
- 4 min read
Mesin minuman otomatis itu berdengung pelan. Suara dengung kecil yang tidak cukup menggetar dinding di belakangnya. Matahari menggantung malas di atas deretan bangunan tua, bersiap mengakhiri hari dengan sembur warna kuning yang mulai menjingga. Murid-murid sekolah lewat bergerombol, suara tawa mereka makin lama makin menjauh.
Levi di depan mesin dengan ekspresi seserius orang memilih senjata. Di sebelahnya, Gore berdiri dengan sabar, atau menahan kesabaran. Posturnya setengah menuju rebah.
“Buruan.”
Levi bahkan tidak menengok. “Sabar. Lagi memperhitungkan”
“Ngitung apaan lima menit?” decak Gore. “Cuma air gula doang. Rasanya paling sama semua.”
Levi melirik tajam. “Cuma orang tanpa standar yang ngomong gitu.”
Gore berkedip pelan. “Gue punya standar. Yang gue ga punya itu kesabaran nungguin lu.”
Levi balik fokus ke mesin. Deretan kaleng dan botol warna-warni menatap balik ke arahnya. Soda impor. Kopi pahit. Minuman olahraga warna-warni. Sesuatu yang ungunya mencurigakan.
Matanya menyipit. “Kalau kita jalan kaki pulang,” kata Levi, “Gue butuh kafein.”
“Kita nggak jalan kaki, kocak” jawab Gore santai.
Hening. Levi menoleh. “Nggak?”
Gore memiringkan kepala ke arah jalan.
Sedikit di belakang mereka, bersandar santai di mobil merah mahal yang kelihatan terlalu mewah buat jalan ini, Mona memperhatikan. Kacamatanya memantulkan refleksi si dua adik dan mesin di antara mereka. Mona masih bersandar di mobil. Kunci mobil diputar sekali di jarinya sebelum ditangkap lagi dengan mudah.
Ekspresi Levi langsung berubah. “Oh.”
“Iya.”
“Berarti nggak butuh kafein,” simpul Levi. Levi menekan tombol dengan mantap. Mesin berputar. Sebotol teh manis dingin jatuh di slot si mesin.
Gore menghela napas pelan, memutar bola matanya. “Hm.”
Sekarang giliran Gore maju. Dia menyipitkan mata, tapi terlihat tidak terlalu peduli. Setidaknya tidak se-sok serius Levi.
“Napa diem?” tanya Levi.
“Lagi mikir.”
“Tadi bilang semuanya cuma air gulaaa.” Levi mencibir.
“Iya.”
“Terus mikir apaan?”
Gore mendekat ke kaca. “Kalau gue salah pilih, nanti Mona yang milihin.”
Levi langsung kaku. “…Oh iya juga.”
Dari belakang, suara Mona terdengar halus tapi jelas. “Kalau kalian udah selesai eksistensial krisis milih minum,” katanya, “kita punya jadwal.”
“Lima detik!” balas Levi cepat.
“Empat,” sanggah Mona santai.
Gore asal tekan tombol pertama yang kena jarinya. Kopi kaleng hitam. Mesin menjatuhkan kalengnya. Gore menangkap sebelum si kaleng benar-benar turun ke slot, seolah dia malas nunduk.
Levi menatap pilihan minuman Gore. “Lu kan ga suka kopi.”
“Bener.”
“Terus kenapa…”
Gore membuka kalengnya. Bunyi pssst pelan terdengar. “Lu pikir kita bakal tidur cepet malam ini?”
Levi menghela nafas, mengerti maksud jawaban Gore. “Iya siihh”
Gore minum sedikit. Ekspresi tetap datar, cuma ada ketegangan kecil di sudut mata. “…Pahit banget.”
Levi nyengir. “Rasain.”
---
Mereka berjalan ke arah mobil. Mona merenyit. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan. “Coba lihat,” katanya.
Levi mengangkat es teh botolannya. Mona mengangguk sekali. “Masih masuk akal.” Dia menoleh ke Gore. Kaleng kopi hitam terangkat tanpa semangat. Mona menatapnya beberapa detik. “…Lu kan ga suka kopi.”
Gore mengangkat bahu. “Tekanan sosial.”
“Dari siapa?”
Gore melirik si mesin otomatis.
Sudut bibir Mona terangkat tipis.
“Kalian milih minum lebih lama dari Feruci milih kontrak.”
Levi mendengus. “Nggak juga.”
“Iya,” jawab Mona tenang. “Feruci asal milih ada hasil. Kalian milih-milih malah nihil.”
Gore membuka pintu belakang mobil, masuk duduk duluan. “Setidaknya gue gak cuma milih karena rasa. Rasa itu sementara. Efek itu selamanya.”
Levi masuk setelahnya. “Logika lu maksa.” Bersamaan dengan pintu di sisi Levi tertutup, Mona masuk ke kursi pengemudi.
---
Mobil meluncur halus dari tepi jalan. Beberapa saat cuma dengung suara kota terdengar ke bagian dalam mobil yang sudah dilapisi kedap suara. Levi menenggak minumannya sambil menoleh ke Mona. “Cepet-cepet banget.”
“Efisien aja,” jawab Mona.
“Emang kita selama itu tadi?”
“Tiga menit.”
Gore menyandarkan kepala ke kaca. “Itu udah termasuk sabar ya buat ukuran lu.”
Mona tidak menyangkal. Tatapannya sekilas ke kaca spion, memperhatikan bayangan Gore. “Kaya capek banget lu,” katanya ke Gore.
“Emang.”
“Tidur jam tiga lagi?”
Gore diam.
Levi menjawab, “Dia baca.”
“Riset.” koreksi Gore pelan.
Tatapan Mona menajam. “Buat sekolah? Atau Feruci?”
Diam.
Gore melihat keluar jendela. “Ya.” Ia tidak menyanggah kedua tebakan Mona.
Levi melirik mereka berdua tanpa komentar sebelum beralih memandang jalanan di luar sana. Mengerti bahwa ini tentang beban pekerjaan mereka yang kadang... memang meminta perhatian lebih.
Jari Mona mengetuk setir sekali. “Lu tetep butuh istirahat,” katanya akhirnya.
Gore cuma bergumam pelan menutup matanya. “Hmm.”
---
Mobil berhenti di lampu merah. Mempersilahkan sekelompok murid menyeberang di depan mereka, tertawa keras, saling dorong bercanda. Mata Levi memperhatikan. “Lu pernah kepikiran nggak,” katanya tiba-tiba, “ini tuh aneh?”
“Aneh yang mana?” Mata Mona tetap fokus ke jalan.
“Ini.” Levi menggerakkan botolnya dengan ambigu ke antara mereka.
“Pulang sekolah bareng. Dijemput.”
Gore membuka satu mata tanpa bergerak dari sandarannya. Mona tetap tenang, menjawab. “Ini normal untuk sodara.”
“Bukan itu maksud gue.”
Lampu hijau menyala, mobil kembali bergerak. Secara tak signifikan, kali ini tidak secepat sebelumnya. Seolah si supir ingin memprioritaskan hal lain.
“Gue ngerti maksud lu.” jawab Mona pelan.
Suasana hening lagi. Kali ini atmosfernya lebih berat.
“Gak apa-apa.” kata Gore tanpa bergerak.
Levi mengernyit. “Apa sih? Lu pada bahkan belum tahu gue mau ngomong apa??”
“Tahu kok.”
“Terus?”
Gore minum lagi, jelas menahan diri berkata lebih banyak. “Nikmatin aja.”
Tatapan Mona di kaca spion melunak lagi. “Sekali-kali yang begini tuh perlu.”
Levi menunduk melihat botol di tangannya. Embun dingin mengalir pelan. “…Kerasa palsu ga sih?”
“Enggak,” jawab Mona langsung. “Masalah sudut pandang aja.”
Gore di belakang mengangguk pelan. Tidak ingin terlihat setuju, tapi.. setuju.
Wajah Levi mengendur sedikit. Sudut bibirnya sedikit menyungging.
---
Mobil memasuki gerbang kastil keluarga mereka, melalui jalan berliku menuju pintu kastil. Bangunan tua itu berdiri megah menutupi matahari yang semakin turun.
Mona berhentikan mobil di bawah kanopi dengan mulus. Keluar dari mobil bersamaan dengan kedua lainnya. Membiarkan pelayan yang akan membawa mobilnya ke garasi nanti.
“Kerjain tugas sekolah lu,” kata Mona saat berjalan melewati Levi.
Levi mengerang. “Iya, iya…”
Gore masih jalan pelan di paling belakang. Tanpa menoleh, Mona memanggil. “Gore.”
Gore menjawab dengan tatapan balik, memasang air muka bertanya.
“Tidur. Misi malam ini aman.”
Gore dan Levi refleks saling berpandangan, diam sebentar. “…Akan gue pertimbangkan..?” Ujar Gore hati-hati, mengetes.
“Tadi itu bukan pilihan.” Sanggah Mona sambil berhenti melangkah. Menoleh gusar ke arah Gore.
Mereka saling menatap sekian detik. Wajah terkejut Gore mengendur. Lalu, tak terduga, Gore tersenyum tipis. “Iya, Mon.”
Levi melirik keduanya, tersenyum puas kemudian jalan duluan masuk lebih dalam ke arah dimana rentetan kamar mereka berada. “Gue lapor Mama lu maksa Gore minum kopi.”
“Gue nggak maksa,” jawab Mona dingin, kembali berjalan ke arah yang sama.
“Tau gitu gue ga pilih kopi.” Gore mengikuti.
“Kalau lu ga pilih kopi, misi malam ini ga akan ‘aman’.” Ujar Mona sebelum masuk kamar.
Malam itu, Gore tidur nyenyak.
by Tri



Comments