Kosmik Paradoksik
- LIN
- Jul 31
- 21 min read

Prologue :
Vileborn memang selalu punya gebrakan antik. Kali ini kita akan menyelami permainan yang bakal bikin kamu terguncang panik. Ketika galah kemenangan berubah jadi sulur kekalahan yang mencabik. Apakah ketiganya masih memiliki sejenak detik? Detik untuk mengais pelukan sejati sebagai keluarga di balik arena mencekik. Karena cerita ini bukan sebatas medan adrenalin unik. Melainkan titik temu keajaiban kosmik. Sebuah cakra magis yang menjerat kisah petualangan kasih tiga bocah cilik.
───────────────────────

Seporsi kehangatan hanya tabir palsu di balik matrik Rumah Dosa. Topeng hipokrit senyum naif para pelayan adalah laga sandiwara. Gore tahu tentang panggung drama mereka, bisik jijik sarkasme kurang ajar di malam hari terpekur bagai layang cemooh hina. Kalau waras itu ternyata dusta, apalagi sikap supel mereka? Justru cuma kibul-kibul belaka!
Gore tidak berniat ciptakan opsi, sebenarnya sih dia malas. Enggan memulai tiang keluarga baru dari awal jika suatu hari nanti Rumah Dosa sirna. Lebih baik Gore mati, beres dan praktis. Mungkin, bisingnya kota isi kepala Gore bisa ditepis logika sinting Mona. Anak sulung yang rakus mengais segala sesuatu lewat giat gila-gila usaha.
Andaikata otak Mona tertanam dalam akar tempurung kepala Gore, pasti pemuda itu bisa sedikit tidak memikirkan individu lain. Mona sendiri heran, bagaimana rasio kecerdikan Gore di balik layar terbentuk dengan sempurna? Padahal, eksperimen si bungsu itu bukan main butuh parameter intelek tinggi. Sedangkan, Gore saja lagu wataknya kelihatan mirip orang ogah-ogahan.
Kalau Mona jadi Gore, belum satu menit menguliti formulasi toksin— tabung erlenmeyer yang dijajar sontak berderai kocar-kacir oleh ciuman kaliber peluru. Alias, Mona jelas emosi duluan. Ketika suatu saat nanti dia kepalang frustrasi, terdesak gagal berulang kali, serta kehilangan 99% dari 100% taraf intensi mujur task keberhasilan. Logika Mona pasti terbang. Bila kapabilitas pergerakan Mona terhambat secara utuh, mencegah dirinya mendapat hal-hal yang dia mau. Mona bisa mati.
Lirik sebentar ke arah kepala merah jambu.
Ada Levi di balik topeng rona tanpa sembilu.
Levi sanggup tersenyum apik pada kubangan darah pendosa. Dia tidak terikat konsep hormon serupa Ades bagai pikat pesona. Ibarat kata, Levi itu provokasi antagonis manis berjalan. Tubuh Levi adalah hasil dari aksi-reaksi memancing atensi orang lain. Mimpi buruk paling fatal Levi adalah jika rias goda dan jala rayunya tidak lagi mengais reaksi yang dia inginkan.
Otaknya akan merangsang tabiat sugesti tentang: “Kamu terbuang. Kamu bukan lagi sebuah damba,” lantas gadis itu pasti membusuk dalam kolong depresi. Lalu meregang nyawa di ujung sunyi.
“Kenapa muka lu makin lusuh? Udah mah intropret. Eh sekarang mirip orang madesu,” ini nih si dalang perkara, jahilnya bikin kewarasan menguap seketika.
“Gausah caper,” hadir dengan sepoi aroma kerosin tajam dari ruang bawah. Gore seperti rombeng butut pasca berkutat dalam bengkel rongsok.
“Eksperimen lu gagal lagi, ya? Becus ga sih?”
Bertandang singgah di halaman belakang, gemercik selang air bercucuran tergelincir di sela helai pirang. Gore basuh kepala hingga biang aroma sangit terbilas dari tubuh. Tepi netra si pemuda bertamu pandang pada rumbai pita Levi yang melorot satu centi.
“Tumben?” batin Gore. Biasanya, Levi itu tampil prima dan visualnya paripurna. Akhir-akhir ini entah kenapa, Levi 'amburadul' akut. Manik neon merah jambu itu tidak terpancar jelma muslihat picik sebuah goda.
“Lu sendiri jadi kayak gembel. Siapa coba yang mau tidur sama modelan wong edan gitu?”
Sudut bibir Levi beringsut kendur, bilah delima nona mencebik emosi. “Apaan sih, lu? Gue masih layak tahu.”
“Beneran marah? Payah,” dia memproses tangga nada Levi. Biasanya, ada bumbu-bumbu cewek genit bermulut picik. Kok sekarang jadi mirip orang monoton? “Sensitif banget,” monolog Gore.
Sabung argumen mereka ditikam jeda oleh lemparan belati menghunus dinding. Mata baja berlapis perak Mona datang tanpa permisi. “Berisik, anjing. Kalau kalian pada gabisa diem. Kepala lu satu-satu bakal gue masukin ke barel senjata.”
Poles lipstick Levi meleleh sampai dagu. Gumpal maskara nona juga sempuras kotor. Ketika frasa getir terlontar tanpa aba, ciprat saliva gadis itu beradu ke permukaan pipi si sulung. “Dikira yang punya perkara cuma lu? Dikira yang bisa protes cuma lu?”
Kain pakaian wanodya pecinta sajam terlingkis sebatas siku, gagang kacamata merosot di ujung kilat bingkai pupil siap baku hantam. “Maju sini, Lev.”
Sebelum hujan kilah berkerumun meriap gundah, Gore menengahi perdebatan mereka. “Gue tanya, apa yang baru aja terjadi? Kalian berlagak di luar kendali logis.”
Hening mencegat luapan emosi.
Payung ego meleleh di tengah konfrontasi.
Levi buka suara mengawali.
“Aksi bujuk rayu gue berbuah nihil hari ini. Gue ga lagi mendapat reaksi setimpal. Misi gue bisa terbilang gagal. Target menyembunyikan wajahnya di bawah tudung. Tapi yang gua tahu, dari jauh posturnya tampak kencang. Eh pas dia nengok, tau ga lu? Ternyata dia tuwir banget! Gue ga bohong. Bungkuk bangkotan uzur. Sampai gue heran sendiri, ini mata gue sliwer atau dia kamuflase? Pas gue rayu, padahal belum sempat lihat wajah gue. Tapi dia langsung pergi tanpa sepatah kata,” tertegun mengais usapan kasar wajah dengan pucuk nail-art yang cuil. Levi mendengus, sebal.
Alis Gore menukik, lipatan kening berkerumut peta lusuh yang bingung. “Kalau lu, Mon?” telunjuk terbujur lurus ke depan muka si sulung.
“Bangsat banget hari ini. Pergerakan gue terhambat. Apa yang gue mau ga tercapai. Misi gue bubar! Derajat bidik gue meleset secara aneh. Padahal sudut elevasi sempurna. Titik kunci pelatuk juga ga geser. Tapi begitu dia nengok, gue berani jamin kalau itu peluru tiba-tiba mundur. Berasa disedot masuk ke selongsong. Asap mesiu pun tenggelam lagi, terus? Selesai, sat. Semua gagal secara hening,” ada kata 'kampret' dan umpatan jorok yang jadi pelumas obrolan Mona.
Absurditas dalam situasi ini mengetuk logika Gore. “Jangan-jangan misi kalian membunuh pria yang mengincar keselamatan Rumah Dosa?”
“Lah? Iya, itu! Kok lu tau?” Mona dan Levi serentak terkesiap, memicing skeptis sembari garuk pelipis.
“Gue udah track di mana dia kabur. Namanya Kain. Tapi dia licin banget. Setiap beberapa detik. Lokasi tuh cecunguk hilang dari titik awal pelacakan. Seolah-olah GPS ga berlaku buat taktik jitunya. Pas gue cek history, data-data gue anehnya balik ke beberapa menit sebelum bar search muncul. Gue kepalang malas mengulang semuanya dari 0, repot dan sia-sia. Yang gue tahu, dia sering berkeliaran di hutan.”
“Tujuan dia sebenarnya apa? Gue ga habis pikir. Pingin langsung gue hajar di tempat. Gausah pakai segala teori,” pungkas Mona sambil meniup kasar poninya.
Kemari, kalian jangan pergi. Perlahan dan resapi. Gore memuntahkan satu hipotesis teka-teki. “Orang ini berbicara soal abu suci. Perkamen terdampar dalam kotak pos kita tempo hari. Isinya berceloteh perihal benda ajaib untuk permainan fantasi. Dia menulis tentang pembunuhannya pada Abel. Mengakui dirinya sebagai pengembara oleh hukuman atas kematian Abel. Dia juga menghardik perihal bagaimana bisa ada manusia yang melebihi kuasa pencipta semesta? Dalam maksud tersirat itu merujuk pada Feruci. Pria tersebut berambisi untuk menumpas Rumah Dosa dengan untuk menguasai dunia bawah.”
“Otak gue ga seberapa nyampe, tapi gue paham intinya. Soal sihir dan tetek-bengek di luar kuasa manusia?”
“Itu dia, Mon.”
“Gue belum mau mati. Gue ga mau pisah sama mama. Setidaknya bukan sekarang,” ranting kering Levi main keruk tanah, ala-ala drama melankolia.
Mona tenggelam dalam frustrasi, lejar penat menebang kewarasan. “Gue belum puas, masih banyak yang mau gue dapat. Rugi kalau mati terlalu awal.”
“Dan gue malas buat keluarga baru dari awal. Bukan soal lebih baik mati daripada mengulangi. Tapi gue gamau repot,” Gore meregangkan leher kaku, kelopak terpejam dengan hela berat.
Ketiganya meresapi ketegangan yang menipis.
Ternyata ada satu hal sulit ditepis.
“Feruci bilang tenggat waktu misi kita cuma sampai matahari tenggelam esok, kan?” Mona menegakkan pundak. Ayunan tangan terulur di depan muka Levi.
Empunya berhenti mengukir alphabet di atas tanah, ranting itu dilempar. “Berarti, kita tetap jadi keluarga kalau misinya berhasil?” Levi berdiri mengamit uluran Mona.
Dengus Gore mengudara lega setelah bongkah di dalam dada sempat berdampung sesak. “Iya. Kita tetap jadi keluarga kalau misinya berhasil. Walaupun kalian berdua hobi nyari ribut di hidup gue.”
Karena sejatinya Vileborn itu saling merangkul.
Meskipun rasanya juga saling pingin pukul.
✧ ✧ ✧

Bias krepuskular mengetuk sepoi rimbun di antara lamun cagak pepohonan. Belantara dekat kastil jadi markah titik jumpa pergantian hari. Kail moncong senjata api bersemayam di balik kolong ikat pinggang Mona. Kepang tali serat agave sisalana terselip di atas dua dahan. Saturasi hijau menyemai serabut-serabut alami. Hingga wujudnya tampak membaur dengan jaring selimut rumput liar, perangkap dari pukat anyam jerami ditutupi gugur daun-daun.
“Lu yakin, Gore? Ini bakal berhasil? Maksud gue, lihat dah. Bentukannya kayak jebakan kacang gini,” sadur Mona berkelit dengan pasak kayu jati yang menahan sudut jala, ketika terpijak langkah target, bisa dipastikan langsung terjerumus mampus.
“Coba dulu. Soalnya signal detektor gue berpendar nyalang di area jalur hutan. Berarti dia sering bolak-balik lewat sini,” beres membebat pancang simpul, Gore turun dari pohon.
“Gue gini doang?” telunjuk Levi mengarah ke dirinya sendiri.
“Iya. Jangan lupa akting yang bagus. Nanti video ekshib seks lu di hutan bisa laku keras. Lumayan jadi cuan,” lisan Mona memang baunya setara tahi angin, obrolan wanita itu mana mungkin punya bobot budi pekerti.
“Tobrut sial,” deru gerutu Levi terbawa haluan semilir. Kisik belukar menggelitik rungu. Mona dan Gore reflek beranjak sigap, berlindung di atas pohon.
Skenarionya seperti ini: Levi akan bergelut oleh reka adegan sanggama panas, jumbai jarum beracun Gore menghujani tengkuk target, ketika korban lumpuh, Mona lakukan eksekusi.
“Dia datang,” sayup buah cakap Gore disambut hening. Dia dan Mona merunduk sembunyi.
Retina Mona bergumul fokus ke arah Levi, nona surai merah jambu itu mulanya bersimpuh pura-pura terkilir. Lantas, ia menyemai sapa halus. Lambai tangan seiras pinta manis bermuara rayu. “Halooo, tuan di sana? Bisa tolong aku sebentar?”
Untung mengasihi nasib, Kain mulanya terpikat pesona nona. Derap terukir lamban. Kusut layang tulang-tulang daun tergilas telapak kaki. Rangkul target melintangi tubuh gadis bunga merah muda yang terhuyung secara sengaja. “Aku butuh tumpuan untuk bersandar,” gadis itu mulai tebar hasutan sensual, lentik jemari bergerayang di ambang garis pakaian.
Ada jamah nakal bagai bujuk hati, menjejal julur sentuhan peta epidermis rahang. Sedap senyum nona mengukir dorongan dada. Perawakan tuan terbeliak mundur berpaku sangga pada salah satu kaki pohon. Tudung kain lajak emas di kepala menyelubungi rupa si priayi misterius. “Kamu dan saudara-saudaramu tidak akan bisa pulang jika gagal keluar dari medan permainan,” gamang suaranya tersirat maksud rancu.
Permainan?
Ngomong apaan.
Pria ini otaknya kena gangguan.
“Aku punya permainan yang lebih menantang adrenalin. Aku bisa bikin tuan jadi melayang lho,” Levi bersiteguh menyirat bait erotis.
Jari Mona sudah ancang-ancang di antara lekuk pelocok senapan. Sementara, jarum beracun Gore tersisip pada jumbai tali. Namun, insting pemuda itu menghirup pertanda ganjil. “Gue dengar suara. Ini kersik halus? Bubuk bijih besi peledak?” dialog tunggal Gore, heran. Dia intip isi badan benda yang sedikit bocor dari kantung saku target.
Hingga detak jantung berlalu dalam tarikan napas kejut. Jangan sampai meloncat di atas pijak kalian yang ikut terperanjat, dentum bedil meledak hebat. Mona menarik pelatuk sebelum aba-aba, tamparan sayap merpati pun beterbangan dari seluk hutan.
Sensasi larutan emas halus beradu dengan sengatan cakra ringan menjalari rangka tubuh ketiganya. Pusat gravitasi terasa limbung, beban raga mereka diboyong naik seolah lebih enteng hingga melayang singkat di atas tanah. Otot-otot seakan bermanifestasi bak kapas ringan. Lalu, sekelebat asap mesiu tembakan senjata Mona menelan kabut awan tebal. Binar silap mata berkerubung dari sukma ke luar epidermis, tergelincir melintasi tumit ke puncak kepala layak selendang cahaya.
Gore terhenyak. Jarak pandang tuan juga tidak lagi menangkap eksistensi Levi. Tepat kepul pekat berangsur reda. Batang hidung target hilang ditelan halimun buram. “Ini bukan serbuk bijih besi peledak. Itu bekas jejak pasir emas,” pupil terpaku akan butir kemilap di atas hamparan tanah gembur hutan.
Tatkala ia hendak beranjak, sepatunya tergelincir copot. Reflek, Gore menyambar tali perangkapnya sendiri. Entah kenapa, pola utas anyaman juntai dalam genggam Gore terbungkus warna merah. Tekstur kepang serabut utas juga bermanifestasi bak helai surai.
Sejenak jeda.
Sebentar deh pirsawan baca.
Ada caci maki yang memecah lamun suasana.
“Woi, anak kontol. Yang lu pegang itu rambut gue.”
Ah, tunggu dulu? Gore berkedip. “Kepang dua? Mon?”
Mereka silih mengamati. Tercengang konyol dengan derik jangkrik di tengah sirkulasi udara yang sempit. “Gore? Najis. Rambut lu kenapa jadi belah samping agak rapi gitu dah?”
“Huh?” Mona mendelik, bulu mata terpantul silau terik. Detik ke depan, ternyata Levi tidak benar-benar hilang. Anak tengah itu bersedekap dada di dekat akar tua eboni. Bibirnya mengerucut sebal.
“Lev? Ngapain lu di situ?” panggil Mona.
Gore buka suara. “Gue kali ini ga menghina lu, Lev. Tapi beneran faktanya lu kayak wong edan.”
Levi beranjak, kakinya sedikit menuai hentakan. “Pertama, kenapa dada gue jadi makin datar? Sementara lu,” sudut kuku mungil terbujur lurus ke arah Mona. “Lu masih ada bibit-bibit montok. Walau sekarang ukurannya jadi seukuran telor ceplok.”
Belum, putri Ades masih mencibir dengki. “Kedua, lu ya, eluuuh! Kenapa kain pakaian lu sangat licin? Apa-apaan dengan piringan kancing lu yang lebih silau dari sepeser penny?” Levi menamatkan Gore, kentara jika pemuda itu berkecukupan sandang pangan papan. Kedipan mata berikut, Levi larut ke arah fabrik murahan di tubuh sendiri; lusuh, lingkar tepi leher kaos pun melorot sampai pundak, kedodoran.
Tiga anak itu melotot heran, sambaran guntur siang bolong menampar fakta bahwa raga Vileborn kembali pada masa kanak-kanak. Saat ini, kalian tengah mendapati mereka dalam jelma wadah perawakan dini. Mona yang menyerupai Anna, Levi dengan visual gadis tanpa jenama (sebut saja Sakura), serta Gore yang berparas layak putra keluarga Rothschild— Edmond.
Narator sudah bilang kalau Vileborn pasti punya gebrakan unik. Lalu bagaimana jika sekarang tiga anak ini bertemu rupa dalam usia bocah cilik?
Kening Mona kusut, logika psikopatik belia berkepang dua itu paham atas sangkar situasi yang mengurung ketiganya. “Dengar. Ini badan gue waktu kurang lebih umur sebelas,” dia seret lengan Levi dan Gore ke sisi kiri-kanan.
Levi kepayahan, puan sentuh siku sampai lengan sendiri. Digosok-gosok tidak percaya. Tepuk pipi kiri-kanan sambil termehek drama. “Ini mah gue sebelum mama nemuin gue malam itu buat dibawa ke NIDUS,” imbuhnya panik.
“Oi, anjing bawel. Lu tadi bilang soal pasir emas, kan?” sergap Mona menarik kerah necis Gore. Nyaris mencekik putra bungsu itu secara bar-bar.
Angguk kikuk jadi jawaban Gore yang tersengal. Mereka bertiga kembali meredam kelut-melut mistik aneh. Mona bertaruh tebakan. “Wujud kita balik jadi kayak anak kecil. Levi bersaksi, target tampak kencang dan muda. Begitu didekati, ternyata ga lebih dari bangkotan. Peluru gue pas ditembak tiba-tiba masuk ke selongsongnya lagi. History data-data Gore kayak di redo balik ke awal. Konklusinya satu. Dia bisa membolak-balikkan waktu,” paparnya.
“Mungkin, pasir emas itu definisi abu suci. Tapi, benda apa coba yang butuh butir serbuk buat isi di dalamnya?” sela Levi.
“Spekulasi akurat yang paling mendekati adalah jam pasir,” netra Gore berkilat saat lampu ide menggantung di atas kepala. Ingatan keluarga lama, Rothschild dan debu historisnya menjadi bayang-bayang. “Jam pasir dengan serbuk apel emas.”
“Mengubah alterasi waktu jadi siklus masa lalu gini. Gue rasa bukan sekadar apel emas,” kulup belati Mona menyembul di balik kantung senjata. Gerigik runcing mata pisau menguliti lapisan batang pohon, berderik pahat hingga butir mirip serbuk gergaji mulai rontok.
“Lihat. Anak dasi licin bau pewangi konglomerat,” serpih kayu terburai di atas tanah, Mona renggut kerah Gore merunduk turun.
“Serpihan? Maksud lu, serbuknya bukan dari buah apel? Tapi kayunya— ah!” sentilan realita mengusik logika Gore.
“Jadi kadar magis abnormal ini tercipta dari pohonnya, ya?” sidik jari Levi mengais raba di permukaan bekas serpih kayu. “Pohon apa yang bisa melahirkan bibit apel emas? Pohon yang bahkan serbuknya bisa bikin siklus kehidupan mengalami perjalanan waktu.”
“Yggdrasil,” celetuk Gore, malas.
Levi memicing buntu. “Yggdrasil?”
“Gue pikir begitu? Apalagi kalau bukan the tree of life?”
“Berarti salah satu dari sekian ribu pohon atlas belantara ini punya satu akar yang terhubung dengan Yggdrasil. Seperti portal untuk melintasi semesta,” anak kerambit Mona terlempar secara acak, berharap siapa tahu menghunus pohon istimewa yang bisa berdarah getah emas untuk menguak jalan keluar.
Keterkejutan mengikis nyali bocah-bocah yang kini saling pandang. Sadar bila kosmik cakra sihir telah mengubah petualangan, mereka terjebak dalam satu dimensi. Sebab, jaringan kulit luar kambium pohon bekas tikaman kerambit Mona memuntahkan rembesan statis, sengatan voltase. Isi batang yang terkoyak kelupas suguhkan ulir-ulir kabel.
Pelipis Levi berkedut cemas. “Mon, lu apain itu?”
“Mana gue tahu, sialan.”
Radar waspada puan seribu senjata paham akan tematik sains aneh. Insting Mona lesatkan bidik peluru ke atas. Nahas, timah panas terpelanting galat oleh membran biru safir kuas langit, hutan ini bagai habitat dalam selimut kubah hologram tidak kasat mata.
“Hutan buatan. Akar di bawah sini adalah kabel-kabel fiber artifisial dengan sentuhan teknologi modernitas. Kita tidak lagi berpijak dalam belantara dekat kastil Rumah Dosa. Kita terlempar entah di mana,” Gore tendang beberapa akar yang berdenyut janggal.
“Tunggu. Ada yang datang,” pengalaman berburu Mona masih bertengger di benak. Gadis itu mengendus sikon pergerakan musuh.
Gore, yang tidak terbiasa mengenyam kerasnya hukum rimba dalam saku kemewahan masa lampaunya. Mulai terdesak malas. “Tinggalin gue di sini. Lebih baik gue mati.”
“Ngomong apa sih, pirang dongo?” Levi menarik pergelangan Gore paksa. Mereka menembus kabut seiras derap merayap kejaran dari belakang. Aroma petrichor beradu dengan embun lembap di balik rampai siluet ranting pohon.
“Sebelah sini,” pupil Mona bergulir menyisir bahu jalan setapak dengan bongkah batu raksasa. Levi dan Gore cekatan mengekor, kaki ranting dua bocah itu kais setapak demi petak langkah tunggang-langgang bersembunyi.
“Siapa mereka, Mon? Gore? Gue—” gue pingin pulang. Ada sejumput frasa terpendam. Kaos melorot Levi dibenahi Mona dengan simpul pada garis pundak. Putri manis Ades terpaku gelagapan. Jejak residu mozaik masa lalu menghantui fisik rentan Levi.
Secara tidak langsung, berputar kembali ke wujud rupa kanak-kanak sama seperti mengupas pukulan psikis terpendam. Di mana jati diri mereka saat itu masih kelabu. Jejal angan kelam saat Levi kecil terbengkalai tanpa rangkul sayang ikut terjalin oleh sugesti bawah sadar.
“Satu, dua, tiga. Ratusan. Bentar deh. Anak sepantaran kita? Para bocah. Ada yang jalin sekutu, bersekongkol, membangun komplotan. Lantas saling bunuh,” jejaka muda itu mengintip hati-hati. Alat optik kaca cembung terbalut lekuk dua pipa—mirip teropong rakit—keluar dari ranselnya.
Pias pasi meriap dalam hulu rias lusuh Levi, ia terguncang dilema, bilamana permainan ini adalah penutup aksara cerita perpisahan sebagai keluarga. Setidaknya, biarkan Levi memantaskan diri agar dia tidak berakhir sebatang kara. “Gue bakal kecoh mereka.”
“Lakukan sesuatu. Apa pun buat bikin paras gue lebih berbenah apik,” artikulasi meradang gugup, terdengar bak cicit feminin yang lemah.
Gore pereteli bilik kancingnya, kalung dengan tali sepatu dibelit rangkai pada sisi lubang piringan benda bulat-kecil berkemilap. Dasi terburai lepas, bujang pirang itu membuat garis sisi simetris. Sebuah bandana pita. “Katanya lu sebal lihat kancing gue yang mengkilap. Jadi nih, pakai aja.”
Surai kalis pink dirambah Mona dengan dua kuncir pendek; low ponytail, terikat lucu menyentuh pundak. “Udah noh, buruan.”
Dia bungkam saat debar abstrak menggauli hati. Gembira? Terharu? “Ini buat gue, Gore?” nona mungil menatap kalung dan bandana dalam genggam, dua benda itu ibarat kata 'hadiah pertama' di usia dini.
“Yaudah kalau gasuka, balikin sini—”
“S-suka lah, idih!”
Levi sempat berpangku pandang dengan Mona. Sampai anak sulung itu berdecak risih. “Gue colok mata lu kalau lihat-lihat mulu, jalang.”
Cekikik bocah pecandu birahi mendayu sejuk. “Gue jadi mirip lu, Mon. Kayak kakak-adik beneran! Yaaa, walau emang di Rumah Dosa kita berperan layak saudara. Tapi, kali ini kita sama-sama ada kuncirannya. Kurang dikepang aja. Soal itu biarin deh, nanti aja kalau sempat.”
Tenggelam bersama genang kalbu klise. Fatamorgana kasih menjerat anak-anak Rumah Dosa dalam satu album biru perasaan. Terasa asing namun familier, seperti buncah legit kala letupan hangat menguap oleh sesak.
Sanjung anggun Levi terlontar nakal, menghadap rupa mereka dengan buai pikat terguyur fasih. “Pertikaian tanpa provokasi terasa hambar. Kalian tahu? Sebuah jeda tak melulu tentang nafsu membunuh,” lisan halus bertamu nakal.
Lagak berahi kemayu hendak lancarkan gapai elus pada pemuda cilik di barisan depan. Koloni muda-mudi dengan tubuh setinggi pinggang orang dewasa itu bingung. Mereka tidak menunjukkan minat. Kail hasrat dan perangkap hawa nafsu Levi gagal.
Bukan desah panas sebagai reaksi.
Melainkan kerling antisipasi.
Levi mencelos, ekspektasi patah. Malah disuguhi tawa remeh. “Kamu mengingatkanku akan satu di antara kami yang pernah ada di fasilitas. Perempuan dengan kontrol hormon. Dan dirimu tidak lebih baik darinya,” gagas pemuda yang bersiasat jitu, derik senjata teracung ganas. Seolah, pesona Levi tidak lagi dipuja candu gandrung pukau.
Kelopak mata Gore berdenyut ketika ujar kata 'fasilitas' terekam rungu. Tampaknya, anak-anak itu adalah objek hasil eksperimen. “Perempuan dengan kontrol hormon. Bukankah itu Ades? Dengan kata lain, hutan ini tercipta sebagai medan uji daya ukur kelayakan. Arena seleksi kelinci percobaan. Mungkin termasuk metode penempaan kualitas aksi bejat,” dialog tunggal tuan ditelan prasangka. Dia pikir, asumsi baru timbul. Yakni definit final bahwa mereka masuk ke kurun era di mana Ades muda menjadi bahan eksperimen cabang fasilitas naungan The Golden Bird.
Pergolakan emosi hadir atas insting naluriah dalam sirkulasi aliran darah para koloni bocah itu. Larutan injeksi apel emas jadi poros cikal-bakal frekuensi kekuatan membeludak hebat. “Kenapa kita tidak pernah melihat kamu, ya? Ah, masa bodo. Pokoknya tamat sudah riwayatmu,” ada kontrol mistis di luar batas manusiawi. Mereka bukan sekadar bajing kecil ingusan.
Sebelum mala bahaya berujung pertumpahan getih, intuisi Mona terjerat hasrat membabi-buta. Lebih dari sekadar amukan biasa. Payung amarah pupil gahar menangkap bagaimana tangan ringkih Levi gemetar. Terpaku beku di atas tanah dengan lutut tremor, memiuh pilinan kalung buatan Gore selaras ekspresi terlukis nanar.
Seolah, Levi tidak bisa berbicara. Sama seperti Levi kecil ketika orang tuanya tidak mengisi celengan afeksi cinta. Sama seperti gadis tanpa jenama ketika ditemukan Ades di depan mayat pemilik rahim kandungnya. Sakura yang mati rasa dan tak mengenal bahasa.
“Brengsek,” Mona ikut andil. Tiada kata tepat untuk narasi gila dalam kebengisan tubuh Mona saat menyerupai Anna. Walau tidak ada label julukan 'adikku' dan 'kakakku' pada tali hubungan saudara ketiganya, dorongan hati Mona tetap tidak terima.
Ketegangan menjulang di puncak perlawanan Mona, keluar dengan tebasan biadab menyambut garang. Main terjang garis leher salah satu anggota koloni. Parang jajar anak logam kesayangan puan menikam ceruk, spontanitas Mona dalam pergulatan ulung terlecut lagak brutal. Anyir merembes deras, ciprat merah meriap leleh dari gesekan epidermis terkoyak.
Si sulung bertumpu tegap, tangan dibentang berani bak benteng fisik bagi Levi. Menutupi tubuh mungil gadis yang cengkeram fabrik berkeringat Mona. Dari celah punggung Mona, Levi mengintip awak kerumunan musuh belum sepenuhnya terkapar binasa. Resistensi mereka lebih solid dari stamina manusia biasa. Gairah tendensi psikopat dalam logika Mona mendesah puas ketika sadar korban sukar tumbang.
Hantam gempur agresif bergumul dalam pergulatan fisik. Menumpas satu demi satu sekalipun tubuhnya nyaris mati rasa. Geligis tawa gila Mona membumbung tinggi. Aroma tabrakan karat besi dengan bangkar belulang bermuara di atas awang udara. Ketika detik mengurung durasi terlampau pekak. Atmosfer keruh terpayung kabut pekat. Dentum oksidator kalium nitrat meledak dahsyat seperti randu awan putih menjulang. Jeda menggilas waktu, awak musuh koloni terkecoh. Pupil mereka bergulir acak, mencari jejak Mona dan Levi yang hilang sekejap tarikan napas.
“Gore?” Mona masih terbelenggu hasrat pertarungan. Dia belum puas, tidak sebelum taraf keberhasilannya dikantongi utuh.
“Bom asap. Gue kantongin sejak tadi. Sekarang, kita harus pergi. Ingat, sebelum matahari tenggelam. Ga ada waktu lagi,” tangan kiri mengamit lengan Levi. Yang kanan merenggut genggam bertenaga pada pergelangan Mona.
Anak-anak hasil uji eksperimen berseru lantang. “Ada penyusup di luar penghuni fasilitas!” cecar tersebut tak ayal memicu gemuruh tanah inti belantara, terdengar layak palu godam beruntun. Langit biru safir hologram di atas cagak hutan memancarkan pendar merah darah. Noktah radar serempak berkedip agresif. Laser seperti payung sorot cahaya mengincar ketiganya dari balik tirai daun-daun.
Telapak Gore mulai kebas, dia tidak suka melakukan banyak pergerakan. Dia bukan Mona dengan seribu satu taktik kelahi. Dia bukan Levi dengan topeng lugu yang bisa menyelamatkan diri dari asumsi publik. Gore adalah Gore yang ingin melakukan semuanya secara praktis. Gore adalah Gore tanpa repot berkutat dengan panggung pura-pura sebagai orang lain demi atensi.
“Gue bener-bener berhenti kali ini. Gue capek lari terus, Mon. Lagipula, kalau gue tumbang— paling lu bakal panggil Levi buat gantiin gue, kan? Gue malas buat beresin semua kekacauan ini,” jangkar tak kasat mata menahan setiap ayunan kaki Gore. Setiap ayunan alas sepatu menghantam tanah, getaran memuakkan bertandang.
Hanya hening terpa angin di balik gemulai daun yang terpelanting membawa bisikan bahaya. Gore pikir, setidaknya Mona akan beri bogem mentah tuk respon jawaban. Kerut kelopak Gore terpejam erat, menanti detik tulang tangan gadis berkepang dua itu mematahkan batang hidungnya. Namun keliru, dugaan Gore urung terganti kecupan logam dingin menyentuh pori-pori.
“Emang. Emang gue bakal panggil Levi buat gantiin lu. Tapi setidaknya, kalau gue mati, ukir nama gue di atas batu nisan dengan benar,” belati gagang kayu tua disodorkan ke depan muka. “Hadiah buat lu. Anak pertama gue yang gue curi dari dapur panti Stepping Stones Hill.”
Belum sempat Gore melolongkan protes, aroma ozon bocor mendesis samar. Suhu di sekitar tiba-tiba anjlok, pepohonan merunduk ke arah tiga bocah yang terseok kalang-kabut. Gigil menusuk kulit, beku termaktub abadi dalam seluruh arena hutan. Spora jamur sintetis merusak pandang, seperti bau menyengat di udara terpagut pandang hingga bola mata terasa perih. Urat-urat batang pohon meleburkan larutan asam. Alas sepatu Gore meleleh, telapak kaki Levi beradu getih.
“Mama— kakiku, Mona, Gore. Sakit,” rintih melilit gendang telinga, riak parau tersengal sesak. Hujan tangis berlinang luruh, Levi kecil mencebik cengeng di depan kedua saudaranya. Pundak sempit tergugu gemetar, isak pecah menyadau lara.
“Tahan. Tahan sebentar lagi,” desau terengah Mona beradu rangkul kokoh di pundak Levi, menuntun tatih kepayahan selaras peluru memberondong dentum dari segala sudut ranting. Anak-anak fasilitas di belakang masih bersiteguh sambar-menyambar derap kencang. Beberapa dari mereka sanggup memangku pikul batu besar, lantas terpental lemparan dengan persentase akurasi nyaris hantam kepala Mona.
Akar rambat dari balik daun kering menyambar pergelangan ringkih Levi. Irama derap patah disusul suara pekik tertahan, gadis manis pemilik warna sakura merengek sumbang. “Kenapa jadi begini, Gore? Gue pikir misi kita bakal berhasil? Gue- gue- pikir kita,” kita bakal jadi saudara sehidup semati.
Levi marah, dia gunjing takdir seperti bagaimana orang tua kandungnya tak menginginkan kehadiran Levi. Anak haram, dipelihara hanya karena jabang bayi Levi sukar digugurkan. Termegap di ambang kapasitas meraup napas, jerit Levi pecah membelah kubah hologram nabastala.
“Jangan nangis,” seruan Gore menggelitik daun telinga. Belati Mona mencabik badan sulur akar, sebuah tarikan lamban dari pemuda bungsu mengamit betis ramping Levi di belakang sisi kiri-kanan panggul Gore.
Gendong punggung pertama Levi di usia sebelas. Gendong punggung dari saudara, keluarga, sebuah bentuk kasih tersirat nyata. Gadis itu meringkuk lusuh, kumal bertemu satin halus linen mahal pakaian Gore. Dia sempat ragu untuk melintangkan lengan, takut-takut bilamana kotoran di tubuhnya menodai martabat kekayaan Gore.
“Lu ga akan tahu seberapa bosannya gue pakai baju formal untuk setiap sesi perjamuan busuk kala itu,” satu tangan menarik paksa pergelangan Levi untuk mengamit rengkuh pada garis pundaknya. Lantas memapah rapat awak Levi hingga nona muda benar-benar erat mendekap Gore.
“Beneran? Tapi, parfum lu aromanya wangi. Ga kayak baju gue yang bau alkohol gara-gara seorang pemabuk.”
“Gue ga peduli soal aroma parfum dan segala tetek bengeknya. Gue cuma mau hidup tanpa perlu repot.”
“Tipikal cowok aneh.”
“Tipikal jalang ribet dongo.”
Mona tertawa lepas, dua adiknya masih bisa saling menyuarakan ejekan hina bak kelakar rumpang di tengah gugat ancaman nyawa. Lekas pandang hitungan menit, bahana gelak Mona luntur saat atmosfer dingin kian mencekam. Degup merajam peluh basah kuyup.
Lari. Lari. Lari.
Mereka meniti jalan di penghujung jalur bercabang, insting Mona menghirup angin mesiu dari serbuk biji yang dia tembak pada pembuka misi. Datang dari arah kanan. Siul gemeresik daun terasa hidup, muara aliran air sungai dan kicau pipit begitu nyata di luar membran arena. Jejak darah mengucur oleh telapak mereka yang dibalut korosi asam. Di tengah kubang merah terseret sepanjang detik berlalu, jejak serbuk emas tersemai berkemilap seperti aliran nadi dari bumi.
“Di depan!” jerit Mona mendengking lantang.
Gore menggapai batas stamina. Levi di punggungnya tidak bersuara. Namun, pundak pemuda cilik itu basah. Air mata. “Pastikan ingus lu ga ikut ngotorin baju gue.”
Nahas malang melintang jadi bual angan di sudut dentum pilu menyayat embusan napas tiga anak Rumah Dosa. Mereka tergelincir jatuh pada sisi jurang dengan hamparan bunga mewangi di bawah padang pastura. Terkapar payah, anak-anak fasilitas lain berkerubung. Siap menghujani serangan. Di ujung daya juang mengais sisa napas, pohon emas tampak menjulang pada garis tepi sungai.
Rangkak kaki Mona meremas derai tanah dengan telapak yang lecet. Sementara, Gore menyeret Levi sekali pun tubuhnya terhuyung-huyung letih. Hanya pengap mengudara ironis, Gore tersentak saat anak panah menikam punggung Mona. Gadis berkepang dua itu terbaring menunduk— ambruk. “Mon,” ratap Levi bersungut sendu.
Levi, dengan sisa-sisa kesumat amarah dalam situasi riskan ini berusaha menopang tubuh; tertatih pincang, yang lain diseret terseok. “Kakak?” untuk pertama kalinya, pinta parau menggalah panggilan 'kakak' di keluarga penuh dosa.
“Cerewet,” tangga nada Mona bergelombang patah-patah. Kunang binar netra merekam paras Levi. “Duluan sana.”
“Gamau,” kakinya tidak berdaya, bersimpuh lutut memayungi punggung Mona. Layak pelukan bungkuk di tengah sabana darah.
“Kenapa?”
“Kan belum dikepangin rambutnya biar kita kembaran.”
Mereka mendengus bersama. Ada sengau ironis di wajah pias pasi Levi, sesenggukan seperti anak kecil kehilangan serok mainan. “Gore, nanti buatin bandana lagi dari dasi-dasi mahalmu. Kalau bisa juga kalung lucu,” kelereng neon merah jambu Levi mendongak ke arah membran langit.
“Boleh. Asalkan bilang terima kasih dulu,” tercekat tanpa suara, tubuh belianya meraung lara ketika peluru menembus jantung. Mereka terkepung, galah kemenangan telah buntung. Deru napas beradu kepul panas.
“Kayanya kali ini gue gabisa beresin kekacauan kalian,” ambruk di sisi Mona, Gore melarungkan dekap lemah. Dalam genggam, belati Mona masih dia cengkeram erat.
“Sayang sekali,” pungkas Mona berkedip sayu. Semerbak harum dandellion putih meramu tubuh Anna, Sakura dan Edmond.
“Udah gue duga. Kalau gue tumbang suatu hari nanti lu bakal bilang gitu,” tersengal meregang nyawa. Dengung bising telinga menelan sayup suara jantung memompa debar terakhir. Gore dengar sayup Mona yang bersua.
“Sayang sekali, Gore. Gue gabisa lihat lu jadi adik gue lebih lama lagi. Sayang sekali, gue gabisa jadi kakak lu buat tameng pelindung.”
“Oh? Berarti, selama ini prasangka gue keliru,” pemuda kecil itu tersenyum dengan bias damai larung pada pahat rupa. Retinanya jatuh pada ekspresi Levi yang termenung tenang, tanpa ketakutan, tanpa beban.
“Kalian tahu? Kata Ades, warna cinta itu merah muda. Waktu itu, bagiku warna cinta yang tampak hanya ungu. Tapi sekarang. Di mataku, warna cinta itu ada ungu, merah dan kuning. Kalau dipikir-pikir, jadi mirip pelangi setelah hujan reda.”
Permainan ini rantas bersama penutup aksara tanpa perpisahan. “Iya, nanti kita lihat pelangi sama-sama. Ayo pulang dulu,” tukas Mona sebelum gelap melukis pandang.
“Tapi kok, Gore udah ga ada suaranya lagi— ya, Mon?”
Ketiganya tidak melihat cahaya, hanya hangat tetes tirta sendu berlabuh ke pipi. “Mungkin, dia bosan dan malas. Jadi dia ketiduran.”
“Kalau gitu, kita juga nyusulin Gore yuk, Mon. Biar dia ga bobo sendirian. Siapa tahu, Gore lagi bikin bom asap selembut kapas awan buat bantal nyenyak di atas sana.”
Senandika dalam bilik keheningan mereka adalah ujar kata 'selamat malam' yang tertunda. Kelam pejam bersemu duka. Monolog cinta kasih tak terucap kata. Hanya sebatas rasa di antara hanyut yang bertumpuk pada raga tanpa sukma. Misinya gagal namun cintanya tak terhambat relativitas kosmik sebagai keluarga. Ruang dan waktu hanyalah panggung alam sementara. Tapi Rumah Dosa tetap menjadi pulang bagi mereka yang terjerumus dalam jalur jelaga. Mati di bawah senja terasa seperti akhir dari larik prosa.
✧ ✧ ✧
“Kamu tahu, suamiku? Pekan terakhir ini, anak-anak kita terlihat lebih dekat satu sama lain. Entah dari mana dan bagaimana caranya. Beberapa kali aku mendapat senyum tipis di sudut bibir mereka ketika menatap satu sama lain,” Ades terduduk di sisi Feruci, lengan mengamit sentuhan ayu pada bidang dada tuan.
“Mungkin mereka telah menuntaskan petualangan tak terduga, cara mea? Anak-anak selalu punya kejutan tersendiri,” fokus pandang Feruci tertuju ke pantulan jendela. Menimang reka adegan kerah Gore direnggut Mona, atau bagaimana rengek manja Levi bikin telinga si sulung berdengung sakit.
“Hangout atau semacam kegiatan muda-mudi begitu, ya?”
“Bisa juga lebih dari itu,” Feruci berdiri tegap. Lalu mengamit sarung tangan di atas meja.
Ades bersandar anggun di punggung sofa. “Mana ciuman pamitnya?”
Kecup manis mendarat apik, payung teduh sorot pandang Feruci meramu cinta pada kening sang istri. Mereka bernaung atas nama keluarga dosa. Membangun rumah ini sebagai pulang bagi tiga anaknya. Ketika genggam Feruci mencengkeram kenop pintu. Ades sempat merangkul dekap dari belakang.
“Feruci, kenapa jasmu kotor?” tandas puan menekan frasa anggun.
Feruci tergerak, memosisikan diri berbalik arah. Dia benahi serbuk emas yang tercecer pada fabrik jasnya. “Ini sisa permainan kemarin bersama anak-anak, sayang.”
“Oh, ya? Kamu bersenang-senang tanpaku.”
Tuan mencium puncak hidung Ades. “Hanya sebuah trik latihan unik yang membuat mereka bersenang-senang seperti bocah.”
✧ ✧ ✧
Selang air di bawah terik siang bolong terasa seperti semburan hangat tanpa percik sejuk. Derit gesekan sayap capung mengitari kelopak-kelopak bunga sepatu. Aroma kerosin sangit melekat di balik surai pirang Gore. Levi bersua. “Ngaku ga lu, Gore? Habis bikin eksperimen apa sampai kita menggelinding jatuh ga karuan ke hutan aneh gitu?”
“Berisik. Udah dibilang, gue gatau. Pas gue bangun, tiba-tiba udah di kamar.”
“Terus ini apa?” tandas Levi menunjukkan rangkai kalung piringan kancing Gore dan sebuah bandana pita dari dasi.
Sabung argumen mereka ditikam jeda oleh lemparan belati menghunus dinding. Mata baja berlapis perak Mona datang tanpa permisi. “Berisik, anjing. Kalau kalian pada gabisa diem. Kepala lu satu-satu bakal gue masukin ke barel senjata.”
Levi beranjak, tawa sejuknya menabuh geligis main-main. “Manaaa? Katanya janji mau kepangin rambut gue— aduh, duh, duh, Mon!” tapi malah dapat jambakan tega.
Gore berusaha sebisa mungkin tidak tergelak, perutnya geli dalam kubangan euphoria yang tertahan. Tapi, lambat laun justru berceloteh jahil. “Gue boleh denger ga sih lu ngomong apa di detik terakhir waktu itu? Tentang, sayang sekali Gore apa sih?”
“Maju sini lu,” lingkis lengan bertandang gahar, Mona meniup napas kasar.
Senda gurau gebrakan cerita Vileborn belum berakhir sampai di sini. Petualangan mereka tidak terbatas ruang imaji. Cerita mereka bukan sebatas fantasi. Kesadaran mereka kembali ke tubuh di masa sekarang setelah sabana hutan terjamah api. Gore sadar akan satu arti. “Kosmik tidak memberi kita mati. Serbuk Yggdrasil itu dihanguskan oleh sesuatu gelap lebih dari kuasa pencipta bumi. Gue ga lihat eksistensi Kain lagi. Sepertinya Feruci turun tangan untuk membakar tubuh si ‘pengembara’ dimensi. Kosmik hanya memberi ruang dan waktu dalam konsep repetisi. Raga kita yang asli tetap di sini. Rumah Dosa sebagai titik temu semua aksi. Tunggu, kalau gitu sebenarnya diam-diam Feruci tuh... peduli? Padahal peran ayah bagi dia hanya formalitas buat memenuhi bentuk keluarga asli. Ternyata masih mau menyelamatkan kita tanpa perlu menunjukkan afeksi.”
✧ ✧ ✧
END.
Commission Story Written by LIN



Comments