top of page

Menganyam Sutra Dibalik Beludru

  • Annie Kaslana
  • Jun 5
  • 6 min read
Tulisan ini terinspirasi dari lagu duet Ades & Gore : Down in The Velvet

Pernahkah kamu berpikir bagaimana sebuah monster menjinakkan monster lainnya? Bukan dengan rantai besi atau lecutan cambuk yang membuat punggung berdarah-darah. Tidak, cara seperti itu terlampau barbar; secara singkat …metode ampuh milik Mona dan Levi. Bagi seorang Ades, menjinakkan jiwa yang hancur layaknya Gore adalah tentang ruang yang tenang; gorden ruangan dengan sorot sendu; dan segelas teh hangat yang  diletakkan tanpa suara.


Stay close. Quiet room, curtains drawn.


Sore itu, ruang laboratorium bawah tanah Ades diselimuti oleh atmosfer yang ganjil. Gorden beludru yang tebal sengaja ditarik rapat, menghalau sisa-sisa bias matahari luar yang terlalu bising untuk kepala Gore. Di atas meja kayu mahoni yang dipenuhi botol-botol kaca laboratorium, asap tipis mengepul dari secangkir teh chamomile. 


Gore duduk di kursi berlapis kulit domba yang empuk. Rasanya begitu nyaman;  menenangkan hingga nyaris terasa seperti sebuah kedamaian yang murni. Namun, insting anak laki-laki itu—intelektual taktis yang tajam—berbisik dari sudut kepalanya yang paling dalam: Ini semua hanyalah bidak catur yang tertata sedemikian rupa.


Feels like peace but it’s a pawn. Tea is warm, but wires are too. Every comfort hides what we do.


"Minum tehmu, Gore. Kamu sudah melewatkan jam makan siangmu lagi karena sibuk mengutak-atik benda mekanis itu," suara Ades mengalun rendah, sehalus sutra yang bergesekan dengan kulit. Wanita itu berjalan mendekat, membawa sebuah nampan kecil berisi beberapa helai kawat perak tipis dan sebotol esens tanaman yang baru selesai disuling.


Gore melirik cangkir tehnya, lalu beralih pada jemari Ades yang lentik. Di balik kehangatan cangkir porselen di genggamannya, ia tahu betul ada kabel-kabel jebakan tak kasatmata yang dipasang Ades di sudut-sudut ruangan. Setiap kenyamanan di kastil ini selalu menyembunyikan sisi mematikan dari apa yang mereka lakukan sebagai Keluarga Dosa.


"Aku tidak malas, Ibu," sahut Gore, menekankan kata 'Ibu' dengan nada sinis namun ada kepatuhan yang tersirat di sana. "Aku sedang menyusun skema. Mona tadi pagi mengejekku karena melihatku hanya duduk diam di dahan pohon belakang kastil selama empat jam. Dia mengira aku tertidur setengah uling."


Ades terkekeh geli. Kekehan seksi yang terdengar seperti dawai harpa dipetik lambat. Dia membungkuk, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Gore, memaksa mata anak itu untuk menatap lurus ke dalam maniknya.


I learned to build with patient hands. Traps like poems, silent plans. They think I’m lazy, half asleep. They don’t see what I keep.


"Biarkan kakak-kakakmu berpikir begitu, Sayang," bisik Ades, jemarinya beralih mengelus surai kuning Gore dengan kelembutan yang manipulatif namun entah kenapa terasa begitu candu bagi si bocah. "Mona dan Levi hanya tahu cara mengacungkan kapak dan memutus urat leher dengan bising. Mereka tidak melihat apa yang kamu simpan di dalam kepala jeniusmu ini. Mereka tidak tahu bahwa diammu adalah caramu menulis sebuah puisi... puisi kematian yang sunyi."


Ades menarik tangannya, lalu mengambil sebilah belati kecil dari balik lipatan gaun malamnya. Di bawah temaram lampu meja yang lembut, bilah baja itu berkilau indah, seolah kehilangan kesan mengerikannya.


Soft light makes the blade look kind. Beauty always calms the mind. Let them think it’s safe inside. Let them step where roses hide.


"Lihat ini," Ades mengarahkan belati itu di hadapan Gore. "Cahaya yang lembut selalu bisa menipu mata, membuat bilah yang paling tajam pun terlihat ramah. Keindahan punya cara tersendiri untuk menenangkan pikiran manusia, membuat mereka lengah. Biarkan target-target kita berpikir bahwa mereka aman di dalam ruangan yang indah. Biarkan mereka melangkah dengan sukarela ke tempat di mana duri-duri mawar bersembunyi."


Gore memperhatikan gerakan tangan Ades. Sesuatu di dalam dirinya bergetar—rasa kagum yang murni atas estetika pembunuhan yang diajarkan wanita ini. "Sama seperti racun?" tanya Gore, suaranya mulai merendah, menyatu dengan ritme ruangan.


"Benar, anakku," Ades tersenyum, matanya berkilat penuh kepuasan melihat bagaimana murid kecilnya mulai menyerap filosofinya. "


Poison is not rage, my dear. It’s elegance that disappears."


Ades menuangkan satu tetes cairan bening dari botol kecil ke atas bilah belati itu. Cairan itu langsung menyerap, menghilang tanpa meninggalkan bekas atau bau sedikit pun. "Racun bukanlah tentang kemarahan yang meluap-luap atau teriakan histeris. Racun adalah sebuah keanggunan yang melenyap tanpa jejak. Tidak ada ketergesaan. Tidak ada nafsu yang menggebu-gebu untuk pamer kekuatan. Tidak ada kebisingan. Hanya berupa embusan napas beludru yang halus... tepat sebelum target dihadapkan pada pilihan untuk mati."


No rushing. Lust. No noise. Just velvet breath before the choice.


Gore mengambil kawat baja tipis dari atas meja. Dengan jemarinya yang terampil, dia mulai melilitkan kawat itu pada mekanisme roda gigi kecil yang telah dia rancang. Gerakannya begitu presisi, tanpa suara, meniru ketenangan Ades.


"Di dalam ruangan yang penuh dengan sutra dan asap cerutu ini," kata Gore, nadanya meniru gaya teatrikal Feruci yang sering dia dengar di menara atas. “Kita mengikat simpul yang ada untuk memasang kail umpan sempurna. Kelembutan tangan yang biasa kamu sodorkan, bisa menjadi benang paling tajam.”


In the lounge of silk and smoke, we tie the knot, we set the choke.

Softest hands, sharpest thread.

A lullaby for the soon-to-dead.


Ades bersandar pada tepian meja kerja, melipat tangannya di depan dada sambil memperhatikan bagaimana Gore merakit jebakan barunya. "Sebuah lagu pengantar tidur untuk mereka yang akan segera menjadi mayat," timpal Ades dengan senyuman sensualnya. "Kamu berkembang begitu cepat, Gore. Mengingat dari mana kamu berasal."


Mendengar itu, gerakan tangan Gore sempat terhenti sejenak. Bayangan tentang mansion Rothschild yang megah namun dingin kembali melintas di benaknya. 


I used to be a shadow child. Always measured, never smiled. Now I’m trusted with the dark. I lay the fuse, I strike the spark.


"Aku dulu hanyalah anak bayangan di sana," ucap Gore lirih, matanya menatap kosong pada kawat di tangannya. "Segala sesuatunya selalu diukur. Setiap langkah, setiap perkataan, bahkan senyumanku pun punya harga ekonomisnya sendiri. Makanya aku tidak pernah benar-benar tersenyum di rumah itu. Aku hanya menjadi pajangan."


Gore mendongak, menatap Ades dengan binar amber yang kini dipenuhi oleh kegelapan yang pekat namun stabil. "Tapi di sini... di Rumah Dosa, kalian memercayakan kegelapan itu padaku. Aku yang membentangkan sumbunya, dan aku sendiri yang memantik percikan apinya."


Ades melangkah mendekat lagi, kali ini dia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Gore, memberikan kehangatan fisik yang nyata, mengusir sisa-sisa hawa dingin dari masa lalu anak itu. "Karena kegelapan adalah tempat terbaik untuk kepalamu yang berharga, Gore. Jarak adalah cara membunuh yang paling bersih. Biarkan targetmu hanyut dan terombang-ambing oleh ilusinya sendiri."


Distance kills the cleanest way. Let the target drift and sway. A step too close, a sip too sweet. Then silence wraps them like a sheet.


"Satu langkah yang terlalu dekat, atau satu tegukan teh yang terlalu manis," Gore melanjutkan kalimat Ades, seulas senyuman sinis yang cerdik kini terukir jelas di wajahnya. "Dan kemudian, kesunyian akan membungkus tubuh mereka rapat-rapat seperti selembar kain kafan."


Ades mengelus pipi Gore, merasa luar biasa bangga pada hasil 'rajutan' emosional yang dia lakukan pada anak ini. "Kamu memperhatikan dengan sangat baik, kamu menunggu dengan sangat lama. Kesabaran adalah hal yang membuat akhir dari sebuah nyawa menjadi begitu kuat. Tidak semua kematian harus diakhiri dengan jeritan melengking atau darah yang tumpah membanjiri lantai. Beberapa kematian justru sangat indah ketika mereka terjadi dalam kondisi yang tenang... benar-benar hening tanpa kepakan sayap."


You watch so well, you wait so long. Patience makes the ending strong. Not every death must scream and spill. Some are quiet, perfectly still.


"Aku mengajarimu keanggunan, dan kamu mengajariku pengendalian diri," Ades berbisik di dekat telinga Gore, membiarkan kedekatan ini menjadi fondasi kepercayaan baru yang mutlak di antara mereka. "Bersama-sama, kita membuat pembunuhan terasa seperti sebuah seni yang samar, hampir tak kentara."


I teach you grace, you teach restraint. Together we make murder faint.


Gore menurunkan tangannya dari roda gigi. Dia menatap ruangan laboratorium itu secara keseluruhan, lalu menyadari inti dari semua pelajaran yang dia dapatkan dari Ades sejak hari pertama dia menapakkan kaki di kastil ini.


"Perangkap yang sesungguhnya bukan terletak pada besi atau kawat baja yang kupasang, kan, Ibu?" tanya Gore dengan nada konfirmasi yang cerdas.


Ades menaikkan satu alisnya, membiarkan sang anak menyelesaikan konklusinya sendiri.


"Perangkap yang sesungguhnya adalah sebuah undangan," tutur Gore, matanya berbinar licik. "Kursi yang empuk, minuman yang manis... perasaan palsu yang membuat mereka merasa bahwa mereka memiliki tempat di sana. Perasaan bahwa mereka berada di rumah."


The trap is not the metal. It’s the invitation.

The soft chair, the sweet drink, the feeling they belong.


Ades tidak bisa menahan tawa puasnya lagi. Dia memeluk kepala Gore dari belakang, mendekap anak laki-laki itu ke dalam kehangatan sutra gaunnya yang beraroma harum memikat. "Tepat sekali, Gore. Tepat sekali. Ketika mereka merasa paling nyaman, itulah saat di mana simpulnya sudah melilit leher mereka tanpa mereka sadari."


In the lounge of silk and smoke, we tie the knot, we set the choke.

Softest hands, sharpest thread.

A lullaby for the soon-to-dead.


Gore membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan Ades. Rasa asing, shock, dan keraguan yang sempat menghantuinya di hari pertama kini telah mengelupas sepenuhnya, digantikan oleh rasa kepemilikan yang absolut atas perannya di dalam keluarga ini. Dia bukan lagi Edmond sang pajangan Rothschild. Dia adalah Gore, sang penganyam benang di balik bayangan Rumah Dosa.


"Jelas sekali mereka tidak akan pernah menyadari ….apa yang tengah menghampiri, bukan?" bisik Gore pelan di dalam pelukan Ades, menutup obrolan sore itu dengan janji fungsional yang mengerikan bagi siapa pun yang berani menjadi musuh mereka di masa depan.


They’ll never see it coming.



 

---



Commission Story Written by Annie Kaslana on Facebook

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page