Pengakuan Ayah, Dari Diri sang Pendosa
- Zira Kay
- Dec 31, 2024
- 2 min read
Updated: Jan 27, 2025
Tentang perasaan, tidak ada yang tahu bagaimana itu akan berjalan.
Sama halnya seperti Feruci. Pria itu tidak menyangka dirinya akan sampai di titik ini; di mana ia memiliki keluarga yang menjadi sebuah teman untuk hari-harinya. Baginya, keluarga buatan ini adalah sebuah bagian dari permainan yang harus ia mainkan. Namun, dia berakhir jatuh. Bukan jatuh dalam artian kalah. Akan tetapi jatuh dalam artian sudah larut dengan kasih sayang mereka.
Keluarga itu tanpa dugaan membawa hangat di hatinya. Meskipun ia telah turun ke daerahnya yang terbilang sangat panas berulang kali, tetapi hangat yang dibawa keluarga buatan ini berbeda.
Tampak seperti ada sebuah tempat tersendiri di hatinya. Walau mungkin ia masih bingung untuk mengatakannya.
Bahkan hingga hari ini, ketika berada di luar dan dirinya dipanggil dengan sebutan ayah diiringi nada sopan nan manis mereka, Feruci merasa hatinya sedikit berkeinginan yang berbeda dari otaknya.
Katakanlah selama ini ia hanya laksana pelindung yang melindungi mereka agar tetap bisa bebas mengekspresikan jati diri yang sebenarnya. Namun, bersama Ades, sang istri, ia merasa telah diajari soal kasih sayang. Sebuah rasa yang cukup asing untuknya, tetapi juga membuat damba.
“Ayah, ayo temani aku sebentar!”
“Ayah, aku ingin ke sana.”
“Ayah perlu sesuatu?”
Kata ‘ayah’. Walau ia menganggap itu sebagai hal yang biasa dan sesuatu yang perlu disebut di luar, tetapi dirinya juga tak bisa sepenuhnya menutupi bahwa dia cukup nyaman mendengarnya. Mungkin, ya, mungkin, ini karena istrinya yang selalu bersama dirinya selama ini; jauh dari sebelum presensi anak-anak ada di keluarga buatan ini.
Feruci belum bisa mengatakan soal perasaan ‘sayang’ kepada mereka seperti yang Ades miliki. Namun satu hal yang pasti, usai menjadi pelindung mereka hingga detik ini, Feruci memiliki satu keinginan terkait mereka.
Dirinya ingin terus ada di saat mereka berkembang dan tumbuh jadi membanggakan. Bahkan walau keinginan mati yang luar biasa itu masih ada di hatinya, dia harap, mati itu datang usai anak-anaknya tumbuh dengan jati diri mereka yang sebenarnya.
Feruci bukanlah sosok yang disebut malaikat, bukan juga sosok yang bisa disebut ‘orang baik’, tetapi jika itu menyangkut keluarga buatannya, ia harap ia bisa menjadi sosok ayah yang mereka inginkan; yang memberi ruang untuk menunjukkan jati diri mereka.
Ini adalah pengakuan rasa dari seorang ayah, bukan rasa dari sang pendosa yang bermain api.
Commission Story Written by Zira Kay on Facebook / @urbluemint on X


Comments