Perayaan untuk Penobatan sang Tahun
- Zira Kay
- Dec 31, 2024
- 8 min read
Updated: Jan 27, 2025
Kali ini, Feruci ingin melakukan sesuatu; sebagai perayaan tahun baru untuk keluarga buatan terkasihnya.
Usai kemarin Ades melaksanakan rencananya untuk menjadi ‘biasa’ seperti orang lain, kini giliran ia melaksanakan rencananya untuk menampilkan jati diri mereka yang sebenarnya. Rencana ini masih termasuk agenda keluarga mereka. Hanya saja kali ini, edisi tahun baru.
Feruci tahu, ketiga anaknya adalah orang-orang dengan bakat dan minat yang luar biasa. Oleh sebab itu, kini ia membuat sebuah permainan sebagai hadiah pergantian tahun.
Di ruang kumpul, seluruh anggota keluarga termasuk Stan dan Bulb sudah datang sebab permintaan Feruci. Pria itu dengan senyum simpulnya duduk bersama sang istri sambil menunggu semua sudah pada posisinya. Dirasa sudah semua, barulah ia berbicara.
“Aku menerima bounty,” katanya. Anak-anak tampak biasa saja, tetapi ada ketertarikan.
“Targetnya cukup sulit, tetapi pendapatannya sepadan.” Feruci menjentikkan jarinya; yang tiba-tiba sebuah layar memperlihatkan detailnya. “Aku bisa menyelesaikan ini sendirian, tetapi tentu dalam jangka waktu yang sedikit lama. Jadi aku berpikir memasukkan misi ini menjadi agenda keluarga kita,” jelasnya.
“Tunggu—maksudnya kamu bakal biarin kita ikut ke dalam misi ini?” Mona bertanya, yang mana diangguki oleh Feruci. “Benar. Kita akan memburunya bersama-sama sebagai perayaan akhir tahun.”
Mendengarnya, rasa ketertarikan mereka menjadi semakin tinggi. Apalagi ketika Feruci menambahkan suatu hal di akhir. “Kalian bebas ingin bagaimana mengeksekusinya. Semua rencana ataupun strategi aku serahkan pada kalian bertiga. Aku dan Ades hanya akan mengikuti.”
“Serius?!”
“Serius. Anggap saja ini bersenang-senang di akhir tahun.” Lantas setelahnya, Mona dan Levi berseru senang, sementara Gore tetap bersikap biasa saja. Ia berharap bisa menghabiskan akhir tahunnya seorang diri. Namun di dalam lubuk hatinya, ia dan kedua kakaknya berpikir hal yang sama.
Esok akan menjadi hari yang menyenangkan.
___________________________________
Tatkala malam telah menyelimuti mayapada yang mengantuk, derap langkah kaki sang pendosa semakin terdengar. Bersama dengan makhluk nokturnal yang meramaikan sunyinya malam, ia bertemu dengan puan yang meminta akhir hayatnya.
“Permisi, Pak, Anda terlihat kelelahan. Mau mampir kemari lebih dahulu? Kami ada diskon 90% untuk orang yang pertama kali datang ke bar kami.”
Lantas ketika mendengarnya, langkahnya berhenti. Ia melirik perempuan itu sebentar, sebelum akhirnya mengangguk dan masuk ke dalam bar.
Dari sini, acara khusus keluarga telah dimulai.
Di dalam bar, pria itu hanya memesan segelas alkohol. Namun, matanya sesekali melirik ke arah sang puan yang tadi mengajaknya masuk, Mona, yang sedang menuangkan minumannya.
“Anda terlihat lelah sekali, Pak. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, ya? Melihat dari pakaian bapak ….” Memang, pakaian pria ini terbilang mewah, ditambah Mona bisa melihat ia memakai jam yang tergolong mahal. Pun sebenarnya, pertanyaan itu hanya basa-basi. Ia tahu apa yang terjadi.
Stan adalah jawaban dari pertanyaan tadi. Kucing itu adalah pelaku pengeroyok pria ini ketika sedang di jalan, Mona sendiri yang mengarahkan Stan dekat dengan bar tempatnya berada.
“Ah, ya … tadi syal saya dicuri kucing. Saya kejar sampai di sini, malah berakhir di bar.”
Diam-diam, Mona menyeringai mendengarnya. Sambil memasuki racun yang telah dibuat oleh Ades ke dalam minuman pria itu, ia kembali berbicara, “Berarti hari ini cukup buruk, ya?” Hal itu diangguki si pria.
Tak lama, Mona memberikan minumannya kepada pria yang menjadi target keluarganya.
“Hari yang buruk dapat dihibur dengan satu gelas alkohol,” katanya. Sang target mengangguk setuju. Tanpa curiga apa-apa, ia langsung meminumnya sampai habis. Usai menenggak minuman, tiba-tiba tubuhnya menjadi lemah, kepalanya terasa pusing, dan pandangannya buram. Si pria melirik ke arah Mona dengan ekspresi bingung. Sebelum akhirnya ia ambruk sepenuhnya.
Melihat targetnya telah ambruk, Mona langsung membuka ponselnya. Ia mengirimkan pesan suara di grup mereka.
“Tugasku dan Stan sudah kelar. Giliran Levi,” ujarnya untuk dikirimkan sebagai pesan suara. Tak lama setelah itu, dengan kekuatan yang Stan miliki, Stan menopang tubuh besar sang target. Sesuai rencana, mereka harus membawa si target ke ruangan khusus yang sudah disediakan untuk bertemu Levi.
Sampai di sana, Mona membuka pintu ruangan. Tanpa peduli dengan kondisi sang pria, ia melemparnya di depan Levi; membuat sang adik jadi mengerutkan keningnya bingung sebab melihat kondisi si target.
“Ini serius Feruci nyuruh kita buat ikut campur?”
“Lah, itu buktinya.”
“Ya, iya. Tapi ini mah gampang banget. Tinggal bunuh aja apa susahnya?”
Mendengarnya, Mona menghela napas. “Dia belum mati. Pas gue bawa ke sini, dia agak setengah sadar. Kayaknya linglung, sih. Padahal udah gue kasih racun Ades. Feruci juga bilang, kan? Bagian akhir biar dia yang eksekusi. Karena ada satu organ yang perlu jadi bukti buat dia. Jadi kita harus bisa bawa orang ini dengan keadaan utuh ke Feruci,” jelas Mona dengan panjang.
Levi mengangguk mengerti. Ia melirik satu pintu lainnya yang ada di ruangan khusus ini. Misinya adalah mengajak pria ini bermain dengannya untuk melupakan sejenak tujuan dia. “Oke. Kasih aja ke gue,” katanya.
“Inget, sampe Feruci harus masih utuh.”
“Iya, iyaa. Curigaan banget, sih.”
“Ya, bisa aja lo ambil tangannya.”
“Gak ba—” Saat Levi ingin menjawab, tiba-tiba tubuh pria itu bergerak, ia juga membuat suara. Hal itu lantas membuat Levi langsung mengusir Mona keluar dari ruangannya agar ia bisa melakukan misinya.
Ternyata memang benar, pria ini kebal pada racun buatan Ades. Tatkala ia membuka mata, ia menemukan dirinya telah berada di tempat yang berbeda. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan, tetapi hasilnya tetap sama; ia berada di ruangan yang berbeda.
Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, pria itu bangun dari posisinya. Lalu ketika menatap ke depan, dia langsung bertemu dengan Levi yang hanya tersenyum.
Pakaian Levi sangat menggoda saat ini. Jika orang tanpa iman yang kuat melihatnya, pastinya permainan yang direncanakan Levi akan memakan banyak waktu.
“Halo, sudah bangun~?” Dengan nada menggoda, Levi mendekati pria itu. Senyumnya manis, sangat manis. Lalu wanginya pun sangat menyengat di penciuman sang pria. Akan tetapi sayangnya, pria itu tidak bodoh. Ia sadar ia telah dipermainkan sejak ia pergi ke bar.
Jari-jemari Levi bergerak dari dada pria itu hingga menyentuh pipinya. Sambil memerhatikan ekspresi sang target yang tampak curiga, ia membelai pipinya lembut sebelum berbisik, “Aku punya mainan yang seru, loh.”
Tak lama, netra elok milik Levi melirik ke arah lengannya; yang mana semakin dilihat semakin mengarah ke jari-jari tangan sang target. Hal itu membuatnya tersenyum, tetapi ia masih ingat dengan permintaan Feruci.
“Mau main satu ronde aja, nggak~?” lanjutnya. Kini, ketika sang pria sudah mendapati seluruh kesadarannya, ia langsung mendorong Levi menjauh sampai jatuh.
“J-jauh-jauh!” ujarnya dengan gugup. Pria itu melirik ke sekitar; menemukan dua pintu yang bisa menjadi jalan keluarnya. Pintu pertama ada di belakangnya, sementara pintu yang kedua ada di belakang Levi.
Dia mencoba membuka pintu yang berada di belakangnya. Namun sayang seribu sayang, pintu itu terkunci. Lantas ia berlari menuju pintu yang ada di belakang Levi, dan untungnya tidak terkunci. Tanpa peduli dengan Levi yang hanya diam melihatnya, ia segera berlari melewati pintu itu; meninggalkan Levi sendirian di sana.
“Yah … belum sempat main,” keluhnya. Levi tak menghentikan pria itu. Habisnya pintu itu justru adalah pintu yang menghubungkan ia ke rumah mereka, atau lebih tepatnya ruang untuk mengeksekusi mereka. Untuk hal ini, ucapan terima kasih pantas diberikan kepada Gore. Tanpanya, mereka tak bisa mengirim si target bertemu Feruci dan Ades.
Levi membuka ponselnya, kini giliran dia yang melapor di grup khusus perayaan ini.
“Gore, urus, tuh. Dia nggak bisa diajak main. Langsung kabur gitu aja ke pintu yang itu,” ujar Levi di pesan suara. Untungnya, pesan suara itu langsung ditanggapi oleh Gore. Ia tahu, kini giliran dia yang bekerja.
Gore memantau pria itu dari ruangan CCTV. Ia dapat melihat si target berlari lurus tanpa tahu ke mana sebab berpikir Levi akan mengejarnya. Hal itu membuat Gore tersenyum puas. Apalagi ketika akhirnya pria itu sampai di jalan buntu. Senyum Gore langsung melebar. Dia segera menekan tombol yang ada di dekatnya, lalu secara tiba-tiba, sebuah kandang dari atas mengurung si target; membuat target itu berteriak terkejut.
“AHH, BRENGSEKK!!”
Hampir saja tawa Gore lepas. Usai mengurungnya, Gore menarik tuas yang ada di dekatnya; membuat bagian lantai yang dipijak sang target terbuka lebar dan jatuh ke bawah. Dari situ, hanya suara teriakan yang Gore dengar.
“AAAAHHH!!”
Lalu akhirnya, target itu sampai pada sang pembunuh utama.
Usai menyelesaikan bagiannya, Gore langsung membuka ponselnya. Tidak ada pesan suara, hanya sebuah pesan singkat berisi kata ‘sudah’ lalu menutupnya.
Kini tugas anak-anak telah selesai, saatnya orang tua yang menyelesaikan tugasnya.
___________________________________
“Uhuk, uhuk.” Suara batuk itu menggema di ruangan. Usai terjatuh dan mendapatkan luka, kini pria itu kembali dibuat takut sebab ruangan yang terlihat menyeramkan.
“Halo?” Pria itu bersuara untuk memastikan adanya orang atau tidak. Yang mana tak lama, dua orang yang sepertinya berpasangan datang menghampiri dirinya dengan baju yang lusuh.
“Orang baru!” Feruci, dengan penyamarannya, mendatangi sang target dengan wajah sulit dibaca. “Anda tidak apa-apa?” tanyanya.
Sang pria menjadi lega. Berpikir bahwa setidaknya ia tidak sendirian di sini. Dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan Feruci. “Ya, saat ada kalian. Saya tadi dijatuhkan kemari.”
Mendengarnya, Ades membuat wajah berempati. “Astaga … lagi-lagi korban dari atas ruangan,” ujarnya. Dia menghela napasnya pelan, seakan sudah lelah berada di tempat seperti ini.
“Korban dari atas ruangan?” Sang target bertanya, yang mana diangguki oleh Ades.
“Iya, sudah banyak yang jatuh dari atas situ. Sampai sekarang, kami tidak tahu siapa pelakunya. Kami juga korban, tapi sudah lama sekali berada di sini.”
“Lalu apa yang terjadi pada korban lainnya? Mengapa hanya ada kalian berdua?”
Seketika, Feruci dan Ades membuat wajah pura-pura bersedih dan takut. “Mereka … mati. Kami hanya bisa menyaksikan.”
“Tunggu, apa? Lalu kalian bagaimana? Mengapa kalian tidak mati?”
“Itu maksud kami …! Kami adalah korban pertama, tetapi tak pernah dibunuh. Kami hanya terus menyaksikan korban lainnya mati. Itu membuat kami takut … dan menghitung hari kiranya kapan kami mati.”
Usai berkata seperti itu, Ades mengeluarkan air mata buatannya. Ia menjadi seseorang yang sangat tersakiti sekarang. Dibantu dengan Feruci yang menenangkan dirinya, dia semakin mendalami peran.
“... Jadi, bagaimana denganku? Apa aku akan mati juga?” Kini, si target ketakutan. Membuat Feruci di dalam hati menjadi senang.
“Itu … tergantung.”
“Maksudnya?”
Feruci tak banyak omong, tetapi ia mengeluarkan tiga kartu. Sambil menunjukkan belakangnya, ia berkata kepada targetnya. “Aku punya tiga kartu.”
“... Lalu?”
“Ada Raja, Ratu, dan Joker. Tugasmu adalah menebak dari empat kartu ini, yang mana Ratu, yang mana Raja, dan yang mana Joker, serta kosongnya.”
“Ini untuk apa?”
Dari situ, Feruci menyeringai.
“Untuk hidupmu.”
“Maksudnya?” Belum sempat pria itu bertanya lebih lanjut, tiba-tiba sebuah kandang lainnya datang dari atas untuk mengurungnya.
“HAH—? HEI!” Dia tampak terkejut. Kini wajahnya kembali menunjukkan ketakutan. Dia memukul-mukul kurungan itu pinta untuk dikeluarkan, tetapi hasilnya nihil.
Di hadapannya, sepasang suami istri yang tadi terlihat lusuh kini berubah penampilan dalam sekali jentik; menunjukkan wujud asli mereka yang membuat ia menjadi semakin ketakutan.
“Cepat tentukan. Ini bergantung pada hidupmu.”
“Apa?”
“Dalam hitungan tiga. Satu—”
“—OKE, OKE! A-aku menjawab!”
Lantas itu membuat Feruci tersenyum puas. Dia memberikan Ades ketiga kartu itu dan diletakkan di nampan, sementara ia berada di belakang pria itu dari luar kurungan.
“Tanganmu bisa keluar dari sela itu. Cepat tunjuk yang mana Ratu, Raja, Joker dan kosong.”
Dengan tangan yang gemetar, si target mulai menebak. “Ba-bagian tengah kanan Joker.”
“Lanjut.”
“Bagian tengah kiri … Raja. Bagian kiri kosong, kanan berarti Ratu.”
Mendengarnya, Feruci langsung meminta Ades untuk membalikkan kartu. Dimulai dari sebelah kanan. Saat dibalikkan, jawabannya benar; Ratu. Itu membuat sang target bernapas lega.
Lalu dibalikkan lagi bagian tengah kanan, dan jawabannya benar; Joker. Tanpa sadar sang target berteriak senang. Dilanjutkan oleh Ades, ia membalikkan bagian tengah kiri. Namun sayang seribu sayang, kartu itu kosong.
Sang target telah salah. Dia langsung berteriak panik. Belum sempat ia berbicara untuk negosiasi, dari belakang, kobaran api Feruci sudah lebih dulu menggosongkan jantung sang target, membuat tubuhnya tergelepar meregang nyawa. Apinya hanya membakar di satu titik akurat, segera menghilang bersama hilangnya jiwa si pemilik tubuh.
“Kami juga sudah selesai, anak-anak.”
___________________________________
“Bersulang!”
Mereka sudah sampai di penghujung acara. Sebagai penutupan, minuman soda dihidangkan untuk mereka semua.
“Gue nggak nyangka bakal segampang itu,” ujar Gore yang membuat Feruci tertawa pelan. “Sebenarnya tugasnya memang mudah, yang sulit adalah karena pangkatnya tinggi,” jelas Feruci. Dia meneguk sodanya lebih dulu sebelum lanjut bicara. “Omong-omong, aku hanya perlu jantung sebagai bukti. Jika ada yang kalian inginkan, ambil saja.”
“Eh, serius?”
“Serius. Terutama kau, Spiderling.” Feruci menatap istrinya. “Ambil saja organ yang kau inginkan untuk diteliti atau apapun.”
Mungkin bagi orang lain, itu terdengar mengerikan. Namun bagi keluarga ini, hal tadi cukup romantis. Seakan-akan lamaran dari pangeran dengan cincin emas.
Kini, agenda keluarga mereka telah usai. Sebentar lagi tahun pun berganti. Untuk membuatnya semakin megah, keluarga ini berbagi ‘sedikit daging’ untuk para pelayan yang telah bekerja keras.
Pergantian tahun kali ini, mereka mengadakan perayaan menyenangkan tersendiri. []
Commission Story Written by Zira Kay on Facebook / @urbluemint on X



Comments