top of page

Senyum untuk Musim Dingin

  • Zira Kay
  • Dec 31, 2024
  • 8 min read

Updated: Jan 27, 2025


Musim dingin tahun ini pun telah datang; menyelimuti beberapa bagian di bumi dengan kepingan salju yang menghadirkan dingin sebagai hadiahnya. Jika bisa dikatakan, musim dingin adalah sang ahli lukis yang memilih bungkam selama prosesnya. Ia mengindahkan ribuan pohon dengan warna putihnya, lalu memberi satu tiup istimewa hingga angin membawa keping salju untuk menari.


Hal yang paling disukai oleh musim dingin adalah ketika ia melihat jutaan insan merasa puas dengan lukisannya. Mereka berkelakar diiringi oleh rasa senang; seakan mengapresiasi musim dingin yang telah melukis bumi menjadi elok dan anggun seperti ini.


Namun, ada juga yang mengingat lukisannya sebagai kenangan yang mengerikan. Bahkan sampai enggan untuk melihatnya sedikit saja saking ketakutannya. Untuk hal itu, mungkin musim dingin dapat mengerti. Akan tetapi, ia berhasil dibuat heran oleh segelintir makhluk hidup yang menurutnya unik.


Segelintir orang itu menerima presensinya untuk melukis eloknya bumi. Akan tetapi, mereka tak pernah kagum pada lukisannya. Mereka hanya meliriknya sekilas lalu kembali pada bagaimana cara mereka menjalani hidup. Sungguh, bagian itu sangat tidak bisa dimengerti oleh musim dingin. Namun, dia lebih tak mengerti lagi ketika mereka yang biasa tidak pernah kagum kini keluar rumah bersama hanya untuk melihat lukisannya.


Perempuan dengan surai merah muda lebih dulu keluar dari rumah besar itu. Dengan mengenakan pakaian yang cukup hangat, ia melirik ke sekitar dan menemukan salju yang sudah berguguran di atas tanah.


“Saljunya udah banyak, ya.” Levi namanya. Sambil menunggu Mona dan Gore—saudaranya—yang masih sibuk dengan syal mereka, ia menendang-nendang tumpukan salju yang menjadi bukit.


“Oleh karena itu, hati-hati saat berjalan. Bisa saja kakimu termakan salju.” Sang ibu menyahut. Usai membenarkan syal milik anak laki-lakinya, ia ikut menyusul Levi yang sudah lebih dulu siap.


“Mobil sebentar lagi akan datang.”


“Oh, siapa yang menyupir?”


“Tentu saja—” Belum sempat Ades berbicara, tiba-tiba sebuah mobil mewah datang di hadapan mereka. Tanpa ada yang membukakan, mobil itu telah terbuka dengan sendirinya; menampilkan sesosok laki-laki yang merupakan pemegang peran ‘ayah’ di keluarga mereka.


“—’Ayah’ kalian.” Pria itu melanjutkan kalimat istrinya, sementara ketiga anaknya mengerutkan kening mereka sebab bingung. Tak seperti biasanya mereka akan keluar untuk merayakan sesuatu dengan cara ‘tidak biasa’ bagi mereka atau ‘biasa’ bagi manusia pada umumnya.


“Masuklah. Kita akan keliling kota sambil mencari keperluan untuk perayaan tahun ini.”


Mendengarnya, ketiga anak itu semakin dibuat bingung. “Apa? Gimana? Kita keliling kota buat cari apa?” Mona, si anak pertama, bertanya untuk memastikan. Padahal, ibu dan adik-adiknya sudah berjalan untuk memasuki mobil walau masih dipenuhi tanda tanya.


“Kita cari pohon natal … atau semacamnya. Sudahlah, Mona. Masuk saja dahulu,” ujar sang ibu yang mana diangguki oleh suaminya. Mereka memang telah merencanakan ini tanpa memberitahu anak-anak. Rencana perayaan ini terbentuk saat mereka—sepasang suami istri—saling berbagi kasih pada kemarin malam. Usai melihat jadwal yang cukup longgar, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anak mereka. Setidaknya, agar anak-anak punya pengalaman ‘normal’ yang bisa dibicarakan saat liburan telah usai.


Lantas, tanpa banyak bertanya lagi, Mona memasuki mobil sesuai keinginan orang tuanya. Hal itu membuat Ades mengukir senyum tipis sebagai tanda bahwa ia puas.


Sebelum sang suami benar-benar menjalankan mobilnya, Ades melirik ketiga anaknya dengan ukiran senyum yang sama. Tegas tetapi lembut, dia segera berkata kepada anak-anaknya,


“Musim dingin kali ini, mari coba hal baru yang terbilang ‘normal’ bagi mereka, ya? Ini ideku. Nanti untuk perayaan tahun baru, ayah kalian sudah menyiapkan rencana juga, dan aku bisa jamin kalian akan menyukainya. Jadi, anggap saja ini acara keluarga.” Setelahnya, mobil melaju menuju perkotaan.


___________________________________



“Pohon natal yang ini bagus juga.” Kini, tatkala mereka sudah sampai di suatu tempat yang cocok untuk membeli beberapa keperluan perayaan, mereka langsung disuguhi oleh barang berkualitas bagus yang menarik nafsu pembeli untuk membeli.


Contohnya seperti pohon natal yang besar di depan mereka. Dengan tatapan yang sama, kelima anggota keluarga itu memerhatikan dengan seksama, sebelum akhirnya sang ayah berkata kepada pegawai yang ada di dekat mereka.


“Kami ingin pohon yang ini. Tolong segera disiapkan.” Lantas sang pegawai mengangguk mengerti. Membuat kelima anggota itu memutuskan kontak mata mereka dari si pohon dan beralih ke yang lain.


Namun tak lama, si anak tengah bersuara. “Perlu beli permen gantung yang biasa nempel di pohon, nggak?” tanyanya.


“Ngapain? Pake aja jari dari koleksi tangan lu. Lebih hemat biaya.” Mendengar jawaban sang adik, Levi mengerutkan keningnya. Ia tahu, Gore sedang membalasnya untuk membuatnya kesal seperti yang ia lakukan kemarin hari.


“Oh, iya iya~ boleh, deh. Entar bintang yang ada di ujung pohon diganti pake koleksi kepala lu aja, gimana? Hemat biaya juga.”


Ades menghela napasnya pelan. Suara mereka tergolong cukup besar untuk di dalam toko yang sedang sepi. Bisa-bisa salah satu pegawai atau pengunjung lain mendengarnya dan berakhir menjadi masalah panjang. Sebagai pemeran ‘ibu’ di keluarga unik ini, tentunya ia mendekati kedua anaknya dan menyentuh pundak mereka.


Dengan suara lembut yang seperti bisikan, ia berkata, “Ingat, kita di sini untuk mencoba hal baru, bukan, anak-anak?” Maka keduanya diam untuk sesaat sebelum akhirnya mengangguk setuju. Membuat Ades tersenyum puas dan mengelus kepala kedua anaknya.


“Pilih saja barang yang menurut kalian menarik. Nanti langsung berikan ke ayah kalian. Kalau sudah, kita akan kembali ke rumah untuk mulai menghias.”


“Menarik yang gimana maksudnya?”


“Yang menurut mereka normal, tentunya.” Setelahnya, rasa tertarik Gore dan Levi langsung sedikit menghilang. Lagi-lagi, mereka diingatkan oleh ibu mereka untuk bersikap layaknya manusia pada umumnya. Mereka mulai memilih barang yang sekiranya menarik, sementara sang kakak pertama sudah lebih dulu mendekati ayah mereka untuk memberikan barangnya.


Awalnya, mereka pikir mereka hanya harus membeli barang yang menurut mereka paling menarik. Namun pemikiran itu dihancurkan ketika Feruci, sang ayah, selesai membayar dan malah mendatangi mereka sambil membawa beberapa lembar uang.


“Keliling,” titahnya.


Tiga anak yang berstatus saudara itu kebingungan, sementara ibu mereka hanya memberi senyum simpul yang sulit diartikan.


“Maksudnya?”


“Bawa uang ini, lalu keliling cari hadiah. Jangan lupa dibungkus. Kita akan mengadakan acara tukar kado nanti malam setelah kelar menghias,” jelasnya membuat Mona mengerjapkan mata tanda masih kebingungan. Bukannya ia tak mengerti, tapi ia bingung karena merasa tak biasa.


Mereka yang biasanya diberi ruang untuk bersikap bagaimana diri mereka yang sebenarnya, kini dibuat ikut-ikutan ke dalam rencana mereka yang disebut sebagai ‘agenda keluarga’.


“Kadonya boleh apa aja, kan?” Levi bertanya di tengah heningnya mereka. “Intinya, yang ‘normal’ di mata publik. Kami juga sudah menyiapkan kado untuk kalian. Jadi setiap orang beli empat hadiah untuk empat orang yang berbeda.”


Oh, astaga. Terdengar seperti mimpi buruk bagi Gore. Dia sudah memikirkan suatu hal yang buruk tentang ini. Bisa saja Levi membelikannya barang biasa yang justru untuk mengejeknya.


Contoh saja, bando dengan pita berwarna merah muda. Jika ditanya soal tujuannya, Gore sudah dapat memastikan jika Levi membeli itu untuk membuatnya kesal.


“Kami akan tunggu di mobil. Waktu kalian satu jam, cukup?”


“Satu jam setengah, gimana?”


“Sepakat.”


Maka selanjutnya, ketiga saudara itu berpisah sambil membawa beberapa lembar uang yang tak sedikit dari ayah mereka. Dalam waktu satu setengah jam, ketiga saudara itu mulai memikirkan hadiah apa yang ‘sempurna’ tetapi juga ‘normal’ untuk anggota keluarga lainnya.


___________________________________


Usai berlama-lama di luar, akhirnya mereka kembali ke rumah yang selalu dideskripsikan oleh beberapa orang sebagai istana atau pun kastil. Di sana, pohon yang mereka beli hari ini sudah menjadi pameran utama. Dengan bintang serta permen gantung sebagai temannya, mereka meletakkan pohon itu di tengah-tengah ruangan. Tak lupa juga terdapat kado yang menghiasi bagian bawah pohon. Total semua kado ada dua puluh; yang mana setiap orang mendapatkan empat kado dari empat orang berbeda.


“Jadi ini udah semua? Atau ada yang kurang hiasannya?”


“Dibilang juga tambahin aja jari-jari tangan dari koleksi lu, ngeyel banget, sih.”


“Loh? Orang itu Ades yang bilang nggak boleh! Kalo boleh juga udah gue tambahin.” Levi protes tak terima, sementara Feruci yang mendengar itu hanya mengamati. Selama tiga anak itu tak menambah suatu hal yang seharusnya tidak ada di agenda keluarga ini, dia hanya akan diam dan melanjutkan kegiatannya.


Bersama si anak sulung, saat ini ia sedang memasang rumbai-rumbai berwarna hijau sebagai dekorasi ruangan di mana pohon natalnya berada. Untuk yang lainnya, para pelayan telah membantu mereka untuk memasangkan, sehingga yang ia lakukan hanyalah sebuah sentuhan terakhir.


Sebenarnya bisa saja ia melakukannya dengan kekuatan yang ia miliki, tetapi mengingat perkataan istrinya untuk menjadi ‘normal’ dalam satu hari, ia memutuskan memakai tangga.


Dirasa semua sudah selesai, barulah Ades muncul bersama dengan kucing milik mereka, Stan. Tak hanya itu, ia juga membawa satu nampan berisi kue kering yang berbentuk Gingerbread Man. Karena musim dingin tahun ini mereka memilih untuk menjadi ‘manusia biasa’ dalam satu hari, Ades mendalami perannya sebagai ibu yang membuat kue perayaan di dapur.


“Ayo kita mulai membuka kadonya, bagaimana?” usul Ades. Empat orang yang ada di ruangan itu jadi bingung. Begitu pun Feruci. Seingatnya, Ades berkata bahwa acara beri kado ini akan dilaksanakan pada pukul delapan malam. Namun nyatanya, pada pukul setengah tujuh malam, istrinya ini malah mengajak mereka untuk membuka kado sekarang.


Ades yang memahami tatapan Feruci pun terkekeh pelan. “Ya, benar. Aku mengubah jadwalnya, Yah.” Layaknya seperti keluarga normal pada umumnya, Ades memanggil suaminya itu dengan sebutan ‘ayah’. Hal itu membuat Feruci tertawa renyah dan merasa puas.


“Oh, spiderling tersayang, kau sungguh tahu bagaimana cara menggoda seseorang, ya?” Pria itu maju mendatangi istrinya yang masih membawa nampan. Ia mengambil salah satu kue kering yang ada lalu menggigitnya satu gigitan. “Pun aku tahu, spiderling-ku ini pastinya tidak sabar untuk segera ke acara utama, bukan?” Lalu kue kering yang tak utuh itu ia arahkan ke mulut sang istri; yang mana diterima habis dalam satu suapan.


Ades hanya mengukir senyum. “Lebih baik kau mundur sebentar, ya, Ayah? Ibu mau menjelaskan soal pembagian kado ini.”


Tanpa banyak bicara lagi, Feruci mundur. Ia membiarkan wanitanya itu menjelaskan.


“Sebenarnya ini bukan penjelasan yang rumit. Hanya sebuah syarat. Apapun kado yang kalian terima nantinya, kalian harus gunakan atau kenakan selama minimal dua puluh empat jam. Tidak perlu satu hari langsung, boleh dipisah ke hari yang lain, intinya hanya perlu dua puluh empat jam. Mengerti?”


Mendengar penjelasan sang ibu, ketiga anak itu langsung menunjukkan ekspresi yang berbeda. Seperti Levi, ia menahan tawa. Ia tahu apa yang ia beli untuk kedua saudaranya, sementara Gore menghela napas cemas sebab khawatir dengan hadiah dari Feruci dan Levi. Berbeda dengan Mona yang terlihat biasa saja seakan tahu bahwa kadonya tidak akan aneh-aneh.


“Mengerti!”


Maka selanjutnya, kastil itu dipenuhi dengan suara teriakan kebahagiaan layaknya keluarga normal pada umumnya.


___________________________________



Semuanya tertawa lepas. Apalagi ketika Gore membuka kado dari Levi. Perempuan itu memberikan baju dengan tulisan kustom “Aku cinta Levi onee-chan.” kepadanya. Lalu mengingat peraturan tentang harus dipakai selama dua puluh empat jam, Gore menjadi frustrasi, sementara keluarganya merasa itu hal yang lucu.


Namun, yang membuat mereka lebih tertawa adalah ketika Levi membuka kado dari Gore. Saat dibuka, sebuah tinju langsung meninju wajah Levi. Membuat perempuan itu terkejut tapi untungnya tak begitu kena (hanya terkena pipi bagian kiri). Seakan Gore tahu isi hadiahnya apa, Gore langsung memberi kado tangan tinju yang ada per-nya di bawah.


“Loh, ini gimana makenya dong?!”


“Ya pukul muka lo pake tinju itu selama dua puluh empat jam, lah.” Mona menanggapi. Membuat anggota yang lain tertawa kecil.


Benar juga, kalau seperti ini bagaimana nasib Levi? Harus diakui, ide Gore bagus juga. Ia memanfaatkan perayaan ini sebagai ajang balas dendam sebab dibuat kesal berulang kali.


“Seenggaknya impas, lah. Lu nyuruh gue make baju ini dua puluh empat jam. Ya udah, lu tinju-tinju terserah ke mana, kek. Yang penting kan dua puluh empat jam.”


“Bukan gue, ya, yang nyuruh! Itu, loh, Ades yang nyuruh pake selama dua puluh empat jam.”


Mendengar ucapan Levi, Ades menyunggingkan senyum. “Disuruh siapa, kau bilang, Levi sayang?”


Lantas perempuan itu tertawa canggung. Ia segera meralat kalimatnya. “Maksudku, disuruh ibu.” Terasa aneh untuk menyebutnya sebagai ibu di dalam rumah, tetapi memang itu hukum yang berlaku untuk satu hari ini.


Kelima anggota itu menikmati perayaan kecil-kecilan mereka. Mungkin, di mata publik ini adalah hal biasa. Namun bagi mereka, ini adalah hal luar biasa yang juga merupakan ide tak terpikirkan.


Dari luar jendela kastil, si keping salju melirik ke arah senyum mereka. Senyum yang seakan membuat mereka lupa tentang gelapnya dunia yang mereka miliki. Ini adalah suatu hal langka bagi si keping salju. Maka pada malam itu, si salju mengadu kepada musim dingin tentang kebahagiaan keluarga gelap ini. []


 

 



Commission Story Written by Zira Kay on Facebook / @urbluemint on X

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page