Poison of Love
- Siduri
- Feb 15, 2025
- 7 min read
Updated: Feb 18, 2025
Bagian I
Levi
BAU karat dari merah yang menggumpal begitu pekat kesumba bukanlah sesuatu yang patut dihindari, bau dari cairan itu merupakan bau yang mengingatkanku pada rumah.
Ibu selalu bilang bahwa cinta adalah senjata; cinta adalah tipuan; cinta adalah wujud dari harapan kosong yang bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu. Gunakan di waktu yang tepat dan pada target yang dituju, maka kemenangan merupakan suatu hal yang absolut. Sebuah senjata yang berujung tajam, beracun, dapat menjerat laksana kain sutra yang begitu indah, namun begitu mematikan untuk mengikat mangsa.
Kala pertama mendengar hal itu, Ibu ada benarnya. Namun, seiring waktu, aku tidak lagi memiliki pendapat yang sama dengannya. Ibu, aku mencintainya lebih dari apa pun. Lebih dari udara yang berada di sepenjuru bumi, lebih dari kehidupan yang hadir di tiap jenjang kaki melangkah, lebih dari apa yang ia tagihkan pada suaminya, lebih dari yang ia tahu.
Oleh karena itu, aku akan melakukan segalanya untuk Ibu.
====
“Ibu, lihat ini!”
Tubuh pria dewasa tergeletak terbujur kaku dalam keadaan telanjang serta mulut menganga lebar, cairan berwarna ungu mengalir keluar dari mulut, menurun ke dagu, menetes hingga mengotori seprai kasur berwarna putih. Kamar itu gelap, hanya ada Cahaya temaram dari remang-remang lampu. Levi dengan pakaian setengah telanjang segera memperbaiki pakaiannya sambil memegang sepotong tangan yang telah dipisahkan dari tubuh pria itu. Gadis itu melambai-lambaikannya, menyambut sosok ibu yang datang masuk ke dalam ruangan.
“Dia meminum racunnya? Bagus, kerja bagus, Levi,” tuturnya sambil menepuk nepuk puncak kepala anak itu dengan penuh nada pujian. Rona merah muncul di wajah, Levi paling suka jikalau sang ibu memujinya. Dia akan melakukan segala hal untuk membuat sang ibu bangga terhadapnya.
“Ah!”
Darah terus menetes dari pangkal lengan korban yang baru saja dipotongnya. Gadis itu pun segera membersihkannya, lantas kemudian memasukkannya ke dalam kantong plastik yang sudah diisi oleh air pengawet. Hari ini pekerjaannnya sederhana, memancing target untuk mau tidur bersamanya di rumah bordil yang sudah disiapkan Ades, ibunya.
Sejak awal, ini bukanlah misi yang rencananya dilakukan oleh Levi, tetapi ia bersikeras untuk mengambilnya.
Malam itu, ada suara bising yang menganggu tidur. Kastil yang menjadi tempat tinggal memang luas dengan dinding-dinding yang sudah dibangun ratusan tahun lalu di masa kerajaan lampau, tetapi Levi yang kebetulan sedang tidur di dekat kamar utama merasa sangat kesal. Gadis itu berjalan menuju depan pintu kamar tempat di mana Ades dan Feruci mengistirahatkan diri.
Pintu tak dikunci, ia membuka pintu kamar Ades pelan-pelan sambil mengintip apa yang terjadi di dalam. Seketika, kedua mata menggelap. Apa yang dilihat merupakan sesuatu yang lebih mengerikan dari neraka. Ades bertelanjang tubuh tengah menduduki Feruci dengan gerakan liar hingga ada suara decitan dari ranjang bercampur dengan suara-suara nikmat yang sama sekali tak ingin Levi dengar. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, meskipun ia tahu Feruci dan Ades pasti menyadari keadaannya, mereka tak merasa terganggu sama sekali.
Darah memanas, kepala mendidih, amarah memuncak hingga mata membulat lebar. Cinta adalah senjata, jika tidak digunakan dengan baik, maka akan menjadi pedang berbilah dua.
Levi terluka parah karena senjata yang ia pegang menusuk dirinya sendiri. Sedangkan seseorang di balik bayangan, menatap Levi sambil mengepalkan tangan.
“Bukan dia, tapi aku.”
Bagian II
Ades
RACUN adalah sebuah seni. Tidak semua pelacur di dunia merah paham akan hal ini, mereka mengembangkan bakat dalam memainkan musik, menari, hingga bernyanyi sebagai bagian dari hiburan yang disuguhkan. Tetapi bagiku, nilai tertinggi dari suatu seni adalah racun. Cara yang lambat membuat target sesak napas dan menderita sebelum ajal menjemput, atau metode cepat yang langsung membunuh target, semuanya tergantung dari pesan apa yang hendak disampaikan. Cinta adalah racun, maka aku tidak akan pernah meneguk racunku sendiri.
Aku pernah menyelipkan belladonna pada anggur milik Feruci, hanya demi melihat apakah bibirnya akan pucat atau tidak. Pernah pula mencampurkan nightshade, hanya berakhir melihatnya tersenyum sambil menyesap aroma yang menguar dari kopinya.
Dia selalu tahu, dia selalu sadar. Mungkin, dalam istilah manusia-manusia normal, ini merupakan bahasa cinta kami berdua. Racun yang mengalir dalam aliran nadi, pisau yang bersemayam di bawah bantal, atau bisikan kematian dalam kegelapan. Namun, aku bertanya-tanya.
Apakah ada racun yang bisa membunuhnya?
====
Mata Ades terfokus pada Feruci yang hendak menyesap secangkir teh menuju bibirnya. Meja itu panjang, layaknya meja yang ditempatkan di kerajaan. Ades duduk di samping, memperhatikan suaminya yang sibuk menyesap teh. Wanita itu memperhatikan dengan jeli, pakaian yang dikenakan ialah gaun gotik hitam berenda, seolah siap untuk menghadiri pemakaman seseorang.
Gelap mata menatap mukanya yang tak menyiratkan murka. Ada jeda sehabis Feruci berhasil meneguk teh itu, ia menyeringai.
“Arsenik, huh?” gumamnya sambil memiringkan cangkir teh itu, membawa sendok kecil ke dalam gelas, lalu mengaduknya perlahan. “Tidak biasanya.” Ades memiringkan tubuh, menopang wajahnya dengan menempatkan siku di atas meja. “Hanya sebuah tes kecil,” jawabnya sambil tersenyum, “kau terlihat semakin lamban.”
Feruci tertawa perlahan. Tidak pernah sekalipun ia terjebak dengan tipuan dan muslihat dari jaring laba-laba yang dilemparkan oleh Ades. Dia selalu tahu, dia selalu sadar. Terkadang, dia bahkan sengaja mencicipi racun hanya demi melihat bagaimana hasilnya. Alhasil. Belum ada satu pun racun mempan pada tubuhnya.
“Dan kau, Laba-Laba Kecilku, kau semakin mudah diprediksi,” jeda sejenak, “kau tahu, semalam Levi datang ke kamar kita?” Feruci mengambil tisu, membersihkan sekitar bibirnya pasca menyantap daging.
Ades mengangguk, “Bahkan, aku merasakan hawa keinginan membunuh yang kuat dari dalam dirinya. Apakah kita harus melakukan sesuatu terkait hal ini?” Feruci hanya diam, lantas menyunggingkan senyum seribu satu makna, “Tidak perlu, sesuatu yang menarik sepertinya akan terjadi.”
Pria itu menaruh cangkir, lantas segera memutar pisau kecil dan mengarahkannya pada Ades. Wanita itu dengan gesit bisa menghindar, pisau pun tertancap dengan kuat di tembok belakang. Keduanya pun tertawa sambil menikmati hidangan sarapan. Mereka bahagia, seperti musik yang mengiringi penampilan dari tarian kematian yang dilakukan oleh keduanya. Sebuah perpaduan kasih dan sayang yang disalurkan lewat racun dan besi. Suatu hal yang gila, hal yang tak akan dimafhumi manusia pada umumnya.
“Besok adalah Hari Kasih Sayang, aku ingin kita makan malam bersama sambil mengadakan acara kecil,” tutur Feruci.
Jantung Ades sempat hampir berhenti berdetak, ada percikan euforia yang hampir bangkit. Sejenak berharap jika Feruci akan memberikan sesuatu padanya, tetapi Ades segera menggelengkan kepala, merasa tidak mungkin menambatkan rasa. Ketika hendak memasukkan arsenik ke dalam teh sebelumnya, muncul keraguan yang mengendap, keraguan yang seolah perlahan merangkak setelah lama dikubur jauh-jauh. Ades sama sekali tak paham, dia tak tahu apa yang terjadi.
Tak sadar jika telah menenggak racun yang selalu dia hindari.
“Aku harap besok sesuatu yang menarik terjadi,” tutur Feruci.
“Ah, iya. Aku pastikan sesuatu akan terjadi.”
Bagian III
Coklat
CAHAYA temaram dari lilin dan kandelir menyala menyapu gelap gulita di sepanjang ruang makan, membuat suasana sedikit mencekam dengan senyap yang menyapa. Feruci duduk di ujung, sisanya tiga di kanan dan dua di sebelah kirinya. Lima coklat dikumpulkan dengan rapi, berjejer rapi dengan bentuk yang serupa berupa hati dan ukuran yang sama pula. Tiap coklat telah dibuat masing-masing anggota keluarga, membungkus misteri dan rahasia terkait siapa yang membuatnya.
Feruci pun terkekeh sambil menggoyangkan segelas anggur, “Ah, tradisi Hari Kasih Sayang. Sebuah permainan cinta dan kepercayaan.” Iris mata menatap istrinya, cintanya—segalanya.
“Tetapi kau selalu saja menggagalkan kejutan dariku,” Ades menyeringai, menempatkan telapak tangannya tepat di bawah dagu.
Ada api yang membara, menyala dalam mata gadis yang sedari tadi menatap murka. Tak senang sama sekali dengan pandangan di depan mata, Levi dengan secepat kilat mengubah aura kebencian menjadi senyuman tanpa dosa. Meski wajah menyirat bahagia, tangannya mengepal menggenggam pinggiran meja kayu hingga serbuk-serbuknya berjatuhan ke atas lantai. Dia membenci permainan ini, dia benci melihat ibunya memekarkan senyum pada orang selain dirinya.
Permainan pun dimulai, masing-masing dari mereka mulai menyantap coklat yang dihidangkan dengan acak, tidak tahu coklat milik siapa yang disantap. Hingga tiba-tiba Feruci pun tersedak, “Laba-Laba Kecilku, kau selalu membuat sesuatu jadi semakin menyenangkan.” Feruci mengambil segelas anggur, kemudian meneguknya perlahan. Mungkin akibat sudah cukup lama bersama, Feruci bisa tahu mana coklat yang dibuat oleh Ades, wanita itu pun percaya diri jika coklatnya hanya akan dimakan oleh Feruci.
Namun, seseorang selain Feruci tiba-tiba merintih karena merasa tercekik. Senyum Ades memudar, Feruci mengerenyitkan dahi. Levi bernapas sesak, ia memegang dadanya seperti orang kesetanan yang berusaha mengeluarkan benda dari tenggorokannya.
Ini bukan bagian dari permainan, seseorang memasukkan racun dalam dosis tinggi—racun yang tidak dibuat oleh Ades.
Mata Mona membelalak, “Levi!”
Aku telah menghabisikan waktuku mengikutimu, bahkan aku tahu bagaimana murka dalam dadaku tiap kali kau menatap wanita itu. Berharap sekali saja kau menoleh ke belakang untuk menatapku, tetapi lagi-lagi kau malah ….
“I-Ibu ….”
Kau memanggil namanya. Bahkan di hari kau melihat wanita itu bersenggama, kau masih berharap padanya. Ketika nyawamu berada dalam taruhan pun, kau masih menyebutnya.
Mona menatap tajam pada Ades, “Kau pasti meracuninya!”
“Tidak, itu bukan aku!” tegas Ades, menatap panik pada kekacauan yang berada di luar permainan.
Gore mematung. Menatap kepanikan yang terjadi, matanya terbelalak terkejut sampai-sampai tak bisa menghabiskan coklat di tangannya. Sesuatu tidak beres, sesuatu yang tidak diprediksinya telah terjadi dan ia tidak menyukai itu.
“Levi?” tanyanya retoris dengan perasaan terkejut.
Levi terus bernapas kesusahan, meskipun mereka adalah pembunuh bayaran yang terlatih, racun yang tidak pernah mereka latih, tidak akan kebal pada tubuh. Segera, mereka pun membawa Levi untuk diobati. Untungnya, dia berhasil selamat setelah diberikan penawar racun.
Epilog
Gore
Semua sudah sepatutnya seperti ini. Bahkan ketika malam hari memonitori Mona, aku tahu ada racun yang membuatnya menjadi seperti itu. Dia mengikuti Levi, matanya menyiratkan begitu banyak hasrat terpendam yang entah kapan akan meledak, sebab ia sama sekali tak pernah menunjukkan itu dengan jelas. Malam ketika Levi melihat Feruci dan Ades, Mona terlihat begitu marah. Tidak seharusnya dia menyimpan rasa yang begitu besar kepada gadis aneh itu.
Bukan dia, tapi aku.
Bahkan sampai ketika Feruci dan Ades makan malam bersama, kamera pengintai bersuara yang aku pasang di ruang makan memberikanku informasi berharga. Firasat Feruci memang benar, Hari Kasih Sayang memang akan menyenangkan, sesuatu akan terjadi.
Ah, iya. Aku pastikan sesuatu akan terjadi.
Mona tidak pernah melihatku.
Tidak juga.
Tidak seperti bagaimana ia memandang Levi.
Aku bisa saja memberikannya segala hal, tapi cinta merupakan suatu hal yang keji, bukan? Tidak peduli siapa yang pantas mendapatkannya.
Lalu, rasa cinta Mona sia-sia pada satu orang yang bahkan tidak akan pernah menyadarinya.
Malam itu, aku sengaja menambahkan batrachotoxin ke dalam coklat, tetapi Levi memergokiku. Aku ingin memberikan itu pada Mona, supaya dia berhenti menderita dengan perasaan tak jelasnya. Tetapi Levi mengambil coklat itu dengan paksa. Malam itu, dia tersenyum padaku dengan begitu mengerikan, rencanaku gagal. Racun itu malah dimakan oleh Levi. Dia tahu coklat itu beracun, tetapi dia tetap memakannya. Semua rencanaku gagal.
Dasar Perempuan licik.
Dia hanya ingin perhatian dari Ibunya.
Commission Story Written by Siduri



Comments