top of page

Reminiscing

  • Hibiki Kiri
  • Feb 16, 2017
  • 4 min read

Updated: Jan 9, 2025

“Hai Delta.~ Nih, kubawakan puding cokelat untukmu.”


Sebuah suara yang terdengar santai menyapa dari balik pintu console yang dingin. Seseorang berjaket oranye, berkaos hitam lengan panjang dan celana jeans menyapa anggota SEGA yang, seperti biasanya, terlihat duduk menghadap enam buah layar komputer berspesifikasi tinggi.


“Zero!” sambut pemuda berusia 19 tahun itu dengan senang ketika mendengar kata cokelat. Ia berbalik dari kursinya dan berlari menyambut pengantar makanan itu dengan riang. Ia tidak pernah tahu seperti apa wajah Zero atau penampilannya yang sebenarnya. Entah mengapa, ia sendiri tidak begitu ingin tahu kenapa. Yang ia tahu, sejak ia pertama ada, Cross dan Zero adalah dua orang pertama yang ia temui dan kenal dengan baik.


“Ya ampun. Main game lagi kamu,” komentar Zero sambil memperbaiki topinya. Kali ini memang penampilannya terlihat lebih seperti seorang gadis tomboi ketika menyerahkan puding berukuran agak besar itu pada Delta.


“Boleh kan? Aku sedang tidak ada kerjaan juga,” jawabnya sambil mulai menyendok puding cokelat yang lembut itu.


“Iya sih,” lagi jawab Zero dengan tenang. Sedikit nada heran pun terdengar darinya ketika merespon pernyataan Delta. “Dan itu aneh, karena manusia sekarang semakin berkembang, begitupun dengan teknologinya. Tapi kalau kuperhatikan, permintaan yang masuk akhir-akhir ini memang agak aneh,” ujar Cube kemudian, sedikit menyela pembicaraan keduanya.


Yeah, akhir-akhir ini permintaannya lebih banyak untuk membuat penyebaran berita palsu,” balas Delta lagi.


“Salah satu visi kita memang akan membantu mereka dalam hal apapun di dunia maya, bukan? Aku tidak merasa kita seharusnya protes.”


“Meskipun kita bisa menolak jika bayarannya tidak pas, ‘kan, Zero?”


“Atau mereka melanggar ketentuan,” timpal Cube lagi.


Zero hanya tertawa menimpali keduanya, sebelah tangannya terlipat bersandar di pinggangnya. Baru beberapa waktu lalu Cube bergabung dengan SEGA. Banyak informasi baru yang mereka juga dapatkan mengenai dunia pemerintahan dan birokrasinya. Delta sempat menyergah, mengatakan bahwa dia sendiri sudah cukup untuk menerobos sistem keamanan situs-situs penting pemerintah, maupun sistem pertahanan negara jika diperlukan. Cube sendiri menertawakannya, memang tidak langsung ia balas saat itu juga, namun dengan sengaja membiarkan Delta untuk berusaha membobol situs pemerintahan agar bisa ia mainkan.


Tentu, saat kembali ke console, Delta menanggapinya dengan sebal. Zero tidak berusaha menengahi kali ini karena ia tengah berbicara dengan Cross yang baru saja bangun dari tidur 16 jamnya. Di hadapan Delta dan Cube, ia memang tidak menunjukkannya; namun memang setiap saat ia bisa, ia akan mengunjungi console. Untuk mengunjungi Cross, tentunya. Hari ini pun demikian. Ia datang untuk menanyakan kabar Cross.


Laki-laki itu hanya menoleh sedikit ke samping, ke arah dimana Zero berdiri. Pupilnya yang berwarna hitam bergeser ke samping. Bagi yang tidak biasa, tentu mereka akan sangat ketakutan melihat penampilan Cross yang bersklera hitam laiknya film horor yang rumornya sedang marak. Secara fisik, tubuhnya memang kecil. Namun jika penampilannya dilihat secara penuh, manusia mana pun akan tahu jika ia bukanlah manusia.


“Kau sudah bangun?” tanya Zero kemudian, senyumnya tipis di balik penyamarannya. Seperti biasa.


“Yah,” jawab lelaki itu, meregangkan kedua lengannya, lalu membuka mulutnya untuk menguap. Tak lama, ia pun duduk di kasurnya.


“Aku senang kau sudah bangun,” sapanya lagi, lalu duduk di kasur sebelahnya. Apa lagi kali ini, ia ingin bertanya. Tatapan Cross masih setengah kosong. Ekspresinya menyiratkan emosi yang juga kosong, tanpa pikiran, tanpa emosi. Kekosongan jiwa itu, membuat Zero sedih. Di kala dulu keadaan mereka belum berubah, setidaknya, ia masih bisa melihat dan mendengar tawa Cross. Sekarang? Semuanya seolah lenyap begitu saja. Bunga lotus pertanda ketenangan jiwa, kini telah menjadi segel yang mengunci kodrat mereka yang seharusnya. Perjanjian yang sungguh mengerikan.


Jika mengingat itu lagi, Zero sungguh sudah menjadi keeper yang gagal. Statusnya tidak jelas, eksistensinya pun dipertanyakan. Setidaknya, ia masih memiliki loyalitas pada hostnya. Apa ia menyesalinya? Zero pasti sudah akan menggeleng. Selama ia bisa terus berada di samping Cross, menjadi apapun, ia mau. Walau itu bukan berarti, ia akan langsung menyetujui apapun yang dipikirkan oleh Cross. Tidak, jika hal tersebut mungkin akan mengulang kejadian yang sama seperti ini. Di waktu berikutnya, pasti.

Pasti ia akan—


“Ada apa, Zero?” tanya Cross tiba-tiba, membuat Zero terhenti dari pikirannya dan kembali memfokuskan perhatiannya pada hostnya itu.


“Eh?” Cross menghela nafas.


“Sudah berlalu, jangan dipikirkan lagi. Aku toh tidak menyesali pilihanku,” sambungnya lagi. Kedua kelopak matanya memang turun, namun tidak tersirat emosi apapun disana, “Aku sudah cukup senang bisa melihat Delta seperti itu. Aku juga senang masih bisa terus bersamamu, Zero.”


“......”


“Hm? Apa?”


“....... Tidak ada. Kau memang selalu seperti itu,” jawab Zero. Suaranya memang sempat terdengar agak tergagap, “Tapi aku tetap senang mendengarnya.”


“Aku selalu seperti itu? Maksudmu?”


“.... Selalu saja egois dan tidak mau menanyakan pendapatku terlebih dulu. Kali ini memang kita tidak bisa melakukan perubahan apa-apa lagi, tapi setidaknya ingat, jangan tanggung semua hal sendirian.”


Cross terdiam sejenak, kedua matanya yang hitam hanya berkedip sekali saat memandang wajah partnernya yang masih bisa ia kenali. Mungkin Zero juga sudah telalu mengenalnya sehingga selama berada di Console, ia nyaris jarang mendengar kerewelan Zero yang mengingatkannya ini dan itu. Rasanya memori itu sudah jauh sekali sekarang...


“Cross?” panggil Zero lagi.


“Hmm?”


“Aku bilang aku tidak akan lama-lama disini.  Baru saja ada email masuk dan aku akan menemui klien kita segera.”


“Begitu...”

Kali ini, Zero kembali diam. Keheningan yang tidak biasanya terdengar mengambang dari Cross kini menyesapinya. Ia sampai ragu untuk sedetik untuk bertanya, walau tampaknya ia tidak membutuhkan itu.


“Apa malam ini kau akan kembali ke Console?”


Ada jeda satu menit penuh yang merajai ruangan itu. Zero bisa merasakan sisi dalam tubuhnya berdesir, merinding. Perasaan macam apa ini? Tidak biasanya ia mendengar pertanyaan seperti itu dari Cross--yah, mungkin dulu sekali pernah saat ia masih menjadi manusia, tapi tidak di waktu sekarang.


“Iya, aku akan kembali.”


“....”


“Kalau begitu, aku pergi dulu ya.”


“Sampai nanti.”


 ***



Commission Story Written by Hibiki Kiri

Related Posts

See All
Unspoken Wish

Burung peliharaan?” Cross sudah datang, mendengar suara Zero dan Delta yang sama-sama menembus pintu area pribadi, menatap kedua orang itu yang kini melihat ke arahnya. Adiknya menunjukkan semanga

 
 
Cuma Sekedar Cepat Mekar

Tak sadar Delta singkap sedikit poni sambil lihat beberapa video dan konten lain di laman sosial media. Sudah macam virus yang menular, siapa sangka model rambut cepmek jadi beken seketika. Delta mau

 
 
Berkelana Bersama Jutaan Kelembutan

Masa lalu mengantarkan racun pada impresiDisisiku, kehadiranmu menyembuhkan hati🏵️🏵️🏵️ Dingin suhu memagut udara kamar tidur, menyapu ku

 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
© Copyright

 © Akuma39

bottom of page