
DIM NOA
Dim and Noa are the second oldest pair, they don't act like an older sibling should, they're really playful, a bit naughty, often jokes with the other and always looking to do something different.
Dim had no mouth, Noa had no eyes, they only had lil holes in their face as mouth and eyes replacement, both of them only have holes as their ears. its disgusting so they cover it.
Their appearance looks messy, but their body physical condition and movement are perfect.
They are wearing anything they can find in their closet. They're born in winter
Dokter bilang kami bisa keluar lebih cepat dari orang sebelumnya karena tubuh kami tidak merepotkan. Cacat kami hanya ada di beberapa bagian, mataku, mulut Dim dan telinga kami berdua. Dokter juga bilang tidak perlu khawatir karena orang yang sebelumnya bahkan tidak perlu itu semua untuk berkomunikasi. Kami sampai di sebuah ruangan besar, tepat disaat dua orang didalamnya sedang berdansa. Kedua orang tadi berhenti melihat kedatangan kami. “Itu siapa?” tanya suara baru di kepalaku. Aku terhentak, aku sadar Dim juga terhentak, kami menoleh saling melihat satu sama lain. Dokter menginterupsi kami, berkata bahwa itu cara mereka berkomunikasi. Keren! Dokter pergi dari ruangan, menyisakan kami berempat. Dim langsung mendekati kedua orang tadi, mengekspresikan rasa kagumnya. Akupun begitu sebelum ku sadari ada lantunan lagu dari sebuah monitor. Di lab tidak ada ini!! Woah. Dua orang tadi yang sekarang kami anggap sebagai kakak, bernama Tim dan Nerd. Dua buah tempat tidur terpisah sudah disediakan untuk kami, satu di sisi kanan, satu di sisi kiri. Aku tidak suka terpisah dari Dim, begitupun Dim. Jadi kami angkat begitu saja tempat tidurnya. Belum selesai mengatur posisi tempat tidur, suara Dokter terdengar dari speaker. Dokter sepertinya kaget melihat kami mengangkat tempat tidur melalui CCTV, padahal tidak berat sama sekali. Dokter meminta kami menunggu kembali dekat pintu keluar, berkata ada yang harus mereka tes lagi. Aku tak mau, kami baru saja akan bersenang-senang. Dim sependapat, dia membawa tempat tidur keluar, meletakkanya depan pintu keluar. Oh, mencegah dokter masuk rupanya, ide yang bagus. Aku juga ikut melakukan hal yang sama, kami terus menumpuk barang bahkan ketika Dokter sudah sampai. Setelah negoisasi dan perdebatan, Dokter setuju untuk memeriksa kami besok. Kemenangan pertama kami, Dim Noa 1 – Dokter 0. Kami meneruskan hari membiasakan diri dengan tempat baru sekaligus berkenalan lebih dekat dengan Tim dan Nerd. Esoknya seusai pemeriksaan, aku dan Dim divonis memilik anomali dimana otot dan tulang kami lebih kuat dibanding manusia normal. Apa ini berati kami adalah manusia super?! Kami membanggakan hasil pemeriksaan pada Tim dan Nerd, mereka turut senang. Aku minta agar mereka tak ragu meminta bantuan kami untuk memindahkan banyak hal, mereka mengiyakan. Lebih tepatnya, mereka memang selalu iya-iya ke banyak hal ya. Salah satunya adalah acara TV yang itu-itu saja. Kalau aku tidak protes kepada Dokter untuk menambah acaranya, mungkin Dim tidak akan bertemu acara pertunjukan boneka tangan yang disukainya sekarang. Dim berakhir membuat dua bonekanya sendiri, tentu saja dengan bantuan Tim dan Nerd. Menjahit itu sulit loh, butuh kesabaran. Aku sendiri tidak sabar memasukkan jarum ke benang, benang ke jarum maksudku... tapi aku bisa sabar menjelujur jahitannya. Aku membuat sarung tanganku sendiri juga, tentu sarung tanganku lebih bagus dibanding punya Dim. Dim juga minta lagu di radio ditambah, tidak bisa olahraga dengan semangat kalau lagunya pelan dan mendayu. Dokter memberi kami radio sendiri terpisah dari Tim dan Nerd. Kenapa sih mereka hanya memberi kami satu radio? Aku dan Dim bertengkar setiap kali ingin memilih lagu. Bukan aku yang salah, Dim yang tidak mau kalah. Dokter mulai memberikan permainan untuk kami. Permainan berupa tantangan fisik seperti lomba lari cepat, lomba angkat beban, lomba memanjat, dan sebagainya. Kebanyakan kegiatan itu tidak bisa diikuti Tim dan Nerd, jadi mereka diberi tantangan berbeda. Mereka belajar membaca dan menulis. Aku sendiri merasa untung tidak sama dengan mereka, membaca dan menulis membosankan, lebih asyik menggambar, tidak, lebih asyik bermain bersama Dim. Walau Dim terlalu pengecut untuk mengakui aku lebih kuat darinya. Yaa tidak apa-apa, kami punya banyak waktu untuk menentukan siapa yang paling kuat. Hal pertama yang ku suka adalah tiap aku menang dari Dim. Hal kedua yang aku suka adalah melihat wajah Dim kalah dariku saat menyelesaikan tantangan dari Dokter. Hal ketiga adalah jika kedua hal tadi terjadi. Seperti aku dan pandangan mataku yang sangat sempit, Dim tidak dapat berbicara lancar, ada beberapa bunyi yang tidak bisa ia ciptakan. Dokter seringkali tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Aku bisa mengerti karena... apa ya? Entahlah. Hal ini aku manfaatkan bila dia mulai tidak mau kalah, aku akan pura-pura tak mengerti sampai akhirnya dia main tangan. Jelas aku balas main tangan. Dim sangat-sangat tidak dewasa. Masalah membersihkan diri, mandi, juga berbeda. Dim dan aku memiliki sabun cair dengan banyak gelembung sedangkan Tim dan Nerd tidak. Seringkali Dim mengambil sabun cair punyaku, tidak ada masalah dengan sabun miliknya, Dim cuma ingin melihatku marah. Karena aku pintar, aku akan membalas dengan menyembunyikan barang lain miliknya. Crayon adalah target favoritku. Butuh waktu lama sampai dia sadar setengah set crayonnya sudah hilang. Begitulah keseharian kami dalam dome, Dim yang tidak pernah dewasa selalu mengajakku bertengkar. Kalau saja dia seperti Tim dan Nerd... hmm tidak, setelah ku pikir lagi, aku lebih suka Dim seperti ini. Aku tidak akan menjadi yang lebih kuat kalau lawanku lemah, aku butuh dia untuk menjadi yang terkuat! Aku juga butuh dia untuk terus bersamaku, aku tidak terlalu suka suasana sepi. Suasana sepi membuat pikiranku berlari ke hal-hal rumit yang menyebalkan. Aku hanya ingin bersenang-senang bersamanya selama-lamanya sampai tubuhku berhenti bergerak.
Aku bingung dengan para dokter yang memintaku membaca pikiran mereka, tentu aku menolak karena tidak bisa. Awalnya ku pikir ini lelucon karena telingaku dan Noa berbentuk aneh, ternyata terjawab oleh dua orang baru di depanku, Tim dan Nerd. Mereka hebat loh bisa membaca pikiran, bisa bicara langsung ke otak kita juga. Sepertinya tempat tinggal kami yang baru akan lebih menyenangkan dibanding di lab. Pintu keluar disini selalu dikunci rapat setiap ada orang masuk, yang menurut pengakuan Tim dan Nerd, sangat jarang terjadi. Aku dan Noa bisa saja menghancurkan pintunya, tapi... lalu apa? Diluar sana hanya ada lab dan Dokter-dokter membosankan lalu lalang. Aku lebih senang disini. Oh betapa aku salahhhhh. Disini Noa semakin menjadi, dia tidak mau kalah! Selalu menantangku, menganggapku lebih lemah darinya. Mana bisa dibiarkan, aku harus memberinya pelajaran! Aku ambil sabun mandinya saat mandi, aku tarik selimutnya saat tidur, aku ambil garpunya saat makan, aku corat coret sisi tembok tempat tidurnya. Suatu saat nanti aku akan menggambar Noa dililit seribu ular! Tapi aku tak tahu seberapa banyak seribu itu, jadi untuk sementara aku gambar ularnya dulu selagi aku belajar berhitung. Tidak seperti Noa, aku rajin belajar dong! Dokter bilang masih belum ada kemajuan, yang penting aku rajin belajar. Dokter juga tidak bisa membaca tulisanku, tak apa-apa, yang penting aku sudah menulis. Dokter bahkan tidak mengerti apa yang ku katakan, yang penting! Aku! Sudah! Bicara! Noa selalu berakhir membantuku menyampaikan apa yang ingin ku katakan tanpa ku minta sih... Hanya di saat seperti itu Noa tidak kurang ajar padaku. Sisanya? Dia selalu membuatku kesal. Hal yang selalu aku dan Noa perdebatkan selain masalah siapa yang paling kuat adalah: Siapa yang kakak? Aku atau Noa? Dokter selalu menjawab kami lahir bersamaan, tapi aku tak bisa terima. Mereka dokteerrr, yang menciptakan kamiiii, bagaimana bisa pertanyaan sederhana begini mereka tak bisa jawabbb. Pasti ada yang lahir lebih dulu beberapa detik. Pasti aku, karena aku melihat dunia lebih dulu dibanding Noa. Hehe. Mata Noa bermasalah sih, dia tidak melihat bahwa aku jauh lebih kuat dibanding dia. Walau begitu, entah bagaimana aku selalu kehilangan crayonku. Pelakunya tidak mungkin Noa kan? Tidak mungkin juga Tim atau Nerd, mereka baik, tidak seperti Noa. Noa dan idenya membuatku dalam masalah. Dia pernah mengajakku naik ke conveyor belt pengantar supply, ingin tahu belt itu mengarah kemana. Ku akui kedengarannya asik, jadi aku lakukan. Hal ini membuat kami dalam masalah besar, suara panik Dokter terdengar dari speaker. Besoknya, aku lihat lubang conveyor belt menjadi lebih pendek. Tidak mungkin lagi kami masuk kesitu. Tim menyampaikan bahwa dia membaca pikiran petugas yang mengubah lebar conveyor belt, petugas itu mengeluh dengan segala kelakuan kami, sejak ada kami, pekerjaan mereka jadi semakin banyak. Tim sendiri tidak merasa ada masalah dengan hal itu, hanya merasa lucu saja mengingat dulu Tim dan Nerd hampir tak pernah melihat petugas sedekat itu. Nerd bilang keberadaan kami membuat tempat itu menjadi ramai, dalam arti yang baik. Aku bertanya balik, bagaimana sebelumnya bisa ramai? Mereka berdua kan tidak bisa bicara. Noa memukulku untuk itu. Katanya aku tidak sopan. Noa lebih tak sopan! Dia memukulku! Aku baru saja menarik baju Noa untuk balik memukul, tapi terhenti mendengar suara tertawa Tim dan Nerd. Tim bilang ini pertama kalinya mereka tertawa sekeras itu. Entah perasaanku saja atau apa, sejak saat itu Tim dan Nerd jadi semakin sering berkomunikasi kepada kami.










